- Beranda
- Stories from the Heart
Anger Management
...
TS
drhans
Anger Management
# Seri Pendidikan Kesehatan Masyarakat
ANGER MANAGEMENT
Saya sangat jarang marah, tetapi sekali marah, marahnya meledak-ledak kayak gunung meletus. Coba bayangkan, bila Anda sedang mimpi indah mendapat lotere tiba-tiba dibangunkan, atau kantong sedang kosong di akhir bulan, eh, tukang tagih mengejar hutang tanpa henti. Tetapi, kemarahan saya bukan terpicu karena alasan-alasan tersebut. Yang sering, disebabkan karena sedang flu atau kurang tidur.
Dewasa ini, banyak orang cepat marah. Marah untuk alasan yang kurang jelas dan tidak berguna. Sebagai contoh, mobil disalip kendaraan lain, membuat marah seharian atau pegawai kurang becus bekerja, membuat kita uring-uringan seharian.
Apa penyebabnya? Apakah karena pengaruh cuaca yang semakin panas? Rasa ketidak-adilan masyarakat? Pengaruh budaya? Semakin menipisnya nilai agama?
Bukan itu. Pada dasarnya, sifat dasar manusia memang pemarah. Lalu, apakah kita cukup memakluminya dan membiarkan ketika amarah diumbar? Apakah kita tak dapat mengubah amarah menjadi energi positif?
Saudara, marah itu sehat.
Nah loh, apa pula ini? Tahukah Anda bahwa sesekali atau beberapa kali marah dalam sehari, membuat Anda lebih sehat dan awet muda?
Ahh, masak sih? Situ lagi linglung 'nkali?
Benar Saudara. Dengan marah, adrenalin Anda akan terpacu, yang menyebabkan sirkulasi darah ke otak dan jantung bertambah cepat. Otak yang mendapat suplai Oksigen (yang dibawa oleh darah) yang lebih banyak menyebabkan kita lebih fokus dan bersemangat. Dashyat khan.
Kalau begitu, kita boleh dong marah sesuka hati, khan sehat? Nanti dulu!
Marah tidak bisa seenaknya, harus mengikuti kaedah marah yang baik dan benar. Eh loh, apaan tuh? Jangan mengada-ada ya, saya mulai marah nih!
Sabar Mas, Mbak, Aa, Teteh, Eneng, Oom, Tante. Ada beberapa kriteria marah yang terkendali, yakni:
1. Marah harus terkontrol. Tidak boleh asal marah dan meledak-ledak kayak bom meletus.
2. Marah tidak boleh lama waktunya. Cukup beberapa menit saja. Tidak pakai tambah.
3. Marah tidak boleh disertai dengan kekerasan fisik. Cukup mulutnya saja yang kayak kompor meleduk.
4. Marah itu cukup pada orang tertentu saja. Bukan pada semua orang.
5. Marah itu lihat tempat dan keadaan dong. Masak mau marah di ruang ICU, perpustakaan atau ruang ujian?
6. Waktu marah, jangan ambil keputusan apa pun.
7. Marah yah marah. Jangan ditahan-tahan atau disimpan dalam hati. Nanti bisa sakit hati, tahu!
Nah, kalau mengikuti kriteria marah yang baik dan benar, dijamin deh dijauhi dari berbagai penyakit seperti Jantung, Stroke, Sakit kepala, Wasir, Panuan (eh, apa hubungannya ya?) dan lain sebagainya. Oke atau oke?
Terakhir, setiap orang memiliki kepribadian yang unik, beda satu sama lainnya. Jadi, penanganan terhadap amarah juga berbeda-beda.
Ada beberapa cara orang menghadapi amarah, yakni:
1. Supresi. Menekan rasa marah dan memendam dalam hati. Ini tidak baik dan sering menyebabkan stres.
2. Represi. Marah yang kalang-kabut, istilahnya. Ini juga tidak baik untuk kesehatan.
3. Ekspresi. Mencetuskan amarah kepada orang lain. Hati-hati dapat menyebabkan orang lain sakit hati.
4. Proyeksi. Berdamai dengan amarah dan mengubahnya menjadi 'Be Happy'.
Yang mana pilihan Anda? Semuanya oke, asal tadi, mengikuti kriteria marah yang baik dan benar. Nobody perfect.
So friends, selamat menjalani hari ini dengan 'amarah', tetapi kalau bisa, waktu mau marah kepada seseorang, jangan lupa tersenyum ya.
Salam semua. Be happy. Gbu.
ANGER MANAGEMENT
Saya sangat jarang marah, tetapi sekali marah, marahnya meledak-ledak kayak gunung meletus. Coba bayangkan, bila Anda sedang mimpi indah mendapat lotere tiba-tiba dibangunkan, atau kantong sedang kosong di akhir bulan, eh, tukang tagih mengejar hutang tanpa henti. Tetapi, kemarahan saya bukan terpicu karena alasan-alasan tersebut. Yang sering, disebabkan karena sedang flu atau kurang tidur.
Dewasa ini, banyak orang cepat marah. Marah untuk alasan yang kurang jelas dan tidak berguna. Sebagai contoh, mobil disalip kendaraan lain, membuat marah seharian atau pegawai kurang becus bekerja, membuat kita uring-uringan seharian.
Apa penyebabnya? Apakah karena pengaruh cuaca yang semakin panas? Rasa ketidak-adilan masyarakat? Pengaruh budaya? Semakin menipisnya nilai agama?
Bukan itu. Pada dasarnya, sifat dasar manusia memang pemarah. Lalu, apakah kita cukup memakluminya dan membiarkan ketika amarah diumbar? Apakah kita tak dapat mengubah amarah menjadi energi positif?
Saudara, marah itu sehat.
Nah loh, apa pula ini? Tahukah Anda bahwa sesekali atau beberapa kali marah dalam sehari, membuat Anda lebih sehat dan awet muda?
Ahh, masak sih? Situ lagi linglung 'nkali?
Benar Saudara. Dengan marah, adrenalin Anda akan terpacu, yang menyebabkan sirkulasi darah ke otak dan jantung bertambah cepat. Otak yang mendapat suplai Oksigen (yang dibawa oleh darah) yang lebih banyak menyebabkan kita lebih fokus dan bersemangat. Dashyat khan.
Kalau begitu, kita boleh dong marah sesuka hati, khan sehat? Nanti dulu!
Marah tidak bisa seenaknya, harus mengikuti kaedah marah yang baik dan benar. Eh loh, apaan tuh? Jangan mengada-ada ya, saya mulai marah nih!
Sabar Mas, Mbak, Aa, Teteh, Eneng, Oom, Tante. Ada beberapa kriteria marah yang terkendali, yakni:
1. Marah harus terkontrol. Tidak boleh asal marah dan meledak-ledak kayak bom meletus.
2. Marah tidak boleh lama waktunya. Cukup beberapa menit saja. Tidak pakai tambah.
3. Marah tidak boleh disertai dengan kekerasan fisik. Cukup mulutnya saja yang kayak kompor meleduk.
4. Marah itu cukup pada orang tertentu saja. Bukan pada semua orang.
5. Marah itu lihat tempat dan keadaan dong. Masak mau marah di ruang ICU, perpustakaan atau ruang ujian?
6. Waktu marah, jangan ambil keputusan apa pun.
7. Marah yah marah. Jangan ditahan-tahan atau disimpan dalam hati. Nanti bisa sakit hati, tahu!
Nah, kalau mengikuti kriteria marah yang baik dan benar, dijamin deh dijauhi dari berbagai penyakit seperti Jantung, Stroke, Sakit kepala, Wasir, Panuan (eh, apa hubungannya ya?) dan lain sebagainya. Oke atau oke?
Terakhir, setiap orang memiliki kepribadian yang unik, beda satu sama lainnya. Jadi, penanganan terhadap amarah juga berbeda-beda.
Ada beberapa cara orang menghadapi amarah, yakni:
1. Supresi. Menekan rasa marah dan memendam dalam hati. Ini tidak baik dan sering menyebabkan stres.
2. Represi. Marah yang kalang-kabut, istilahnya. Ini juga tidak baik untuk kesehatan.
3. Ekspresi. Mencetuskan amarah kepada orang lain. Hati-hati dapat menyebabkan orang lain sakit hati.
4. Proyeksi. Berdamai dengan amarah dan mengubahnya menjadi 'Be Happy'.
Yang mana pilihan Anda? Semuanya oke, asal tadi, mengikuti kriteria marah yang baik dan benar. Nobody perfect.
So friends, selamat menjalani hari ini dengan 'amarah', tetapi kalau bisa, waktu mau marah kepada seseorang, jangan lupa tersenyum ya.
Salam semua. Be happy. Gbu.
Araka dan bukhorigan memberi reputasi
2
460
2
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya