TS
kumparan
Rinjani dan Wisata Mentalitas

Siapa yang tak kagum akan kemolekan gunung Rinjani, mulai dari hamparan padang savanna, hutan tropis, kaldera, bukit penyesalan, Danau Segara Anak, kawah, air terjun, mata air belerang, ladang jagung, flora dan fauna yang beragam, hingga jurang bertebing tinggi. Mungkin pada saat membuatnya, Tuhan sedang asik-asiknya bereksperimen akan semua hasil terbaik ciptaan-Nya.
(sungai-sungai manja via Torean, Hak Fotografi: Liza Farihah Lusa)
(Dari Plawangan Sembalun menuju Torean - Hak Fotografi: Helin Hakh)
Ada banyak hal yang dapat dipetik dari pendakian kali ini. Revolusi mental dan karakter yang didengung-dengungkan oleh Pak Joko Widodo kerap kali terbesit dalam pikiran saya kala mengobservasi stakeholders yang saya jumpai dalam perjalanan. Satu, dua, tiga, dan empat. Oh, bahkan lebih dari itu – membuat saya rethinking on how I manage my traveling.
(Dari Pos I menuju Pos II - Hak Fotografi: Liza Farihah Lusa)
Perlukah menerapkan metode serupa yang saya gunakan saat saya bekerja ke dalam suatu perjalanan ‘bersama’, dan diiringi oleh orang-orang asing yang baru dipertemukan pada saat itu? Kita punya cara yang berbeda, level standard yang ‘jumplang’, kultur yang beragam, serta latar belakang pekerjaan yang membuat masing-masing memiliki ‘kacamata’ tak sama dalam memandang suatu hal.
Spontanitas dan ‘just follow the river’ ingin sekali saya terapkan dalam suatu perjalanan, sebab terlalu bosan hidup dalam perfeksionitas, rutinitas, serta ritualitas lainnya yang merupakan suatu keharusan dalam mencapai tangga karir terbaik dalam kehidupan.
Sesekali, we want to fly in the face of routines and perfectionism – in a safe and calculated way.
(Petang hari di Plawangan Sembalun - setelah melewati Bukit Penyesalan, yang gak pernah 'ngeh kalau itu Bukit Penyesalan//Hak Fotografi: Binsar Caraka)
(Preparation before summit attack: a 2-hour of sleeping with lack of water plus Indomie Kuah (again) as an early breakfast. But, we managed to cheer-up dan gak 'ngoyo. The guide tried to push us, "balik ke bawah, kalau empat orang lainnya yang sudah summit attack selesai. Lagipula udah kabut!" I believe Netizen can assess what kind of motivation it was. Instead of making a positive vibe and attitude, choosing demotivational words, arghh, malah jadi pilihan ybs. Too bad!)
(During the sunrise - Hak Fotografi: Aprilia Lina)
Tapi, perjalanan kali ini ‘toh tentang nyawa. Tentang survival. Tentang bagaimana kita bisa elevate each other to the best version of themselves in every circumstance. Tentang saling membutuhkan. Mudah untuk sukses sendiri, mengedepankan egosentris, hingga lupa bahwa we made for one another.
Kekuatan ‘toh tak selalu bicara mengenai fisik, tetapi juga mental dan the way people handle a problem. Lari ‘kah mereka? Menghilang ‘kah mereka? Sanggupkah mereka bisa melihat hal positif dan memiliki harapan kala keadaan memaksa mereka sebaliknya?
(Kakak-kakak Manjah bermental baja nan ambisius. Meski lelah hati dan jiwa, kaki tak pernah berhenti melangkah. Hak Fotografi: Elizabeth Taruli Lestari Lubis)
(Chasing the sunrise, Hak Potret: Liza Farihah Lusa, Hak Fotografi: Elizabeth Taruli Lestari)
Kelemahan rekan kita bukanlah suatu candaan ataupun bahan pembicaraan renyah sambil santap malam. Pendakian memang selalu membuka kepribadian dan karakter seseorang, yang mungkin diendapkan oleh karena keadaan – maksud saya pencitraan. Genuineness – sure you can assess it in this kind of situation.
(Kakak Helin Hakh: Menaklukkan Rinjani dan Emosi Jiwa-Raga menghadapi 'lalat-lalat' kehidupan - Hak Fotografi: Elizabeth Taruli Lestari Lubis)
(Perintis perjalanan yang sudah direncanakan sejak Agustus 2017, yet the trip owner can't prepare it well. But, again, we control what's inside us. Inner peace!)
(Take over masak-masak lyfe di Pos II 'coz peserta so starving - Hak Fotografi: Liza Farihah Lusa)
(A river found during our journey via Torean track - Hak Fotografi: Liza Farihah Lusa)
Pelajaran Kedua, rupanya memilih siapa yang akan menjadi partner kita dalam perjalanan dan menuju puncak, ternyata memiliki sumbangsih besar terhadap keberhasilan hidup kita. Memilih ‘wrong man’ will definitely drag you down and ruin almost everything in your life – no matter how much effort you put in and how brilliant your plan is. Itu semua akan sia-sia, if we mistakenly choose the partner. Oleh karenanya penting dan teramat penting untuk melakukan uji tuntas (due diligence) sebelum memilih partner, pada khususnya jika menggunakan open or private trip. Rekan saya, Amal Salsabila, seorang pendaki cukup professional, membagikan hal yang terlarang dilakukan oleh suatu jasa penyedia trip:
- Membiarkan peserta tidak terlihat panitia;
- Alat komuniksi (handy talky) berkumpul pada satu titik;
- Peserta sampai di tempat yang ditentukan and with no clue harus apa karena panitia tidak ada yang stand-by;
- Tidak memberi makan dan minum yang proper serta sesuai dengan jam-jam makan. [Mau summit attack, of course Indomie is not allowed!]
- Miscalculate jadwal summit. Peserta tentu harus diberikan waktu proper untuk istirahat. We are not ghosts popping up suddenly in the summit, ‘kan?
- Sesama panitia tidak akur dan memperlihatkannya di depan peserta;
- Panitia terlambat dan peserta yang ready to go duluan;
- Menyalahkan fisik para peserta, yang berujung pada mempersalahkan jadwal jadi telat karena ini. *oh well, that was absolutely insane!
- Disetir oleh peserta!
- Membawa peserta melalui jalur illegal, memberitahukannya secara mendadak, dan tidak kuasai medan. *Even if it is so beautiful - kita 'toh tak ingin mati konyol!
Beruntung, pemandangan indah disuguhkan dan teman-teman perjalanan lainnya bermental baja. Lesson for life, dan hanya terjadi sekali saja seumur hidup. If you guys want to know the name of the trip, I definitely will tell you privately and strongly suggest you not to use their services.
(Almost summit dan yang udah summit!)
(Abang-abang yang terlalu lelah jagain adik-adik perempuannya! *sigh//Hak Fotografi: Liza Farihah Lusa)
Pendakian selanjutnya akan terus berlanjut, dengan menggenggam pelajaran berharga ini. ‘Toh dengan begitu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya (Gie).
(Sedikit Lagi. Hak Fotografi: Aprilia Lina)
Sumber : https://kumparan.com/elizabeth-tarul...ata-mentalitas
---
Kumpulan Berita Terkait :
-
Rinjani dan Wisata Mentalitas-
Wisatawan Asia Membludak Berlibur ke Australia- [img][/img] kumparan Nge-Vlog Bareng Menteri Susi di Pulau Tidung
anasabila dan tata604 memberi reputasi
2
410
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Kumparan
8.6KThread•1.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya