Kaskus

Entertainment

tanmalako091539Avatar border
TS
tanmalako091539
Menemukan Jawa Hitam: dari Majapahit ke Dutch East Indies
Konten Sensitif
Menemukan Jawa Hitam: dari Majapahit ke Dutch East Indies


Di dalam arsip yang tak pernah dibuka oleh kementerian pendidikan, tersembunyi sebuah entri yang membingungkan bahkan para ahli silsilah. Ia bukan suku, bukan kerajaan, dan bukan pula provinsi yang dilupakan. Ia adalah hasil perkimpoian silang yang terlalu kompleks untuk dibicarakan di meja makan keluarga, tetapi terlalu nyata untuk diingkari. Sebuah kata yang terselip di antara catatan usang, seakan terjatuh dari mulut arsiparis yang mengantuk. Awalnya tampak seperti kekeliruan pencatatan. Tetapi semakin lama saya menatap kata itu, semakin terasa seolah ia berusaha melompat keluar dari kertas, menuntut agar dikenali. Kata ini bukan sekadar istilah, melainkan sebuah identitas yang selama ini bersembunyi di balik dua topeng: Majapahit dan Dutch East Indies.

Majapahit, ketika huruf-hurufnya diacak secara iseng, akan menyisakan gema samar yang bisa berbunyi Jawa Hitam. Sementara Dutch East Indies (Indonesia: Belanda-Timur-India), sebagai hasil permainan kata yang serupa, meninggalkan jejak biologis berupa keturunan campuran: Belanda, orang Timur (Maluku, Timor, Flores), dan India, yang secara fisik menghasilkan tampilan rupa mendekati gambaran itu. Seakan-akan sejarah sedang bercanda, menyatukan mitos dan darah dalam satu sebutan yang absurd namun sulit dibantah. Keturunan campuran ini bukan sekedar konsekuensi liar atau efek samping dari kolonialisme. Tapi diprogram dan dipersiapkan secara sengaja sebagai pewaris tahta kerajaan Majapahit dan kolonialisme Hindia-Belanda sekaligus.

Belanda mewariskan genetika Eropa di kepulauan Nusantara dengan menikahi, menculik atau memaksa perempuan lokal dari Timur (dan Jawa). Dari India datang serdadu British India yang disewa pada masa kolonial. Pertemuan-pertemuan itu menciptakan wajah-wajah ambigu: hidung mancung, kulit gelap, rambut lebat bergelombang seperti riak-riak kecil yang mengiringi laju kapal penyeberangan antara Tanjung Perak dan pelabuhan Kamal, serta sorot mata tajam yang melayang antara tatapan disiplin militer kolonial dan lirikan aktor film India tahun 70-an.

Ciri-ciri itu lambat laun membentuk suatu kategori tak tertulis: cukup Belanda untuk dipercaya, cukup lokal untuk bisa menyatu dengan masyarakat, cukup India untuk menari enam menit penuh dengan pinggul yang luwes. Mereka hidup di zona abu-abu, menjadi jembatan hidup yang dimanfaatkan kolonial untuk menutupi jarak antara penjajah dan yang terjajah.

Dalam keseharian, identitas ini bergerak lebih fleksibel, menyesuaikan diri dengan peran yang diperlukan. Siang hari ia tampak rapi dengan jas tutup di kantor administrasi, menandatangani laporan dan mengatur berkas; malamnya, ia berubah menjadi pusat perhatian di pesta, menyanyikan lagu India diiringi gramofon. Makna kata-kata itu sering tidak dipahami, namun getaran musiknya terasa akrab, menjadi semacam DNA tak tertulis yang diwariskan lebih konsisten daripada dokumen akta kelahiran.

Pernikahan mereka adalah panggung absurd sejarah. Meja penuh kompromi kuliner: kroket Belanda, kari India, ikan bakar Halmahera, jus alpukat Maumere serta gado-gado khas Jawa Timur, semua bersebelahan tanpa merasa bersalah. Musik berganti tanpa isyarat: gamelan, lalu waltz, lalu tiba-tiba soudtrack film-film klasik dari Bollywood. Tidak ada yang protes; tubuh mereka menyesuaikan, kaki melangkah dengan ritme yang tidak peduli batas dan kategori.

Inilah arsip hidup, bukan di dalam lemari kayu kementerian, melainkan di tubuh, gerak dan kebiasaan. Sejarah kolonial mungkin mencatat kapal, pajak, dan peperangan, tetapi melupakan pesta dansa dan lirik lagu India yang dijadikan ninna-bobo anak-anak hasil percampuran.

