- Beranda
- Stories from the Heart
Darah Daging
...
TS
uyatsky
Darah Daging
Saat terdiam, aku selalu terlempar ke masa lalu. Masa di mana aku, menjadi bukan diriku.
20 September 2007
19.22 WIB
Ibu menjerit saat kepala bapak menggelinding setelah parang yang kuayunkan berhasil menebasnya.
Aku memang masih remaja, tetapi sangat tidak pantas untuk dikucilkan. Jika ada yang memintaku untuk memotong puluhan orang dalam sekali tebasan, akan kulakukan hanya demi pembuktian bahwa aku tidak seperti remaja kebanyakan. Hanya saja leher bapak saja sudah dirasa cukup. Cukup untuk membuat ibu terhenyak dan tidak lagi mengeluarkan kalimat yang akan menyakiti anak kandungnya.
"Bapak pantas menerimanya. Tetapi ibu tenang saja, aku tidak akan melukai seorang perempuan."
Ibu Cumiik saat kulemparkan parang ke lantai di dekatnya. "Aku hanya muak dengan sikap kalian!"
***
20 September 2006
"Bu, Lastri mau dibawa ke mana sama bapak?" Lastri, adik kecilku menggamit lengan ibu saat memandangnya penuh tanya.
Ibu mengelus kepala Lastri. "Kamu mau diantar ke surga, Nak."
Kulihat senyum mengembang dari gadis yang selama tujuh tahun ini membuatku dipanggil abang oleh orang-orang.
"Abang ikut, kan?" Lastri menoleh padaku dan kubalas dengan gelengan.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Abang diminta untuk menjaga ibu di rumah, Dek. Kamu pergilah. Nanti abang main ke tempatmu."
Lastri menghambur memelukku. "Adek tunggu abang di surga, ya."
Aku mengangguk, lalu mencium keningnya.
"Ayo!" Bapak keluar kamar dengan tas punggung yang besar. Baju-baju Lastri sudah dimasukkan oleh ibu ke dalamnya.
Aku segera berpaling saat bapak menuntun Lastri ke luar rumah. Sungguh, bahkan air mata ini tidak rela melepas kepergiannya.
"Anak lelaki tidak boleh menangis!" bentak ibu saat melewatiku. "Tahun depan giliranmu. Belajarlah yang rajin, agar tidak merepotkan orang tua barumu."
Makin sesak dada ini.
"Kenapa, Bu? Kenapa kalian menjual kami?"
Ibu menoleh. "Siapa yang bilang menjual?! Kami hanya ingin kalian hidup enak. Masa depan terjamin. Kamu lihat, bahkan rumah ini saja hampir ambruk! Ibu mana yang rela melihat anaknya menderita?"
"Apa ibu bahagia jika di rumah barunya nanti, Lastri malah sengsara?"
Ibu melotot. "Kalian lebih sengsara hidup bersama kami!"
***
Kesengsaraan itu memang tidak pernah hilang.
18 September 2007
Ibu dan bapak bahkan tidak meneteskan setitik air mata pun saat melihat potongan tubuh Lastri yang dikirim seseorang ke rumah kami.
Mereka bergeming saat aku menghambur memeluk kepalanya yang terlepas dari badan. Adikku ... harusnya dulu tidak kubiarkan kau pergi. Harusnya abang menjagamu!
"Siapa yang melakukan ini, Pak?" tanyaku geram. "SIAPA?!"
Alih-alih menjawab, beliau malah melenggang pergi. Pandanganku beralih ke ibu, sesungging senyum terlihat di sana.
"Giliranmu sebentar lagi, Nak. Sebentar lagi."
***
20 September 2007
18.50 WIB.
"Bodohnya dukunmu membuang mayat Lastri ke sini."
"Dia memberi peringatan, Bu. Dia ingin korban berikutnya adalah darah daging kita."
"Lastri anak kita!"
"Bukan darah dagingku. Ah, sudahlah. Aku tidak akan marah kau bersenggama dengan siapa pun. Yang kubutuhkan darimu hanya anak. Anak yang bisa memberiku kekayaan!"
"Biadab!"
Ya, bapak memang biadab, dan parang yang sudah kugenggam ini cukup sebagai alat untuk mengakhiri kebiadabannya!
***
Saat terdiam, aku selalu terlempar ke masa lalu. Masa di mana aku, menjadi bukan diriku. Karena bagaimana mungkin aku bisa begitu menikmati setiap muncratan darah yang keluar dari leher bapak waktu itu?
Tamat.
bukhorigan dan 26 lainnya memberi reputasi
27
1.1K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•1Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya