Kaskus

Story

phinokkAvatar border
TS
phinokk
Ku Pendam Rasaku Demi Bahagiamu
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh😚

Ok guys, ini Phi kasih cerpen lagi buat kalian. Semoga kalian suka.

Happy reading 😉

Ku Pendam Rasaku Demi Bahagiamu

  Kerumunan siswa memenuhi mading yang baru saja ditempeli suatu brosur pengumuman.

   "Apaan sih tu, kok rame banget?" tanya Kiran pada Adit, pacarnya.

   "Mana aku tau. Aku kan dari tadi sama kamu." jawab Adit.

Mereka kini tengah berjalan di koridor, dan tampak dari kejauhan siswa yang berkerumun di depan mading sekolah. Karena penasaran, akhirnya mereka pun ikut berkerumun untuk melihat pengumuman tersebut.

   "Wah lomba nyanyi. Aku maubikutan ya." kata Kiran antusias.

   "Nggak." jawab Adit pelan.

   "Kenapa?" tanya Kiran kini dengan ekspresi sedih.

   "Kalo kamu ikutan lomba itu, kamu pasti bakal sibuk dan gak ada waktu buat aku. Sibuk pendaftaran lah, latihan lah, cari kostum lah, ini lah, itu lah." jawab Adit panjang lebar.

   "Nggak lah. Aku bakal tetep luangin waktu buat kamu. Aku bakal usahain kalo latihan aku gak ganggu waktu kita." jelas Kiran yang juga panjang lebar.

   "Enggak!" kata Adit tegas.

   "Ayolah sayang, bolehin ya." bujuk kiran lagi.

   "Terserah lah. Kamu sekarang emang gak pernah mau nurut sama aku." kata Adit kesal.

   "Kamu kan tau kalo ini hobi aku sejak kecil." ucap Kiran menunduk.

   "Terserah. Udah ah aku mau ke kelas." jawab Adit acuh yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Kiran di depan mading.

~skip~

     Krrrrriiiiiiiinnnngggg.......

Bel pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan meninggalkan area sekolah, begitupun Kiran dan Adit. Mereka pulang bersama, Adit mengantar Kiran dengan motornya. Tapi selama di perjalanan, tidak ada sepatah obrolan pun keluar dari mulut keduanya. Hingga tiba di depan rumah Kiran. Adit berhenti, dan Kiran pun turun dari motor.

   "Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Kiran lesu.

   "Pikir aja sendiri." ketus Adit.

   "Please dong jangan marah lagi. Iya deh aku gak jadi ikutan lomba itu." kata Kiran sambil mengembalikan helm pada Adit.

   "Terserah." jawab Adit acuh lalu melajukan motornya meninggalkan Kiran.

Kiran pun kemudian masuk rumah.

~skip~

   Keesokan harinya Kiran sudah berada di depan rumahnya menunggu Adit yang biasanya menjemput. Sudah hampir setengah jam Kiran menunggu, tapi pacarnya itu tak kunjung datang.

     Tin tinn

Suara klakson motor, berhenti yepat di hadapan Kiran. Tapi itu bukan Adit melainkan Revan. Kakak kelas Kiran yang juga lumayan dekat dengannya. Bisa dibilang Revan ini menyukai Kiran. Memang sudah lama mereka saling kenal.

Bahkan sebelum Kiran mengenal Adit pun, Revan sudah pedekate dengan Kiran. Tapi kira merasa tidak srek dengan Revan, meskipun Revan sebenarnya lebih tampan dari Adit. Tapi meskipun begitu, Revan tetap baik pada Kiran yang sudah jelas tidak menyukainya.

   "Nungguin siapa?" tanya Revan.

   "Biasa kak. Adit." jawab Kiran sambil melirik jam tangannya.

   "Bareng aku yuk." ajak Revan.

   "Tapi," Kiran masih berpikir.

   "Ini udah mau telat loh." kata Revan membujuk.

   "Hmm yaudah deh." jawab Kiran akhirnya.

   "Menurut kakak kalo aku ikutan lomba nyanyi itu gimana?" tanya Kiran meminta pendapat, saat mereka tengah di perjalanan.

   "Wah bagus dong. Suara kamu kan merdu." kata Revan memberi semangat.

   "Hmm, tapi kata Adit enggak." jawab Kiran sedih.

   "Kenapa?"

Kiran pun menceritakan masalahnya pada Revan.

   "Ya mungkin dia emang nggak mau nelewatin waktu tanpa kamu." kata Revan menenangkan.

~skip~

   Kiran sudah berada di kelas. Duduk dengan sahabatnya, Siva.

   "Ran lo jadi ikut lomba itu?" tanya Siva.

   "Gak jadi. Gue gak dibolehin sama Adit." jawab Kiran menunduk lesu.

   "Ih. Cowok lo kok selalu gitu sih. Nyebelin banget. Gak pernah mau suport lo." kesal Siva.

   "Yaudahlah gak papa." kata Kiran tersenyum meski sebenarnya dia sedih.

~skip~

     Kkrrrrrrriiiiiiinnnngggggg....

Bel pulang berbunyi. Kiran menanti Adit di parkiran untuk pulang bersama. Tapi kata teman sekelasnya Adit sudah pulang duluan. Untungnya ada kak Revan yang mau mengantar Kiran.

Sampai di rumah Kiran, dari belakang ada Adit berhenti setelah kak Revan pulang.

   "Wah hebat ya." kata Adit sambil menepuk tangan.

   "Aku nyariin kamu gak ada. Terus di anterin sama kak Revan." jelas Kiran cemas, takut Adit makin marah.

   "Aku marah sama kamu biar kamu sadar. Bukan malah jalan sama cowok lain." bentak Adit.

   "Tapi dit." belum sempat Kiran menjelaskan, Adit sudah pergi.

Kiran pun masuk rumah dengan keadaan sedih, sampai di kamarnya ia pun menangis.

   "Kira..na lo kenapa nangis?" Siva yang tiba tiba masuk kamar Kiran terkejut melihat sahabatnya menangis.

Kiran pun menceritakan masalah tadi pada Siva.

   "Apa?? Kurang ajar banget sih tuh cowok. Udahlah putusin aja. Cowok egois kayak dia tuh gak pantes buat lo." Siva benar benar kesal. Dia paling tidak suka jaka ada yang menyakiti sahabatnya.

   "Gak bisa Va, Adit sayang banget sama gue. Gue juga sayang sama dia." ucap Kiran dalam tangisnya.

~skip~

   Satu minggu berlalu. Adit masih bersikap dingin terhadap Kiran. Dia tidak lagi mengantar jemput Kiran sekolah. Bahkan chating pun jarang dibalas.

Untungnya masih ada Revan yang setia menemani Kiran. Revan selalu mensuport apapun hobi Kiran asal itu positif. Kadang jika Kiran melakukan kesalahan pun Revan mengingatkan atau menegur dengan cara yang halus.

Lama kelamaan perasaan Kiran terhadap Adit pun pudar. Adit sebenarnya mencintai Kiran, tapi dia terlalu egois dan tidak pernah mau mengerti perasaan Kiran.

   "Va, gue mau curhat dong." ujar Kiran pada Siva saat mereka di kelas pada jam kosong.

   "Yaudah cerita aja kali." jawab Siva santai.

   "Kok perasaan gue ke Adit lama lama pudar yah."

   "Bagus dong. Tinggal lo putusin dia." kata Siva enteng.

   "Ya gak bisa lah. Adit kan sayang banget sama gue. Gue gak mungkin ninggalin dia." kata Kiran menunduk.

   "Gue kok lebih suka kalo lo sama kak Revan ya. Dia tuh jauh lebih baik dari si Adit yang egois itu." kata Siva dengan penekanan pada kata 'egois'.

   "Gue bimbang sama perasaan gue sendiri. Kayaknya gue suka deh sama kak Revan." ucap Kiran bimbang.

   "Nah kan. Kak Revannya juga suka sama lo. Sekarang perasaan kalian sama. Lo tinggal putusin Adit trus jadian sama kak Revan." usul Siva.

   "Kak Revan itu cuma nganggep gue adek." kata Kiran memberi tahu.

   "Bagus dong. Kalo dia nganggep lo lebih dari itu, berarti dia punya niatan nikung. Nah ini enggak. Berarti dia cowok yang baik." jelas Siva.

~skip~

Keesokan harinya Kiran sedang di kantin bersam Adit.

   "Dit, aku mau ngomong sama kamu." ucap Kiran pelan.

   "Ngomong aja." jawab Adit acuh.

   "Aku mau kita putus." kata Kiran langsung pada intinya.

   "Apa??" Adit benar benar tidak menyangka Kiran akan memutuskan hubungan dengannya.

   "Sory Dit. Kayaknya perasaan gue ke elo udah pudar deh. Gue gak mau nyakitin lo dengan bohongin perasaan gue sendiri." kata Kiran tertunduk.

   "Please Ran, jangan lakuin itu. Aku sayang banget sama kamu. Iya aku tau aku egois, maafin aku." kata Adit sedih.

   "Gue udah maafin lo kok. tapi gue gak bisa lanjutin hubungan ini."

   "Pasti karena cowok itu kan." tebak Adit.

   "Bukan Dit. Semua karena sikap lo." kata Kiran yang lalu beranjak meninggalkan Adit.

Meski Adit pendiam. Tapi dia termasuk cowok populer di sekolah. Jadi kabar sekecil apapun pasti cepat tersebar.

Revan yang mengetahui itu merasa sedih. Karena pasti Kiran mengambil keputusan yang berat. Tapi disisi lain dia merasa kesempatannya untuk mendapatkan Kiran jadi ada.

~skip~

     Krrrriiiiiinnnngggg...

Bel pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar area sekolah. Tapi tidak dengan Kiran dan Revan.

   "Ran, aku mau ngomong sama kamu." kata Revan yang duduk di kursi panjang di koridor bersama Kiran.

   "Iya?" jawab Kiran menoleh.

   "Kamu mau gak jadi pacar aku?" tanya Revan to the point.

   "Maaf kak aku gak bisa." tolak Kiran menunduk.

   "Kenapa?" tanya Revan lagi.

   "Aku gak mungkin nyakitin Adit. Dia masih sayang sama aku." jelas Kiran.

   "Tapi kan kalian udah putus."

   "Iya emang. Tapi aku bener bener gak bisa nyakitin dia." ucap Kiran menunduk. air mata Kiran meluncur membasahi pipinya.

Dia lalu pergi ke kelasnya. Ternyata masih ada Siva disana. Ia pun memeluknya sambil menangis. Dia menykai Revan, tapi dia tidak ingin menyakiti Adit. Kiran lebih memilih menahan perasannya meskipun itu menyakitkan.

Selesai~

Baca juga cerita Phi yang lain ya guys😁
Masa Kelamku (inspirasi: last child~diary depresiku)
Al-Qur'an Perantara Cintaku
Sekedar Humor (Anjirrr)

Ok guys. Sampai sini dulu ya thread Phi kali ini. Sampai jumpa di thread selanjutnya 😉
Jangan lupa vote and cendol 😁

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh😚
Diubah oleh phinokk 20-08-2020 07:29
rootdevice88Avatar border
fiksyauAvatar border
admralwicaghAvatar border
admralwicagh dan 11 lainnya memberi reputasi
10
1.5K
10
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread•52.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
Š 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.