Namun absurditas ini bukan sekadar anekdot. Ia menyingkap bahwa penjajahan tidak hanya menguasai tanah, tetapi juga mengatur daging dan darah. Kategori rasial yang tampak beku ternyata bisa dicairkan dengan darah campuran. Eropa menolak menyebut mereka Eropa, tetapi tetap merekrut mereka sebagai tentara di barak-barak militer, pegawai pelabuhan dan kantor. Mereka dipakai sebagai "lapisan penyangga"---makhluk ganda yang menanggung beban dua dunia.

Di sinilah kata Jawa Hitam menemukan bentuknya. Ia bukan nama yang lahir di meja pejabat, melainkan gumaman sejarah yang menampung semua kontradiksi. Ia menegaskan bahwa hasil percampuran bisa membingungkan statistik, tetapi justru menyelamatkan kekuasaan kolonial dari keruntuhan total.

Lalu, bagaimana dengan Majapahit? Di sinilah paradoks semakin jelas. Majapahit dipuja sebagai simbol kejayaan Nusantara: kerajaan yang konon menguasai gugusan pulau dari Sabang sampai Merauke, bahkan Asia Tenggara. Namun narasinya dibangun dengan pola yang persis sama seperti kolonialisme: ekspansi, penguasaan, penarikan upeti, penyeragaman dalam nama pemerintahan pusat.

Jika Hindia Belanda menaklukkan dengan meriam dan peraturan pajak, Majapahit menaklukkan dengan sumpah dan panji-panji kebesaran. Tetapi struktur keduanya serupa: pusat menguasai pinggiran, perbatasan tunduk pada istana atau kantor gubernur, dan seluruhnya dibungkus dengan narasi legitimasi.

Kesamaan ini bukan kebetulan. Ia menandakan bahwa Majapahit dan Dutch East Indies sebenarnya memainkan peran ganda sebagai wajah yang berbeda dari penjajahan yang sama. Satu berkostum kerajaan Jawa kuno, satu lagi berkostum birokrasi kolonial Eropa. Di antara keduanya, bersembunyi manusia-manusia hibrida yang secara fisik mendekati kata yang muncul secara ajaib karena "iseng" itu.

Bayangkan: ketika bangsa Eropa pergi, narasi Majapahit diangkat kembali sebagai pengganti, seolah-olah tanah ini selalu punya pusat kekuasaan yang sah. Namun, keduanya hanyalah topeng berbeda dari satu wajah penjajahan. Topeng pertama penuh mitos, topeng kedua penuh administrasi. Tetapi di baliknya sama saja: dominasi, pengaturan, dan penciptaan komunitas imajiner.

Maka kata itu---Jawa Hitam---menjadi saksi absurditas sejarah. Ia adalah tubuh biologis hasil kolonialisme, tetapi sekaligus gema linguistik dari mitos Majapahit. Ia menjembatani dua bab yang tampak terpisah, menunjukkan bahwa garis sejarah Nusantara bukan lurus, melainkan spiral, berputar di sekitar pusat kekuasaan yang sama.

Kini, di abad modern, warisan itu belum lenyap. Wajah-wajah itu masih tampak di mana-mana, diaspora campuran genetika Eropa, Asia Selatan dan Maluku. Di televisi nasional, wajah dengan kategori ini tampil sebagai model ideal, tanpa pernah disadari bahwa mereka adalah bagian dari arsip kolonial yang hidup.

Kita tidak pernah menyebut mereka dengan nama tersebut secara resmi. Ia tetap menjadi kata yang tersembunyi, gumaman di tepi arsip. Tetapi kehadirannya menyingkap sesuatu yang lebih besar: bahwa penjajahan bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan kondisi yang menyusup ke dalam identitas -bahkan imajinasi nasional.

Mungkin inilah kesimpulan paling absurd sekaligus paling jujur: Majapahit dan Dutch East Indies bukanlah dua cerita terpisah. Mereka adalah wajah kembar dari satu proyek: penjajahan. Yang satu diberi baju kerajaan, yang lain diberi seragam kolonial. Dan di antara mereka lahirlah generasi campuran yang menjadi bukti hidup bahwa garis batas identitas hanyalah alat politik.

Jika benar demikian, maka mereka telah mengakar dalam setiap sel tubuh kita, menulis ulang sejarah dalam darah dan kulit. Penjajahan bukan lagi hanya cerita yang dikisahkan di pelabuhan, benteng dan kota-kota tua, tetapi gema yang terus hidup dalam gerak kita, dalam cara kita tertawa, menari, dan bahkan memandang dunia. Meski layar kapal-kapal Eropa telah lama meninggalkan Batavia, bayangan itu tetap menempel, menyelinap di sela-sela kata, di lirikan mata, dan di setiap langkah yang kita kira milik sendiri. Identitas bangsa menjadi arsip hidup dari suatu eksperimen sosial kolonial yang tak pernah sepenuhnya bisa dihapus.
Diubah oleh tanmalako091539 28-08-2025 20:28
0
126
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread104.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.