- Beranda
- Stories from the Heart
Tumbal Pengganti
...
TS
nasura2101
Tumbal Pengganti
PROLOG
"Kau lancang menyelamatkan tumbalku, maka bersiaplah untuk menjadi pengganti!"
Aku lelaki sangat beruntung, punya karir bagus dan istri yang cantik. Baru menikah juga sudah punya rumah sendiri dan kendaraan pribadi. Meski istriku sedikit matre aku punya cukup uang untuk membiayai hidupnya yang glamour.
Namun kehidupan kami berubah saat aku mengusahakan kesembuhan kakak iparku yang memiliki stress akut, kalau tidak ingin disebut gila. Kakak iparku sembuh tapi aku mulai sakit-sakitan.
Aku masuk dalam lingkarang setan yang diciptakan Riyana---istriku--- tanpa kusadari, niatku yang tulus dimanfaatkan dengan sangat baik olehnya, ditambah rasa cintaku terhadap Riyana membutakan penglihatanku tentang siapa sesungguhnya Riyana. Keinginanku menolong Indri---kakak Riyana----membawaku kepada sebuah keadaan dimana dia tanpa sadar bersedia menjadi tumbal pengganti. Petaka yang tidak pernah kubayangkan dalam mimpi sekalipun.
PENDAHULUAN
Perkenalkan, namaku Dewa, aku mahasiswa semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta jurusan akutansi di kota X. Selain kegiatan kuliah, aku sibuk dengan komunitas remaja, dari sini aku kenal dengan seorang gadis bernama Riyana yang kelak menjadi istriku.
Riyana mempunyai seorang kakak yang sudah menikah bernama Indri. Indri punya seorang anak perempuan berusia 2 tahun. Sekilas tidak ada kelainan pada Indri, perempuan normal yang penuh kasih sayang, juga ramah kepada semua
orang.
Namun saat aku mengenal lebih dekat, aku melihat banyak kejanggalan pada dirinya. Kadang tiba-tiba menangis tanpa sebab atau tertawa sendirian. Tatapan juga sering kosong. Entahlah, aku selalu secara tidak sengaja melihat kejanggalan yang terjadi pada Indri, meski jujur, aku bukan orang yang percaya kepada yang namanya kebetulan. Everything happens for reason.
Aku pernah membahas hal ini dengan Riyana, tapi tidak ditanggapi serius. Dia bilang, "Indri, nggak papa kok, dia punya kebiasaan itu sejak lama, sejak dia masih remaja."
"Tapi Ri___," "percayalah, kakakku nggak papa." Namun entahlah, hati ini sering risau setiap kali ingat tingkah Indri. Terkadang tawanya tiba-tiba terdengar menggema di telingaku, atau suara isak tangisnya yang terdengar menyayat. Ada yang membuatku tidak nyaman, karena setiap kali hal ini terjadi, bulu kudukku tiba-tiba berdiri, hingga tanpa sadar aku meraba tengkukku.
_____________________
Waktu terus berlalu, setiap kali aku berkunjung ke rumah Riyana, aku sering bertemu Indri. Rumah Indri bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Sedang Riyana, masih tinggal dengan orang tua. Seperti biasa Indri selalu ramah, tapi tidak dengan suaminya---Komar.
Komar orang yang kaku, hampir tidak pernah menyapaku, hanya bola matanya tajam menatapku, jelas tergambar rasa tidak suka. Itu juga terlihat dari sikapnya yang enggan menyambut tanganku saat aku menyalaminya. Bibirnya hampir tidak pernah tersenyum.
Lagi-lagi Riyana seperti menyepelekan saat aku membahas tentang Komar, malah memintaku untuk mengabaikan. “Nggak usah diambil hati sikap abang iparku, dia memang begitu. Bukan hanya sama kamu, tapi sama semua orang, sebenarnya dia baik kok," ucap Riyana menjelaskan.
Entahlah, sekuat apapun aku berusaha mengabaikan mereka berdua, tetap saja, Indri dan Komar mengganggu pikiran. Aku yakin ada yang salah, satu terlalu pendiam sedang yang
lain terlalu ramah.
Selain itu, terlalu sering aku melihat Indri menangis, sering kali Indri menghambur ke pelukan Riyana tanpa memperdulikanku, seolah aku tidak ada disana. Saat tangisnya reda, pasti mengucapkan kalimat yang sama, “maaf ya, aku menganggu kalian, habis nggak tahan pingin nangis," ucapnya tanpa beban. Setelah itu, dia mengobrol ringan dengan tawa riang seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Aku hanya bengong menatap Indri.
“Apa yang sedang berusaha ditunjukkan Indri padaku,” bathinku geram. Aku merasa Indri ingin
menyampaiakan sesuatu padaku, hanya saja, cara yang ia pakai membuatku sinting.
__________________________
Setahun kemudian, aku diwisuda. Tak berselang lama, aku mendapat pekerjaan sebagai accounting di sebuah perusahaan di kota yang sama. Karena kesibukan, aku jarang berkunjung ke rumah Riyana, jadi hampir tidak pernah bertemu Indri dan Komar. Pelan-pelan aku mulai melupakan mereka. Aku dan Riyana masih intent bertemu, dua tahun kemudian, aku memutuskan untuk melamarnya.
Riyana, seperti umumnya perempuan, tapi memiliki gaya hidup stylis dan perfectionist. Apapun harus serba sempurna, dia memiliki standar yang tinggi, sedikit menguras kocek. Berebeda dengan gaya hidupku yang sederhana, karena aku di-didik bahwa segala sesuatu harus lebih kepada fungsinya bukan untuk bergaya, maklum orang tuaku pegawai negeri sipil dan aku punya banyak sudara. Aku tidak pernah mempermasalahkan gaya hidup Riyana, toh gajiku lebih dari cukup untuk meneyenangkannya.
Aku sudah bisa beli rumah saat aku melamarnya, meski sebagian adalah atas bantuan ayah. Tadinya aku menolak bantuan ayah, kupikir aku akan minta bantuan bank saja, tapi ayah bersikeras.
Singkat cerita, kami pun bertunangan. Di acara tunangan, Indri dan Komar tidak terlihat, pas aku tanya ternyata Indri di rumah sakit. Katanya tipes, harus rawat inap.
Kami pun menjenguknya ke rumah sakit setelah acara selesai. Kami berbincang selayaknya orang mengunjungi orang sakit, Indri tetap ramah seperti biasa, Komar juga tetap acuh tak acuh.
Ada yang aneh dengan ibu, setelah bersalaman dengan Komar. Beliau menyeretku menjauh, serius beliau bertanya penuh selidik, “seberapa dekat hubunganmu dengan Indri dan suaminya?"
"Cukup dekat," jawabku santai, meski jujur tingkah ibuku ini sedikit aneh buatku.
"Kau harus menjauh dari Indri dan suaminya, kalau perlu pertunangan ini kita batalkan saja," ucap ibu serius, terdengar sedikit ketus di telingaku. Aku melongo mendengar pernyataan ibu, belum sempat aku bertanya tentang alasan beliau, ibu sudah menyeretku ke ruangan Indri dan langsung berpamitan. Jelas sekali ibu risau, meski berusaha beliau sembunyikan. Sorot matanya penuh kekhawatiran, senyum ibu juga jelas dipaksakan saat berpamitan.
Aku cuma diam, menyimpan tanda tanya besar di dadaku. Saat di dalam mobil aku berusaha bertanya, tapi ketus ibu menjawab, "kita akan bicarakan ini setelah kita sampai di rumah." Aku pun sudah tidak berani membantah, sepanjang jalan kami hanya diam, semua orang juga lebih
banyak diam, seolah memahami kerisauan ibu.
Sesampainya di rumah, belum sempat duduk, ibu tibatiba terkulai, jatuh tak sadarkan diri. Kami semua tersentak kaget tanpa sempat menangkap tubuh ibu. Tercengang,
sebelum akhirnya menghambur menolongnya. Buru-buru kami baringkan ibu ke tempat tidur.
Mia---kakakku, segera mengechek tensi darah ibu, hasilnya tensi ibu memang tinggi, makanya ibu pingsan. Beruntung jantung ibu kuat, jadi tidak terjadi hal-hal yang lebih mengerikan. Aku begitu yakin, ini ada hubungannya dengan Indri dan Komar. Aku berfikir keras, “apa yang
membuat ibu sedemikian khawatir?”
Mia, tiba-tiba menarik tanganku, menyadarkanku dari lamunan. Membawaku keluar dari kamar ibu, "apa yang terjadi sama ibu? apa yang kalian bicarakan sampai tensi ibu naik seperti ini?jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah sakit!"
Mia memberondongku dengan banyak pertanyaan, setiap ucapanya penuh tekanan mengintimidasi, jelas sekali Mia marah. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi, bingung tidak tahu mesti bagaimana menjawab semua pertanyaan Mia.
"Dewa, jawab! jangan malah bengong." Mia menyadarkanku.
"Mia aku ngak tau apa yang sebenarnya terjadi, aku juga nggak ngerti kenapa ibu tiba-tiba pingsan, cuma___,"
"cuma apa?" kalimatku dipotong oleh Mia sebelum aku menyelesaikannya, jelas sekali dia gusar.
"Ibu tidak menjelaskan apa-apa, setelah ia bersalaman dengan Indri dan Komar, ibu membawaku menjauh lalu bertanya seberapa dekat hubunganku dengan mereka, setelah kujelaskan ibu bilang bahwa aku harus menjauh dari Indri dan Komar. Kalau perlu pertunananganku dengan Riyana dibatalkan saja.
Aku terhenyak dengan pernyataan ibu, belum sempat aku bertanya ibu sudah menyeretku kembali ke ruangan Indri dan langsung pamitan. Tadi pas di mobil kau juga dengar kan
bahwa ibu bilang akan bicara denganku pas nyampek rumah. Sungguh, aku juga sangat ingin mendengar penjelesan dari ibu." Mia jelas tidak puas dengan jawabanku.
"Emang kau punya masalah apa dengan Indri dan suaminya? kok ibu memintamu menjauh dari mereka?"
"Nggak ada, sama sekali aku nggak punya masalah dengan mereka."
"Lalu, kenapa ibu memintamu untuk menjauh dari mereka, sampai-sampai ibu memintamu untuk batalin pertunangan segala?"
"Aku juga sangat ingin tahu alasan ibu." Jawabku mulai emosi. Setelah itu kami sama-sama diam, canggung. Mata Mia menatapku penuh selidik, dia jelas tidak percaya dengan penjelasanku.
"Ackh__! F*CK!"
"Harusnya hari ini adalah hari bahagiaku, malah jadi runyam kayak gini."
Kecanggungan kami memudar saat ayah muncul dari balik pintu kamar ibu, beliau melambaikan tangan sambil berkata, “kemarilah kalian! ibu sudah siuman." Serta merta
kami bergegas masuk ke kamar ibu.
Beliau tersenyum menyambut kami, wajahnya masih agak pucat, “ibu minta maaf sudah merusak hari bahagiamu," ucap ibu berkacakaca. “Mboten bu, sama sekali tidak," jawabku berbohong.
"Le, embuh yo, ibu punya firasat buruk, semoga ibu salah," ucap ibu memulai kalimatnya. "Ibu merasa, sakitnya Indri bukan sakit biasa. Ibu merasa ada yang salah dengan Komar, tapi ibu tidak tahu itu apa. Ibu mohon jangan terlalu dekat dengan mereka, meski mereka adalah kakak dari calon istrimu.
Tentang Riyana, ibu mau jujur sama kamu ya le, ibu tidak terlalu suka gaya hidupnya. Ibu takut saat kau tidak lagi punya uang, kau akan disepelekan. Meski kau sangat mencintai Riyana, ibu minta pikirkan kembali baik-baik sebelum kau memutuskan untuk menikahinya."
"Inggih bu, saya mengerti," aku hanya bisa bilang ia, karena Mia sudah mencubitku berkali-kali saat ibu masih bicara. Itu adalah perintah supaya aku tidak membantah apa pun perkataan ibu, setidaknya sampai ibu benar-benar pulih.
Sejak kejadian itu, kondisi kesehatan ibu tidak pernah benar-benar pulih seperti sebelumnya, meski dokter bilang ibu sehat, tensinya sering tiba-tiba naik. Ibu tidak pernah
pingsan sejak hari itu, karena kami berusaha semaksimal mungkin untuk membuat ibu tenang.
Tentang hubunganku dengan Riyana, aku tetap kekeh untuk menikahinya. Ada sedikit perbedaan pendapat antara aku dan Riyana dalam mempersiapkan pesta pernikahan. Riyana menginginkan pesta yang meriah sedang aku ingin pesta yang lebih private---hanya dihadiri oleh orang terdekat.
Akhirnya aku mengalah, alasannya sederhana, aku mencintainya, aku hanya ingin lihat dia tersenyum bahagia. Namun sayangnya, ada insiden kecil yang membuat ibu
tersinggung. Karena hal ini, Riyana jadi tahu bahwa ibu tidak suka padanya.
Ibu 'muntap'lalu membahas gaya hidup Riyana yang menurut ibu hanya buang-buang uang untuk hal yang nggak penting.Dari peristiwa ini aku melihat sikap Riyana yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, menurutku ia berlebihan menanggapi kemarahan ibu. Dengan ketus dia menjawab, “ibu nggak bisa terima gaya hidup saya, ya ndak apa-apa. Jika Dewa juga mau memihak ibu, masih banyak kok laki-laki yang nungguin saya."
Semua orang tercengang dengan pernyataan Riyana, termasuk diriku. “Apakah Riyana benar-benar mencintaiku atau hanya mencintai uangku?!” pertanyaan ini terus mengusikku, menggerogoti kewarasanku.
___________________________
BERSAMBUNG
https://www.kaskus.co.id/thread/64c7...ang--menimpaku
"Kau lancang menyelamatkan tumbalku, maka bersiaplah untuk menjadi pengganti!"
Aku lelaki sangat beruntung, punya karir bagus dan istri yang cantik. Baru menikah juga sudah punya rumah sendiri dan kendaraan pribadi. Meski istriku sedikit matre aku punya cukup uang untuk membiayai hidupnya yang glamour.
Namun kehidupan kami berubah saat aku mengusahakan kesembuhan kakak iparku yang memiliki stress akut, kalau tidak ingin disebut gila. Kakak iparku sembuh tapi aku mulai sakit-sakitan.
Aku masuk dalam lingkarang setan yang diciptakan Riyana---istriku--- tanpa kusadari, niatku yang tulus dimanfaatkan dengan sangat baik olehnya, ditambah rasa cintaku terhadap Riyana membutakan penglihatanku tentang siapa sesungguhnya Riyana. Keinginanku menolong Indri---kakak Riyana----membawaku kepada sebuah keadaan dimana dia tanpa sadar bersedia menjadi tumbal pengganti. Petaka yang tidak pernah kubayangkan dalam mimpi sekalipun.
PENDAHULUAN
Perkenalkan, namaku Dewa, aku mahasiswa semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta jurusan akutansi di kota X. Selain kegiatan kuliah, aku sibuk dengan komunitas remaja, dari sini aku kenal dengan seorang gadis bernama Riyana yang kelak menjadi istriku.
Riyana mempunyai seorang kakak yang sudah menikah bernama Indri. Indri punya seorang anak perempuan berusia 2 tahun. Sekilas tidak ada kelainan pada Indri, perempuan normal yang penuh kasih sayang, juga ramah kepada semua
orang.
Namun saat aku mengenal lebih dekat, aku melihat banyak kejanggalan pada dirinya. Kadang tiba-tiba menangis tanpa sebab atau tertawa sendirian. Tatapan juga sering kosong. Entahlah, aku selalu secara tidak sengaja melihat kejanggalan yang terjadi pada Indri, meski jujur, aku bukan orang yang percaya kepada yang namanya kebetulan. Everything happens for reason.
Aku pernah membahas hal ini dengan Riyana, tapi tidak ditanggapi serius. Dia bilang, "Indri, nggak papa kok, dia punya kebiasaan itu sejak lama, sejak dia masih remaja."
"Tapi Ri___," "percayalah, kakakku nggak papa." Namun entahlah, hati ini sering risau setiap kali ingat tingkah Indri. Terkadang tawanya tiba-tiba terdengar menggema di telingaku, atau suara isak tangisnya yang terdengar menyayat. Ada yang membuatku tidak nyaman, karena setiap kali hal ini terjadi, bulu kudukku tiba-tiba berdiri, hingga tanpa sadar aku meraba tengkukku.
_____________________
Waktu terus berlalu, setiap kali aku berkunjung ke rumah Riyana, aku sering bertemu Indri. Rumah Indri bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Sedang Riyana, masih tinggal dengan orang tua. Seperti biasa Indri selalu ramah, tapi tidak dengan suaminya---Komar.
Komar orang yang kaku, hampir tidak pernah menyapaku, hanya bola matanya tajam menatapku, jelas tergambar rasa tidak suka. Itu juga terlihat dari sikapnya yang enggan menyambut tanganku saat aku menyalaminya. Bibirnya hampir tidak pernah tersenyum.
Lagi-lagi Riyana seperti menyepelekan saat aku membahas tentang Komar, malah memintaku untuk mengabaikan. “Nggak usah diambil hati sikap abang iparku, dia memang begitu. Bukan hanya sama kamu, tapi sama semua orang, sebenarnya dia baik kok," ucap Riyana menjelaskan.
Entahlah, sekuat apapun aku berusaha mengabaikan mereka berdua, tetap saja, Indri dan Komar mengganggu pikiran. Aku yakin ada yang salah, satu terlalu pendiam sedang yang
lain terlalu ramah.
Selain itu, terlalu sering aku melihat Indri menangis, sering kali Indri menghambur ke pelukan Riyana tanpa memperdulikanku, seolah aku tidak ada disana. Saat tangisnya reda, pasti mengucapkan kalimat yang sama, “maaf ya, aku menganggu kalian, habis nggak tahan pingin nangis," ucapnya tanpa beban. Setelah itu, dia mengobrol ringan dengan tawa riang seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Aku hanya bengong menatap Indri.
“Apa yang sedang berusaha ditunjukkan Indri padaku,” bathinku geram. Aku merasa Indri ingin
menyampaiakan sesuatu padaku, hanya saja, cara yang ia pakai membuatku sinting.
__________________________
Setahun kemudian, aku diwisuda. Tak berselang lama, aku mendapat pekerjaan sebagai accounting di sebuah perusahaan di kota yang sama. Karena kesibukan, aku jarang berkunjung ke rumah Riyana, jadi hampir tidak pernah bertemu Indri dan Komar. Pelan-pelan aku mulai melupakan mereka. Aku dan Riyana masih intent bertemu, dua tahun kemudian, aku memutuskan untuk melamarnya.
Riyana, seperti umumnya perempuan, tapi memiliki gaya hidup stylis dan perfectionist. Apapun harus serba sempurna, dia memiliki standar yang tinggi, sedikit menguras kocek. Berebeda dengan gaya hidupku yang sederhana, karena aku di-didik bahwa segala sesuatu harus lebih kepada fungsinya bukan untuk bergaya, maklum orang tuaku pegawai negeri sipil dan aku punya banyak sudara. Aku tidak pernah mempermasalahkan gaya hidup Riyana, toh gajiku lebih dari cukup untuk meneyenangkannya.
Aku sudah bisa beli rumah saat aku melamarnya, meski sebagian adalah atas bantuan ayah. Tadinya aku menolak bantuan ayah, kupikir aku akan minta bantuan bank saja, tapi ayah bersikeras.
Singkat cerita, kami pun bertunangan. Di acara tunangan, Indri dan Komar tidak terlihat, pas aku tanya ternyata Indri di rumah sakit. Katanya tipes, harus rawat inap.
Kami pun menjenguknya ke rumah sakit setelah acara selesai. Kami berbincang selayaknya orang mengunjungi orang sakit, Indri tetap ramah seperti biasa, Komar juga tetap acuh tak acuh.
Ada yang aneh dengan ibu, setelah bersalaman dengan Komar. Beliau menyeretku menjauh, serius beliau bertanya penuh selidik, “seberapa dekat hubunganmu dengan Indri dan suaminya?"
"Cukup dekat," jawabku santai, meski jujur tingkah ibuku ini sedikit aneh buatku.
"Kau harus menjauh dari Indri dan suaminya, kalau perlu pertunangan ini kita batalkan saja," ucap ibu serius, terdengar sedikit ketus di telingaku. Aku melongo mendengar pernyataan ibu, belum sempat aku bertanya tentang alasan beliau, ibu sudah menyeretku ke ruangan Indri dan langsung berpamitan. Jelas sekali ibu risau, meski berusaha beliau sembunyikan. Sorot matanya penuh kekhawatiran, senyum ibu juga jelas dipaksakan saat berpamitan.
Aku cuma diam, menyimpan tanda tanya besar di dadaku. Saat di dalam mobil aku berusaha bertanya, tapi ketus ibu menjawab, "kita akan bicarakan ini setelah kita sampai di rumah." Aku pun sudah tidak berani membantah, sepanjang jalan kami hanya diam, semua orang juga lebih
banyak diam, seolah memahami kerisauan ibu.
Sesampainya di rumah, belum sempat duduk, ibu tibatiba terkulai, jatuh tak sadarkan diri. Kami semua tersentak kaget tanpa sempat menangkap tubuh ibu. Tercengang,
sebelum akhirnya menghambur menolongnya. Buru-buru kami baringkan ibu ke tempat tidur.
Mia---kakakku, segera mengechek tensi darah ibu, hasilnya tensi ibu memang tinggi, makanya ibu pingsan. Beruntung jantung ibu kuat, jadi tidak terjadi hal-hal yang lebih mengerikan. Aku begitu yakin, ini ada hubungannya dengan Indri dan Komar. Aku berfikir keras, “apa yang
membuat ibu sedemikian khawatir?”
Mia, tiba-tiba menarik tanganku, menyadarkanku dari lamunan. Membawaku keluar dari kamar ibu, "apa yang terjadi sama ibu? apa yang kalian bicarakan sampai tensi ibu naik seperti ini?jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah sakit!"
Mia memberondongku dengan banyak pertanyaan, setiap ucapanya penuh tekanan mengintimidasi, jelas sekali Mia marah. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi, bingung tidak tahu mesti bagaimana menjawab semua pertanyaan Mia.
"Dewa, jawab! jangan malah bengong." Mia menyadarkanku.
"Mia aku ngak tau apa yang sebenarnya terjadi, aku juga nggak ngerti kenapa ibu tiba-tiba pingsan, cuma___,"
"cuma apa?" kalimatku dipotong oleh Mia sebelum aku menyelesaikannya, jelas sekali dia gusar.
"Ibu tidak menjelaskan apa-apa, setelah ia bersalaman dengan Indri dan Komar, ibu membawaku menjauh lalu bertanya seberapa dekat hubunganku dengan mereka, setelah kujelaskan ibu bilang bahwa aku harus menjauh dari Indri dan Komar. Kalau perlu pertunananganku dengan Riyana dibatalkan saja.
Aku terhenyak dengan pernyataan ibu, belum sempat aku bertanya ibu sudah menyeretku kembali ke ruangan Indri dan langsung pamitan. Tadi pas di mobil kau juga dengar kan
bahwa ibu bilang akan bicara denganku pas nyampek rumah. Sungguh, aku juga sangat ingin mendengar penjelesan dari ibu." Mia jelas tidak puas dengan jawabanku.
"Emang kau punya masalah apa dengan Indri dan suaminya? kok ibu memintamu menjauh dari mereka?"
"Nggak ada, sama sekali aku nggak punya masalah dengan mereka."
"Lalu, kenapa ibu memintamu untuk menjauh dari mereka, sampai-sampai ibu memintamu untuk batalin pertunangan segala?"
"Aku juga sangat ingin tahu alasan ibu." Jawabku mulai emosi. Setelah itu kami sama-sama diam, canggung. Mata Mia menatapku penuh selidik, dia jelas tidak percaya dengan penjelasanku.
"Ackh__! F*CK!"
"Harusnya hari ini adalah hari bahagiaku, malah jadi runyam kayak gini."
Kecanggungan kami memudar saat ayah muncul dari balik pintu kamar ibu, beliau melambaikan tangan sambil berkata, “kemarilah kalian! ibu sudah siuman." Serta merta
kami bergegas masuk ke kamar ibu.
Beliau tersenyum menyambut kami, wajahnya masih agak pucat, “ibu minta maaf sudah merusak hari bahagiamu," ucap ibu berkacakaca. “Mboten bu, sama sekali tidak," jawabku berbohong.
"Le, embuh yo, ibu punya firasat buruk, semoga ibu salah," ucap ibu memulai kalimatnya. "Ibu merasa, sakitnya Indri bukan sakit biasa. Ibu merasa ada yang salah dengan Komar, tapi ibu tidak tahu itu apa. Ibu mohon jangan terlalu dekat dengan mereka, meski mereka adalah kakak dari calon istrimu.
Tentang Riyana, ibu mau jujur sama kamu ya le, ibu tidak terlalu suka gaya hidupnya. Ibu takut saat kau tidak lagi punya uang, kau akan disepelekan. Meski kau sangat mencintai Riyana, ibu minta pikirkan kembali baik-baik sebelum kau memutuskan untuk menikahinya."
"Inggih bu, saya mengerti," aku hanya bisa bilang ia, karena Mia sudah mencubitku berkali-kali saat ibu masih bicara. Itu adalah perintah supaya aku tidak membantah apa pun perkataan ibu, setidaknya sampai ibu benar-benar pulih.
Sejak kejadian itu, kondisi kesehatan ibu tidak pernah benar-benar pulih seperti sebelumnya, meski dokter bilang ibu sehat, tensinya sering tiba-tiba naik. Ibu tidak pernah
pingsan sejak hari itu, karena kami berusaha semaksimal mungkin untuk membuat ibu tenang.
Tentang hubunganku dengan Riyana, aku tetap kekeh untuk menikahinya. Ada sedikit perbedaan pendapat antara aku dan Riyana dalam mempersiapkan pesta pernikahan. Riyana menginginkan pesta yang meriah sedang aku ingin pesta yang lebih private---hanya dihadiri oleh orang terdekat.
Akhirnya aku mengalah, alasannya sederhana, aku mencintainya, aku hanya ingin lihat dia tersenyum bahagia. Namun sayangnya, ada insiden kecil yang membuat ibu
tersinggung. Karena hal ini, Riyana jadi tahu bahwa ibu tidak suka padanya.
Ibu 'muntap'lalu membahas gaya hidup Riyana yang menurut ibu hanya buang-buang uang untuk hal yang nggak penting.Dari peristiwa ini aku melihat sikap Riyana yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, menurutku ia berlebihan menanggapi kemarahan ibu. Dengan ketus dia menjawab, “ibu nggak bisa terima gaya hidup saya, ya ndak apa-apa. Jika Dewa juga mau memihak ibu, masih banyak kok laki-laki yang nungguin saya."
Semua orang tercengang dengan pernyataan Riyana, termasuk diriku. “Apakah Riyana benar-benar mencintaiku atau hanya mencintai uangku?!” pertanyaan ini terus mengusikku, menggerogoti kewarasanku.
___________________________
BERSAMBUNG
https://www.kaskus.co.id/thread/64c7...ang--menimpaku
Diubah oleh nasura2101 12-08-2023 18:44
arieaduh dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.6K
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya