Novena.LiziAvatar border
TS
Novena.Lizi
Jika Dibubarkan Permanen, Bahar bin Smith Siap Tampung Santri Al-Zaytun Gratis
Jika Dibubarkan Permanen, Bahar bin Smith Siap Tampung Santri Al-Zaytun Gratis

07 Jul 2023, 15:41 WIB


Bahar bin Smith (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

 

Liputan6.com, Jakarta - Bahar bin Smith dalam sebuah tayangan Youtube mengungkapkan, dirinya bersedia menampung santri Ponpes Al-Zaytun, jika Al-Zaytun tersebut benar-benar dibubarkan secara permanen. 

"Kami ini para mudir, para pemimpin ponpes. Kami punya murid, kami sebagai da'i, kami sebagai putra bangsa Indonesia, kami tidak rela dengan kemungkaran yang ada di Indonesia. Bubarkan Al-Zaytun secara permanen dan tangkap Panji Gumilang. Sebab ini karena masalah kesesatan. Kalau sesat sendiri enggak masalah, tapi ini sesat dan menyesatkan," katanya.

Bahar bin Smith mengapresiasi langkah yang diambil Menkopolhukam Mahfud MD, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, dan Bareskrim Polri yang sudah bekerja. Namunm dirinya mengatakan, apa yang dilakukan pemerintah belum sesuai dengan tuntutan rakyat, yaitu tutup permanen Ponpes Al-Zaytun. 

"Apabila pemimpin rusak yang dipimpin akan rusak. Pesantren itu wadah, tergantung yang mengelola. Apa manhajnya, itu akan diikuti orang-orang yang ada di dalamnya," katanya. 

Saat ditanya bagaimana dengan hak-hak santri Ponpes Al-Zaytun? Bahar mengaku siap menampung semua santri ke ponpes miliknya secara gratis. 

"Saya siap mengajak semua ponpes aswaja yang ada di Jawa Barat, Banten, jangankan ribuan, puluhan ribu saya siap. Pesantren saya saya nyatakan gratis. Kami siap tampung," katanya. 

Sementara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyebut Ponpes Al-Zaytun telah meresahkan masyarakat. Meski begitu, para santrinya harus tetap belajar dan pemenuhan hak-haknya harus tetap dijaga. Bagaimana caranya? Kang Emil mengatakan, pola belajar dan kurikulumnya harus sesuai dengan yang telah disepakti bersama.  

Kang Emil menyebutkan proses pembinaan ribuan santri dan pelajar yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Zaytun, Gantar, Indramayu, Jawa Barat, akan diambil alih Kementerian Agama.

"Ribuan santrinya akan diambil alih oleh Kementerian Agama karena bagaimana pun mereka anak-anak bangsa yang harus terus belajar, tetapi tentu dengan pola belajar dan kurikulum yang sesuai dengan yang kita sepakati," katanya.

"Kemudian dalam keislaman kita sudah sepakat bahwa kita ini ahlussunah wal jama'ah, jadi tidak boleh ada fatwa-fatwa, fikih-fikih yang bertentangan dengan yang sudah menjadi kesepakatan kita," ujarnya lagi.

Kang Emil juga memastikan terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan pengasuh Pondok Pesantren Al-Zaytun Panji Gumilang telah ditangani pihak kepolisian.

"Sesuai harapan masyarakat sudah ditindaklanjuti. Jadi pimpinannya, Panji Gumilang sudah ditindaklanjuti kasusnya oleh Bareskrim Polri," katanya.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat agar bersabar dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kasus itu kepada kepolisian.

"Aset-asetnya (Al Zaytun) kemungkinan sudah dibekukan," kata dia.

Kang Emil mengatakan bahwa menyepakati kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia harus sesuai dengan Pancasila. Menurut dia, tidak boleh ada ideologi-ideologi yang merongrong Pancasila.

Polisi Cecar Saksi Pelapor Dugaan Penistaan Agama

Sejumlah saksi pelapor terkait dengan kasus dugaan penistaan agama oleh pengasuh Pondok Pesantren Al-Zaytun Panji Gumilang dimintai keterangan oleh penyidik dari Bareskrim Polri di Polres Indramayu, Jawa Barat, Kamis.

Salah satu saksi yang dimintai keterangan adalah Carkaya. Dia dicecar pertanyaan kurang lebih 10 sampai 11 pertanyaan oleh penyidik seputar permasalahan di Ponpes Al-Zaytun.

"Pertanyaan itu semuanya terkait dengan Al-Zaytun," kata Carkaya.

Carkaya yang juga Ketua Forum Indramayu Menggugat (FIM) mengatakan bahwa pertanyaan tersebut sebatas pengetahuannya terkait dengan polemik Ponpes Al-Zaytun.

Ia membeberkan apa yang menjadi tuntutan FIM ketika melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang Ponpes Al-Zaytun beberapa hari lalu.

Untuk keterangan yang diberikan, di antaranya terkait dengan permasalahan perampasan tanah milik warga di sekitar lokasi.

Selain itu, dia juga menyoroti terkait dengan dugaan kasus tindakan pelanggaran hukum serta pembayaran gaji kepada karyawan yang tidak manusiawi. Dalam 1 bulan, mereka hanya diberi upah Rp300 ribu.

Untuk permasalahan terkait dengan agama, pihaknya patuh terhadap keputusan MUI.

"Akan tetapi, ibadah yang tidak sesuai dengan kebiasaan, saya berikan juga dalam keterangan saat sebagai saksi," ujarnya.

Carkaya berharap keteranganya bisa menjadi salah satu penguat untuk dapat menjerat Panji Gemilang ke ranah hukum.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Indramayu AKP Muhammad Hafid Firmansyah membenarkan adanya pemeriksaan sejumlah saksi di Mapolres Indramayu. Pemeriksaan itu oleh penyidik dari Bareskrim Polri.

Hafid mengatakan bahwa pihaknya hanya menyediakan tempatnya. Apalagi, kasus dugaan penistaan agama oleh pengasuh Ponpes Al-Zaytun Panji Gumilang ditangani langsung Bareskrim Polri.

Ia mengaku tidak tahu secara pasti siapa saja yang menjalani pemeriksaan. Saat ini pemeriksaan sedang berlangsung di Mapolres Indramayu.

"Kalau siapa saja yang diperiksa, saya kurang tahu karena itu ranah dari Bareskrim Polri," katanya.

https://www.liputan6.com/regional/re...-zaytun-gratis
bukan.bomat
pilotproject715
nomorelies
nomorelies dan 2 lainnya memberi reputasi
1
1.2K
48
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
icon
669.9KThread40.3KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.