Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
16
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60d79c3496f7157a141d9bbf/tuan-muda
Tuan Muda Part1 "Hari ini ulang tahun pernikahan Kakek dan Nenek, ayo persiapkan diri, kita ke rumah mereka!" ucap Esmeralda, kepada suaminya, Jeremy Mose. "Apa? Kamu berniat membawa pecundang ini? Kamu gila? Bukankah karena dia, kita terusir dari istana itu." Amelia, Ibu Esmeralda menyela pembicaraan anak dan menantunya. Baginya, memiliki menantu pecundang semacam Jeremy, adal
Lapor Hansip
27-06-2021 04:29

Tuan Muda

Tuan Muda
Part1

"Hari ini ulang tahun pernikahan Kakek dan Nenek, ayo persiapkan diri, kita ke rumah mereka!" ucap Esmeralda, kepada suaminya, Jeremy Mose.

"Apa? Kamu berniat membawa pecundang ini? Kamu gila? Bukankah karena dia, kita terusir dari istana itu."

Amelia, Ibu Esmeralda menyela pembicaraan anak dan menantunya. Baginya, memiliki menantu pecundang semacam Jeremy, adalah mimpi buruk bagi keluarganya.

Mereka bahkan terusir, ketika Neneknya, meminta Esmeralda, bercerai dengan Jeremy.
Namun sayangnya, permintaan itu di tolak mentah oleh Esmeralda.

Bagi Esmeralda, Jeremy segalanya. Tanpa lelaki yang dianggap pecundang itu, mungkin Esmeralda tidak akan selamat hingga saat ini.

"Momi, please, jangan menghina Jeremy. Biar bagaimanapun, dia suami Esmeralda, juga menantu Momi dan Papi."

"Momi benci pecundang sialan ini. Buka mata mu lebar-lebar, Esmeralda Tones. Sampai kapan? Kamu akan mempertahankan dia," tunjuk wanita itu dengan sengit.

"Seumur hidup! Momi, dia lelakiku, tidak ada seorang pun, yang bisa memisahkan kami."

Amelia mendelik kesal, namun ia masih berusaha menahan diri.

Memang suatu keberuntungan bagi Jeremy, bisa menikahi Esmeralda, wanita yang terkena cantik, di keluarga Tones.

Bukan hanya cantik, ia juga lembut dan begitu baik. Mereka bertiga, tiba di rumah mewah dan megah, keluarga Tones.

Keluarga Tones, merupakan orang kaya nomor tiga, di kota Monarki. Kota yang terkenal banyak orang kayanya, meskipun masih kalah, di banding kota Yozong.

Kota Yozong, merupakan kota nomor satu, kota Elit, dengan segudang penduduk yang rata-rata kaya, jauh dari garis kemiskinan.

Saat memasuki pintu masuk, mereka di sambut dengan cibiran dari beberapa kerabatnya.

"Wow, lihat siapa yang datang! Si pecundang Jeremy, bersama keluarganya," ucap Khan, saudara sepupu dari Esmeralda.

"Jaga bicaramu! Khan." Esmeralda mulai terlihat kesal, dengan ejekan yang di terima suaminya.

"Untuk apa dia kemari? Saya tidak mengundangnya!" Nenek Rose, menimpali ocehan mereka.

Semua mata tertuju kepada mereka bertiga. Wajah Amelia mendadak menjadi udang rebus.

"Nikmatilah pestanya sayang! Aku akan menunggumu, di luar."

Esmeralda menghentikan langkah Jeremy.

Jeremy menoleh sesaat, ke wajah istrinya itu.
"Ada apa?" ia bertanya dengan wajah santai, meskipun hatinya sangat marah.

Penghinaan ini, akan kuingat seumur hidup. Kupastikan, kelak kalian akan berlutut di hadapanku.
Batin Jeremy berseloroh, ia menatap datar wajah istrinya, kemudian mengulas senyum.

"Ayolah sayang! Pesta ini akan mendadak suram, jika aku terus di sini," bujuk Jeremy, kepada Esmeralda, yang terlihat tidak nyaman, dengan hinaan para keluarganya kepada Jeremy.

"Aku ikut denganmu!" kata Esme.

"Esme .... Kamu apa-apaan? Jangan membuat mereka semakin marah! Kita akan terbuang, hanya gara-gara pecundang sialan ini," ucap Amelia, yang juga menahan malu, serta kesal pada anak perempuannya.

"Mereka selalu saja menilai seseorang terlalu hina! Padahal, kami tidak pernah menadahkan tangan kepada mereka."

"Makanya, jangan menikahi laki-laki pecundang ini lebih lama lagi, Momi muak"

Esmeralda hanya terdiam, namun ia sedikit terkejut, melihat Jeremy yang sudah menghilang dari tempatnya berdiri tadi.

Ia pun dengan terpaksa, menikmati pesta, yang hanya membuatnya merasa sakit hati dan terhina.

Sementara di luar istana keluarga Tones, Jeremy berjalan dengan gontai, ia melangkahkan kaki dengan kesal, membayangkan hinaan kejam, keluarga istrinya.

Sebuah mobil BMW i8 melaju, kemudian menepikan mobilnya ke bahu jalan. Langkah Jeremy terhenti, ketika sang pemilik mobil BMW keluar.

Lelaki yang berpakaian serba hitam, berjalan ke arahnya. Disusul, lelaki yang mengenakan pakaian yang sama, namun memiliki topi.

"Tuan Muda." Lelaki itu membuka topi, kemudian memberikan hormat kepada Jeremy.

"Don't Le. Apa yang kamu lakukan di kota ini?" tanya Jeremy. "Apakah kamu berniat, melenyapkan keluargaku lagi."

"Tuan Muda, jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Saya kesini, hanya untuk membawa Tuan, untuk menghadap Kakek."

"Aku tidak berminat, bukankah dia telah membuang kami," sahut Jeremy.

"Kakek Anda, Jhon Mose, sudah memberikan Giant Company, sebagai bentuk permintaan maaf. Juga, memberikan akses kartu debit, serta kredit. Yang memiliki saldo, satu triliun."

Jeremy sedikit tercengang, namun, semua ini juga merupakan hak-nya. Dengan fasilitas yang ia terima, ia akan memiliki kesempatan, untuk membungkam mulut keluarga Istrinya, yang begitu angkuh dan sombong.

"Apakah Gian company perusahaan besar?" tanyaku bingung.

"Tentu saja! Giant Company, merupakan perusahaan nomor satu, di kota Monarki."

"Dan itu milikku?" tanya Jeremy, memastikan.

"Betul, Tuan muda.

Jeremy tertawa menyeringai, membayangkan, akan membungkam mulut jahat, saudara istrinya itu.

"Baiklah, serahkan semuanya kepadaku."

Lelaki itu pun, akhirnya memberikan itu kepada Jeremy.

"Surat-surat kepemilikan, nanti akan di bicarakan dengan Debara, yang merupakan wakil direktur, di perusahaan tersebut."

"Terimakasih, aku akan menghubungi nanti, jika perlu."

Lelaki itu pun mengangguk, kemudian berjalan, menuju mobilnya.

'Tunggulah Esmeralda, aku akan mengangkat derajat kita' Jeremy membatin.









Quote:Original Posted By riasardani
Tuan Muda
Part2

Pria yang memakai baju hitam, mengenakan topi itu menuju mobilnya, kemudian kembali lagi mendekati Jeremy.

"Maafkan kesalah pahaman selama ini, Kakek Anda Tuan Jhon juga memberikan sebuah apartemen mewah, yang berada di puncak Monarki. Ini kuncinya," unjuk lelaki itu, sambil menyerahkan kunci apartemen milik Jeremy.

"Didalam apartemen, sudah tersedia mobil BMW seri terbaru, yang limited edition, juga beberapa pelayan, yang mengurusi apartemen itu, apapun yang Tuan Muda perlukan, saya siap!" ucapnya.

"Ini bukan suap? Aku tidak berminat kembali ke kota Yuzong saat ini, terlalu banyak kenangan pahit, yang keluarga kakek lakukan."

"Tidak Tuan, semua bukan suap, ini murni untuk Anda! Sebagai permintaan maaf keluarga Mose, yang telah menyia-nyiakan anda sekeluarga."

"Aku akan menerima semua ini, tapi ingat! Rahasiakan identitasku. Kamu bertanggung jawab penuh atas ini," ucap Jeremy.

'Aku ingin melihat wajah-wajah sombong itu, tumbang satu persatu.' batin Jeremy berseloroh.

"Tenang saja Tuanku, semua mudah bagi saya!" jawab lelaki itu sambil membungkuk.

"Baiklah, silahkan kalian pergi Roman, saya tidak mau, ada yang mengenali kalian," ucap Jeremy.

"Baik, Tuan Muda." Roman menatap anak buahnya. "Mari kita pergi," ucapnya. Kemudian mereka semua kembali masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju, meninggalkan Jeremy.

'Aku akan membahagiakanmu Esmeralda, kamu, kita dan keluarga, tidak akan mendapatkan hinaan lagi.'
Sepanjang menunggu pesta berakhir, Jeremy sibuk memainkan gawainya, sambil menggali informasi, tentang Perusahaannya.

Ya, Perusahaan, yang hari ini resmi menjadi miliknya. Keluarga Mose, merupakan keluarga terkaya, nomor satu di kota Yuzong.
Jangankan untuk membeli Giant Company Group. Bahkan untuk membeli kota Monarki saja, keluarga Mose mampu lakukan.

Mengingat masa lalu silam, entah bagaimana, keluarga Jeremy bisa di tendang keluar dari megahnya istana keluarga Mose.

Mengingat hal itu, tentu saja membuat Jeremy mendendam, namun ia saat itu, tidak begitu mengerti, mengapa ia dan keluarganya bisa terusir.
Yang hanya ia tau, keluarga Mose termasuk keluarga yang serakah akan kekuasaan.
Terutama Alberto Mose, yang merupakan Pamannya, lelaki itu terkenal berkuasa dan kejam di kota Yuzong.

Ia bahkan tidak segan-segan, menghancurkan bisnis kecil, milik warga Yuzong, yang dianggap mengganggu kelancaran bisnis keluarganya.

Sementara di dalam istana Tones, Nenek Rose Tones dan Kakek Mike Tones, sedang asik merayakan kebahagiaan mereka.

Anak, menantu, serta cucu-cucunya, dengan bahagia, memberikan hadiah mewah untuk kedua pasangan tua itu.

Khan Tones, cucu dari pasangan Maghdalena Tones dan Jose Bar, ia memberikan sebuah tiket berlayar, kapal pesiar termewah, yang ada di kota Barca, kota yang terkenal pariwisata dan keindahan alamnya.

Albert Tones, cucu dari pasangan Louis Tones dan Marda Jen, ia memberikan sebuah kalung giok berlapis berlian, yang harganya sangat funtastic.

Sedangkan Esmeralda, ia yang merupakan pasangan dari Amelia Tones dan James Wade itu, hanya mampu memberikan sebuah cincin emas dua puluh empat karat. Ia pun mendapat cibiran.

"Emas dua puluh empat karat? Apakah kamu semiskin itu? Hingga memberiku benda murahan ini," teriak Nenek Rose, emosi.

"Benar-benar memalukan, aku kalau jadi Ibunya, tentu tidak memiliki wajah lagi di keluarga ini," ucap Maghdalena Tones.

"Iya, bagaimana mungkin, istri seorang pecundang ini, bisa memberikan hadiah mewah. Mereka terlalu senang hidup susah!" sahut Marda Jen.

"Maafkan Esme, hanya itu yang bisa Esmeralda berikan, kuharap Nenek menyukainya."

Nenek Rose melemparkan cincin itu, tepat ke wajah Esmeralda.
"Cih ..., Suka katamu! Aku jijik, jika harus menerima, barang murahan seperti itu," bentaknya.

Semua yang menyaksikan, tertawa, sekaligus mencibir Esmeralda.

Amelia, Ibu dari Esmeralda pun terisak, melihat putri kesayangannya, di permalukan keluarganya sendiri, dengan begitu kasar.

Hatinya semakin marah dan membenci, ketika mengingat sosok Jeremy, yang menjadi biang dari segala masalahnya.

Jeremy yang menyaksikan semua itu, hanya bisa mengepalkan tangannya, dan bersumpah. Akan membuat keluarga Tones hancur, dan jatuh dalam kemiskinan.

Namun sebelum itu, ia ingin menyaksikan, para keluarga Tones, yang mempermalukan istrinya saat ini, berlutut di depan Esmeralda.

"Pulanglah, kamu sama saja dengan pecundang menjijikkan itu," bentak Nenek Rose.

Wajah Esmeralda semakin berair, hatinya terasa sangat sakit luar biasa.

"Ibu benar-benar keterlaluan! Biar bagaimanapun juga! Esmeralda masih cucu kalian, anakku!" teriak Amelia.

"Aku tidak perduli, untuk apa mengakui cucu, pada wanita yang tidak bisa di atur!" sahut Nenek Rose. Dingin.

"Bersukurlah kalian, Nenek masih mengasihani, memberi tempat untuk kalian tinggal. Dan, memberikan pekerjaan untuk Esmeralda, menghidupi lelaki pecundang itu."

Ya, Esmeralda menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak terusir dari istana Tones. Esmeralda sekeluarga, menempati gubuk tua keluarga Tones.

Mendengar hinaan demi hinaan, akhirnya Esmeralda memutuskan untuk membawa ibunya pulang.

Jeremy yang melihat Esmeralda menuju keluar dari acara itu. Ia pun langsung berlari kecil, menunggu mereka di muara pagar raksasa.

Wajah Amelia semakin terlihat sangar di mata Jeremy, seakan ia ingin menelan hidup-hidup.

"Gara-gara pecundang sialan ini, keluargaku menjadi miskin dan selalu menuai hinaan."

Amelia berteriak histeris.

"Sudahlah, Bu. Memang mereka saja, yang selalu ingin mengatur hidup orang lain," ucap Esmeralda. Hatinya selalu tidak terima, jika ada yang menghina suaminy, termasuk keluarga dan ibunya sendiri.

"Dasar bodoh! Kamu teramat buta, hidup kita hancur, semenjak kamu memutuskan menikahi lelaki tidak jelas ini," bentak Amelia.

Esmeralda memilih untuk tidak menyahut. Ia meraih lengan suaminya, dan menatapnya lekat.

"Ayo kita pulang." Kata-kata itu ia katakan, dan Jeremy pun tersenyum.

Jeremy sudah terlalu kebal, dengan berbagai macam hinaan, yang keluar dari mulut semua orang yang tidak menyukainya.
_______
Dengan motor maticnya, Jeremy melaju, menuju Giant Company Group.
Jeremy memarkirkan motornya, dan berjalan santai menuju gedung.

"Hei pecundang! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Khan, sepupu Esmeralda.

Jeremy yang baru saja memasuki gedung, hanya menatapnya sesaat, kemudian melangkahkan kakinya kembali, menuju lift.

Merasa di abaikan, Khan Tones pun berlari, ia datang bersama kekasihnya. Morena Volta.
Morena Volta, berasal dari keluarga Volta, keluarga terkaya nomor dua di Kota Monarki.

"Hentikan langkahmu, bajingan!" bentak Khan Tones, seraya menarik kasar bahu Jeremy.

Jeremy mendesah, kemudian menatap kesal ke arah Khan Tones.

"Apa aku mengganggumu?" tanya Jeremy, dingin.

Sebenarnya, ia tidak ingin menciptakan keributan, namun sepertinya, Khan Tones begitu terlihat bersemangat mengganggunya.

"Tentu saja! Kamu seperti kotoran di mataku! Aku tidak suka melihatmu, kamu tentu tau hal itu. Melihat kamu disini, aku menjadi penasaran, apakah datang kemari, untuk mengemis?" kata Khan Tones, meremehkan.

Morena Volta, ia terkekeh, mendengar ucapan kekasihnya itu, lucu baginya.

"Bukan urusanmu, kamu sendiri, ngapain kesini?" tanya Jeremy. Ia mulai tertarik, ketika melihat sebuah map, yang di pegang oleh Khan Tones.

"Tentu saja untuk urusan bisnis, bukan untuk mengemis sepertimu."

Lagi-lagi, Khan Tones begitu percaya diri, bisa menjalin kerja sama, dengan Giant Company Group, setelah menghina kasar pemiliknya.

Tanpa ia sadari, ia telah menghilangkan kesempatan baik.

"Oh ya! Pulanglah, aku jamin, kamu tidak akan berhasil," kata Jeremy.

"Brengsek! Apa yang kamu katakan? Kamu meremehkan kemampuanku? Hah?" bentak Khan Tones, yang mulai tersulut emosi.

"Tidak usah berteriak, kamu bisa merusak reputasi keluarga Tones di kantor ini, bersikap lah lebih manis," ucap Jeremy. Ia pun melangkah kembali, meninggalkan Khan Tones yang masih emosi.

Khan Tones berusaha menahan diri, sebab, apa ia di katakan Jeremy memang benar adanya. Ia harus bersikap baik di kantor ini, jika tidak, ia akan merusak nama baik keluarga besar Tones.

Khan Tones dan Moren Volta, mereka menunggu di ruang tamu. Sedangkan Jeremy, ia sudah di bawa salah satu staff kantor, untuk langsung masuk, ke ruangan Debara.

"Selamat datang Tuan Mose, senang bertemu Anda!" ucap Debara, lembut. Wanita cantik, anggun dan berwibawa itu pun tersenyum dengan ramah.

"Kamu membuat janji? Dengan keluarga Tones?" tanya Jeremy, langsung.

"Ya, Tuan Mose, apakah ada masalah?" tanya Debara, lembut.

"Suruh mereka pulang, dan jangan terima kerja sama apapun, dari keluarga itu. Kecuali, aku yang memintamu!"

"Baik, Tuan, saya akan laksanakan!" jawab Debara, tanpa banyak bertanya.

Lelaki sombong itu, ia akan pulang dengan kekecewaan.



Diubah oleh riasardani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Masuk untuk memberikan balasan
Tuan Muda
28-06-2021 22:54
nice, lanjut.
0 0
0
Tuan Muda
28-06-2021 22:55
Mau daftar kaskus kreator, caranya gimana ya, bantu kasih tau dong. Aku nggak paham soalnya
0 0
0
Tuan Muda
28-06-2021 23:01

Ditolak

Tuan Muda
Part2

Pria yang memakai baju hitam, mengenakan topi itu menuju mobilnya, kemudian kembali lagi mendekati Jeremy.

"Maafkan kesalah pahaman selama ini, Kakek Anda Tuan Jhon juga memberikan sebuah apartemen mewah, yang berada di puncak Monarki. Ini kuncinya," unjuk lelaki itu, sambil menyerahkan kunci apartemen milik Jeremy.

"Didalam apartemen, sudah tersedia mobil BMW seri terbaru, yang limited edition, juga beberapa pelayan, yang mengurusi apartemen itu, apapun yang Tuan Muda perlukan, saya siap!" ucapnya.

"Ini bukan suap? Aku tidak berminat kembali ke kota Yuzong saat ini, terlalu banyak kenangan pahit, yang keluarga kakek lakukan."

"Tidak Tuan, semua bukan suap, ini murni untuk Anda! Sebagai permintaan maaf keluarga Mose, yang telah menyia-nyiakan anda sekeluarga."

"Aku akan menerima semua ini, tapi ingat! Rahasiakan identitasku. Kamu bertanggung jawab penuh atas ini," ucap Jeremy.

'Aku ingin melihat wajah-wajah sombong itu, tumbang satu persatu.' batin Jeremy berseloroh.

"Tenang saja Tuanku, semua mudah bagi saya!" jawab lelaki itu sambil membungkuk.

"Baiklah, silahkan kalian pergi Roman, saya tidak mau, ada yang mengenali kalian," ucap Jeremy.

"Baik, Tuan Muda." Roman menatap anak buahnya. "Mari kita pergi," ucapnya. Kemudian mereka semua kembali masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju, meninggalkan Jeremy.

'Aku akan membahagiakanmu Esmeralda, kamu, kita dan keluarga, tidak akan mendapatkan hinaan lagi.'
Sepanjang menunggu pesta berakhir, Jeremy sibuk memainkan gawainya, sambil menggali informasi, tentang Perusahaannya.

Ya, Perusahaan, yang hari ini resmi menjadi miliknya. Keluarga Mose, merupakan keluarga terkaya, nomor satu di kota Yuzong.
Jangankan untuk membeli Giant Company Group. Bahkan untuk membeli kota Monarki saja, keluarga Mose mampu lakukan.

Mengingat masa lalu silam, entah bagaimana, keluarga Jeremy bisa di tendang keluar dari megahnya istana keluarga Mose.

Mengingat hal itu, tentu saja membuat Jeremy mendendam, namun ia saat itu, tidak begitu mengerti, mengapa ia dan keluarganya bisa terusir.
Yang hanya ia tau, keluarga Mose termasuk keluarga yang serakah akan kekuasaan.
Terutama Alberto Mose, yang merupakan Pamannya, lelaki itu terkenal berkuasa dan kejam di kota Yuzong.

Ia bahkan tidak segan-segan, menghancurkan bisnis kecil, milik warga Yuzong, yang dianggap mengganggu kelancaran bisnis keluarganya.

Sementara di dalam istana Tones, Nenek Rose Tones dan Kakek Mike Tones, sedang asik merayakan kebahagiaan mereka.

Anak, menantu, serta cucu-cucunya, dengan bahagia, memberikan hadiah mewah untuk kedua pasangan tua itu.

Khan Tones, cucu dari pasangan Maghdalena Tones dan Jose Bar, ia memberikan sebuah tiket berlayar, kapal pesiar termewah, yang ada di kota Barca, kota yang terkenal pariwisata dan keindahan alamnya.

Albert Tones, cucu dari pasangan Louis Tones dan Marda Jen, ia memberikan sebuah kalung giok berlapis berlian, yang harganya sangat funtastic.

Sedangkan Esmeralda, ia yang merupakan pasangan dari Amelia Tones dan James Wade itu, hanya mampu memberikan sebuah cincin emas dua puluh empat karat. Ia pun mendapat cibiran.

"Emas dua puluh empat karat? Apakah kamu semiskin itu? Hingga memberiku benda murahan ini," teriak Nenek Rose, emosi.

"Benar-benar memalukan, aku kalau jadi Ibunya, tentu tidak memiliki wajah lagi di keluarga ini," ucap Maghdalena Tones.

"Iya, bagaimana mungkin, istri seorang pecundang ini, bisa memberikan hadiah mewah. Mereka terlalu senang hidup susah!" sahut Marda Jen.

"Maafkan Esme, hanya itu yang bisa Esmeralda berikan, kuharap Nenek menyukainya."

Nenek Rose melemparkan cincin itu, tepat ke wajah Esmeralda.
"Cih ..., Suka katamu! Aku jijik, jika harus menerima, barang murahan seperti itu," bentaknya.

Semua yang menyaksikan, tertawa, sekaligus mencibir Esmeralda.

Amelia, Ibu dari Esmeralda pun terisak, melihat putri kesayangannya, di permalukan keluarganya sendiri, dengan begitu kasar.

Hatinya semakin marah dan membenci, ketika mengingat sosok Jeremy, yang menjadi biang dari segala masalahnya.

Jeremy yang menyaksikan semua itu, hanya bisa mengepalkan tangannya, dan bersumpah. Akan membuat keluarga Tones hancur, dan jatuh dalam kemiskinan.

Namun sebelum itu, ia ingin menyaksikan, para keluarga Tones, yang mempermalukan istrinya saat ini, berlutut di depan Esmeralda.

"Pulanglah, kamu sama saja dengan pecundang menjijikkan itu," bentak Nenek Rose.

Wajah Esmeralda semakin berair, hatinya terasa sangat sakit luar biasa.

"Ibu benar-benar keterlaluan! Biar bagaimanapun juga! Esmeralda masih cucu kalian, anakku!" teriak Amelia.

"Aku tidak perduli, untuk apa mengakui cucu, pada wanita yang tidak bisa di atur!" sahut Nenek Rose. Dingin.

"Bersukurlah kalian, Nenek masih mengasihani, memberi tempat untuk kalian tinggal. Dan, memberikan pekerjaan untuk Esmeralda, menghidupi lelaki pecundang itu."

Ya, Esmeralda menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak terusir dari istana Tones. Esmeralda sekeluarga, menempati gubuk tua keluarga Tones.

Mendengar hinaan demi hinaan, akhirnya Esmeralda memutuskan untuk membawa ibunya pulang.

Jeremy yang melihat Esmeralda menuju keluar dari acara itu. Ia pun langsung berlari kecil, menunggu mereka di muara pagar raksasa.

Wajah Amelia semakin terlihat sangar di mata Jeremy, seakan ia ingin menelan hidup-hidup.

"Gara-gara pecundang sialan ini, keluargaku menjadi miskin dan selalu menuai hinaan."

Amelia berteriak histeris.

"Sudahlah, Bu. Memang mereka saja, yang selalu ingin mengatur hidup orang lain," ucap Esmeralda. Hatinya selalu tidak terima, jika ada yang menghina suaminy, termasuk keluarga dan ibunya sendiri.

"Dasar bodoh! Kamu teramat buta, hidup kita hancur, semenjak kamu memutuskan menikahi lelaki tidak jelas ini," bentak Amelia.

Esmeralda memilih untuk tidak menyahut. Ia meraih lengan suaminya, dan menatapnya lekat.

"Ayo kita pulang." Kata-kata itu ia katakan, dan Jeremy pun tersenyum.

Jeremy sudah terlalu kebal, dengan berbagai macam hinaan, yang keluar dari mulut semua orang yang tidak menyukainya.
_______
Dengan motor maticnya, Jeremy melaju, menuju Giant Company Group.
Jeremy memarkirkan motornya, dan berjalan santai menuju gedung.

"Hei pecundang! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Khan, sepupu Esmeralda.

Jeremy yang baru saja memasuki gedung, hanya menatapnya sesaat, kemudian melangkahkan kakinya kembali, menuju lift.

Merasa di abaikan, Khan Tones pun berlari, ia datang bersama kekasihnya. Morena Volta.
Morena Volta, berasal dari keluarga Volta, keluarga terkaya nomor dua di Kota Monarki.

"Hentikan langkahmu, bajingan!" bentak Khan Tones, seraya menarik kasar bahu Jeremy.

Jeremy mendesah, kemudian menatap kesal ke arah Khan Tones.

"Apa aku mengganggumu?" tanya Jeremy, dingin.

Sebenarnya, ia tidak ingin menciptakan keributan, namun sepertinya, Khan Tones begitu terlihat bersemangat mengganggunya.

"Tentu saja! Kamu seperti kotoran di mataku! Aku tidak suka melihatmu, kamu tentu tau hal itu. Melihat kamu disini, aku menjadi penasaran, apakah datang kemari, untuk mengemis?" kata Khan Tones, meremehkan.

Morena Volta, ia terkekeh, mendengar ucapan kekasihnya itu, lucu baginya.

"Bukan urusanmu, kamu sendiri, ngapain kesini?" tanya Jeremy. Ia mulai tertarik, ketika melihat sebuah map, yang di pegang oleh Khan Tones.

"Tentu saja untuk urusan bisnis, bukan untuk mengemis sepertimu."

Lagi-lagi, Khan Tones begitu percaya diri, bisa menjalin kerja sama, dengan Giant Company Group, setelah menghina kasar pemiliknya.

Tanpa ia sadari, ia telah menghilangkan kesempatan baik.

"Oh ya! Pulanglah, aku jamin, kamu tidak akan berhasil," kata Jeremy.

"Brengsek! Apa yang kamu katakan? Kamu meremehkan kemampuanku? Hah?" bentak Khan Tones, yang mulai tersulut emosi.

"Tidak usah berteriak, kamu bisa merusak reputasi keluarga Tones di kantor ini, bersikap lah lebih manis," ucap Jeremy. Ia pun melangkah kembali, meninggalkan Khan Tones yang masih emosi.

Khan Tones berusaha menahan diri, sebab, apa ia di katakan Jeremy memang benar adanya. Ia harus bersikap baik di kantor ini, jika tidak, ia akan merusak nama baik keluarga besar Tones.

Khan Tones dan Moren Volta, mereka menunggu di ruang tamu. Sedangkan Jeremy, ia sudah di bawa salah satu staff kantor, untuk langsung masuk, ke ruangan Debara.

"Selamat datang Tuan Mose, senang bertemu Anda!" ucap Debara, lembut. Wanita cantik, anggun dan berwibawa itu pun tersenyum dengan ramah.

"Kamu membuat janji? Dengan keluarga Tones?" tanya Jeremy, langsung.

"Ya, Tuan Mose, apakah ada masalah?" tanya Debara, lembut.

"Suruh mereka pulang, dan jangan terima kerja sama apapun, dari keluarga itu. Kecuali, aku yang memintamu!"

"Baik, Tuan, saya akan laksanakan!" jawab Debara, tanpa banyak bertanya.

Lelaki sombong itu, ia akan pulang dengan kekecewaan.



profile-picture
khuman memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Tuan Muda
04-07-2021 08:08
Semoga bukan hanya trit tanpa lanjutan😁
0 0
0
Tuan Muda
04-08-2021 10:20

Terancam Bangkrut

Tuan Muda
Part3

"Kalian pergilah, Nona Debara tidak berniat untuk melakukan pertemuan!" ucap Donita Don't. Karyawan yang selalu sigap membantu kerjaan Debara.

"Apa? Kalian jangan membual, aku Khan Tones, keluarga terhormat di kota ini, pantang untuk mendapatkan penolakan."

Khan Tones berbicara dengan angkuh, dan menyombongkan diri, serta keluarganya.

"Kamu lupa? Nona Debara itu siapa? Bahkan kerja sama kalian di perusahaan ini, bisa terputus dalam sekejap, jika ia mau."

Khan Tones mendengus. "Cepat panggil kemari Nona Debara kalian, katakan padanya Morena Volta memanggilnya."

Morena Volta begitu yakin, bahwa Debara mau bertemu dengannya, sebab Debara mengenal baik keluarga Morena Volta.

"Maaf, tidak bisa. Sesuai perintah awal, saya di minta untuk mengusir kalian. Segera tinggalkan ruangan ini," ucap Donita.

"Brengsek! Tunggu saja, aku pastikan membalas penghinaan ini," ancam Khan Tones.

Usai kepergian mereka, Donita Don't memberikan laporannya kepada Debara.
Jeremy yang mendengar laporan itu pun tersulut emosi.

"Keluarga Tones, bekerjasama di perusahaan kita?" tanya Jeremy, sambil mengerutkan keningnya, menatap lekat wajah Debara.

"Benar, Tuan. Baru sebulan ini, kerjasama terjalin." Debara menjelaskan kepada Tuannya.

"Putuskan kontrak itu, dan katakan kepada mereka! Kerjasama tidak akan terjalin lagi, selama Khan yang memegang proyeknya."

"Baik, Tuan."

"Katakan juga, perusahaan kita, hanya akan bekerjasama dengan mereka. Jika, Nona Esmeralda yang bertanggung jawab, dengan proyek yang akan di garap."

"Kalau boleh tau, siapakah nona yang beruntung itu, Tuanku?" Debara bertanya dengan hati-hati.

Jeremy tersenyum. "Esmeralda, dia istriku. Wanita terbaik, dan tercantik di dunia ini," katanya dengan bangga.

"Sungguh beruntung sekali, akan banyak wanita muda dan cantik yang iri kepadanya, Tuan."

Jeremy hanya menanggapinya dengan senyuman. "Tolong kamu rahasiakan identitasku, aku tidak ingin ada yang tau, sebelum membalas para manusia kejam itu," ucap Jeremy, sambil tersenyum tipis.

"Tentu saja, Tuanku, identitas anda akan aman, saya jamin."

"Saya pergi dulu, kalau ada masalah, kamu silahkan laporkan kepada saya. Untuk sementara, saya hanya akan memantau dari jauh! Saya percayakan segalanya kepadamu, Debara."

"Suatu kehormatan, Tuanku, saya akan mengatasi segalanya untuk Anda."

Jeremy melangkah pergi, meninggalkan Giant Company Group.

Keluarga Tones, yang menerima berita tentang pemutusan hubungan kerjasama itu pun mendadak heboh.
Semua memandang kesal kepada Esmeralda, dan mulai bertanya-tanya.

"Apa hubungan kamu dengan Direktur baru Giant Company Group itu?" tanya Mike Tones, selaku pemimpin perusahaan keluarga Tones.

Esmeralda menggeleng, ia pun bingung dengan berita itu, mengapa ia harus di tunjuk untuk menjadi penanggung jawab.

"Saya bahkan tidak mengenalinya, bagaimana mungkin?" ucap Esmeralda.

"Kau pembohong! Hari ini, aku bertemu suami pecundangmu itu di Giant Company Group. Seorang pengangguran itu, untuk apa ia kesana? Kalau bukan untuk menjualmu kepada Direktur baru itu," tuduh Khan Tones, kasar.

Ruang rapat perusahaan keluarga Tones mendadak ramai, menuduh kejam kepada Esmeralda. Wanita dengan rambut coklat bergelombang panjang itu pun semakin bingung. Ia bahkan tidak tahu menahu, mengapa Jeremy ke perusahaan itu.

"Kamu kejam Khan, menuduhku seburuk itu," ucap Esmeralda dengan nada bergetar. Hatinya teramat sakit dan kecewa.

"Kejam bagaimana? Mendadak saja semua ini terjadi. Bukankah itu jelas tidak beres?" elaknya.

Khan Tones merasa begitu yakin, bahwa Esmeralda dan Jeremy, telah bermain curang kepadanya.

Ia menduga, bahwa Jeremy dalang di balik pemutusan hubungan kerja ini, meskipun itu hanya sekedar dugaan, ia yakin, Jeremy menggadaikan tubuh istrinya, demi karir Esmeralda.

Esmeralda yang tidak tahan dengan tuduhan itu pun berniat meninggalkan ruang meeting. Namun Mike Tones menahannya.
Pikiran Mike saat ini, Esmeralda begitu berharga, untuk mengembalikan kerjasama itu.
Jika di biarkan pemutusan hubungan kerjasama ini, maka perusahaan Mike Tones, akan terancam bangkrut, itu pasti.

"Esmeralda, datanglah ke Giant Company Group, dan perbaiki hubungan antara perusahaan ini," titah Mike Tones, kepada Esmeralda, yang sudah menahan rasa kecewa.

"Tidak, itu tindakan salah, Kek." Khan Tones langsung menyela pembicaraan Mike.

"Ini keputusan yang tepat, demi menyelamatkan perusahaan kita!" sahut Mike.

"Wanita ini, menjual tubuhnya untuk menyelamatkan perusahaan, bukankah itu bisa membuat reputasi perusahaan ini hancur!" tuduh Khan, kasar.

Semua menatap jijik kepada Esmeralda, wanita cantik itu semakin merasa tercabik hatinya.

"Jaga ucapanmu, Khan!" bentak Mike.

Esmeralda berdiri dari duduknya. "Aku akan segera mengirimkan surat pengunduran diri secepatnya," ucap Esmeralda, dingin.

"Apa yang kamu katakan, Esmeralda. Perusahaan keluarga kita terancam bangkrut, kamu satu-satunya harapan!" kata Mike, ramah.

"Aku tidak mengerti, mengapa dalam setahunan ini, kelurgaku, dan aku sendiri, terus menerima hinaan dari kalian. Keluarga macam apa ini? Aku pun bingung untuk menilai," kata Esmeralda, dengan tubuh bergetar, menahan sesak di dadanya.

"Ayolah, Esmeralda! Kita lupakan dulu mengenai harga diri, dan perasaan. Ini masalah serius, perusahaan kita terancam bangkrut! Apakah kamu tidak khawatir."

Mike masih berusaha membujuk Esmeralda.
Esmeralda terdiam sesaat, ia berusaha mencerna kata-kata Mike, yang merupakan kakeknya sendiri. Hati Esmeralda begitu sakit, mengingat hinaan-hinaan keluarga Kakeknya ini, juga tuduhan Khan tadi, itu mengoyak harga dirinya.

"Bagaimana? Esmeralda. Kamu harus segera membuat keputusan!" ucap Mike lagi. Membuat Esmeralda, menatap lekat wajah Kakeknya itu.

Akankah Esmeralda mau, membantu perusahaan Keluarga Tones?

❤️ Terimakasih ❤️
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Tuan Muda
04-08-2021 10:21

Balasan

Tuan Muda
Part4

Wanita cantik berambut coklat bergelombang itu terdiam sesaat. Kemudian, ia menarik berat napasnya.

"Maaf, Esmeralda terlanjur sakit hati. Mendapat penghinaan kasar dari Khan, membuat Esme semakin yakin, bahwa keluarga ini, tidak memiliki hati yang baik."

Mike Tones menggebrak kasar, meja tempat mereka berkumpul untuk meeting.

"Kamu berani melawan keluarga ini?" Bentak Mike Tones. Wajahnya menjadi garang, padahal, ia sangat membutuhkan bantuan Esmeralda.

Entah kekuatan dari mana, Esmeralda mendadak berani. Wanita cantik, istri Jeremy itu pun berdiri dengan tegas.

"Aku akan segera pergi, kalian nikmatilah kesombongan kalian selama ini," ucapnya dingin. Memandang acuh, kepada Mike Tones.

"Esmeralda! Mengapa kamu begitu keras kepala? Padahal, kamu hanyalah seorang wanita penghibur Direktur baru itu, bukan? Aku bisa memberikan jabatan penting untukmu di kantor ini, jika kamu bisa menjilat pantat Direktur itu, agar mau bekerjasama lagi."

Khan Tones kemudian terbahak-bahak tertawa, setelah berkata sekasar itu, kepada Esmeralda.

Mike yang merasa Esmeralda semakin emosipun berjalan dengan cepat, menghampiri Khan Tones. Cucu kesayangannya itu pun ia pukul berkali-kali, di depan semua orang.

"Dasar mulut sampah! Tidak bisa kah kamu bersikap lebih baik lagi? Ini masalah kelangsungan hidup seluruh keluarga Tones. Kalau perusahaan ini hancur, kamu pasti mendadak miskin."

Mike menghajar cucunya itu tanpa ampun. Khan meringis, ia sangat malu dan terkoyak harga dirinya. Di pukuli di depan seluruh karyawan, membuatnya seakan kehilangan muka, dan wibawa. Sikap jumawa yang biasanya ia tampilkan, mendadak hancur, seperti kondisi wajahnya saat ini.

Lebam dan berdarah.

"Sekarang minta maaf kepada Esmeralda!" titah Mike dengan kasar.

Meskipun awalnya Khan enggan, namun, melihat emosi Mike, membuat Khan Tones menciut. Ia pun berusaha meraih tangan Esmeralda, untuk berkata maaf. Namun, Esmeralda dengan cepat menepis kasar tangannya.

"Jauhkan tangan kotor itu dariku! Aku tidak butuh ucapan maaf, dari mulut sampah sepertimu. Terkecuali, kamu bersedia menjilat kakiku!" ucap Esmeralda.

Kali ini, wanita itu benar-benar memanfaatkan kesempatan langka ini. Baginya, Khan memang harus mendapatkan perlakuan kasar seperti ini, agar ia tidak mengulanginya.

Sekian lama, ia terus menahan diri, keluarganya terusir, itu juga berkat mulut kejam Khan Tones. Saat ini, pembalasan ia lakukan, untuk seorang yang jahat seperti Khan.

Khan, tentu saja ia keberatan, kalau harus mencium kaki Esmeralda, apalagi di depan seluruh karyawan.

"Kamu jangan keterlaluan, Esmeralda!" bentak Mike. Semua karyawan pun terkejut, dengan permintaan Esmeralda.

Selama ini, tidak ada yang berani melawan Khan Tones di kantor Tones Group. Ia memiliki jabatan yang cukup penting di kantor itu, tentu saja, ia sangat berkuasa.

"Kalian menolak? Ini keputusanku. Jika ia menolak, maka aku berhak untuk tidak memaafkannya." Esmeralda, berkata dengan santai, sambil melipat kedua tangannya.

Mike menghela napas berat, Khan menatap wajah Kakeknya dengan frustasi.

"Lakukan, Khan. Sesuai yang di perintahkan Esmeralda." Mike berkata dengan dingin.

Lelaki itu takut, jika ia menolak, maka nasib perusahaan di ujung tanduk.

Dengan terisak, Khan menuruti kemauan Esmeralda. Wanita itu pun tersenyum sinis, sambil menarik kasar kakinya, dari wajah Khan Tones.

"Jangan lama-lama! Sekarang bersihkan kakiku, dengan bajumu."

Meskipun Khan ingin sekali marah dan memaki, namun ia tidak berani lagi melakukannya.

Khan terpaksa melepas kemejanya, kemudian ia gunakan, untuk membersihkan kaki mulus Esmeralda.

"Aku akan ke Giant Company Group, sekarang! Jika aku berhasil, maka aku akan menduduki jabatan, yang Khan Tones pegang. Setuju?"

Esmeralda benar-benar memegang kendali, ia bahkan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, untuk menghajar para bedebah, yang selama ini menyakiti hatinya, dan keluarganya.

"Esmeralda! Kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan."

"Tentu saja! Jika keberatan, katakanlah!" ucapnya santai.

Mike merasa terpojok. Namun, sekali lagi, ia tidak memiliki pilihan. Biarlah, Khan memang harus mengalah. Demi, kelancaran bisnis keluarganya.

"Aku akan menuruti kemauanmu. Bahkan, aku rela menyerahkan kursi Direktur ini kepadamu! Jika, kamu bisa, membuat kontrak baru dengan mereka!" Mike Tones berkata dengan santai.

Ia yakin, Esmeralda tidak akan mampu mendapatkannya. Dulu saja, begitu sulit bagi mereka, untuk bekerja sama dengan perusahaan raksasa itu.

"Aku tidak yakin, namun aku akan mencobanya."

Kemudian, Esmeralda melenggang pergi, meninggalkan ruangan yang memalukan itu, bagi Khan Tones.

"Hari tersial bagiku!" gerutu Khan Tones dalam hati. Ia teramat menyesal, telah berkali-kali menghina Esmeralda, hingga wanita itu, dengan kejam membalas perbuatannya.
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan khuman memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Tuan Muda
19-10-2021 16:18
gila keren bener dah gan emoticon-Moon
0 0
0
Tuan Muda
30-10-2021 01:18
Bukannya cerita sebenarnya Judulnya Menantu Jutawan/Millionaire Son in Law, dg tokoh bernama Charlie Wade?
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Tuan Muda
30-10-2021 01:37
Emmmmm
0 0
0
Tuan Muda
22-12-2021 00:00
ngaskus santai sambil baca thread begini gan
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sad-story-ombak-tak-bersuara
Stories from the Heart
sebelum-reda
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Personal
Heart to Heart
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia