- Beranda
- The Lounge
Demi Hidup Bersama Cinta Pertama, Istri Lenyapkan Nyawa Suami | Kisah dari Aceh Utara
...
TS
si.matamalaikat
Demi Hidup Bersama Cinta Pertama, Istri Lenyapkan Nyawa Suami | Kisah dari Aceh Utara
Quote:
Musliyadi alias Adi Usman, diam-diam naksir kepada perempuan yang masih saudara jauhnya, nama wanita itu Jamaliah. Tak seorang pun tahu. Sampai akhirnya Adi pergi merantau ke Malaysia dan perlahan melupakan perasaan cintanya itu.
Pada akhir Agustus tahun 2018, saat Adi dan keluarganya berkunjung ke rumah orang tua Jamaliah di Gampong Serba Jaman, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, cinta lama itu bersemi kembali. Saat itu, seluruh anggota keluarga yang berkumpul ada 15 orang. Mereka kemudian pergi berwisata ke pantai Lancok.
Adi (26 tahun) waktu itu membonceng Jamaliah (30 tahun), betapa senangnya perasaan pria ini, karena jarang-jarang dirinya bisa bertemu dan berdekatan dengan wanita idamannya tersebut. Jamaliah lebih tua 4 tahun dari Adi, sudah bersuami dan punya dua anak. Namun, status Jamaliah itu tak dijadikan masalah oleh Adi, karena dirinya juga sudah punya istri dan anak.
Di pantai Lancok, Jamaliah curhat kepada Adi, mengaku jika dirinya adalah sosok istri yang tersakiti. Suaminya sering marah-marah dan memukuli dirinya. Menurut Jamaliah, saat dulu bertunangan dengan sang suami, dia minta putus karena merasa tidak cocok. Tapi, karena dipaksa orang tua, dia akhirnya menurut saja.
Mendengar curhatan sang wanita pujaan yang disakiti suami, Adi pun panas, tapi dia diam saja. Waktu di pantai Lancok, keduanya ngobrol panjang lebar. Mereka merasa cocok. Kemudian melanjutkan komunikasi lewat HP.
Quote:
Komunikasi antara Adi dan Jamaliah berujung pada cinta instan, keduanya menjalin asmara rahasia. Beberapa hari kemudian, Adi mendatangi rumah orang tua Jamaliah, di Gampong Serba Jaman. Adi yang merupakan tukang bangunan, ikut merenovasi rumah kerabat bersama beberapa orang.
Di sana ada suami Jamaliah yang bernama Jazuli, duduk sambil memperhatikan renovasi rumah. Saat Jazuli lewat di dekat Adi dan Jamaliah, wanita itu memberi kode dengan menaruh jari di leher, dan memperagakan gerakan seperti menggorok. Artinya Jamaliah ingin Adi membunuh suaminya. Saat itu, Adi cuma mengangguk, tapi tidak menuruti permintaan sang wanita pujaan.
Hubungan rahasia antara Adi dan Jamaliah terus berlanjut, mereka sering jalan-jalan berdua dan pernah makan bakso bersama. Adi pun bahkan berhubungan badan dengan Jamaliah sebanyak 3 kali. Sudah sejauh itu hubungan mereka, keduanya benar-benar dimabuk asmara dan ingin menikah secepatnya.
Adi lalu mengusulkan untuk kimpoi lari, tapi Jamaliah menolak, karena suaminya masih ada. Kecuali sang suami mati, Jamaliah baru mau diajak kimpoi lari.
Quote:
Pada 14 September 2018, Adi berpamitan lewat HP ke Jamaliah, dia bilang akan pergi bekerja di tempat lain. Namun, Jamaliah berkata agar Adi datang ke rumahnya.
"Aku rindu," ujar Jamaliah waktu itu.
Adi pun bergegas pergi ke rumah Jamaliah di Gampong Ujong Kulam, Kecamatan Matangkuli. Waktu itu suami Jamaliah pergi bekerja berjualan es campur keliling, tapi dua anaknya ada di rumah. Menurut sang anak, ibunya pergi keluar sebentar. Adi pun menunggu.
Tak berselang lama, Jamaliah pulang, dan mengajak Adi makan bersama. Setelah bersantap, Jamaliah minta anaknya untuk membeli mi instant di warung. Adi pun mengutarakan isi hatinya.
"Kalau kita berjodoh, apa kita bisa bahagia ?" tanya Adi.
"Kalau kita berjodoh, kita jalani apa adanya," jawab Jamaliah.
"Anak kita bagaimana nanti ? " balas Adi, "apa kita berdua bakal ribut ?"
"Kalau kita bersama, tidak ada anak tiri dan anak kandung. Nafkah kita yang penuhi," jawab Jamaliah menenangkan Adi.
Quote:
Setelah berbincang cukup lama dengan Jamaliah, Adi pun pamit pulang. Ketika perjalanan pulang, Adi melihat suami Jamaliah sedang berjualan es campur. Dia lalu menghubungi Jamaliah lewat HP.
"Aku lihat suami sedang berjualan," ujar Adi.
Jamaliah emosi mendengar kabar itu. "Kapan kau buktikan membunuh dia ? Tak sanggup aku mendengar alasan itu-itu saja."
"Malam ini saja," kata Adi.
"Terserah !!!" balas Jamaliah.
Sampai di rumah, Adi tidur, menjelang malam dia bangun kemudian mandi. Mendekati tengah malam, pria ini menyiapkan parang yang dibungkus plastik, dan menyelipkannya di dalam celana. Dia minta bantuan seorang teman untuk mengantarnya ke rumah Jamaliah.
Sekitar pukul 11 malam, Adi tiba di rumah Jamaliah, dia sembunyi di balik semak-semak dan melakukan pemantauan selama 30 menit. Dia lalu menuju pintu belakang rumah dan bersembunyi di balik rimbunnya pohon pisang.
Tiba-tiba ada SMS masuk dari Jamaliah.
"Sudah di mana ?"
"Di belakang rumah, di belakang pohon pisang." balas Adi.
Jamaliah keluar dari pintu belakang, dan menggoyangkan HP-nya untuk memberitahu posisinya ke Adi. Adi yang melihat pendar cahaya HP Jamaliah, membalas dengan menggoyangkan HP-nya dan menghampiri wanita itu.
Jamliah lalu menunjuk WC di belakang rumah.
"Pergi ke sana, jangan sampai dilihat orang," ucap Jamaliah. Adi menurut, lalu bersembunyi di dalam WC. Jamaliah masuk kembali ke rumah.
Quote:
Empat menit kemudian, Jamaliah keluar rumah lagi, Adi menghampiri wanita itu, keduanya masuk ke rumah lewat pintu belakang.
Adi duduk di ruang belakang, menunggu instruksi selanjutnya dari Jamaliah. Memasuki jam 12 malam, tiba-tiba anak perempuan Jamaliah menangis. Adi terkejut dan begegas keluar rumah. Dia mengintip dari jendela di samping rumah.
Di ruang tamu, Adi melihat suami Jamaliah terbangun karena mendengar tangisan anaknya. Nyaris Adi ketahuan tadi. Dia lalu mengendap-endap kembali ke dalam WC. Lama Adi menunggu, sampai badannya digigiti nyamuk. Kaki dan tubuhnya pegal. Dia kadang duduk, lalu berdiri lagi, menunggu kabar dari Jamaliah.
Adi lalu mendapat SMS dari Jamaliah.
"Semua sudah tidur, pintu semua terkunci."
"Kalau begitu segera buka pintunya," balas Adi.
Jamaliah membuka pintu belakang, Adi pun masuk menuju dapur siap tempur. Parang sudah ada di tangan. Dia meminta Jamaliah untuk melihat, suaminya sudah tertidur atau belum.
Jamaliah masuk ke kamar dan menggoyang-goyang kaki suaminya. Setelah yakin sang suami sudah tidur pulas, dia melapor ke Adi. Namun, pria ini tak yakin, dan minta Jamaliah mengecek lagi. Jamaliah menurut.
Jamaliah menggoyang-goyang kaki suaminya lagi, tapi sang suami tak bereaksi. Dia lalu melaporkan hal itu ke Adi. Pria itu lalu bergegas masuk ke dalam kamar dengan parang di tangan. Adi menusuk dan menggorok suami Jamaliah sebanyak 6 kali, tak ada suara dan tak ada perlawanan. Jazuli tewas berlumuran darah.
Quote:
Setelah membunuh suami Jamaliah, Adi keluar dari kamar dan menghampiri Jamaliah yang duduk di kursi ruang makan sambil menundukan kepala.
"Bikin cerita seolah-olah ini perampokan," kata Adi, "kita buka jendela dan rebahkan sepeda motor."
Hal ini dilakukan agar seolah-olah saat perampok kabur tak sengaja menyenggol sepeda motor. Namun, saat sedang menyusun rencana dengan merebahkan sepeda motor, Adi melihat Jamaliah gemetaran.
"Kau yakin dengan segala yang telah kita lakukan ini ?" tanya Adi pada wanita itu.
"Pukul aku dari belakang, biar aku pingsan dan orang-orang yakin rumahku dirampok," pinta Jamaliah.
Adi menolak usulan itu. "Jangan ! Apa tidak ada cara lain ? Minta tolong saja lah."
"Bagaimana cara minta tolong ?" tanya Jamaliah dengan panik.
"Tenang. Minta tolong lah seperti biasa. Seperti yang pernah kau dengar," jawab Adi menenangkan.
Setelah semua beres, Adi bergegas meninggalkan rumah Jamaliah lewat pintu belakang dan hilang di kegelapan malam.
Quote:
Fajar belum menyingsing dan langit masih gelap, tapi warga desa Gampong Ujong Kulam tiba-tiba terbangun karena mendengar suara jeritan dari rumah Jazuli. Saat warga datang ke rumah pria itu, istri dan anaknya menjerit histeris.
"Ada rampok ! Ada rampok di rumah saya !" ujar Jamaliah, istri dari Jazuli.
Warga masuk ke rumah dan menuju kamar, mereka menemukan Jazuli (34 tahun) tewas di kamar dengan luka gorok di leher. Polisi dipanggil, dan jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Cut Meutia untuk diautopsi.
Polisi lalu meminta keterangan warga, anggota keluarga, dan Jamaliah selaku istri korban. Kepada polisi, Jamaliah memberi keterangan sebagai berikut:
"Saya sedang menidurkan dua anak di kamar. Suami tidur di kamar lain. Sekitar jam setengah 3 pagi, saya dengar suara motor yang ada di samping kamar jatuh. Saat keluar dari kamar, saya lihat dua orang pria melompat dari jendela samping. Saya lalu melihat suami di kamar, dan menemukan dia sudah meninggal, lehernya digorok. Saya lalu keluar rumah berteriak minta tolong."
Awalnya polisi memang menduga ada perampokan, tapi ada yang aneh. Karena tidak ada barang berharga diambil, meski sang istri bilang dia kehilangan beberapa juta. Selain itu, tidak ada tanda-tanda kerusakan di pintu dan jendela. Yang lebih aneh lagi, ada bercak noda darah dari kamar Jazuli sampai ke pintu belakang.
Quote:
Polisi kemudian mendapat informasi dari seorang pria, yang mengatakan dia mengantar temannya bernama Adi ke rumah Jamaliah. Polisi lalu memanggil Adi, tapi dia selalu mangkir. Dari sini kecurigaan muncul dan polisi yakin jika Jamaliah mengarang cerita. Tapi, saat polisi mencari ke rumah Adi dan Jamaliah, dua orang itu telah kabur entah ke mana.
Polisi terus memburu kedua orang itu. Dan 4 bulan setelah peristiwa pembunuhan, Jamaliah ditangkap di Peunayong, Banda Aceh, pada 22 Januari 2019, jam 21.30 malam. Dia bekerja berpindah-pindah tempat selama di kota itu memakai nama samaran Novi, yang merupakan nama anak perempuannya.
Terakhir kali Jamaliah bekerja di sebuah rumah makan. Di sana dia ditangkap polisi. Waktu itu, beberapa orang polisi dari Polres Aceh Utara mendatangi tempat kerja Jamaliah di Peunayong.
"Apa Anda Jamaliah ?" tanya seorang polisi.
"Bukan, saya Novi," jawab Jamaliah sambil gelengkan kepala.
Polisi lalu menunjukan sebuah foto wanita yang merupakan foto Jamaliah. Wanita yang mengaku Novi itu tiba-tiba menangis.
"Ya, benar, saya Jamaliah."
Di tanggal yang sama, pada 22 Januari 2019. Adi ditangkap di Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatra Utara, saat bekerja sebagai tukang bangunan. Keesokan harinya, pada 23 Januari 2019, keduanya dibawa ke lokasi pembunuhan untuk rekonstruksi kejadian.
Sidang dilakukan pada Juli 2019 di Pengadilan Negeri Lhoksukon, dan vonis dijatuhkan pada Agustus 2019. Adi dan Jamaliah dijerat Pasal 340 JO Pasal 338 JO Pasal 55 KUHP tentang pembunuhan berencana. Adi divonis penjara seumur hidup, sementara Jamaliah divonis penjara 20 tahun. Adi sempat melakukan banding dan kasasi, tapi ditolak.
Quote:
Berdasarkan informasi yang diperoleh media lokal di Aceh pada waktu itu, Jazuli Ismail (34 tahun) dikenal sebagai pria baik hati dan pekerja keras. Setiap hari dia berjualan es campur keliling. Dari hasil kerja kerasnya itu, dia berhasil membangun rumah. Dan waktu itu proses pembangunan rumahnya telah selesai separuhnya.
Sementara Musliyadi alias Adi (26 tahun) waktu itu masih belum punya rumah sendiri dan tinggal bersama mertuanya, desas-desus yang beredar, Jamaliah membunuh suaminya bukan hanya agar bisa hidup dengan Adi; tapi juga untuk menguasai rumah sang suami.
Kepada media, Adi mengatakan telah jatuh cinta kepada Jamaliah pada pandangan pertama dan sangat mencintainya. Sementara itu, tidak diketahui apakah Jamaliah juga merasakan hal serupa ? Hanya wanita itu yang tahu jawabannya.
Kedua anak Jamaliah, Putra dan Novi turut menjadi korban dari aksi gila sang ibu. Mereka bukan hanya kehilangan sosok ayah, tapi juga sosok ibu di usia yang masih sangat muda. Kedua anak itu lalu diasuh oleh mertua dan ibu dari Jamaliah.
Sekian dan terima kasih, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kasus ini.
Referensi: 1| 2 | 3 | 4
bukhorigan dan 6 lainnya memberi reputasi
7
435
12
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya








