- Beranda
- Stories from the Heart
DI BAWAH BAYANG SYARIAT PALSU
...
TS
dwindrawati
DI BAWAH BAYANG SYARIAT PALSU
"Kamu mau masuk surga lewat pintu VIP, kan, Yang?"
Pertanyaan itu dilemparkan Ilham dengan nada lembut, sehalus beludru yang menyembunyikan jarum di baliknya. Ia tidak sedang bertanya; ia sedang memasang perangkap psikologis. Wajahnya memancarkan cahaya kesalehan yang dipaksakan, seolah ia adalah nabi kecil yang baru turun dari bukit membawa wahyu untuk menyelamatkan umat—atau dalam hal ini, menyelamatkan nafsunya sendiri.
Sarah menatap suaminya dengan pandangan kabur. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya membuat sosok Ilham tampak bergoyang, seperti bayangan di permukaan air yang keruh.
"Surga macam apa yang dibangun di atas air mata istri, Mas?" tantang Sarah, suaranya parau menahan isak.
Ilham menggeleng prihatin, mendecakkan lidah pelan. Ia menggeser duduknya lebih dekat, meraih tangan Sarah yang dingin dan menggenggamnya seolah sedang menyalurkan energi ilahiah.
"Itulah sempitnya pemikiran wanita. Kamu melihat ini sebagai musibah. Padahal, ini adalah ladang pahala yang Allah hamparkan luas-luas di depan mata kita. Cemburu itu wajar, itu tanda iman. Aisyah saja cemburu. Tapi menolak syariat? Itu bahaya, Sarah. Itu sama saja kamu menolak ketetapan Allah."
Kata 'syariat' itu meluncur dari mulut Ilham bagaikan mantra sihir yang mematikan logika. Ia menjadikan agama sebagai tameng baja, tempat ia berlindung dari segala tuduhan ketidaksetiaan. Setiap kali Sarah mencoba menyerang dengan argumen perasaan, Ilham akan menangkisnya dengan dalil. Ilham tidak sedang berdiskusi; ia sedang mendoktrin.
"Tapi kenapa harus dia? Kenapa harus sembunyi-sembunyi dulu?"
"Karena setan tidak suka melihat amal baik, Sayang. Setan pasti berusaha menggagalkan niat mulia ini. Makanya aku pelan-pelan. Aku ingin memastikan hati Rani mantap dulu untuk menerima bimbingan."
Ilham menarik napas panjang, matanya menerawang ke langit-langit kamar seolah sedang membayangkan sosok Rani yang suci.
"Kamu tahu, Sarah? Rani itu wanita yang luar biasa. Meski dia artis, dia sangat menjaga diri. Salatnya tidak pernah putus, ngajinya bagus. Tapi dia kesepian. Dia butuh imam yang kuat untuk menuntunnya agar tidak tergelincir kembali ke dunia glamor yang maksiat. Kalau kita tolak dia, dan dia jatuh ke tangan laki-laki yang salah, dosanya bisa jadi ciprat ke kita karena kita enggan menolong."
Sarah merasa mual. Logika macam apa ini? Ilham memutarbalikkan fakta seolah menikahi wanita lain adalah misi kemanusiaan yang mendesak, setara dengan menyumbang ke panti asuhan.
"Mas bicara seolah dia anak yatim yang butuh disantuni. Dia wanita dewasa, Mas! Dia punya uang, dia punya karir!"
"Harta tidak menjamin ketenangan hati, Sarah!" potong Ilham, nadanya sedikit meninggi namun segera ia rendahkan kembali. "Dia kagum sama kamu, tahu? Dia sering lihat story Instagram-mu—sebelum aku arsipkan foto kita. Dia bilang, 'Masyaallah, istri Mas Ilham itu parenting-nya bagus ya. Sabar banget urus anak. Aku mau belajar jadi ibu seperti dia'."
Pujian itu terasa seperti racun yang dibalur madu. Ilham sedang berusaha menjahit ego Sarah dengan benang sanjungan palsu. Ia ingin Sarah merasa tersanjung karena dijadikan role model oleh seorang artis, sehingga Sarah luluh dan mau membuka gerbang rumah tangganya.
"Dia memujiku?" Sarah tertawa getir, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas kasar. "Dia memujiku sambil berusaha mengambil tempatku?"
"Dia tidak mengambil tempatmu. Dia hanya minta sedikit ruang di gerbong kereta kita. Gerbongmu tetap di depan, Sarah. Kamu tetap ratunya. Dia rela jadi makmum di barisan belakang, asalkan dia bisa ikut dalam perjalanan kita menuju rida Ilahi."
Ilham semakin gencar. Lidahnya menari lincah merangkai kalimat-kalimat yang membius. Ia menggambarkan poligami yang ia rencanakan sebagai sebuah utopia: dua wanita yang saling mendukung, satu suami yang adil, dan keluarga besar yang harmonis di bawah payung agama.
Padahal, Sarah tahu, utopia itu hanyalah fatamorgana di tengah gurun pasir egonya. Ilham tidak mencari jalan ke surga; Ilham sedang mencari legitimasi untuk kerakusannya.
"Mas... aku tidak sekuat itu," lirih Sarah, benteng pertahanannya mulai retak dihantam gelombang manipulasi religius.
"Kamu kuat karena Allah tidak akan membebanimu di luar batas kemampuanmu. Kalau ujian ini datang ke kamu, berarti Allah tahu kelasmu sudah tinggi. Kamu bukan lagi istri biasa, Sarah. Kamu istri pilihan."
Ilham memeluk Sarah, mendekap kepala istrinya ke dadanya yang bidang. Di dalam pelukan itu, Sarah merasa kerdil. Ia merasa terpojok. Jika ia menolak, ia akan dicap sebagai istri pembangkang yang menghalangi suaminya beribadah. Jika ia menerima, ia akan membunuh hatinya sendiri perlahan-lahan.
Suaminya telah sukses mengubah pengkhianatan menjadi sebuah panggung ujian keimanan. Ilham tersenyum tipis di atas kepala Sarah, merasa menang karena berhasil membungkam protes istrinya dengan senjata yang tak mungkin dilawan oleh wanita sesalehah Sarah: rasa takut pada Tuhan.
Novelnya sudah tamat di KBM App, judulnya: DI BAWAH BAYANG SYARIAT PALSU
Pertanyaan itu dilemparkan Ilham dengan nada lembut, sehalus beludru yang menyembunyikan jarum di baliknya. Ia tidak sedang bertanya; ia sedang memasang perangkap psikologis. Wajahnya memancarkan cahaya kesalehan yang dipaksakan, seolah ia adalah nabi kecil yang baru turun dari bukit membawa wahyu untuk menyelamatkan umat—atau dalam hal ini, menyelamatkan nafsunya sendiri.
Sarah menatap suaminya dengan pandangan kabur. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya membuat sosok Ilham tampak bergoyang, seperti bayangan di permukaan air yang keruh.
"Surga macam apa yang dibangun di atas air mata istri, Mas?" tantang Sarah, suaranya parau menahan isak.
Ilham menggeleng prihatin, mendecakkan lidah pelan. Ia menggeser duduknya lebih dekat, meraih tangan Sarah yang dingin dan menggenggamnya seolah sedang menyalurkan energi ilahiah.
"Itulah sempitnya pemikiran wanita. Kamu melihat ini sebagai musibah. Padahal, ini adalah ladang pahala yang Allah hamparkan luas-luas di depan mata kita. Cemburu itu wajar, itu tanda iman. Aisyah saja cemburu. Tapi menolak syariat? Itu bahaya, Sarah. Itu sama saja kamu menolak ketetapan Allah."
Kata 'syariat' itu meluncur dari mulut Ilham bagaikan mantra sihir yang mematikan logika. Ia menjadikan agama sebagai tameng baja, tempat ia berlindung dari segala tuduhan ketidaksetiaan. Setiap kali Sarah mencoba menyerang dengan argumen perasaan, Ilham akan menangkisnya dengan dalil. Ilham tidak sedang berdiskusi; ia sedang mendoktrin.
"Tapi kenapa harus dia? Kenapa harus sembunyi-sembunyi dulu?"
"Karena setan tidak suka melihat amal baik, Sayang. Setan pasti berusaha menggagalkan niat mulia ini. Makanya aku pelan-pelan. Aku ingin memastikan hati Rani mantap dulu untuk menerima bimbingan."
Ilham menarik napas panjang, matanya menerawang ke langit-langit kamar seolah sedang membayangkan sosok Rani yang suci.
"Kamu tahu, Sarah? Rani itu wanita yang luar biasa. Meski dia artis, dia sangat menjaga diri. Salatnya tidak pernah putus, ngajinya bagus. Tapi dia kesepian. Dia butuh imam yang kuat untuk menuntunnya agar tidak tergelincir kembali ke dunia glamor yang maksiat. Kalau kita tolak dia, dan dia jatuh ke tangan laki-laki yang salah, dosanya bisa jadi ciprat ke kita karena kita enggan menolong."
Sarah merasa mual. Logika macam apa ini? Ilham memutarbalikkan fakta seolah menikahi wanita lain adalah misi kemanusiaan yang mendesak, setara dengan menyumbang ke panti asuhan.
"Mas bicara seolah dia anak yatim yang butuh disantuni. Dia wanita dewasa, Mas! Dia punya uang, dia punya karir!"
"Harta tidak menjamin ketenangan hati, Sarah!" potong Ilham, nadanya sedikit meninggi namun segera ia rendahkan kembali. "Dia kagum sama kamu, tahu? Dia sering lihat story Instagram-mu—sebelum aku arsipkan foto kita. Dia bilang, 'Masyaallah, istri Mas Ilham itu parenting-nya bagus ya. Sabar banget urus anak. Aku mau belajar jadi ibu seperti dia'."
Pujian itu terasa seperti racun yang dibalur madu. Ilham sedang berusaha menjahit ego Sarah dengan benang sanjungan palsu. Ia ingin Sarah merasa tersanjung karena dijadikan role model oleh seorang artis, sehingga Sarah luluh dan mau membuka gerbang rumah tangganya.
"Dia memujiku?" Sarah tertawa getir, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas kasar. "Dia memujiku sambil berusaha mengambil tempatku?"
"Dia tidak mengambil tempatmu. Dia hanya minta sedikit ruang di gerbong kereta kita. Gerbongmu tetap di depan, Sarah. Kamu tetap ratunya. Dia rela jadi makmum di barisan belakang, asalkan dia bisa ikut dalam perjalanan kita menuju rida Ilahi."
Ilham semakin gencar. Lidahnya menari lincah merangkai kalimat-kalimat yang membius. Ia menggambarkan poligami yang ia rencanakan sebagai sebuah utopia: dua wanita yang saling mendukung, satu suami yang adil, dan keluarga besar yang harmonis di bawah payung agama.
Padahal, Sarah tahu, utopia itu hanyalah fatamorgana di tengah gurun pasir egonya. Ilham tidak mencari jalan ke surga; Ilham sedang mencari legitimasi untuk kerakusannya.
"Mas... aku tidak sekuat itu," lirih Sarah, benteng pertahanannya mulai retak dihantam gelombang manipulasi religius.
"Kamu kuat karena Allah tidak akan membebanimu di luar batas kemampuanmu. Kalau ujian ini datang ke kamu, berarti Allah tahu kelasmu sudah tinggi. Kamu bukan lagi istri biasa, Sarah. Kamu istri pilihan."
Ilham memeluk Sarah, mendekap kepala istrinya ke dadanya yang bidang. Di dalam pelukan itu, Sarah merasa kerdil. Ia merasa terpojok. Jika ia menolak, ia akan dicap sebagai istri pembangkang yang menghalangi suaminya beribadah. Jika ia menerima, ia akan membunuh hatinya sendiri perlahan-lahan.
Suaminya telah sukses mengubah pengkhianatan menjadi sebuah panggung ujian keimanan. Ilham tersenyum tipis di atas kepala Sarah, merasa menang karena berhasil membungkam protes istrinya dengan senjata yang tak mungkin dilawan oleh wanita sesalehah Sarah: rasa takut pada Tuhan.
Novelnya sudah tamat di KBM App, judulnya: DI BAWAH BAYANG SYARIAT PALSU

bukhorigan memberi reputasi
1
68
2
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya