- Beranda
- Stories from the Heart
Portal Kematian >> (horror)
...
TS
MomieMoy
Portal Kematian >> (horror)

Bab 1.
Hampir jam sebelas malam, saat satu pesan masuk di aplikasi Messenger milikku. Aku yang masih berselancar di Facebook dan berbaring di kasur, bergegas melirik siapa pengirimnya.
Magdalena Beautigalz.
Foto profil cewek cantik tersebut bertanda hijau. Artinya sedang online.
Tapi ... ada angin apa dia mengirimiku pesan?
Nama aslinya Magdalena. Kami teman SMP—lebih tepatnya dia siswi populer yang sering mem-bully-ku. Kami sama sekali nggak akrab. Anehnya, sebulan lalu dia mengirimiku permintaan pertemanan—mungkin hanya iseng. Tapi Lena nggak pernah menyapa, begitu pun aku. Kalau dipikir-pikir, untuk apa kami jadi teman di dumay kalau nggak saling sapa? Lucu, memang.
Klik.
Pesan dari Lena kubaca.
“Vio ....”
Hei, dia masih ingat nama kecilku? Oh, sungguh, ini kejutan yang menyebalkan.
Namaku Violetta, tapi hampir semua orang memanggilku Vio--termasuk Lena. Berbeda dengan orang tuaku, Lena memanggil Vio sebagai olok-olok. Dia bahkan sengaja menamai anak anjing pincang yang sering mondar-mandir di sekolah dengan panggilan yang sama denganku.
Kentara sekali sebesar apa rasa tak sukanya padaku, bukan? Entah kenapa dia begitu.
“Ya?"
Hanya satu kata singkat sebagai balasan dariku. Malas, sebetulnya. Selain mata sudah berkunang-kunang karena terlalu lama main gadget, aku segan padanya.
Tiga titik pada layar ponsel bergerak-gerak. Lawan chat-ku sedang mengetik balasan.
“Tolong aku, Vio.”
Apa dia bilang? Tolong?
Sekalinya menyapa, dia langsung nodong minta tolong?
Yang benar saja! Aku memutar bola mata.
Namun, karena penasaran apa yang dia mau, aku pun membalas,
“Minta tolong apaan, Len?”
Senyap.
Aku pikir akan segera mendapat pesan susulan, sebab akun Lena masih online. Nyatanya, setelah lima belas menit menunggu dan menahan kantuk, dia nggak membalas.
Ah, dasar julid!
Namun, baru saja hendak meletakkan ponsel pada nakas, benda pipih ini bergetar.
Notifikasi masuk--satu pesan baru.
Ah, akhirnya dia membalas. Tapi kali ini voice notes. Segera aku ketik tombol play.
Dan seketika terdengar ....
“Selamatkan—“
Ngiiinggg!
“Aww!”
Secara spontan aku membanting ponsel ke kasur dan mengusap kuping. Suara lengkingan itu, entah apa, membuat telingaku berdenging!
“Kenapa nih hape?” gumamku dengan dahi terlipat dan kembali meraihnya.
Perlahan, kuperhatikan saksama android kesayanganku ini. Mungkin saja korselet. Tapi setelah kuteliti, tak ada apa pun yang janggal.
Halah! Mungkin gendang telingaku saja yang bermasalah.
Lamat-lamat, kulirik kembali Messenger dan akun Magdalena Beautigalz. Rupanya sudah offline. Mungkin dia ketiduran. Mungkin.
Ya sudah, aku tanyakan besok saja maksud dia. Lagian, ini hampir tengah malam dan aku nggak mau bangun kesiangan.
Sebelum mematikan ponsel, sekali lagi kudengarkan voice notes yang dikirim Lena. Untuk memastikan bunyi pesannya yang sempat terganggu tadi.
Aku mendengarkannya perlahan. Saksama. Mendekatkan ponsel lebih dekat dengan telinga.
“Selamatkan aku, Vio.”
Samar, amat samar, kudengar lirih tangis di seberang sana.
Kemudian gelap.
--------------
Pagi—setengah jam sebelum berangkat sekolah, aku duduk bersama Mama di ruang makan. Mama tetap terlihat cantik dengan setelan kebangsaan kaum emak-emak. Daster. Sedangkan aku telah memakai atribut putih-abu lengkap.
“Vio, kamu ingat tetangga kita dulu, nggak?”
“Siapa, Ma? Tetangga kita, kan, banyak.” Aku menjawab tanpa menatap Mama. Fokusku pada sepiring nasi goreng spesial yang hampir tandas.
“Si Sipit itu.”
“Maksud Mama?”
“Lena.”
Aku menghentikan suapan dan melirik sekilas wanita di sampingku. Benar, siapa lagi yang Mama panggil “Si Sipit” kalau bukan dia?
Lelucon!
Tadi malam Lena menyapaku tanpa angin tanpa hujan, dan sekarang Mama tiba-tiba menanyakan gadis itu.
Kebetulan macam apa ini?
Sejak kami lulus SMP—dua setengah tahun lalu—Lena dan keluarganya pindah rumah. Sejak itu pula Mama nggak pernah membahasnya. Keluarga Lena yang cenderung tertutup memang nggak memberi kabar apa-apa pada kami. Mereka seperti lenyap ditelan bumi.
“Hu um, ingat. Banget.” Aku menekan kata terakhir dan Mama mendelik. “Emangnya kenapa, sih, Ma? Nggak penting bahas dia.”
“Husss! Nggak boleh ngomong gitu, Vio.”
“Lah, emang nggak penting, kok! Lena itu jahat—“
“Nggak boleh ngomong asal sama yang udah meninggal.”
“APA?!”
Sumpah, aku kaget setengah mati!
Aku tersedak dan mungkin akan kehilangan napas kalau Mama nggak buru-buru memberi segelas air putih.
“Pelankan suaramu, Vio.”
“Mama bilang apa barusan?!” pekikku dengan napas masih tersengal.
Mama mengangguk dengan wajah muram.
“M-mama ... Mama tahu dari siapa? Mama nggak salah info, kan?” Aku gelagapan luar biasa kaget.
“Tadi pagi Mama nggak sengaja ketemu Pak Joko. Itu, lho, mantan satpam perumahan kita—“
Ya, aku ingat si Pak Satpam dengan logat kental dan kumis tebalnya. Dia dibawa serta sama papanya Lena untuk bekerja di sana.
“—Pak Joko bilang, anak majikannya meninggal. Astaga ... malang sekali nasibnya.”
Entah seperti apa gambaran wajahku begitu Mama menuntaskan kalimatnya. Lidahku terkunci rapat. Degup dada sudah tak keruan. Berdentam hebat!
Sungguh, aku nggak berhalusinasi atau semacamnya. Tadi malam aku mendapat pesan dari Lena. Aku yakin!
“Kamu kenapa, Vio?” Mama memutus lamunanku.
Aku menggeleng, lalu bertanya, “Kapan Lena meninggal, Ma?”
Aku harus memastikan itu. Harus! Mungkin saja Lena memang mengirimkan pesan padaku malam tadi untuk meminta pertolongan. Mungkin semalam dia sedang dalam keadaan gawat. Sekarat, misalnya? Aku bergidik.
“Seminggu lalu.”
Degup jantungku seketika berhenti beberapa detik begitu mendengar jawaban Mama. Aliran darah membeku dan sekujur tubuhku mendingin.
Seminggu yang lalu? Tidak, tidak mungkin! Lena mengirimkan pesan padaku tadi malam, sedangkan dia meninggal seminggu lalu? Ini mustahil. Terlebih, aku yakin suara yang mirip tangisan itu memang milik Lena. Aku sangat mengenal suara itu.
Apa maksud semua ini, Tuhan?
Panik, aku berjingkat ke kamar dengan tergesa-gesa walau sekujur tubuh merinding bukan main.
“Lho, mau ke mana? Habiskan sarapanmu, Vio.”
Tak kuhiraukan perintah Mama. Terburu-buru kuraih benda pipih yang kini sudah berada di tangan, lalu kuamati lekat-lekat. Layarnya masih gelap. Sejak tadi malam memang belum dinyalakan lagi.
Pesan Lena pasti masih ada di sini. Kutekan tombol power. Ketika ponsel menyala, detik berikutnya jemariku langsung membuka aplikasi Messenger.
Dan begitu membukanya ....
Tenggorokanku tercekat. Napas terasa berhenti sesaat. Bahkan aku hampir lupa berkedip.
Di luar dugaan, tak ada chat atau apa pun dari akun Magdalena Beautigalz.
Jadi ... siapa yang mengirimiku pesan tadi malam?
-----------
Bersambung ...
Quote:
Diubah oleh MomieMoy 10-04-2020 20:46
tien212700 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
919
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya
sundul, kasih cendol, atau lope-in juga
hihiii.