- Beranda
- Sejarah & Xenology
Pengaruh Pandemi Covid-19 Terhadap Kehidupan Dalam Bidang Sosial-Budaya dan Ekonomi
...
TS
daffaprdtya
Pengaruh Pandemi Covid-19 Terhadap Kehidupan Dalam Bidang Sosial-Budaya dan Ekonomi
Yuval Noah Harari dalam bukunya ‘Homo Deus’ menuliskan bahwa wabah virus, atau dia katakan sebagai armada bayangan, menjadi musuh nomor dua bagi kehidupan umat manusia, setelah kemiskinan. Dan, salah satu wabah paling terkenal di awal abad belasan masehi adalah Black Death atau Maut Hitam.
Nama ‘Maut Hitam’ umumnya dianggap berasal dari gejala khas dari penyakit ini, yang disebut acral necrosis, di mana kulit penderita menjadi menghitam karena pendarahan subdermal.
Tepat pada 1330 masehi, di suatu tempat di Asia Timur atau Tengah, bakteri penumpang kutu Yersinia Pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu. Dari sana, dengan menumpang armada tikus dan kutu, wabah dengan cepat menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan bahkan Afrika Utara. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun mencapai pesisir-pesisir Samudera Atlantik.
Lebih jauh lagi, Harari mengungkapkan bahwa antara 75 juta sampai 200 juta orang dinyatakan mati. Jumlah ini lebih dari seperempat penduduk Eurasia. Di Inggris, 4 dari 10 orang mati, dan populasi menyusut secara drastis dari 3,7 juta jiwa sebelum wabah, menjadi 2,2 juta jiwa setelah wabah. Lebih mengejutkan lagi, kota Florensia, Italia, kehilangan separuh penduduknya.
Michael Walters Dols, sejarawan Amerika Serikat, dalam The Black Death in the Middle East menulis, seperti di Mesir, tanah dan harta kekayaan kota dengan cepat diasingkan. Perdagangan dan industri ikut lumpuh. Sampai-sampai Sultan Mamluk, al-Hasan mengungsi dari Kairo ke Siyaqus, wilayah pedesaan di timur laut Kairo pada September 1348. Ia menjauhi ibu kota selama tiga bulan.
Kendati demikian banyak masyarakat justru melarikan diri dari desa ke kota karena akses terhadap layanan agama, pengobatan, dan makanan lebih mencukupi. “Di mana pun epidemi itu ada, di sana ada bukti kalau wilayah pedesaan ditinggalkan,” tulis Dols.
Dalam Muqaddimah, sejarawan muslim, Ibnu Khaldun, juga menulis tentang penyakit itu:
“Yang terjangkit adalah peradaban di timur dan di barat. Penyakit destruktif itu menghancurkan bangsa-bangsa, menyebabkan punahnya populasi. Ia menelan banyak hal yang baik dari peradaban dan memusnahkannya. Peradaban berkurang dengan berkurangnya kemanusiaan. Kota dan bangunan-bangunan ditinggalkan. Jalan-jalan besar dan kecil dilenyapkan. Permukiman dan bangunan besar menjadi kosong. Wangsa-wangsa dan suku-suku etnik melemah. Seluruh hunian di dunia telah berubah.”
Sementara itu, menurut Ross E. Dunn, sejarawan San Diego State University, dalam Petualangan Ibnu Battuta, Seorang Musafir Muslim Abad 14, catatan kematian terus meningkat menjadi 2.000 orang per hari. Penduduk kalang kabut. Kegiatan kota sehari-hari terhenti.
Sebelum sampai ke telinga Ibnu Battuta, pada 1346 malapetaka itu sudah menyerang Konstantinopel, menyebar ke Venesia dan Genoa.
Di Sisilia dan Mesir, epidemi muncul hampir bersamaan, yaitu pada musim panas 1347. Tahun berikutnya, kapal-kapal pembawa maut berlayar ke arah barat melalui Laut Tengah sambil melepaskan muatan jahat di pelabuhan yang satu ke pelabuhan lainnya. Dari pelabuhan-pelabuhan, iring-iringan keledai dan karavan-karavan unta memindahkan penyakit itu lagi ke pedalaman Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah.
“Paris dan Bordeaux, Barcelona dan Valencia, Tunis dan Kairo, Damaskus dan Aleppo, juga menderita kematian besar-besaran akibat penyakit itu pada musim semi dan musim panas 1348,” catat Dunn.
Berikutnya, penyakit menular itu bergerak ke lembah delta Nil. Wabahnya menyeberang Selat Inggris ke Kepulauan Inggris. Barulah pada akhir 1350 serangan penyakit itu berhenti dengan sendirinya. Kendati begitu, Eropa mungkin telah kehilangan sepertiga dari jumlah penduduknya. Khusus di Kairo populasi sebelum ada penyakit sekitar 500.000, turun menjadi 200.000.
Maut Hitam bukanlah peristiwa tunggal, bahkan bukan wabah terburuk dalam sejarah. Masih bersumber dari keterangan Harari, dia mengungkapkan bahwa epidemi-epidemi lain yang lebih dahsyat melanda Amerika, Australia, dan Kepulauan Pasifik setelah kedatangan pertama bangsa Eropa.
Tanpa disadari oleh penjelajah dan pemukim itu sendiri, mereka membawa serta penyakit-penyakit menular baru, sedangkan penduduk asli tidak memiliki kekebalan untuk menghadapinya. Hingga 90 persen penduduk lokal meninggal sebagai akibatnya.
Pada 5 Maret 1520, satu rombongan kecil kapal-kapal Spanyol bertolak meninggalkan Pulau Kuba dalam perjalanan menuju Meksiko. Kapal-kapal itu membawa 900 tentara Spanyol bersama kuda-kuda, senjata api, dan sejumlah budak Afrika. Salah satu budak itu, Fransisco de Egula, membawa satu kargo pasukan yang jauh lebih mematikan di dalam tubuhnya.
Fransisco tidak mengetahuinya, tetapi di suatu tempat di antara triliunan sel dalam tubuhnya berdetik satu bom waktu biologis: virus cacar (smallpox). Setelah mendarat di Meksiko, virus itu mulai berbiak cepat dalam tubuhnya, akhirnya meletup keluar dari kulitnya dalam rupa ruam-ruam mengerikan.
Fransisco yang menggigil ditidurkan di rumah seorang keluarga pribumi Amerika di kota Cempoallan. Dia menulari anggota keluarga, yang kemudian menulari tetangga-tetangganya. Tak kurang dari 10 hari, Cempoallan berubah menjadi sebuah lahan kuburan. Para pengungsi menyebarkan penyakit itu dari Cempoallan ke kota-kota terdekat.
Pada September 1520, wabah virus tersebut sudah mencapai lembah Meksiko dan pada bulan Oktober memasuki gerbang-gerbang ibu kota Aztec, Tenochtitlan, sebuah kota metropolitan megah berpenduduk 250 ribu jiwa. Dalam kurun dua bulan, sepertiga penduduknya musnah, termasuk Kaisar Aztec, Cuitlahuac.
Pada Maret sebelum wabah, saat armada Spanyol tiba, penduduk Meksiko sekitar 22 juta jiwa. Pada akhir tahun yang sama, jumlah penduduknya menyisakan 14 juta jiwa yang masih hidup. Cacar barulah awal. Saat para tuan baru dari Spanyol itu sibuk memperkaya diri dan mengeksploitasi masyarakat pribumi, gelombang maut flu, kutu, dan berbagai penyakit menular lainnya menyerang Meksiko secara bergantian, hingga pada 1580, jumlah penduduknya tak sampai satu juta.
Dua abad berselang, tepatnya pada 18 Januari 1778, penjelajah Inggris bernama Kapten James Cook mencapai Kepulauan Hawaii yang berpenduduk setengah juta jiwa. Mereka hidup terisolasi sepenuhnya dari Eropa maupun Amerika, dan karena tak pernah terpapar penyakit dari Eropa maupun Amerika. Namun, Kapten James Cook dan rombongannya memperkenalkan flu pertama, tuberkulosis, dan sipilis di Hawaii.
Para pedagang Eropa berikutnya menambahkan tipus dan cacar. Pada 1853, hanya 70 ribu orang yang selamat di Hawaii.
Epidemi terus membunuh puluhan juta jiwa sampai memasuki abad ke-20. Pada Januari 1918, bala tentara di parit-parit Perancis bagian utara mulai banyak yang kehilangan nyawanya akibat satu galur flu yang sangat ganas, yang dijuluki ‘Flu Spanyol’. Ribuan orang dinyatakan mati disebabkan wabah virus tersebut.
Sejarah penyakit-penyakit mematikan sudah ada sejak zaman dahulu dan sekarang penyakit itu muncul kembali. Berikut adalah penjelasan tentang wabah covid-19.
Dalam kesempatan kali ini penulis akan menganalisa pengaruh pandemi Covid-19 terhadap kehidupan dalam bidang sosial-budaya dan ekonomi. Seperti yang kita ketahui pada saat ini wabah Covid-19 semakin meluas dan tidak dapat dikendalikan, jumlah korban akibat wabah ini pun semakin bertambah dan WHO menetapkan wabah virus corona ini menjadi Pandemi. Pada awalnya kasus pertama akibat virus ini terjadi di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Sampai saat ada lebih 376.399 total yang terinfeksi akibat virus ini dan 16.462 meninggal dunia akibat virus ini. Saat ini beberapa negara didunia sudah memberlakukan sistem “Lockdown” di negaranya. Seperti Italia, Malaysia, Jerman, Prancis, Inggris dan beberapa negara lain di Uni Eropa. Sedangkan sisanya hanya menerapkan pengawasan ketat terhadap warganya yang keluar dari rumah. Sampai saat ini Italia adalah negara dengan kasus virus corona terbanyak didunia mengalahkan China dan Korea Selatan.
Akibat dari pandemi ini, ekonomi di beberapa negara-negara besar lumpuh, seperti di Amerika Serikat saham Wall Street anjlok di titik terendah seperti yang dilansir dari Al- Jazeera “Friday, March 13, 20:34 GMT - US stocks surge; Dow Jones up 1,985 pointsWall Street roared back from its worst day in 30 years with a broad rally that sent the Dow Jones Industrial Average nearly 2,000 points higher - its biggest point gain ever - after Trump declared the coronavirus pandemic a national emergency. The Dow's gains doubled in the last half-hour of trading as Trump made his remarks, giving the index its biggest percentage gain since 2008 and capping a rally that recouped many of the losses from a day earlier.”
Dan dilansir dari beberapa media internasional lain bahwa, pada saat para pemimpin dunia bertemu dengan petinggi WHO, mereka tidak melakukan jabat tangan karena untuk menghindari makin meluasnya wabah ini. Bahkan dampak sosial-budaya akibat dari meluasnya virus ini juga berlaku di Indonesia, kita bisa melihat bahwa saat ini ada sekitar 514 orang yang terinfeksi dan kota yang paling banyak terinfeksi adalah Jakarta, sebagai kota besar Jakarta tentu menjadi pusat transit, bisnis dan ekonomi terbesar di Indonesia, bahkan Jakarta menjadi kota penyumbang pendapatan nasional terbesar yaitu sekitar 70% pendapatan nasional berasal dari Jakarta. Presiden Joko Widodo pada saat melakukan Rapat Koordinasi dengan beberapa menteri dan Gubenur Jakarta membicarakan tentang pemberlakuan Lockdown di Ibukota, tapi itu tidak dilakukan karena akan memberikan dampak yang sangat besar bagi perekonomian nasional. Dalam bidang sosial-budaya pun hampir hilang seperti salim kepada yang lebih tua, bersalaman, dll. Itu pun dampak yang sangat besar dan berarti bagi bangsa ini karena itu merupakan identitas bangsa yang menjunjung tinggi budaya timur yang ramah dan sopan.
dellesology memberi reputasi
1
670
2
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.6KThread•11.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya