Kaskus

Hobby

rafikaauliaAvatar border
TS
rafikaaulia
Suamimu Pacarku


“Tega kamu, Bang kalau mau menikah dengan dia! Apa artinya hubungan kita selama ini, jika semudah itu kamu akan menikah dengan yang lain?” seruku seraya menitikkan bulir bening. Bagaimana tidak? Aku yang selama ini menemani dia, tapi seenaknya saja dia mau menikah dengan yang lain.

“Tunggu abang bicara dulu, Dek,” ucap Haykal sambil menggenggam tangan ini. “Abang menikah hanya karena balas budi, Dek. Nggak lebih! Cinta ini masih untukmu seorang. Nanti abang bertahan sama dia tiga bulan saja,” imbuhnya meyakinkan kalbu ini.

“Janji, Bang?”

“Janji, Sayang. Tunggu abang, ya!”

**

Selang sebulan dari obrolan itu, pria yang begitu kudambakan, akhirnya menikah dengan Aliyah. Sungguh miris hati ini, memikirkan lelaki berdada bidang itu akan bermalam pertama dengan istri barunya. Aku cuma bisa meratapi nasib, di balik jendela usang yang terletak di rumah alakadarnya ini.

Putri Annisa adalah namaku, gadis berwajah ayu, hidung mancung, kulit kuning langsat. Hidup sebatang kara, Bapak Ibu sudah meninggal tepat setelah aku merayakan purna siswa sekolah menengah atas.

**

Tepat pukul sepuluh malam, ada bunyi orang mengetuk pintu. Siapa gerangan yang bertamu malam-malam? Kutarik langkah perlahan ke pintu rumah, sebelum gagang pintu kuputar, tangan ini menyingkap gorden jendela, mengintip siapa yang ada di luar rumah. Bang Haykal ternyata yang berdiri di teras rumah.

“Bang, kenapa Abang ke sini? Bukannya ini malam pertama Abang dengan Aliyah?” tanyaku.

“Bagaimana bisa aku bermalam pertama dengan Aliyah, jika hati ini hanya terpaut dengan Annisa,” jawab pujaan hatiku yang langsung meronakan pipi ini.

Segera kugandeng masuk pria kekar itu, karena malam semakin larut. Akhirnya kami langsung masuk kamar untuk tidur.

**

Sudah dua bulan pernikahan antara Haykal dan Aliyah terjalin. Lelaki bermata elang itu masih senantiasa mengunjungiku, tak jarang juga dia membawakan buah tangan saat berkunjung. Dari yang murah sampai yang mahal dia belikan untuk diri ini.

“Enak sekali si Aliyah. Bisa merasakan kemewahan hasil dari keringat Abang,” ujarku sinis.

“Sudah, jangan cemburu gitu, ah! Yang penting abang belikan barang-barang juga untuk Adek, kan?” ujar Haykal menenangkanku.

“Pokoknya aku mau kita segera menikah, Bang! Sampai kapan, kita akan hubungan kayak gini terus?”

“Iya, Dek.”

“Abang ini iya-iya saja, tapi nggak pernah ada niatan untuk serius,” cercaku seraya meninggalkan lelaki yang dirundung kecemasan tersebut.

***

Setelah senja sudah beberapa kali berganti, akhirnya apa yang hati ini inginkan akan terkabul. Duduk berdua di hadapan penghulu, Haykal dengan lantang mengucapkan ikrar pernikahan dan hanya dengan kata sah, resmilah aku menyandang sebagai istri kedua pria tampan tersebut.

Meskipun hanya pernikahan siri, itu tak menjadikan rasa kami berubah. Haykal lebih banyak waktu denganku daripada dengan istri tuanya. Ya-iyalah, aku kan wanita pertama di hatinya, meski gelar istri kedua tersemat dalam diri ini.

Di usia pernikahan Haykal dan Aliyah menginjak anniversary tahun pertama, wanita yang bergelar istri tua itu, masih belum mengandung. Sedangkan diri ini sudah mengandung, jalan empat bulan. Haykal begitu memanjakanku, membelikan ini-itu, menuruti semua pintaku.

Namun, di saat kehamilanku menginjak usia tujuh bulan, lelaki yang menjadi suamiku itu dipecat dari pekerjaannya. Betapa kalutnya diri ini, perut tinggal beberapa bulan lagi akan melahirkan, belum lagi bayar kredit rumah dan mobil. Aku murka, benar-benar murka.

“Sabarlah, Dek. Abang janji akan segera mendapatkan pekerjaan lain,” titahnya.

“Sampai kapan, Bang? Coba bilang, sampai kapan aku harus bersabar. Sedangkan perut ini semakin membesar, mulut ini pun bisa lapar jika nggak makan,” tanyaku dengan penuh emosi. “Aliyah dengan bahagia, bisa duduk manis di kediaman yang mewah. Sedangkan aku? Rumah masih kredit, mobil masih kredit, beberapa bulan lagi rumah sama mobil ini pasti akan diambil juga, Bang!” lanjutku menggebu-gebu.

Dielusnya diri ini dengan lembut, ditenangkan sebisa mungkin. Namun, emosi masih bersarang di ubun-ubun. Aku kesal, benar-benar kesal.

Tanpa sepengetahuan Haykal, aku pergi ke rumah Halimah—ibunya Haykal. Wanita paruh baya itu memang tidak tahu, jika anak tunggalnya mempunyai istri selain Aliyah. Sesampainya di depan rumah bercat biru, aku langsung mengucapkan salam, selang beberapa menit perempuan yang melahirkan suamiku itu, menjawab salam dan langsung membukakan pintu rumah.

Perlahan mulut ini menjelaskan, siapa diri ini, dan atas dasar apa tubuh ini berani mendatangi rumah sederhana, tapi ada kesan mewah bila masuk ke dalamnya tersebut. Betapa terkejutnya Halimah, saat mendengarkan penuturan yang terlontar dari bibirku.

“Nggak mungkin! Anakku tipe lelaki setia. Dia nggak mungkin menduakan menantuku, yang baiknya nggak ketulungan itu!” cercanya dengan wajah merah padam khas orang marah.

“Bang Haykal memang tipe lelaki yang setia, Bu. Begitu setianya dia, sampai nggak mau meninggalkan aku yang sudah bersamanya, sebelum Aliyah hadir di antara kalian, Bu,” jawabku dengan suara yang halus, seraya mengelus perut yang sudah semakin membesar ini.

“Aku nggak mau mengakui kamu sebagai menantuku, karena menantuku cuma Aliyah seorang. Berapa uang yang kamu inginkan, agar kamu segera meninggalkan anakku? Aku tahu kamu menikah dengan anakku karena kekayaan menantuku, kamu mau ikut merasan harta Aliyah, kan?”

“Uang? Harta Aliyah? Maksudnya apa, Bu? Bukannya malah Aliyah yang menghabiskan uang Haykal. Sampai-sampai kehidupan dia lebih mewah daripada kehidupanku yang notabene pacar Haykal, sebelum kenal Aliyah,” tanyaku menggebu-gebu, entah lelucon apa yang dilontarkan perempuan paruh baya ini.

“Heh, apa kamu tahu? Aliyah itu wanita karier yang kaya raya, harta peninggalan orang tuanya begitu banyak. Haykal aku nikahkan dengan dia, karena perempuan yang berusia dua puluh tiga tahun itu begitu menyukai Haykal. Lagi pula, dulu pengobatan ayahnya Haykal semua dibantu Aliyah. Jadi, pernikahan itu di satu sisi sebagai bentuk balas budi, sebab Aliyah ingin menjadi istri Haykal dan di sisi lainnya, biar kami nggak usah susah-susah kerja, karena bisa tumpang hidup dengan Aliyah,” ujar Halimah panjang lebar.

Aku tertegun, beberapa kali saliva ini tertelan dengan paksa. Kenyataan apa ini? Kenapa tidak mengetahui seluk beluk kehidupan Haykal sebelumnya. Akhirnya diri ini memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini.

Sesampainya di rumah, aku langsung mencercah Haykal dengan banyak pertanyaan. Awalnya pria itu marah, karena dengan lancang diri ini mendatangi ibunya, tapi setelah dia puas marah, kini giliran aku yang marah-marah.

“Jadi, betul semua yang diucapkan ibumu itu, Bang? Kalian tumpang hidup dengan Aliyah. Lantas, uang yang Abang berikan untukku itu---”

“Tunggu dulu, Dek! Biarkan abang menjelaskan duduk perkaranya. Keluarga abang memang tumpang hidup dengan Aliyah, tapi uang yang abang berikan itu murni dari hasil kerja abang, sebagai seles pemasaran, Dek,” jelas Haykal.

Untunglah kalau memang uang yang diberikan itu murni dari keringat dia. Setelah perdebatan itu, Haykal mengajak aku untuk pergi ke rumah di mana ada Aliyah tinggal. Dia mau meminta belas kasihan istri tuanya, agar mau menerima kehadiran diri ini, beserta janin yang tengah bersemayam di tubuh.

Awalnya menolak, tapi lama kelamaan, aku membuang rasa malu demi menopang kehidupan dan calon buah hati yang akan segera lahir ini. Mau mengharapkan Haykal mendapatkan pekerjaan dulu, entah sampai bila.

Selang beberapa minggu, tibalah kami di kediaman mewah yang halaman rumahnya terdapat sebuah taman dan kolam ikan kecil itu, ya rumah Aliyah. Hati ini begitu cemas dan deg-degan, antara akan diterima atau malah diusir di rumah bercat kelabu ini. Aku berdiri di samping tubuh kekar Haykal. Perlahan pintu diketuk dan tak berselang lama, wanita cantik berbalut jilbab instan itu membuka pintu rumah.

Haykal menjelaskan dengan hati-hati siapa aku sebenarnya. Netra ini tak mampu memandang wanita cantik yang tengah duduk di hadapan. Terdengar embusan napas yang berat, Aliyah memang wanita yang baik, dengan dalih kalau aku ini wanita yang memikat hati suaminya sebelum mereka dipertemukan, wanita bertubuh langsing itu mau menerima diri ini, meski awalnya dia sudah menolak.

Lain Aliyah lain pula Halimah, wanita paruh baya itu masih tidak suka diri ini. Aku menjadi pesuruhnya saat Aliyah dan Haykal tak berada di rumah. Aku yang tahu diri jika tengah menumpang, menuruti semua titahnya. Hingga diri ini melahirkan seorang bayi tampan, yang parasnya seiras dengan wajah Haykal pun masih belum bisa meluluhkan hati Halimah.

Sampai kejadian naas itu terjadi. Kami yang tengah duduk menonton televisi di ruang keluarga saat malam hari, tiba-tiba ada beberapa perampok masuk ke kediaman mewah Aliyah. Kami semua dibekap, Haykal yang mencoba menyelamatkan kami, malah tertembak oleh salah satu perampok. Semua yang ada di rumah teriak histeris, nyawa lelaki yang punya dua istri itu mati di tangan para penjahat tersebut.

Sejak kejadian itulah, Halimah mulai berbaik dengan diri ini. Aliyah pun telah melahirkan bayi perempuan yang cantiknya seperti dirinya. Kami tinggal bersama, aku pun ikut mengelola salah satu butik Aliyah. Anakku dan anak Aliyah Halimah yang mengasuh di rumah, dengan dibantu satu baby sitter.

“Kepergianmu membawa hidayah di hidupku, bang. Ibumu jadi mau menerima diri ini, aku berjanji akan menjaga keluarga ini dengan sebaiknya. Tenanglah abang di sana,” gumamku lirih saat bermain dengan Ali dan Aisyah.

Titi mangsa:
Malaysia, Agustus 2020

Bionarasi:
26 tahun bukanlah umur yang mudah untuk menggapai cita, tapi umur bukan menjadi patokan kapan seseorang akan berjaya. Rafika Aulia menjadi doa orang tua saat aku terlahir. Hanya ingin menggores aksara yang bisa memberi manfaat buat pembaca. Tak mudah merangkai kata, tapi tak ada kata sulit jika mau mencoba.

0
415
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buku
Buku
KASKUS Official
7.8KThread4.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.