cattleyaonly
TS
cattleyaonly
FORUM KUTUKAN
By Cattleya

Prolog

Sekumpulan mahasiswa yang menyukai misteri berusaha menguak satu kejadian penuh teka-teki dari seorang penelepon. Namun, dalam pemecahan misteri tersebut, mereka mendapatkan teror yang mengerikan.

Kini, mereka harus memburu si pelaku teror atau mereka yang akan menjadi buruan.




Part 1

Dee melangkah memasuki rumah minimalis bergaya Eropa. Langkahnya cukup lambat hingga dia bisa melihat detail ruang tamu rumah itu. Hanya berisi sepasang sofa, beberapa lukisan wanita blasteran di dinding dan satu rak buku yang terlihat sudah penuh sesak.

Dee berhenti sejenak, memandang lukisan wanita tua dengan hidung dan wajah khas orang barat. Wanita dalam lukisan itu biasa dipanggil oleh teman-temannya di komunitas sebagai Madam Abigail, pemilik rumah yang dihibahkan kepada para mahasiswa yang sangat menyukai cerita misteri.

Telah beberapa misteri berhasil dipecahkan oleh komunitas yang entah namanya apa, Dee sendiri tidak tahu. Gadis sembilan belas tahun itu diceburkan dalam komunitas itu oleh teman sejurusannya, Bara.

Dee melanjutkan langkahnya, menuju ruang tengah, tempat biasa mereka berkumpul. Di sana ada Alexa dan Ryan, anak jurusan sastra Inggris yang dari gerak-geriknya terlihat sebagai pasangan kekasih. Di sudut ruangan dekat proyektor duduk Ganes, mahasiswa jurusan tekhnik sipil yang asyik dengan ponselnya.

Dee duduk di salah satu kursi yang cukup berjarak dengan para mahasiswa yang sudah hadir. Gadis itu menyibukkan diri dengan aplikasi WA di ponselnya.

[Dear, kamu di mana?] Sebuah pesan WA dari Intan, sahabatnya sejurusan yang bertubuh gempal akibat kesukaannya pada makanan-makanan manis. Dee tak segera membalasnya.

Pesan Intan masuk lagi. [Dee. Woiii. Lu masih hidup kagak?]

[Gue udah mati!] Dengan gemas Dee menjawab pesan Intan.

[Mati kok bisa ngirim WA?]

[Ish, lu itu ya.]

[Udah, jangan ganggu gue!] Dee mematiķan konektifitas data HP-nya. Dia sedang tidak mau diganggu oleh siapapun.

Kebiasaan Intan adalah minta ditemani Dee jajan. Kadang Dee heran juga, kenapa tidak ada kesadaran anak itu untuk sedikit saja mengendalikan nafsu makannya.

Dee berdecak pelan. Kini dia membaca sebuah buku bersampul tebal yang berisi kasus-kasus yang sudah dipecahkan komunitas ini. Keningnya kadang terlihat berkerut.

Alexa dan Ryan melangkah menuju ruang dalam rumah. Di sana ada dua buah kamar. Yang satu kamar Miss Laura, ketua komunitas itu, yang katanya masih ada hubungan darah dengan Madam Abigail. Kamar satunya lagi biasa dipakai siapa saja yang menginap di sana. Tapi pada kenyataannya kamar itu lebih sering dipakai buat mojok, seperti yang dilakukan Alexa dan Ryan.

“Aku mau ke kamar mandi dulu,” kata Alexa.

“Mau ditemenin?”

“Gak usah!”

Alexa melangkah ke bagian belakang rumah. Ada dua kamar mandi berjajar. Dindingnya dihiasi kaca bermotif bunga tulip yang berwarna-warni.

Sementara di dalam kamar, Ryan menyalakan televisi. Hampir semua salurannya rusak. Mungkin antenanya tidak terpasang dengan baik. Namun ada satu saluran yang menayangkan film horor. Seorang wanita tua hendak mendorong remaja pria ke dalam sebuah sumur. Ketika wajah remaja itu di-zoom, Ryan tersentak. Wajah itu mirip dirinya. Dadanya berdebar kencang. Keringat dinginnya meluncur deras dari kening dan menetes di punggung tangan. Cowok itu terkesiap ketika wanita tua dalam televisi itu menyeringai kepadanya dan mendorong tubuh remaja dalam televisi itu ke dalam sumur tua. Ryan terkejut hingga dia tersedak ludahnya sendiri.

Pada saat itu Alexa masuk kamar. Gadis itu heran memandang wajah pacarnya yang pucat pasi. “Ada apa?” tanyanya.

“Itu, film horor.” Ryan menunjuk televisi.

“Oh. Kukira apa. Jangan bilang kamu takut film horor, Beib?” Alexa tertawa. Bagaimana mungkin pacarnya yang terbiasa dengan urusan yang horor itu takut dengan sebuah film horor di televisi?

“Pemerannya mirip aku!” seru Ryan dengan wajah yang tegang.

“O, ya?” Alexa duduk di tepian tempat tidur, menghadap televisi yang menyala. “Mana?”

“Tokohnya sudah diceburkan ke sumur.”

Layar televisi menayangkan ‘running text’ nama para pemain dan kru film yang menandakan film itu selesai.

“Aku tidak beruntung,” Alexa bergumam.

“Syukurlah sudah habis filmnya,” kata Ryan sambil menarik tangan Alexa, sehingga badan gadis itu terjatuh di pangkuannya. “Kita ganti filmnya dengan film romantis. Pemerannya kita.” Ryan tersenyum nakal.

“Siapa takut?” Alexa tersenyum genit. Membuat cowok dua puluh tahun itu bergairah.

***

Dee tersenyum kepada Bara yang baru saja memasuki ruangan diskusi. Forum yang biasa diadakan seminggu sekali, tiap hari Sabtu malam. Namun, bisa berubah baik frekwensi atau harinya sesuai kebutuhan.

Adakah keuntungan yang didapat dari aktifitas itu? Sejujurnya tidak. Tapi Dee yang berparas manis itu merasa, berkumpul dengan teman-teman di komunitas itu membuatnya bergairah. Tentu saja itu akan berpengaruh pada semangatnya belajar. Toh, menuntut ilmu adalah tujuan utamanya datang di kota itu.

Sejurus kemudian mulai berdatangan anggota yang lain. Mereka segera mengambil tempat masing-masing sambil menunggu Miss Laura yang akan memimpin forum kali ini. Namun tiba-tiba, terdengar suara teriakan histeris dari dalam kamar. Spontan semua orang bergegas mendekati sumber suara. Mereka menemukan Alexa terduduk di lantai. Gadis itu tampak syok, menangis dengan memeluk kaki. Sementara Ryan terkapar di tempat tidur dalam keadaan tak bernyawa. Ada yang lain dari mayat Ryan, tubuhnya terlihat menyusut, bahkan wajahnya terlihat berkerut seperti orang tua.

“Ada apa?” Terdengar suara Miss Laura dari belakang kerumunan.

Semua menoleh ke belakang. Memandang Miss Laura yang tampaknya baru saja datang.

“Ryan meninggal,” jawab Bara.

“Kenapa bisa meninggal?”

“Miss, lihat sendiri keadaan Ryan.” Kata Bara sambil memberi jalan kepada Miss Laura untuk masuk kamar.

Miss Laura memandang jasad Ryan dengan wajah berkerut. “Tolong semua tenang,” kata Miss Laura kepada semua anggota komunitas. Wajahnya berkerut. “Dee, tolong bawa Alexa keluar.”

Dee beringsut membelah kerumunan. Gadis itu memegang lengan Alexa dan membantunya berdiri. Jiwa Alexa sepertinya terguncang hebat. Dee membawanya ke ruang tamu dan mengambilkan segelas air untuknya.

“Alexa, tenanglah.” Dee memeluk pundak Alexa. Gadis yang dipeluk hanya menatap kosong ke depan dengan air mata bercucuran. Alexa seperti tak mendengar apa-apa yang dikatakan Dee.

“Alexa, Alexa!” Dee menepuk-nepuk pipi gadis itu.

Setelah beberapa tepukan, gadis itu tersentak, kemudian menangis lebih keras di pundak Dee. Dee membiarkan Alexa puas menangis. Meski dia tidak begitu delat dengan Alexa dan Ryan, tapi gadis itu turut prihatin dengan musibah ini. Apakah yang sesungguhnya terjadi? Ada kengerian yang menjalar dalam tubuh Dee, tapi tak membuat gadis itu menjadi seorang pengecut. Meskipun perawakannya kecil, tapi gadis itu bernyali tinggi dan dia pemegang sabuk hitam karate.

“Alexa, boleh kupinjam ponselmu? Aku akan menghubungi papa dan mamamu supaya mereka bisa menjemput ke sini,” kata Dee ketika Alexa sudah terlihat sedikit tenang.

Alexa memberikan ponselnya. Dee segera mencari kontak yang dinamai papa atau mama. Begitu ketemu, Dee langsung menekan ikon telepon. Gadis itu segera mengabarkan keadaan Alexa kepada orang tuanya. Di telepon, orang tua Alexa terdengar gusar. Mereka tak menyangka teman dekat anaknya meninggal secepat itu. Seandainya mereka tahu bagaimana keadaan Ryan, pasti mereka akan lebih cemas lagi.

Bersambung



archana24bukhoriganmeydiariandi
meydiariandi dan 45 lainnya memberi reputasi
46
9.7K
87
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Yuk bergabung agar dapat lebih banyak informasi yang dibagikan di Komunitas Stories from the Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
icon
31.2KThread40KAnggota
Terlama
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.