Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

spaghettimiAvatar border
TS
spaghettimi
Petuah Si Buntung || Cerita Thriller

emoticon-exclamationPERINGATAN emoticon-exclamation
CERITA INI MEMUAT DESKRIPSI SADIS YANG MUNGKIN KURANG MENGENAKKAN BAGI SEBAGIAN ORANG


Semakin banyak anak-anak yang mengunjungi Si Buntung. Setiap sore, mereka berdesak memasuki gubuk aneh itu demi satu hal: mendengarkan cerita kelam yang konon penuh dengan makna.

Masalahnya, tidak ada orang yang membocorkan apa cerita itu. Seakan-akan orang yang mendengar langsung ingin memendamnya dalam-dalam.

Sebagian besar orang menganggap tempat itu berbahaya, menjijikkan, dan hanya orang-orang bodoh yang mau masuk. Namun entah apa alasannya, anak-anak sangat berminat untuk mengunjunginya. Sekali mereka datang, mereka akan kembali lagi dan lagi.

Tidak ada orang dewasa yang mengunjungi Si Buntung. Anak-anak juga sangat keras kepala hingga orang tua mereka tidak mampu menghentikan mereka. Orang tua hanya bisa mengurung atau membiarkan anak-anak pergi ke Si Buntung.



Hari ini, aku jadi ikut tertarik untuk berkunjung. Bahkan dengan usiaku yang hanya 15 tahun, aku menjadi anak paling tua di antara semua yang mengunjungi Si Buntung. Jika aku datang beberapa tahun lagi, aku akan terlihat sangat aneh.

Aku pun menyisir jalanan sempit yang terasa sangat sepi walaupun banyak orang yang sedang berjalan di sini. Dan di ujung sana, terlihat gubuk tujuan kami.

Anak-anak membawa tas yang berisi makanan. Aku melihat sayur-sayuran, bumbu, bahkan ada daging yang tampak mahal. Lalu, beberapa orang dewasa yang bertingkah seperti pembantu menerima bahan-bahan makanan itu.

Mungkin inilah cara Si Buntung itu bertahan hidup tanpa pernah keluar rumah.

Rumahnya sangat kotor dan gelap, sesuai dugaanku sejak melihat bagian luarnya. Bahkan, gubuk ini memiliki bau tidak sedap.

Barang paling layak di rumah ini adalah meja dan kursi tempat kami dipersilahkan duduk. Beruntungnya lagi, aku bisa duduk di barisan depan.

Orang yang kami tunggu-tunggu pun datang. Ia kesulitan berjalan dengan satu kakinya, sambil menunjukkan ekspresi datar di wajah keriputnya.

Ia menduduki bangku tua itu dan menyalakan satu lampu minyak. Ia menghela napas dan mulai bercerita.

Quote:


Orang tua itu batuk dan berhenti sejenak. Ia pun meraba telinga kanannya yang hancur, lalu melanjutkan kembali cerita.

Quote:


Di tengah kegelapan, Si Buntung menjulurkan tangan di depan lampu. Ia menunjukkan jarinya yang tinggal 4.

Semua anak tidak tahu mau berkata apa. Atau mungkin, mereka tidak bisa berkata apa-apa.

Quote:


"DAG!!!" aku membalik meja yang ada di depanku. Anak-anak di sekitarku terkejut, dan seketika suasana menjadi sunyi.

Sebelum aku berkata sesuatu, beberapa orang dewasa datang menyajikan kami makanan. Inilah fungsi dari meja dan kursi ini.

Beberapa orang dewasa datang dengan gaya seperti pelayan. Tempat ini gelap, tetapi aku bisa melihat beberapa loyang makanan yang dimasak elegan.

Satu pelayan datang dan berbisik kepadaku, "Ini bukanlah daging anak-anak, diamlah dan makan."

Tak lama, aku sadar bahwa makanan ini dibuat dari bahan makanan yang dibawa oleh anak-anak tadi. Mungkin inilah kebiasaan mereka.

Seorang kakek-kakek menceritakan kanibalisme kepada anak-anak memanglah aneh, tetapi aku masih terlalu cepat untuk menduga.

Quote:


Si tua itu diam dan suasana kembali hening. Aku tidak yakin apakah cerita ini sudah berakhir.

Aku hanya menatap ke masakan yang mereka sajikan di atas mejaku ini.

Awalnya, makan sambil mendengar cerita kanibal terasa menjijikkan. Namun, sekarang aku merasa lapar dan ingin mencoba masakan yang ada di depanku ini.

Aku tersadar, bau yang ada di ruangan ini tidak lagi menggangguku.

Sama seperti anak-anak yang lain, aku memakan masakan yang mereka hidangkan dengan lahap. Seakan-akan aku lupa, kami baru saja mendengar cerita tentang kanibalisme.

Tanpa sadar, aku tertidur.



Mataku buram. Sedikit demi sedikit, aku mulai melihat lagi Si Buntung dan para pelayannya.

Saat aku tersadar, semuanya masih seperti biasa.

Sekarang, Si Buntung mulai menceritakan bagian akhir yang belum kami dengar.

Quote:


Aku salah, semuanya tidak seperti biasa. Kami melihat mayat anak kecil yang dulu ia kuliti.

Walau hancur, tatapan dari lubang tengkoraknya menusuk jiwaku.

Badan itu mengeluarkan bau yang sangat kuat. Bau yang lama-lama membuat siapapun yang menciumnya merasa nyaman.

Sungguh petuah yang sangat hebat.

Aku akan kembali lagi ke tempat ini.

Aku akan kembali dengan membawa bahan makanan yang segar.

Bahan terbaik, yaitu daging para orang dewasa.
Diubah oleh spaghettimi 13-04-2024 04:54
bukhorigan
azhuramasda
azhuramasda dan bukhorigan memberi reputasi
2
116
1
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the HeartKASKUS Official
31.6KThread42.4KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.