Kaskus

News

jakarta0909Avatar border
TS
jakarta0909
Mafia (Hukum)
Mafia (Hukum)

Selama menjalani bekerja dari rumah (WFH) karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid-19, penggunaan teknologi digital oleh masyarakat meningkat pesat. Termasuk pengguna Netflix.

Ini merupakan sebuah layanan yang memungkinkan pengguna menonton tayangan kesukaan melalui berbagai macam sarana seperti smartphone, smartTV, tablet, komputer dan lain sebagainya. Dalam kuartal terakhir penggunanya meningkat 10,09 juta pelanggan sehingga total pelanggannya mencapai 193 juta di seluruh dunia.

Saya pun termasuk yang menjadi pelanggan baru Netflix. Apa yang menarik dari situ? Sepanjang WFH, saya banyak menonton film serial yang diproduksi Netflix. Terutama kisah mafia atau gembong narkoba yang jaringannya merentang dari Meksiko hingga Kolombia.

Film pertama yang saya tonton berkaitan dengan Narcos yang mengisahkan seorang Pablo Emilio Escobar Gaviria atau Pablo Escobar yang mampu membangun imperium kartel narkobanya dari Kota Medellin, Kolombia. Awalnya ia hanya seorang penyelundup barang-barang elektronik yang dibutuhkan masyarakat.

Menariknya meski hanya penyelundup barang-barang elektronik, ia sudah mampu “menguasai” aparat penegak hukum agar bisnisnya bisa berjalan lancar. Setelah membangun kartel narkobanya, Escobar bahkan mampu merangsek ke semua lini kekuasaan dan sempat terpilih menjadi anggota parlemen. Walau pada akhirnya ia mendapat penolakan dari anggota parlemen lainnya karena dituding sebagai gembong narkoba.

Baca Juga - Skandal Keuangan: Membandingkan Kisah Benny Tjokro dan Wall Street

Puncak imperium kartel Escobar adalah mampu menguasai 80% pasar kokain di Amerika Serikat (AS) dengan keuntungan yang mencapai US$ 30 miliar. Ia karena itu sempat diganjar predikat sebagai salah satu orang terkaya versi Forbes. Itu pula yang membuatnya menjadi musuh nomor satu DEA atau lembaga semacam BNN AS.

Setelah kartel narkoba Escobar hancur, tak lalu AS bersih dan aman dari kokain Kolombia. Justru kehancuran Escobar membuat kartel pesaingnya mengambil alih pasar yang tadinya dikuasai Escobar. Kartel Cali, demikian pesaing Escobar yang dipimpin oleh empat orang yaitu Gilberto, Migel, José Santacruz Londoño dan Helmer “Pacho” Herrera.

Kartel Cali lebih terorganisasi. Lebih rapi. Jaringan mereka ada di mana-mana. Mulai dari aparat penegak hukum hingga para menteri di pemerintahan Kolombia. Bahkan dalam film tersebut digambarkan presiden baru Kolombia pun mendapat sokongan dana dari kartel Cali. Itu sebabnya, DEA lebih sulit memberangus kartel ini meski mendapatkan bukti-bukti lengkap terkait kejahatan terorganisasi mereka.

Kedutaan Besar AS di Kolombia pun melarang agen DEA untuk menangkap para pimpinan kartel Cali. Itu saking “besarnya” pengaruh mafia ini terhadap pemerintahan Kolombia. Tidak kehilangan cara, pada akhirnya agen DEA membocorkan bukti-bukti terkait kartel Cali ke media massa. Itu pula yang akhirnya mengubah jalan cerita para gembong narkoba sehingga bisa diadili di AS.

Apa yang bisa dipetik dari kisah ini? Mafia rupanya bisa mengatur sebuah pemerintahan negara. Dan itu tidak hanya di Kolombia. Pun di Meksiko. Karena kisah itu, saya lalu teringat skandal jaksa Pinangki Sirna Malasari dan buronan kelas kakap Joko Tjandra yang menjadi sorotan publik akhir-akhir ini.

Baca Juga : Jejak Wakil Jaksa Agung Dalam Skandal Joko Tjandra

Meski berbeda kisah, saya tersentak di Indonesia pun para mafia mampu menguasai para aparat penegak hukum agar tujuan mereka tercapai. Seperti di Kolombia dan Meksiko, skandal jaksa Pinangki dan Joko Tjandra ini juga melibatkan pejabat tinggi di lembaga Polri dan Kejaksaan Agung. Khusus di Kejaksaan Agung bahkan disebut-sebut melibatkan pejabat tertingginya.

Gurita Bisnis para Mafia Akankah Terbongkar ?

Djoko Tjandra adalah taipan yang mengantongi portofolio bisnis di sejumlah negara. Pemilik nama alias Tjan Kok Hui yang lahir di Kalimantan Barat, 27 Agustus 1950 ini, merupakan pendiri Mulia Group. Dia bersama ayahnya, Tjandra Kusuma, serta dua saudaranya mengawali Mulia Group dengan PT Multiland Tbk pada 1970 dan membangun properti mewah seperti Wisma Mulia, wisma GBKI, dan Menara Mulia.

Jejak properti Mulia Group juga terekam di sejumlah kawasan elite di Malaysia. Pada 13 Mei 2015, 1MDB Real Estate, pengembang Tuan Razak Exchange, menjual tanah lokasi proyek Exchange 106 di Malaysia senilai 665 juta ringgit atau Rp 2,2 triliun untuk kurs saat ini kepada Melia.

Baca Juga : Antasari: Kemana Barang Bukti Kasus Bank Bali Rp 546 M?

Di situlah Djoko berkantor, di balik gedung gergasi berfasad kaca, di antara kawasan elite yang sejajar dengan kantor-kantor mewah lainnya.

Polisi menangkap terpidana kasus hak tagih Bank Bali, Djoko Tjandra, di Malaysia, Kamis, 30 Juli 2020. Sang Joker—nama kondang Djoko—akhirnya dipulangkan ke Indonesia setelah 11 tahun menjadi buron.

Upaya untuk menuntaskan skandal tersebut masih berjalan hingga saat ini. Walau publik meragukan upaya itu akan menyentuh para pejabat tingginya. Khusus di Kejaksaan Agung, upaya menuntaskan skandal itu berjalan sangat lamban. Mengingat gembong narkoba di Kolombia pada akhirnya bisa dibongkar dan ditangkap, akankah skandal jaksa Pinangki dan Joko Tjandra ini berujung sama?


sumber :
Mafia (Hukum) - koransulindo.com
Tempo.co 
Diubah oleh jakarta0909 06-09-2020 16:41
uzuaanAvatar border
nomoreliesAvatar border
nomorelies dan uzuaan memberi reputasi
0
298
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.4KThread59.1KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.