Kaskus

Story

leacataleyaAvatar border
TS
leacataleya
Suara di Rumah Blok B itu
Suara di Rumah Blok B itu.

Aku masih tergeletak malas di atas kasur. Memandangi layar ponsel. Seperti biasa, mengetik kalimat per kalimat, hingga menjadi satu paragraf lalu menghapusnya kembali. Begitu terus hingga tak terasa sudah jam sepuluh malam. Pikiran melayang jauh. Entah ke mana. Mencari ide yang bisa

Seperti malam-malam sebelumnya, suasana begitu hening. Mungkin karena tadi sore hujan lebat. Udara dingin membuat perutku cepat merasa lapar.

Aku beranjak dari kasur, mengambil jaket dan dompet. Menuju perempatan jalan. Tempat biasanya penjual nasi goreng mangkal. Di tempat itu suasana tidak pernah sepi. Biasanya beberapa pemuda berkumpul di sana. Memang, letaknya agak jauh dari rumah, tapi daripada tidak bisa tidur karena kelaparan, lebih baik aku pergi ke sana.

Sekali-kali ikut berkumpul dengan mereka. Kebetulan sudah lama tidak keluar rumah. Sejak aktif di sebuah grup kepenulisan. Siapa tahu setelah berkumpul dengan mereka aku dapat ide baru.

Aku berjalan menyusuri komplek perumahan. Beberapa lampu jalanan tidak menyala membuat aku semakin mempercepat langkah.

Hingga saat di depan rumah kosong itu. Langkahku terhenti. Kaget. Aku melihat sekelebat bayangan hitam dari jendela yang tak tertutup kain gorden dengan sempurna. Cahaya lampu dari teras rumah Tante Lina cukup terang. Membuatku bisa melihat bayangan itu dengan jelas. Seketika tengkukku meremang. Pasalnya rumah bercat hijau itu sudah lama kosong sejak lima tahun yang lalu. Lari adalah tindakan yang paling tepat.

Dengan terengah-engah akhirnya aku sampai di perempatan jalan tempat berkumpulnya pemuda-pemuda kurang kerjaan seperti Ilham, Wahyu, dan Edi Beberapa penjual makanan khas malam hari juga ada di sana.

"Viral! Abis ngapain lu? Sampe ngos-ngosan, gitu?" sapa Ilham. Ia temanku semasa SMP.

"Sialan! Gue habis lihat dedemit!" Napasku masih terengah-engah. Mendengar jawabanku mereka tertawa terbahak-bahak.

"Mirip Tante Lisa, nggak? Wah, kalo dedemitnya mirip Tante Lisa, bakalan gue peluk." Edi menimpali, tangannya bergerak dari atas ke bawah membentuk gitar.

"Hush ... ngaco! Mau ditembak suaminya, lu?" Wahyu mengingatkan bahwa suami Tante Lisa

"Pantesan jarang pulang, kasihan Tante Lisa ditinggal mulu. Pasti kedinginan mana musim hujan lagi." Ilham menimpali sambil terbahak.

"Kalian ngomongin apaan, sih? Gue serius, tau!" Aku mendekati bangku panjang dan duduk di antara mereka.

"Lu kebanyakan nulis cerita horor sih. Makanya jangan ngehalu mulu." Wahyu cekikikan.

"Dengerin dulu cerita gue! Tadi sewaktu jalan menuju ke sini, gue lihat sekelebat bayangan hitam di rumah kosong yang di blok B itu." Aku mulai bercerita.

"Serius, lu, Wan?" tanya Ilham.

"Ya, iyalah. Ngapain gue lari-larian malam-malam begini emang gue kurang kerjaan." Tawa mereka mulai mereda.

"Masuk akal sih, rumah itu kan udah lama kosong. Udah gitu gelap lagi. Jadi nggak aneh kalo ada 'penghuninya'," kata Wahyu. Kini wajah mereka terlihat agak serius.

"Ngomongin rumah kosong di blok B, gue juga punya pengalaman. Jadi belum lama ini. Sekitar jam sepuluh, gue lewatin rumah itu, samar-samar terdengar suara perempuan lagi cekikikan." Edi mulai membuka cerita.

Sial! Kayaknya bakalan lama, tetapi topiknya lumayan menarik, sih.

Akhirnya satu persatu dari kami gantian berbagi pengalaman seputar kejadian-kejadian aneh di sekitar rumah kosong itu. Suasana yang tadinya ramai berubah menjadi serius. Karena terlalu serius sampai kami tidak menyadari kedatangan seseorang berperawakan kekar. Dia Bang Romli, warga belakang komplek perumahan.

"Lagi pada cerita apaan sih, serius amat?" sapanya. Entah dari arah mana ia datang.

"Eh, Abang. Ini, Bang lagi cerita rumah kosong yang di blok B itu," jawab Wahyu.

"Oh, emang kenape? Ada yang diganggu penunggunya," tanyanya.

Aku mengangguk.

"Hati-hati, kalo malem jangan pada deket-deket rumah itu. Penghuninya usil." Bang Romli mengingatkan.

"Iya, Bang," sahut hampir bersamaan.

"Ya, udah gue pulang dulu." Ia berpamitan. Kami pun melanjutkan cerita sampai tak terasa waktu hampir subuh.

***

Sejak saat itu aku, Ilham, Edi dan Wahyu jadi sering berkumpul dan bercerita tentang hal-hal gaib.

Seringnya mendengar cerita- cerita misteri rumah di blok B itu membuatku penasaran. Akhirnya aku mengusulkan ide yang cukup gila.

"Bro! Gimana kalo kita main jelangkung aja di rumah itu. Kita cari tahu apa yang sebenarnya pernah terjadi di situ?" ucapku suatu hari.

"Wih, ide keren tuh! Lebih mantep kalo kita rekam, siapa tau dedemitnya muncul beneran," timpal Edi.

"Ya udah, mumpung masih sore kita ke sana. Lihat-lihat dulu tempatnya," kata Wahyu. Kami berempat segera pergi ke rumah

Sampai di sana aku memerhatikan keadaan bangunan rumah. Sebenarnya masih cukup kokoh, hanya saja tidak terawat, ilalang yang tumbuh lebat di halaman membuat rumah itu terlihat angker. Pintu rumah itu tertutup, tapi tidak terkunci, seperti sengaja dirusak.

Kami berempat memasuki rumah itu. Tidak ada yang aneh pada rumah itu. Seperti pada umumnya rumah kosong. Kotor dan berdebu, di bagian atap dipenuhi sarang laba-laba. Kami berpencar memeriksa setiap ruangan. Mencari tempat yang tepat untuk bermain jelangkung. Rumah itu terdapat dua kamar tidur yang letaknya bersebelahan. Salah satu kamar

Tak lama terdengar suara Ilham memanggil dari kamar yang letak jendelanya menghadap jalan. Aku segera menghampirinya, disusul Wahyu dan Edi.

Mata kami terbelalak melihat pemandangan di ruangan itu. Terdapat sebuah kasur lantai, bantal dan sarung. Di sekelilingnya terdapat banyak puntung rokok, botol air mineral, tisu basah yang mulai mengering dan kondom bekas pakai yang tercecer.
Kami berempat saling pandang. Tak terasa hari mulai gelap. Cahaya lampu dari teras rumah Tante Lisa mulai berpendar. Cahayanya masuk melalui celah-celah ventilasi. Dari jendela tampak gerimis mulai turun.

Tak lama terdengar suara orang membuka pintu utama. Kami bertiga segera pindah ke kamar sebelah. Karena yakin pasti orang itu akan datang ke kamar ini.

Suara langkah seseorang terdengar. Sepertinya orang itu mulai memasuki kamar sebelah. Seiring dengan kehadiran orang itu

Tak lama berselang terdengar lagi langkah seseorang. Dari bayangan postur tubuhnya terlihat lebih besar. Ia memasuki kamar yang sama dengan orang pertama. Hening untuk beberapa saat.

Tak lama, terdengar suara desahan khas orang menuju bulan. Beriringan. Kedua suara itu yang cukup familiar.

"Ah, Bang Romli."

"Oh, Lina, Sayang."

Sial! Mendengarnya, aku ikut panas dingin. Lulutku terasa lemas. Entah dengan ketiga kawanku.

Kini, aku tahu dari mana asalnya suara dan sekelebat bayangan di rumah kosong blok B itu.
Diubah oleh leacataleya 30-09-2020 07:11
tabernacle69Avatar border
redbaronAvatar border
tien212700Avatar border
tien212700 dan 4 lainnya memberi reputasi
3
760
10
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.3KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.