(1) Tuhan Tengah Marah
Quote:
Mengapa ketika kukejar
Kau malah menghindar?
Lantas, ketika langkah berbalik arah
Kau malah hadir dan meminta jatah
Maaf, cinta itu telah lama koyak
Kau berlutut pun tetap 'kan kutolak
Dulu mungkin rasa itu sebanyak buih di lautan
Namun, sekarang biji zarrah pun terkalahkan
Bukan salahmu
Apalagi takdir dan waktu
Tetapi sebab hati yang tak lagi memberi tahta
Pada Dia, sang pencipta
Tuhan tengah marah
Sebab iman pun goyah
Engkau kuharapkan
Padahal tak tentu berakhir di pelaminan
(2) Ya, Allah ...
Quote:
Ya, Allah, jadikan Cintaku hanya tertuju kepada-Mu
Jadikan hatiku milik-Mu seutuhnya
Butakanlah hatiku dari fananya dunia
Ya, Allah, berikan aku sifat su'udzon terhadap diri sendiri
Namun, tanamkan dalam diriku sifat husnudzon terhadap-Mu
Ya, Allah, kenalkan aku dengan pedihnya uji-Mu
Tetapi jauhkan aku dari sakitnya kehilangan cinta-Mu
Sebab, tiada tempatku kembali selain pada-Mu
(3) Dear, Jodohku
D
Quote:
ear, Jodohku
Bagaimanapun rupamu
Kamu tetap menjadi rupa yang paling elok
Bagaimanapun kekuranganmu
Kamu tetap menjadi pelengkap kekuranganku
Bagaimanapun ketidakmampuanmu
Kamu tetap menjadi kemampuanku dalam ketidakmampuan
(4) Pemalas!
Quote:
Senja tenggelam
Hari menjelma malam
Gemintang bersiap sedia 'tuk hadirkan benderang
Namun sayang, langit lebih dulu mengunci gerbang
Suram
Muka bermuram
Impian yang dikejar menghilang
Lenyap, tiada harapan
Semut yang kecil pun mendaki gunung
Kerang yang tak punya kaki pun mengarungi lautan
Lalu mengapa makhluk sesempurnaku tak mampu berjalan?
Hanya bisa berdiam dalam keengganan
Pemalas!
(5) Selantun Doa, Tak Mampu Membayar Sebutir Keringat
Quote:
Dari kumandang adzan Ayah, kuterhanyut penuh harap
Dari senandung kasih Ibu, kuterbuai dalam lelap
Saban hari dirawat dua malaikat tak bersayap
Sayang, Prabu dan Rani-ku kini sebatas doa yang terucap
Duhai pintu Surgaku, 'kan ku langitkan kedua namamu
'Kan kubisikkan pada Sang Khalik betapa mulia jasa-karsamu
Aku tahu, selantun doa tak mampu mengganti sebutir keringatmu
Bahkan doa di setiap sembah sujudku dalam lima waktu
Ya Ilahi Rabbi, betapa nelangsa jiwa ini
Tafakur tak henti kulakoni
Sudikah Engkau mendengar curahan hati?
Sudikah Engkau menerima doa dari anak yang tak tahu diri?
Rabbigfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira
Penggalan doa yang tak putus kuuntaikan, wahai Dzat Yang Maha Esa
Namun, mampukah membayar segores luka yang kucipta di hati mereka?
Kuberserah, pasrah pada selantun doa
Titimangsa: Lombok Timur, 21 September 2019
Catatan kaki:
*Saban: Tiap (-tiap)
*Prabu: Raja
*Rani: Ratu
*Karsa: Daya, kekuatan, kehendak, niat
*Nelangsa: Sedih
*Tafakur: Renungan
*Rabbigfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shoghira: Doa untuk kedua orang tua
(6) Ibu, Cinta, Kasih dan Segalanya
Quote:
Aku, kecil dahulu
Ibu ceritakan sederet kisah para penerima wahyu
Ajarkanku satu-dua titik akhlak dan adab
Hingga membuatku menjadi anak beradab
Nasi, lauk kau saji dalam wadah
Menyuapi bibir yang tak pernah bertanya apakah kau lelah
Apakah kau tak lapar dan dahaga
Apakah masih tersisa makanan di balik tudung, tiada kukira
Kecilku berlalu
Tiada lagi tuturan kisah penyejuk kalbu
Tak lagi ingat balasan neraka anak durhaka
Kecil yang dulu manja, telah menjadi remaja pendosa
Ibu ... Torehan cinta dan kasih tak 'kan mampu kutandingi
Karena kasihmu sepanjang masa, sedang aku terbatasi
Ibu ... Berjuta maaf tiada menutupi luka di hatimu
Aku anakmu, tetapi berlaku bagai ratu, dan kau babu
Ibu ... Salahku pernah menyakiti tanpa mengobati
Salahku abaikan rasa sakit yang kau tanggung sendiri
Ibu ... Maaf atas ribuan tetes air mata
Dan terima kasih atas dekap hangat di kala nelangsa
Hari ini, esok dan nanti
Kau, dunia dan denyut nadiku
'Kan mencoba setulus hati mencintaimu
Seperti kau dulu, kini, hingga akhir waktu