- Beranda
- Berita dan Politik
Dubes Lalu Muhamad Iqbal: Turki Tak Pertanyakan Akhlak Sukarno
...
TS
designol
Dubes Lalu Muhamad Iqbal: Turki Tak Pertanyakan Akhlak Sukarno

Dalam tradisi atau prinsip diplomatik mengenal asas resiprokal (timbal balik) yang dipegang dunia internasional sejak Yunani Kuno, bahkan juga di era Kejayaan Islam. Karena itu ketika Turki menyetujui permintaan untuk mengganti nama Jalan Holland di depan gedung KBRI di Ankara menjadi Jalan Ahmet Sukarno, Indonesia pun sepatutnya mengabulkan apa yang diusulkan Turki.
Tapi sejauh ini negara itu belum secara resmi menyampaikan nama tokoh yang akan dijadikan nama jalan di Jakarta. Hanya saja bila merujuk asas resiprokal, bahwa Sukarno kategorinya Bapak Bangsa, menjadi sangat logis bila Turki mengusulkan Mustafa Kemal Pasha Ataturk.
"Tapi soal nama itu sepenuhnya ada di Turki, bukan usulan dubes, Pemprov DKI, maupun pemerintah RI," kata Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal kepada tim Blak-blakan detik.com, Selasa (19/10/2021).
Ia mengungkapkan hal itu merespons keberatan sejumlah pihak di tanah air terkait rencana menjadikan Bapak Bangsa Turki, Mustafa Kemal Pasha Ataturk menjadi nama jalan di Jakarta. Alasannya, Ataturk dicap sebagai tokoh sekular dan merugikan Islam.
Lalu Muhamad Iqbal merujuk pepatah Arab yang menyatakan bahwa manusia itu cenderung memusuhi sesuatu yang tidak diketahuinya dengan baik dan utuh. Padahal, kata alumnus Hubungan Internasional Universitas Muhamadiyah Yogyakarta itu, setiap tokoh pasti mempunyai plus-minus. Rasulullah Muhammad SAW yang terbebas dari salah dan dosa sekalipun, kata Lalu Muhamad Iqbal, ada saja pihak yang tak suka dan memberi cap negatif. Apalagi cuma seorang Sukarno dan Ataturk yang manusia biasa.
"Karena itu kami mengusulkan nama Jalan Ahmet Sukarno, Turki menyetujui tanpa mempertanyakan ahlak dan keislamannya," kata Lalu Muhamad Iqbal.
Soal kebijakan Ataturk menjadikan Masjid Hagia Sophia sebagai museum, kata Lalu Muhamad Iqbal, hal itu harus dilihat dari konteks sosiologis dan psikologi politik yang terjadi kala itu. Sebagai negara kalah perang, kata dia, Ataturk harus menghindarkan bangsa dan rakyatnya dari ancaman penjajahan kembali oleh negara-negara Barat. "Dia terpaksa sedikit mengentertaint Barat, toh yang penting Turki bisa kembali berdaulat," ujarnya.
Ketika negeri itu sudah merasa kuat seperti sekarang ini, Presiden Recep Tayyip Erdogan kemudian mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid. Hal itu dilakukan tanpa mencela atau menjelekkan kebijakan pendahulunya. Bagi rakyat Turki, sejarah adalah sejarah. Yang baik dilanjutkan, yang kurang baik diperbaiki.
"Partai AK pimpinan Presiden Erdogan yang cenderung Islam konservatif pun tak pernah mencela kebijakan yang dibuat pemimpin terdahulu (Ataturk)," ujar mantan Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri itu.
Sikap sekularisme yang dikembangkan Ataturk, dia melanjutkan, harus dilihat dari konteks atau latar belakang pribadinya sejak lahir. Kala itu Kesultanan Turki sudah merosot dan mengalami dekadensi moral. Islam hanya sebagai simbol, sedangkan sikap dan perilaku sultan jauh dari nilai-nilai Islam. Ataturk juga punya pengalaman buruk saat belajar di sekolah Islam, sehingga dia hijrah ke sekolah umum yang sekular.
Akhlak
Bapak proklamator dan penggagas NEFO memang tidak perlu ada yang dipertanyakan
Diubah oleh designol 20-10-2021 10:21
pakisal212 memberi reputasi
1
1.3K
16
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.1KThread•58.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya