Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Mau Lindungin Keluarga Dari Penyakit Berbahaya? Daftar Webinar Ini Gan Sist!
19426
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f93fd65dbf764247a1f3c0d/hitamseason-2
 Halo agan dan sista semua.. jumpa lagi dalam threadku yang baru ini. Sesuai permintaan agan dan sista, maka TS akan melanjutkan lagi thread sebelumnya yang sudah tamat. Mohon diperhatikan, ini adalah cerita fiksi, hasil karangan TS yang diambil dari gabungan antara pengalaman pribadi, pengalaman temen-temen, mitos, urban legend dan ditambah banyak sekali imajinasi.  Jadi TS cuma orang b
Lapor Hansip
24-10-2020 17:09

HITAM Season 2

icon-verified-thread
HITAM
Season 2


HITAM
Season 2


Quote:

 Halo agan dan sista semua.. jumpa lagi dalam threadku yang baru ini. Sesuai permintaan agan dan sista, maka TS akan melanjutkan lagi thread sebelumnya yang sudah tamat. Mohon diperhatikan, ini adalah cerita fiksi, hasil karangan TS yang diambil dari gabungan antara pengalaman pribadi, pengalaman temen-temen, mitos, urban legend dan ditambah banyak sekali imajinasi.

 Jadi TS cuma orang biasa, TS cuma menuangkan gabungan antara nyata dan imajinasi ke dalam tulisan di thread ini dan thread sebelumnya. Maka dimohon jangan bertanya soal supranatural, karena TS cuma sedikit sekali mengerti tentang yang gaib.

 Thread ini dibuat bukan untuk menyinggung, menghina atau merendahkan orang lain atau suatu kelompok, karena thread ini hanyalah untuk hiburan semata. Kalau ada kata-kata yang tanpa di sengaja telah menyinggung atau merendahkan, TS mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga thread ini bisa berguna dan bisa diambil hikmahnya.

 Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau updatenya nggak bisa terus-terusan setiap hari seperti dulu lagi, update bisa  sehari sekali atau dua hari sekali, tapi tidak akan lebih dari dua hari.

 Terima kasih buat agan dan sista yang udah setia tongkrongin thread sebelumnya. Nggak nyangka thread sebelumnya itu akan banyak mendapat respon. Terima kasih juga atas saran dan kritiknya, hingga TS bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang nggak di sengaja. Tanpa pembaca, maka seorang penulis dan tulisannya nggak akan berarti apa-apa...

Selamat membaca…..





Prolog


 Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan.  Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi. 

 Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.

 Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat. 

 Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat  cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana, 

 Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam. 

 Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa. 

 Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.

 Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.

 Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.

 Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia  juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.

 Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.

 Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.

 Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda. 

 Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka  akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.

 Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.

 Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.

 Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya. 

 Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...



Salma




Amrita


Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andir004 dan 243 lainnya memberi reputasi
230
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 241 dari 324
HITAM Season 2
31-05-2021 17:01
Wayahé... Wayahé... 😁
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:05
Menunggu detik2...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:07

Pasukan mayat

      Makhluk yang meneror desa itu telah berhasil kami lumpuhkan. Ternyata dia bukanlah jin, tapi jasad manusia yang tinggal tulang belulang yang dirasuki 7 sosok jin. Setelah Salma dan Amrita mengeluarkan 6 jin di dalamnya, maka aku berhasil memukulnya hingga dadanya jebol sampai punggung. Dan satu jin yang berada didalamnya pun keluar. Untunglah kami berhasil mengalahkan jin qorin itu.

     Tapi tugas kami belumlah selesai, karena masih ada satu manusia yang menjadi otak dari semua ini, dialah yang menguasai dan mengendalikan keenam jin itu. Dan menurut Amrita, manusia itu tinggal di dalam hutan timur desa. Maka malam itu juga aku dan para polisi itu berangkat ke hutan itu untuk menyergap di pelaku. 

     Aku berpesan pada warga desa agar membakar tulang belulang itu hingga jadi abu sebelum dikuburkan. Lalu dengan diantar tiga warga desa yang mempunyai perahu, aku dan keenam polisi itupun menuju ke sungai di timur desa yang berbatasan dengan hutan itu.

     Sampai di pinggir sungai, tiga warga itu masih jalan ke arah hilir, kamipun mengikuti mereka. Setelah jalan kira-kira 50 meter, di pinggir sungai itu kulihat sebuah perahu lumayan besar yang tertambat pada sebuah pohon oleh seutas tali tambang. Pemilik perahu melepas tali itu. Maka aku dan keenam polisi itu segera naik. Perahu ini cukup besar, mungkin cukup untuk sepuluh orang, tapi nggak ada mesinnya, hingga kami harus pake dua dayung yang berada di dalam perahu.

     Kami berpesan agar ketiga warga itu kembali ke rumah masing-masing dan nggak perlu menunggu kami, dan merekapun menurut. Setelah tiga warga itu pergi, dua polisi di depan dan belakang perahu mulai mendayung. Sepertinya mereka kesulitan, mungkin mereka emang belum pernah mendayung perahu seumur hidupnya.  Maka kubantu mereka mendayung dengan tanganku, tentunya dengan pengerahan tenaga dalam agar didapat tenaga yang lebih besar, tapi masih dalam taraf wajar. Perahu yang tadinya cuma muter-muter doank itupun akhirnya bisa berjalan perlahan ke seberang.

     Setelah berada di seberang, kami.naik ke darat dan menambatkan perahu pada satu pohon. Lalu kami masih harus menyeberangi sawah yang nggak terlalu lebar, menyusuri pematang hingga sampai di pinggir sawah. Masih ada lahan kosong lagi selebar 10 meteran dari sawah sampai ke batas hutan. Puluhan jin penjaga hutan langsung muncul dan menghadang kami di pepohonan hutan itu.

Quote:    "Maaf pak.. kita perlu berhenti dulu sebentar.." kataku.

     "Ada apa…?"

     "Aku mau ngomong dulu sama penjaga hutan, daripada mereka ntar gangguin kita.." kataku

     "Lho.. ada juga to..?"

     "Banyak pak.." jawabku.

     Para polisi itu berhenti tepat di pinggiran sawah, sementara aku, Salma dan Amrita menuju ke batas pohon-pohon hutan. Para jin itupun bersiap mau menyerang. Rencanaku adalah mengajak mereka berunding, karena kami nggak ada urusan sama mereka, jadi sebisa mungkin aku berusaha untuk menghindari bentrokan.

Quote:    "Aku tegaskan sekali lagi, kami cuma mau lewat, dan kami nggak ada urusan sama kalian, jadi biarkan kami lewat!"

     Satu makhluk berwujud kera besar yang menjawab. "Kami tidak akan mengijinkan siapapun masuk!"

     "Aku cuma punya urusan dengan manusia yang tinggal di dalam hutan ini!" kataku.

     "Aku akan membantai dia dan pengikutnya! Dan kalo kalian mau menghalangi kami, maka akan kubantai sekalian!" terpaksa kukeluarkan gertakan. 

     "Jadi kalian adalah musuh mereka?"

     "Aku nggak ngerti maksudmu, tapi aku datang cuma untuk menghancurkan mereka.." kataku.

     "Kukira kalian akan bergabung dengan mereka, jadi kami bertujuan mencegah itu! Kami nggak mau pasukan mereka bertambah jumlahnya! Karena mereka adalah pendatang dan ingin menguasai tempat kami!"

      "Jadi kalian juga bermusuhan sama mereka..?! Kenapa nggak melawan?!" tanyaku.

      "Kami telah melawan, tapi kami kalah, banyak dan saudara kami yang terbunuh hingga kami harus menyingkir di pinggir hutan ini! Kami terusir dari tempat ini!"

      "Kalo gitu lebih baik kita saling membantu, kalian bisa dapatkan kembali rumah kalian, dan kami bisa mencapai tujuan kami.." kataku.

      "Dengan jumlah sesedikit ini, kalian bisa apa..?!"

      "Apa jumlah mereka banyak..?" tanyaku.

      "Ratusan, ditambah belasan pasukan khusus juga.."

      "Gini aja, kami akan hancurkan pemimpin dan pasukan khusus itu, dan kalian hadapi sisanya..!" kataku.

      "Itu belum cukup! Kalian kalah jumlah!"

      Daripada kelamaan debat dan nggak ada hasilnya kayak gini, maka aku langsung berteriak. "Mandala! Hadir..!"

      Belum lagi mataku berkedip, kurasakan tiupan angin dingin, dan mendadak di depanku sudah berdiri enam sosok Mandala dan satu sosok lagi yang ternyata adalah Birendra! Aku jadi heran sendiri, setiap kali aku memanggil enam Mandala, maka Birendra akan ikut hadir! Aura hitam pekat menguar dengan dahsyat. Bahkan Salma dan Amrita ikut keluarkan aura sejatinya. Tempat itu jadi terasa penuh sesak, aura mereka menekan dan menghimpit dadaku. Para penjaga hutan itu terkejut dan tersurut mundur, mereka terus mundur hingga masuk ke hutan. Maka akupun maju dan berteriak.

Quote:      "Bagaimana..? Apa ini juga belum cukup? Aku bisa memanggil ratusan ribu prajurit sekarang juga!"

      Birendra ikut menyahut. "Kalau mau mengganggu raja kami, maka hadapi kami dulu! Nggak perlu raja kami yang turun tangan. Cuma kami bertujuh aja udah bisa menggulung seluruh isi hutan ini! Majulah sekarang! Siapa yang mau mampus duluan?!"

      Si kera besar itu muncul kembali, segala kegarangannya hilang seketika. "Ba-baiklah.. maafkan kami yang sudah meremehkanmu. 

      "Kemana nyalimu tadi?! Apa udah meleleh sekarang?! Petantang-petenteng seenaknya di depan raja kami! Dasar jin kurang dihajar!" bentak Birendra.

      "Tenanglah.. mereka nggak menggangguku kok…" kataku menengahi. "Jadi gimana? Kau ikut gabung atau menyingkir dan membiarkan kami masuk?

      "Ba-baik.. baik.. Kami ikut bergabung dengan kalian.."

      Setelah beres urusan dengan para penghuni hutan itu, aku memberi isyarat pada para polisi untuk lanjut jalan. Kuminta pada para penghuni hutan untuk menunjukkan jalan. Kami harus jalan kaki lagi ke arah hulu sungai. Sekitar 100 meter kemudian, kulihat sebuah jalan setapak memasuki hutan, jalan itu nggak kelihatan karena tertutup semak belukar. Kami mulai menyibakkan semak belukar itu dan menyusuri jalan setapak memasuki hutan. 

      Sepanjang perjalanan itu banyak sekali makhluk-makhluk penghuni hutan yang bergabung dengan kami. Satu persatu mereka datang bergabung untuk satu tujuan, yaitu merebut kembali tempat tinggal mereka. Kini jumlah kami jadi sangat besar, mungkin mencapai seribuan jin. Mereka melayang di belakang mengikuti kami. Selama jalan kaki itu aku berbincang dengan Pancalaksa.

Quote:      "Terima kasih atas kedatangan kalian.. tapi aku heran kenapa Birendra harus ikut datang..?"

      "Mohon maaf atas kelancangan hamba raden.." jawab Birendra. "Setiap kali raden memanggil keenam Mandala sekaligus, maka hamba berpikir kalo raden sedang menghadapi musuh yang kuat, jadi hamba harus ikut serta untuk membantu.."

      "Baiklah.. kalo gitu terima kasih.." jawabku.

      "Itu adalah tugas kami raden.."

      Setelah sekitar setengah jam kami jalan, tiba-tiba si kera besar penunjuk jalan itu berhenti, akupun memberi isyarat pada para polisi untuk berhenti. Si kera besar menunjuk ke depan, maka akupun maju. Dan diantara pohon-pohon besar dan rimbunnya semak belukar di depan sana, kulihat sebuah bangunan pondok terbuat dari bambu. Aura hitam pekat dan sangat kuat menyelimuti tempat itu, sampai terlihat seperti kabut asap berwarna hitam. 

      Ratusan jin berkumpul mengelilingi pondok itu. Dan diantara mereka kulihat belasan makhluk aneh, mereka bukanlah jin, karena mempunyai raga. Aku yakin mereka adalah jasad manusia yang dirasuki jin. Dari setiap satu sosok itu bisa kurasakan setidaknya ada tiga sampai tujuh energi jin. Jadi ini yang disebut oleh si kera besar sebagai pasukan khusus tadi. Orang yang sedang kami buru itu sedang membangun sebuah pasukan mayat! Entah dari mana dia bisa dapatkan segitu banyak jasad manusia.

      Wajah keenam polisi itu tampak berubah, bahkan ada yang terlihat gentar. Tadi kami udah menghadapi satu sosok jerangkong hidup, dan baru satu sosok aja udah sedemikian sulitnya, kini kami harus menghadapi belasan sosok sekaligus! Jadi wajar kalo para polisi itu berpikir dua kali untuk menghadapi mereka.

Quote:      "Gimana cara menghadapi mereka..?" tanya salah satu polisi. 

      "Cuma satu aja susahnya kayak gitu, apalagi segitu banyak..!" sambung polisi yang lain.

      "Tenang pak.." kataku. "Mereka nanti akan ada yang menghadapinya sendiri.. kita fokus aja menangkap orang yang berada di pondok itu dan nggak usah menggubris para jerangkong itu.." 

      "Siapa yang akan menghadapi mereka..?"

      "Tadi di pinggir hutan aku udah berunding dengan para penghuni hutan. Mereka setuju membantu kita karena mereka juga bermusuhan dengan penghuni pondok.." kataku.

      "Jadi mereka juga saling bermusuhan gitu to…?"

      "Iya lah pak… penghuni pondok itu amu menguasai wilayah ini, dan penghuni asli hutan tentunya marah.. jadilah mereka bermusuhan.." kataku.

      "Lho..? Pake perebutan kekuasaan juga..?"

      "Iya pak.. mereka itu sama kayak manusia juga.." kataku. "Yang penting kita langsung masuk ke pondok aja.."

      "Yaudah.. kamu yang lebih tau soal hal ginian.."

      "Satu lagi pak.. kalo nanti tau-tau ada badai besar, nggak usah digubris aja, tetap fokus pada penangkapan orang itu.."

      "Oke siap…"

      Kami mulai jalan perlahan mendekati pondok, para polisi bahkan sampai mengendap-endap. Akupun mulai membagi tugas.

      "Birendra dan enam Mandala, pasukan jerangkong itu bagian kalian.. Salma dan Amrita, tolong lindungi kami.. dan kalian semua.." kataku pada si kera besar. "Kalian hancurkan pasukan jin itu.."

      Tanpa menjawab apa-apa, Birendra dan keenam Mandala langsung melesat menyerbu ke arah pasukan mayat, maka para penghuni hutan pun ikut menyerbu. Teriakan gegap gempita segera terdengar. Hutan yang tadinya sepi, kini terdengar sangat ramai di telingaku. Tiupan angin dahsyat langsung datang entah darimana, dan angin kencang itu segera berubah jadi badai.

      Birendra dan enam Mandala bergerak sangat cepat, memotong-motong tubuh para mayat hidup itu. Tapi meski tubuh mereka terpotong dua sekalipun, mereka masih nekat merayap di tanah dan menyerang kembali, ada juga yang udah tanpa kepala tapi masih menyerang dengan ganas. Kuku-kuku mereka sangat panjang berwarna hitam, tentunya sangat tajam juga. Aku yakin pada kuku mereka terdapat racun mematikan. Setiap ada tangan yang putus dari badan, maka tangan itu bisa bergerak sendiri untuk menyerang. Potongan-potongan tubuh mereka seperti punya nyawa sendiri-sendiri.

      Setelah jarak sudah dekat, baru bisa kuperhatikan satu persatu para mayat itu. Mereka adalah jasad yang udah mulai membusuk, pipi mereka udah bolong dan dipenuhi belatung. masih ada daging yang menempel di tubuhnya, meskipun ada beberapa bagian yang tinggal tulang, rambut di kepala masih tertinggal sebagian. Belatung-belatung rontok bertebaran ketika mereka menggerakkan tubuhnya. Bau bangkai sangat santar menyengat hidung.

      Maklumlah kalo para polisi merasa gentar menghadapi mereka, karena wujudnya aja udah sangat mengerikan. Ditambah lagi ilmu kesaktian mereka sangat tinggi karena disusupi tiga sampai tujuh jin di setiap satu sosok. Dan karena para mayat itu masih nekat menyerang meski sudah terpotong-potong tubuhnya,  maka Birendra dan enam Mandala harus menghancurkan raga mayat itu hingga jadi debu.

      Para polisi berjalan makin cepat menuju ke pondok sambil menundukkan badan menghindari tiupan angin itu. Sampai di dekat kancah pertempuran, Salma pukulkan tangannya kedepan, pukulan Angin Samudra menerjang, menyibak semua jin yang sedang bertempur hingga tercipta celah jalan bagi kami. Maka aku segera berlari ke arah pintu pondok, polisi ikut berlari cepat menyusulku. 

      Salma kembali pukulkan tangannya ke depan, dia lepaskan pukulan Badai Samudra, sebentuk angin dahsyat bergulung bagai ombak lautan menyapu bersih asap hitam yang menyelimuti pondok itu, menimbulkan rentetan suara ledakan-ledakan kecil berkesinambungan. Ternyata kabut asap itu adalah pagar gaib pelindung pondok.

      Tanpa tunggu lagi, kuterjang daun pintu dengan tendanganku. Tapi kemudian dari dalam pondok melesat segumpal asap hitam padat sebesar pintu yang menerjang ke arahku. Reflek aku pukulkan tanganku kedepan untuk memapaki, dengan seluruh tenaga dalam, kulepas pukulan Badai Putih. Segulung kabut putih merambat sangat cepat, menyongsong datangnya gumpalan asap hitam padat itu. Dua angin pukulan bertemu, saling bergulat dan terseret ke atas dan terus membumbung tinggi angkasa, hingga akhirnya..

      Blegaaarrr…!

      Dua gumpalan angin itu meledak di angkasa, menimbulkan suara dentuman dahsyat seperti puluhan meriam yang ditembakkan bersama. Aku terjengkang ke belakang dan segera ditolong oleh para polisi itu. Masih sempat kulihat Salma dan Amrita melesat masuk ke pondok. Maka aku segera bangkit dan berlari masuk pondok, diikuti oleh keenam polisi.

      Di dalam pondok itu kulihat Salma dan Amrita telah terlibat pertarungan sengit dengan empat sosok jin. Para polisi segera menodongkan senjatanya. Tapi ternyata nggak ada seorang manusia pun yang berada di dalam pondok. Dan pintu belakang pondok dalam keadaan terbuka. Manusia itu telah melarikan diri lewat pintu belakang.

Quote:      "Dia udah lari lewat pintu belakang pak.." kataku.

      "Kita kejar!"

      Keenam polisi segera berlari keluar lewat pintu belakang. Sedangkan aku cuma bengong.

      "Mau mengejar kemana..?" tanyaku.

      Tapi nggak ada yang menjawabku, mau nggak mau aku harus mengikuti mereka. Sampai di belakang pondok, pertempuran masih terjadi antara penghuni hutan dan pasukan jin yang menjaga pondok. Sementara angin badai terus bertiup semakin menggila. Masih kulihat para polisi berlari ke segala arah, karena ternyata di belakang pondok itu ada beberapa jalur jalan setapak, dan para polisi itu menyebar ke setiap jalan setapak itu.

      Aku jadi bingung harus mengejar kemana. Manusia itu ternyata sangat cerdik, dia telah membuat beberapa jalur pelarian untuk mengecoh penggerebekan semacam ini. Ada satu hal lagi yang bikin aku heran, ilmu dari orang itu sangatlah hebat, tapi kenapa dia malah melarikan diri? Saat aku kebingungan, kulihat ada satu sosok berkelebat mendekat, dia adalah Ekawadya.

Quote:      "Ikuti hamba raden, hamba sempat melihat arah manusia itu melarikan diri.." Ekawadya melesat mengikuti jalan setapak yang menuju ke arah kiri, aku segera berlari mengikutinya.

      "Gimana dengan para Mandala dan Birendra?" tanyaku.

      "Mereka sudah berada di atas angin, sebentar lagi pasukan mayat itu pasti akan musnah.."

      Lalu kulihat ada dua orang polisi yang berlari di depanku. Kusalurkan tenaga dalam ke kaki agar bisa lari lebih cepat, hingga aku bisa menyalip dua polisi itu. Lalu di depan sana kudengar suara langkah kaki orang berlari, dan kudengar juga suara gesekan kain dengan semak belukar. Kutambah tenaga dalam ke kaki, hingga aku bisa lari lebih cepat lagi. Dan 10 meter di depanku kulihat seseorang berjubah hitam dan bertudung sedang berlari. Maka kupukulkan tanganku ke arah orang itu, bola cahaya putih melesat.

      Blaarrr..!

      Seranganku menghajar punggung orang itu dengan telak. Dia jatuh kedepan menyuruk tanah, tapi dia segera bangkit dan melanjutkan larinya, orang itu kebal terhadap seranganku. Tapi aku nggak menyerah, kupukulkan tanganku bertubi-tubi ke depan. Bola-bola cahaya putih berlesatan menghantam orang itu, ledakan demi ledakan terdengar. Orang itu terlempar dan jungkir balik, lalu menyangsrang di semak belukar, tapi lagi lagi dia nggak cedera apa-apa. 


Lanjut bawah gaess....

profile-picture
profile-picture
profile-picture
redrices dan 85 lainnya memberi reputasi
86 0
86
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:07

Lanjutan

      Kudekati dia, lalu pukulan dan tendanganku mendarat bertubi-tubi di tubuhnya, suara bak-buk-bak-buk terdengar sangat keras, orang itu cuma jungkir balik tunggang langgang menyuruk tanah dasar hutan, tapi dia nggak menderita apa-apa. Sengaja aku nggak memakai energi penuh agar nggak membunuh orang itu, tapi ternyata ilmu kebal orang itu sangat hebat.

      Ada hal yang membuatku heran, orang itu sama sekali nggak melawan ataupun menangkis! Berarti dia nggak memiliki ilmu olah kanuragan dan hanya mengandalkan kebatinan. Tapi aku nggak mempedulikan lagi pemikiranku itu, karena kulihat orang itu udah bangkit lagi dan bersiap melarikan diri. Maka dengan tenaga dalam penuh, kulepaskan pukulan Penghancur Sukma.

      Buaakk…! Kraakk..!

      Bogemanku telak menghajar punggungnya, energi pelindung dari ilmu kebalnya mulai retak, suaranya persis seperti kaca yang retak. Merasa berhasil, kuulangi pukulan itu dengan bertubi-tubi. Kini ilmu kebalnya berhasil aku hancurkan. Orang itu terjerembab mencium tanah. Kuangkat krah lehernya dan kutarik hingga berdiri. tapi mendadak tangan kanannya berpendar sinar merah, dan kepalan tangannya bergerak mengarah ke wajahku! Maka kupapaki pukulannya dengan pukulanku yang bertenaga dalam penuh. Dua kepalan bertemu.

      Blaarr..!

      Satu ledakan kecil terjadi. Aku tersurut mundur dua langkah, sedangkan orang itu terjengkang ke belakang dan jatuh ke tanah. Tanpa tunggu lebih lama, kudekati orang itu, kuangkat lagi tubuhnya dan langsung kuhadiahi dengan satu pukulan tepat di wajahnya.

      Buughh..!

      Orang itu meraung memegangi hidung dan mulutnya yang memuncratkan darah. Maka kakiku bergerak lagi menghantam dadanya. Dia jatuh terlentang, kududuki dadanya dan tinju kiri kananku bergantian menyapa seluruh wajahnya. Aku baru berhenti saat ada seseorang yang menarikku dan menghempaskanku ke belakang. Ternyata dia adalah pak polisi yang tadi kusalip larinya.

      Aku terduduk di tanah sambil mengatur peredaran energi, entah kenapa emosiku nggak terkendali, aku hampir saja membunuh orang itu. Kini aku yakin kalo orang itu emang nggak bisa olah kanuragan, pantesan aja dia tadi melarikan diri. Benar-benar suatu pertarungan yang nggak memuaskan! Bertarung melawan orang yang nggak bisa olah kanuragan itu sama aja bertarung dengan sebuah pohon, nggak ada perlawanan yang berarti! Padahal ilmu pembangkit mayat yang dimiliki orang itu sangatlah hebat.

      Kulihat dua polisi itu mengangkat tubuh orang itu hingga berdiri, lalu memborgol tangannya. Orang itu masih sadar, meskipun mukanya udah benjut-benjut dan berlumuran darah. Baru aku sadar kalo ternyata Salma, Amrita, Birendra dan enam Mandala sudah berada di tempat itu. Berarti pertempuran di pondok tadi telah berakhir. Padahal aku belum puas menghajar, emosiku masih belum tersalurkan. Salma menyadari hal ini, dan dia mentransfer energi dinginnya padaku.

      Salah satu polisi itu melakukan panggilan radio pada polisi yang lain, lalu mereka beranjak kembali ke pondok sambil membimbing orang itu. Akupun mengikuti mereka. Seperempat jam kami jalan, barulah sampai di pondok itu. Ternyata pengejaran tadi jauh juga. Polisi yang lain belum kembali. Pondok itu sudah sepi, tinggal bau sangit yang tersisa. Angin badai juga sudah reda. Kulihat ratusan jin penghuni hutan masih bergerombol di halaman depan pondok.

      Dua polisi mendudukkan orang itu di depan pondok. Kudekati orang itu. dia adalah seorang pemuda berusia 30 tahunan, berahang kokoh, pertanda kalo dia adalah orang yang tegas. Sorot matanya menunjukkan kebencian yang sangat besar. Wajahnya udah bengkak-bengkak membiru dan berlumuran darah, bahkan satu matanya bengkak besar hingga nggak bisa melek. Anehnya aku nggak ngerasa kasihan sama sekali padanya, karena mengingat apa yang telah dia lakukan terhadap warga desa. Aku jadi penasaran, apa hubungannya dengan korban mutilasi itu.

      Kemudian kudengar suara langkah-langkah kaki. Para polisi yang tadi berpencar itu mulai berdatangan satu persatu. Ternyata mereka juga sudah mengejar sangat jauh tadi. Napas mereka masih terdengar ngos-ngosan, tapi begitu melihat kami, Mereka langsung terlihat keheranan, mereka segera berkerumun mengelilingi kami.

Quote:      "Kenapa dia udah bengep duluan?" tanya salah satu polisi yang baru datang itu.

      "Udah dihajar sama adek ini.." 

      "Wah.. kamu kalo berantem ngeri juga ya dek.. aku yakin kamu masih belum puas ngehajar dia.."

      Omongan itu cuma kubalas dengan cengiran. "Pak.. boleh nggak aku nanya duluan ke orang ini? Ada yang bikin aku penasaran."

      "Kamu tanya aja.. lagian ini sama aja kamu yang udah nangkep dia.. Kita juga akan beristirahat disini dulu.."

      "Makasih pak.." kataku, lalu aku menoleh ke orang itu. "Apa hubunganmu dengan korban pengeroyokan 20 tahun yang lalu itu?" tanyaku.

      "Asal kau tau, dia adalah ayahku!"

      Aku sempat tertegun, para polisi itu saling berpandangan.

      "Jadi ini soal dendam ya.. tapi kau sudah membunuh terlalu banyak.. harusnya kau sudah berhenti, tapi kenapa masih meneruskan?!"

      "Aku belum puas kalo belum membunuh 15 orang itu! Kau nggak akan tau rasanya! Gimana perasaan bocah 10 tahun dipaksa melihat ayahnya di keroyok, dibacok, dicacah-cacah dan di potong-potong dan akhirnya dibakar! Lalu dikubur begitu aja di pinggir sungai! Bahkan seekor anjing aja lebih terhormat dari itu!"

      Tampaknya dendam telah berurat berakar dalam daging dan darah orang itu, bahkan sorot matanya aja penuh kebencian. Aku nggak bisa bayangkan orang yang hidup dengan bara dendam yang terus menyala di hatinya. Tapi ada satu kesalahan yang diperbuatnya, dan hal ini akan kugunakan untuk memukul egonya.

Quote:      "Lalu apa tujuanmu membalas dendam? Biar bapakmu bangga gitu?" tanyaku.

      "Biar aku puas! Dan tentunya di atas sana ayahku juga merasa bangga padaku!"

      "Dasar tol*l! Nggak bisa mikir! Berniat membalaskan dendam bapakmu tapi memakai raganya yang udah dikubur, bahkan pake jin qorinnya juga. Itu namanya menghormati atau menginjak-injak bapakmu sendiri..?!"

      Orang tertegun, mungkin sebelumnya hal ini nggak terpikir olehnya. Maka kuteruskan aja omonganku.

      "Bapakmu pasti nangis di atas sana, melihat kelakuanmu ini, udah disiksa di neraka, masih ngelihat kelakuan anaknya yang kayak gini! Berlagak membela kehormatan bapak, tapi ternyata malah menginjak-injak sendiri!"

      Kini orang itu menunduk dan nggak menjawab. Para polisi ikut mendengarkan.

      "Aku nggak bisa menyalahkan kalo kau ngerasa dendam, karena kau menyaksikan sendiri peristiwa itu. Tapi dendammu itu udah kebablasan sampe membutakan! Bahkan otakmu jadi tumpul, nggak bisa membedakan antara membela kehormatan dengan menginjak-injak kehormatan! Kau udah tersesat terlalu jauh, lebih baik kau balik lagi aja sebelum semua terlambat!"

      Salah satu polisi itu ikut ngomong. "Semua pengakuanmu tadi bisa digunakan untuk menuntutmu di pengadilan. Kami semua sudah mendengar pengakuanmu sendiri!"

      Orang itu menunduk makin dalam, lalu bahunya terguncang-guncang, ada isak lirih disana. Manusia berhati iblis kayak dia bisa menangis?! Sungguh nggak sepadan dengan kesombongan dan dendam yang membara tadi. Rupanya kata-kataku telah memukulnya dengan telak. Beginilah resiko mempelajari ilmu iblis, meskipun ilmu-ilmu iblis itu sangat hebat, tapi bisa mempengaruhi hati dan jalan pikiran.

      Kulihat ke arah Salma, dan dia langsung mengerti, dia mendekati orang itu, tangannya diletakkan di ubun-ubun. Salma memejamkan mata, lalu dia membuat gerakan seperti menarik sesuatu dari ubun-ubun orang itu. Segumpal asap hitam keluar, orang itu berteriak keras, lalu teriakannya langsung berganti dengan suara tercekik, tenggorokannya keluarkan suara mengorok keras, matanya membalik-balik hingga hanya terlihat putihnya saja. Lalu orang itu rebah ke tanah, napasnya megap-megap.

      Kini tangan Salma diselimuti gumpalan besar asap hitam berbau busuk. Dia kibaskan tangannya ke atas, gumpalan asap itu melesat ke angkasa. Salma pukulkan tangan ke arah gumpalan asap hitam itu, satu bola cahaya biru melesat. Tapi kemudian Amrita, Birendra dan keenam Mandala ikut pukulkan tangan ke arah gumpalan asap hitam yang menggantung diam di ketinggian itu. Sembilan bola cahaya aneka warna melesat.

      Blegaaaarrrr..!

      Satu dentuman sangat keras terdengar di langit malam di atas pondok itu. Bunga api bertaburan di udara. Angin bertiup kencang membadai. Kurasakan telingaku pengar karena ledakan itu, segini hebatkah ilmu iblis itu hingga harus dimusnahkan dengan gabungan dari 9 serangan? Benar-benar luar biasa!

Quote:      "Dia cuma punya tiga ilmu, tapi semuanya berasal dari iblis, jadi agak susah buat memusnahkannya.." kata Salma.

      "Ilmu apa aja itu..?" tanyaku.

      "Ilmu pembangkit mayat, ilmu kebal dan satu ilmu pukulan jarak jauh. Dia nggak bisa olah kanuragan sama sekali, dan dia nggak bisa bertarung jarak dekat, cuma mengandalkan ilmu kebal dan satu ilmu pukulan.."

      Seperti yang aku duga sebelumnya, tapi untung aja dia cuma punya tiga ilmu, jadi aku bisa dengan gampang mengalahkannya. Kulihat ke arah Birendra dan Mandala yang masih berdiri, mereka menunggu perintah dariku, kurasa bantuan mereka padaku udah cukup.

Quote:      "Terima kasih atas kedatangan dan bantuan kalian semua.. sekarang kalian bisa kembali ke tempat.."

      Birendra yang menjawab. "Ijinkan hamba memerintah Mandala Ketiga dan Keenam untuk mengawal raden sampai di pemukiman penduduk.."

      "Sebenarnya itu nggak perlu.." kataku. "Tapi ya terserah kalian aja.."

      "Baiklah.. kami undur diri raden.."

      Sosok Birendra dan keempat Mandala langsung mengabur dan menghilang. Tinggal Mandala Ketiga dan Ekawadya yang berada disini, mereka akan mengawalku sampai ke desa. Sementara kulihat para penghuni hutan itu masih berkumpul di halaman depan pondok, entah apa yang mereka tunggu. Aku bangkit dan mendekati si kera besar.

Quote:      "Kalian lagi nunggu apa..?"

      "Kami menunggumu untuk mengucapkan terima kasih banyak atas bantuanmu ini.. kini kami telah bebas dari gerombolan itu.."

      "Sudah.. lupakan saja.." kataku.

      "Kami nggak akan pernah melupakannya. Kalo boleh tau, siapa namamu wahai anak manusia yang dipanggil raden?"

      "Namaku Arya.." kataku.

      "Baiklah Arya. Kami akan selalu mengingatmu. Sekali lagi terima kasih.. kami pergi sekarang.."

      Seluruh penghuni hutan itu langsung menghilang begitu aja. Aku bener-bener heran, cuma mau ngucapin makasih aja harus nunggu lama banget gitu. Lalu mendadak kudengar suara ranting kering yang patah karena terinjak. Di malam yang sepi kayak gini, suara ranting patah akan terdengar jelas. Kami saling berpandangan, para polisi segera keluarkan senjata.

Quote:      "Siapa itu?! Keluarlah! Kalo tidak, akan kami tembak!" teriak salah satu polisi.

      Lalu terdengar suara ranting terinjak lebih banyak lagi, lalu muncul satu siluet dari kegelapan. Polisi segera mengacungkan senjata ke arah siluet itu. Lalu para polisi menghampiri siluet itu dan menariknya mendekati pondok.

      "Ma-maaf pak.. tolong saya.. saya jangan di tembak.."

      "Siapa kamu?! Kenapa bisa ada disini?!"

      Dan saat senter polisi terarah ke wajahnya, bisa kulihat kalo orang itu adalah warga desa yang selalu menyangkal waktu rapat di balai desa tadi siang!

      "Oo.. jadi kamu?! Apa kamu udah jadi mata-mata orang ini?!"

      "Ti-tidak pak.. bu-bukan.."

      "Hayo! Mengaku aja lah! Berapa kamu dibayar orang ini?!"

      "Saya.. saya tadi cuma  mengikuti kalian.. tapi.. tapi malah tersesat.."

      "Jangan bohong! Kalo ada yang mengikuti, kami pasti tau! Lagian nggak ada yang tau tempat ini! Kamu pasti udah pernah kesini sebelumnya!"

      Salma tau-tau nyeletuk. "Dia telah bekerja sama dengan orang itu, dia adalah mata-mata yang memberitahu keadaan desa pada orang itu.."

      Apa yang disampaikan Salma itu langsung kukatakan pada para polisi. Penduduk desa itu langsung di borgol dan dikumpulin sama si pelaku teror yang masih terkapar di tanah itu.

      "Pantesan tadi siang kamu mau bikin onar rapat itu! Ternyata kamu mata-mata bayaran!"

      "Ti-tidak pak..!"

      "Masih mangkir kamu! Aku pukul baru tau rasa! Hayo ngaku sekarang! Kamu itu mencurigakan!"

      "Jangan pak.. I-iya saya mengaku pak.. saya dibayar orang ini untuk memberitahu keadaan desa.."

      "Nah! Bener kan! Mending ngaku aja dari tadi! Langsung kelar urusannya…! Tadi siang waktu ngebantah aja garangnya kayak singa! Sekarang giliran ditanya malah plintat-plintut kayak kucing!"

      "Ma-maaf pak..!"

      "Kamu ini laki-laki! Bicara yang tegas dan jelas! Jangan mencla-mencle kayak gitu!"

      "Kalo gitu kamu juga harus di tangkap karena bersekongkol dengan penjahat!" kata polisi satunya.

      "Kita balik ke desa sekarang.. bawa mereka berdua sekalian..." kata polisi yang lain.

      Niatnya cuma mau menangkap satu orang, tapi malah mendapat dua tangkapan. Kami semua bangkit dan meninggalkan pondok itu, menyusuri jalan setapak di tengah hutan hingga sampai di pinggiran sungai. Setelah mendayung menyeberangi sungai. Kami langsung jalan menyusuri jalan utama menuju ke balai desa.

      Saat melewati rumah neneknya tante Silvy, aku pamit duluan pada para polisi itu, karena aku udah ngantuk banget. Aku nggak mau ikut mengurusi dua orang itu, biar para sesepuh dan polisi yang mengurusnya. Ekawadya dan Mandala Ketiga udah kembali ke tempatnya. Masuk ke rumah, langsung menuju ke kamar dan merebahkan diri di kasur. Tante Silvy menginap di rumah pamannya, jadi malam ini aku bisa tidur dengan tenang, tentunya dengan ditemani Salma dan Amrita.


bersambung…



157

profile-picture
profile-picture
profile-picture
redrices dan 104 lainnya memberi reputasi
105 0
105
Lihat 21 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 21 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:23
Suwun mbah apdetnya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:26
Aman deh,klo tante silvy tidur di rumah pamannya....lagu ninja hotaru tidak berkumandang..😁😁😁
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:29
Kirain triple update mbah...

Tapi terimakasih mbah atas updatenya yg lancar👍👍👍
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:37
Mantap mbah joyo.. Matursuwun dan terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:38
Makasih gan apdetnya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
HITAM Season 2
31-05-2021 17:39
Nuhun om....🙏🙏
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:51
Misi terselesaikan....

Bonus tante menanti....emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 17:59
Mantul nan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 18:02
   "Nah! Bener kan! Mending ngaku aja dari tadi! Langsung kelar urusannya…! Tadi siang waktu ngebantah aja garangnya kayak singa! Sekarang giliran ditanya malah plintat-plintut kayak kucing!"

Mbaaah ane ndak setuju kalo kayak kucing. Kucing ane lucu. Dia pasti nggak emoticon-Ngakak

Mohon maaf lahir bathin ya mbah. Mbahjoyo dan keluarga sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah. Maaf lama tak mampir, ane libur baca pas perut ane ndadak di bedel bu dokter 7 minggu lalu emoticon-Big Grin
Untung baca bagian andra putus pas dah selesai, galau teratasi emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 18:23
Kang mas andra ini loh..padahal paling aman kalo tidur bareng kak silvi..kan bisa asyik asyik...hahahaha..
Lanjutkan lagi mbah..
Keliling lagi..
emoticon-Hansip
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 18:34
Seprtinya arya tidak istirahat bahkan akan bekerja lgi meladeni napsunya tante silvy😁
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 18:50
Itu mata2 bego apa o on...udh tau ada polisi mlh nyamperin..kan masuk buihemoticon-Cape d...

Tengkyu mbah atas tempurnyaemoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 19:05
Mantap mbah,updateannya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 19:37
Pas bangun, udh dimulai acara'a nnti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 19:47
Ada yang harus dijelaskan dan dipertanggung jawabkan oleh 15 orang desa pelaku pembunuhan 20 thn yang lalu... Harus clear ini masalahnya... Berat... Beraaatt..... emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
31-05-2021 20:19
Andra Lebih takut Tante Silvy daripada ketemu Hantu,takut ketagihan kol Buntet ha.ha...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 241 dari 324
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia