- Beranda
- Stories from the Heart
Pertolongan Itu Ada
...
TS
putriramadani12
Pertolongan Itu Ada

Malam semakin larut sedangkan netra ini tak kunjung mau terpejam. Hati masih khawatir dan pikiran belum juga menemukan jawaban dari apa yang menjadi bimbang. Bahkan, sudah sejak pagi aku memikirkan ini matang-matang tapi belum juga menemukan jawaban memuaskan. Bagaimana tidak bingung, ditengah mewabahnya virus corona yang akhir-akhir ini semakin memprihatinkan di Indonesia, aku harus memilih untuk pulang kampung atau tidak. Apalagi saat ini, kota yang ku tinggali sudah termasuk zona merah.
Aku adalah perantau di Jakarta yang berasal dari pulau Sumatra tepatnya di kota Padang. Hidup sendiri mengandalkan tenaga dan kemampuan diri untuk bekerja. Di Jakarta aku bekerja sebagai seorang karyawan toko biasa dengan gaji boleh dibilang masih di bawah upah minimum. Bukan tidak ingin mencari pekerjaan lain yang lebih memadai, namun aku percaya itulah rezekiku yang Allah titipkan untukku yang hanya tamatan SMA. Hal ini juga karena susahnya mencari pekerjaan di kota padat penduduk ini. Beruntung saat itu aku kost yang sekamarnya empat orang, tentunya bersama teman-temanku yang sesama perantau. Yah, itung-itung hemat. Padahal kamarnya tidak terlalu besar, kira-kira 3x3 meter. Di dalamnya di sediakan satu lemari kayu, meja kecil, dan dua buah kasur lantai (ukuran 100 x 180 cm dan 130 x 180 cm).
Dari satu sisi, aku ingin sekali pulang. Selain dari dompet yang semakin menipis, juga karena panggilan orang tua di kampung yang selalu menelpon menyuruh pulang. Aku paham kekhawatiran setiap orang tua terhadap anak gadisnya yang jauh di depan mata.
Quote:
Bagi seorang perantau sepertiku, hanya THR yang bisa diharapkan untuk bisa dibawa pulang, sedangkan gaji bulanan habis untuk biaya makan dan tempat tinggal. Untung saja satu kali makanku ditanggung oleh bos tempatku bekerja sehingga bisa menyisihkan sedikit uang yang sesekali aku kirim untuk orang tua dikampung.
Dalam kekalutan itu, aku lihat sudah sepertiga malam dan memutuskan untuk sholat istikharoh. Siapa tau aku bisa mantap memutuskan pilihan. Hal yang aku pikirkan ini rasanya cukup berat. Pertama, jika aku tidak pulang, aku bingung bagaimana bisa bertahan di tengah gejolak covid-19. Saat itu sisa uang yang aku pegang hanya sekitaran Rp. 300.000, sedangkan aku libur bekerja entah sampai kapan belum ada kepastian. Sialnya lagi, tanggal kost-an datang 5 hari lagi.
Jika hanya untuk makan, aku bisa mengakali untuk berhemat, tapi kalau untuk kostan aku tidak bisa karena tidak ada tenggang waktu sama sekali oleh pemilik kamar.
Quote:
Aku hanya bisa terdiam mendengar jawaban pemilik kost-an. Ada rasa kesal sekaligus sedih disaat seperti itu.
Quote:
Kedua, jika aku pulang, aku tidak akan mendapatkan THR yang aku harapkan selama ini. Rasanya tidak enak sekali pulang dari bekerja tidak bisa membawa apa-apa sebagai buah tangan untuk orangtua dikampung. Walaupun aku tau ayah dan ibu tidak pernah berharap banyak padaku. Apalagi ongkos untuk aku pulang nanti akan dikirim dari kampung. Dan itupun dengan catatan meminjam dulu pada tetangga di dekat rumah. Ya Allah, kapan aku bisa benar-benar mandiri tanpa menyulitkan orangtuaku?. Selain itu, aku takut akan membawa virus corona ke kampung karena berasal dari zona merah. Meski aku tidak positif aku takut sebagai perantara dan membuat sakit mereka yang di kampung.
Tidak hanya sampai disitu, kekalutanku bertambah seiring banyaknya peraturan baru oleh pemerintah. Salah satunya adalah PSBB. Dalam hal ini, aku harus cepat mengambil keputusan. karena jika tidak, aku bisa benar-benar tidak bisa pulang entah sampai kapan dan tanpa kepastian kapan mulai bekerja.
Selesai dari sholat istikhorah, aku merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Berhubung masih pagi aku putuskan untuk coba tidur lagi dan syukur aku terbangun selesai azan subuh.
Pukul sembilan pagi, ponselku berbunyi. Ternyata dari ibu dikampung menanyakan kepastianku akan pulang atau tetap di sana. Entah pikiran dari mana, aku katakan akan pulang kampung dan segera cari tiket sebelum tanggal kostan datang.
Quote:
Setelah ponsel dimatikan, aku mecoba cek harga tiket pesawat karena hanya dengan ini perjalanan lebih singkat dan sedikit mengurangi resiko penularan covid-19 dibanding lewat darat yang terbilang cukup lama. Selain itu, harganya juga lumayan murah dari biasanya. Alhamdulillah masih tersedia dan artinya aku bisa pulang. Sebelum memesan tiket, aku memilih untuk mengabari bosku dulu agar nanti tidak kelimpungan mencari penggantiku bekerja di toko miliknya. Sekali dua kali ku hubungi tidak dijawab. Entah sedang sibuk atau bagaimana aku tidak tahu.
Untuk menghemat waktu, aku memilih mengirim pesan lewat whatsapp. Ku jelaskan semuanya. Mulai dari kapan aku pulang sampai kenapa harus pulang. Namun, lama kutunggu tidak ada jawaban darinya walau sudah dibaca sejam yang lalu. Lelah menunggu respon, akhirnya ku biarkan saja dan segera memesan tiket keberangkatan sehari sebelum kostan jatuh tempo. Tujuannya supaya tidak terlalu tergesa-gesa dan aku bisa pulang aman tanpa harus memikirkan bayaran kostan lagi.
Malam sebelum keberangkatan tiba-tiba bosku menelpon. Dan diluar dugaan, ia bermaksud menggantikan ongkos pulangku.
Quote:
Alhamdulillah ya Allah. Betapa aku sangat bersyukur saat itu. Bagaimana tidak? Walaupun uang yang diberikan tidak sebanyak THR yang biasa diberikan, setidaknya aku bisa langsung membayarkan hutang orangtuaku dikampung. ayah dan ibu tidak akan bingung untuk mencarikan gantinya.
Hari keberangkatan pun tiba. Aku sampai di Bandara kira-kira pukul sepuluh sedangkan penerbanganku masih dua jam lagi. Aku memilih datang lebih awal karena takut mana kala ada perubahan jadwal penerbangan sehingga bisa ketinggalan pesawat.
Sebelum melakukan cek in aku melewati pengecekan suhu badan terlebih dahulu. Alhamdulillah suhu badan masih normal dan dipersilahkan masuk untuk cek in.
Tepat pukul 14.00 wib pesawatku mendarat selamat di bandara tujuanku. Di sana, aku mengisi dua lembar kertas dengan data diri secara lengkap. Menurut petugas, data tersebut berfungsi saat adanya keluhan atau gejala dan dibawa ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Selesai mengisi semua data aku diarahkan untuk isolasi mandiri di rumah selama 14 hari kedepan.
Sesampainya di rumah, ada sedikit rasa kecewa singgah di hati. Kepulangan ini terasa berbeda. Tidak ada jabat tangan begitupun peluk hangat sekedar melepas kerinduan. Tapi aku tetap bersyukur, ramadhan tahun ini bisa dijalani bersama keluarga di rumah.
Terima kasih ya Allah...
~Tamat
Index cerita
Buku Harian Si Putri Malu
Diubah oleh putriramadani12 06-06-2020 21:51
nona212 dan 51 lainnya memberi reputasi
52
1.6K
33
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya