TS
senja.menulis
susuk Penari ronggeng
Susuk Penari Ronggeng
#SPR
Bagian 1
oleh : Rara Angger Wahyuning Tyas
Terima kasih kepada admin dan moderator yang telah meng-approve.
"Cantik." Aku memandang diri ini di depan cermin. Wajah cantik, tubuh yang menawan serta kemampuan menari yang mumpuni, mampu membuat setiap lelaki tak berkedip bila memandang.
Sama seperti kali ini. Aku menerima tawaran menari di rumah Pak Karjo, salah satu tuan tanah di sini. Hari ini para koleganya akan berkunjung, sehingga ia berniat menyuguhkan hiburan Tari Ronggeng. Sebagai seorang penari yang terkenal, sudahlah pasti mampu memanjakan mata lelaki.
Setelah sempurna. Aku melangkah keluar kamar dan bersiap menuju ruang tamu yang sudah disusun sedemikian rupa.
Aku memandangi semua tamu yang hadir dengan senyuman manis. Beberapa dari mereka bahkan menelan Saliva. Bahkan ada yang memandang hingga melotot. Seperti kedua bola mata itu ingin lompat keluar.
Aku memberikan hormat tanda tarian akan dimulai. Perlahan gamelan dan gendang ditabuh. Tubuh ini mulai melenggak lenggok dengan sesekali memainkan pinggul.
Gerakan demi gerakan dilakukan, hingga perlahan satu demi satu lelaki berdiri dan mulai ikut menari bersama. Tangan mereka menggenggam beberapa lembar uang seratus ribuan.beberapa dari mereka mulai memberikan uang. Bahkan ada yang tak segan memasukkan ke dalam pakaianku. Mereka tak akan keberatan memberikan uang yang dimiliki.
Aku tersenyum manis sambil sesekali memainkan mata dan mencolek dagu salah satu diantara mereka.
Aku mulai memandang satu persatu mereka untuk dijadikan teman malam. Dan pilihan kali ini jatuh ke Tuan Broto. Ia adalah seorang lelaki yang sangat kaya. Memiliki tiga istri serta perkebunan yang sangat luas. Tubuhnya sedikit gemuk, perut buncit khas seorang lelaki tua. Namun, uangnya yang banyak pasti membuat penampilan dia terlihat berbeda.
“Kita habiskan malam ini berdua, Kinanti. Kau bisa mendapatkan apa yang kau mau,” bisiknya saat tengah menari di sisiku.
Aku menjawab dengan sekali kedipan mata. Ia yang merasa mendapatkan jawaban langsung tersenyum manis yang sebenarnya menjijikkan.
Bunyi alat-alat musik pengiring pun berhenti. Tarian juga usai. Aku memberikan salam penghormatan lalu melangkah ke kamar ganti untuk melepaskan kostum yang digunakan.
Dodot, kebaya, sampur, karembong dan lainnya dilepas. Kemudian berganti pakaian dengan blouse berwarna biru muda serta celana jins berwarna senada.
💐💐💐💐
Srek!
Suara pintu ditutup mengalihkan perhatianku. Bahkan harus memaksa turun pakaian yang belum digunakan dengan sempurna.
Sebuah senyum menyeringai tergambar di bibir lelaki tua itu. Ya! Tuan Broto tengah menyeringai sambil menutup pintu dan menguncinya. Aku berusaha mengatur napas perlahan.
“Akhirnya kamu akan menjadi milikku, Kinanti.” Ia menarik tubuhku ke dalam pelukan dan membisikkan kata-kata cinta yang menurutku basi. Lelaki tua itu juga mengutarakan rasa bangga karena berhasil memiliki seorang Kinanti, sang penari ronggeng terkenal.
Sebagai seorang penari ronggeng, aku hanya mau melayani lelaki yang mampu memberikan uang paling banyak saat sedang menari.
Malam ini, si Tua Brotolah yang mampu memberikan yang terbanyak saat menyawer tadi.
“Sudahkah Tuan mengamankan Nyonya besar? Aku tidak mau disaat kita sedang bersenang-senang harus mendapat gangguan dari istri-istri Tuan.” Aku mengeratkan pelukan. Sambil membalas ucapan mesranya di telinga. Mungkin ia tak tahu kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir ini ialah sebuah mantra. Lelaki yang telah dikuasai nafsu itu hanya mengangguk atas semua yang didengar.
Lelaki tua itu melepaskan pelukan. Mengangkat tubuh ini perlahan dan meletakkan di atas pembaringan. Aku kembali melafalkan beberapa kalimat yang akan membuat malam ini menjadi malam terbaik yang pernah ada. Semua berjalan sesuai yang ia harapkan. Tenang dan sunyi. Bahkan cuaca di luar juga seperti mendukung keinginannya. Namun, saat ia hendak memulai semua ....
“Argh!” Teriakan lelaki tua itu Cumiakkan telinga yang mendengar. Ia langsung memejamkan mata dan membuatku membuang tubuh tambun itu ke sisi lain.
Ia jatuh tepat di lantai kamar. Tak lama sesuatu dari kolong muncul perlahan dan menarik tubuh ia ke dalam. Semua menjadi gelap saat listrik tiba-tiba mati. Aku langsung duduk dengan melipat kedua kaki, melafalkan beberapa mantra. Fokus. Tanpa mempedulikan suara kunyahan yang berasal dari bawah.
Bersambung
#SPR
Bagian 1
oleh : Rara Angger Wahyuning Tyas
Terima kasih kepada admin dan moderator yang telah meng-approve.
"Cantik." Aku memandang diri ini di depan cermin. Wajah cantik, tubuh yang menawan serta kemampuan menari yang mumpuni, mampu membuat setiap lelaki tak berkedip bila memandang.
Sama seperti kali ini. Aku menerima tawaran menari di rumah Pak Karjo, salah satu tuan tanah di sini. Hari ini para koleganya akan berkunjung, sehingga ia berniat menyuguhkan hiburan Tari Ronggeng. Sebagai seorang penari yang terkenal, sudahlah pasti mampu memanjakan mata lelaki.
Setelah sempurna. Aku melangkah keluar kamar dan bersiap menuju ruang tamu yang sudah disusun sedemikian rupa.
Aku memandangi semua tamu yang hadir dengan senyuman manis. Beberapa dari mereka bahkan menelan Saliva. Bahkan ada yang memandang hingga melotot. Seperti kedua bola mata itu ingin lompat keluar.
Aku memberikan hormat tanda tarian akan dimulai. Perlahan gamelan dan gendang ditabuh. Tubuh ini mulai melenggak lenggok dengan sesekali memainkan pinggul.
Gerakan demi gerakan dilakukan, hingga perlahan satu demi satu lelaki berdiri dan mulai ikut menari bersama. Tangan mereka menggenggam beberapa lembar uang seratus ribuan.beberapa dari mereka mulai memberikan uang. Bahkan ada yang tak segan memasukkan ke dalam pakaianku. Mereka tak akan keberatan memberikan uang yang dimiliki.
Aku tersenyum manis sambil sesekali memainkan mata dan mencolek dagu salah satu diantara mereka.
Aku mulai memandang satu persatu mereka untuk dijadikan teman malam. Dan pilihan kali ini jatuh ke Tuan Broto. Ia adalah seorang lelaki yang sangat kaya. Memiliki tiga istri serta perkebunan yang sangat luas. Tubuhnya sedikit gemuk, perut buncit khas seorang lelaki tua. Namun, uangnya yang banyak pasti membuat penampilan dia terlihat berbeda.
“Kita habiskan malam ini berdua, Kinanti. Kau bisa mendapatkan apa yang kau mau,” bisiknya saat tengah menari di sisiku.
Aku menjawab dengan sekali kedipan mata. Ia yang merasa mendapatkan jawaban langsung tersenyum manis yang sebenarnya menjijikkan.
Bunyi alat-alat musik pengiring pun berhenti. Tarian juga usai. Aku memberikan salam penghormatan lalu melangkah ke kamar ganti untuk melepaskan kostum yang digunakan.
Dodot, kebaya, sampur, karembong dan lainnya dilepas. Kemudian berganti pakaian dengan blouse berwarna biru muda serta celana jins berwarna senada.
💐💐💐💐
Srek!
Suara pintu ditutup mengalihkan perhatianku. Bahkan harus memaksa turun pakaian yang belum digunakan dengan sempurna.
Sebuah senyum menyeringai tergambar di bibir lelaki tua itu. Ya! Tuan Broto tengah menyeringai sambil menutup pintu dan menguncinya. Aku berusaha mengatur napas perlahan.
“Akhirnya kamu akan menjadi milikku, Kinanti.” Ia menarik tubuhku ke dalam pelukan dan membisikkan kata-kata cinta yang menurutku basi. Lelaki tua itu juga mengutarakan rasa bangga karena berhasil memiliki seorang Kinanti, sang penari ronggeng terkenal.
Sebagai seorang penari ronggeng, aku hanya mau melayani lelaki yang mampu memberikan uang paling banyak saat sedang menari.
Malam ini, si Tua Brotolah yang mampu memberikan yang terbanyak saat menyawer tadi.
“Sudahkah Tuan mengamankan Nyonya besar? Aku tidak mau disaat kita sedang bersenang-senang harus mendapat gangguan dari istri-istri Tuan.” Aku mengeratkan pelukan. Sambil membalas ucapan mesranya di telinga. Mungkin ia tak tahu kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir ini ialah sebuah mantra. Lelaki yang telah dikuasai nafsu itu hanya mengangguk atas semua yang didengar.
Lelaki tua itu melepaskan pelukan. Mengangkat tubuh ini perlahan dan meletakkan di atas pembaringan. Aku kembali melafalkan beberapa kalimat yang akan membuat malam ini menjadi malam terbaik yang pernah ada. Semua berjalan sesuai yang ia harapkan. Tenang dan sunyi. Bahkan cuaca di luar juga seperti mendukung keinginannya. Namun, saat ia hendak memulai semua ....
“Argh!” Teriakan lelaki tua itu Cumiakkan telinga yang mendengar. Ia langsung memejamkan mata dan membuatku membuang tubuh tambun itu ke sisi lain.
Ia jatuh tepat di lantai kamar. Tak lama sesuatu dari kolong muncul perlahan dan menarik tubuh ia ke dalam. Semua menjadi gelap saat listrik tiba-tiba mati. Aku langsung duduk dengan melipat kedua kaki, melafalkan beberapa mantra. Fokus. Tanpa mempedulikan suara kunyahan yang berasal dari bawah.
Bersambung
Diubah oleh senja.menulis 15-10-2019 20:19
0
1.3K
3
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buku
7.8KThread•4.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya