Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
175
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f22ec320577a936297a46dd/quotmendung-di-langit-demakquot-bara-di-kademangan-dawungan
“..Matahari terlihat mulai merambat condong kearah barat. Sinarnya yang tidak seterik beberapa saat sebelumnya terlihat mulai kesulitan menembus kelebatan hutan di kaki Gunung Lawu. Samar samar di kejauhan, terlihat dua orang yang sedang berjalan beriringan keluar dari dalam kelebatan hutan yang tidak terlalu besar tersebut. Kedua orang itu nampaknya baru saja menempuh perjalanan yang panjang da
Lapor Hansip
30-07-2020 22:50

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"

Past Hot Thread
Thread INDEX
Cerita bersambung
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"

(Bara Di Kademangan Dawungan)


Pengantar. https://www.kaskus.co.id/show_post/5...77a936297a46de

Bagian 01.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...bdb27e0a645932

Bagian 02.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d69530541b5a80

Bagian 03.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9364b533d152

Bagian 04.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc953194225a64

Bagian 05.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95367c43a9c8

Bagian 06.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9b1755e61084cc

Bagian 07.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...37725797617267

Bagian 08.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9311345ca1ac

Bagian 09.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b5ca27cf782096

Bagian 10.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95772e6f1de4

Bagian 11.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...276834b3695946

Bagian 12.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d2954edc289a10

Bagian 13.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...25c356bd0da5f8

Bagian 14.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c991488533c5af

Bagian 15
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95068005d4db

Bagian 16.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b5ca478d6f4e48

Bagian 17
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb955b855229a3

Bagian 18
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...972e728f7c4fa9

Bagian 19.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...40883ba8721993

Bagian 20.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d2950aca51f606

Bagian 21.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...ae2f70756646d3

Bagian 22.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb282171aff7

Bagian 23
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb0f954736b5

Bagian 24.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...751368695de7f1

Bagian 25.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9373ef39f3a7

Bagian 26.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9b177cf9181343

Bagian 27.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f7642fd72898e8

Bagian 28.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d49521801d7d54

Bagian 29.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...77a959440bba96

Bagian 30.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a55502d0ed0

Bagian 31.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7f930b480f02f0

Bagian 32.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a723f0e2418ff

Bagian 33.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d4956ac3084fc8

Bagian 34.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a3899078511

Bagian 35.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e933d8a64eb8c

Bagian 36.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...4088544a6d6e50

Bagian 37.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a7271350b60f7

Bagian 38.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a62e267c4b0

Bagian 39.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb4ffc7575c0

Bagian 40.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f6c4580b206944

Bagian 41.


















MENDUNG DILANGIT DEMAK”
“Bara di Kademangan Dawungan”

(Cuplikan...)

“..Matahari terlihat mulai merambat condong kearah barat. Sinarnya yang tidak seterik beberapa saat sebelumnya terlihat mulai kesulitan menembus kelebatan hutan di kaki Gunung Lawu.

Samar samar di kejauhan, terlihat dua orang yang sedang berjalan beriringan keluar dari dalam kelebatan hutan yang tidak terlalu besar tersebut. Kedua orang itu nampaknya baru saja menempuh perjalanan yang panjang dan baru saja melintasi jalan yang membelah hutan tersebut....”

-------

“Bagus. Majulah bersama sama agar waktuku tidak banyak terbuang. Jangan cemaskan kedua saudara seperguruanku itu. Aku pastikan keduanya tidak akan membantuku meskipun kalian semua yang ada ditempat ini akan maju bersama sama menghadapiku”.

Sesaat setelah menyelesaikan kata katanya, terlihat adik seperguruan Ki Pradangga itu telah saling menggosokkan keduan telapak tangannya. Dan seperti ilmu yang dimilikki oleh kakak seperguruannya, terlihat kedua pergelangan tangan adik seperguruan Ki Pradangga telah menjadi membara.

“Aku akan membunuh diriku sendiri seandainya aku tidak bisa membunuh kalian berempat dalam hitungan tak lebih dari jumlah jari kedua tanganku.”, berkata adik Ki Pradangga menebarkan ancamannya.

*********

Agan semuanya,

Demikianlah cuplikan beberapa paragraf dari sebuah dongeng yang berkisah tentang satu kemelut yang pernah terjadi dimasa pemerintahan Kasultanan Demak dibawah kepemimpinan Sultan Trenggana.

Dongeng saya ini ber genre cerita silat Jawa Klasik dengan setting peristiwanya di masa kerajaan Jawa (Kasultanan Demak).

Karena bukan pendongeng dan penulis yang profesional, mungkin alur ceritanya kurang smooth atau bahkan menghentak. Harap dimaklumi saja, hanya sekedar hobi dan mencoba memaksakan diri menjadi pendongeng. Sementara gaya bertutur/mendongeng saya mungkin juga terkesan lambat.

O ya, mohon maaf juga kalau agak gagap berinteraksi dengan beberapa istilah di Kaskus, maklum pendatang baru di dunia Kaskus.

Terima kasih gan selamat menikmati dongeng saya semoga berkenan.

Matur Nuwun.
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 4 dari 6
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
15-08-2020 08:51

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 32

Bagian 32.


Dan demikianlah di ke esokan harinya, terlihat Kyai Bahuwirya telah mempersiapkan diri untuk mengunjungi orang yang membutuhkan tenaganya.

Setelah memeriksa kembali barang barang yang akan dibawanya termasuk reramuan yang menjadi kelengkapan dalam pekerjaannya, Kyai Bahuwirya bermaksud mendatangi tetangganya yang terbiasa Ia mintai pertolongan untuk menjaga rumahnya selama Ia bepergian.

Tetangganya sudah hafal dengan kebiasaan Kyai Bahuwirya bepergian secara mendadak sehingga tetangga Kya Bahuwirya itu mengetahui apa yang harus dilakukannya selama Kyai Bahuwirya tidak ada dirumah.

Meskipun demikian Kyai Bahuwirya nampaknya memerlukan untuk memberikan pesan kepada tetangganya itu.

Kalau kau tidak sempat menggembalakannya, jangan lupa kau siapkan rumput dan dedaunan untuk kambing kambing itu”, berkata Kyai Bahuwirya pada tetangganya.

Sesuai janjiku yang pernah aku sampaikan kepadamu tempo hari, ambillah satu dari ketiga anak kambing yang baru lahir itu. Pilihlah yang manapun kau suka, tapi jangan kau bawa sekarang, biarkan ia disusui induknya dulu.”.

Terima kasih Kyai. Berapa lamakah kira kira Kyai bepergian”, tanya tetangga Kyai Bahuwirya.

"Tak lebih dari sepekan aku sudah berada dirumahku kembali”, jawab Kyai Bahuwirya sambil berpamitan kepada tetangganya itu.

------

Demikianlah selanjutnya Kyai Bahuwirya telah meninggalakan rumahnya untuk melakukan perjalanan mengunjungi orang orang yang membutuhkan tenaganya.

Kyai Bahuwirya memang tidak tergesa gesa melangkahkan kakinya justru karena Ia mengetahui bahwa jarak yang akan ditempuhnya adalah jarak yang sangat jauh.

Ada beberapa tempat yang harus dikunjunginya dan keseluruhannya berada diluar wilayah kademangan Dawungan.

Kyai Bahuwirya pun sudah memperhitungkan bahwa nampaknya Ia nanti terpaksa harus menginap dalam perjalanannya.

Dan itu bukanlah sesuatu yang asing bagi Kyai Bahuwirya karena Kyai Bahuwirya memang sudah terbiasa melakukannya hampir dalam setiap perjalanan jauhnya.

Sesaat ketika Kyai Bahuwirya baru saja meninggalkan pintu gerbang kademangan, Kyai Bahuwirya melihat dua orang penunggang kuda datang dari arah yang berlawanan dengan dirinya.

Ketika kuda itu telah semakin dekat, akhirnya Kyai Bahuwirya mengetahui bahwa kedua penunggang itu adalah Jatmika dan Apsara.

Kyai Bahuwirya melihat keduanya meloncat turun dari kuda. Sambil menuntun kudanya menepi, kedua anak muda itu menghampirinya.

Terdengar Kyai Bahuwirya telah berkata kepada keduanya.

Sepagi ini angger berdua telah datang dari ujung hutan itu, dari manakah kiranya angger berdua”.

Kami berdua hanya sekedar berjalan jalan Kyai. Nampaknya adi Apsara ingin menunjukkan kepadaku beberapa tempat yang masih belum sempat aku ketahui meskipun aku sudah beberapa waktu lamanya tinggal dikademangan ini”, jawab Jatmika.

Sekilas Kyai Bahuwirya melihat bahwa Jatmika nampaknya sedang memperhatikannya dengan bersugguh sungguh.

Dan sesaat kemudian Jatmika telah berkata.

Nampaknya Kyai akan melakukan perjalanan yang jauh”.

Demikianlah ngger. Aku harus memenuhi janjiku untuk mengunjungi beberapa orang yang membutuhkan bantuanku. Seperti yang kalian lihat, aku memerlukan membawa beberapa perlengkapan keperluanku untuk membantu beberapa orang yang telah membuat janji denganku”, jawab Kyai Bahuwirya.

Sambil mengangguk angguk terlihat Jatmika menatap tajam Kyai Bahuwirya seolah ada sesuatu yang ingin dicarinya dari orang tua itu.

Dan sejenak kemudian Jatmika telah berkata.

Baiklah Kyai, silahkan melanjutkan perjalanan. Nampaknya hari ini adalah hari yang cerah, dan semoga sinar mataharipun tak seterik biasanya”.

Terima kasih ngger, akupun tidak ingin terburu buru dengan perjalananku ini justru karena orang orang yang akan aku kunjungi tinggal di padukuhan yang agak jauh dari kademangan ini”, jawab Kyai Bahuwirya.

Dan demikianlah, sesaat kemudian terlihat Jatmika dan Apsara telah kembali menaikki kudanya untuk melanjutkan perjalanannya. Dan Kyai Bahuwirya juga telah kembali meneruskan perjalanannya.

Sambil melarikan kudanya dengan perlahan lahan terdengar Jatmika telah berkata.

Siapakah sebenarnya Kyai Bahuwirya itu”, desis Jatmika perlahan seolah kata katanya itu ditujukan pada dirinya sendiri.

Apsara yang mendengar perkataan dari Jatmika telah mejawab.

Bukankah orang tua itu yang telah mengantarkan kakang Jatmika ke rumah Ki Bekel sebelum peristiwa dibanjar itu terjadi”.

Jatmika tidak menanggapi jawaban dari Apsara, Ia justru terlihat mempercepat lari kudanya.

Apsara sempat heran dengan pertanyaan Jatmika itu. Dan sebenarnya Apsara bermaksud untuk menanyakan sikap Jatmika yang tidak dimengertinya tersebut, namun karena Jatmika telah memacu kudanya, akhirnya Apsara pun telah mengurungkannya.


-----


Bersambung bagian 33.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
15-08-2020 09:20
Lanjutkan kisanak...
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
15-08-2020 10:40
lanjut .....
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
15-08-2020 12:17

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 33.

Bagian 33.

Siang itu, dihalaman rumahnya terlihat Apsara sedang duduk berdua dengan Jatmika disebuah lincak dibawah pohon sawo. Keduanya nampaknya baru saja pulang dari sebuah bendungan yang sedang diperbaiki.

Sebelum musim penghujan tiba, penghuni kademangan nampaknya telah dengan sukarela melakukan kegiatan gugur gunung untuk memperbaiki bendungan bendungan yang mengalami kerusakan.

Bahkan bukan hanya bendungan yang diperbaiki, beberapa penghuni kademangan yang lainnya nampaknya juga memerlukan untuk membersihan parit maupun susukan susukan agar disaat musim hujan tiba air dapat mengalir dengan lancar.

Sejak Apsara menggantikan kedudukan ayahnya sebagai seorang pemimpin di kademangan, Apsara memang telah menjadi sibuk.

Ia telah banyak menghabiskan waktunya untuk berkeliling ke padukuhan padukuhan untuk melakukan tugasnya sebagai pemimpin kademangan.

Dan nampaknya Apsara mewarisi kecakapan ayahnya menjadi seorang pemimpin. Dalam setiap kesempatan Apsara mampu menunjukkan kelebihan kelebihannya sebagai seorang pemimpin.

Apsara pun nampaknya juga seorang anak muda yang mempunyai sifat terbuka sehingga Apsara mampu menyerap segala usulan atau pendapat dari seluruh penghuni kademangan.

Dikalangan anak anak mudapun, Apsara dapat dengan mudahnya menyesuaikan dirinya. Meskipun Apsara dapat disebut sebagai seorang Demang, namun Apsara tidak ingin teman temannya memperlakukannya berlebihan terkait dengan kedudukannya sebagai seorang pemimpin kademangan.

Sementara dalam menjalankan tugas kesehariannya, Apsara hampir selalu ditemani oleh Jatmika.

Apsaralah yang nampaknya memang menghendaki agar Jatmika selalu menemaninya. Dan Jatmika pun nampaknya tidak berkeberatan dengan permintaan Apsara itu.

Apalagi kehadiran Jatmika di kademangan itu memang telah mendapatkan sambutan yang hangat dari seluruh penghuni kademangan.

Meskipun terkadang keduanya telah ditemani oleh Ki Bekel atau pun Ki Jagabaya, tetapi mereka lebih sering terlihat pergi berdua dalam setiap keperluan yang mereka lakukan.

Beberapa penghuni kademangan nampaknya mempunyai pendapatnya sendiri melihat keakraban kedua anak muda itu.

Entah siapa yang memulainya, dan siapa pula yang menghembuskannya, kedekatan Jatmika dan Apsara itu ternyata telah dikaitkan dengan seorang anak Ki Demang yang lainnya.

Anak muda bernama Jatmika itu memang pantas menjadi menantu Ki Demang. Selain wajahnya yang tampan, anak muda itu berunggah ungguh serta mudah mengakrabkan diri dengan siapapun yang dijumpainya”, berkata salah satu penghuni kademangan ketika mereka sedang memperbincangkan keakraban kedua anak muda itu.

Akupun berpendapat demikian, selainnya lagi, anak muda itu ternyata juga memiliki kesaktian yang tinggi. Bahkan kabarnya kesaktian anak muda itu melebihi kesaktian dari Ki Demang sendiri”, berkata yang lainnya.

Aku jadi menyesal kenapa tidak sejak dulu aku melamar Iswari untuk aku jadikan sisihanku. Saat ini kesempatanku telah hilang gara gara hadirnya anak muda bernama Jatmika itu”, berkata seorang lainnya lagi yang nampaknya masih berusia muda.

Beberapa kawannya tak bisa menahan gelak tawanya mendengar perkataan dari orang yang masih berusia muda itu.

Lagakmu, kau pikir Iswari bersedia menerima lamaranmu. Sebelum kau berniat melamar Iswari seharusnya kau pergi ke belik dibawah pohon randu itu”, berkata kawanya.

Kenapa aku harus pergi ke belik, apakah Iswari sedang menunggu ku disana”, jawab anak muda itu seolah tidak menghiraukan ledekan kawannya.

Kawan kawannya kembali tertawa, bahkan kali ini terdengar lebih keras lagi.

Sementara kawannya yang lain telah menjawab pertanyaannya.

Bukankah air belik itu jernih sehingga kau bisa bercermin agar kau bisa melihat dirimu sendiri, apakah kau pantas melamar Iswari, atau barangkali kau ingin membuka persaingan dengan anak muda itu”, jawab kawannya sambil tertawa.

Anak muda itu hanya bersungut sungut dan tidak ingin menanggapi lagi perkataan kawan kawannya.

------

Dan siang itu, dibawah pohon yang ada disamping halaman rumah Ki Demang, terlihat Jatmika dan Apsara sedang menikmati kesejukan hembusan angin di bawah pohon yang ada dihalaman rumah Ki Demang.

Keduanya terlihat berbaring dilincak bambu sambil terkantuk kantuk karena belaian semilirnya angin yang berhembus.

Namun tiba tiba saja Apsara telah bangkit dari lincak sambil berkata kepada Jatmika.

Tunggulah sebentar. Aku akan mengambil air kendi. Rasanya begitu segar minum air kendi disaat udara panas seperti ini”.

Tanpa menunggu jawaban dari Jatmika, Apsara telah melangkahkan kakinya menuju dapur rumahnya.

Ketika Apsara akan memasuki pintu dapur, Ia telah berpapasan dengan adiknya yang sedang membawa nampan berisikan dua mangkok besar rujak degan serta sepiring pisang rebus.

Mau kau bawa kemana rujak degan itu”, berkata Apsara pada adiknya.

Terserah aku. Kenapa kakang bertanya”, jawab adiknya.

Apsara nampaknya tidak senang dengan jawaban adiknya, sehingga Ia telah membentaknya.

Kau selalu menjengkelkan aku. He..,aku bertanya bersungguh sungguh”.

Akupun menjawab bersungguh sungguh”, jawab adiknya seolah tidak peduli dengan kejengkelan kakaknya.

Apsara mengetahui bahwa adiknya nampaknya ingin membawa nampan itu ketempat Jatmika berada.

Dan Apsarapun juga mengetahui bahwa adiknya ternyata memang menaruh perhatian khusus kepada Jatmika, sehingga Apsara bermaksud membalas sikap adiknya yang dianggapnya telah menjengkelkannya.

Sambil tersenyum, Apsara mulai menggoda adikknya.

Kalau kau bermaksud membawa rujak degan itu untuk Kakang Jatmika, nampaknya Kakang Jatmika tidak berminat menerimanya”.

Kenapa memang”, jawab adiknya masih dengan suara yang mejengkelkan.

Karena aku bermaksud membawa kakang Jatmika ke warung Sawitri yang cantik itu untuk menikmati kesegaran dawet ketannya”, jawab Apsara.

Mendengar jawaban kakaknya, terlihat Iswari telah menghentakkan kakinya untuk melampiaskan kejengkelannya kepada kakaknya.

Sambil berbalik, terlihat Iswari telah meletakkan nampan yang dibawanya.

