Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
14
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e1933eaf0bdb24ee2246d21/curiosity-kill-the-cat
Sinopsis Pada tahun 2009, persahabatan geng ‘Oriza’ jadi berantakan akibat sebuah tragedi. Sepuluh tahun kemudian, masing-masing dari mereka masih membawa luka dan kenangan masa lalu tersebut. Karena dalam beberapa kasus, masa lalu takkan pernah meninggalkan mereka, dan akan selalu menghantui. Prolog November 2009 Bulan November yang dingin dan mendung, terutama, hujan — terpanjang tahun ini
Lapor Hansip
11-01-2020 09:33

CURIOSITY KILL THE CAT

icon-verified-thread
CURIOSITY KILL THE CAT


Sinopsis

Pada tahun 2009, persahabatan geng ‘Oriza’jadi berantakan akibat sebuah tragedi. Sepuluh tahun kemudian, masing-masing dari mereka masih membawa luka dan kenangan masa lalu tersebut. Karena dalam beberapa kasus, masa lalu takkan pernah meninggalkan mereka, dan akan selalu menghantui.


Prolog


November 2009

Bulan November yang dingin dan mendung, terutama, hujan — terpanjang tahun ini. Matahari nyaris bersinar, malu-malu. Bahkan simbol kehangatan dan kehidupan pun gagal menunjukkan wajahnya. Semua keputusasaan dan kejahatan akhirnya menang, semudah itu.

Di atas tanah yang putus asa, sebuah upacara diadakan, dan berdiri secara berdekatan, beberapa orang dewasa dan anak-anak dalam pakaian serba hitam. Seperti konspirasi para gagak, mereka menyaksikan langsung mayat yang diseret ke pemakaman. Semua wajah tampak suram dan pucat. Mereka terlihat seperti tubuh tanpa jiwa yang siap untuk di kubur di dalam liang lahat itu.

Apa dia pantas hidup dalam kengerian seperti itu? Apa ia pantas mati seperti itu?

“Semoga jiwanya beristirahat dengan damai.” Mereka semua mengatakan hal yang sama pada mayat yang terbujur kaku di atas tanah, tetapi mereka tak pernah mengatakannya pada jiwa yang selamat dari semua kekacauan itu.

Apa secara nggak langsung, mereka nggak pernah yakin kalau manusia bisa menemukan kedamaian saat masih hidup? Hm...

Di antara jiwa-jiwa yang masih hidup itu, ada beberapa anak yang berdiri dalam kebisuan di tengah perkabungan, tiga anak gadis dan satu anak laki-laki: Jovanka, Amara, Mashel, dan Matteo. Tiga di antaranya berada di sekolah menengah dan yang termuda masih di sekolah dasar. Mereka terlalu muda untuk merasakan semua itu — untuk bersedih atas seorang teman, seorang kakak perempuan, dan mulai saat itu, persahabatan mereka tak akan pernah sama lagi.

Pada saat yang sama di tempat yang berbeda, sebuah koper di buka dan tumpukan demi tumpukan pakaian dan benda lainnya di lempar secara sembarangan ke dalam koper. Seorang pria muda menahan tangis dan ingusnya keluar, suasana itu sudah mengisi kekosongan kamar kecilnya, dan ikut serta menemani suara barang-barang yang dilemparkannya.

Setelah menahannya cukup lama, akhirnya dia tak dapat menahan kepedihan itu lagi. Kemudian, sebuah ratapan yang tak terelakkan mengaung, bergema di setiap sudut ruangan. Dia jatuh ke lantai sambil menangis di samping koper yang berantakan. Sewaktu dia menangis sendirian, suara teman terkasihnya menggema kembali dalam ingatannya, “Gavin, aku harap kamu nggak pernah merasakan kepedihan sepertiku.”

Aku nggak bisa tinggal di sini lebih lama lagi ... batin Gavin menjerit.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
CURIOSITY KILL THE CAT
11-01-2020 09:43
Bab 1


Januari 2019

Suara tembakan keras melesat di udara. Cahaya bertebaran, percikan api yang mengudara menyilaukan mata ke segala penjuru arah, menandakan puncak perayaan malam itu. Jeritan bahagia dan suara terompet pun bernyanyi di tengah-tengah langit malam yang telah berwarna-warnikan cahaya, asap, kebisingan, kegilaan ...

“Happy new year!” mereka bersorak.

Suasana jalanan pusat kota Singapura telah dibanjiri oleh emosi yang energik, dan masih menyisakan semangat yang membara di tengah malam itu. Segera, suara lonceng gereja mulai berdering, dan orkestra kecil pun mulai bermain mengiringi sekumpulan orang-orang yang menari sembarangan di jalanan, seperti menyediakan hiburan gratis bagi warga sekitar yang sedang menikmati malam perayaan tahun baru.
Tiba-tiba, layar TV di depannya berubah menjadi hitam. Jari manis Gavin meletakkan remote control itu di atas meja kopi, dan sebagai gantinya, segelas wine setengah kosong-setengah penuh ia dekatkan ke salah satu bibir merah yang sedikit menghitam. Gelas kaca di tangannya itu menyentuh bibirnya dengan lembut, membuatnya sedikit mabuk oleh setiap tetes kecil dari anggur merah itu. Tetapi tidak mampu memberikan efek yang kuat, sehingga Gavin masih dalam keadaan sadar akan realita.

Malahan sebaliknya, beberapa kenangan menikam langsung ingatannya. Semua inderanya mulai terbakar. Semua partikel kecil—seperti udara, suara yang teredam, partikel debu yang sangat halus, jam berdetak—mulai menusuk ke dalam hatinya yang sedang sensitif, sebab Gavin sedang duduk terlunglai di sofa, di depan televisi, sendirian.

“Selamat tahun baru, Gavin ...” Ia merintih pada dirinya sendiri dalam bahasa Indonesia. “Ya, gak nyangka sih ...,” dia bergumam lagi, dalam bahasa Indonesia. Gavin mencoba untuk menahan rasa ngantuknya. “Sudah 2019 ... 2000 ... Sembilan belas ... 2000 ... dan sembilan ... 2009 ... 2009 ...” Gavin berhenti. Dua alisnya tersentak, ia membuka lebar-lebar mata sayunya secara paksa. Dia mengamati gelas anggur yang masih terpaku di antara telapak tangan dan jarinya. Dengan sedikit jentikan yang ringan, cairan di dalam gelas itu berputar-putar. Dan berputar-putar lagi. Dan lagi. Akhirnya, Gavin meminum sisanya dan meletakkan gelas kaca itu di atas meja.

“2009 ...,” Gavin mengucapkannya sekali lagi. Sebuah desahan melarikan diri dari bibirnya saat ia memalingkan wajah ke jendela. Di luar, di pusat kota itu, ada banyak cahaya dari kembang api yang terlihat dari kejauhan. “... udah hampir sepuluh tahun sejak kejadian itu terjadi. Sepuluh tahun.”

Akhirnya, Gavin memejamkan matanya, dan dengan nyaman bersandar di bantalnya sembari menghirup napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diri dari efek alkohol yang sudah mulai membuatnya pusing. Di tengah malam yang meriah itu, Gavin Ardian malah tertidur sendirian di sebuah hotel di Singapura dengan satu kenangan tragis yang bersemayam di dalam otaknya yang sedang mabuk—kenangan di tahun 2009. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu dirayakan dengan meriah, kali ini sedikit berbeda.

Di sebuah kamar hotel yang pintunya setengah terbuka, dengan koper yang terbaring berantakan di samping tempat tidur. Dan di atas tempat tidurnya, ada sebuah kamera Polaroid, kamera DSLR, dan beberapa bagian kamera lainnya (lensa dan peralatannya).
Sebelumnya, ia tak pernah berencana mabuk sendirian di dalam kamarnya seperti itu, saat suasana di luar sedang meriah. Gavin masih punya pekerjaan yang harus dilakukan, dan ia malah mengabaikannya. Gavin bekerja untuk sebuah majalah di Singapura, dan tugasnya adalah mengambil foto perayaan tahun baru di sana untuk jurnal bulanan mereka. Tindakan gegabahnya itu sudah berdampak buruk pada reputasinya di tempat kerja. Dan begitulah yang terjadi.

“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?! Kita membutuhkan foto itu! Apa yang akan kita publikasikan sekarang?!” teriak bosnya pada Gavin setelah ia kembali dari Marina South, itu adalah satu-satunya tugasnya yang gagal.

“Maaf,” hanya itu yang bisa Gavin katakan.

“Kita mengirimmu ke Marina South – membayar biaya transportasi, hotel, dan semuanya — dan yang bisa kamu katakan hanya maaf? Tahun baru tidak datang dua kali dalam setahun, pikirkan itu!” teriakkan bosnya itu mengaung di dalam gendang telinganya.

Tak perlu dijabarkan lagi, itulah alasan mengapa Gavin bisa kehilangan pekerjaannya. Dan semua itu hanya gara-gara sebuah lukisan.
Pada malam tahun baru di Marina South, Gavin memutuskan untuk mengisi waktunya dengan berkeliaran di sekitar kota sembari mengambil beberapa foto. Dia memoto hal-hal kecil yang ada di sana: seperti seorang gadis dengan balon ungunya, sekelompok perawat yang sedang keluar dari rumah sakit, pasangan kekasih yang sedang bergandengan tangan, keluarga yang sedang makan bersama, dan buket bunga matahari di atas etalase toko bunga — semua kehidupan sehari-hari.

Gavin mencintai street photography. Sama seperti impresionis dan naturalis dari abad ke-19, ia menemukan keindahan dalam setiap adegan sederhana yang biasa dilakukan sehari-hari. Mereka semua sudah mengingatkannya pada sisi terang dalam kehidupan, itulah sebabnya mereka adalah subjek dalam seninya. Dan di Singapura, ada banyak inspirasi dan bahkan lebih banyak kesempatan.

Saat Gavin menyusuri jalanan berbatu dan gang sempit, ada sebuah museum seni yang kecil di salah satu kawasan kota tua di sana, dan bangunan itu sedang berdiri tegap di hadapannya, seolah memberikan sebuah isyarat pada Gavin untuk masuk ke dalamnya sambil melihat-lihat. Karena dia memiliki waktu yang cukup panjang selama malam tahun baru, Gavin pikir, kenapa nggak? Seorang seniman itu perlu mencari ide-ide dan inspirasi baru, dan belajar dari seniman lainnya pun termasuk ke dalam mencari sebuah inspirasi.
Dan karena hal itu, Gavin dengan senang hati menerima undangan alam tersebut.

Ada beberapa lukisan di galeri mungil itu, karya-karya yang cantik dan impresionistik, sebagian besar dari mereka merupakan gambar pemandangan dan alam, seperti tiruan dari Monet dan Renoir. Ketika ia bersantai sambil menikmati karya-karyanya, ada satu lukisan yang sudah menarik jiwanya. Sebuah lukisan kolam teratai di bawah langit yang cerah. Warna dan detailnya menggambarkan pemandangan yang tenang dengan langit biru dan angsa yang sedang mengapung malas di atas air. Di bagian bawahnya berjudul “Peace” atau dalam bahasa Indonesia, “Damai.”

Peace. Kata yang cukup akrab di telinganya.
Peace.
Peace ...
Rest in ... Peace

Seketika, sosok dan kenangan yang tak jelas mulai bermunculan di depan matanya: masa kecilnya, kota kelahirannya, teman-temannya, dan tragedi di tahun 2009. Air mata mulai menetes di pipinya saat Gavin berdiri di sana dalam keheningan selama beberapa menit dengan kata “kedamaian” yang berputar di kepalanya yang mulai pusing. Tiba-tiba Gavin merasakan mual di dalam perutnya yang keroncongan, seperti dunia sedang berputar lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Kehidupan pun ikut tersedot keluar dari jiwanya yang kelam, dan sisanya tenggelam oleh alkohol yang baru saja diminumnya.
2009 ...
2009 adalah tahun yang mengerikan.

Sudah sepuluh tahun Gavin mencoba untuk melupakan tahun terkutuk itu. Untuk apa dia sudah susah payah kabur ke Singapura? Mengapa juga dia harus bekerja begitu keras untuk belajar bahasa Inggris dan untuk apa juga dia harus capek-capek mempersiapkan portofolionya sewaktu di SMA? Semua itu dilakukannya agar bisa masuk ke sekolah seni di Singapura, dan jauh dari masa lalunya. Semua itu dilakukannya agar bisa memulai hidupnya dari awal lagi dan menjalani kehidupan baru. Semua itu Gavin lakukan agar bisa melupakan masa lalunya. Dan semua itu sudah dilakukannya selama lima tahunnya tinggal di Singapura.

Pikirannya mulai mengawang, karena keadaannya yang mabuk, Gavin mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apa sih yang aku lakuin di sini? Apa aku bahagia tinggal di sini?

Semakin Gavin menganalisa situasinya, semakin terlihat membingungkan. Mungkin saja, kondisinya sudah menjadi lebih baik atau malah lebih buruk. Di Singapura, Gavin bisa melakukan semua yang ia mau dan itu kelihatan keren. Walaupun karir Gavin baru seumur jagung, tetapi semuanya berjalan cukup baik, serta cukup produktif dan selalu mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam perjalanannya mengembara ke negeri asing, Gavin sudah bertemu dengan banyak orang hebat dan mengalami banyak hal besar. Bahkan semua foto hasil karyanya pun bisa menjadi sebuah bukti keberhasilannya.

Di permukaan, semuanya terlihat seperti fatamorgana, orang-orang mengira kalau hidupnya sudah mencapai titik kebahagiaan dan menyenangkan. Namun, sama seperti foto yang terpajang dalam bingkai artistik, ada sesuatu yang lain di belakang layar. Jauh di dalam kebahagiaannya yang terpancar, ada sebuah kekosongan dalam jiwanya yang lelah, dan tak bisa diisi oleh makanan, uang, wine ... karir, warna, dan bahkan keindahan paras wanita sekali pun ... Tidak ada yang bisa memenuhi kekosongan itu. Tetapi, kekosongan itu masih bisa disibukkan oleh banyaknya kegiatan. Gavin sudah berpapasan dengan semua peristiwa penting dan beberapa pameran foto, dia juga sudah mengambil hampir semua pekerjaan photo journalism yang tersedia di sana.

Gavin menciptakan seni dan foto yang menarik secara estetik untuk mengalihkan perhatiannya dari pikiran yang bisa mengoyak-ngoyak dirinya sendiri, ‘hal-hal positif’ secara ajaib akan dapat membuat hal-hal negatif, menghilang. Sejujurnya, Gavin memulai perjalanan panjang itu, untuk sengaja memisahkan diri dari semua orang yang pernah dipedulikannya. Gavin begitu bersemangat untuk menjauh dari masa lalu dan mengikuti mimpinya, dan ia sudah bertekad kuat untuk meninggalkan orang-orang yang dicintainya.

Penyesalan itu selalu muncul di dalam hatinya pada setiap malam tahun baru, Gavin akhirnya menyadari betapa kesepiannya ia dalam proses melarikan diri tersebut. Ketika titik terendah itu datang menyerangnya, ia selalu rindu pada kampung halamannya. Setelah kehilangan pekerjaannya, Gavin tiba-tiba membuat keputusan yang sangat terburu-buru. Dengan gegabah, ia memesan tiket penerbangan dan mengemas kopernya.

“Halo dan Selamat datang, ini adalah penerbangan Changi Airport menuju Soekarno-Hatta, Indonesia ...” Rumput tetangga tidak terlihat lebih hijau, kita semua sedang berhalusinasi. Gavin, 26 tahun, merenung saat ia menatap jendela pesawat. Di luar sudah terlihat landasan kosong dan beberapa rumput musim hujan. Dia mendesis dan menutup matanya. Goodbye Singapura. Aku akan pulang. Gavin tersenyum kecut.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
chisaa dan diadem01 memberi reputasi
2 0
2
CURIOSITY KILL THE CAT
11-01-2020 09:43
Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
11-01-2020 23:21
pertamax dulu baru baca emoticon-Traveller
profile-picture
feymega24 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
12-01-2020 03:17
BAB 2


Tiga belas tahun lalu: Agustus 2006

Pada musim kemarau 2006, Gavin yang berusia 13 tahun melangkah keluar dari mobil ayahnya dan berdiri di depan sebuah bangunan kuno yang dijaga oleh puluhan pot bunga dan rimbunan semak—tempat kakek-neneknya tinggal yang bisa juga disebut rumah. Mawar, bunga matahari, kembang sepatu, dan semua keindahan alam bersatu di sana.

Sederhana dan berwarna-warni — lebih cantik dari semua rumah di sekitarnya, pikir Gavin. Beberapa rumah tetangganya memiliki tanaman juga, tetapi rumah kakek-neneknya yang paling mencolok di seluruh kampung. Tidak, mereka tidak menjual bunga-bunga itu, walaupun mereka kelihatan seperti sedang menjalankan sebuah usaha toko bunga sekali pun.

Bunga matahari tampak sangat bersahabat bagi Gavin, karena warnanya yang cerah seperti sinar matahari yang sedang menyambutnya, saat ia melangkah masuk ke gerbang. Dengan sangat sopan Gavin menyapa tanaman itu dengan senyumnya yang merekah, lalu masuk menuju ke rumah kakek-neneknya.

“Gavin!” kedua pasangan tua di rumah itu berseru setelah melihatnya. Gavin langsung berlari ke dalam dan memberi mereka pelukan paling hangat yang dapat dihasilkan oleh lengan kecilnya. Setelah membawa semua barang bawaan ke dalam ruangan kecil yang berada di paling pojok rumah, ayahnya menyeka keringat di dahi Gavin. “Ya, udah beres semuanya.” Ayahnya kemudian menepis kepala Gavin, pelan. Lalu membungkuk untuk menatap langsung ke dalam mata Gavin. “Jangan nakal, oke?”

“Gavin gak akan nakal, ayah.”

“Inget apa yang ayah bilang soal junk food?”

Gavin mendesis dan memutar bola matanya. “Nggak boleh makan junk food ...”

“Dan sayuran?”

“Makan sayuran yang banyak ...,” ia bergumam tanpa antusiasme.

“Janji dulu sama ayah?”

“Iya, Gavin janji ...”

“Anak baik. Ayah pasti kangen sama kamu, nak. Tapi, jangan khawatir, soalnya ibu, kakak dan ayah bakal sering jenguk ke sini.” Setelah satu pelukan terakhir, ayahnya berjalan keluar, menuju mobil, setelah mengucapkan selamat tinggal pada Gavin dan kakek-neneknya. “Jaga diri baik-baik, dan jangan sampai sakit lagi, oke?”

“Oke... Oke... Jangan khawatir soal Gavin, yah.”

“Dadah, Gavin!”

“Dah, ayah.”


Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
chisaa dan diadem01 memberi reputasi
2 0
2
CURIOSITY KILL THE CAT
12-01-2020 03:19
Saat Gavin masih kecil, ia termasuk seorang anak yang lemah dan sering sakit-sakitan. Sangat mudah untuk menyalahkan junk food, kebiasaan buruk dan banyak faktor lainnya, tetapi dia sudah terlahir seperti itu. Gavin emang sering sakit, tetapi ia tak pernah merasa terganggu, beda dengan orang tuanya.

Parahnya, pada usia 12 tahun, Gavin mendapat penyakit yang mengerikan: tuberkulosis. Itu adalah penyakit mematikan bagi anak seusianya, dan untuk anak seperti Gavin, penyakit itu membuatnya hampir kehilangan nyawanya — hampir. Setelah berbulan-bulan dirawat oleh dokter dan minum obat-obatan yang rasanya pahit, anak itu berhasil keluar dari rasa sakitnya, alias sembuh.

Orang tuanya masih khawatir mengenai hal itu, sehingga mereka memindahkannya ke pedesaan, ke sebuah desa kecil bernama Subang (Bandung Barat) di tempat kakek-neneknya tinggal, untuk memberinya perubahan gaya hidup. Mengurangi polusi, mengurangi makanan tak sehat, mengurangi nonton televisi, tidak ada video game, dan udaranya pun lebih segar dan tentu saja; sayuran. Itu bukan sesuatu yang awalnya Gavin bisa terima dengan mudah, tetapi dia tak bisa melawan keinginan orang tuanya, yang mereka inginkan adalah Gavin yang lebih sehat. Meskipun semua itu merupakan perubahan yang sangat drastis, Gavin tipe anak yang mudah untuk diberi kesenangan.

Saat ayahnya pergi, kakeknya langsung memberikannya kasih sayang yang melimpah. “Jadi, Gavin, gimana kalau kita makan es kacang merah, ya?” Es kacang merah — dessert ciri khas Indonesia yang terbuat dari es serut dengan kacang merah sebagai topping andalannya. Yap, hanya dengan satu pertanyaan itu, Gavin yakin kalau dia bakal betah tinggal di sana. Makanan penutup apa pun dengan mudah dapat memenangkan hati Gavin. Dengan hanya satu gigitan es, ia sudah bisa melupakan panasnya cuaca tanpa AC itu. Tetapi, Subang tidak sepanas ibu kota, cuaca di sana masih sangat sejuk.

Cantiknya bunga-bunga dan es kacang merah? Tempat ini lebih baik dari dugaanku selama ini! riang Gavin, menyeringai.
Namun, modul kemping bahagia itu tak berlangsung lama. Sehari kemudian, ia menyadari bahwa kehidupan di desa tidak sepenuhnya romantis. Selama 3 hari pertama di rumah kakek-neneknya, Gavin harus kreatif dan berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Mereka jarang sekali menyalakan televisi, ada kurang dari 5 saluran yang tertangkap oleh antena di sana dan kakek-neneknya tidak memiliki DVD player, dan juga benda itu hanya tergeletak di salah satu sudut ruangan, sesekali dibersihkan oleh neneknya.

Rumah itu juga cukup kecil, jadi Gavin hanya bisa bermain di sekitar kamarnya sendiri, kamar kakek-neneknya atau di ruang tamu yang kosong. Kamar mandi dan dapur, bukan tempat bermain yang bagus. Hal buruk semacam itu menjadi lebih dan lebih jelas seiring berjalannya waktu, tempat itu sungguh membosankan. Gimana orang-orang di sini bisa menghibur dirinya tanpa adanya teknologi? Bicara dengan tanaman? Gavin tak keberatan untuk mengobrol dengan tanaman, tetapi mereka semua itu bisu.

Satu-satunya hal yang bisa menghibur kakek-neneknya hanya radio. Karena mereka selalu mendengarkan radio hampir setiap hari, Gavin rasa ia harus ikut menikmatinya juga. Di depan teras rumah, Gavin bernyanyi dan bersenandung nyaring untuk lagu-lagu klasik, dan akan tertidur di atas sebuah meja kayu yang ukurannya lumayan panjang sambil mendengarkan balada streaming melalui frekwensi benda itu. Suatu sore, ketika Gavin sedang duduk di pekarangan rumah sambil menyanyikan lagu secara acak, ia mengerang keras dan terdengar sampai ke dalam rumah. Semua nada-nada di dalam lagu itu tidak cocok dengan selera Gavin.

“Gavin gak apa-apa, kan?” neneknya bertanya.

“Gavin bosen, nek.” Anak baik itu jarang mengeluh, tetapi sulit untuk menahan rasa frustrasi dari kebosanannya pada situasi seperti itu.
“Gavin boleh kok main di luar beres makan es kacang? Itu bakal jadi olahraga yang bagus buat kamu juga. Ada beberapa anak yang tinggal di sekitaran sini. Gavin, mungkin, bisa ketemu sama mereka di sana.”

Mengikuti nasihat neneknya, selesai makan es kacang, Gavin berpamitan pada orang-orang di rumah untuk petualangannya yang pertama. Mendengarkan baik-baik setiap suara yang dihasilkan di sekitarnya, Gavin berkeliaran di jalanan kecil di sisi hutan terdekat di ujung jalan sambil bersenandung yang lagunya ia karang sendiri, dadakan. Menuruni tumpukan batu di lereng, perlahan-lahan ia bergerak selangkah demi selangkah, batu demi batu, ia melangkah dengan hati-hati supaya tidak tersandung dan jatuh. Akan menjadi sebuah musibah kalau ia terjatuh di tempat sepi yang terpencil itu, tempat yang terselubung oleh pohon-pohon yang menjulang.

Dengan setiap langkah yang Gavin ambil dan dibarengi oleh suara katak yang terdengar sangat nyaring dan bebunyian jangkrik yang tak kalah nyaringnya, sementara batu-batu besar mendominasi simfoni nyanyian hutan itu. Akhirnya, ia melompat dari tangga berbatu dan mendarat di tanah yang berumput.

Setelah melihat ke atas, Gavin melihat sesuatu yang membuatnya terpesona. Jauh di ujung sana, ada sesuatu yang bersinar dan berkilauan — warna biru dari cahaya yang terpantul di permukaan air.

Air yang berkilauan dan terus berkilauan di bawah matahari musim panas, mirip dengan segelas limun yang menyegarkan. Semua itu memberi Gavin isyarat untuk mendekat lebih jauh lagi, mengundangnya untuk menyelam ke dalam dunia keajaiban yang membiru.

“Wow ... tempat apaan nih? Nenek sama kakek kok gak pernah bilang apa-apa soal tempat ini ...” Gavin terus melangkah, menerobos rumput liar tanpa berkedip atau memalingkan pandangan matanya dari air di sana. Hatinya yang masih muda berdetak dengan kegembiraan dan kekaguman yang meluap-luap, Gavin mengira kalau ia sudah menemukan tempat yang paling indah di bumi. Panas terik dan semua serangga berisik yang menjengkelkan di sana pun pelan-pelan memudar seolah tak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting dari kumpulan air di tengah-tengah hutan itu. Gavin sudah jatuh cinta pada pandangan pertamanya. Pada hari itu, Gavin telah memutuskan kalau tempat itu akan menjadi tempat favoritnya.

Ketika ia melayangkan kedua tangannya ke udara, menyatu dengan angin di tempat antah berantah itu, Gavin mulai menyadari kalau ia tak sendirian di tempat itu. Tepat di hadapannya, ada orang lain yang juga datang ke sana.

Ada seorang gadis yang sedang berdiri di atas bebatuan besar di tepi danau. Gadis itu lebih tinggi dari Gavin dan sepertinya beberapa tahun lebih tua darinya. Gadis itu kurus, sosok remaja dengan rambut panjang nan lembutnya yang menari-nari tersibak oleh angin. Gadis itu berdiri sembari melihat ke arah danau yang berkilau dengan mempesona, matanya seolah-olah sedang merindukan sesuatu, jiwa gadis itu seperti sudah meninggalkan tempat itu dan menyapu angin musim panas sampai ke sisi lain danau. Cara gadis itu menatap nanar ke arah danau, terlihat seperti sebuah bingkai lukisan yang menghantam imajinasi Gavin, membuat gadis itu terlihat aneh. Tetapi, menakjubkan pada saat yang bersamaan.

“Hm. Hai,” Gavin menyapa gadis itu sembari menatapnya takjub, helai demi helai rambut hitam panjang nan lembut gadis itu bergoyang diterpa angin musim panas.

Gadis itu berbalik untuk melihat siapa orang yang telah menyapanya. Bahu gadis itu sedikit terangkat, seolah-olah tak mengharapkan ada siapa pun yang datang ke situ. Ketika ia melihat Gavin di belakang pohon kesemek yang batangnya bengkok, gadis itu tak mengatakan apa pun, dan hanya menatap Gavin dengan tatapan aneh, menganggap bocah laki-laki itu seperti fenomena hutan yang tidak biasa.
Gavin melangkah naik ke bebatuan disebelahnya dan melompat ke tempat berdebu di sana, untuk mendekati gadis itu. Ketika sudah cukup dekat, gadis yang lebih tua itu terus menundukkan kepalanya ke bawah. Saat itu, rambut Gavin masih plontos. Keringat membasahi seluruh wajah dan leher Gavin. Bocah laki-laki itu tampak agak konyol, tetapi untuk anak kecil yang senang berpetualang di luar rumah, menurut Gavin, penampilan tidak terlalu penting.

“Siapa kamu?” gadis yang lebih tua bertanya. Gadis itu memiringkan kepalanya ke samping dan dengan rasa penasarannya, ia mengaitkan matanya pada mata Gavin seperti seekor burung gagak yang sedang memeriksa sepotong batu yang berkilauan.

Ketika Gavin merasa sudah punya cukup keberanian untuk membuat kontak mata pada gadis itu, bocah laki-laki itu terkagum pada wajah porselen gadis di depannya, dan di dalam mata gadis itu, ada binar kecokelatan yang ekspresif—bulat dan manis seperti seekor anak kucing, tetapi di sisi lain, binar itu juga seperti misteri dan rasa yang melankolis. Gadis ini sangat cantik, Gavin pikir. Aku belum pernah melihat gadis secantik ini ...

“Aku Gavin Ardian.”

“Ah ... tetangga baru di sebelah rumahku,” gadis itu bergumam pada dirinya sendiri.

Gavin mendengarnya. “Kamu udah tahu soal aku?”

“Ini desa yang cukup kecil. Jalanan di sini bahkan lebih kecil. Rumah bunga, kan?” gadis itu berbicara dengan lembut dan kalimatnya terlalu singkat.

“Kok bisa tahu? Aku baru aja pindah ke sini tiga hari yang lalu,” ujar Gavin.

“Aku tinggal di sebelah. Kakekmu memanggil namamu dengan cukup keras. Aku nggak sengaja sering mendengarnya. Dan aku juga suka denger kamu nyanyi.”

“Oh ya, haha ... Aku suka menyanyi.” Memalukan kalau tahu tetangga bisa mendengarnya. Gavin tak pernah mengira suaranya terdengar senyaring itu. “Mereka bilang aku punya bakat bernyanyi dari ayahku ...” Kemudian, keheningan yang sangat canggung menyelimuti mereka. Bahkan suara-suara burung Cumiik pun tidak bisa membunuh semua kecanggungan itu. Jadi, Gavin bertanya, “Jadi, siapa namamu?”

“Almeera.”

“Cuma Almeera aja?”

“Cuma itu.”

Ah, oke. Sedikit ketus sikap Almeera, untung cantik, batin Gavin. “Senang bertemu denganmu, Kak Almeera,” kata Gavin dengan senyum alami yang paling manis. Gavin sangat senang bertemu teman dari lingkungan yang sama, ia ingin cepat-cepat menjadikan Almeera temannya. Gavin belum mempunyai teman dan Almeera bisa menjadi teman pertamanya di sana. Ditambah, Almeera juga sangat cantik. Itu sebabnya senyum besar terpampang di wajah Gavin.

“Kamu lahir di mana?” tanya Almeera.

“Bandung.”

“Cukup kaku untuk seorang yang lahir di Bandung. Kamu pasti nggak lancar pakai bahasa Sunda, kan?” Alis Almeera terangkat. Untuk seorang yang baru Gavin kenal barusan, Almeera sudah menebaknya dengan tepat. Gavin memang tidak terbiasa memakai bahasa Sunda. Keluarga, teman sekolahnya dulu, bahkan guru-gurunya, jarang sekali memakai bahasa itu.

“Aku lancar kok kalau pakai bahasa Indonesia.”

Gadis yang lebih tua itu hanya tertawa. “Apa yang kamu lakuin di sini? Apa kakek atau nenekmu gak akan nyariin?”

“Kayanya sih nggak.” Gavin dengan santai menggelengkan kepalanya. “Mereka nggak akan nyariin, karena aku udah izin mau main di luar.”

“Dan kamu lagi bermain di sini?”

“Aku suka menjelajah.”

Dilihat dari ekspresi Almeera, ia terdengar kaget oleh sikap Gavin kecil. “Nah, Gavin, mulai sekarang, kamu harus lebih hati-hati. Kalau kamu gak mau tersesat di sini.”

“Gak apa-apa, Kak Almeera, aku udah tahu jalan pulang kok. Aku bisa melacak arah jalan keluar.” Gavin menunjuk ke arah jejak kecil yang tersembunyi di antara pepohonan, lalu kembali ke Almeera. “Apa yang lagi kamu lakuin di sini?”

Almeera mengangkat bahunya. “Nggak melakukan apa pun.”

“Cuma liatin danau dan nggak ngapa-ngapain lagi?” Gavin punya banyak pertanyaan.

“Aku, hmm ... kurasa ... ya,” Almeera berkata seolah-olah malu untuk mengakuinya.

“Di sini sangat indah.” Gavin memandang ke arah danau yang berkilauan, cahaya di matanya menari dengan gerakan lembut riak airnya. Meskipun Bandung memiliki beberapa danau dan itu merupakan pemandangan yang indah juga, tetapi pemandangan alam yang belum terjamah teknologi dari pedesaan itu memiliki pesona yang unik. Langit dan perairan tampak lebih biru, dan rumput lebih hijau.

“Itu pasti.” Senyum simpul terbentuk di wajah Almeera saat ia melihat ke arah anak kecil yang penuh dengan kekaguman di sampingnya itu. Almeera kembali ke tempatnya sambil mendesah dengan berat hati.

“Kak Almeera nggak apa-apa, kan?” Gavin mungkin sudah bisa membaca suasana hati yang cukup melankolis dari sosok gadis remaja itu. Terlihat ada yang janggal di dalam ekspresi Almeera. Pemandangan yang indah seperti ini tak mungkin membuat gadis itu mendesah dengan begitu menyedihkan.

Dalam sekejap, Almeera tersenyum sedikit lebih lebar dan membawa tubuhnya untuk menghadap ke anak yang lebih kecil itu lagi. “Aku nggak apa-apa kok.”

“Apa kamu yakin?” Gavin terus menatapnya. Gadis yang lebih tua itu mulai terlihat sedikit tidak nyaman.

“Kemarilah, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Almeera tiba-tiba meraih tangan Gavin dan menariknya melalui rerumputan dan semak yang sedikit rendah di sana.

“Kemana?”

Almeera tidak mengatakan apa-apa. Mereka berdua perlahan-lahan memanjat lereng yang agak curam, sampai akhirnya mereka telah mencapai area yang lebih luas dan lebih tinggi. Saat Gavin berbalik, ia tercengang. Di daerah yang sedikit lebih tinggi itu, bahkan pemandangan air danaunya lebih menakjubkan. Tidak seperti sebelumnya, bunga teratai yang bermekaran terlihat jelas dari tempat mereka berdiri tersebut — sekitar ratusan dari mereka meringkuk seperti angsa dengan kepala seperti bayi angsa – merah muda dan badan hijaunya mengambang di bagian air yang lebih dangkal.

“Cantik, kan?”

“Oh ya, kak, mereka sangat cantik!”

“Kalau kamu lihat ke sana,” Almeera menunjuk ke arah pegunungan di sisi lain danau, “kamu bisa lihat jalan pegunungan dan bukit yang nggak ada habisnya, dan kamu juga bisa lihat pantulan pegunungan yang terbalik di atas air.” Itu benar. Di bawah langit biru yang lebar terlihat siluet biru dan hijau pegunungan yang tinggi dan juga rendah, sejauh mata bisa memandang. Dan tepat di bawahnya ada pemandangan yang serupa terputar 180 derajat seperti cermin di atas perairan, sedikit buram oleh gerakan cahaya air. “Wow...”
“Itu alasan kenapa danau ini disebut Danau Eunteung, karena mirip kaya cermin. Kalau kamu ngerasa danau itu cantik di siang hari kaya gini, kamu salah besar. Danau itu bahkan lebih cantik saat matahari terbenam,” Almeera memberitahu Gavin dengan serius. Eunteung berarti cermin dalam bahasa Sunda.

“Apa kamu sering datang ke sini, Kak?”

“Aku mencoba untuk datang ke sini sesering mungkin.”

“Pasti seneng deh bisa ngeliat pemandangan kaya gini lebih sering,” kata Gavin saat ia menatap serius pemandangan di depannya itu, dan mencoba untuk mengukir semuanya di dalam benaknya. Semua itu terlalu indah untuk diabaikan. “Kayanya aku bakal sering-sering dateng ke sini deh.”

Almeera terkekeh, menunjukkan senyum manisnya, sementara Gavin menyisir rambut tipisnya dengan jari. “Lakuin apa aja yang kamu mau,” kata Almeera begitu lembut, hampir seperti bisikan. Suaranya terdengar dingin dan menenangkan di telinga Gavin — tipe suara yang mungkin akan menenangkan bahkan di depan jiwa yang paling terguncang sekali pun. Suara Almeera begitu menyejukkan dan bisa menyamai kelemahlembutan matanya yang dalam. Gavin merasa sedikit malu tanpa alasan.

“Kadang nih, kalau aku lagi di sini, aku suka ngebayangin apa sih yang ada di belantara hutan sana — apa sama seperti jaman purba,” kata Almeera lembut sambil meringis, lalu turun sedikit dari posisinya yang semula untuk duduk di atas batu. “Sebuah desa yang berbeda, dunia yang berbeda, kehidupan yang berbeda ... Siapa tahu? Semuanya mungkin, dan mungkin aja sesuatu yang besar sedang terjadi di dalam sana. Sebuah dunia yang nggak berujung.”

“Mungkin, Dinosaurus?” Gavin meringis saat ia duduk di sampingnya, berpikir tentang segala ‘kemungkinan’ yang ada.

Almeera meratap. “Aku harap sih bukan itu.”

Gavin tertawa, ia sudah mengetahui bahwa dinosaurus tak mungkin ada di pegunungan tersebut, tak peduli seberapa keren itu terdengar ditelinganya. “Lalu apa yang kamu bayangin, Kak?”

“Apa pun yang nggak menakutkan. Nggak ada dinosaurus.” Untuk sesaat, Almeera terdengar ceria, tetapi ekspreksi tersebut berubah kembali menjadi ekspreksi sedih seperti sebelumnya. “Tapi kamu tahu apa yang mereka sering bilang, kan? Kalau rumput selalu tampak lebih hijau di tempat tetangga ... Mungkin ada dinosaurus atau makhluk menakutkan lainnya di dalam sana, tapi aku nggak pengen mikirin hal buruk kaya gitu. Berpikir positif juga merupakan anugerah ...”

“Mungkin aja.” Jawab Gavin santai.

Lalu Almeera menambahkannya dengan bisikan yang lebih lembut, “ ... meskipun terkadang hal baik itu mungkin nggak ada ...” Jujur saja, Gavin tak tahu bagaimana merespon kalimat tersebut. Gadis remaja itu lalu mengubah topiknya. “Jadi, kalau kamu dari Bandung, kenapa jauh-jauh pindah ke sini?”

Gavin kemudian bercerita tentang kesehatannya yang pernah lemah dan ide ayahnya soal menjalani gaya hidup sehat di pedesaan.
“Huh.” Gadis yang lebih tua itu seperti mengejek penjelasan Gavin, seolah-olah penjelasan itu terdengar sangat aneh untuk dijadikan alasan ayahnya memindahkan Gavin ke desa terpencil seperti itu.

“Kenapa?” Gavin bertanya, tak yakin kenapa Almeera mengejek apa yang baru saja dijelaskannya mengenai kondisi kesehatannya yang lemah.

“Apa?” sekarang Almeera bertindak seperti ia tak pernah mengejek Gavin.

“Kamu tadi ngomong, 'huh’.” Gavin memberikan contoh.

Almeera menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa kok.”

“Oke ...” Jika kakak misterius ini bersikeras bahwa itu bukan apa-apa, maka Gavin harus mengabaikannya. Ia tidak ingin memprovokasi gadis itu.

Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
12-01-2020 03:19
Almeera menghabiskan seluruh sore itu dengan tidak melakukan apa pun lagi. Gavin muda merasa lebih bahagia hari itu, meskipun mereka hanya berjalan-jalan lambat dan duduk di bebatuan tanpa berbuat banyak hal. Dan meskipun gadis yang lebih tua itu tak pernah mengatakan apa pun lagi, Gavin merasa kalau teman barunya itu, juga merasa nyaman akan kehadirannya. Atau setidaknya itu yang Gavin percaya. Ketika sudah waktunya untuk Gavin pulang sebelum matahari terbenam, mereka berdua berjalan bersama dan kembali ke jalan kecil yang sudah mereka lewati sebelumnya.

“Kak, kamu bakal dateng lagi ke Danau Eunteung nggak besok?” Gavin dengan malu-malu bertanya sewaktu mereka berdiri di depan rumah masing-masing. Gavin merasa sangat nyaman dan ingin bertemu dengannya lagi. Disamping itu, mereka juga tetanggaan. Beberapa menit berlalu, Almeera hanya melihat ke bawah. Gadis itu tampak sedang merenungkan jawabannya. Gavin juga berhenti berjalan dan mendongak untuk memenuhi pandangannya pada gadis di sampingnya. “Gimana?” tanya Gavin lagi, kali ini lebih hati-hati.

Setelah menatap Gavin sambil melamun selama tiga detik, Almeera memberinya jawaban yang berbeda dari apa yang sudah Gavin prediksikan. “Aku nggak tahu.”

Alis Gavin terangkat. “Apa itu maksudnya?”

Almeera menatap langit dan kemudian pandangannya turun ke rumahnya, di samping rumah kakek-nenek Gavin. Dibandingkan dengan rumah bunga yang Gavin tempati sekarang, rumah Almeera jauh lebih gelap, jauh berbeda. Tak ada tanaman menghiasi jalannya dan pagarnya juga lebih tinggi, sehingga sulit untuk melihat apa yang ada di dalamnya, dan juga tampak lebih sunyi. Dari rumah Gavin, mereka bisa mendengar nyanyian-nyanyian lembut bermain melalui radio yang sengaja dinyalakan sepanjang hari dan ketukan samar dari bunyi pisau dapur pada papan pemotongan. Dari rumah Almeera, semuanya terdengar sepi, seolah-olah tak ada yang tinggal di sana. Rasanya agak aneh.
“Aku harus cepet-cepet pulang,” Almeera sedikit memelas. “Kita bakal ketemu lagi kok, Gavin.”

“Oke,” Gavin berkata, sedikit sedih karena hari sudah berakhir. “Tapi aku bisa mengajakmu bermain dan membunyikan belnya, kan?”

“Hm ..,” Almeera menggigit bibir lagi dan mengerutkan alisnya. “Sebaiknya jangan.” Almeera tampak serius mengenai hal itu. Gavin merasa terpojok. Bocah laki-laki itu mengira kalau mereka sudah menjadi sepasang teman saat mereka berdua menikmati waktu bersama di danau tadi.

“Mengapa?”

“Ermm ...” Almeera memencarkan pandangannya ke semua arah yang berbeda dan mencoba untuk mencari jawaban. “Berisik. Adik perempuanku mungkin bakalan kaget dan terbangun.”

“Oh. Kamu punya adik perempuan?” Almeera tak pernah menyinggung soal adik perempuan sebelumnya, Gavin merasa sedikit heran.

“Y-ya.” Suara Almeera terbata-bata, padahal jawabannya sangat singkat. Ada yang ... Aneh. Lalu Almeera kembali ke sifat lembutnya dan menepuk kepala Gavin. “Aku harus pulang sekarang, Gavin. Kita bakalan ketemu lagi secepatnya.”
Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
13-01-2020 22:12
BAB 3


Januari 2019

“Gavin!” seorang perempuan yang sekitar empat tahun lebih tua darinya, berteriak nyaring di Bandara. Kemiripan perempuan itu dengannya sangat nyata. Sama-sama bermata sayu, rambut gondrong yang sama, dan ekspresi yang sama pula — mereka seperti keluar dari mesin fotokopi dengan sedikit suntingan kecil di sana-sini. Siapa pun bisa mengatakan kalau mereka itu satu keluarga. Kepribadiannya, bagaimana pun, tidak sama persis. “Sial, Vin, kamu belum berubah sama sekali. Kamu masih terlihat jelek seperti kantung doraemon.”

“Bahkan setelah menemukan pekerjaan yang stabil di salah satu perusahaan top di kota ini, terus terang, cara berpikirmu masih butuh perbaikan.” Gavin menyimpan kopernya di bagasi dan masuk ke dalam mobil. Setelah Gavin selesai memuat kopernya di bagasi secara rapi, lalu ia masuk ke kursi pengemudi dan menutup pintunya.

“Sial, di luar dingin, Vin!” perempuan itu berteriak.

“Seneng deh, bisa ketemu kamu lagi, Kak,” Gavin dengan tulus memberitahunya dengan cara yang paling manis yang bisa ia katakan sebagai seorang adik. “Aku sangat merindukanmu dan ibu dan ayah dan ... rumah.” Untuk beberapa saat, perempuan itu merasa geli mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut adiknya. Kemudian Gavin menepis bahu perempuan itu dan mengencangkan sabuk pengamannya, setelah Gavin membuka pintu mobil dan mempersilakan kakaknya untuk masuk, lalu duduk di sebelahnya.

“Seneng, akhirnya kamu pulang, dek.” Sang adik mengendarai mobilnya di sepanjang perjalanan dari Bandara ke rumah orang tua mereka di Bandung, di mana mereka awalnya tinggal sejak mereka masih kecil, sebelum Gavin pindah ke rumah kakek-neneknya. Sepanjang perjalanan, kakaknya menceritakan tentang apa saja yang telah Gavin lewati semasa lima tahun mereka berpisah dan seberapa banyak orang tua mereka merindukan Gavin. Setelah bertahun-tahun berkeliaran di negeri orang, Gavin merasakan perasaan hangat itu lagi — perasaan pulang ke rumah. Ketika mereka sedang berbicara di dalam mobil, saudaranya itu menyebutkan sesuatu yang menarik perhatian Gavin. “Jadi, kamu masih inget rumah kakek-nenek kita di Subang, kan? Kamu tinggal di sana sewaktu SMP, inget?”

Tentu saja. Tentu saja, Gavin ingat. Dia mengingatnya dengan jelas. “Aku tinggal di sana selama tiga tahun sampai aku naik ke SMA.”

“Ya, rumah itu. Sejak kakek meninggal dua tahun yang lalu, nenek tinggal bersama ibu dan ayah dan kadang nginep di rumah bibi, jadi rumah di Subang selalu kosong. Sejak saat itu, mereka berencana untuk memperbaiki tempat tersebut dan menyewakannya pada wisatawan. Aku menyarankan mereka agar memasang AC di sana.”

Mata Gavin melebar saat beristirahat di tengah merahnya lampu lalu lintas. “AC? Untuk wisatawan? Di Subang?” Gavin mendelik. “Di sana tuh udah sejuk, Kak.”

“Ya. Sebenernya, di sana tuh lokasi yang cukup keren. Kamu bisa main ke sana sewaktu-waktu. Cuma sejam kok kalau berkendara dari Bandung.”

“Siapa sih yang mau dateng ke desa kecil kaya gitu? Nggak ada yang menarik di sana kecuali rerumputan.”

“Ya, karena semua tempat wisata belum ada di masa lalu, kamu mungkin nggak akan nyangka. Perkembangan teknologi udah mengubah tempat itu. Sekarang terlihat seperti sebuah kota kecil. Bener-bener bagus, beda dari sepuluh tahun lalu, terakhir kamu berkunjung itu, dek.” Gavin tak bergeming.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
15-01-2020 02:54
BAB 4


Februari 2019

“Kayanya renovasi rumah yang ada di Subang udah beres dengan baik,” Ayah Gavin menyinggung topik itu di saat mereka sedang makan malam bersama.

“Jadi, udah rampung semuanya, yah?” kakak perempuannya bertanya, orang tua Gavin sudah menyelesaikan rencana dan secara resmi menghubungi arsitek dan beberapa kontraktor untuk merancang rumah mereka yang ada di Subang. Gavin tak bergeming, hanya mendengarkan percakapan keluarganya soal rancangan rumah di Subang.

“Mungkin kita semua bisa berkunjug ke sana, akhir pekan nanti. Kayanya bakal seru. Gavin, kamu nggak keberatan kalau cuti dulu dari kegiatanmu di fotografi? Cuma sehari.”

“Hm ...” Gavin kembali ke Bandung karena ia ingin lebih dekat dengan keluarganya. Balik lagi ke Subang bukanlah bagian dari rencananya. Terakhir kali Gavin ingat, Subang bukanlah tempat yang menyimpan memori yang baik untuknya. Dia sudah tak pernah melihat Subang selama 10 tahun terakhir. Membayangkan kembali ke sana saja sudah membuat perutnya mual. Tetapi, kalau misalkan Subang sudah banyak berubah, mungkin berkunjung ke sana bukanlah ide yang begitu buruk, dia mencoba untuk berpikiran positif.

Di dalam ingatannya, perjalanan ke Subang sangatlah membosankan. Di sana hanya ada jalan pegunungan, pohon-pohon yang mulai mati, dan beberapa tanah kosong. Jalan rayanya pun lengang, dan langitnya selalu mendung.

Tetapi, suasana perjalanan ke Subang kali ini sangat berbeda, desa itu sudah mengalami banyak kemajuan dalam banyak hal. Sekarang sudah bisa dijuluki sebagai desa tempat wisatawan banyak berkunjung, bahkan ada yang rela jauh-jauh ke sana hanya untuk sekadar mampir.
Walaupun Februari bersebelahan dengan Maret, tapi cuaca masih sedingin akhir tahun kemarin. Di tengah-tengah perjalanan yang tak diinginkan itu, Gavin melihat-lihat isi galeri kamera DSLR-nya, mereview hasil potret gambarnya, beberapa hari yang lalu. Ketika Gavin terhenti di salah satu hasil foto wisuda, ia termenung. Wanita familiar itu ... Gavin memperbesar fotonya dan mencermatinya sekali lagi.
Wanita itu mirip dengan seseorang; Aku belum bisa nebak siapa wanita ini. Aku pernah melihat dia di suatu tempat ...

Setelah memaksakan otaknya untuk mengingat, akhirnya Gavin menyerah dan mematikan kameranya untuk menghemat battery.
Aku masih penasaran sama Subang yang sekarang.

Gavin menempelkan kepalanya di jok belakang mobil, mengistirahatkan kepalanya yang mulai pusing, sambil melihat pemandangan pohon-pohon dari jendela.

Waktu dulu aku ninggalin Subang juga pas musim ujan kaya gini ...
Setelah mendekati desa kecil itu, beberapa baliho mulai bermunculan. Tapi, tempat itu sungguh berubah cukup drastis. Ada beberapa detail kecil yang tidak familiar.

“Lihat papan selamat datang itu? Akhirnya kita sampai!” Ayahnya berkata penuh antusiasme. Lewat jendela mobil, Gavin bisa melihat papan nama yang besar bertuliskan ‘Selamat Datang di Subang’ di antara gapura batu yang tinggi.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
16-01-2020 07:11
BAB 5


Tiga Belas Tahun Lalu: Agustus 2006

“Hei!”

Sebuah kerikil berwarna abu-abu, tiba-tiba terbang melalui jeruji gerbang rendah yang menutup rumah kakek-nenek Gavin dari dunia luar. Kerikil kecil itu terbang ke arah Gavin dan menabrak pundaknya, menyebabkannya berhenti dari aktifitas menyiram tanaman. Gavin mematikan kerannya dan melemparkan selangnya ke tanah.

“Wow, kamu di sini lebih awal,” Gavin menyapa teman barunya, Jovanka. Gavin tidak berharap kalau Jovanka akan sangat bersemangat untuk bermain dengannya. Mereka baru saja bertemu kemarin. Dan pagi itu, baru jam 8. Gavin bahkan belum sarapan.
“Kamu mau keluar?” Jovanka sudah mengepalkan tinjunya.
Wah, dia benar-benar tidak sabaran, pikir Gavin. Tapi untuk seorang tukang bully, Jovanka kelihatan sangat baik ... Gavin benar-benar tidak tahu harus berpikir seperti apa soal teman barunya itu.
“Nggak bisa nunggu sampai Jam 9? Aku masih harus beresin tugas dulu dan sarapan.”
“Apa kamu bercanda? Itu satu jam dari sekarang!”
“Kamu udah makan belum? Kamu bisa masuk dan sarapan bersama kami— ”
“Nggak apa-apa. Aku udah makan kok.” Jovanka mulai marah sambil menyilangkan tangannya. “Bersenang-senanglah dengan nenek dan kakekmu.”
“Aku bakal nyamperin ke rumahmu kalau udah selesai, oke?”

Ketika Gavin sedang menyirami tanaman neneknya, tetangganya yang mudah kesal dan frustrasi itu, Jovanka Semenjana, memborbardir Gavin di dalam pikiran Jovanka yang liar, mengutuk Gavin berkali-kali.

Sebelumnya, Jovanka terbangun saat matahari terbit dengan suara mesin mobil yang bergemuruh dari luar jendelanya. Dengan mata setengah terbuka, dia menyaksikan mobil mewah yang diparkir, lepas landas, dan tidak lama setelah itu mobilnya tidak terlihat lagi. Ketika dia melewati lorong ke tangga rumahnya, Jovanka melihat kalau kamar adik laki-lakinya juga kosong. Dengan langkah kaki telanjang yang berat, dia turun melewati ruang tamu ke dapur dan ruang makan. Di lemari es, sarapan, makan siang, dan makan malamnya semua sudah ada di dalam kotak makan siang di dalam tupperware, disiapkan untuk bisa dipanaskan di microwave. Dulu, ibunya masih sempat membuat catatan dan menempelkannya di pintu lemari es, tetapi saat ini ibunya bahkan sudah tidak peduli.

Ketika ibunya pulang sekitar jam 21:30, kemarin malam, Jovanka nyaris tidak berinteraksi dengannya, sama seperti malam-malam lainnya. Ibunya terlalu sibuk mengurus adiknya yang masih balita dan menyiapkan makanan untuk esok harinya dan tidak sempat memperhatikan Jovanka sama sekali.

“Bu, aku— ”
“Jo, nggak bisakah kamu lihat kalau ibu tuh lagi sibuk?! Balik ke kamar dan berhenti menganggu ibu!”
Sekali lagi, tadi malam tidak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, dan hari ini pun tak berbeda dari hari-hari lainnya. Jovanka selalu sendirian, hampir di seluruh waktunya.
“Sama sekali nggak ada yang mau jadi temanmu! Nggak ada yang menyukaimu, bahkan orang tuamu! Jika mereka menyayangimu, mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu denganmu!” Kata-kata menyakitkan yang dilontarkan oleh Udin tersebut mulai bergema di kepala Jovanka saat ia duduk di ruang tamu dalam keheningan. Jovanka pernah memberi pelajaran pada Udin dan geng, karena sudah memberikan kata-kata itu. Mereka semua habis di hajar oleh Jovanka sampai babak belur.

Yang lebih parah lagi, saat Jovanka melihat ke sekelilingnya, semua orang tampaknya setuju dengan perkataan Udin tersebut. Hal itu membuat hati kecilnya yang berada jauh dalam lubuknya merasa tidak aman, dan berujung pada bentuk kemarahan yang mengerikan.
Di dalam pikiran Jovanka, perlakuan jahat seperti itu memang pantas dilawan dengan serangan balik yang sama jahatnya. Tampaknya itu satu-satunya hal yang logis untuk dilakukan Jovanka pada saat itu.

“Jovanka, kamu nggak akan pernah punya teman kalau kamu selalu menghajar mereka semua,” kata kepala sekolah setelah Jovanka dipanggil ke kantor karena meninju Udin dan geng.
“Mereka pantas mendapatkannya!”
“Jovanka ...,” kepala sekolah itu memijat pelipisnya dan menyisir rambutnya dengan jari. “Jika kamu ingin ada orang yang menyukaimu, kamu harus bersikap baik. Alih-alih mencuri makanan ringan orang lain, mengapa kamu tidak mencoba berbagi makanan ringan dan bermain game yang adil dengan orang lain? Alih-alih menakuti mereka, cobalah tersenyum lebih banyak. Mungkin jika kamu melakukan itu, kamu tak akan sering dihukum.”

Jovanka menolak untuk percaya apa yang orang lain katakan tentang dirinya. Jadi, Jovanka merancang misi untuk berkenalan dengan teman baru hanya untuk membantah argumen dari bocah-bocah bodoh dengan mata keunguan yang sudah diberikannya itu. Namun, karena Jovanka sudah terkenal sebagai seorang bully di seluruh desa, ia menjadi frustrasi. Setiap kali Jovanka memaksa orang untuk menjadi "temannya", mereka akan mengabaikannya atau takut padanya.

Tapi, kemudian, ada anak baru yang baru pindah dari Kota Bandung. Gavin Ardian. Bocah itu hampir saja salah paham, tetapi Gavin masih pemula dan benar-benar lugu. Jovanka pikir kalau ia bisa memanipulasi Gavin dan menjadikannya teman, dengan bersikap persis dengan apa yang dikatakan kepala sekolah padanya — membeli makanan ringan dan berbagi mainannya. Jovanka bersikap baik pada Gavin, tetapi Jovanka memiliki cara yang tidak konvensional untuk menunjukkannya. Untung Gavin sangat mudah ditipu dan cukup lugu untuk taktik murahan seperti itu.

Lalu, jam berdentang ke arah jam sembilan. Setelah beberapa saat, bel pintu mulai berdering. Jovanka melemparkan Gameboy Advance SP-nya ke sofa dan segera berlari keluar untuk membuka gerbang.
“Hai!” sapa Gavin dengan senyum manis yang menyebalkan. “Aku baru beres makan.”
“Lama banget sih!” Jovanka memarahinya. Meskipun membentak dengan cara yang cukup keras, dia sebenarnya sangat bersemangat untuk menghabiskan hari bersama Gavin. Jovanka belum memiliki kontak sosial yang nyata dengan siapa pun sejak liburan musim panas dimulai. “Tunggu bentar, aku mau ngambil sepedaku dulu.”

Ketika Jovanka mengeluarkan sepeda gunung dari gerbang, dia melihat kalau Gavin juga memiliki sepedanya sendiri. Sepeda Gavin bukan sepeda gunung yang mahal dan sedikit lebih kecil dari punya Jovanka, tetapi memiliki keranjang yang nyaman di bagian depannya. Dan warnanya kuning, warna favorit Gavin — warna sinar matahari.

“Oh, kamu punya sepeda juga?”
“Ya.” Gavin berjalan ke sepedanya dan bersiap untuk mengendarainya. “Benda ini adalah salah satu dari banyak barang yang aku bawa dari Bandung. Kupikir akan lebih nyaman kalau naik sepedanya masing-masing, jadi aku nggak harus ngendarain punya kamu.”
“Oke, deh kalau gitu. Ikuti aku.”

Jovanka kemudian mengendarai sepedanya dan memimpin rutenya untuk sekadar berkeliling di sekitar lingkungan mereka terlebih dulu. Ketika mereka bersepeda di jalanan aspal dengan rumah-rumah semi-bata yang rendah dan saling berdempetan, Jovanka akan menunjuk ke beberapa rumah dan memberi tahu Gavin siapa saja yang tinggal di situ dan kira-kira orang macam apa mereka. Bahkan semua gosip di desa kecil itu dan cerita dongeng rakyat yang melegenda — Jovanka tahu tentang itu semua. Anak gadis itu memberinya terlalu banyak informasi. Gavin tak bisa mengingat sebagian besar dari semua itu.

“Gimana bisa kamu tahu soal semua itu?” tanya Gavin.
“Aku tuh udah tinggal di sini sejak lahir, bego. Tentu aja, aku tahu semua itu.”

Setelah beberapa belokan, Jovanka membawanya ke salah satu ladang pertanian yang luas. Itu adalah area luas dan datar yang di atasnya ada sawah, kebun, bidang selada, dan tanaman lainnya. Di antara ladang itu ada jalan setapak kecil yang harus dilalui orang-orang. Biasanya, jalur itu tidak hanya untuk petani tetapi juga untuk warga desa biasa untuk digunakan sebagai jalan pintas saat berjalan atau bersepeda ke tempat-tempat tertentu. Gavin sangat terpesona oleh pertanian kecil itu. Mereka melompat dari sepeda beberapa kali untuk melihat tanaman musim panas yang tumbuh subur. Gavin kagum pada gumpalan tomat-tomat besar yang menggantung pada tanaman merambat di sana; dia tersentak dan melompat kegirangan saat menemukan perkebunan stroberi yang menempel di cabang-cabang pohon yang rendah. Ini adalah pertama kalinya Gavin bisa melihat mereka dari dekat.

Yang mengejutkan, Jovanka juga tahu banyak tentang tanaman musiman dan bisa menyebutkan hampir setiap tanaman di daerah itu. Jovanka menjelaskan siklus penanaman padi di akhir musim panas dan panen di akhir musim hujan. Dia menghitung buah dan sayuran musiman untuk kedua musim. Dia juga menjelaskan untuk apa kanal di antara beberapa ladang itu dan bagaimana petani menggunakannya untuk mengalirkan air dari Danau Eunteung untuk mengairi ladang mereka. Jelas, benaknya seperti ensiklopedia yang dipenuhi dengan segala macam fakta acak tentang desa itu, dan Jovanka membuat Gavin tampak seperti orang bodoh setiap kali dia dengan sombong menjabarkan semua hal-hal sepele yang tidak berguna itu. Penindas yang cerdas. Sangat berbahaya.

Di ujung jalan itu, mereka mencapai jalan aspal dua jalur yang juga dikelilingi oleh ladang. Dari titik di tengah dataran itu, orang bisa memandang siluet pegunungan ke segala arah. Jauh di ujung ladang tempat mereka datang, mereka bisa melihat bangunan-bangunan kecil dan rumah-rumah — lingkungan kecil mereka. Di arah yang berbeda, bangunan-bangunan kecil lainnya juga bisa terlihat, mengisyaratkan lokasi pusat desa Subang. Dari sana, Jovanka mulai menunjuk secara acak, memberi tahu Gavin jalan mana yang mengarah ke mana dan apa yang ada di sana ... Secara keseluruhan, tidak ada yang bisa dilihat di sana kecuali lebih banyak tanah yang luas.

Ketika mereka mengayuh sepedanya melewati sawah-sawah hijau di sisi jalan, angin yang menenangkan menggoyangkan daun-daun seperti rumput dengan cara yang bersamaan — seperti gelombang ombak laut yang dibentuk oleh rumput hijau. Ketenangan dan ketenangan jalan pedesaan itu tidak tertandingi, sejauh jalan utama berjalan. Kadang-kadang sebuah mobil akan lewat, tetapi jika kamu berani berbaring di tengah jalan setidaknya selama satu menit, kamu mungkin bisa bertahan hidup, karena tidak akan ada yang datang untuk menabrakmu.
Meskipun jalanan itu terlihat panjang tanpa akhir, mereka akhirnya tiba di pusat desa Subang, di balai desa, pasar loak tradisional, dan toko-toko kecil serta toko-toko besar bertengger. Sama sekali tidak seperti daerah pusat desa di kota-kota besar, tetapi dibandingkan dengan lingkungan kecil mereka yang tenang dan ladang pertanian, ini adalah ciri khas peradabannya. Seperti yang diharapkan, Jovanka juga tahu tempat itu layaknya mengetahui detail punggung tangannya sendiri. Jovanka seperti pemandu wisata yang resmi dan bahkan Jovanka pun sempat membeli makanan dari pasar loak.

“Kak Gavin, apa kamu suka kucing?” Jovanka bertanya ketika mereka menuntun sepeda mereka di atas trotoar aspal jalanan di sana.
“Kak?” heran Gavin.
“Iya, Kak Gavin. Kenapa emangnya?”
“E-eh. Nggak sih, tumben aja. Dengernya aneh aja kalau kamu manggil Kak Gavin.”
“Terus gimana?”
“Terserah sih.” Gavin mulai gugup.
“Aduh, jadi, gimana nih? Suka atau nggak sama kucing?!”
“A-apa? Ya, tentu aja!”
“Kalau gitu, ikut aku sekarang, aku akan menunjukkan padamu tempat favoritku di desa ini.” Jovanka melompat ke sepedanya dan langsung menuju ke jalan. Gavin mengikutinya dari belakang.
Ketika mereka tiba di tempat favorit Jovanka, Gavin terkejut. Tempat itu adalah pilihan yang agak sulit diprediksi dari seseorang sepertinya.
“Tempat perlindungan kucing?” mereka berdiri di depan pintu masuk sebuah bangunan kumuh kecil dengan tanda di atas yang bertuliskan, “Rumah Kucing Sinar Rembulan.” Dari luar, mereka sudah bisa mendengar suara meongan dan rengekan. Pasti ada kucing di sana.
“Di situlah kucing-kucing itu akhirnya tinggal saat mereka ditelantarkan oleh pemiliknya,” kata Jovanka. Ketika Jovanka terus berbicara, suaranya mulai melembut sampai dia hampir tak terdengar seperti penindas yang berhati keras lagi. “Ketika orang-orang pindah dari Subang ke kota-kota besar atau luar negeri, nggak semua pemilik hewan peliharaan bisa membawa serta kucing atau hewan peliharaan mereka dan berakhirlah mereka di tempat-tempat seperti ini.”
“Oh ... itu menyedihkan.”
“Sedih, tapi itulah kenyataan seberapa kejamnya manusia. Pokoknya, pemilik tempat penampungan ini, memungkinkan anak-anak untuk datang dan bermain sehingga kucing nggak kesepian lagi. Ayo, kita lihat mereka.”

Saat masuk, bel yang terpasang di pintu berdentang untuk memberikan tanda bahwa ada pengunjung. Di sana, di area resepsionis yang kecil, mereka melihat ada seorang pengawas duduk di belakang meja yang berantakan, menonton acara permainan di televisi kecil yang terletak di atas rak arsip. Perempuan berambut pendek itu mengipasi dirinya dengan koran yang terlipat, meskipun dia sudah memiliki kipas listrik yang mengarah langsung ke arahnya. Ketika dia berbalik dari TV untuk melihat siapa yang masuk, ia langsung bangkit untuk menyambut mereka.
“Selamat pagi, Teh Adah,” sapa Jovanka. Teh adalah sapaan untuk perempuan yang belum menikah dan lebih tua.
“Oh, hai, Jo!” perempuan itu tersenyum cerah. Kemudian dia fokus ke arah Gavin dengan matanya yang besar dan berkata, “Jovanka kadieu sareng rerencangan euy ayeuna mah! Alus atuh!” Artinya dalam bahasa Indonesia adalah Jovanka ke sini bareng sama teman sekarang mah! Bagus atuh!

Gavin dengan canggung membungkuk dan ikut menyapa juga, meskipun dia tak yakin apa yang sedang terjadi. Jovanka dengan bangga memperkenalkan teman barunya kepada wanita pengawas itu. “Ini Kak Gavin. Dia baru aja pindah ke sini dari Bandung beberapa minggu yang lalu dan dia belum lancar pake bahasa Sunda, Teh Adah.”
“Ups — Senang ketemu sama kamu, Gavin! Apa kamu menyukai kucing juga?” Wanita itu terdengar sangat bersemangat dan bersemangat sekali.
“Ya,” jawab Gavin dengan malu-malu.
“Bagus dong! Aku Adah Markodah, panggil aja Teh Adah, biar kesannya akrab gitu,” katanya. Teh Adah itu tinggi — persis seperti Jovanka versi lebih tua. “Aku mengelola tempat ini, tapi seperti yang kalian berdua bisa lihat, dokumen bukan urusanku,” Teh Adah menunjuk ke konter yang dipenuhi oleh tumpukkan folder dan file. Anak-anak itu meliriknya tetapi tidak terlalu menggubrisnya.
“Kami pengen lihat kucing!” pinta Jovanka yang berusia 12 tahun.
“Sok weh! Mereka lagi pada bosen tuh di kandang sigana mah.” Arti dari bahasa Sunda itu adalah ‘silakan! Mereka lagi pada bosen tuh di kandang kayanya.’

Kucing-kucing itu disimpan di ruangan yang lebih besar dan cukup terang dengan beberapa kandang hitam yang berbaris berdampingan di dinding. Ada sekitar sepuluh kucing yang dipelihara di sana. Saat masuk, meongan kucing-kucing yang bersemangat mulai menggema. Makhluk kecil itu mengibas-ngibaskan ekornya dan dengan bersemangat mondar-mandir di kandang kecil mereka. Mereka tentu senang dikunjungi.

“Halo semuanya!” Jovanka dengan gembira menyambut kucing dan beberapa anak kucing di sana. Jovanka berlari ke kandang mereka dan membuka beberapa dari mereka. Kucing-kucing dari semua warna dan ukuran mulai berkerumun di sekitarnya, menjilati dan menyikatnya dengan semua kasih sayang yang bisa mereka berikan. Ini adalah pertama kalinya Gavin melihat sisi manis dari tetangganya yang keras tersebut. Melihat Jovanka tersenyum dan tertawa sementara anak-anak kucing itu memanjakannya, membuatnya tampak seperti anak gadis yang paling ramah, paling ramah di bumi, dan Gavin suka melihatnya. Gavin suka melihat orang-orang yang sedang bahagia dengan senyum yang menempel pada wajah mereka.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini sementara aku kembali berjaga di depan, oke? Selamat bersenang-senang!” kata wanita pengawas itu. Kemudian Teh Adah dengan ringan menepuk kepala Gavin kecil dan mengedipkan mata pada Jovanka sebelum meninggalkan mereka. “Teh Adah bangga sama kamu, Jo.”

Jovanka memasang wajah malu, tapi ada kepuasan di dalam wajahnya setelah mendengar kata-kata itu. Wanita pengawas penampungan kucing itu adalah salah satu tokoh dewasa yang Jovanka kagumi. Terlepas dari banyak orang dewasa yang selalu mengerutkan keningnya, Teh Adah selalu memperlakukannya dengan ramah dan memujinya dengan kata-kata seperti, ‘Kamu sangat membantu!’ ‘Kamu sangat manis!’ ‘Aku harap kamu datang lebih sering,’ dan seterusnya, setiap kali Jovanka datang untuk bermain dengan kucing-kucing itu. Tak pernah ada orang lain yang memuji Jovanka. Hanya di tempat inilah Jovanka benar-benar merasa dicintai dan diinginkan.

“Kak Gavin, coba sini!” Jovanka memberi isyarat padanya. Sekarang, Jovanka mulai memperkenalkan dan memberi tahu nama setiap kucing ketika mereka duduk bersama di lantai kayu. Serius, kekuatan ingatannya luar biasa. Seperti seorang komandan, Jovanka juga tahu bagaimana membuat semua kucing-kucing itu mematuhinya. Dia bisa menyuruh mereka duduk atau berbaring dan mereka akan menurut. Kucing-kucing itu terlatih seperti seekor anjing, terlihat aneh dan tidak biasa.

“Jadi, mengapa kamu pindah ke desa tua yang membosankan ini?” Jovanka bertanya pada Gavin sementara mereka mengelus-elus kucing. “Apa orang tuamu juga ingin meninggalkanmu? Itu sebabnya kamu ada di sini?”
Gavin benar-benar tertampar oleh pertanyaan itu. “Apa?! Nggak, tentu saja nggak! Aku datang ke sini karena masalah kesehatan. Mereka pengennya aku menjalani hidup yang lebih sehat dan tinggal di sini sebentar saja bisa membantu memulihkan tubuhku.”
“Cih...” Jovanka mengejek jawabannya
Gavin memandangi sosok Jovanka yang lebih besar lalu meringis. “Ah ... kurasa.”
“Aku berani bertaruh, jika kamu ingin tinggi dan sehat sepertiku, minum susu adalah cara tercepatnya.”
“Benar ...” Kemudian giliran Gavin yang mengajukan pertanyaan. “Tapi apa yang membuatmu memutuskan untuk datang ke sini?”
“Aku suka kucing.” Jovanka dengan penuh kasih sayang memeluk Badol dan memberinya beberapa ciuman. “Mereka semua mencintaiku apa pun landasannya. Mereka nggak bisa berbohong, dan ketika mereka menunjukkan kasih sayang, mereka tulus. Setiap kali aku datang, mereka selalu sangat senang melihatku, meskipun aku tak punya banyak hal untuk diberikan,” Lalu Jovanka menghela napas. “Aku pengen punya kucing sendiri.”
“Tapi kalau kamu suka kucing, nggak bisakah kamu meminta orang tuamu untuk membelikanmu hewan peliharaan, jadi, kamu nggak perlu sering-sering ke sini?” tiba-tiba seekor kucing persia yang cukup gempal meghampiri Gavin, dan mengendus pipinya, meminta perhatian agar bulu keemasannya di belai. Gavin dengan senang hati menurut.
Jovanka menurunkan Badol dan menatap Gavin. “Aku udah melakukan itu, dan kamu tahu apa yang aku dapat dari semua rengekan panjang itu? Tamagotchi.”
“Serius? Aku punya Tamagotchi juga. Itu menyenangkan, tapi kita nggak bisa benar-benar memeluknya atau memeliharanya kecuali melalui tombol.”
“Aku udah punya empat.” Jovanka mengatakan itu seolah-olah mendapatkan semua Tamagotchi itu adalah ketidakadilan terbesar di dunia.
“Oh.”
“Adikku alergi sama hewan peliharaan. Itu sebabnya mereka nggak akan pernah membelikanku hewan peliharaan yang nyata, tapi mereka udah memberikanku segalanya, jadi aku nggak bisa benar-benar mengeluh, bahkan jika aku mau.”
“Sayang sekali.”
“Masa bodo.”
“Meskipun itu hal yang baik,” kata Gavin dengan nada positif. Gavin jatuh di lantai kayu sambil terkikik ketika kucing persia terus mengendus pipinya. “Itu artinya semua kucing lain yang ada di dalam penampungan ini bisa mendapatkan cinta dan perhatianmu. Dan lihat betapa bahagianya mereka melihatmu dan aku di sini! Ayo datang ke sini lebih sering!”

Mata Jovanka bersinar ketika dia melihat Gavin tertawa dan terkikik saat bermain dengan kucing-kucing di sana. Sudah sekian lama, ia cukup kesal karena tak bisa mendapatkan kucingnya secara pribadi, tapi sekarang Jovanka tahu dia tidak perlu melakukannya. Jovanka sudah senang berada di sini bersama dengan semua kucing yang terlantar dan tidak dicintai.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
16-01-2020 07:56
Were they all, center aligned?
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
CURIOSITY KILL THE CAT
19-01-2020 10:21
BAB 6


Februari 2019

Ayah Gavin benar; Subang sudah banyak berubah. Ada banyak bangunan dan bangunan yang Gavin tak pernah lihat sebelumnya. Meskipun masih ada ladang pertanian di sana-sini, beberapa daerah pertanian itu diubah menjadi komplek apartemen, taman rekreasi, tempat parkir, dan toko kelontong besar. Bahkan ketika mereka mencapai pusat desa Subang, tempat itu hampir tidak dikenalinya. Bangunan rendah klasik mungkin mempertahankan estetika mereka, tetapi toko-toko bermerek, toko serba ada, dan restoran cepat saji telah mengambil alih tempat mereka, memindahkan usaha kecil dan toko-toko baru ke daerah-daerah desa yang kurang dikenal. Bahkan balai desanya pun telah direnovasi menjadi struktur modern yang penuh dengan kaca-kaca, dengan tambahan layar billboard LED yang sangat besar di pintu masuk yang menampilkan iklan dan yang disponsori pemerintah.

Ketika ayah Gavin mengemudi di jalanan sambil berkeliling dan membawa Gavin melewati area pusat desa “Baru dan lebih baik”, mereka melewati satu gedung dengan tanda yang langsung menarik perhatian Gavin: Rumah Kucing Sinar Rembulan.
“Itu dulunya tuh tempat penampungan kucing yang kamu dan temanmu biasa kunjungi,” bisik neneknya. Tatapan Gavin berhasil melubangi penampungan kucing yang sekarang sudah menjadi kafe kucing itu, sampai mereka meninggalkan daerah tersebut.
Jovanka Semenjana... dia dulu sering menyeretku ke tempat penampungan kucing itu. Saat itulah Gavin akhirnya ingat. Wanita di wisuda itu — apa itu Jovanka? tanya Gavin di dalam benaknya.

Air liur mulai terhenti di tenggorokannya. Kenangan terakhirnya tentang Jovanka tidak benar-benar indah. Beberapa hari sebelum Gavin pindah kembali ke Bandung pada bulan Februari 2009, mereka bertengkar hebat.

“Kenapa kamu gak pergi ke pemakaman?” Dia ingat Jovanka berkata itu padanya.
“Jo, aku ...” Dia mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi gagal. Gavin tak punya alasan yang bagus untuk semua itu.
“Jadi, kamu bakal pergi gitu aja? Kok kamu tega ngelakuin semua ini sama Amara?! Pada Kak Almeera?! Aku ngerti kamu itu seorang pengecut, tapi gimana bisa kamu nggak muncul di pemakaman?!”
“Aku nggak bisa menangani sakit hati ini, Jovanka!”
“Ya, aku harap kamu bangga pada dirimu sendiri karena sudah jadi pengecut.”

Mereka tak pernah bertemu sejak saat itu. Semua kenangan buruk itu mulai kembali kepadanya satu per satu ketika mereka mendekati lingkungan lama mereka. Tidak lama setelah mobil melambat dan berhenti. Gavin melihat ke jendela mobil dan memincingkan matanya. Di luar ada pemandangan akrab dengan rumah-rumah semi-bata rendah yang berkerumun di atas jalan berlapis aspal kecil. “Apa ini ...?”

“Kita sampai! Di rumah tua nenekmu!” kata ayahnya.

Setelah melangkah keluar dari mobil, Gavin tak bisa mempercayai matanya. Meskipun suasananya masih sangat akrab, ada perbedaan mencoloknya juga. Dulunya, di sana adalah rumah pot bunga, saat ini semuanya sudah dihancurkan. Namun, itu bukan satu-satunya yang hancur.

Rumah nenek dan rumah Kak Almeera ... Gavin menatap kedua rumah dengan mulut ternganga, tak percaya. “Kami juga membeli tanah terlantar di sebelahnya,” kata ayahnya. “Ini dulunya adalah rumah tetangga. Kami berencana menggabungkan kedua rumah ini untuk menyediakan ruang bagi lebih banyak tamu. Kita juga bisa menggunakan ini sebagai penginapan buat liburan.”

Gavin berdiri di sana dengan mulut yang terperangah dan tidak mampu mengatakan apa pun yang bisa dikatakannya lagi.
Ini tak nyata, ini pasti mimpi ...

profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
23-01-2020 17:28
BAB 7


Februari 2019

Pada malam-malam yang gelisah, kadang-kadang alkohol bisa saja berhasil. Kenangan buruk adalah sesuatu yang sulit untuk dilepaskan, karena ia dapat melepaskan ilusi itu dengan mengaburkan rasa sakit dari kenyataan. Saat-saat kelegaan singkat itu bisa memabukkan — bahkan mungkin membuatnya ketagihan. Meskipun satu tegukan anggur merah itu dapat membakarnya dengan kepahitan dalam beberapa detik pertama, perasaan mati rasa yang ringan dan sesudahnya dapat merilekskan bahkan otot yang paling tegang dan tulang yang paling lelah sekalipun. Dan pada titik tertentu, setelah puluhan tegukan, apa yang tadinya pahit bahkan mungkin mulai terasa begitu hangat dan manis.

“Satu... Tambah satu botol lagi... tolong...,” pinta Gavin ketika dia bergoyang dari sisi ke sisi dengan tangan terangkat dan matanya yang malas nyaris tidak terbuka. Tak lama kemudian seorang wanita tua meletakkan botol anggur merah di samping botol kosong lainnya di atas meja.

Saat itu pukul 02.35 pagi. Dia telah berada di sebuah bar-resto di Bandung sejak tengah malam setelah dia pulang dari perjalanannya ke Subang. Pada titik ini, seharusnya dia tidak pergi keluar, dan mabuk sendirian seperti ini, jika dia tak ingin digoda oleh beberapa tante-tante gatal yang bermaksud buruk. Namun, itu melampaui kekhawatirannya. Saat ini, dia terlalu mabuk untuk memikirkan kondisinya sendiri. Lucunya, mabuknya selalu berlandaskan satu alasan yang sama, membunuh kenangannya soal Subang, tapi dengan setiap tegukan yang diminum, semakin dia tak bisa berhenti memikirkannya.

Ada rumah tetangga lamanya, atau rumah lamanya Kak Almeera. Gavin menghela napas berat saat dia menuang minuman lagi untuk dirinya sendiri.

Waktu benar-benar bisa mengubah segalanya, bukan?

Rumah tetangganya itu telah ditinggalkan pada akhir 2009. Dia tahu semua itu dengan cukup baik. Itu adalah hal terburuk yang pernah dia saksikan dalam hidupnya. Dia melihat itu terjadi. Dia ada di sana ketika keluarga yang tinggal di sana (keluarga Almeera) benar-benar hancur setelah kasus pembunuhan yang mengerikan, dan Gavin sudah berusaha keras untuk melupakannya selama sepuluh tahun terakhir. Sejak saat itu tempat tersebut telah ditinggalkan sampai keluarga Gavin baru-baru ini memutuskan untuk membeli sebidang tanah. Sekarang, rumah tragis dengan kisah tragis itu tampaknya sedang dibangun kembali menjadi rumah liburan.

“Rumah liburan...,” gumam pria mabuk itu. Kemudian dia mulai terkekeh pada dirinya sendiri seperti orang gila ketika air mata menetes ke gelas kecilnya. Anggur merah pahit bercampur dengan air mata asinnya saat dia menuang minuman lagi untuk dirinya sendiri.
“Dari semua hal yang ada di dunia ini... haha... betapa sakitnya semua ini...”

Oh, ironi. Keluarganya secara resmi mulai membuat sebuah penginapan untuk para tamu dari apa yang dulunya adalah rumah yang diselimuti stigma. Ini mungkin tampak seperti investasi finansial yang bagus untuk orang tuanya, tapi dia merasa muak memikirkannya.

Apa yang aku lakukan di sini? Kenapa aku gak tetap tinggal di Singapura? Dimana aku bisa jauh dari semua ini? Dia baru saja mengajukan pertanyaan plin-plan yang serupa ketika dia mabuk pada malam tahun baru sebulan lalu, tapi dia tak ingat semua itu berkat anggur merah yang sudah diminumnya.

Sebagian besar keputusan hidupnya selalu di temani oleh beberapa botol alkohol. Tampaknya, semua itu ide yang bagus dan rasanya seperti keputusan rasional yang baik pada saat itu, tetapi keesokan paginya, sakit kepala terjadi. Oh well, setidaknya dia masih merasakan sedikit kesenangan sesaat dalam sebagian besar pengalaman itu.

Tapi apa gunanya kesenangan ketika itu menimbulkan rasa sakit seperti seorang pengkhianat sesudahnya?

Rumah liburan…

Dunia pasti sudah gila.

Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1 0
1
CURIOSITY KILL THE CAT
12-11-2020 13:04
Sambil nunggu Diana sadar dari pingsannya mending pindah dulu kesini
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
inilah-jalan-spiritualku
Stories from the Heart
andika
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
journey-called-love
Stories from the Heart
cinta-agama--mama
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
cinta-dan-pahitnya-kehidupan
Stories from the Heart
my-wife-is-my-enemy
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia