TS
alnafs
Sajak

SAJAK
Hari ini aku kembali dengan ketukan suara ketikan, bersuara melalui kata-kata. Ia hidup lama sepanjang manusia membaca. Tulisan; itu bisa menjelma kebijaksanaan bahkan menjelma menjadi kehancuran. Ada yang bernapas tapi tidak bersyukur; merdeka tapi memilih dipenjara; tersenyum tapi tidak bahagia; bernyawa tapi tidak benar-benar hidup. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana. Pandanglah dunia sebagai dirimu sendiri. Temukan iman pada segala sesuatu sebagaimana mestinya. Cinta dunia sebagai dirimu sendiri; maka kau akan bisa menyayangi segala sesuatu. Keindahan adalah cahaya yang memancar dari kesunyian jiwa dan menyinari tubuh, seperti kehidupan yang datang dari kasih bumi yang memberikan warna bunga keindahan dan mencipta dalam kalbu apa yang disebut cinta, yang tercipta antara pria dan wanita. Usaha dan doa tergantung pada cita-cita; Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Cinta itu tegar, kita saja yang lelah. Cinta itu memberi janji, manusia mengkhianati. Cinta bisa dipercaya, tapi tidak manusia. Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku. Bersama bintang. Bersama bulan. Bersama langit malam. Cukup dengan melihat alam, kamu merasakan kedamaian. Petiklah bulan, jadikan ia cahaya sahaja di malam laknat para pendosa. Sepi ini tanpa nama, dingin namun bermakna bulan tetap terang ketika tidak menghindari malam. Saat kau datang ke dunia ini, ada tangga yang ditempatkan di depanmu, dan tangga itu akan mengantarmu ke-Nya. Dari bumi ini, kau pun naik menjadi tumbuhan. Dari tumbuhan kau pun naik menjadi hewan. Setelah itu kau pun naik menjadi manusia-mahluk yang mewarisi pengetahuan melalui akal dan iman. Lihatlah, tubuhmu merupakan turunan dari debu, tetapi bagaimana bisa tubuhmu menjadi begitu sempurna? Lalu, Mengapa kau takut dengan kematian? Ketika kamu berhasil melampaui bentuk manusia ini, maka tak diragukan lagi kamu akan menjadi malaikat dan membumbung melampaui lapisan-lapisan langit tertinggi. Namun, jangan berhenti di sana, bahkan badan surgawimu itu akan tetap tumbuh tua, lampaui lagi surga itu dan melompatlah ke dalam “Samudera Kesadaran Yang Maha Luas”. Biarkan dirimu yang bagaikan setetes air itu menjelma menjadi seratus samudera. Namun, jangan berpikir bahwa hanya setetes udara karena telah menjelma menjadi samudera, sebab samudera juga telah menjelma menjadi setetes udara.
al.nafsphiloshopia 🌻
Diubah oleh alnafs 21-01-2020 10:11
0
415
3
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buku
7.8KThread•4.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya