Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
13
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efbfc4b82d49574c2317c13/penyewekan-pengasih-bagian-ke-xiv-alur
     “Kalian tau gimana bapaknya Mira kan?”, kami berempat kompak mengagguk,        “Kalian masih ingat waktu dulu ada Tapakan (orang kerasukan, *biasanya dianggap dirasuki roh yang memberikan petunjuk, maaf kalau keliru) di pura dan meminta agar warga membuat Pelinggih (bangunan suci) di sekitar *****, semuanya setuju saat Sangkepan (rapat) warga desa adat, tapi si bapaknya Mira ngot
Lapor Hansip
01-07-2020 10:00

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur

     “Kalian tau gimana bapaknya Mira kan?”, kami berempat kompak mengagguk, 

      “Kalian masih ingat waktu dulu ada Tapakan (orang kerasukan, *biasanya dianggap dirasuki roh yang memberikan petunjuk, maaf kalau keliru) di pura dan meminta agar warga membuat Pelinggih (bangunan suci) di sekitar *****, semuanya setuju saat Sangkepan (rapat) warga desa adat, tapi si bapaknya Mira ngotot tidak setuju dan bilang itu gak masuk akal, jelas ucapan bapaknya Mira gak ada yang dengar, lagian siapa yang mau dengar ucapan orang yang jarang Tedun (gotongroyong) di Pura, tidak pernah aktif desa, kerja ngantor saja setiap hari, kaya sih kaya tapi dimintaiin Punia (sumbangan) justru paling banyak nuntutnya di musyawarah pas penggarapannya selalu bilang sibuk lagi kerja”

          “Sudah terang2an tidak ada warga yang suka, dia hampir dikeluarkan dari desa ini, waktu ibunya meninggal, hampir saja tidak mendapat ijin untuk dikuburkan di tanah kuburan desa kita, tapi karena bapakmu yang memohon ke Bendesa (kepala desa) dan meminta warga memberi kesempatan ahirnya bisa dikebumikan disini, dan bapaknya Mira diberikan kesempatan masih tinggal dilingkungan desa ini”, aku manggut2 mengingat tentang pristiwa dimana bapaku beradu argumen di pertemuan Kelian (pemimpin) adat.

          “Dan sekarang keluarga itu diincar untuk binasakan, aku yakin susah bakal mengetahui siapa sejatinya pengirim sosok tadi yang Arjuna lihat, karena hampir seluruh warga desa ini membencinya dan berharap keluarga itu mati semua, dan juga seandainya kalau mereka dengar berita ini meskipun masih hidup, pastinya warga akan menggali 4 lubang disebelah gundukan yang ibumu sering punjungin (ziarah)”, Bli Yudistira menutup ceritanya dengan menyalakan rokok yang tadi terselip dikupingnya.

         “Wahh pedalem panak-panakne! (kasihan anak2nya)”, Bima yang tadiknya kesal sekarang menjadi bersimpati

        “Ahh yen seken keto mati ba makejang! (kalau begitu mati sudah semuanya)” Nakula dan Sangkuni saling mengeluh ikut tersentuh cerita itu.

         “Lalu apa yang harus aku lakukan Bli Yudistira?”, aku mencoba meminta pertimbangan dari orang yang paling bijak di group kami ini. Dia hanya menggeleng sebari menghembuskan asap dari mulutnya yang juga membuatku lemas tidak berdaya, kehabisan cara membatu orang yang menuduhku memeletnya dulu.

        “Sebet cang nok! (sedih sekali aku!)”, ujar Bima turun dari banguanan panggung menuju motorku, kemudian  perlahan mengusap stang motorku yang tergantung kresek merah,

        “Bisa ngeling (nangis), kalau ini digantung gini!”, aku menghembuskan nafas, paham akan arti tangisannya, segera aku turun dari  posko dan menambil bungkusan itu dan membuka kota meletakannya di lantai papan poskamling.

        “Wihh sultan makanane martabak manis terang bulan”, empati mereka dengan keluarga Mira mendadak lupa sesaat dibutakan potongan kue dingin cokal pisang itu.

         “Mira ngemaang (ngasi), daar gen ba (makan saja dah),  dirumah meme bapak kena gula darah”, ucapku mempersilahkan mereka.

       “Wih Mira??, oke lah!”, Bima yang paling kesal dengan nama itu justru paling semangat mengambil dan mengunyahnya sementara yang lain masih pilih2 potongan sedangkan aku melamun melihat kue itu memikirkan nasib Mira dan juga kenapa aku baru bisa melihat sosok yang mengejar Mira, lantas selama ini mataku kenapa diruang kesenian tidak bisa.

       “Ah sial!”, aku berdiri membuka bajuku gerah dan menarik sabuk celana yang sedikit melorot, melihat temanku yang sudah memegang potongan kue dan bersiap menggigitnya.

        “Idih cang (aku minta) Yu!”, Bli Yudistira meminta ijin, aku manggut sambil melihat kotak kue yang tersisa beberapa potong dan, “Plak!!” tanangku dengan cepat menampar potongan kue yang mau dimasukan de mulut bli Yudistira.

       “Yeh engken ci ne (kenapa kamu) Yu?!”, Bli Yudistira kaget dengan reaksiku “Ngoyong de makane malu! (tunggu jangan dimakan dulu!)”, semua diam dengaan mulut terbuka termasuk Bima yang berhenti mengunyah.

       “Ada not cang! (ada yang aku lihat!)”, aku membuka semua isi dalam kotak menunjukan taburan coklat dan pisang didalamnya, “Kleng apa ne bang***t”, aku menunjuk keanehan dengan ujung jariku, semuanya melongo memperhatikan.

       “Apa sing (tidak) ada Yu?!”, mereka semua malah bilang begitu keheranan, “sekenang nake! (beneran!)”, aku membentak mereka yang seperti orang pura2 bodoh.

           “Neh Wahyu, aget daki bedik (untung kotor sedikit), belum 5 menit”, Yudistira merunduk mengambil potongan miliknya yang tergeletak di tanah, ditiupnya dan dicubit potongan yang tertempel pasir, kemudian membaginya menjadi dua.

           “NAS K**NG!!”, dilemparnya jauh2 kedua potongan itu kemudian kakinya menendang kotak kertas hingga jauh ke tanah. iya jongkok dan mengambil segenggam debu menburkanya ke atas kue yang berserakan.

         Nakula dan Sangkuni melompat turun melihat apa yang terjadi, “ada ne dot nyaklitin rage! (ada yang ingin mencelakai kita!)”, Bli Yudistira mengambil potongan kue yang sudah bercampur tanah, dari isi coklat dan pisang kue itu terlihat menyembul jarum2 kecil berkarat dan serat dari sabut kelapa yang begitu halus.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur
gambar ilustrasi dari internet jarum dan serat kelapa (gambar bukan bagian dari cerita)

         “Mih Dewa Ratu! (ya Tuhan!)”, Sangkuni melempar kue di tangannya juga diikuti Nakula, “Engken ci bisa nolih Yu! (bagaimana kamu bisa melihat Yu?)”, Nakula berdiri menghadapku, aku hanya menggeleng bingung dangan nafas tegang ngos2an, besyukur tidak sampai kawanku celaka.

         “Aget sing amah cang! (untung belum kemakan!)”, Sangkuni mengelus dada, tapi kemudian melamun memutar badan begitu juga kami menatap Bima yang melotot memengang kue yang sudah compang berbentuk giginya.

         “Utahang (muntahin) b***sat!!!”, Nakula dan Sangkuni berteriak lompat menerjang Bima, “Mira nagih nyetik cai yu! (mau meracuni kamu)”, Bli Yudistira menyadarkanku ditengah kepanikan.

         “Mira!” aku teringat segera menelfonya, “Tuut..... sedang berada di panggilan lain”, 

         “Sialan!”, pastinya Mira sedang telfonan jam segini dengan pacarnya, berkali-kali aku kirim “P”, dan telfon masih susah dianghkat, sementara ketiga temanku direrimbunan tanaman sebelah Poskamling memgangi Bima yang mengeluarkan seluruh isi perut buncitnya.

         “Tuut....Halo kenapa kak Wahyu?”, suaranya terdengar dengan nada jengkel, 

         “Makanan yang kamu kasi!”, aku panik hanya ingant mengucapkan itu.

          “Iya, martabak manis pisang keju coklat?, enak gak?”, Mira malah menjelaskannya mendetail sampai aku kelabakan mau ngomong apa,

          “Itu pacarku yang spesial bikinin, dikasi dua kotak cuma dirumah aku aja yang makan dari pada mubazir kesisa mending kasi kak Wahyu biar tau rasanya, kak Wahyu kok rame banget disana?”, aku bengong mendengarnya. “Kamu makan?”, tanyaku kemudian pnselku kembali bergetar ditengah panggilan suara yang ternyata, panggilan beralih ke video.

          Di layar HP-ku Mira duduk memasukan satu prsatu ujung jarinya ke mulut “Udah nih!”, kamera belakang menampilkan tempat tidur yang diatasnya tergeletak kotak yang sama dengan kotak di sebelah kakiku, sisa hanya sepotong.

        “Aku suka banget!”, kembali wajahnya terlihat dengan senyum manisnya, “Muntahin!” bentakanku membuatnya terkejut dengan suara ku yang mengalir di Headset-nya.

       “Kenapa?” dia bingung, “Cepet muntahin!, itu ada racunnya!”, aku kembali mengeluarkan nada tinggi. Bukannya menuruti perintahku dari layar LCD malah dia memandang ku curiga.

      “Kak, gak boleh gitu lho kak, ini udah syukur dikasi, gak boleh nge jelekin gitu”, Mira cemberut, aku tau dia berusaha menahan amarahnya padaku karena berani menghina pemberian pacarnya yang sangat dia banggakan itu.

       “Kamu....ahh!!”, aku kehabisan kata untuk membuatnya percaya, “coba liat!” aku berusaha menunjukan yang ada di kakiku, tapi malah Mira membolak-balik potongan kue yang ada diatas kasurnya. “Gak ada apa2 kak, kak jangan fitnah ya!”, nada suaranya sudah mulai mengeras.

         “Lempar ke tanah!”, Bli Yudistira yang sedang sibuk memberi Bima air mineral sempat berteriak kepadaku.

        “Lempar ke tanah!”, aku ulang kata itu kepada orang yang wajahnya terpampang di layar ponsel. Mira menarik nafas dan menggeleng pastinya baginya itu sebuah penghinaan untuk hasil kerja susah payah pasangannya.

       “Kak, aku dah merasa bersalah marahin kamu, tapi jangan gini juga caranya balas dendamnya”, pandangan matanya membuatku sulit untuk berkata lagi.

       “Lakukan saja, diolas (tolong) percaya padaku”, aku menatap iba pada layar HP-ku, sesaat dia memandangku kemudian dengan enggan beranjak dari kasur mengambil kotak itu.

       Video di layar HP-ku bergetar dengan suara langkah, bisa aku lihat kotak kertas itu bergoyang keluar pintu kamar, menampakan halaman beralaskan rumput dan tanah.

       “Jangan hilangin kepercayaanku”, suara itu terdengar bersamaan dengan kata itu, kotak itu melayang terun menghantam tanah rerumputan, membuat sepotong kue isinya menggelinding berbalur dengan hitamnya tanah.

       “Lihat gak ada yang aneh!”, sekarang suaranya sudah membentak, “Buka isiannya nya!”, aku balik membentak,

         Kamera kembali bergoyang menampakan kakinya memakai sendal dan bergerak mendekat jongkok membuka isi kue itu.

        “Kak ini uda kelewatan banget!”, bentaknya lagi sambil ujung jarinya membelah kue itu, dan dari kamera hpnya aku bisa lihat isinya tiak jauh beda dengan yang dia berikan padaku, pisang keju coklat dan jarum berkarat serta serat dari sabut kelapa.

        “AAAAAAA!!!!!”, jeritan Mira terdengar keras, “Bruk!!!” suara keras terdengar terjatuh begitu juga layar Videocall menjadi gelap.

        “Mira!!!!”, aku panik mengaggil namanya beberapa kali, tapi tidak ada suara balasan, yang terdengar hanya kata yang sama daris seoarang yang jauh disana.

       “Mira!!, pak Mira pingsan pak!!”

       “Ada apa ibu!!!, Mira!!, ibu idupang mobil enggalin! (nyalakan mobil cepat!)”

        Suara riuh disana itu mebuatku mengahiri panggilan, dan kembali menengok dibelakang ketika para sahabat sudah selesai dengan urusan mereka bersama Bima yang berbaring di lantai Poskamling.

        “Aget konden ke gelekang! (untung belum tertelan!)” Bima begitu lega dengan mengusap perut buncitnya.
*************

          “Cing (njing)!!, kamu menuduh aku meracuni pacarku sendiri dengan kue yang aku buat bersama ibuku?!!, ngae2 ci kleng! (buat2 saja kamu!)”, Odik kembali mencoba menyerang Wahyu tapi untungnya sempat aku cegah sebelum kakinya meyentuh mulut Wahyu.

        “We dingeh malu! (dengar dulu!)”, aku memaksa Odik untuk diam, sementara Wahyu memandangi kami yang saling pegang, mungkin menjijikan baginya, bagiku juga tapi terpaksa dari pada si Wahyu jadi samsak.

         “Kleng! (sialan) bagaimana aku percaya pemberianku menyakitinya!”, Odik mau berhenti menerobosku, sementara Wahyu bersimpuh menatapnya.

          “Kamu harus percaya!, karena setelah memakanya dia dirawat 2 hari di rumah sakit”, sekarang Wahyu balik mengeluarkan pernyataan yang membuat Odik diam memandangnya.

          “Mana mungkin Mira tidak pernah masuk rumah sakit?!” Odik menyanggah, sementara Wahyu masih menatap Odik 

          “Kalo kamu tidak percaya tanya orangtuanya!”, sambung Wahyu menantang pembuktian kata2nya.

          “Kamu mengada-ada!, dia tidak pernah bilang padaku!”, Odik masih jengat (nyolot) dengan pendapatnya.

           “Dia tidak mau bilang karena tidak ingin kamu kepikiran bahwa dia sakit karena makanamu!”, Wahyu melawan lagi tidak kalah nyolot.

          “Aku selalu menyaakn kabarnya dan dia selalu lancar membalas Chat-ku!, kalo dia dirawat mana bisa menghubunguku?!” Odik berkilah dengan argumennya, yang menurutku ada benarnya juga.

         “Coba kamu ingat kembali 2 hari dimana Mira tidak mau mengangkat telfonmu,tidak mau VC, tidak mau ketemuan, mengaku sibuk tidak mau kamu kerumahnya!, inggat?!”, Wahyu seakan selalu punya cadangan kata untuk bersilat lidah dengan Odik yang juga cerdas menanggapi, aku mau ketawa melihat mereka seperti anak Kecil yang berkelahi memperebutkan layangan putus.

          Odik mengacungkan tangannya ke Wahyu “Bohong, buktinya dia nge pap terus sedang ngajar di sekolah!”.

          “Kamu dikirimi foto lamanya”, Wahyu menjawab cepat pernyataan Odik hangat2.

           “Cing kamu mengarang!, memangnya kenapa kamu bisa tau?!” Odik makin galak nuding2nya, sekarang malah lebih seperti debat kusir di tengah kegelapan malam, apalgi disebelahnya ku ada kuburan, jalan terpencil dan sawah, aku berfikir 
seandainya ada mahluk gaib nongol, pastinya sudah jelas, mereka akan melihat 3 atlet loba lari di lintasan aspal.

           “Karena chat yang Mira kirim ke kamu aku yang mengetiknya!”, ucapan Wahyu ini membuat tangan Odik turun dan mulutnya kehabisan argumen

             “Selama dirawat badanya lemas karena muntah terus, setiap notif dari kamu masuk, Mira tidak pernah mau membuat kamu menunggu balasannya, walaupun dia tidak bisa mengegamkan tangan. Aku menawarkan diri membantunya untuk memberi kamu kabar dan semua emoji senyum untukmu agar kamu senang mengira dia baik2 saja” sambung Wahyu lagi dan untungnya kali ini dia tidak nge Gass lagi.

          Odik diam layaknya terkena Fatal Jab dari Wahyu, hanya dengan kata2 saja Odik kalah, apa lagi di Jab beneran oleh si Wahyu yang lengannya gede dan memakai sarung lengan manset batik setiap hari meski bukan hari kamis.

           “We, enggalin dik (cepat sedikit), apa susahnya kamu langsung to the ponit aja, aku sudah lelah mendengar ceritamu, dan ini sudah jam berapa?!”, aku menunjukan jam tanganku pada raksaksa yang bertekeku lutut pada sekutu yaitu aku dan Odik yang sudah menunjukan 02.45.

           Wahyu manggut2 entah dia ngerti atau malah lebihan peta (banyak omong) lagi.

          Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mastercasino88 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur
01-07-2020 10:05
banyak ilmu warisan leluhur
sangat banyak
profile-picture
pionic24 memberi reputasi
1 0
1
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur
01-07-2020 11:53
Nggak dijadiin satu gan? emoticon-Frown
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur
01-07-2020 12:07
Sering dipakai untuk ilmu gaib, ki ?
0 0
0
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur
02-07-2020 21:46
Judul yang sama jadiin satu aja gan..
Biar enak bacanya
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XIV Alur
10-07-2020 05:57
iya di jadiin 1 semua aja gan. biar lebih enak di lihat
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia