- Beranda
- Heart to Heart
Kenapa Saya Jadi Tuna Asmara?
...
TS
nitajung
Kenapa Saya Jadi Tuna Asmara?

Kenapa Saya Jadi Tuna Asmara?
Demi merenungkan keadaan saya yang sudah hampir tak tertolong ini, saya memikirkan berbagai hal mengenai faktor-faktor mengapa saya bisa menjadi Si Tuna Asmara.
Hampir setiap hari saya selalu berdoa agar dipertemukan dengan jodoh yang sesuai dengan apa yang ada di diri saya sekarang, karena konon jodoh adalah cerminan diri--tentu jika saya tak lupa, sebab saya orangnya pelupa meskipun sedang dalam keadaan berdoa. Sampai tiba-tiba Emak saya menepuk pundak saya yang tengah bergetar sebab tangisan saya ketika berdoa. Lantas beliau berkata, "Nduk, kamu yakin mau jodoh yang sesuai plek dengan dirimu?" tanya beliau dengan wajah serius. Matanya bahkan menyiratkan hal-hal misterius yang tak mampu saya definisikan.
Saya menatap Emak saya dengan tatapan bingung, sebab tidak biasanya beliau menganggu kekhusyukan saya kala beribadah.
Dengan mata berkaca-kaca saya menggenggam tangan Emak saya yang agak kapalan, "Mak, memangnya kenapa?" tanya saya tak kalah serius. Untuk sedetik kemudian saya mengaduh sebab cubitan pedas di paha kiri oleh Emak saya.
"Kamu itu, loh! Ini kapal jangan dicuwil-cuwil, sakit tauk!" protes beliau galak. Kemudian saya meringis dan meminta maaf.
"Maaf, Mak ... habisnya itu kapal imut banget minta dicuwil." ucap saya santai.
Kemudian untuk melanjutkan adegan dramatis sebelumnya, saya mulai menggetarkan badan saya dan mulai menangis. Kembali memegang tangan kapalan Emak saya yang sekarang tidak saya cuwil-cuwil semili pun demi kelangsungan adegan dramatis yang akan kami peragakan.
Emak saya mengambil napas dalam, mulai mengelus pucuk kepala saya dengan lembut. Membelai tangan saya, dan berkata, "Nak, kamu itu kalo di rumah jarang mandi, tidurnya ngiler, suka ngerendem baju sampai berhari-hari sampe baunya mirip napas Fir'aun. Emangnya kamu mau jodoh kamu mirip kamu?" tanya Emak dengan suara lembut, matanya menyorotkan ketulusan sekaligus kekhawatiran.
DEG!
Jantung saya berdetak biasa saja. Hanya sedikit kaget karena mengetahui fakta bahwa tidur saya ternyata ngiler. Saya menoleh ke arah Emak saya dengan ekspresi bertanya-tanya "Beneran?" begitu maksudnya, sebab saya tidak pernah menyangka lendir yang sebagian mengering di lagi hari di dagu sampai membuat kerudung dan saya basah ternyata berasal dari mulut saya.
Seakan mengetahui apa maksud saya, Emak saya pun mengangguk dan menjelaskan.
"Benar, Nak. Kamu itu suka ngiler. Jadi, masih yakin berdoa macam doamu tadi?" tanya beliau untuk kesekian kali. Kali ini tatapan Emak bahkan berubah tajam bagai mulut Emak-Emak KBM yang tengah membully pelakor.
Saya kemudian mengalihkan wajah saya dari hadapan Emak saya. Kira-kira sepuluh detik kemudian saya mendengar derit pintu kamar yang ditutup pelan. Mungkin itu adalah sebagian tanda kontak batin antara Anak dan Emak. Beliau tahu bahwa anaknya ini sekarang tengah bergejolak dengan pikirannya sendiri. Sisi psikolog saya sedang bermain mengenai kemungkinan-kemungkinan dan fakta-fakta yang terjajadi.
"Mungkin ini ya alasan kenapa aku masiiiih aja menjadi Tuna Asmara." ucap saya lirih.
Kalimat saya barusan membuat angin dari kuar masuk melalui sela-sela sirkulasi udara yang terbatas. Mereka seakan-akan berbondong-bondong untuk menghibur hati saya yang tengah gundah.
Bersambung ....
putrabayangan.7 dan beqichot memberi reputasi
2
883
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Heart to Heart
23.2KThread•41KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya