Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

  • Beranda
  • ...
  • The Lounge
  • Kronik PKI Pra dan Pasca G30S di Malang Raya Kejadian yang Tak Banyak Diketahui

rocket2019Avatar border
TS
rocket2019
Kronik PKI Pra dan Pasca G30S di Malang Raya Kejadian yang Tak Banyak Diketahui
Kronik PKI Pra dan Pasca G30S di Malang Raya (1948-1968) Paparan Kejadian yang Tak Banyak Diketahui

Kronik PKI Pra dan Pasca G30S di Malang Raya Kejadian yang Tak Banyak Diketahui

(Sumber Gambar:www.id.wikipedia.org)

*DISCLAIMER:Dalam tulisan ini Tim Penulis hanya menyampaikan data-data terkait kronik kejadian pra dan pasca peristiwa G30S yang mana PKI (Partai Komunis Indonesia) dan para underbouwnya ikut terlibat di dalamnya. Adapun lingkup ruang kejadian yang disampaikan dalam artikel ini adalah di wilayah domisili Tim Penulis yakni di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu). Tulisan ini disampaikan dalam rangka menyamput peringatan Hari Gerakan 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober. Tim penulis tidak berkepentingan menafsirkan dalang dibalik Gerakan Tiga Puluh September. Biarlah hal itu menjadi ranah Akademisi Kita. Silahkan data-data ini disimak sebagai bagian dari sejarah daerah Malang Raya:

KRONIK TAHUN 1948-1954

Kronik PKI Pra dan Pasca G30S di Malang Raya Kejadian yang Tak Banyak Diketahui

(Sumber Gambar:[url=www.historia.id)[/font][/size][/center]
[size=2][font=Arial]www.historia.id)[/center[/url]]


1. Pemberantasan Front Demokrasi Rakyat (FDR/PKI) di Malang Selatan

Bersamaan dengan perang kemerdekaan (1945-1949) dan terjadinya Madiun Affair 18 September 1948 oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR)/PKI situasi keamanan menjadi memamas di Jawa Timur dan tak terkecuali di Malang Raya. Pemerintah RI segera bertindak dengan cepat menjadikan Jawa Timur sebagai daerah istimewa dengan mengangkat Kolonel Soengkono sebagai gubernur militer. Saat itu Panglima Besar Jenderal Soedirman sedang sakit, sehingga untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan dikomando oleh A.H. Nasution sebagai Panglima Merkas Besar Komando Djawa. Kecepatan gerak oleh Combat Inteligence dilakukan untuk menangkal upaya-upaya penyebaran pengkhianatan.

Di daerah Kepanjen, atas perintah Mayor Soedjanudji, Pranowo Hadiwidjojo dan pasukannya berhasil menangkap kurir dari Madiun yang akan menyampaikan pesan surat berasal dari pimpinan PKI Yogyakarta yang tertuju pada badan perjuangan tertentu di daerah Malang Selatan.

Dalam menyebarluaskan ideologinya, PKI tidak hanya mempengaruhi rakyat setempat, tapi disertai konsolidasi kekuatan militer. Di Donomulyo didirikan sebuah batalyon khusus pertahanan yang dipimpin oleh Tjokro Bagong yang disebut Batalyon Dji’in. Mereka juga melakukan intimidasi, sabotase, dan penyiksaan, seperti yang dialami oleh Hardjo Prajitno sinder persil Kali Telo yang sempat dikubur hidup-hidup, tetapi sempat diselamatkan. Untuk melaksanakan tugas penumpasan ini, Brigade IV berkedudukan di Sedayu dibawah pimpinan Letkol Abdoel Rifai.

Mobat I yang dipimpin Mayor Hamid Rusdi dari Turen menuju Bantur dan berjalan kaki ke Sumbermanjing Kulon. Dari siini, berangkat Seksi-2 Slamet Hardjoeoetomo dan Seksi-3 Tjokro Hadi dan berhasil merebut Donomulyo. Dibantu Kompi Depo Kapten Nailun Hamam yang kemudian datang, mereka melakukan pembersihan di Donomulyo, Kalitelo, Tumpakrejo, dan Telogosari. Seksi-3 bertugas melakukan pembersihan di desa-desa Gunung Malang, Jolosutro dan sekitarnya. Di saat yang sama, Kompi I Sulam Samsun dikirim ke Cepu untuk membantu pasukan lainnya dalam Peristiwa Madiun dan bertugas menguasai instalasi-instalasi minyak di Cepu. Kompi 2 Sabar Soetopo melakukan penumpasan di sekitar Turen-Dampit. Kompi Depo Kapten Nailun bergerak dari Wonosari, Pagak, Tumpakrejo diperkuat Kompi Polisi (MB Polisi).

Gejolak di Donomulyo pada akhirnya dapat ditumpas oleh kesatuan-kesatuan dari Hamid Rusdi dan Wachman, dan pasukan dari Kompi Suyono. Mereka digrebeg sewaktu mengadakan rapat massa di persil Kali Telo dipimpin Tjokro Bagong yang bertujuan mempersiapkan penyambutan terhadap rencana kudeta di Madiun. Batalyon Dji’in berhasil dilucuti oleh Mayor Hamid Rusdi. Tjokro Bagong tertangkap di di daerah hutan Jolosutro, lalu dibawa ke Talangagung dan dipindahkan ke Turen, sementara anasir PKI lainnya melarikan diri ke Blitar Selatan.

Operasi di Donomulyo berjalan lancar berkat bantuan masyarakat. Pemeriksaan terhadap penduduk dilakukan di daerah basis PKI. Orang-orang PKI yang dianggap kelas ringan dibawa ke tempat tahanan di Suwaru, Gondanglegi, dan yang dianggap kelas berat dan membahayakan bangsa di tahan di daerah Petung Ombo (kini Desa Simojayan), persil kopi di daerah Dampit. Tugas penumpasan anasir-anasir PKI di Malang Selatan telah ditunaikan. Cobaan dan tantangan belum selesai. Pasukan RI kembali berkonsolidasi, menyatukan kembali semangat dan memusatkan perhatian untuk kembali menghadapi pasukan Belanda. [1]

2. Alamat Sekretariat PKI di Kota Malang

Setelah Belanda enyah, PKI kembali lagi dan turut serta dalam dunia demokrasi Indonesia sewaktu Orde Lama. Bahkan dalam Buku “40 Tahun Kota Malang” tercatat bahwa Kantor Seksi Komite (SEKOM) PKI ada di Kota Malang terletak di “Djl. Padjadjaran No. 4” (Jalan Pajajaran No. 4). [2]

3. Putra Derah Malang Menjadi Fraksi/Kader PKI

Tercatat terdapat putra daerah Malang dari fraksi partai PKI Cabang Malang yang bernama “Hidajatdjati” [3] menjadi bagian dari anggota Konstituante (atau Majelis Konstitusi) Badan Legislatif Nasional tahun 1950-an. Berikut Profilnya: (1) Nama: Hidajatdjati; (2) No. Anggota: #502; (3) Fraksi: PKI (Partai Komunis Indonesia); (4) Tanggal Lahir: 11 November 1925; (5) Tempat Lahir: Kabupaten Malang, Jawa Timur; (6) Agama: Tidak ada data yang tersedia; (7) Tipe Anggota: Biasa; (8) Alamat: Djl. Pedjadjaran 4, Malang, Kab. Malang, Jawa Timur; (9) Pendidikan: Sekolah Institut “Sarmantha Sidha” [AMS (SMA)/Sederajat]; (10) Riwayat Hidup: Pergerakan: Aktif dalam: a) Pemuda Republik Indonesia (P.R.I), b) Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Komisariat Daerah Malang, c) Front Demokrasi Rakjat (F.D.R.) Malang (Tahun 1945-1948); Pekerjaan: Djawatan Penadaran Angkatan Hand. Bag. Persendjataan (Tahun 1946-1947); Pergerakan: Gerilja di Malang Selatan (Tahun 1949); Pekerjaan: a) Front Pemuda Ind. Malang, b) Pemuda Rakjat Malang, c) Seksi Comite P.K.I. Malang, d) Kongres Rakjat Malang (Tahun 1950-1956); Pekerjaan: Wkl. Ketua Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Peralihan Kota Besar Malang (Bulan Oktober 1956); Pekerjaan: Angg, Konstituante Rep. Indonesia (Tanggal 15 November 1956-05 Juli 1959).

4. Kampanye Panas PKI VS Masjumi di Alun-Alun Kota Malang

Persetruan PKI dan Partai Masjumi memanas di Alun-Alun Kota Malang pada tanggal 28 April 1954 pada saat diadakan perhelatan rapat besar PKI yang dihadiri Ketua Umum PKI D.N. Aidit dan wakil Partai Komunis Australia, Eric Aarons. PKI membentangkan spanduk “Kutuk teror perampok Masjumi-BKOI”. Spanduk itu merespons demonstrasi Masyumi-BKOI di Jakarta 28 Februari 1954 yang berakhir rusuh dan mengakibatkan tewasnya perwira TNI Kapten Supartha Widjaja. Bagi PKI demonstrasi itu teror, buat Masyumi spanduk itu fitnah. BKOI adalah Badan Koordinasi Organisasi Islam. Sementara massa Masyumi emosi ketika kritik meluncur dari mulut Aidit: “Nabi Muhammad Saw bukanlah milik Masjumi sendiri, iman Islamnya jauh lebih baik daripada Masjumi. Memilih Masjumi sama dengan mendoakan agar seluruh dunia masuk neraka. Masuk Masjumi itu haram sedangkan masuk PKI itu halal,” kata Aidit langsung disambut teriakan, “dusta ... tidak benar ... ingat Madiun,” ujar para pemuda Masyumi. Massa Masyumi merangsek maju mendekati Aidit dan berakhir ricuh. Insiden di Malang itu merupakan bentrok terbesar antara Masyumi dengan PKI sepanjang tahun 1954. Pemilu untuk pertama kalinya di Indonesia bakal diselenggarakan setahun lagi, tapi iklim politik sudah mendidih sejak setahun sebelumnya. [4]

KRONIK TAHUN 1965-1968
Kronik PKI Pra dan Pasca G30S di Malang Raya Kejadian yang Tak Banyak Diketahui
(Sumber Gambar:www.garudacitizen.com)
5. Perselisihan PKI dan NU di Malang

Pada tahun 1965 di Malang, Karim DP, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang berideologi PKI memberikan ceramah di hadapan pimpinan PKI Malang. Dikatakannya, kaum beragama terutama kiai adalah termasuk kelompok borjuis feudal, musuh golongan proletar, karena itu PKI akan selalu berhadapan dengan kelompok agama, terutama para kiai. Ketika kelompok Pemuda Ansor Malang mendengar pidato Karim DP yang menjelekkan kiai sebagai kemompok feodal borjuis yang harus diganyang itu, mereka langsung menyerbu pertemuan PKI tersebut dan berusaha menemui Karim DP, tetapi usaha GP Ansor tersebut dihadang oleh Pemuda Rakyat PKI, maka terjadilah perkelahian antar pemuda NU dan pemuda PKI. [7].

Selanjutnya sejak tahun 1965-1968 terjadi peristiwa-peristiwa dibawah ini:

6. Pembantian di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang

Para anggota dan simpatisan PKI yang akan dibunuh diikat tangannya. Kemudian segerombolan pemuda Ansor, dengan disertai dan dilinduingi oleh satu unit tentara, Zipur (Zeni Tempur) V, membawa mereka ke tempat pembantaian, yaitu Desa Sentong (maksudnya Dusun Sentong, Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, pen) dan Kebun Raya di Purwodadi (di Dusun Sembung Lor, Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pen). Para korban satu persatu digiring ke lubang-lubang tersebut; tali-tali tampak dilingkarkan di leher mereka dan kemudian dikencangkan hingga mereka jatuh. Kemudian mereka dipukuli dengan pentungan-pentungan dari besi dan benda-benda keras lainnya. Setelah para korban itu tewas, kepala mereka dipenggal. Lusinan orang dibunuh dengan cara ini di Sentong dan sekitar seribu orang di Kebun Raya Purwodadi. Pohon-pohon pisang ditanam di atas kuburan mereka. [5]

7. Pembantaian di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang

Seorang remaja lelaki anggota IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) dan anak Pak Tjokrodihardjo, yang adalah seorang anggota komite PKI setempat (CSS) di Kecamatan Singosari, ditangkap oleh Ansor. Kemudian tubuhnya diikat ke sebuah jip dan diseret di belakangnya hingga tewas. Kedua orang tuanya bunuh diri. Oerip Kalsum, seorang lurah wanita Desa Dengkol di Singosari, merupakan anggota PKI. Sebelum dibunuh, dia disuruh membuka semua pakaiannya. Tubuh dan kehormatannya (kemaluannya) kemudian dibakar. Lalu dia diikat, dibawa ke Desa Sentong (maksudnya Dusun Sentong, Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, pen) di Lawang, di mana lehernya diikat dan dia disiksa sampai tewas. Sebagian besar pembantaian-pembantaian di singosari dilakukan dengan cara memenggal kepala korban. Mayat-mayat itu kemudian dikubur di kebun-kebun dan (dibawah rerimbunan, pen) tanaman-tanaman. Pohon-pohon pisang ditanam di atas kuburan mereka (sebagai penanda, pen). [5]

8. Pembantaian di Kecamatan Tumpang-Poncokusumo, Kabupaten Malang

Sekitar dua ribu orang dari Kecamatan Tumpang dan Poncokusumo serta kecamatan-kecamatan di sekitarnya dibunuh dengan cara yang mirip dengan yang digambarkan diatas. Pembantaian-pembantaian itu dilakukan oleh Armed (Artileri Medan) I, yang bekerja sama erat dengan Ansor. Mayat para korban dikuburkan dikbun-kebun di Desa Kunci (maksudnya Dusun Kunci, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo). [5]

9. Pertikaian PKI dan NU di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang

Bulan Juni 1965, Kusnan dan Nian, dua orang pimpinan Pemuda Rakyat sekaligus aktivis PKI Kecamatan Turen dari Desa Pagedangan, Kecamatan Turen, yang dikenal sebagai pendekar sakti menginjak Al-Qur’an dengan mengatakan bahwa Qur’an bukan kitab suci melainkan hanya buku yang berisi kebohongan, seraya menantang kelompok Muslim. Akhirnya Ketua Banser Turen bernama Samad menanmtang Niam berkelahi. Dalam perkelahian itu Niam mati terbunuh. Mayatrnya dibenamkan di sungai. Peristiwa itu membuat kelompok PKI Turen ketakutan dan menahan diri tidak melakukan penghinaan terhadap Kiai NU yang bisa mengundang kemarahan Ansor. Pada tanggal 10 Oktober 1965, Anggota Banser di Kabupaten Malang mulai menurunkan papan nama PKi beserta ormas-ormasnya. Hari itu juga, tokoh-tokoh PKI di daerah Turen mulai diserang Banser dan dibunuh. Diantara tokoh PKI yang terbunuh saat itu adalah Suwoto, Bowo, dan Kasiadi. Palis, kawan akrab Bowo, karena takut dibunuh Banser malah bunuh diri di kuburan Desa Pagedangan. [6] [7]

10. Kisruh Pementasan Ludruk di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang

Pada bulan Juli 1965 di Dampit, Malang Selatan, terdapat kabar bahwa Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI hendak mengadakan pertunjukan ludruk dengan lakon Rabine Malaikat (Malaikat Menikah). Setelah dibicarakan oleh pimpinan Ansor, diadakanlah penyelidikan ke tempat pertunjukan, khawatir semuanya ini hanya isu yang sengaja dilontarkan PKi untuk menjebak Ansor. Setelah pertunjukan diintai ternyata lakon tersebut benar-benar dipentaskan. Saat itu juga Ansor yang sudah menyamar sebagai penonton dan sebagian bersembunyi di belakang panggung melompat ke atas panggung dan menangkap semua pemainnya sehingga terjadi keributan, bahkan pimpinan pertunjukan itu dipukuli oleh Ansor. Karena Ansor bisa menguasai keadaan lalu pertunjukan dibubarkan. [7]

LANJUTTT PART II GAN https://kask.us/iNuTJ

Kronik PKI Pra dan Pasca G30S di Malang Raya Kejadian yang Tak Banyak Diketahui

Diubah oleh rocket2019 29-09-2022 23:30
provocator.3301
l4r20
JenarGering
JenarGering dan 11 lainnya memberi reputasi
12
5.3K
84
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The LoungeKASKUS Official
923.7KThread85.5KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.