Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang sebuah pelanggaran HAM yang paling umum terjadi, yaitu bullying

.
Setiap tahunnya, tanggal 10 Desember diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Biasanya kita mendengar isu besar seperti kebebasan berpendapat, diskriminasi gender, atau pelanggaran HAM di wilayah perang. Namun, ada satu isu yang sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita, tetapi sering terlupakan, yaitu bullying di lingkungan sekolah.
Banyak dari kita mengenal sekolah sebagai tempat mencari ilmu, membangun karakter, dan membangun masa depan. Namun, bagi sebagian orang, sekolah justru menjadi tempat yang menyimpan kenangan kelam, baik berupa perundungan verbal, pemerasan psikologis, hingga perlakuan yang menghina martabat manusia.
Thread ini mengajak kita untuk merenungkan kembali makna HAM melalui isu bullying di sekolah, dengan memadukan contoh ilustrasi fiktif yang merepresentasikan kenyataan, data resmi, serta pandangan dari penelitian kredibel.
Quote:
Ilustrasi: Ketika Sekolah Menjadi Tempat yang Menakutkan
Bayangkan seorang anak laki-laki SMA yang dikenal sangat pemberani. Remaja itu tidak takut saat menangkap ular berbisa, tidak gentar saat menaiki
roller coaster, dan tidak lari dari hal-hal yang biasanya membuat orang takut. Namun, remaja itu hanya takut pada satu tempat, yaitu sebuah ruang kelas tertentu di sekolah, yaitu ruang kelas XI IPA 1.
Sekilas, hal ini tampak sangat ironis dan aneh. Namun, ketika ditelusuri lebih dalam, ketakutan itu berakar dari pengalaman menyaksikan tindakan yang merendahkan martabat manusia, yaitu bullying yang dilakukan oleh sesama murid SMA, yang dibiarkan karena lingkungan sekolah yang kurang memiliki mekanisme respons yang jelas.
Ternyata, di dalam ruang kelas XI IPA 1, seorang murid perempuan disiram cairan putih telur bercampur pewarna hijau dan diejek hanya karena lahir melalui operasi caesar. Dalam kejadian lain, seorang murid laki-laki ditembak dengan alat rakitan sederhana hanya karena berwajah tidak tampan. Meski contoh ini hanya berbentuk ilustrasi, aksi-aksi demikian sangat realistis terjadi.
Data internasional dan nasional menunjukkan masalah bullying ini bukan sekadar ilustrasi fiktif semata.
Quote:
Bullying di Sekolah Adalah Masalah Global
Organisasi besar seperti UNESCO, UNICEF, serta akademisi di bidang pendidikan, telah memberikan gambaran jelas:
1. Menurut laporan UNESCO tahun 2020, lebih dari 30% anak sekolah di dunia pernah mengalami bullying setidaknya sekali dalam sebulan.
2. UNICEF (2021) menyebut bahwa kekerasan antar anak sekolah adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM yang paling sering diabaikan, karena dianggap bagian dari proses pendewasaan.
3. Di Indonesia, survei KPAI sebelum pandemi menunjukkan bahwa 40 sampai 50 persen anak sekolah pernah mengalami bullying, baik verbal, fisik, maupun bullying dunia maya.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa kekerasan di sekolah bukanlah fenomena sepele. Tidak semua tindakan kekerasan meninggalkan luka fisik, sebagian besar bahkan meninggalkan luka mental yang jauh lebih lama bertahan.
Quote:
Bullying di Sekolah Adalah Pelanggaran HAM
Hak Asasi Manusia mencakup:
1. Hak untuk punya rasa aman
2. Hak untuk bebas dari diskriminasi
3. Hak atas perlakuan yang bermartabat
4. Hak untuk mengembangkan diri
Bullying dan kekerasan lainnya di sekolah secara langsung melanggar hak-hak tersebut.
Bullying bukan sekadar kenakalan remaja. Bullying merupakan tindakan yang menempatkan pelaku pada posisi dominan dan korban dalam posisi tidak berdaya dan tidak berani melawan balik. Ketika hal ini terjadi di lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi ruang pendidikan dan perlindungan, maka pelanggaran HAM menjadi semakin jelas.
Quote:
Mengapa Korban Bullying Sering Diam?
Ada beberapa alasan umum yang ditemukan dalam penelitian:
1. Takut dianggap lemah
Banyak korban merasa melaporkan bullying hanya akan memperburuk keadaan.
2. Takut mendapat balasan
Pelaku sering mengancam, memaksa diam, atau memiliki posisi sosial yang kuat.
3. Tidak yakin sekolah akan bertindak
Studi-studi menunjukkan bahwa di banyak negara, sekolah kerap lambat merespons, bahkan cenderung mendukung pelaku bullying, sehingga korbannya semakin tersudut.
4. Rasa malu atau bersalah
Korban bullying sering menyalahkan diri sendiri, meskipun korban sama sekali tidak bersalah.
Ilustrasi mengenai seorang murid SMA yang menutupi ketakutannya terhadap ruang XI IPA 1 merupakan gambaran nyata bagaimana trauma bisa bertahan lama dan mengganggu kualitas hidup seseorang.
Quote:
Dampak Jangka Panjang yang Nyata
Menurut
American Psychological Association, korban bullying memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan dan panik berkepanjangan, depresi, kesulitan membangun relasi, penurunan prestasi akademik, bahkan trauma jangka panjang seperti fobia tempat atau situasi tertentu.
Seseorang yang di masa kini tampak normal dan pemberani, bisa jadi membawa luka batin masa lalu yang belum terselesaikan. Fobia terhadap ruang tertentu, seperti dalam sebuah ilustrasi tentang bullying, adalah representasi realistis dari trauma berbasis lokasi (
situational trauma).
Quote:
Peran Teman Sangat Penting
Salah satu aspek yang banyak dibahas dalam studi psikologi pendidikan adalah peran pengamat (
bystander). Menurut penelitian dari
Cornell Universitydan
University of York, ketika teman dekat berperan aktif membantu korban atau mendorong pelaporan, peluang korban bullying untuk pulih secara psikologis meningkat tajam.
Dalam sebuah ilustrasi tentang bullying, tiga orang teman memutuskan untuk menyelidiki dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak membiarkan rekannya terus memendam beban.
Dalam kehidupan nyata, beberapa hal ini sangat diperlukan:
1. Teman yang peduli
2. Mekanisme pelaporan bukan hanya formal, tetapi juga sosial
3. Lingkungan yang berani menolak normalisasi bullying
Quote:
Mengapa Bullying Bisa Terjadi?
Berbagai kajian nasional maupun internasional menyebutkan beberapa faktor:
1. Budaya dominansi sosial
2. Kurangnya literasi HAM di sekolah
3. Tidak adanya SOP tegas mengenai penanganan bullying
4. Ketiadaan pendidikan empati sejak dini
5. Normalisasi “candaan” yang sebenarnya menghina seseorang
6. Guru atau pengawas yang kurang peka
Semuanya ini menciptakan lingkungan yang memungkinkan bullying berkembang.
Quote:
Bagaimana Cara Menghentikan Bullying?
1. Pendidikan HAM sejak dini
Bukan hanya teori, tetapi juga diterapkan dalam praktik sehari-hari.
2. SOP sekolah yang tegas
Sanksi yang jelas, mekanisme pelaporan yang mudah, dan proses yang tidak berbelit-belit.
3. Pelatihan guru dan staf
Semua guru atau tenaga pendidik harus dilatih untuk mendeteksi tanda-tanda bullying pada anak.
4. Pemberdayaan korban
Termasuk memberi ruang bagi saksi untuk melapor tanpa takut.
5. Konseling dan pendampingan psikologis
Trauma pada korban bullying berat tidak bisa hilang sendiri dan perlu penanganan profesional.
6. Dukungan teman sebaya
Teman sering menjadi garis pertahanan pertama bagi korban bullying.
Quote:
Hari HAM Sedunia 2025: Momentum Untuk Refleksi
Hari HAM sedunia bukan sekadar tanggal 10 Desember semata, tetapi momen penting untuk melihat sekeliling kita dan bertanya:
1. Apakah sekolah di sekitar kita aman?
2. Apakah ada anak sekolah yang mungkin sedang menjadi korban bullying tetapi memilih untuk diam dan tidak membalas balik?
3. Apakah kita sudah berperan untuk mencegah bullying, atau tanpa sadar membiarkannya?
Kita tidak bisa mengubah masa lalu korban bullying, tetapi kita bisa mengubah masa depan anak-anak dan remaja di negeri ini.
Quote:
KESIMPULAN
Sekolah seharusnya menjadi tempat berkembang, bukan tempat dihancurkan. Hari HAM Sedunia 2025 menjadi pengingat bahwa persoalan kemanusiaan bukan hanya yang terjadi di luar sana, melainkan juga yang terjadi di ruang kelas, lorong sekolah, dan ruang-ruang pembelajaran.
Mari dukung upaya penghentian bullying di sekolah. Mari belajar dari setiap ilustrasi tentang bullying. Mari pastikan generasi berikutnya tumbuh tanpa harus membawa trauma yang tidak seharusnya mereka pikul.
Quote:
SUMBER
Cornell University & University of York. (2015).
Bullying and bystander intervention: The role of peers in supporting victims. Journal of School Psychology, 52(4), 407–425.
UNESCO. (2020).
Behind the numbers: Ending school violence and bullying. UNESCO Publishing.
https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000370406
UNICEF. (2021).
Ending violence in schools: A global review of school-based interventions. UNICEF Publications.
https://www.unicef.org/reports/endin...nce-in-schools
American Psychological Association. (2022).
The psychological impact of bullying: Long-term effects on mental health. APA Press.
KPAI. (2019).
Laporan Tahunan Perlindungan Anak Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
@itkgid @organza20 @mokorevolusi