News
Batal
KATEGORI
link has been copied
283
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e943016263772316318c5fd/sempat-bikin-terawan-geram-peneliti-harvard-indonesia-bikin-bingung
Hasil penelitian ilmuwan Harvard mengenai prediksi kasus virus corona di Indonesia kembali mengemuka. Penelitian tersebut sempat dianggap oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sebagai sebuah penghinaan terhadap Indonesia.
Lapor Hansip
13-04-2020 16:25

Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung

Past Hot Thread
Suara.com - Hasil penelitian ilmuwan Harvard mengenai prediksi kasus virus corona di Indonesia kembali mengemuka. Penelitian tersebut sempat dianggap oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sebagai sebuah penghinaan terhadap Indonesia.

Penelitian yang dibuat oleh Marc Lipsitch tersebut menyimpulkan setidaknya ada lima orang yang positif corona di Indonesia pada awal Februari lalu. Saat itu, pemerintah Indonesia masih menyatakan wilayahnya aman dari paparan virus corona, disaat negara tetangga telah melaporkan sejumlah kasus.

Saat hasil penelitian dirilis, Terawan mengklaim peralatan yang digunakan Indonesia sudah sesuai dengan standar World Health Organization (WHO).

“Itu namanya menghina itu. Wong peralatan kita, makanya kemarin di-fix-kan dengan duta besar Amerika. Kita menggunakan dari Amerika. Kitnya, kit boleh gunakan dari manas aja, tapi kita gunakan dari Amerika,”
ujar Terawan di Gedung Grand Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa 11 Februari 2020 lalu dikutip dari Hops.id -- jaringan Suara.com.

Kala itu, Terawan menantang peneliti Harvard untuk datang ke Indonesia dan melihat sendiri kecanggihan alat yang dimiliki Indonesia.

Padahal tak lama setelah penelitian Harvard itu dirilis, bahkan hanya jeda beberapa minggu setelah Pemerintah Indonesia ‘mendamprat’ peneliti Harvard, tepatnya pada awal Maret 2020 kasus positif pertama di Indonesia ditemukan di Depok.


Profesor Harvard tanggapi balik sikap Indonesia soal penelitiannya

Seorang mahasiswi asal Indonesia yang sedang menempuh gelar magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Harvard, Nadhira Nuraini Afifa melakukan konfirmasi langsung melalui wawancara ekslusif dengan Marc Lipsitch.

Suara.com telah mendapatkan izin dari Nadhira untuk mengutip seluruh isi wawancara.

“Profesor Marc Lipsitch adalah epidemiologis dari Harvard. Dia melakukan riset prediksi dengan matematika modeling. Intinya dia melakukan linear regression model yang membandingkan antara data volume perjalanan dari Wuhan dibandingkan dengan jumlah kasus per hari negara yang berpotensi corona,” ujarnya dalam video yang diunggah di akun Youtube pribadinya Nadhira Afifa pada 13 Februari 2020.

Awalnya Nadhira menanyakan soal penelitian yang dilakukan Profesor Marc, juga pendapatnya tentang respons pemerintah Indonesia terhadap risetnya.

“Kami tidak sengaja memfokuskan pada satu negara tertentu. Saat kami memulai ini, kami memperhatikan semua negara. Dan tujuannya juga bukan untuk menilai kualitas dari sebuah negara. Namun sebagai contoh dalam situasi seperti ini seharusnya sudah ada kasus terdeteksi tetapi nyatanya mereka mengaku tidak ada,” ujarnya.


Sejak awal menurutnya penelitian ini sama sekali tidak ditujukan untuk indonesia. Itu hanya bagian dari penelitian yang dilakukan. “Kami juga menyebut bahwa Thailand mungkin sudah berhasil mendeteksi banyak kasus, tapi sebetulnya masih banyak yang belum terdeteksi.”

Ia mendalami bahwa Singapura pun yang memiliki frekuensi deteksi paling tinggi dibanding negara lain, mengingat banyaknya wisatawan dan pengunjung yang mereka miliki.

Nyatanya Singapura mendeteksi lebih banyak kasus dari yang diduga dalam penelitiannya, terlebih mereka bahkan menemukan bahwa masih banyak kasus yang terlewat karena tidak bisa mereka deteksi. Artinya mungkin ada introduksi kasus n-CoV yang terlewat sebelumnya.

Kemudian ia menanggapi respons pemerintah Indonesia terhadap risetnya. “Menurut saya adanya kasus yang terlewat bukanlah suatu penghinaan, karena setiap negara mungkin saja mengalaminya,” ujarnya.

Baginya penelitian ini hanya sebuah red flag, sebuah kondisi di mana kita patut waspada dan tanggapi.

“Dan seperti yang sering saya katakan ke banyak orang fungsi public health adalah untuk menemukan potensi masalah dan memperingati pihak yang mungkin akan terkena dampaknya, tidak berarti potensi masalah tersebut akan selalu jadi kenyataan, tapi sudah sepatutnya kami memberi alarm,” ujarnya.


Sekali lagi, ia menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud konstrukstif, ia mengatakan diinya sangat terbuka dengan sharing dan tak keberatan membantu jika dibutuhkan. “Dan ini sama sekali tidak bermaksud menyerang negara manapun.”

Hanya Indonesia yang merespons negatif soal risetnya

Lebih lanjut Profesor Marc mengatakan dirinya tidak menyangka akan ada respons seperti itu soal risetnya. Apalagi dalam pernyataan Menkes Terawan, Indonesia ‘tidak menutupi sesuatu’ soal angka positif corona di Indonesia.

“Sejak awal, saya tidak mengantisipasi respons seperti itu. Karena kami tidak bermaksud mengatakan bahwa Indonesia sedang menutupi sesuatu,” ujarnya.

Selain Indonesia ada dua negaranya yang berada di bawah 95 persen Prediction Interval (PI)-nya seperti Thailand dan Kamboja, namun mereka tidak merespons temuannya.

“Saya belum pernah mendengar respons apapun dari negara lain selain Indonesia (terkait riset saya),” ujarnya sambil tersenyum.


Ia juga mengaku sejak awal merasa bingung terhadap pemberitaan media massa Indonesia yang ia baca.

Ia juga mempertanyakan metode yang digunakan Indonesia saat itu, yang ia pahami bahwa saat risetnya selesai, Indonesia kala itu sedang menanti alat test dari China, dari mana Indonesia bisa mendapatkan hasil nol persen kasus.

“Yang saya pahami dari media sebenarnya cukup membingungkan, bahwa test kit waktu itu belum sampai ke Indonesia hingga akhir dari periode penelitian kami. Jadi jika hal itu benar dan tes kit adalah satu-satunya alat uji di Indonesia, maka ini bukan bentuk cara menutupi melainkan kurangnya alat tes uji,” ujarnya.

Ada pula cara deteksi lain yang tidak menggunakan test kit, misalnya menggunakan metode sequencing. “Mungkin saja sebelum adanya test mereka menggunakan metode sequencing, dan saya tidak tahu harus berkomentar apa mengenai hal tersebut. Namun hal itu memungkinkan orang-orang dites sebelumnya.

“Jika benar (Indonesia saat itu memakai metode sequencing), Anda harus melakukan banyak sekali test uji dan masyarakat harus datang secara volunteer untuk diuji, karena banayak sekali langkah yang harus dilakukan sebelum Anda dapat mendeteksi,” ujarnya.

Meski ia menganggap hasil risetnya kala itu cukup akurat, namun Profesor Marc menganggap risetnya bukan yang paling akurat, mungkin saja meleset.


Ia juga mengatakan mungkin saja benar yang disebut Pemerintah Indonesia bahwa kasusnya waktu itu nol persen.

“Semua hal mungkin saja terjadi. Asumsi kami adalah bahwa 95 persen PI (Prediction Interval), sehingga kemungkinannya kecil kalau nol persen. Namun lagi-lagi penelitian ini tidak sempurna dan prediksinya tidak 100 persen akurat. Bisa saja nol persen tapi itu akan sangat ganjil. Karena di negara yang sudah menemukan banyak kasus saja mungkin melewatkan beberapa kasus (tidak terdeteksi) jadi Indonesia mungkin saja memiliki lebih dari 5. Karena angka 5 didasarkan pada model penelitian yang mungkin tidak sempurna.”

Ia juga menjelaskan kalau penelitiannya ini hanya terfokus pada imported case semata, jadi tak boleh diabaikan yang tertular lewat penularan lokal juga mungkin terjadi.

“Yang saya prediksi 5 kasus di Indonesia itu berdasarkan hitungan turis yang masuk. Karena mungkin saja bisa jadi ada kasus sekunder seperti di Singapura contohnya yang mendeteksi bahwa terdapat beberapa kasus dari turis, namun juga beberapa dari transmisi sekunder misalnya dari warga lokal. Jadi bukanlah hal yang mudah.”

Soal riset Harvard: membuat acuan deteksi bagi negara yang berpotensi corona

Professor Marc mengatakan temuannya didasari karena saat itu dunia sangat terfokus pada exported cases (kasus penularan yang terjadi akibat pergerakan pendatang ke suatu negara). Karena diyakini data dari China tidak menggambarkan jaminan seluruh kasus yang sebenarnya tersebar di dunia, maka ia berusaha membantu.

“Jadi kami berharap pada semua negara untuk mendeteksi kasus secara efektif. Dan selanjutnya menyimpulkan apa yang terjdi di China,” ujarnya.

Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk melihat apakah kasus yang sudah terdeteksi benar-benar merepresentasikan jumlah kasus yang sebenarnya.

“Untuk itu kami mnghitung hubungan statistik antara jumlah pengunjung ke sebuah negara dan jumlah kasus yang terdeteksi, sehingga didapatkan data-data secara internasional.”

Yakni adanya sekitar 14 pengunjung per hari, diasosiasikan dengan munculnya 1 kasus terdeteksi yang kami pantau selama penelitian kami. Dengan standart itu, Indonesia diduga memiliki 5 kasus, padahal nyatanya saat itu pemerintah indonesia menyatakan belum memiliki kasus.

https://amp.suara.com/news/2020/04/1...-bikin-bingung



Kasus 1 dan 2
Pasien nomor 1 merupakan seorang WNI berusia 31 tahun yang tertular virus corona (COVID-19) setelah kontak langsung dengan warga negara Jepang dalam acara di klub dansa Paloma & Amigos di kawasan Jakarta.

Pasien 1 tersebut kini sedang dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta. Pasien 2 yang berusia 61 tahun adalah ibu dari pasien 1. Ibu dan anak ini bermukim di kawasan Depok, Jawa Barat.

Pasien kasus 2 ini juga sedang dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta. Pada 14 Februari 2020, pasien kasus 1 bertemu dengan teman-temannya di sebuah pesta dansa yang diikuti sekitar 50 orang dari berbagai negara.

Dia melakukan kontak dengan salah satu warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia. Kemudian, pada 16 Februari, pasien kasus 1 mengeluhkan batuk, sedikit demam, dan lemas. Sejak itu, dia berobat rawat jalan dan ditemani pasien kasus 2.

Namun, pada 20 Februari 2020, pasien kasus 2 juga mengalami sakit. Mereka kemudian memutuskan untuk dirawat di rumah sakit pada 26 Februari 2020. Setelah itu, pada 28 Februari 2020, teman dansa pasien kasus 1 mengabarkan bahwa dirinya telah positif COVID-19. Lantas, pasien kasus 1 mengabarkan kepada dokter yang merawatnya tentang hal ini.

Dokter kemudian memindahkan pasien kasus 1 dan 2 ke RS Sulianti Saroso. Setelah hasil tes laboratorium keluar, pasien kasus 1 dan 2 diumumkan positif COVID-19 pada 2 Maret lalu.

https://tirto.id/kronologi-penularan...indonesia-eD6x





Amburadul!!! klo rezim ini gak mau mundur, ya minimal minta maaf lah kepada seluruh rakyat indonesia emoticon-fuck2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sebelahblog dan 64 lainnya memberi reputasi
57
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 6 dari 9
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
13-04-2020 23:23
mungkin pak jokowi salah pilih menteri kesehatan,kemenkumham,dan dishub
yg hobi ngejoke..
emoticon-Hansipemoticon-Hansip
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
13-04-2020 23:34
bingung ama komeng ts.kek gnti rezim seperti pemilihan ketua kelasemoticon-Ngakak tinggal mundur ya munduremoticon-Ngakak apalagi pilihemoticon-Ngakak
profile-picture
...noisszcat... memberi reputasi
1 0
1
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
13-04-2020 23:51
Emg bangsa yg goblok..bangsa yg goblok termaksud ts yg warga negara indonesia wkwkwkk
profile-picture
langitnyabiru memberi reputasi
1 0
1
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 00:02
ane rasa sebenernya ni menteri udah bakal direshuffle, yang serin nongol ke media sekarang jubir sama ketua BNPB.. emoticon-Sorry

tapi nunggu momen dulu lah, sekalian bentuk tanggung jawab juga emoticon-Toast
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 00:45
buzeRp ampe berak2 di pejwan jlat taik
nya
liad trit kek gni emoticon-Ngakak
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:07
lucunya negeriku katanya katanya emoticon-Ngakak
Diubah oleh kaduruk
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:23
Untuk saat ini lebih baik fokus gotong royong untuk menyelesaikan covid dulu. Masih kondisi kek gini minta mentri mundur apa malah nda jadi tambah runyam. Mungkin nanti kalau pandemi udah selesai baru ada pertanggung jawaban. Mungkin looh
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:26
kalo emang masih punya kemaluan, lebih baik mundur deh emoticon-Big Grin
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:29
Njiiiirrr buzzer sampe sebegitunya ngejilat majikan,, ibarat org ketangkap basah maling jemuran malah koar2 nyolot harusnya yg ditangkap itu maling motor.
Ente Malah nyinyirin ilmuwan yg udah kasih info gratisan begitu,,, emoticon-Wakakaemoticon-Wakakaemoticon-Wakaka

Yg udah di test berapa org cuy diIndonesia ini? Bandingin dgn US yg bisa test puluhan ribu perhari,

Bisa jadi aja elu2 pade udah terinfeksi tapi g ada gejala dan jadi silent carrier
Diubah oleh wj2004
profile-picture
profile-picture
vlad.eisenhauer dan jagotorpedo memberi reputasi
2 0
2
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:34
yang satu (menkes) kursng kompeten, yg satu lagi (org mabok agama) bebel. kelar udah klo begini, tinggal ditunggu kuburan masal nya aja
profile-picture
jagotorpedo memberi reputasi
1 0
1
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:36
ente kira indonesia butuh sama yang bikin panik? indonesia cuma butuh hal hal indah, nina bobo, itu aja

peduli apa sama hasil penelitian, yang penting bikin jokes sama meme dulu. jangan lupa ditambah narasi "urus negara lu sendiri sono" kalo kalo ada negara lain kasih warning

jangan lupa pake bumbu bumbu "elu kadrun, elu ngeyel" biar makin terlihat pancasilais & nasionalis

kalo dah gitu tambahin bumbu bumbu konspirasi bahwa corona ga berbahaya, lebih berbahaya dbd dab penyakit lainnya walupun dua duanya sama bahayanya

jangan lupa lagi kalo dah mewabah, salahin orang orang, terutama ehem IYKWIM yang namanya gaboleh disebut, napas aja doi salah


kalo dah set semua, baru dirumah selimutan enak enak deh ngurung diri emoticon-Cool

Kalo dah gini ente keren
Diubah oleh kazuraba
profile-picture
Zekrom26 memberi reputasi
1 0
1
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:44
Apakah pak menkes sehat?
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 01:46
Yah gimana ya namanya udah kejadian, kalo mau dibilang teledor ya sampe sekarang sih pemerintah masih teledor. Terlalu anggep remeh kali ya. Yaudah gak usah salah salahan. Sekarang ikutin anjuran dari pakar2 kesehatan aja ya buat bantu mutus rantai penyebaran nih virus. Kalo bareng2 pasti bisa. Gak usah ngeyel keluar rumah dulu buat urusan yg gak penting
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 03:18
Jangan putus harapan, sempga cepat selesai pandemi ini emoticon-Nohopeemoticon-Angkat Beer
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 03:50
Teledor gara2 orang nomer 1 di bidang kesehatannya terlalu anggap remeh.. Pres yg basiknya bukan bidang kesehatan ya harus percaya sama pembantunya yg dipilih toh...

Sekarang harusnya udah sadar sih, klo kali ini udah pilih orang yg salah, kok bisa2nya si pembantu ga memperkirakan adanya carrier dari penyakit virus yg notabene emg tergantung daya tahan tubuh sih? Carrier yg sesungguhnya positif tapi tidak bergejala namun tetap dapat menularkan sih? Gara2 imunnya kuat sehingga tidak bergejala namun masih bisa menularkan.. Fatal banget klo wa bilang, blom lagi cara komunikasinya yg jelek, sampe pake jubir.. Bukan ngait2in, hanya saja kbetulan si Pembantu jg sempat ada kasus yg kontroversial, tp "ehem" begitulah selesai begitu saja dan, wa pribadi kaget pas dia kepilih, jangan2 salah pilih nih, sementara ini dugaan wa kyknya bener..salah pilih..

Makanya sampe teledor gini..ga ada upaya pencegahan dari awal, malah koar2 masalah penggunaan masker secara umum, hellooo ini masalah pandemi, tingkat global, dunia.. Ga mampu nyediain masker mah jujur aja.. Baru deh skr pada keteteran.. Kelabakan APD habis.. Mulai mesen2.. Setelah semuanya terjadi.. Karena siapa, ya karena si itu tuh emoticon-Peace

NB: awalnya wa sependapat dengan hasil negatif yg ada, karena di RS jg tiap ada suspek lgs diobservasi dgn seksama, masalahnya, responnya pasif banget hanya mengobservasi yg ada gejala dengan riwayat perjalanan, di sini wa mulai ragu, kok ga aktif melakukan random sampling utk mencari kariernya sih, karena penyakit virus yg berbahaya juga itu ya carriernya, kok ga berusaha aktif menjaring karier ini, kok pasif utk yg bergejala aja, karena saat ditemukan yg positif yg bergejala, artinya, udah banyak kecolongan emoticon-Hammer

Pasif dan tanpa upaya pencegahan awal yg baik..
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh KS06
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 04:40
wow, virus nggak terdeteksi... ini bakal jadi momok bagi seluruh tentara dunia, bayangin saja seluruh rakyat indonesia adalah TENTARA BIOLOGIS.......

emoticon-Ngakak
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 04:57
lo mau ungkit2 kesalahan yg lalu jga buat apa? percuma.. ko mau teriak2 harusnya dlu gini,dlu gtu... ya orng kejadiannya dah lewat.. lebih baik STOP... yg harus d pikirin tuh fokus buat k depannya.. penanganan k dpnnya.. dri pemerintah+ tenaga kesehatan+ KESADARAN MASYARAKAT harus SOLID..


mending yg msh bahas kesalahan pemerintah krna terlambat,mending suruh bikin aja MESIN WAKTU,suruh balik k bulan desember.... kaya AVENGER END GAME... emoticon-Ngacir
Diubah oleh hateiswirthless
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 05:52
Makin yakin gw dengan liat komen user kaskus, di kaskus banyak buzzernya. Yg di bahas masalah penanganan pemerintah, trus dialihkan ke agama.
Segitunya belain yg salah, dengan alasan kan regulasinya sudah di ubah, khilaf kali kemaren. Yang namanya salah tetap salah mininal ngakuin kalo salah.

Cinta boleh tp jangan goblok, benci boleh tapi jangan goblok.

Buzzer, cinta benci yg penting goblok.

Tirulah mbak najwa, yang dia keluar dar metro lalu buat media independen, sekarang sudah bisa sangat netral.
0 0
0
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
14-04-2020 06:18
jangan bilang peniliti havard nya yg botak plontos itu? emoticon-Cape d...
0 0
0
Halaman 6 dari 9
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia