Kaskus

Story

ynurnunAvatar border
TS
ynurnun
Dunia tanpa Warna
Sakti. Pahat wajah dengan rahang tegas, alis tebal dengan konstelasi apik, lesung pipi yang manis, bibir tipis merah muda, dan… sepasang almond eyes tanpa binar. Mata yang memang sudah tak mengenali warna. Katanya, “Dunia yang kumiliki sudah tak berwarna.”

Remaja enam belas tahun itu berdiri tegak di depan lemari dengan pintu cermin, mematut diri, menatap bayangan tubuh yang makin hari makin bertambah tinggi. Ia menatap lekat refleksi wajahnya yang datar tanpa ekspresi dan sepasang bola mata dengan iris biru yang cantik. Iris yang tak mencerminkan kemarau. Iris yang saban hari selalu menyiratkan ketenangan di sana. Apalagi ditambah dengan senyum manis yang membuat lesung pipinya tampak. Namun, itu terjadi sebelum seseorang yang selalu menopangnya pergi tanpa tanpa mengucapkan selamat tinggal atau hanya sekedar membuat kenangan terakhir yang indah. Seseorang yang pertama kali mengenalkannya dengan banyak warna kehidupan. Dan setelah itu, semua berubah dengan drastis.

Irisnya yang biru tampak jelas di cermin pintu lemari. Cantik seperti kata ayahnya. Namun, itu dulu… dulu sekali. Karena, iris yang katanya cantik itu kini hanyalah sebuah duka bagi pria bergelar ayah itu. Juga kadang sebagai pengundang amarah. Alasannya cukup sederhana. Hanya karena sepasang iris itu adalah turunan dari seseorang yang sudah meninggalkan mereka. Laksmi—ibunya. Sehingga, hanya untuk menghindari dua hal itu ia terpaksa menyembunyikan irisnya di balik kontak lensa hitam pekat.

Ia tersenyum miring, sinis pada bayangannya sendiri. Tangannya mengepal kuat, membuat jari-jarinya memutih. Dalam hitungan detik tangannya yang terkepal meninju refleksi wajahnya. Menyalurkan amarah yang memeluknya. Lantas, tertawa sekeras yang ia bisa.

Darah merembes dari sela-sela jemarinya. Ia tak peduli. Pecahan kaca mengenai kaki telanjangnya. Ia tak peduli. Tawa yang tadinya menggelegar berubah dalam sekejap menjadi isakan. Ia tertunduk. Membiarkan air dari matanya menetes dan bercampur dengan darah yang sudah menyentuh lantai. Itu menakutkan. Tubuhnya mulai bergetar.

Ia mundur perlahan. Namun, sejauh apapun ia menciptakan jarak. Benda cair merah pekat berbau anyir itu tak bisa jauh dari pandangan. Bagaimana tidak? Tangannya yang terluka masih saja mengeluarkan sesuatu yang sangat menakutkan baginya.
Tubuh yang bergetar itu kini sudah berbenturan dengan dinding kamar. Tubuh itu mulai meluruh, menyentuh lantai yang dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri, membiarkan derai dari kedua kelopak matanya menghantam rahang tegasnya. Sedang kepalanya menyajikan putaran peristiwa yang begitu sukses menciptakan trauma dalam dirinya.

Waktu itu. Detak jam seakan mati langkah. Jarum-jarumnya seakan amnesia tentang bagaimana cara bergerak. Seperti tubuh Sakti yang mati rasa memandang ibunya yang sudah meringkuk di samping tempat tidur dengan lumuran darah di sekitar mulut. Tidak! Benda berbau tak sedap itu juga sudah menodai piyama dan lantai kamar. Ia menangis tertahan. Terpaku dengan langkah mengambang di pintu. Sedang tangannya yang masih setia memegang knop pintu mulai bergetar.

“Sakti.”

Lirih suara itu menelusup ke telinga Sakti dan berhasil menariknya paksa dari keterpakuan. Ia mengerjap berulangkali. Melihat tangan lemah Laksmi yang melambai-lambai memintanya mendekat. Dengan tungkai yang bergetar hebat ia bergerak maju. Duduk di antara lantai dingin dan ternodai darah itu.

Bibir mengatup rapat. Air mata berjatuhan membasahi wajah. Sesak di dada menyiksa parah. Apa yang harus ia lakukan kini?

Tangan lemah itu terangkat menyentuh pipi Sakti. Menghapus jejak air mata yang jatuh.”Anak laki-laki tidak boleh menangis dan harus kuat.”

Itulah kalimat terakhir yang Sakti dengar sebelum mata biru seperti miliknya itu menutup perlahan seiring tangan sang tuan ikut terjatuh tepat di pangkuannya. Juga dada yang sudah tidak lagi terlihat naik turun.

Semua berakhir dalam hitungan detik tepat di hadapannya. Pelitanya telah redup. Tamengnya telah berpulang. Impian yang pernah ia rangkai ikut sirna. Dan terkubur bersama jasad Laksmi.

Terhitung sejak itu juga Sakti mulai sulit merapikan alur ceritanya. Kepergian Laksmi melahirkannya hari-hari panjang yang melelahkan. Ia sulit menerjemahkan kisahnya. Netranya sukar melihat huruf-huruf yang mengeja tentang hidupnya. Ya, kepergian Laksmi adalah kehilangan terdahsyat dan paling menyakitkan.

Suara pintu yang terbuka tiba-tiba dengan kasar tak mampu menyita atensinya. Sakti masih setia memeluk tubuhnya sendiri dengan isi kepala yang berputar menyakiti. Bahkan, lebih menyakitkan dari luka di tangan yang mengalirkan darah segar.

“Astaga, Sakti!” pekikan seorang wanita menggema di kamar dengan cahaya lampu remang.

“Sakti, tenang, Sayang,” ucap Arum—ibu sambung Sakti—yang menyayangi anak enam belas tahun itu dengan tulus dan tanpa pamrih. Ia mengguncang tubuh Sakti yang bergetar. Tak ada respons apapun yang ditunjukkan Sakti.

Arum panik bukan main ketika sepasang matanya melihat darah segar mengalir di tangan Sakti. Namun, ia lekas meretas kepanikannya.  Sakti tidak butuh itu. Karena, yang Sakti butuhkan adalah dada yang kuat dan suntikan ketenangan darinya. Ia paham akan trauma yang dialami Sakti—anaknya. Ya, Sakti memang selalu dianggap anaknya sendiri. Kendati Sakti kerap kali melakukan penolakan atas kehadirannya.

“Lihat Ibu, Sakti!” Arum menangkup wajah Sakti yang basah dengan kedua tangan. Mata yang mengalirkan liquit itu ditatapnya dalam-dalam. Mata dengan iris yang selalu disembunyikan itu balik menatapnya sayu. Ibu jarinya bergerak menghapus sisa air mata Sakti.

Dengan suara bergetar Sakti berucap, “Sakti melihat Mama dengan berlumuran darah meringkuk di lantai. Dan Sakti hanya diam menangisinya. Sakti bodoh, Bu,” ucap menyesali serta mengumpati dirinya sendiri. Kemudian, ia tertawa miris.

Arum tidak bisa untuk tidak menangis sekarang. Ia tahu luka yang menyakiti Sakti dan selalu dipendam rapat-rapat oleh anak itu. Dan baru saja ia mendengar bagaimana bibir tipis merah muda itu mengurai sedikit tentang kepedihan dan melarutkannya bersama air mata. Bohong jika Arum tak merasa sakit juga. Rasa sayangnya pada remaja yang ia anggap anak sendiri sejak ia menikah dengan ayah Sakti—Satria—membuatnya seakan merasakan bagaimana pedih di posisi Sakti. Apalagi terkadang ia bisa melihat sendiri bagaimana Satria memperlakukan anaknya. Arum sakit. Sungguh.

“Bu, kenapa Mama nggak nunggu Sakti besar dulu baru pergi? Setidaknya sampai Sakti tahu bagaimana caranya ikhlas.”

Batin Arum benar-benar terkoyak. Satu anak panah melesat tepat di jantungnya. Ia ikut menangis tersedu sekarang. Tak bisa menjawab apa-apa. Kepedihan Sakti ikut menyusup dan jelas terasa di hati. Meskipun tak sepedih yang dirasakan anak itu.
Mata biru itu masih diterjang badai. Air masih deras mengalir dari sna. Arum membawa tubuh Sakti dan mendekapnya. Untuk pertama kali, Arum tak mendapatkan penolakan dari Sakti. Ya, sebelum-sebelumnya Sakti tak pernah mau jika Arum memeluknya. Kata Sakti dengan suara dingin, tetapi tegas, “Tidak ada pelukan hangat selain pelukan Mama.”

Arum tidak tahu harus merasa bagaimana sekarang. Haruskah ia bersuka cita atas penerimaan Sakti sedangkan anak itu sendiri tengah terluka hebat? Namun, Arum juga tak bisa berbohong bahwa ia bahagia. Sangat bahagia. Detik yang dinanti akhirnya datang. Ia bisa memeluk Sakti dengan erat. Menyalurkan kehangatan yang mungkin sudah tidak lagi dirasakan Sakti sejak Laksmi berpulang.

Tubuh Sakti masih bergetar dengan hebat. Arum tahu Sakti pasti tengah menumpahkan kesedihan yang entah sudah berapa lama dipendam. Dadanya harus kuat untuk menampung kesedihan anak itu. Ia berjanji untuk menjadi penopang Sakti. Memberikan pundaknya sebagai sandaran Sakti-nya.

Dengan selembut yang ia bisa Arum mengelus punggung Sakti. Menitipkan ketenangan yang dibutuhkan sekarang.
Arum mengurai pelukannya. Menciptakan jarak antara dirinya dan Sakti. Sebelum ia menangkup wajah anaknya. Ia lebih dulu mengusap sisa air mata yang membasahi pipi. “Sakti dengarin Ibu, ya.” Senyumnya merekah. Kendati air mata masih belum puas mengalir. “Mama tidak benar-benar pergi. Mama selalu bersama kamu. Di sini.” Ia meletakkan tangannya di dada Sakti. “Di hati kamu, Sayang.”

Entah kenapa kalimat itu begitu menenangkan. Sakti memang tidak merubah raut wajahnya. Namun, ia tak bisa berbohong bahwa hatinya menghangat. Wanita di hadapannya ini—yang pernah ia tolak kehadirannya—benar-benar tak pernah menyerah untuk mendapatkan hatinya. Kini Sakti sadar. Arum memang dikirimkan Tuhan untuknya.

“Bu, lalu bagaimana dengan Papa? Dia ada, tapi Sakti tak bisa menjamahnya.”

Untuk pertanyaan itu. Arum benar-benar kehilangan kata untuk menjawab. Ia membuang pandang. Hingga maniknya menangkap pecahan kaca yang berserakan. Juga dengan noda darah yang membasahi lantai. Arum tersadar dengan keadaan yang sekarang memeluknya. Lantas, ia menatap wajah Sakti yang memucat.

“Sakti, apa yang sudah kamu lakukan?”

Sakti menggeleng. Ia menunduk dalam. Menatap tangannya yang tertutupi noda merah membuat tubuhnya kembali bergetar. “Sakti hanya ingin membunuh Sakti yang tidak lagi diinginkan Papa.” Ia tertawa sumbang.

Sudah cukup. Rupanya pertanyaan itu kembali membuka luka Sakti. Arum menyesal. Harusnya ia tak perlu bertanya apapun lagi. Namun, yang harus ia lakukan adalah mengobati luka di tangan Sakti. “Ibu obati lukanya, Sakti.”

“Ada apa ini?”

Suara berat itu seperti menghentikan laju waktu. Juga detak jantung Sakti yang tadinya konstan.


Penulis : @ynurnun
Sumber : Opini Pribadi
Diubah oleh ynurnun 11-01-2022 08:16
kuda.untaAvatar border
efti108Avatar border
makolaAvatar border
makola dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.6K
42
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.