Kaskus

Entertainment

fany1453Avatar border
TS
fany1453
Mending Pacaran atau Enggak, Ya?
Mending Pacaran atau Enggak, ya?

Pacaran

Mending Pacaran atau Enggak, Ya?
Penting atau gak sih pacaran itu, Gaes?

"Gaes ... Minta pendapatnya dong! Tapi jangan dibully, ya. Saya punya pacar udah berhubungan 38 bulan. Tapi pacarku tuh orangnya suka bohong. Sering chat cewek lain bahkan pernah jalan sama mantannya. Aku kesal. Tapi aku terus maafin dia karena dia gak mau aku putusin. Dan gak mungkin juga aku putusin karena hubunganku sudah lama aku pertahankan. Apa ya yang harus aku lakukan?"

Begitu kurang lebih salah satu curahan hati seorang remaja perempuan di sebuah grup remaja. Meski saya sudah bukan remaja, akan tetapi saya sangat suka untuk terjun ke dunia remaja.

Beberapa grup remaja saya ikuti demi mengetahui karakter mereka, hal yang sedang booming di antara mereka, atau mempelajari gaya komunikasi yang mereka lakukan. Ya, saya butuh pengetahuan itu untuk bekal mendidik anak sendiri jika mereka sudah remaja, juga menjadi bekal mendidik remaja yang merupakan adik mentor saya.

Hasil mengamati beberapa grup remaja, sebuah simpulan yang bisa saya tarik bahwasannya, tak ada beda karakter remaja zaman dulu dengan zaman sekarang secara signifikan. Yang berbeda hanyalah sarana atau objek dari karakter tersebut.

Misal, karakter seorang remaja adalah penuh semangat. Dulu atau sekarang, karakter itu masih menjadi karakter yang dominan. Meski, beberapa ya ada saja kasuistik remaja yang tak punya gairah atas apapun. Nolep istilah zaman sekarang.

Simpulan lain, bahwa permasalahan percintaan remaja menjadi bahan perbincangan yang paling banyak didengungkan. Sama saja sebenarnya kadarnya dengan zaman dulu. Meski zaman dulu tidak ramai di media sosial. Mungkin ramai di siaran radio dengan saling mengirimkan salam-salam. Namun jelas, masalah percintaan masih menjadi permasalahan utama bagi remaja.

Melalui grup-grup remaja yang saya ikuti, ada simpulan lain yang saya dapatkan. Sebenarnya, simpulan tersebut bukan hal yang baru bagi saya atau bagi kita semua. Yakni keberadaan simpulan tersebut menambah keyakinan saya akan kerusakan dan kerugian dalam pacaran.

Ya, puluhan curahan hati dari kaum remaja atau dewasa awal mengenai pacarnya yang begini dan begitu, tayang setiap harinya. Atau setidaknya, curahan hati akan tersanderanya perasaan akibat rasa rindu akan pasangannya yang sedang LDR, menghiasi dinding grup-grup tersebut.

Saya sebagai emak yang telah merasakan 'atmosfer' pernikahan dan drama rumah tangga, terkadang senyum sendiri membacanya. Bukan, bukan karena saya merasa lebih pintar. Saya hanya merasa lebih mujur. Bahkan saya merasa jika saya dulu tak mengkaji Islam secara benar, bisa jadi saya pun menjadi salah satu orang yang curhat seperti di atas.

Sebenarnya dari komentar yang muncul, sebagian besar dari remaja khususnya yang muslim tahu bahwa pacaran itu tak diperbolehkan dalam agama. Hanya saja, ada faktor lain yang mendorong mereka tetap berpacaran. Sebagaimana orang dewasa yang tahu dosa ghibah atau riba, namun masih senang melakukannya.

Adapun untuk kasus pacaran, kaum remaja melakukannya tanpa alasan yang kuat. Karena jika dikatakan untuk menjajaki hubungan sebelum pernikahan, maka sungguh sebagian besar dari mereka masih jauh dari niatan menikah. Terlebih, tak ada satupun penelitian yang menyatakan bahwa pacaran adalah jaminan kelanggengan berumah tangga. Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Indonesia, menyimpulkan bahwa kepuasan hubungan pernikahan yang diawali dengan proses TA'ARUF sesuai tuntunan Islam lebih memiliki nilai yang tinggi secara signifikan dibanding rumah tangga yang diawali oleh pacaran.

Mending Pacaran atau Enggak, Ya?
Hasil Penelitian Mengenai Kepuasan Berumahtangga

Nah, adapun alasan yang kedua adalah mereka berpacaran hanya untuk having fun. Sayangnya, pacaran itu bukan hanya menciptakan perasaan happy. Yang ada malah banyak perasaan merananya. Entah karena dikhianati, dibohongi, diselingkuhi, atau hanya sekadar menahan rasa rindu sebagaimana banyak berseliweran curhatan mereka sendiri.

Jadi, adakah sisi positif dari pacaran? Maka jika kita berpikir secara jernih, ternyata positifnya pacaran hampir tidak ada. Kalaupun ada, sungguh nilainya jauh sangat sedikit dibanding hal negatif yang menjadi dampaknya. Apalagi bagi seorang muslim.

Jadi, bagi adik-adik yang belum menikah, tak usah berpacaran dengan alasan mengenal satu sama lain. Karena bagi seorang muslim, syariat Islam telah menentukan jalannya. Apalagi yang hanya berniat untuk having fun. Sekali lagi, happy-nya hanya ilusi. Dan itu pun tak lebih karena hembusan setan yang menjadikan indah setiap kesesatan.

Bagi orang tua, yuk kita lebih dekat dengan anak kita. Jalankan fungsi utama kita sebagai pendidik mereka. Dekap erat mereka, didik dengan penuh kasih sayang sehingga kedekatan kita menjadi salah satu penghalang mereka untuk melakukan kemaksiyatan termasuk berpacaran.

Sumber gambar: Google
Referensi: Opini pribadi
0
756
7
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread108.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.