c4punk1950...
TS
c4punk1950...
Kalau Mau Pintar Jangan Sekolah!




Lagi dan lagi masalah pendidikan tidak akan pernah habis untuk dibahas, terlebih pendidikan harus melalui wadah tertentu seperti sekolah!

Di zaman modern sesudah pandemi terjadi ternyata pendidikan tidak harus berada dalam sekolah, dengan adanya internet membuka banyak ilmu lebih mudah untuk dipelajari. Lantas kalau belajar secara mandiri itu bukanlah pendidikan? Tentu jawabnya tidak bukan?



Oke, nanti saja kita pikirkan hal itu, saat ini kita akan bahas kalau sekolah sebelum pandemi ada yang menganggapnya sebagai penjara! Hmm, sangat menarik bukan.

Terlebih ada ungkapan bahwa sekolah membuat banyak orang menjadi pintar! Ouhh, sepertinya hal ini harus di kritisi, karena pintar itu dalam hal apa? Karena faktanya generasi masyarakat yang bersekolah di Indonesia merosot kualitasnya, ini terlihat dari moralitas bangsa ini yang gagal menjadi pintar karena bersekolah.



Intermezzo sedikit, masih ingat kasus Kolonel dan 2 orang anak buah lainnya di jajaran TNI yang menabrak orang lalu tidak bertanggung jawab, bahkan korban dibuang ke sungai lalu mati. Secara jabatan pangkat kolonel itu orang pintar namun secara moral sudah gagal. Jadi pintar itu menjadi abstrak sekarang ini.

Tapi kita tinggalkan dulu intermezzo diatas, karena pintar dan moral kata banyak orang berbeda. Oke, bung kita lanjut pembahasannya.



Disini bukan kita tak boleh bersekolah, namun sistem pendidikan di Indonesia malah memperburuk kualitas generasi muda. Kenapa bisa disampaikan hal seperti itu?

Jadi begini ceritanya, kalau kamu pernah membaca tulisan dari George Bernard Shaw seorang dramawan, kritikus juga polemis. Dia mengatakan "Sekolah itu kadang-kadang lebih buruk daripada penjara" karena menurut dia, dipenjara tidak ada PR, dipenjara tidak ada seseorang harus berpengetahuan tertentu, tidak ada yang dipaksa untuk dicekoki berbagai macam ilmu hingga berjam-jam lantas setelah itu terakhirnya akan ada penilaian. Hal itulah yang menyebabkan Bernard berpendapat demikian.

Ternyata pendapat tersebut dapat dibenarkan ketika kita masuk ke dalam dunia sekolah, contohnya anak SD sudah diberikan pertanyaan yang tidak relevan untuk kehidupan dirinya pada waktu itu maupun masa yang akan datang.



Misalnya gini, anak-anak ditanyakan macam-macam arah aliran sungai? Lalu dijawab ada sungai konsekuen, subsekuen, obsekuen, resekuen, insekuen. Nah setelah anak-anak itu paham lantas hafal arah aliran sungai, itu untuk apa? Karena ketika ia dewasa HRD buruh pabrik tidak akan bertanya tentang arah aliran sungai, bahkan penghulu ketika menikahpun tidak mempertanyakan tentang soal arah aliran sungai.

Bahkan untuk pejabat negara seperti Presiden, Menteri dan DPR juga mungkin tidak paham tentang soal teknis arah aliran sungai. Tapi buktinya mereka bisa menjadi pejabat negara! Artinya pertanyaan-pertanyaan seperti itu tak relevan untuk masa depan peserta didik.



Karena pertanyaan itu menjadi acuan nilai siswa, ada kkm nya, kalau tidak sesuai kkm akan bisa tidak naik kelas. Maka pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sangat penting.

Padahal kalau kita mau berkaca pada pendidikan di masa Belanda, sekolah itu bukan untuk ujian tapi mendidik anak agar berfikir secara kritis. Tak heran banyak orang hebat dengan pemikiran kritisnya lahir di masa Belanda.

Pendidikan eropa saat ini mengajarkan siswa untuk berfikir kritis, kronologis, dan optimis untuk terbiasa menghadapi hal seperti itu dimasa depannya nanti. Bakat mereka yang digali dan disempurnakan untuk menjadi para ahli.



Sedangkan pendidikan di Indonesia bisa membuat bakat-bakat yang dimiliki si anak hilang. Contoh simple, anak itu suka menggambar ketika di kelas tapi kalau ketahuan guru dimarahi, maka pelukis di Indonesia sudah sengaja dimatikan sejak SD.

Bahkan contoh yang hangat dan menjadi perbincangan para penulis di facebook, dimana ada guru pondok asrama sekolah merobek buku novel dari siswa didik. Ini sama saja mematikan minat belajar membaca anak, bahkan mematikan jiwa novelis muda yang ingin berkarya. Intinya pelajaran itu harus sesuai kurikulum, harus sesuai dengan aturan-aturan ketat yang berlaku. Apakah ini bukan penjara namanya?



Berapa banyak siswa yang dipaksa belajar tentang pelajaran yang tidak dia minati. Bakat-bakat mereka seakan dibunuh, inilah yang menyebabkan SDM di Indonesia krisis. Karena tidak ahli dalam bidangnya, bayangkan lulusan Sarjana pertanian kerja dibagian administrasi itupun ada loker dari orang dalam.

Jadi Sekolah seakan dipaksa oleh pemerintah untuk pintar dalam satu hal, tapi gak ngerti pintarnya itu untuk apa! Bukannya begitu?

Ini kritik untuk pendidikan Indonesia yang masih berjibaku dengan nilai ujian, ditakutkan masa depan Sekolah akan digantikan oleh google, youtube, bayangkan ada orang sukses karena nyontek dari youtube.



Mereka bisa berkreasi sesuai bakatnya di youtube, para penulis novel, cerpen, bisa menuang bakatnya di kaskus. Komikus bisa berkarya di webtoon, musikus bisa berkarya di spotify.

Kalau sudah seperti ini fungsi sekolah untuk apa nantinya? Karena siswa sudah tak membutuhkan guru, mereka sering bertanya di forum, membuat komunitas dan sebagainya. Mereka pintar berkat adanya teknologi internet, ini yang harus diwaspadai. Bahkan untuk menjadi ustadz pun bisa hanya dengan mengandalkan google, teknologi tidak bisa dibendung.



Contoh simple, Fiki Naki belajar bahasa asing hanya melalui youtube dan ome tv. Dan hasilnya bisa membuat konten dengan bayaran yang luar biasa, apakah Fiki membayar guru bahasa? Tidak ia belajar karena menuruti bakatnya yang memang suka bahasa, dan guru bahasa di youtube sudah banyak agar bisa native speaker.

Kuncinya hanya mau atau tidak belajar sesuai bakatnya, jadi sekolah hanya untuk mendapatkan ijazah saja. Tapi bisa jadi dimasa depan ijazahpun tak berlaku, dan banyak orang tua siswa lebih senang mengeluarkan uang untuk memasang wifi 5G. Agar si anak bisa menyalurkan bakatnya dengan belajar dari internet. Daripada harus membayar untuk sekolah, tidak ada jaminan juga sekolah akan menjadi orang sukses dimasa depan!



Contoh simple balita masa kini sering melihat youtube, ketika si balita tadi sering mendengarkan lagu bahasa Inggris, konten bahasa Inggris maka bahasa Inggris si anak pun sudah terasah, secara tidak langsung balita tersebut paham dengan bahasa Inggris.

Apakah dimasa depan Pintar juga tidak harus dari Sekolah? Semoga sistem pendidikan di Indonesia dapat berbenah.

Apa tanggapanmu dengan hal ini kawan?



Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.

emoticon-I Love Indonesia



"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2021
referensi : klik, klik
Pic : google

emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star





Diubah oleh c4punk1950... 29-12-2021 04:00
MemoryExpressushirotaadimulyono876
adimulyono876 dan 23 lainnya memberi reputasi
24
5K
119
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Yuk bergabung agar dapat lebih banyak informasi yang dibagikan di Komunitas The Lounge
The Lounge
The Lounge
icon
922KThread80.1KAnggota
Terlama
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.