TS
infobudaya
MASYARAKAT BUGIS DALAM KONSEPSI KEBUDAYAAN NASIONAL
Sikap penonjolan emosional dalam setiap permasalahan yang muncul di tengah masyarakat terkadang menampilkan sikap dan perilaku dari semangat budaya lokalitas. Identitas dari setiap budaya lokal masing- masing meiliki ciri-ciri tersendiri, sebagai mana pada masyarakat bugis pada umumnya dan bugis Bone pada khususnya. Misalnya dikenal sebagai pemberani (Awaraningeng) juga dikenal atas sikapnya yang teguh dan konsisten dalam memegang nilai-nilai Ade (Prinsip-prinsip) kemanusiaan.
1. Nilai Ade’
Artinya secara sekilas bahwa mereka tidak berbuat keburukan bukan karena mereka tidak berkeinginan tapi karena semua telah digariskan oleh Ade’ (Adat Istiadat)
2. Nilai Bicara
Artinya bahwa mereka meyakini sebuah perkataan tidak berbeda meyakini tulisan pena didalam kertas dalam sebuah surat perjanjian atau semacamnya
3. Nilai Wari
Artinya nilai Integritas personal masyarakat Bersifat Kontinuitas (berkesinambungan) Atas sifat-sifat Ade’
4. Nilai Rappang
Artinya setiap perilaku apakah itu bersifat baru atau tidak tempat perkiasannya pada peristiwa yang telah lalu
5. Sara Atau Syariat
Ade’ atau Adat sebagai konsep kunci kebudayaan bugis bone dalam nilai utamanya meliputi :
1. Ada Tongeng ( Perkataan yang benar)
2. Lempu (Kejujuran)
3. Getteng (keteguhan)
4. Sipakalebbi (Hormat menghormati)
5. Mappesona (Berserah diri kepada Allah)
Dalam sosiohistoris masyarakat suku Bugis Bone, Sipakatau Merupakan Buadaya yang tertinggi didalam kebudayaannya. Oleh sebagian peneliti diantaranya mattulada menyebutkan demikian istilah Siri’ dalam kajiannya, kekhasan tadi mengilhami ketertarikan penulis untuk mengkaji lebih mendalam tentang Sipakatau Bugis Bone. Merujuk istilah Mattulada akan Assipakatauan dengan pengistilaan beliau yaitu Pangadereng, Beliau mengatakan “Siri” itu tidak lain adalah martabat dan harga diri manusia orang-orang bugis.
Kajian yang sama juga dilakukan A. Rahman Rahim, ia mengemukakan beberapa nilai-nilai utama Bugis diantaranya yaitu : Siri’ (Malu), Awaraningeng (Keberanian), dan Agettengeng (Kekonsistenan). Namun sebagian Mattulada di atas tadi, dalam konteks Bugis seacara Universal dan masih banyak karya lainnya.Ketika orang Bugis Bone menetapkan budaya Sipakatau sebagai budaya tertinggi bagi mereka dan mereka telah memperlihatkan kecendrungannya. Nilai- nilai yang tetap dipegang dari masa ke masa, dipertahankan dengan segala harga oleh masyarakatnya, maka itulah Ada tongeng (perkataan yang benar), Lempu (kejujuran), Getteng (Konsisten), Sipakalebbi (Hormat Menghormati) , dan Sara (agama Allah Swt).
1. Nilai Ade’
Artinya secara sekilas bahwa mereka tidak berbuat keburukan bukan karena mereka tidak berkeinginan tapi karena semua telah digariskan oleh Ade’ (Adat Istiadat)
2. Nilai Bicara
Artinya bahwa mereka meyakini sebuah perkataan tidak berbeda meyakini tulisan pena didalam kertas dalam sebuah surat perjanjian atau semacamnya
3. Nilai Wari
Artinya nilai Integritas personal masyarakat Bersifat Kontinuitas (berkesinambungan) Atas sifat-sifat Ade’
4. Nilai Rappang
Artinya setiap perilaku apakah itu bersifat baru atau tidak tempat perkiasannya pada peristiwa yang telah lalu
5. Sara Atau Syariat
Ade’ atau Adat sebagai konsep kunci kebudayaan bugis bone dalam nilai utamanya meliputi :
1. Ada Tongeng ( Perkataan yang benar)
2. Lempu (Kejujuran)
3. Getteng (keteguhan)
4. Sipakalebbi (Hormat menghormati)
5. Mappesona (Berserah diri kepada Allah)
Dalam sosiohistoris masyarakat suku Bugis Bone, Sipakatau Merupakan Buadaya yang tertinggi didalam kebudayaannya. Oleh sebagian peneliti diantaranya mattulada menyebutkan demikian istilah Siri’ dalam kajiannya, kekhasan tadi mengilhami ketertarikan penulis untuk mengkaji lebih mendalam tentang Sipakatau Bugis Bone. Merujuk istilah Mattulada akan Assipakatauan dengan pengistilaan beliau yaitu Pangadereng, Beliau mengatakan “Siri” itu tidak lain adalah martabat dan harga diri manusia orang-orang bugis.
Kajian yang sama juga dilakukan A. Rahman Rahim, ia mengemukakan beberapa nilai-nilai utama Bugis diantaranya yaitu : Siri’ (Malu), Awaraningeng (Keberanian), dan Agettengeng (Kekonsistenan). Namun sebagian Mattulada di atas tadi, dalam konteks Bugis seacara Universal dan masih banyak karya lainnya.Ketika orang Bugis Bone menetapkan budaya Sipakatau sebagai budaya tertinggi bagi mereka dan mereka telah memperlihatkan kecendrungannya. Nilai- nilai yang tetap dipegang dari masa ke masa, dipertahankan dengan segala harga oleh masyarakatnya, maka itulah Ada tongeng (perkataan yang benar), Lempu (kejujuran), Getteng (Konsisten), Sipakalebbi (Hormat Menghormati) , dan Sara (agama Allah Swt).
om2julid memberi reputasi
1
3.7K
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
2.5KThread•1.6KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya