Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang delusi dan halusinasi yang belum tentu merupakan gejala skizofrenia

.
Di masyarakat luas, baik di media sosial, kisah fiksi (cerpen atau novel), hingga percakapan sehari-hari, istilah skizofrenia kerap digunakan secara sembarangan. Seseorang yang berbicara sendiri dianggap “skizo”, orang yang percaya sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal langsung dicap mengalami skizofrenia, dan seseorang yang melaporkan melihat atau mendengar sesuatu yang tidak dilihat orang lain sering kali diasumsikan menderita gangguan jiwa berat tersebut. Padahal, anggapan semacam ini tidak hanya keliru secara ilmiah, tetapi juga berkontribusi pada ejekan atau bullying yang merugikan orang dengan gangguan kesehatan mental.
Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah anggapan bahwa delusi dan halusinasi otomatis berarti skizofrenia. Faktanya, delusi dan halusinasi adalah gejala, bukan diagnosis. Keduanya dapat muncul dalam berbagai kondisi medis, psikologis, bahkan situasi normal tertentu.
Thread ini akan membahas secara ilmiah dan sistematis tentang apa itu delusi dan halusinasi, bagaimana hubungannya dengan skizofrenia, serta kondisi-kondisi lain yang juga dapat memunculkan gejala tersebut.
Quote:
Memahami Delusi dan Halusinasi Secara Ilmiah
Apa itu Delusi?
Dalam psikologi dan psikiatri, delusi didefinisikan sebagai keyakinan yang salah, menetap, dan tidak sesuai dengan realitas objektif, serta tetap dipertahankan meskipun terdapat bukti kuat yang bertentangan (American Psychiatric Association, 2022). Delusi bukan sekadar salah paham atau kurang informasi. Yang membedakannya adalah kekuatan keyakinan tersebut dan ketidakmampuannya dikoreksi dengan penjelasan rasional.
Beberapa jenis delusi yang umum dijumpai antara lain:
1. Delusi bahwa seseorang hendak dibunuh, diracun, atau disakiti tanpa dasar nyata.
2. Delusi bahwa seseorang memiliki kekuatan, kekayaan, atau kemampuan luar biasa.
3. Delusi bahwa peristiwa biasa memiliki makna khusus yang ditujukan secara personal.
4. Delusi bahwa seseorang menderita kanker, padahal hasil diagnosis dokter normal.
Delusi dapat bersifat sementara, kronis, atau muncul dalam konteks gangguan tertentu. Dengan kata lain, keberadaan delusi tidak secara otomatis menunjuk pada skizofrenia.
Apa itu Halusinasi?
Halusinasi adalah pengalaman perseptual yang terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang sesuai (Sadock, Sadock, & Ruiz, 2015). Seseorang benar-benar merasakan stimulus tersebut seolah nyata, bukan sekadar membayangkannya.
Jenis halusinasi meliputi halusinasi suara, halusinasi penglihatan, halusinasi pengecapan, halusinasi penciuman, dan halusinasi sentuhan.
Dalam skizofrenia, halusinasi suara merupakan yang paling sering dijumpai. Namun, halusinasi juga dapat terjadi pada penyakit saraf, gangguan suasana hati, penggunaan obat-obatan, bahkan pada individu sehat dalam situasi tertentu.
Quote:
Skizofrenia Itu Lebih dari Sekadar Delusi dan Halusinasi
Kriteria Diagnosis Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan psikotik kronis yang ditandai oleh gangguan dalam proses pikir, persepsi, emosi, dan perilaku. Menurut DSM-5-TR, diagnosis skizofrenia tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu atau dua gejala saja (American Psychiatric Association, 2022).
Seseorang harus mengalami minimal dua dari gejala berikut selama periode satu bulan, dan salah satunya harus termasuk poin 1 sampai 3:
1. Delusi
2. Halusinasi
3. Pembicaraan aneh dan tidak teratur
4. Perilaku sangat aneh, tidak teratur, atau katatonik
5. Gejala negatif (ekspresi datar, sulit berbicara, sikap menelantarkan diri sendiri)
Selain itu, gangguan ini harus berlangsung minimal 6 bulan, dengan penurunan fungsi sosial, pekerjaan, atau perawatan diri yang signifikan.
Artinya, delusi dan halusinasi saja tidak cukup untuk mendiagnosis skizofrenia.
Penyakit Lain yang Juga Disertai Delusi dan Halusinasi
1. Gangguan Bipolar dengan Gejala Psikotik
Pada episode mania berat atau depresi berat, penderita gangguan bipolar dapat mengalami delusi dan halusinasi. Bedanya, gejala psikotik ini selalu berkaitan dengan suasana hati (
mood-congruent atau
mood-incongruent), dan tidak muncul secara menetap di luar episode
mood (Goodwin & Jamison, 2007).
2. Depresi Berat dengan Disertai Psikotik
Depresi berat juga dapat disertai delusi, biasanya berupa delusi rasa bersalah, nihilistik, atau keputusasaan ekstrem. Kondisi ini sering keliru dianggap skizofrenia, padahal akar utamanya adalah gangguan suasana hati.
3. Gangguan Delusional
Gangguan ini ditandai oleh satu atau lebih delusi yang menetap selama minimal satu bulan, tanpa disertai halusinasi mencolok atau gangguan fungsi yang luas seperti pada skizofrenia (American Psychiatric Association, 2022).
4. Gangguan Psikotik Akut dan Sementara
Dalam situasi stres ekstrem, seseorang dapat mengalami episode psikotik singkat yang berlangsung kurang dari satu bulan dan kemudian pulih sepenuhnya. Kondisi ini dikenal sebagai
brief psychotic disorder.
5. Penggunaan Obat-obatan dan Kondisi Saraf
Halusinasi dan delusi juga dapat muncul akibat:
1. Penggunaan atau gejala putus obat-obatan (alkohol, amfetamin, LSD)
2. Epilepsi lobus temporal
3. Tumor otak
4. Delirium
5. Penyakit Parkinson
6. Demensia
Dalam konteks ini, gejala psikotik bersifat sekunder, bukan gangguan primer seperti skizofrenia (Sadock et al., 2015).
6. Halusinasi pada Orang Sehat
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang sehat pernah mengalami halusinasi ringan, seperti mendengar suara saat kurang tidur atau dalam kondisi duka mendalam. Fenomena ini tidak otomatis termasuk gangguan jiwa (Waters et al., 2014).
Mengapa Kesalahpahaman Ini Berbahaya?
Penyamaan delusi dan halusinasi dengan skizofrenia memiliki dampak serius, antara lain:
1. Bullying atau stigmatisasi terhadap penderita skizofrenia
2. Salah diagnosis, yang berujung pada terapi tidak tepat
3. Ketakutan publik yang tidak berdasar terhadap gangguan kejiwaan
4. Pengabaian kondisi medis lain yang membutuhkan penanganan berbeda
Pemahaman yang keliru dapat membuat seseorang tidak mau mencari bantuan profesional karena takut dicap “skizofrenia”.
Quote:
PENUTUP
Delusi dan halusinasi adalah gejala kompleks yang memerlukan evaluasi menyeluruh oleh tenaga profesional. Mengaitkan keduanya secara otomatis dengan skizofrenia bukan hanya keliru, melainkan juga tidak adil bagi orang yang mengalaminya. Dalam ilmu kedokteran jiwa modern, diagnosis ditegakkan berdasarkan pola gejala, durasi, konteks, dan dampaknya terhadap fungsi hidup, bukan berdasarkan asumsi sederhana.
Dengan meningkatkan literasi kesehatan jiwa, diharapkan masyarakat dapat bersikap lebih kritis, empatik, dan ilmiah dalam memahami gangguan jiwa. Karena pada akhirnya, memahami dengan benar adalah langkah awal untuk mengurangi stigma.
Quote:
SUMBER
American Psychiatric Association. (2022).
DSM-5-TR: Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.). Washington, DC: Author.
Goodwin, F. K., & Jamison, K. R. (2007).
Manic-depressive illness: Bipolar disorders and recurrent depression (2nd ed.). Oxford University Press.
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015).
Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry: Behavioral sciences/clinical psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.
Waters, F., Blom, J. D., Jardri, R., Hugdahl, K., & Sommer, I. E. (2014). Auditory hallucinations, not necessarily a hallmark of psychotic disorder.
Psychological Medicine,
44(8), 1617–1629.
World Health Organization. (2019).
International classification of diseases for mortality and morbidity statistics (11th Revision). WHO.
@itkgid @pabuaranwetan @siloh