- Beranda
- Berita dan Politik
Lebaran Berlalu, Penjualan Ritel RI Terpantau Lesu
...
TS
jaguarxj220
Lebaran Berlalu, Penjualan Ritel RI Terpantau Lesu
Bloomberg Technoz, Jakarta - Lebaran berlalu, daya dorong penjualan ritel pun berakhir. Para konsumen kemungkinan mulai kembali mengetatkan pengeluaran sejurus ketiadaan momentum perayaan lagi usai Idulfitri dan libur panjang Lebaran usai.
Penjualan eceran di Indonesia memasuki musim paceklik sampai nanti ada momentum liburan lagi yang cukup panjang seperti saat libur anak sekolah, libur Natal dan Tahun Baru atau periode belanja besar untuk sektor tertentu seperti saat persiapan tahun ajaran baru anak sekolah pada pertengahan tahun.
Laporan terbaru Survei Penjualan Eceran pada April yang dilansir oleh Bank Indonesia hari ini, mengungkapkan, Indeks Penjualan Riil pada bulan lalu diperkirakan terkontraksi alias tumbuh negatif, baik secara bulanan maupun tahunan.
Secara bulanan, setelah penjualan ritel mencetak pertumbuhan 13,9% pada Maret dibanding capaian bulan sebelumnya, maka pada April begitu tidak ada momentum belanja besar konsumen, lajunya ambles hingga turun 6,9% month-on-month (mom). Itu menjadi kontraksi bulanan terbesar pascalebaran sejak 2023 silam.
Sedangkan menghitung laju tahunan, penjualan ritel pada April juga terkontraksi 2,2% year-on-year (yoy). Ini menjadi kontraksi penjualan eceran pertama dalam setahun, sejak terakhir terjadi pada April 2024 usai lebaran tahun tersebut.
Sementara dalam hitungan kuartalan, kinerja penjualan eceran pada kuartal 1-2025 hanya tumbuh 2,7% year-on-year (yoy). Angka itu menjadi capaian kuartalan terendah dua tahun di kala ada perayaan Ramadan dan Idulfitri di dalamnya.
Semua Sektor Kontraksi
Melihat perincian kinerja setiap sektor, pada April terlihat bahwa semua sektor diperkirakan mengalami kontraksi pertumbuhan dibanding Maret.
Sektor perlengkapan rumah tangga lainnya mencatat kontraksi terdalam, hingga 10,6% dibanding Maret. Disusul oleh kontraksi pada penjualan ritel sektor pakaian (-9,1%) juga makanan dan minuman (-7,2%).
Sementara dalam laju tahunan, sektor peralatan informasi dan komunikasi menyumbang kontraksi terbesar, dengan tumbuh negatif 20,4% yoy. Disusul oleh sektor perlengkapan rumah tangga yang turun hingga 11,3% serta sektor makanan dan minuman yang terkontraksi secara tahunan sebesar 1,7%.
Sektor yang masih membukukan laju pertumbuhan nan cepat hanyalah untuk penjualan bahan bakar kendaraan bermotor yang mencatat pertumbuhan 4,1% pada April, jadi yang tertinggi selama tahun ini.
Gambaran terbaru kinerja penjualan ritel usai Lebaran menggemakan lagi kerentanan mesin pertumbuhan ekonomi domestik yang makin bergantung pada faktor musiman.
Konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, setara 54,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), masih belum mampu bangkit lajunya ke level sebelum pandemi.
Konsumsi rumah tangga cuma tumbuh 4,89% pada kuartal 1-2025, yang menjadi pertumbuhan kuartalan terendah di masa Lebaran sejak pandemi lalu. Tidak mengherankan bila pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini cuma 4,87%, terendah sejak kuartal III-2021 silam.
Kajian yang dilansir LPEM Universitas Indonesia beberapa waktu lalu menyoroti, mesin pertumbuhan struktural RI cenderung melemah yang terindikasi dari penurunan daya beli, penyusutan jumlah kelas menengah dan pelemahan produktivitas sektoral secara persisten.
"Di masa lampu, perekonomian Indonesia masih bisa mengandalkan faktor musiman, seperti Ramadhan dan Idul Fitri serta libur akhir tahun untuk mendorong kinerja ekonominya," kata Teuku Riefky, ekonom LPEM UI.
Dengan laju kuartal pertama jauh lebih buruk dibanding perkiraan, hal itu menandai faktor musiman kian tak bertaji mendorong laju PDB.
Pada periode libur akhir tahun lalu, misalnya, masyarakat cenderung memilih untuk berlibur dan melakukan aktivitas wisata ke destinasi yang lebih dekat secara jarak, menyiratkan pelemahan daya beli seiring dengan mengecilnya pengeluaran untuk kebutuhan tersier.
"Apabila tidak dimitigasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang akan terus melemah seiring dengan semakin kecilnya dorongan dari faktor musiman dan masih belum mampunya melakukan revitalisasi mesin pertumbuhan ekonomi struktural," kata ekonom.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...erpantau-lesu/
Bank Indonesia kok sekarang jadi duta ekonomi lesu..?

Kalau jualan sepi, masih ada sektor yg masih tumbuh kok, jualan BBM.
Jadi pengusaha harus bisa adaptasi.
Bisa beralih bisnis sebentar jadi jualan BBM eceran..
Penjualan eceran di Indonesia memasuki musim paceklik sampai nanti ada momentum liburan lagi yang cukup panjang seperti saat libur anak sekolah, libur Natal dan Tahun Baru atau periode belanja besar untuk sektor tertentu seperti saat persiapan tahun ajaran baru anak sekolah pada pertengahan tahun.
Laporan terbaru Survei Penjualan Eceran pada April yang dilansir oleh Bank Indonesia hari ini, mengungkapkan, Indeks Penjualan Riil pada bulan lalu diperkirakan terkontraksi alias tumbuh negatif, baik secara bulanan maupun tahunan.
Secara bulanan, setelah penjualan ritel mencetak pertumbuhan 13,9% pada Maret dibanding capaian bulan sebelumnya, maka pada April begitu tidak ada momentum belanja besar konsumen, lajunya ambles hingga turun 6,9% month-on-month (mom). Itu menjadi kontraksi bulanan terbesar pascalebaran sejak 2023 silam.
Sedangkan menghitung laju tahunan, penjualan ritel pada April juga terkontraksi 2,2% year-on-year (yoy). Ini menjadi kontraksi penjualan eceran pertama dalam setahun, sejak terakhir terjadi pada April 2024 usai lebaran tahun tersebut.
Sementara dalam hitungan kuartalan, kinerja penjualan eceran pada kuartal 1-2025 hanya tumbuh 2,7% year-on-year (yoy). Angka itu menjadi capaian kuartalan terendah dua tahun di kala ada perayaan Ramadan dan Idulfitri di dalamnya.
Semua Sektor Kontraksi
Melihat perincian kinerja setiap sektor, pada April terlihat bahwa semua sektor diperkirakan mengalami kontraksi pertumbuhan dibanding Maret.
Sektor perlengkapan rumah tangga lainnya mencatat kontraksi terdalam, hingga 10,6% dibanding Maret. Disusul oleh kontraksi pada penjualan ritel sektor pakaian (-9,1%) juga makanan dan minuman (-7,2%).
Sementara dalam laju tahunan, sektor peralatan informasi dan komunikasi menyumbang kontraksi terbesar, dengan tumbuh negatif 20,4% yoy. Disusul oleh sektor perlengkapan rumah tangga yang turun hingga 11,3% serta sektor makanan dan minuman yang terkontraksi secara tahunan sebesar 1,7%.
Sektor yang masih membukukan laju pertumbuhan nan cepat hanyalah untuk penjualan bahan bakar kendaraan bermotor yang mencatat pertumbuhan 4,1% pada April, jadi yang tertinggi selama tahun ini.
Gambaran terbaru kinerja penjualan ritel usai Lebaran menggemakan lagi kerentanan mesin pertumbuhan ekonomi domestik yang makin bergantung pada faktor musiman.
Konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, setara 54,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), masih belum mampu bangkit lajunya ke level sebelum pandemi.
Konsumsi rumah tangga cuma tumbuh 4,89% pada kuartal 1-2025, yang menjadi pertumbuhan kuartalan terendah di masa Lebaran sejak pandemi lalu. Tidak mengherankan bila pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini cuma 4,87%, terendah sejak kuartal III-2021 silam.
Kajian yang dilansir LPEM Universitas Indonesia beberapa waktu lalu menyoroti, mesin pertumbuhan struktural RI cenderung melemah yang terindikasi dari penurunan daya beli, penyusutan jumlah kelas menengah dan pelemahan produktivitas sektoral secara persisten.
"Di masa lampu, perekonomian Indonesia masih bisa mengandalkan faktor musiman, seperti Ramadhan dan Idul Fitri serta libur akhir tahun untuk mendorong kinerja ekonominya," kata Teuku Riefky, ekonom LPEM UI.
Dengan laju kuartal pertama jauh lebih buruk dibanding perkiraan, hal itu menandai faktor musiman kian tak bertaji mendorong laju PDB.
Pada periode libur akhir tahun lalu, misalnya, masyarakat cenderung memilih untuk berlibur dan melakukan aktivitas wisata ke destinasi yang lebih dekat secara jarak, menyiratkan pelemahan daya beli seiring dengan mengecilnya pengeluaran untuk kebutuhan tersier.
"Apabila tidak dimitigasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang akan terus melemah seiring dengan semakin kecilnya dorongan dari faktor musiman dan masih belum mampunya melakukan revitalisasi mesin pertumbuhan ekonomi struktural," kata ekonom.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...erpantau-lesu/
Bank Indonesia kok sekarang jadi duta ekonomi lesu..?

Kalau jualan sepi, masih ada sektor yg masih tumbuh kok, jualan BBM.
Jadi pengusaha harus bisa adaptasi.
Bisa beralih bisnis sebentar jadi jualan BBM eceran..

bang.toyip dan 2 lainnya memberi reputasi
3
326
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
691.7KThread•56.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya