Kaskus

Sports

  • Beranda
  • ...
  • Sports
  • TRAGEDI MÜNCHEN YANG MELENYAPKAN DAN MEMBANGKITKAN KEJAYAAN

AF31FRAvatar border
TS
AF31FR
TRAGEDI MÜNCHEN YANG MELENYAPKAN DAN MEMBANGKITKAN KEJAYAAN
TRAGEDI MÜNCHEN YANG MELENYAPKAN DAN MEMBANGKITKAN KEJAYAAN


Piala Juara Klub Eropa adalah sebuah kompetisi sepakbola bentukan Asosiasi Sepakbola Uni Eropa (UEFA) yang mulai digelar pada 1955–1956. Kompetisi yang dikemudian hari dikenal dengan nama Liga Juara UEFA itu khusus untuk diikuti klub-klub juara dari negara-negara yang berafiliasi dengan UEFA, Inggris salah satunya.


Namun, Chelsea FC selaku pemenang Divisi Pertama Liga Sepakbola 1954–1955 saat itu, ditolak keikutsertaannya oleh Liga Sepakbola Inggris (EFL), yang melihat turnamen tersebut sebagai gangguan bagi sepakbola domestik karena dianggap dapat merusak jadwal kompetisi mereka.


Musim 1955–1956 Divisi Pertama Liga Sepakbola dimenangkan oleh Manchester United FC. EFL pun kembali melarang partisipasi klub Inggris di Piala Juara Klub Eropa untuk 1956–1957. Tetapi, melalui bantuan Stanley Rous selaku ketua Asosiasi Sepakbola (FA), akhirnya Manchester United FC dapat memastikan menjadi tim Inggris pertama yang bermain di panggung Eropa, dan mengarungi kompetisi dengan mencapai babak semi-final setelah dikalahkan oleh wakil Spanyol, Real Madrid CF, yang di musim itu keluar menjadi juaranya.


Pelatih Manchester United FC saat itu adalah Matt Busby. Dirinya adalah 'legenda' Manchester City FC dan mantan pemain Liverpool FC yang datang pada tahun 1945 ketika klub tersebut tidak memiliki 'rumah' untuk tempat bermain sepakbola. Stadion Old Trafford saat itu sedang dalam kondisi hancur akibat ledakan bom Perang Dunia II, sehingga membutuhkan waktu hampir sepuluh tahun untuk melakukan perbaikan renovasi, dan kemudian menjadi "Theatre of Dreams".


Sama seperti proses perombakan stadion yang perlu waktu tidak sebentar, kesuksesan Matt Busby sebagai pelatih Manchester United FC pun tidak hadir secara instan. Tirai kejayaan mereka baru terbuka pada musim 1951–1952, saat sejumlah perubahan dilakukan, yang salah satunya menepikan pemain senior yang diganti dengan pemain junior berusia remaja.


Tim Manchester United FC sendiri saat itu belum dijuluki "The Red Devils". Ketika itu mereka dikenal dengan julukan The Heathens, merujuk dari nama dan asal mula klub ini. Tetapi, julukan itu juga merupakan ejekan dari supporter tim lawan karena dalam kamus, Heathens memiliki arti sebagai pembangkang Tuhan.


Pada akhirnya, karena diperkuat oleh banyak bakat-bakat muda menjelmakan mereka lebih dikenal sebagai "The Busby Babes", tentu saja sesuai dengan nama Matt Busby, pelatih mereka yang penuh inspirasi itu. Sebutan yang pertama kali dipopulerkan oleh Tom Jackson, seorang jurnalis Berita Malam Manchester (MEN), itu tidak lain karena skuat tim ini memiliki rata-rata umur pemainnya yang berusia 21 tahun.


Generasi The Busby Babes yang diperkuat pemain seperti Duncan Edwards dan Bobby Charlton ini terkenal tidak hanya karena muda dan berbakat, tetapi karena dibina klub sendiri dan dikembangkan oleh Matt Busby. Ketika mereka mempertahankan gelar juara liga di musim 1956–1957, semua pembicaraan di sepakbola Inggris saat itu adalah seputar bahwa The Busby Babes “bisa menjadi generasi terbesar sepanjang masa”. Bukan hanya untuk Manchester United FC, tetapi juga untuk Tim Nasional Inggris.


Keberhasilan mempertahankan gelar juara liga membawa mereka kembali berpartisipasi di Piala Juara Klub Eropa 1957–1958. Bagi Matt Busby sendiri, memenangkan kompetisi antar-klub Eropa ini di musim tersebut adalah sebuah cita-cita yang wajib diwujudkannya. Cita-citanya itu merupakan bentuk inspirasinya dari Real Madrid CF, klub yang saat itu dikenal sebagai kekuatan yang dominan di Eropa. Sebagai seorang visioner, Matt Busby merasa bahwa Manchester United FC butuh meraih juara Piala Eropa Klub Eropa untuk menciptakan gengsi selevel Real Madrid CF yang skuatnya waktu itu sama hebatnya dengan Manchester United FC.


Kiprah Manchester United FC di Piala Juara Klub Eropa 1957–1958 diawali dengan mengalahkan Shamrock Rovers FC (Republik Irlandia) di babak penyisihan, untuk selanjutnya menyingkirkan FK Dukla Praha (Cekoslowakia) di babak putaran pertama.


Langkah mereka lalu berlanjut dengan menghadapi FK Crvena Zvezda (Yugoslavia) di babak perempat-final. Setelah menang 2-1 dalam laga pertama yang digelar di kandang sendiri pada 14 Januari 1958, mereka akan melakoni laga kedua yang dilaksanakan di Beograd pada Rabu, 5 Februari 1958.


Untuk pulang pergi Manchester-Beograd, pihak klub memilih melakukan perjalanan udara dengan menyewa pesawat Airspeed AS-57 Ambassador Elizabethan dari maskapai British European Airways 609 untuk jarak tempuh 1.800 kilometer walau pesawat yang pertama kali diproduksi pada 1952 tersebut hanya mampu terbang maksimal sejauh 885 kilometer.


Perjalanan darat dan laut mungkin dapat dilakukan, tapi hal itu akan menghambat waktu dan jelas tidak efektif bagi Manchester United FC yang mesti bermain dua kali dalam tiga hari di satu pekan. Maka dari itu melakukan perjalanan udara adalah pilihan logis untuk mempersingkat waktu.


Tapi, banyak dari mereka yang tidak begitu senang naik pesawat karena tidak merasa aman saat berpergian lewat jalur udara, sebab kala itu pesawat masih tergolong baru digunakan sebagai transportasi komersial.
Apalagi beberapa waktu sebelumnya dalam penerbangan pulang dari Cekoslowakia setelah menghadapi FK Dukla Praha, insiden kabut lebat yang menutupi wilayah Inggris mengganggu keamanan skuat Manchester United FC sehingga terpaksa mendarat di Amsterdam, Belanda, dan pulang melalui jalur laut menggunakan kapal ferry dan melanjutkan perjalanan darat dengan kereta.


Walaupun begitu, perjalanan pesawat dari Bandara Internasional Manchester menuju Yugoslavia yang dikemudikan Kapten James Thain itu tetap dapat berlangsung dengan baik. Laga kedua FK Crvena Zvezda melawan Manchester United FC yang digelar di Stadion JNA itu juga berjalan sesuai jadwal dan rencana, dengan skor berakhir imbang 3-3 yang membuat skuat The Busby Babes unggul 4-5 secara agregat dan berhak melaju ke babak selanjutnya.


Suka cita ini pastinya dirayakan oleh seluruh skuat. Tapi, mereka tidak dapat berlama-lama merayakan keberhasilan tersebut, karena selanjutnya harus melakoni pertandingan kompetisi domestik pada beberapa hari berikutnya. Di Divisi Pertama Liga Sepakbola, tim ini memang sedang bersaing keras dalam upaya mereka untuk memenangkan gelar liga ke-3 secara berturut-turut. Karena apabila mereka bisa melakukannya, maka prestasi tersebut akan menjadi yang pertama kali dalam sejarah setelah lebih dari 20 tahun.


Untuk itulah, mereka harus segera pulang demi menghindari kelelahan karena jadwal yang begitu ketat. Pada hari Kamis, 6 Februari 1958, mereka bergegas untuk berangkat dalam perjalanan kembali ke Manchester dari Beograd.


Perjalanan balik itu sempat tertunda selama satu jam gara-gara paspor salah satu pemain, Johnny Berry, tertinggal di hotel. Namun, penerbangan pesawat untuk kembali ke Manchester yang kini dikemudikan Kopilot Kenneth Rayment, yang membawa para penumpang: pemain, pengurus tim, wartawan, pendukung, dan beberapa orang lainnya; yang masih bergembira dalam euforia keberhasilan lolos ke semi-final Piala Juara Klub Eropa 1957–1958, itu tetap bisa terlaksana dari Bandara Zemun, Beograd, Yugoslavia.


Setelah lepas landas dari Yugoslavia, pesawat kehabisan bahan bakar. Hal itu terjadi karena jenis pesawat yang ditumpangi tidak bisa menempuh perjalanan langsung dari Beograd ke Manchester. Mereka pun memilih mendarat untuk transit sementara di Bandara München-Riem, München, Jerman pada jam 13:15 GMT. Pada masa transit itu, situasi München sedang diliputi badai salju, yang membuat para penumpang menghabiskan waktu di sebuah bangunan yang memiliki kedai dan toko.


Dalam keadaan cuaca dingin di bawah 0 derajat selsius, dan landasan bandara yang dipenuhi dengan es, pada jam 14:19 GMT setelah mengisi bahan bakar, kapten dan kopilot berusaha menyiapkan pesawat untuk lepas landas guna melanjutkan penerbangan. Tapi, pada percobaan pertama ini keduanya mendapati gangguan karena adanya masalah pada boost pressure pesawat yang terpantau fluktuatif. Kondisi landasan pacu yang tertimbun bekuan es membuat kecepatan pesawat itu tidak berhasil mencapai kecepatan minimal untuk lepas landas, dan suara mesin yang terdengar aneh saat berakselerasi membuat segala kemungkinan hal sangat berbahaya, sehingga Kapten James Thain dan Kopilot Kenneth Rayment meminta izin kepada menara kontrol untuk mulai lepas landas lagi pada jam 14:31 GMT.


Di percobaan yang kedua, ternyata juga menghasilkan masalah. Karena campuran karburator yang berlebih menyebabkan pesawat melaju kelewat cepat ketika tenaga belum cukup untuk mengangkat pesawat.


Untuk mengatasi masalah tersebut, penumpang pun harus kembali turun ke ruang tunggu bandara, sementara kru pesawat mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat penumpang kembali ke ruang tunggu, salju mulai turun dengan lebat. Dengan cuaca yang tidak terlalu baik, sejumlah penumpang merasa jika penerbangan hari itu tidak bisa dilakukan dan kemungkinan baru dilanjutkan esok hari saat cuaca lebih baik.


Pada situasi yang tidak memungkinkan, otoritas bandara menyarankan untuk membatalkan penerbangan hari itu, mereka juga menawarkan ketersediaan untuk penginapan dan bantuan yang lebih detil agar pesawat bisa berfungsi dengan baik di keesokan hari. Tapi, Kapten James Thain yang merasa tidak menemukan sesuatu ganjil, menolak saran tersebut dengan alasan tidak ingin terlambat dari jadwal yang telah ditentukan, karena pada hari Sabtu, 8 Februari 1958 tim yang diangkutnya telah harus memainkan pertandingan lanjutan Divisi Pertama Liga Sepakbola melawan Wolverhampton Wanderers FC.


Jadi sekali lagi, percobaan ketiga dilakukan. Kapten punya teori dengan upaya seperti meningkatkan akselerasi, maka pesawat akan terangkat tepat di ujung landasan sepanjang dua kilometer itu. Dia percaya diri dengan keputusan tersebut dan yakin bahwa kali ini akan berhasil. Tapi, optimismenya tidak turut dibarengi oleh para penumpang yang mulai berpikir jika situasi itu mulai tidak beres, dan merasa khawatir saat dipanggil kembali untuk menaiki pesawat.


Setelah semua orang naik, kapten dan kopilot memulai percobaan ketiga pada jam 14:56 GMT dan perlahan bisa mengontrol pesawat meluncur dari lintasan. Semua berjalan dengan tenang walau pada kecepatan yang tidak normal. Tapi, saat hampir mencapai ujung landasan, pesawat mengalami gangguan pada penurunan kecepatan, yang membuat pesawat itu melenceng tak terarah sehingga tidak mungkin bagi kapten membatalkan lepas landas untuk ketiga kalinya.


Dengan kecepatan yang tak lagi terkendali, pada jam 15:04 GMT pesawat yang gagal terbang itu berujung tergelincir menabrak pagar bandara di ujung landasan, dan kecelakaan yang tidak terelakkan membuat pesawat itu turut menghantam pepohonan dan sebuah rumah tempat tinggal warga sekitar, sebelum kemudian meledak dan terbakar setelah menghujam sebuah pondok kayu yang di dalamnya terdapat tanki bahan bakar dan sebuah truk bermuatan bensin.


Saat proses penyelidikan, laporan yang disampaikan oleh pemerintah Jerman sepenuhnya menyalahkan kecelakaan itu disinyalir terjadi pada kesalahan pilot Kapten James Thain yang bersikukuh untuk tetap menerbangkan pesawat kendati cuaca buruk. Mereka juga mengaku telah menyelidiki dengan menemukan bekuan es setebal 8 sentimeter di sayap pesawat, yang mereka percaya adalah penyebab utama untuk tragedi itu.


Atas dasar masalah ini, otoritas bandara Jerman sempat mengambil tindakan hukum terhadap Kapten James Thain, sebagai satu-satunya pilot yang selamat dari kecelakaan tersebut. Mereka mengklaim kecerobohan dan kelalaiannya yang tidak memeriksa bagian sayap sebelum penerbangan yang membuat pesawat gagal mencapai kecepatan minimal untuk lepas landas.


Tetapi kemudian usai waktu panjang, pada Maret 1969, Kapten James Thein secara resmi bebas dari tuduhan itu setelah dalam investigasi lanjutan yang dilakukan pihak Inggris, para pakar penerbangan percaya bahwa es di sayap pesawat tidak bisa menurunkan kecepatan. Tapi sesuatu yang lain bisa. Yang menjadi penyebab sebenarnya kecelakaan itu didasarkan pada penurunan drastis kecepatan pesawat terbang dari 117 knot ke 105 knot, diketahui karena pesawat mengalami gangguan yang berawal pada roda yang terpeleset disebabkan oleh banyaknya genangan lumpur di landasan yang membuat laju pesawat saat upaya lepas landas tidak dalam kecepatan aman.


Dari kejadian itu, sebanyak 23 orang dari 44 orang penumpang beserta beberapa awak pesawat tewas dalam insiden mengerikan di hamparan hujan salju yang turun membadai tersebut. Saat penyelamatan darurat tiba dalam dua jam pencarian, didapati 20 orang, termasuk 7 pemain Manchester United FC (David Pegg, Eddie Colman, Geoff Bent, Liam Whelan, Mark Jones, Roger Byrne, Tommy Taylor), tewas di lokasi kecelakaan itu.


Para korban yang terluka dan masih bernyawa berusaha mengindari kebakaran dan mencari pertolongan dengan dibawa ke Rumah Sakit Rechts der Isar. Tetapi karena kondisi luka yang kritis, nyawa sebagian dari mereka tidak terselamatkan. Sementara mereka yang tak berdaya hanya bisa pasrah di dalam pesawat yang terbakar api yang mematikan raga. Korban ke-21 adalah Frank Swift, seorang jurnalis dan mantan penjaga gawang yang bermain dengan Matt Busby di Manchester City FC; dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.


Dalam evakuasi, Kapten James Thain adalah salah satu korban yang selamat. Dia menjadi tokoh penting pada upaya penyelamatan korban dengan meminta kru lain yang selamat untuk segera melakukan evakuasi sebelum terjadi ledakan yang lebih besar.


Apa yang dilihat Kapten James Thain setelah terbebas dari ruang kokpit adalah pemandangan yang menakutkan. Dia melihat api yang berkobar membakar sisi kanan pesawat yang berisikan bahan bakar 2.300 liter bensin, dan yang bisa dilakukannya adalah berusaha menjinakkan api menggunakan alat pemadam kebakaran darurat.


Kopilot Kenneth Rayment sendiri kondisinya sadar, namun dia terjebak di kursinya yang tertimpa puing-puing pesawat. Dalam situasi itu, atas permintaannya sendiri dia menyuruh Kapten James Thain pergi meninggalkannya. Kopilot Kenneth Rayment kemudian memang mampu diselamatkan dari kebakaran, tetapi lima pekan usai kejadian dia meninggal karena terlalu mengalami banyak luka dan masalah kerusakan otak.


Sementara itu di dalam kabin yang terbakar, Harry Gregg, penjaga gawang tim Manchester United FC, dalam sadar dia mengira dirinya telah mati. Saat itu dia merasakan darah mengalir di wajahnya dari kepala dan mengira kepalanya itu telah terpisah dari badannya. Harry Gregg lalu berinisiatif menyelamatkan dirinya sendiri, serta korban yang lain seperti Bobby Charlton dan Dennis Viollet yang terbaring tak sadarkan diri, juga dia menemukan Jackie Blanchflower yang saat itu kondisi bagian bawah lengan kanannya telah hampir sepenuhnya terputus.


Salah satu penggawa Manchester United FC, Kenny Morgans, menjadi di antara yang selamat. Dia ditemukan oleh wartawan Jerman yang hendak mengambil gambar di lokasi kejadian. Saat dijumpai dirinya sedang berjuang sendirian setelah terkubur puing-puing pesawat selama lima jam


Pemain lainnya yang selamat salah satunya Albert Scanlon yang tidak sadarkan diri bahkan hingga tiga pekan kemudian. Duncan Edwards, pemain bintang Manchester United FC saat itu, juga berhasil dievakuasi. Selama dua pekan perawatan dia sempat memiliki harapan melanjutkan hidup, tetapi kegagalan operasi ginjal membuatnya harus menyerah kepada maut.


Adapun Matt Busby kondisinya amat parah, bahkan dirinya didiagnosis harapan hidupnya tidak akan bertahan lama. Namun, melalui bermacam perawatan intensif yang panjang, dua bulan kemudian Matt Busby berhasil membaik meski dirinya sempat menderita traumatis hebat.


Nasib buruk terjadi pada Johnny Berry dan Jackie Blanchflower yang terpaksa pensiun dini karena tak lagi bisa berkarier sebagai pesepakbola akibat cedera serius yang menerpanya. Masing-masing dari mereka menderita patah tulang; siku, panggul, lengan, kaki, retak tulang; rahang dan tengkorak, dan adanya kerusakan yang parah terhadap ginjal yang membuat mereka tak mungkin melanjutkan karier dengan normal.


Kecelakaan itu tidak hanya menghilangkan nyawa para anggota tim, tetapi juga membuat keadaan tim menjadi hancur. Ada spekulasi bahwa klub akan bangkrut, namun di tengah segala kesulitan tersebut, tim tetap teguh ingin melanjutkan dan menyelesaikan seluruh kompetisi yang mereka ikuti. Asisten Matt Busby, Jimmy Murphy, yang tidak terlibat dalam penerbangan itu memiliki peran penting dalam upaya Manchester United FC bangkit dari bencana.


Meski sebenarnya saat itu Jimmy Murphy juga sedang sibuk mempersiapkan Tim Nasional Wales yang akan tampil di Piala Dunia FIFA 1958, dirinya segera menuju ke München untuk menemui rekan-rekannya yang selamat dari kecelakaan tersebut. Atas perintah langsung dari Matt Busby, Jimmy Murphy pun langsung bergerak untuk memperbaiki semuanya. Dia memperbaiki Manchester United FC dengan merekrut pemain dan staf-staf yang dibutuhkan untuk membuat tim itu kembali sebagaimana mestinya. Dengan pemain yang seadanya dan melakukan perekrutan skuat baru secara darurat, Manchester United FC dan Jimmy Murphy mampu melanjutkan kompetisi walau target yang dicanangkan pada musim itu tak dapat terwujud.


Saat semuanya kembali normal, meski trauma itu masih membekas di perasaan dan ingatan, tidak dapat dipungkiri jika tragedi tersebut adalah momentum bagi Manchester United FC untuk menciptakan sejarah kejayaan yang jauh lebih hebat dan menjadi klub terbaik.


Di masa setelah kejadian itu, Matt Busby yang menolak menyerah pada keadaan, kembali melanjutkan tugas manajerial untuk musim berikutnya. Dengan kegigihan dan semangat yang tidak berubah, dirinya membangun ulang kekuatan Manchester United FC dengan merekrut pemain seperti Albert Quixall, Denis Law, Maurice Setters, Noel Cantwell, Pad Crerand, dan mengorbitkan bakat akademi, George Best, yang disatukan bersama para penyintas tragedi yakni Bill Foulkes, Bobby Charlton, dan Harry Gregg.


Pada era ini, Matt Busby tidak melahirkan generasi baru The Busby Babes, namun sebaliknya dia menciptakan skuat terbaiknya yang kemudian dikenal dengan julukan The Red Devils. Julukan tersebut merupakan inspirasi dari Salford Rugby Club, sebuah klub rugbi yang juga berasal dari Manchester, yang dianggap memiliki kehebatan yang sama dengan Manchester United FC di dunia sepakbola.


Kehebatan klub tersebut ketika menjuarai suatu turnamen di Prancis-lah yang membuat Salford Rugby Club dijuluki sebagai Les Diables Rouges (The Red Devils) oleh jurnalis lokal Prancis.


Matt Busby yang mengetahui itu ternyata menyukainya. Dia merasa julukan tersebut bisa mengintimidasi mental tim lawan, dan menyatakan Manchester United FC juga harus dikenal sebagai "Setan Merah" karena mereka memiliki skuat yang hebat dan berpengalaman.


Dengan kekuatan yang baru dan mengandalkan 'United Trinity' pada diri Bobby Charlton, Denis Law, George Best sebagai tiga penyerang utama mereka berhasil memenangkan Piala FA pada musim 1962–1963 dan Divisi Pertama Liga Sepakbola di musim 1964–1965 dan 1966–1967.


Setelah meraih prestasi di kancah domestik, Manchester United FC juga mencapai semi-final Piala Juara Klub Eropa 1965–1966, dan era berakhir dengan puncak keberhasilan menjuarai Piala Juara Klub Eropa 1967–1968, usai mengalahkan klub besar Portugal, SL Benfica, dengan skor 4-1 di final.


TRAGEDI MÜNCHEN YANG MELENYAPKAN DAN MEMBANGKITKAN KEJAYAAN


***
Catatan: Awalnya penulis ingin merilis tulisan ini dalam 5 bagian cerita. Tetapi karena kendala keterbatasan waktu, diputuskan untuk hanya fokus menyusun tulisan ini terhadap kejadiannya saja.


Referensi/Sumber:


- Film "United" (2011)

- https://en.m.wikipedia.org/wiki/Hist...%E2%80%931969)

- https://en.m.wikipedia.org/wiki/Muni...h_air_disaster
Diubah oleh AF31FR 06-02-2021 18:10
gamingearAvatar border
tien212700Avatar border
tien212700 dan gamingear memberi reputasi
2
1.2K
9
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sports
Sports
KASKUS Official
24.3KThread17.4KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.