Kaskus

Story

EneskaAvatar border
TS
Eneska
Perempuan yang Lupa Asalnya
Perempuan yang Lupa Asalnya
Ilustrasi: ayoyogya.com

MALAM
ini tak seperti malam sebelumnya. Begitu dingin hingga tebalnya selimut Yanti tak mampu menahan hawa dingin yang menjarumi kulitnya. Yanti memang ingin tidur lebih awal karena esok pagi ingin mengadu nasib di ibu kota.
Seharian dia memilih-milih baju yang ingin dibawanya. Sebuah koper berwarna merah pemberian temannya dipenuhi baju dan peralatan kosmetik miliknya. Yanti mengikuti ajakan temannya itu mengadu nasib di Jakarta. Denok, itulah temannya yang sudah berhasil menjadi anak kota dengan ekonomi yang dibilang mapan dari sebelumnya. Menurut cerita Denok kepada Yanti, dia bekerja di sebuah rumah makan yang hanya buka malam hari. Bahkan setiap hari ada hiburan musik.
“Café?”
“Bukan! Hanya rumah makan biasa, namun cukup ramai. Banyak pelanggan yang datang bahkan hingga larut malam,” terang Denok kemarin sore.
Mendengar cerita Denok, Yanti pun setuju saat ditawari ikut ke ibukota, bekerja bersama Denok. Tak pelak, Yanti yang hidupnya serba kekurangan ingin merubah nasib. Ibunya hanya seorang buruh, yanti pun tak melanjutkan sekolah. Hanya sampai lulus SMP, karena ibunya tak mampu membiayai sekolahnya sejak ayah Yanti meninggal dua tahun lalu.
***
Pagi pun menyapa terminal, di mana tampak Yanti bersama Denok telah duduk di kursi bus yang akan membawanya ke ibu kota. Paling sebelum petang mereka sudah sampai tujuan, tempat Denok menetap di dekat warung yang diceritakannya.
Sekitar pukul 15.00 mereka sudah sampai tujuan. Denok pun telah memberi kamar untuk Yanti. Tempat tinggal Denok, tepatnya rumah kontrakan Denok, cukup luas. Ada 3 kamar, 3 kamar mandi, ruang tamu, dan sebuah ruangan dengan TV 21 inci.
Malam ini, Yanti berpakaian seperti arahan denok, diajaknya ia ke warung tempat Denok bekerja. Yanti bagai bidadari di malam itu, banyak pengunjung, terutama kaum laki-laki yang terpesona kecantikannya. Salah satu lelaki itu, Badrun, lajang dan berperawakan bak bintang film. Keduanya berkenalan dan asyik ngobrol di sudut warung yang cukup luas dengan musik organ tunggal yang mendendangkan lagu-lagu dangdut koplo atau lainnya.
“Nok, Yanti kuajak keluar dulu. Di sini terlalu bising!” kata Badrun setengah berteriak kepada Denok. Yang dipamiti hanya memberi isyarat “OK” dengan jari-jarinya.
“Sudahlah, kalau kalian sudah saling suka, tak perlu kejadian itu kamu sesali Yan,” kata Denok saat Yanti menangis lantaran mahkotanya telah direnggut Badrun malam itu.
“Tapi, Nok…”
“Sudahlah, anggap saja itu awal sukesmu Yan. Dulu pun aku juga begitu. Tapi semua sudah berlalu, yang penting sekarang uangku banyak. Warungku ramai, dan bisnisku lancar,” ujar Denok menenangkan Yanti.
***
Dua tahun berjalan, nama Yanti sekarang dikenal dengan sebutan Yeyen. Namanya semakin melejit, tak hanya di warung Denok, bahkan banyak lelaki yang mengajaknya ke tempat yang lebih glamour. Bahkan hotel berbintang pun sudah sering menjadi tempat tidur Yanti alias Yeyen bersama para lelaki berduit.
Rekening Yanti semakin gendut, wajahnya kini tak jauh dengan wajah selebritis yang sering nongol di acara infotainment di layar kaca. Yanti semakin jauh dari kemiskinan, bahkan mungkin dia sudah lupa dengan kehidupannya dua tahun lalu. Seperti dia lupa dengan ibunya yang sendirian di kampung. Jangankan uang, kabar pun tak pernah dia kirim ke ibunya.
Yanti sudah benar-benar lupa dengan ibunya, saudaranya, kampungnya. Bahkan dia semakin jauh dari Tuhannya. Yanti menjadi Yeyen, Yanti menjadi lupa, bahkan pada dirinya sendiri.
***
Beberapa lelaki tampak asyik bersendau gurau, tertawa, sambal menghisap rokok. Beberapa botol minuman keras ada di meja mereka. Yanti pun sudah terbiasa dengan minuman memabukkan seperti itu. Yanti benar-benar menjadi selebritis di kalangan mereka, kalangan orang-orang malam yang ada di sudut ibu kota.
Entah ke mana mereka berenam berpindah tempat dengan sebuah mobil mereka meluncur ke arah selatan. Hanya Yanti saja perempuan dalam mobil itu. Mobil meluncur meninggalkan keramaian malam ibu kota.
***
Hari berganti pagi, denok mencoba menghubungi Yanti. Namun tak ada jawaban, bahkan SMS, WA pun tak terbalas. Padahal malam ini ada seorang pengusaha yang hendak booking Yanti. Denok menunggu jawaban Yanti di ruang tengah. Betapa dongkol saat ada order, namun Yanti tak bisa dihubungi. Tidak seperti biasanya, Denok tetap menunggu sambil menikmati acara TV.
Tiba-tiba acara kesukaannya terpotong karena ada Breaking News. Berita tentang seorang perempuan yang meninggal di tepi rel kereta api dengan tubuh bagian bawah dan kakinya penuh darah.
Denok sangat hafal dengan perempuan itu meski hanya tampak tangannya saja karena wajah dan tubuh bagian bawah di-blur. Sebuah tanda lahir yang ada di lengan perempuan itu.
“Yanti!” teriak Denok kemudian, pingsan. Dia siuman di rumah sakit, Denok pun berteriak-teriak memanggil Yanti.
“Yanti….! Yanti….!”
Yang dipanggil tak lagi mendengar, namun sedang menjadi buah bibir warganet, menjadi sajian layar kaca, media online, juga media sosial. Perempuan yang lupa asalnya. (Eneska)



Diubah oleh Eneska 25-03-2021 12:35
bukhoriganAvatar border
tien212700Avatar border
tien212700 dan bukhorigan memberi reputasi
2
703
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.