Di ambilnya gayung yang kebetulan berada didekatnya dan dilemparkannya gayung itu ke arah kakaknya.

Apsara dengan mudah dapat mengelakkannya, dan nampaknya Iswari justru telah menjadi semakin marah.

Terlihat Iswari telah mengambil gayung itu kembali, namun belum sempat Iswari melemparkan gayung itu ke arah kakaknya, tiba tiba Ibunya telah masuk kedalam dapur.

Ibunya yang memang berada tak jauh dari dapur nampaknya mendengar keributan yang terjadi.

Apsara, kenapa kau selalu mengganggu adikmu. Bantulah adikmu membawa rujak degan itu untuk angger Jatmika”, berkata ibunya.

Melihat ibunya telah memarahi kakaknya terlihat Iswari telah meledek kakaknya dengan mencibirkan bibirnya.

“Syukurin”, desis Iswari.

Sambil merapikan kain panjangnya, Iswari tampak telah mengambil kembali nampan yang berisi rujak degan itu.

Dan terlihat Iswari melangkah menuju tempat dimana Jatmika sedang beristirahat dibawah pohon.

Ada senyum yang mengembang dibibir Iswari meskipun degup jantungnya telah menjadi semakin kencang seiring dengan debar yang ada didalam dadanya.

Ibunya yang memperhatikannnya dari dalam dapur terlihat telah menarik nafasnya dengan dalam. Ada perasaan yang mulai bergejolak di dalam hatinya.

Gejolak hati seorang Ibu yang melihat anak gadisnya telah mulai dikuasai oleh perasaannya terhadap seseorang yang dianggap telah menarik perhatiannya.


-------

Bersambung bagian 34.
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
15-08-2020 21:55
Yang mengelak saat dilempar gayung kayaknya Apsara deh gan, bukan Jatmika. Salah ketik kayaknya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Marutoklopokono dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
16-08-2020 17:54
Bagus gan, cerita kearifan lokal
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
17-08-2020 23:54
Nunggu apdetan gan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
18-08-2020 08:56
“MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 34.


Hari itu di istana Demak sedang diadakan sebuah pisowanan yang bertempat di pendapa utama istana Demak.

Beberapa pemimpin pemerintahan Demak, para Tumenggung serta beberapa senopati utama dari berbagai kesatuan yang ada di kasultanan demak telah hadir dalam acara pisowanan.

Meskipun acara itu dihadiri oleh beberapa pemimpin di pemerintahan Demak, namun acara pisowanan itu sendiri nampaknya tidak sedang membahas satu persoalan yang dianggap memerlukan perhatian secara khusus oleh para pemimpin Demak.

Pisowanan hari itu mungkin hanya sekedar membicarakan persoalan persoalan yang terjadi sehari hari baik yang berkaitan dengan tata kehidupan yang ada diseluruh wilayah Demak maupun tata pemerintahan yang berkaitan dengan tugas tugas para pemimpin Demak.

Dalam pisowanan seperti itu, biasanya Sultan Demak hanya sekedar mendengarkan laporan dari para pemimpin Demak berdasarkan pada tugas dan wewenang masing masing pemimpin.

Dalam hal muncul satu dua persoalan yang dianggap penting serta memerlukan tanggapan secara khusus, biasanyanya persoalan tersebut akan dijadwalkan untuk dibahas dalam lingkup yang lebih terbatas dan sifatnya pun lebih tertutup.

Sementara itu, diluar dinding istana, terlihat seseorang berjalan mendekat menuju pintu gerbang Istana Demak.

Langkah kakinya yang terlihat begitu mantap seolah menyiratkan satu pertanda bahwa orang itu pada waktu waktu sebelumnya pernah memasuki istana Demak untuk keperluan apapun.

Dari pakaian yang dikenakannya, memberikan satu kesan bahwa orang itu bukanlah orang kebanyakan.

Kain panjang yang dikenakannya terlihat begitu bersih dengan coraknya yang khas. Sementara lipatan pada wironnya pun terlihat mengembang dengan rapi.

Bajunya berlengan panjang yang bercorakan garis berseling dalam perpaduan warna wulung dan coklat tua.

Ditempat asalnya, orang itu dikenal sebagai Kyai Bahuwirya.

Penampilannya saat ini memang di luar kebiasaannya. Dan Kyai Bahuwirya memang sengaja melakukannya.

Bagaimanapun Ia harus menyesuaikan diri sikap dan penampilannya dengan rencananya untuk menghadap Kangjeng Sultan Demak.

Ketika langkah kaki Kyai Bahuwirya telah semakin mendekati pintu gerbang istana, Kyai Bahuwirya melihat dua prajurit yang sedang bertugas dengan sikap kewaspadaannya telah melangkah untuk mendekat ke arahnya.

Apakah keperluan Kyai mendekati pintu gerbang istana Demak”, berkata salah satu prajurit.

Aku bermaksud untuk menghadap Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya dengan suara yang mantap.

Terlihat prajurit itu menatap dengan tajam Kyai Bahuwirya.
Lalu prajurit itu berkata.

“Maaf Kyai, apakah Kyai termasuk salah satu tamu yang mendapatkan undangan untuk hadir dalam acara pisowanan hari ini”.

Aku justru tidak mengetahui bahwa hari ini sedang diadakan acara pisowanan”, jawab Kyai Bahuwirya.

Prajurit itu mengerutkan dahinya mendengar jawaban dari Kyai Bahuwirya. Namun tak lama kemudian prajurit itu berkata.

Maaf Kyai, nampaknya aku tidak bisa mengijinkan Kyai untuk menghadap Kangjeng Sultan Demak”.

Dan sebelum Kyai Bahuwirya sempat memberikan tanggapannya, prajurit itu telah melanjutkan keterangannya.

Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini di istana Demak sedang diadakan pisowanan. Kangjeng Sultan tidak berkenan untuk menerima siapapun yang ingin menghadap terkecuali yang telah dikehendaki oleh Kangjeng Sultan sendiri”, berkata prajurit itu memberikan penjelasannya.

Sesaat Kyai Bahuwirya terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu yang ada didalam angannya.

Namun tak lama kemudian terdengar Kyai Bahuwirya berkata.

Itulah maksudku. Kedatanganku saat ini karena kangjeng Sultan menghendaki agar aku menghadap karena ada persoalan yang harus aku sampaikan kepada Kangjeng Sultan”.

Prajurit itu terlihat memandangi Kyai Bahuwirya seolah ingin memastikan bahwa orang yang berdiri dihadapannya itu adalah seseorang yang memang telah dikehendaki oleh Kangjeng Sultan sendiri untuk diperkenankan menghadap ke dalam istana.

Lalu prajurit itu berkata.

Baiklah Kyai, aku memang tidak berwenang untuk memutuskan apakah Kyai diperkenankan untuk menghadap atau tidak, karena kewenangan itu ada di bagian petugas pelayan dalam istana ataupun narpacundaka yang sedang bertugas hari ini”.

Sesaat prajurit itu berhenti berkata, namun sesaat kemudian ia telah menyambung kembali perkataannya.

“Silahkan Kyai menunggu disini, sementara aku akan menyampaikan ke petugas yang berwenang”.

Terima kasih, aku akan menunggunya”, jawab Kyai Bahuwirya.

Siapakah nama Kyai atau barangkali sebutan ataupun gelar yang perlu aku sampaikan kepada petugas pelayan dalam istana”, berkata prajurit itu.

Katakan bahwa Lintang Wetan bermaksud untuk menghadap Kangjeng Sultan Demak”, jawab Kyai Bahuwirya.

Demikianlah selanjutnya penjaga pintu gerbang istana Demak itu telah pergi untuk menemui petugas pelayan dalam untuk memberitahukan bahwa ada seseorang yang bermaksud ingin menghadap Kangjeng Sultan.

Sementara Kyai Bahuwirya telah menunggu didalam gardu penjagaan bersama beberapa prajurit penjaga istana Demak yang kebetulan sedang bertugas hari itu.


-----

Bersambung bagian 35.
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
18-08-2020 21:14
“MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 35.



Untuk beberapa saat lamanya Kyai Bahuwirya harus menunggu sebelum akhirnya penjaga itu telah keluar dari dalam istana dan memberitahukan kepada Kyai Bahuwirya bahwa Kangjeng Sultan nampaknya telah berkenan menerimanya untuk menghadap.

Kangjeng Sultan berkenan untuk menerima Kyai, meskipun demikian Kyai masih harus menunggu sampai acara pisowanan selesai. Aku telah diperintahkan untuk menunjukkan tempat dimana Kyai harus menunggu sampai Kangjeng Sultan berkesempatan menerima Kyai”, berkata prajurit itu memberikan penjelasannya.

Baiklah, aku mengucapkan terima kasih atas bantuan”, jawab Kyai Bahuwirya.

Demikianlah selanjutnya, penjaga itu telah membawa Kyai Bahuwirya memasuki istana Demak dan menunjukkan salah satu tempat yang ada didalam istana itu.

Setelah mempersilahkan Kyai Bahuwirya untuk menunggu didalam ruangan, untuk selanjutnya prajurit itu telah meninggalkannya untuk kembali pada tugasnya.

Tidak berselang lama ketika Kyai Bahuwirya berada didalam ruangan, seorang pelayan dalam telah masuk menemuinya.

Kyai, aku baru saja mendapatkan pesan dari Kangjeng Sultan Demak, bahwa Kyai diminta untuk menunggu beberapa saat lagi. Kangjeng Sultan masih memerlukan untuk memberikan sesorahnya dalam pisowanan sebelum akhirnya menutup pertemuan tersebut”, berkata seorang petugas pelayan dalam.

Baiklah, aku tentu akan menunggu sampai Kangjeng Sultan menerimaku”, jawab Kyai Bahuwirya.

Setelah pelayan dalam meninggalkan ruangan, terlihat Kyai Bahuwirya telah berada sendirian kembali di dalam ruangan yang besar itu.

Kyai Bahuwirya menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan itu serta mengamati beberapa benda yang ada didalam ruangan itu, lalu terdengar desisnya perlahan.

Tempat ini masih sama seperti beberapa tahun yang lalu ketika terakhir kalinya aku berkesempatan di terima oleh Kangjeng Sultan Demak”, berkata Kyai Bahuwirya didalam hatinya.

Nampaknya ruangan ini menjadi salah satu tempat yang disukai oleh Kangjeng Sultan untuk menerima tamu tamunya secara khusus”.

Demikian selanjutnya, Kyai Bahuwirya merasakan waktu seolah berjalan dengan lambatnya.

Oleh kesendirianya dan juga suasana hening di dalam ruangan itu, tanpa sesadarnya angan Kyai Bahuwirya telah terbawa ke dalam sebuah kenangan atas satu peristiwa yang pernah dialaminya di masa lalu.

Sebuah peristiwa yang terjadi pada masa beberapa puluh tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya Ia bertemu dan mengenal dengan seseorang yang pada waktu selanjutnya baru diketahuinya bahwa seseorang yang dikenalnya itu ternyata adalah putra dari Sultan Demak yang terdahulu.

Ketika itu...,
Ketika usianya masih muda, Ia gemar sekali menelusuri tempat tempat yang berada di kaki Gunung Lawu.

Hampir semua tempat di kaki Gunung Lawu telah Ia jelajahi sehingga Ia mengenal dengan baik setiap sudutnya.

Kebiasaannya itu dilakukan karena di dorong oleh kegemarannya dalam berburu. Bukan berburu dalam arti yang sesungguhnya karena yang Ia buru hanyalah jenis burung.

Ia memang menyukai memelihara beberapa jenis burung. Selain dipelihara, beberapa burung yang berhasil ditangkapnya sebagiannya telah Ia jual kepada orang orang kaya yang mempunyai kesenangan memelihara burung jenis tertentu.

Bahkan tak jarang, Ia berburu untuk memenuhi pesanan seseorang dimana orang tersebut ingin dicarikan burung jenis tertentu dengan harga yang telah disepakati.

Karena hasil buruanya akan dipelihara, maka dalam berburu, Ia tidak pernah mempergunakan panah, sumpit ataupun senjata jenis lainnya yang mempunyai akibat dapat melukai atau bahkan membunuh burung yang ingin ditangkapnya.

Ia terbiasa menangkap burung buruannya dengan cara memikatnya menggunakan getah perekat atau mungkin dengan cara lainnya menggunakan jebakan ataupun perangkap.

Selain berburu, Ia juga mempunyai ketertarikan untuk dapat mengenali bermacam jenis tumbuh tumbuhan yang konon kabarnya mempunyai kasiat untuk pengobatan.

Meskipun ketika itu Ia tidak memiliki pengetahuan ataupun kemampuan dalam meramu obat obatan yang berasal dari tumbuh tumbuhan, namun entah mengapa Ia begitu tertarik mengenali bermacam macam jenis tumbuhan ataupun akar akaran yang dianggap mempunyai kasiat untuk reramuan obat obatan.

Demikianlah yang terjadi selanjutya.
Pada suatu waktu, ketika Ia sedang menyusuri kelebatan hutan untuk melakukan perburuanya, Ia telah bertemu dengan seorang anak muda yang nampaknya berumur yang sebaya dengannya.

Masih dapat diingatnya dengan jelas peristiwanya ketika itu.

Anak muda yang dijumpainya di dalam hutan itu telah memperkenalkan dirinya dengan nama Wiguna.

Dengan berterus terang Anak muda itu mengatakan bahwa Ia sedang dalam perjalanan untuk menjalani sebuah laku sebagai salah satu upayanya melakukan mesu diri.

Ia menyukai anak muda bernama Wiguna itu. Menurut penilaiannya, anak muda itu terlihat berunggah ungguh dan mempunyai sifat jujur dan terbuka.

Karena sifatnya yang terbuka dan berterus terang, anak muda itu mudah mengakrabkan diri.

Satu yang selalu terasa membekas di hatinya ketika itu, Ia melihat pesona kewibawaan yang terpancar dari wajahnya.

Pesona itulah yang nampaknya telah membuatnya tertarik dan menyukai anak muda bernama Wiguna itu.

Selebihnya adalah, Ia senang bertemu anak muda itu karena bisa mendapatkan kawan ketika sedang berada di dalam hutan.

Sangat jarang sekali terjadi Ia bertemu dengan seseorang ketika Ia sedang berada di dalam hutan, apalagi kalau Ia sudah masuk terlalu dalam di kelebatan hutan.

Anak muda itu sendiri nampaknya mengetahui bahwa keberadaannya didalam hutan karena Ia sedang melakukan perburuan untuk menangkap burung.

Beberapa perlengkapan yang dibawanya memang dapat dijadikan petunjuk atas apa yang sedang dilakukannya didalam hutan ketika itu.

Kepada anak muda itu, Iapun juga berterus terang bahwa burung burung yang berhasil ditangkapnya sebagiannya memang akan dijualnya kepada orang orang kaya yang mempunyai kegemaran memelihara burung.


-----

Bersambung bagian 36.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
20-08-2020 03:06
Menunggu
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
20-08-2020 07:03
manunggu update lanjutan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
20-08-2020 10:08
“MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 36.


Demikianlah ketika itu, Ia dan anak muda itu telah saling bercerita tentang bermacam persoalan untuk lebih mengakrabkan diri.

Dalam perbincangannya saat itu, akhirnya anak muda tersebut sempat mengutarakan niatnya untuk meminta pertolongannya.

Apakah kau mengetahui dimanakah letak sebuah tempat yang disebut dengan Sendang Kuning yang kabarnya berada disebuah sela sela perbukitan Ompak Watu”.

Ia memang mengetahui sebuah tempat yang disebut anak muda itu.

Namun ketika itu Ia sempat terkejut mendengar anak muda itu menyebutkan satu tempat yang bernama Sendang Kuning.

Sendang itu sendiri letaknya justru tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hanya memerlukan waktu setengah hari perjalanan dari untuk mencapai tempat itu.

Yang membuatnya menjadi terkejut adalah, sejauh yang diketahuinya berdasarkan kabar dan cerita yang sering didengarnya, Sendang Kuning adalah satu tempat yang dianggap wingit dan angker.

Kabar dan cerita lainnya mengisahkan, bahwa sendang itu ditunggu oleh makhluk tak kasat mata dalam ujud seekor Belut yang berwarna putih.

Belut Putih itu tentu saja bukan belut sewajarnya karena dari cerita yang didengarnya, belut itu hanya menampakkan diri pada orang orang yang dikehendakinya.

Masih menurut kabar yang pernah didengarnya, dalam waktu waktu tertentu, dari dalam sendang itu muncul sebuah cahaya putih, dimana cahaya itu seolah memancar lurus menembus langit.

Konon kabarnya cahaya itu berasal dari belut putih yang sedang menampakkan ujudnya.

Ia sendiri beberapa kali pernah melintas didekat sendang tersebut, meskipun demikian Ia memang belum pernah melihat keadaan sendang itu secara langsung.

Bukan karena Ia takut dengan keangkeran sendang itu, namun Ia memang tidak mempunyai kepentingan dengan keberadaan sendang itu sendiri.

Dan kali ini, anak muda bernawa Wiguna yang baru dikenalnya itu ternyata telah menanyakan tentang sendang tersebut.

Ia memang mengatakan bahwa Ia mengetahui keberadaan sendang itu.

Ia pun sempat menanyakan tentang maksud dan tujuan anak muda itu mengetahui keberadaan dari sendang yang angker tersebut.

Aku memang mengetahui keberadaan sendang itu meskipun aku belum pernah melihatnya dari dekat”, jawabnya ketika itu.

Kenapa kau menanyakan keberadaan sendang itu”, tanyanya kemudian.

Seperti yang telah aku katakan sebelumnya. Aku sedang dalam perjalanan untuk menjalani sebuah laku. Dan berdasarkan pada isyarat dan petunjuk yang aku terima, aku harus menemukan sebuah tempat yang disebut dengan Sendang Kuning”, berkata anak muda itu.

Dan apakah yang akan kau lakukan di sendang itu”, tanyanya.

Aku akan melakukan mesu diri dan ber olah rasa di tempat itu”, jawab anak muda itu.

Bagaimanakah caranya”, tanyanya lebih lanjut.

Sesuai isyarat dan petunjuk yang aku terima, aku harus berendam di sendang itu selama tiga hari tiga malam. Aku hanya diperbolehkan keluar dari sendang dua kali dalam sehari. Sekali ketika matahari berada tepat pada puncaknya dan yang sekali sesaat ketika malam telah sedikit melewati puncaknya”, kata anak muda itu memberikan penjelasannya.

Siapakah yang telah memberimu isyarat ataupun petunjuk sehingga kau telah nekat menjalankan laku yang berat itu”, tanyanya kepada anak muda bernama Wiguna itu.

Dari dalam sinilah isyarat dan petunjuk itu berasal”, jawab anak muda itu sambil telapak tangan kanan nya menepuk dadanya.

Ia mengetahui maksud dari anak muda itu. Nampaknya anak muda itu menjalani lakunya berdasarkan atas isyarat yang ada didalam hatinya.

Apakah kau mengetahui cerita tentang Sendang Kuning itu”, tanyanya lebih lanjut ketika itu.

Apakah yang kau maksud cerita tentang ke angkeran sendang itu dan juga cerita tentang Belut Putih penunggu sendang Kuning yang kabarnya mengeluarkan cahaya yang mampu menembus langit”, jawab anak muda itu dengan sebuah pertanyaan kepadanya.

Sambil mengangguk, Ia berkata.
Apakah kau mempercayai kabar dan cerita yang semacam itu”.

Terlihat anak muda itu menghela nafasnya, lalu terdengar anak muda itu berkata.

Lebih baik aku mempercayainya. Aku menganggap cerita seperti itu tidak akan muncul begitu saja tanpa ada satu alasan yang melatar belakanginya”.

Lantas kenapa kau masih memaksa ingin menjalankan laku di tempat yang wingit itu. Apakah kau tidak takut mendapatkan gangguan dari penunggu sendang itu”, tanyanya.

Kenapa harus takut. Aku tidak akan melakukan apapun ditempat itu selain hanya berendam. Aku tidak akan merusak sendang itu maupun tempat tempat disekelilingnya. Aku menjalani sebuah laku sebagai salah satu upayaku untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Setiap saat, aku selalu menyandarkan diriku sepenuhnya kepada kebesaran Nya. Dan Akupun mempercayai sepenuhnya bahwa aku akan mendapatkan perlindunga Nya”, berkata anak muda itu memberikan penjelasannya.

Ketika itu Ia hanya diam saja mendengar penjelasan dari anak muda yang baru dikenalnya itu.

Meskipun demikian Ia sependapat dengan apa yang dikatakan oleh anak muda tersebut karena Ia melihat kebenaran dari apa yang dikatakannya.

Pada saat selanjutnya anak muda itu telah berkata kepadanya.

Kalau kau bersedia, aku memerlukan pertolonganmu”.

Pertolongan apakah yang kau maksud. Kalau kau memintaku untuk menunjukkan tempat itu, aku bersedia mengantarmu. Kebetulan perjalananku memang sedang mengarah ke perbukitan Ompak Watu tempat dimana sendang itu berada”, jawabnya ketika itu.

Itulah salah satunya”, jawab anak muda itu.

Apakah dengan demikian masih ada yang lainnya”, tanyanya lebih lanjut.

Anak muda itu menganggukan kepalanya. Lalu berkata.

Setelah mengantarku untuk menunjukkan keberadaan sendang itu, Aku minta kau bersedia mengawaniku menjalani laku”.

Ia sempat terkejut mendengar permintaannya. Ada keraguan didalamnya dirinya karena sejak semula Ia memang tidak berniat untuk menjalankan sebuah laku.

Ia pun merasa ragu apakah Ia sanggup menjalani laku dengan cara kungkum didalam sendang selama tiga hari tiga malam. Baginya, laku itu adalah laku yang terlalu amat berat untuk dijalaninya.

Dan anak muda itu nampaknya mengetahui keraguan yang dirasakannya, sehingga anak muda itu memberikan penjelasannya.

Maksud dari perkataanku adalah, kau tidak perlu ikut berendam di dalam sendang itu. Kau cukup menungguiku selama aku menjalani laku dan mesu diri. Dan kau pun tidak harus menungguiku sambil duduk di tepian sendang. Kau bisa tidur sesukamu atau kalau kau merasa bosan, kau dapat melakukan apapun yang sesuai dengan keinginanmu. Bahkan kau bisa melihat lihat tempat disekeliling sendang barangkali saja kau justru dapat menangkap burung yang sesuai keinginanmu”.

Mendengar penjelasan dari anak muda itu, nampaknya Ia tidak berkeberatan memenuhi permitaan anak muda itu.

Namun ada keraguan lainnya yang nampaknya memerlukan pertimbangannya sebelum Ia menyanggupi permintaan anak muda tersebut.

Bagaimanapun Ia tidak akan melupakan tujuannya sendiri bahwa keberadaannya didalam hutan saat itu karena Ia sedang melakukan perburuan.

Kalau Ia menyanggupi permintaan anak muda itu, berarti Ia harus kehilangan waktu dan kesempatan untuk mendapatkan hasil buruanya karena waktunya dipergunakan untuk mengawani anak muda tersebut.

Seolah mempunyai panggraita yang tajam, kembali anak muda itu dapat menebak apa yang mejadi keraguan di dalam hatinya.

Jangan cemas kau kehilangan waktu berburumu”, kata anak muda bernama Wiguna ketika itu.

Kalau kau bersedia mengawaniku, Aku berjanji akan memberimu beberapa burung yang sesuai dengan keinginanmu. Di rumahku, aku juga memelihara burung. Jumlahnya sangat banyak. Mungkin lebih banyak dari jumlah burung yang diperjual belikan dipasar. Beberapa diantaranya merupakan burung yang paling pandai dan merdu kicauannya”.

Apakah kau berkata sebenarnya”, tanyanya ketika itu.

Ya. Kau dapat memegang janji dan kata kata yang telah aku ucapkan”, jawab anak muda itu dengan wajahnya yang menyiratkan kesungguhan.

Ketika mendengar perkataannya, Ia seolah melihat kembali pesona kewibawaan yang terpancar dari wajahnya yang cerah.

Dan entah kenapa, tiba tiba saja Ia telah menyanggupi permitaan anak muda itu. Ia pun tidak mengetahui, kesanggupannya itu didorong oleh ketertarikannya akan sosok anak muda itu atau karena Ia tertarik dengan janji anak muda itu untuk memberinya burung yang diinginkannya.

Yang sempat Ia katakan saat itu adalah sebuah pertanyaan yang seolah begitu saja terlontar dari bibirnya.

Apakah permintaanmu kepadaku agar aku mengawanimu dalam menjalani laku dan mesu diri di Sendang Kuning itu juga berdasarkan atas petunjuk dan isyarat dari dalam hatimu”.

Mendengar pertanyaannya itu, untuk sesaat anak muda itu memang menjadi diam seolah anak muda itu ingin mengetahui maksud sesungguhnya dari pertanyaan yang memang terlontar begitu saja dari mulutnya.

Ia sendiri ketika itu memang tidak mempunyai maksud apapun dengan pertanyaan tersebut. Bahkan Bahkan Ia pun sempat menjadi heran kenapa tiba tiba saja Ia telah bertanya yang semacam itu kepada anak muda tersebut.

Namun sesaat kemudian, Ia melihat anak muda itu tersenyum sambil berkata kepadanya.

Nampaknya kau suka bercanda. Meskipun kita baru saling mengenal, aku menyukaimu"

Lalu anak muda itu berkata selanjutnya.

"Terlepas dari kesediaanmu untuk membantuku, Kau telah kuanggap sebagai kawan yang baik bagiku. Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu dan Aku akan mengingat apa yang pernah kau lakukan saat ini untuk selamanya”.


Lalu dengan nada yang lebih bersungguh sungguh, anak muda itu meneruskan perkataannya.

Jangan cemaskan atas kesediaanmu untuk menolongku. Semoga pertanyaamu itu bukan karena kau dihinggapi satu pemikiran bahwa aku akan menjadikanmu tumbal untuk laku yang akan aku jalani”.

“Jangan percayai hal yang semacam itu. Sebagai manusia, kita diciptakan dalam derajat yang lebih tinggi dari makhluk apapun yang tak terlihat oleh mata wadag kita. Selebihnya, Kita akan menyerahkan sepenuhnya atas apa yang kita lakukan kepada Yang Maha Agung”.


Ketika itu, Ia memang menjadi takjub mendengar perkataannya. Anak muda itu umurnya memang sebaya dengannya, namun demikian Ia menganggap anak muda itu mempunyai sikap yang mapan dan mengendap dalam menanggapi persoalan kehidupan. Lebih dari itu anak muda itupun nampaknya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas.

Tutur katanya mencerminkan atas kematangan sikapnya. Anak muda itupun seolah mempuyai keseimbangan yang mapan dalam mengendalikan perasaan dan penalarannya.

Dan hal yang demikian itulah yang nampaknya telah membuat dirinya semakin tertarik dan menyukai anak muda bernama Wiguna itu.

-----

Bersambung bagian 37.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
20-08-2020 10:27
MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)


Bagian 37.


Dan demikianlah selanjutnya, Ia telah membawa anak muda itu ke perbukitan Ompak Watu tempat dimana Sendang Kuning berada.

Membutuhkan waktu hampir sehari semalam untuk mencapai perbukitan Ompak Watu. Namun perjalanan itu tidak terasa melelahkan.

Anak muda itu pandai bercerita. Disepanjang perjalanan, ada saja yang diceritakan oleh anak muda itu sehingga tanpa terasa Ia telah semakin mendekati perbukitan Ompak Watu.

Ketika sampai di Sendang Kuning, waktu telah menjelang sore hari. Anak muda itu terlihat mulai mempersiapkan dirinya. Nampaknya anak muda itu tidak ingin membuang waktunya.

Anak muda itu mengatakan bahwa sesaat setelah matahari tenggelam, Ia akan masuk ke dalam sendang untuk mulai menjalani laku.

Anak muda itu berpesan bahwa Ia baru akan keluar di keesokan harinya ketika matahari berada pada puncaknya.

Bagaimanapun juga anak muda itu tentu harus memperhitungkan kekuatan wadagnya untuk mendukung keinginannya.

Pesan lainnya dari anak muda tersebut adalah, Ia diminta untuk mencari beberapa buah buahan, terutama buah pisang.

Anak muda itu mengatakan bahwa selama menjalani laku kungkum, anak muda itu hanya akan makan dengan beberapa jenis buah buahan, terutama jenis pisang.

Ia tidak khawatir dengan permintaan anak muda tersebut, karena di sekitar perbukitan Ompak Watu dapat dengan mudah ditemukan bermacam jenis pohon buah buahan yang tumbuh dengan liar.

Banyak diantara buah buah tersebut telah menjadi masak, bahkan sebagiannya telah terbiarkan jatuh dan membusuk.

Demikianlah, sesaat ketika matahari telah tenggelam, anak muda itu telah berkata kepadanya.

Aku akan memulainya. Semoga keberadaanmu di tempat ini untuk mengawaniku dapat menambah kekuatan tekadku sehingga aku dapat menyelesaikan laku yang akan aku jalani. Jangan cemaskan diriku, aku sudah pernah melakukan sebelumnya, bahkan ada yang lebih berat lagi”.

Carilah tempat sesukamu untuk beristirahat dan tidur. Kalau perlu buatlah perapian untuk sekedar mengurangi udara malam yang dingin”.

Pada puncak pemusatan nalar budiku, aku tidak akan terganggu oleh keadaan yang terjadi disekelilingku, bahkan seandainya ada petir yang menyambar didekat telingaku, aku tidak akan mendengarnya”.

Dan sesaat kemudian, anak muda itu telah mulai turun ke dalam sendang yang berair jernih itu.

Ia melihat keteguhan dan kemantaban tekad dari anak muda itu dalam meyakini apa yang telah menjadi kehendak hatinya. Ia pun melihat betapa anak muda itu memilikki rasa percaya diri yang tinggi.

Dan Ia mulai merasakan, bahwa nampaknya Ia tidak sekedar menyukai anak muda itu, tetapi Ia pun mulai mengagumi anak muda itu.

Demikianlah selanjutnya, anak muda itu telah mulai menjalani laku dan mesu diri atas kehendak hatinya sendiri.

Pada hari pertama, dan sesuai dengan yang telah dikatakannya, ketika matahari telah berada pada puncaknya, anak muda itu telah keluar dari sendang.

Anak muda itu telah mengisi perutnya dengan sepotong pisang yang memang telah disediakannya. Tidak banyak yang dikatakan oleh anak muda itu selain sebuah pesan.

Sediakan dua potong pisang dan tolong taruhlah diatas batu yang ada dipinggir Sendang. Nanti malam aku tidak akan keluar dari sendang. Ketika malam telah lewat dari puncaknya aku akan makan pisang itu sambil tetap berendam didalm sendang”.

Beberapa saat kemudian anak muda itu telah kembali masuk ke dalam sendang untuk meneruskan laku yang sedang ditempuhnya.

Pada hari kedua anak muda itu menjalani laku, Ia mulai melihat perubahan pada kekuatan wadagnya. Anak muda itu terlihat kelelahan.

Ketika anak muda itu berjalan keluar dari dalam sendang, Ia melihat langkah kakinya menjadi gontai. Ketika Ia bermaksud menolongnya, anak muda itu menolaknya.

Terima kasih. Biarlah Aku berjalan sendiri. Sebentar lagi kekuatanku akan pulih meskipun tidak sepenuhnya. Aku hanya perlu menyesuaikan dinginnya air sendang itu dengan keadaan di luar sendang”.

Anak muda itu makan sepotong pisang dan seiris pepaya yang telah dikupasnya. Sambil duduk disebelahnya, anak muda itu berkata.

Masih sehari semalam lagi waktu yang harus aku lalui untuk menyelesaikan laku ku kali ini. Aku memutuskan untuk tidak akan keluar dari sendang lagi sampai aku menyelesaikan keseluruhannya”.

Ketika itu, Ia mencemaskan keputusan anak muda tersebut mengingat keadaan anak muda itu yang terlihat semakin melemah kondisi wadagnya.

Namun anak muda itu nampaknya tetap akan melakukan apa yang telah mejadi keinginannya.

Meskipun Ia mencemaskan anak muda itu, namun Ia pun tentu tidak bisa untuk melarang apa yang telah menjadi keinginannya.

Ia mulai mempercayai sepenuhnya bahwa nampaknya anak muda itu adalah seorang anak muda yang memang telah terbiasa menjalani sebuah laku atau pun mesu diri.

Ia pun mempunyai dugaan bahwa anak muda bernama Wiguna itu tentu bukanlah anak muda kebanyakkan. Mungkin anak muda itu adalah seorang murid dari sebuah perguruan.

Ia memang tidak mengetahui apakah laku yang dijalani anak muda itu merupakan sebuah laku yang berkaitan dengan Ilmu kanuragan atau sebuah laku yang terkait dengan ilmu pencapaian diri seorang manusia dalam menjalani kehidupan bebrayan agung.

Ia sendiri mengetahui betapa beratnya menjalani sebuah laku. Apalagi laku seperti yang sedang dijalani anak muda bernama Wiguna tersebut.

Ia pun pernah menjalani laku, tapi laku yang dijalaninya tidak seberat seperti laku yang sedang dijalani anak muda itu.

Bagaimanapun juga, Ia sendiri bukanlah anak muda yang tidak berilmu sama sekali. Ia pernah berguru untuk menimba ilmu yang diajarkan di sebuah perguruan, termasuk juga ilmu kanuragan

Sebagai seseorang yang mempunyai kebiasaan menjelajahi kedalaman hutan, Ia merasa perlu mempunyai bekal ilmu yang tersimpan didalam dirinya.

Meskipun demikian Ia menyadari bahwa ilmu yang tersimpan didalam dirinya hanyalah sebuah ilmu dalam tataran yang dianggapnya cukup untuk sekedar menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan terjadinya gangguan yang ditimbulkan oleh orang orang yang berniat jahat kepadanya ataupun para perampok kebanyakkan.

----

Demikian selanjutnya, dihari terakhir anak muda itu menjalani laku, Ia pun mulai menjadi cemas dengan keselamatan anak muda itu.

Entah kenapa Ia seolah tidak bisa melepaskan begitu saja perasaan cemas didalam hatinya terhadap keselamatan anak muda tersebut.

Meskipun anak muda itu memang baru dikenalnya, dan Ia pun tidak mengetahui apakah anak muda itu benar benar bernama Wiguna seperti pengakuannya, namun demikian Ia telah terlanjur menyukai dan mengagumi nya.

Mungkin terdorong oleh perasaan seperti itulah yang telah membuatnya mencemaskan keadaan anak muda itu.

Ia tidak sabar menunggu matahari tenggelam, karena disaat matahari tenggelam itulah saat dimana anak muda itu menyelesaikan laku yang dijalaninya.

Beberapa kali ditengadahkanya kepalanya, Ia melihat matahari sesaat lagi akan tergelincir di ufuk barat. Suasana disekeliling sendang itu sendiri telah mulai menjadi gelap.

Sejak beberapa saat yang lalu Ia sudah duduk ditepian sendang menunggu saat saat dimana anak muda itu menyelesaikan apa yang sedang dijalaninya.

Matanya berusaha menembus kegelapan malam yang mulai menyelimuti tempat itu. Ia mulai melihat anak muda itu menggerakkan anggota tubuhnya.

Ia masih harus menunggu beberapa saat lagi sebelum akhirnya Ia melihat anak muda itu bergerak menepi untuk keluar dari sendang.

Anak muda itu hampir terjatuh ketika kakinya bermaksud menaiki batu yang ada di tepian sendang.

Bahkan ketika akhirnya anak muda itu bisa benar benar keluar dari dinginnya air sendang, anak muda itu seolah telah kehilangan semua kekuatanya.

Anak muda itu terhuyung huyung dan tidak bisa lagi bertahan untuk tetap berdiri pada kedua kakinya.

Ia bergegas menghampiri anak muda itu dan membantunya untuk tetap dapat berdiri. Lalu Ia memapah anak muda itu dan membawanya mendekat kearah perapian yang telah Ia buat sebelumnya.

Ia hanya mendengar desis lirih dari anak muda itu.

Terima kasih atas bantuanmu. Aku telah berhasil menyelesaikannya keinginanku”.

Ia membantu anak muda duduk didekat perapian agar tubuhnya menjadi hangat. Dengan sisa sisa tenaga yang masih dimilikkinya, terlihat anak muda itu telah mengatupkan kedua telapak tangan didepan dadanya. Kedua matanya telah terpejam.

Nampaknya muda itu sedang berusaha memusatkan nalar budinya untuk mencoba memulihkan kekuatannya.

Dalam keadaan seperti itu, Ia melihat wajah anak muda itu menjadi pucat dengan bibir yang membiru. Meskipun demikian anak muda itu tidak kehilangan kesadarannya.

Ia menarik nafasnya dengan lega karena dapat menyaksikan bahwa anak muda yang luar biasa itu ternyata mampu menyelesaikan sebuah laku dengan selamat.


-----

Bersambung bagian 38.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
20-08-2020 11:04
Mantab gan, lanjut emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
Marutoklopokono dan marutobotokono memberi reputasi
2 0
2
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
20-08-2020 17:02
lanjut lagi gan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
21-08-2020 22:05
Blm apdet gan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
21-08-2020 23:21
Masih belum selesai nulisnya gan, semoga bisa secepatnya up date lanjutannya.
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
22-08-2020 10:01
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)



Bagian 38.


Demikianlah untuk selanjutnya, anak muda tersebut masih membutuhkan waktu satu hari satu malam untuk dapat memulihkan tenaganya, sebelum berencana meninggalkan tempat itu.

Dan anak muda itu ternyata tidak melupakan janji yang telah diucapkannya. Di keesokan harinya, setelah merasa cukup beristirahat, anak muda itu mengajaknya untuk pergi ke Demak.

Sebelumnya Anak muda itu memang mengatakan bahwa Ia tinggal di kota Demak meskipun tidak jelaskannya apakah tempat tinggalnya berada di dalam kota Demak atau diluar kota.

Anak muda itupun tidak berkeberatan ketika Ia menawarinya untuk singgah terlebih dahulu dirumahnya yang berada di kaki gunung Lawu.

Rumahnya memang sudah tidak terlalu jauh dari perbukitan Ompak Watu, sementara perjalanan dari perbukitan Ompak Watu menuju Demak akan lebih dekat kalau ditempuh melalui jalur yang melintasi tempat tinggalnya.

Setelah sempat singgah semalam dirumahnya, akhirnya Ia dan dan anak muda itu mulai melakukan perjalanan menuju Demak.

Di sepanjang perjalanannya menuju Demak, mulai tumbuh pikiran pikiran baru yang terlintas di dalam angannya.

Mulai muncul pertanyaan di dalam hatinya, apakah kepergiannya ke Demak saat itu didorong oleh keinginanannya atas sebuah janji yang pernah di sampaikan anak muda tersebut atau karena terdorong oleh perasaan lainnya yang mulai muncul di sudut hatinya berkaitan dengan keberadaan anak muda itu.

Entah kenapa, tiba tiba saja Ia seolah tidak memperdulikan lagi apakah anak muda itu akan menepati janjinya atau pun justru akan melupakannya.

Bahkan seandainya anak muda itu ternyata tidak memenuhi janjinya Ia tidak akan mejadi kecewa karenanya.

Perasaan suka dan kagumnya terhadap anak muda itu justru telah mulai membuat hatinya menjadi penasaran untuk dapat mengetahui lebih banyak tentang jati diri sebenarnya dari anak muda yang menyebut dirinya Wiguna tersebut.

Dan demikianlah selanjutnya ketika itu, setelah dua hari melakukan perjalanan, nampaknya Ia telah mulai mendekati kota Demak.

Meskipun Ia sendiri belum pernah pergi ke kota Demak namun berdasarkan pengetahuan dan cerita yang pernah didengarnya dari orang orang yang sering berkunjung ke kota Demak, Ia dapat menduga bahwa saat itu perjalanannya memang sudah mendekati kota Demak.

Apalagi ketika anak muda berkata kepadanya.

“Sebentar lagi kita akan memasuki pintu gerbang kota Demak. Rumahku sudah tidak terlalu jauh”.

Saat itu, Ia tidak melihat kesan apapun pada wajah anak muda itu, perkataanyapun dilontarkan dengan nada suara yang biasa saja.

Namun jantungnya mulai menjadi berdebar debar ketika Ia dan anak muda itu akan melintas di pintu gerbang kota Demak.

Beberapa prajurit yang kebetulan sedang bertugas di pintu gerbang kota Demak, tiba tiba telah membungkukkan badannya sebagai sikap hormatnya kepada anak muda bernama Wiguna itu.

Ia pun mendengar salah seorang dari prajurit itu telah berkata kepada anak muda yang berjalan disampingnya.

Selamat datang Raden. Apakah Raden baru datang dari perjalanan Raden”.

Anak muda itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari prajurit tersebut.

Apa yang baru saja dilihatnya di pintu gerbang itu seolah telah menghentikan detak jantunya. Tiba tiba kakinya menjadi terasa berat untuk diayunkannya seiring dengan gejolak yang terjadi didalam dadanya.

Anak muda itu nampaknya mengetahui apa yang sedang dirasakannya. Ia mendengar anak muda itu telah berdesis kepadanya.

Marilah. Jangan menjadi kecewa dan menganggap aku tidak bersikap jujur dalam memperkenalkan diriku yang sebenarnya sejak awal pertemuan kita”.

Ia hanya terdiam. Bibirnya seolah tidak mampu digerakkannya. Untuk sekilas Ia memandang anak muda itu dengan sudut matanya.

Ia ingin memastikan apakah anak muda yang berjalan bersamanya itu masih tetap anak muda yang dikenalnya di dalam hutan beberapa waktu yang lalu.

Ia mendengar anak muda itu telah meneruskan perkataanya kembali.

Siapapun diriku, Aku harap kau tidak merubah sikap dan penilaianmu terhadapku. Aku tetaplah kawanmu yang kau kenal di dalam hutan itu”.

Dan demikianlah yang terjadi selanjutnya, Anak muda itu akhirnya memang telah menceritakan tentang jati dirinya yang sebenarnya.

Ia seolah tidak mempercayai apa yang didengarnya ketika itu, namun itulah kenyataan yang memang dialaminya.

Anak muda yang beberapa waktu sebelumnya memperkenalkan dirinya bernama Wiguna itu ternyata salah satu putra dari Kangjeng Sultan Demak.

Anak muda itulah yang di sebut sebagai Raden Trenggana. Sebuah nama yang memang telah didengarnya meskipun Ia belum pernah mengenal sosoknya secara langsung.

Rasanya Ia masih belum dapat mempercayai sepenuhnya, bahkan seadainya itu terjadi didalam sebuah mimpi sekalipun, bahwa anak muda sederhana dan mengagumkan itu ternyata salah satu trah dan pewaris dari Kasultanan Demak yang besar.

Demikianlah selanjutnya, anak muda tersebut telah memintanya untuk bersedia tinggal barang satu atau dua hari di istana Demak, dan Ia memang tidak bisa menolaknya.

Ketika itu, sikap dan tanggapan anak muda tersebut hampir tidak berubah sama sekali. Sikapnya tetap sama seperti ketika anak muda itu masih berada didalam hutan bersamanya.

Ia lah yang justru harus merubah sikap dan perilakunya terhadap anak muda itu, dan itu adalah akibat yang wajar atas satu kenyataan bahwa anak muda tersebut bukanlah anak muda kebanyakkan.

Dan Ia menyadari sepenuhnya keharusan yang seperti itu karena memang demikianlah unggah ungguh yang seharusnya.

Apalagi saat itu Ia berada didalam lingkungan istana Demak, sehingga Ia harus menyesuaikan diriya agar tidak dianggap sebagai orang yang tidak mempunyai suba sita atau bahkan telah dianggap bersikap deksura.

Untuk memenuhi janji yang pernah diucapkannya, anak muda itu telah membawanya ke sebuah tempat yang masih berada di dalam lingkungan istana.

Di tempat itu, terdapat banyak sekali burung yang beraneka macam jenisnya. Burung burung yang memang dipelihara secara khusus di istana Demak.

Pilihlah beberapa yang kau suka. Jangan terlalu banyak. Bukannya aku tidak memperbolehkan kau mengambilnya terlalu banyak, aku hanya khawatir kau tidak bisa membawanya dalam perjalananmu pulang”, berkata anak muda itu dengan tersenyum.

Hingga akhirnya, ketika Ia telah merasa cukup berada di istana Demak, Ia mengutarakan niatnya untuk kembali ke rumahnya.

Ketika itu, anak muda yang juga kawentar disebut sebagai Raden Trenggana itu telah berkata kepadanya.

Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas apa yang pernah kau lakukan di perbukitan Ompak Watu itu. Aku tidak akan pernah melupakannya”.

Lalu Ia melihat anak muda itu melepas cincin yang melingkar pada jari tangannya.

Bawalah cincin ini. Sejak aku memilikkinya, cincin itu hampir tidak pernah lepas dari jariku. Memang bukan cincin emas yang bertahtakan berlian, tapi aku menyukainya. Aku menemukan cincin itu ketika aku sedang melakukan pengembaraanku ke daerah Timur. Aku menyebutnya sebagai Lintang Wetan”.

Sambil memberikan cincin itu kepadanya, anak muda itu meneruskan perkataanya.

Ketika itu, aku melihat sebuah cahaya terang yang seolah jatuh dari langit. Ketika aku mengikuti arah dimana cahaya itu jatuh, aku menemukan cincin ini”.

“Meskipun demikian
”, berkata anak muda itu selanjutnya.

Aku harap kau tidak mengartikan ceritaku itu dengan tanggapan yang aneh aneh. Apalagi sampai beranggapan bahwa cincin ini mempunyai kekuatan dalam bentuk apapun. Bagaimanapun juga, cincin ini adalah benda mati”.

Aku memberikan cincin ini sebagai pertanda persahabatan yang terjadi diantara kita. Kau boleh memakainya atau juga menyimpannya. Itulah salah satu benda yang selalu menemaniku dalam setiap pengembaraanku”.

Lalu dengan nada yang lebih bersungguh sungguh anak muda telah memberikan pesannya.

Pada kesempatan yang lain, ketika aku sedang dalam perjalanan ke wilayah di sekitar kaki gunung Lawu, aku berjanji akan menyempatkan singgah dirumahmu. Demikian juga sebaliknya, sesekali datanglah ke Demak. Dengan senang hati Aku akan menerima kedatanganmu”.

Kepada para prajurit yang sedang berjaga, kau dapat menyebutkan jati dirimu dengan Lintang Wetan agar aku mengetahui bahwa kaulah yang datang”.

Demikianlah akhirnya, Ia telah meninggalkan kota Demak untuk kembali ke rumahnya dengan membawa bermacam gejolak perasaan yang berdesakan di dalam dadanya.


-----

Bersambung bagian 39.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
22-08-2020 10:18
Mantap gan, semangat terus nulisnya yaemoticon-Cendol Gan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
22-08-2020 14:00
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)


Bagian 39.


Pada waktu waktu selanjutnya, anak muda itu memang memenuhi janjinya.

Ketika sedang melakukan perjalanannya ke suatu tempat yang berada di lereng Gunung Wilis, anak muda itu telah singgah bahkan bermalam dirumahnya.

Dan juga sebaliknya, Ia pun pernah pergi ke Demak untuk mengunjungi sahabat yang di kaguminya tersebut.

Bahkan pada saat selanjutnya, ketika Ia mendengar kabar bahwa sahabatnya itu pada akhirnya di wisuda menjadi pemimpin di Kasultanan Demak menggantikan pendahulunya, setahun kemudian Ia telah memberanikan diri untuk pergi ke Demak dan mencoba untuk menghadapnya.

Ia memang berhasil menghadap dan diterima oleh sahabat lamanya itu dalam kedudukannya sebagai Seorang Sultan di Demak.

Suasananya memang telah menjadi berbeda. Dan Ia menyadari sepenuhnya keadaan seperti itu justru karena Ia mengetahui bahwa sahabatnya itu bukan lagi seorang anak muda yang pernah dikawaninya ketika menjalani sebuah laku di sebuah sendang seperti beberapa masa yang lalu.

Sahabatnya telah mempunyai kedudukan sebagai pemimpin tertinggi dari sebuah negeri yang besar dan terus berkembang dengan pengaruh kekuasaannya mencakup hampir disetiap jengkal tanah ini.

Meskipun demikian, Ia dapat merasakan bahwa sahabatnya itu tetap berusaha untuk menunjukkan sikap kehangatan dan keakrabannya dalam menerima kunjungannya.

Sikap sahabatnya yang demikian itulah yang telah membuatnya semakin mengagumi sekaligus menghormatinya.

Masih terngiang dalam telinganya, sebuah pesan dari sahabatnya ketika Ia berkunjung saat itu.

“Pada saatnya, Demak akan membutuhkanmu. Keberadaanmu di kademangan itu sangat berarti bagi kepentingan Demak”.

Sambil menepuk bahunya, sahabatnya itu berkata lebih lanjut.

“Aku tidak ingin mendahului sebuah kehendak, akupun bukanlah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk melihat masa yang akan datang, aku hanya mencoba untuk menguraikan sebuah isyarat dengan panggraitaku”.

Lalu dengan sedikit perubahan pada raut wajahnya, sahabatnya itu berkata.

“Aku melihat Mendung hitam terhembus angin Timur. Dan Mendung itu nampaknya akan menyelimuti Langit di sekitar kaki gunung Lawu”.

Hatinya memang menjadi berdebar debar ketika mendengar perkataan sahabatnya tersebut.

Ia mempercayai apa yang telah dikatakan sahabatnya itu meskipun Ia belum bisa menguraikan makna yang tersirat dari perkataan tersebut.

Sahabatnya nampaknya dapat membaca debar yang ada didalam hatinya sehingga telah berkata untuk menentramkan hatinya.

“Jangan menanggapi terlalu berlebihan atas apa yang baru saja aku katakan. Panggraitaku belum tentu benar. Selebihnya, marilah kita sandarkan semuanya kepada Yang Maha Agung”

Di akhir pembicaraan ketika itu, sahabatnya juga sempat menanyakan keberadaan cincin yang pernah diberikan kepadanya.

“Apakah cincin itu masih ada padamu”.

“Demikianlah Kangjeng Sultan”, jawabnya ketika itu.

Diambilnya cincin yang selalu disimpannya dengan rapi dari dalam kantong ikat pinggangnya.

“Dimanapun hamba berada, cincin ini selalu bersama hamba”.

Ia melihat sahabatnya itu senang karena Ia menyimpan dan menjaga dengan baik cincin pemberiannya tersebut.

*****

Demikianlah selanjutnya, ruangan itu masih terasa hening. Meski matahari telah mulai memanjat semakin tinggi, namun Kyai Bahuwirya nampaknya masih harus menunggu untuk dapat menghadap Kangjeng Sultan Demak.

Kyai Bahuwirya menarik nafasnya dengan dalam. Matanya menatap sudut ruangan dengan pandangannya yang kosong.

Tanpa sesadarnya Kyai Bahuwirya memandangi cincin yang melingkar pada jarinya.

“Cincin ini ternyata membawa kisahnya sendiri. Meskipun aku berusaha untuk tidak mempercayainya, tetapi akupun tidak bisa mengingkari atas kenyataan yang pernah aku alami”, desis Kyai Bahuwirya didalam hatinya.

Berkaitan dengan keberadaan cincin itu sendiri, sebelumnya Kyai Bahuwirya memang tidak mempunyai anggapan yang berlebihan terhadap keberadaannya.

Setidaknya demikian pulalah pesan yang pernah disampaikan sahabatnya dulu berkaitan dengan keberadaan cincin tersebut.

Namun disaat selanjutnya, Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mempercayai bahwa cincin pemberian sahabatnya itu nampaknya bukanlah cincin sewajarnya.

Ia pernah mengalami beberapa peristiwa aneh menurut penalarannya. Dan Ia meyakini bahwa peristiwa yang dialaminya tersebut mempunyai keterkaitan dengan cincin yang dipakainya.

Pada satu ketika, dalam sebuah perjalanan yang sedang dilakukannya, Ia telah di hadang tiga orang gegedug yang nampaknya ingin merampoknya.

Ketika itu, Ia memang tidak menjadi takut karenanya, bahkan Ia telah mempersiapkan diri untuk berkelahi melawan ketiga orang yang menghadangnya tersebut.

Namun gegedug itu nampaknya sempat melihat cincin yang memang sedang dipakainya. Dan tiba tiba saja gegedug tersebut telah mengurungkan niatnya dan meninggalkannya begitu saja.

Ia sempat mendengar salah satu dari gegedug itu mengumpat.

“Orang itu nampaknya menyimpan kekuatan iblis didalam dirinya”.

Peristiwa yang serupa juga pernah dialaminya di tempat yang berbeda.

Atas kenyataan kenyataan yang dialaminya itu, Ia mulai merasakan bahwa cincin tersebut nampaknya bukanlah cincin yang sewajarnya.

Terlihat Kyai Bahuwirya kembali meraba cincin yang ada dijarinya. Sekilas di pandanginya cincin tersebut seolah Ia ingin memastikan bahwa cincin itu sebenarnya memanglah bukan cincin yang sewajarnya.

Dalam keadaan seperti itu, tiba tiba telinga Kyai Bahuwirya mendengar sebuah desir langkah tapak tapak kaki mendekati ruangan tempat di mana Ia berada.

Dan sesaat kemudian Ia melihat Kangjeng Sultan Demak telah masuk kedalam ruangan itu bersama seseorang yang belum dikenalnya.

-----

Bersambung bagian 40.
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Halaman 4 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cinta-mati-sang-kuyang
Stories from the Heart
balada-kisah-remaja-genit
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
jodoh-untuk-mantan
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia