Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
589
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e331ccf6df2315601629ac1/rumah-warisan-atas-bukit
Malam ini, aku mengumpulkan keluarga ayahku, untuk membicarakan masalah harta waris, yang belum lama ini diberikan padaku. Kupandangi wajah ibu tiriku dan dua anak gadisnya. Yang tertua bernama Kirana Harum Sari dan si bungsu Melati Suci. Mereka terlihat tertunduk dan pasrah dengan keputusanku, terutama ibu Hanum, yang sejak kepulangannya dari penjara, hanya diam dan tak banyak bicara. ehmm..aku b
Lapor Hansip
31-01-2020 01:13

RUMAH WARISAN ATAS BUKIT

Past Hot Thread
prolog


*********

RULES

- Ikuti perarturan SFTH

- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.

- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.

- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis


index






































Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
theoscus dan 56 lainnya memberi reputasi
55
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 28
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 19:29
Wah mang asep
Buat penasaran aja
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 19:32
Quote:Original Posted By sipuputt
presensi....:keeppostin
emoticon-Hansip


Oke sista...emoticon-Jempol
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 20:50

Part - 8

Kejadian demi kejadian aneh, membuat gue semakin yakin akan hadirnya sosok ghaib di rumah baru gue. Gue mencoba menyandarkan tubuh gue di shofa sambil menyaksikan pertunjukan musik di televisi, sheila on Seven group musik kesukaan gue. Mas Tono dan mas Parjo asik bermain catur di beranda, sementara bi Inah dan bi Narti, sedang membuat kudapan untuk teman minum kopi malam ini.
Ditengah keseruan gue menonton televisi, tiba-tiba..kreeekkkk, pintu kamar ayah Ganjar terbuka perlahan, dan sudut netra gue menangkap adanya bayang sosok laki-laki melintas, gue fikir itu mas Tono.

"Mas Tono...mas, ngapain masuk kamar ayah ?."

Tak ada jawaban, akhirnya gue melangkah ke kamar ayah, dan gue lihat kamar ayah memang terbuka, tapi gak ada siapa-siapa disana. Gue pencet saklar lampu...mati.

"Ya ampun, koq gue sampe lupa ya, nyuruh mas Tono, ganti lampu."

Dalam temaramnya ruang kamar ayah, gue melihat sosok wanita yang gak terlalu jelas wajahnya, wanita itu sepertinya sedang menyeringai kearah gue sambil memperdengarkan tertawanya yang menyeramkan hihihihi.....hihihihihi, gue mencoba berteriak, tapi suara gue seperti ketahan ditenggorokan dan wanita itu semakin lama semakin dekat, hingga akhirnya aaaarrrggkhhh

"Den....den Linggar !, bangun den. Aden bangun, sebuah tangan halus membangunkanku."
"Bi Inah ?," ujarku masih dengan nafas terengah-engah.
"Iya den, minum dulu den. Aden tadi mengigau, suara aden sampai ke dapur, bibi sampai kaget," ujar bi Inah.

Gue lihat juga ada bi Narti, mas Tono dan Parjo.

"Makanya jangan tidur sebelum shalat Isya den, pamali."
"Iya mas, aku ketiduran."
"Yasudah, ayo kita shalat jamaah dulu."

Gue melangkah mengikuti mas Tono. Kulayangkan pandangan ke arah kamar ayah, masih terkunci rapat.

"Alhamdulillah cuma mimpi."
"Kenapa mas Linggar," tanya mas Tono, yang mendengar gumaman gue.
"Enggak mas, gak apa-apa."

Gue shalat berjamaah, dan gue menyuruh mas Tono yang jadi imam. Mang Asep seperti biasa, gak pernah mau diajak shalat berjamaah, alasannya selalu saja ada, sudah shalat lah, atau nanti saja belakangan. Dan gue paling gak mau, maksa orang sampai berkali-kali.

********

Malam ini bi Inah kelihatan sangat gelisah, entah apa yang mengganggu fikirannya. Gue kenal betul dengan sikapnya, karena gue sudah tinggal satu atap dengannya sejak gue masih kecil. Ia terlihat mondar mandir, sambil mulutnya komat kamit, melafalkan ayat kursy.

"Bi Inah, ada apa ?," ujar gue sambil mendekati bi Inah.
"Entahlah den, perasaan bibi koq gak enak ya."
"Mungkin bibi kecapekan kali."
"Enggak den, bibi ngerasa di rumah ini seperti ada kekuatan ghaib."
"Kekuatan ghaib apa bi ?, bibi kebanyakan nonton sinetron nih," gurau gue, untuk mencairkan suasana.

Bi Inah memegang tangan gue dengan kuat.

"Den !, aden gak bisa bohong sama bibi. Aden juga merasakan hal yang sama kan ?."

Gue diam, sepertinya bi Inah emang sangat mengenal gue. Akhirnya gue mengangguk, sambil meletakan telunjuk tangan gue ke bibir.

"Psttt....bi, jangan cerita ke siapa-siapa. Aku gak mau semua orang panik dan takut. Bibi mau berjanjikan ?."

Bi Inah mengangguk sambil menghela nafas.

"Baiklah den, tapi aden janji sama bibi, selalu hati-hati."
"Siap bi"

Gue melangkah ke beranda, disana mang Asep sedang bercengkrama dengan mas Tono dan Parjo. Tawa mereka terdengar begitu riuh, entah apa yang tengah mereka ceritakan.
Saat melihat gue, mang Asep menganggukan kepala.

"Wah..seru amat ngobrolnya nih, sampe kedengeran ke dalam."
"Iya mas, ini mang Asep lagi nyeritain masa lalunya."

Gue menatap mang Asep, tapi mang Asep seperti tak ingin gue menanyakan hal-hal lain, ia berdiri dan pamit hendak berkeliling.

"Loh koq pergi mang, mau kemana ngobrol dulu lah."
"Anu den, mamang mau keliling dulu, nanti kemalaman."
"Oh yasudah, hati-hati ya mang."

Gue lihat mang Asep berjalan menembus gelapnya malam. Gue gak tau seberapa besar nyalinya, hingga dia bisa tinggal di rumah ini, seorang diri.

*********

Saat gue tengah asik ngobrol dengan mas Tono dan parjo, terdengar ada panggilan masuk di gawai gue...bu gempal. Gue menandai bu Hanum dalam kontak gue, dengan sebutan bu gempal.

"Assalamualaikum."
"Waalaikumusallam...nak Linggar, tadi ibu kerumah, koq sepi. Apa nak Linggar dan semuanya masih di rumah bukit ?."
"Iya bu, aku kejebak disini, tanah yang menuju bukit ini longsor, mungkin baru beberapa hari kedepan aku bisa pulang. Ada apa bu ?."
"Enggak, enggak ada apa-apa. Nanti saja kalau nak Linggar balik kesini ibu cerita."
"Oh..yasudah kalau begitu. Ibu, mbak Kirana dan Melati, sehat semua kan?."
"Iya nak..alhamdulillah, hanya saja..teet....teet...teet," tiba-tiba telfon terputus.

"Loh koq putus ?,"

Gue coba menghubungi bu Hanum lagi, tapi gak bisa, karena sinyal disini sangat buruk. Akhirnya gue putuskan buat nelfon dia besok pagi.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 21:16
Quote:Original Posted By Reagle
Wah mang asep
Buat penasaran aja


emoticon-Bingung
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 06:20

Part - 9

Malam hampir masuk sepertiga akhirnya, saat gue denger teriakan keras dan benda jatuh.

toloonggg ......prangggg

Gue dengar suara orang berlari turun dari lantai dua ke arah dapur. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul semua, gue bergegas bangkit dan membuka pintu...gelap.
Sepertinya gue gak salah denger, suara itu jelas banget ditelinga gue, ada orang minta tolong. Perlahan gue lihat ke arah dapur, juga gelap, gak ada siapapun...hiyyy, bulu kuduk gue meremang. Kalo yang gue denger tadi cuma halu, keterlaluan banget sampe bikin gue kaget setengah mati.
Akhirnya gue putuskan buat tidur lagi, lumayan sebelum subuh datang. Saat tangan gue hendak menjangkau handle pintu..kreeeetttt, pintu kamar ayah seperti dibuka orang.

"Siapa ya yang masuk kamar ayah ?

Gue mencoba menyentuh saklar yang kebetulan ada di depan kamar gue...tek, ruangan yang tadi gelap, menjadi terang benderang.
Gue melihat kamar ayah memang terbuka, dan tak lama kemudian terdengar suara ketukan yang sangat keras dug...dug...dug, dan suara orang meminta tolong, toloongg....toloongggg. Gue mundur beberapa langkah, sumpah gue takut banget, sampai akhirnya gue merasa ada sesuatu yang menyentuh bahu gue, ja..ja..jangannn, ujar gue spontan karena rasa takut yang teramat sangat.

"Ini Tono mas....Tono, ada apa mas Linggar ?, tenanglah !."
"Ya ampun mas Tono ngagetin aja. Jantung aku hampir copot tau."

Gue menunjuk ke arah kamar ayah yang sedikit terbuka.

"Siapa yang buka kamar ayah mas ?."

Mas Tono melangkah mendekati kamar ayah, dan membukanya perlahan.

"Enggak ada siapa-siapa mas, mungkin waktu nutup semalam gak kenceng, jadi kebuka. Kan semalam mas Linggar, suruh saya ngecek lampu kamar bapak, waktu ngunci mungkin gak ketutup rapat, karena mata kuncinya sudah agak rusak. Biar besok lampu sama pintunya saya benahin mas," ujar mas Tono.

Gue cuma bisa mengangguk, saat mas Tono bilang mau membuatkan kopi buat gue.

*********

Aroma kopi tercium sangat harum, membangunkan bi Inah dan bi Narti, yang keluar dengan mata masih setengah mengantuk.

"Loh sedang apa mas ?, koq buat kopi sendiri, gak bangunin aku," ujar bi Narti sambil menghampiri suaminya.
"Gak apa-apa bu, cuma buat kopi. Mas Linggar mau ngopi. Sudah kamu cuci muka saja dulu, baru buatkan makanan kecil buat den Linggar."
"Iya mas."

Bi Narti berjalan perlahan ke arah kamar mandi...astaghfirullah...astaghfirullah

Gue dan mas Tono yang sedang menikmati kopi berlari ke arah kamar mandi. Betapa terkejutnya gue, kala gue lihat bi Inah sedang melilitkan selang shawer ke lehernya, matanya membelalak dan lidahahnya menjulur ke luar.
Mas Tono dan gue dengan cepat menahan tangan bi Inah, gue seperti sedang bertempur dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Secara logika gak mungkin tubuh renta ini, bisa sangat kuat menahan tangan gue dan mas Tono. Tapi untunglah disaat yang sangat genting, Parjo datang dan ikut membantu, hingga akhirnya selang shower, bisa kami lepaskan.
Tubuh bi Inah terkulai lemas, gue bopong tubuh tuanya menuju sofa.

uhuk...uhukk, dia batuk dan menahan sakit.
"Bi Inah gak apa-apa ?," ujar gue, sambil membersihkan lehernya yang memerah dan sedikit lecet. Bi Inah hanya diam, sambil menahan sakit.

Tak lama kemudian, bi Narti datang membawa segelas air putih hangat dan memberikannya ke gue. Gue ingat pesan kyai Amin, untuk membacakan Al Fatihah, sebelum air itu diberikan pada yang sakit. Lalu mulut gue komat kamit membaca ayat-ayat surah Al Fatihah, dan memberikan air putih itu ke bi Inah.
Setelah tenang, gue mulai bertanya padanya.

"Ada apa bi ?, kenapa bibi melukai diri bibi ?."
"Bukan bibi den, tapi perempuan itu."
"Perempuan ?, perempuan siapa bi ?, gak ada siapa-siapa di sana."
"Ada den, dia memakai baju merah, dan dialah yang terus melilitkan selang itu keleher bibi."

Gue kaget dan memandang ke arah mas Tono. Bi Narti terlihat memegang lengan suaminya dengan takut. Otak gue berputar, berusaha mencari jawaban secara logic, gak nemu, gue yakin ini ulah ghoib, akhirnya gue mengambil keputusan untuk memanggil kyai atau ustadz yang ada di kampung ini.

"Mas Tono, tolong besok pagi cari kyai atau ustadz ya, ceritakan semua yang terjadi disini."
"Baik mas."
"Ayo semua, sekarang kita shalat berjamaah dulu, sudah masuk waktu subuh, nanti kita terlambat. Bi Inah bisa bangun ?."
"InsyaAllah bisa den."

*******

Kejadian malam ini, benar-benar kejadian yang membuat gue sangat takut, karena nyaris saja mengambil nyawa orang yang gue sayang, orang yang udah gue anggap sebagai orang tua gue sendiri, dan gue udah gak bisa bilang, ini cuma halusinasi.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 13:03
ijin masang tenda gan
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 13:37
Bagusss jugaaa tuh dpt rumah disitu haha
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 14:26
nitip sempak dulu
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 14:57
update emoticon-Cool update emoticon-Cool

lagi seru-serunya menyanya abis
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 15:27
Quote:Original Posted By wowwaw
ijin masang tenda gan


Mangga gan.
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 15:28
Quote:Original Posted By misteryap
Bagusss jugaaa tuh dpt rumah disitu haha


Asiiik ya gan, meski ada hantunya...emoticon-Ngakak
profile-picture
onenkyess memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 15:29
Quote:Original Posted By afryan015
nitip sempak dulu


Et dah sempak...duit gan..emoticon-Ngakak
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 15:30
Quote:Original Posted By eza.d.a
update emoticon-Cool update emoticon-Cool

lagi seru-serunya menyanya abis


Ok..sabar ya gan..emoticon-Jempol
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 15:32
Quote:Original Posted By agusmulyanti
Et dah sempak...duit gan..emoticon-Ngakak


Kalo duit mah enak di elu breee
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 15:51
Quote:Original Posted By afryan015
Kalo duit mah enak di elu breee


emoticon-Ngakak
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 16:10
Quote:Original Posted By agusmulyanti


Ok..sabar ya gan..emoticon-Jempol


keren nih, soalnya orang kayo tokoh utamanya
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 16:57
,,,,,,mantap gan....new adventure.....dah ane tandain....nitip sendal ye gan.....
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 17:36

Part - 10

Seusai shalat subuh, gue datang ke paviliun mang Asep. Kuketuk pintu depan, tok...tok..tok.., sepi.

"Mang....mang Asep. Kemana sih si mamang, sepagi ini sudah gak ada."

Gue berjalan memutar ke samping. Saat gue melewati jendela kamarnya, gue mencium bau kemenyan. Gue mencoba mengintip lewat celah gorden yang tersingkap sedikit..

aakkhh !!, gue kaget setengah mati, saat sebuah tangan menyentuh bahu gue, untung suara gue gak terlalu keras, ternyata mas Tono.

"Lagi apa mas," tanya mas Tono berbisik.

Suara percikan air terdengar dari kamar mandi, sepertinya mang Asep sedang mandi.

"Aku lagi nyari mang Asep mas, tapi sepertinya dia sedang mandi. Eh mas, mas nyium bau dupa gak sih ?."
"Maksud mas Linggar kemenyan sesaji."
"Tepat banget mas, nyium gak," tanya gue.

Mas Tono mengangguk. Lalu gue denger suara mang Asep keluar dari kamar mandi, buru-buru gue tarik tangan mas Tono, kembali ke depan.

"Maksud mas Linggar apa ya tadi?, dupa...mang Asep, ah..aku koq bingung mas," tanya mas Tono sambil menggaruk-garukan kepalanya.

pstttt, gue meletakan jari telunjuk ke bibir gue, mengisyaratkan mas Tono, agar berhenti bertanya.
Mas Tono mengerti kemauan gue, dia diam dan tak banyak bertanya hingga mang Asep ke luar.

cklek ..krekk, suara handle pintu dibuka dari dalam, tak lama kemudian sosok mang Asep muncul dengan raut wajah terkejut.

"Loh den Linggar, ada apa ?, sudah lama ?, maaf saya sedang mandi tadi."
"Gak apa-apa mang, saya juga enggak buru-buru."

Lalu gue utarakan maksud gue datang sepagi ini. Terlihat raut wajah mang Asep menunjukan rasa ketidaksukaan.

"Memang ada apa den di rumah itu ?, selama mamang ikut den Ganjar, hingga sekarang, belum pernah ada gangguan ghaib, aman-aman saja."

"Ya itulah mang, saya juga enggak ngerti kenapa tiba-tiba banyak kejadian aneh. Tadinya saya fikir, itu cuma halusinansi saya aja, tapi puncaknya tadi malam mang, dia hampir saja melukai bi Inah, dan itu sangat menakutkan."

Mang Asep diam, pandangan matanya menerawang, lalu perlahan ia menjawab

"Saya tidak begitu tau kyai disini den, karena saya jarang ikut pengajian. Saya setiap hari hanya mengawasi rumah ini den."
"Oh gitu mang. Terus istri mamang yang ada di fhoto itu dimana ?."

Mang Asep terlihat tersenyum kecut.

"Saya belum berkeluarga den, itu pacar saya."

Gue hanya mengangguk, dan tidak ada selera untuk bertanya lebih jauh. Gue lalu mengajak mas Tono untuk mencari kyai ke kampung sebelah. Letaknya agak jauh, karena harus menuruni bukit yang longsor. Sementara itu Parjo, gue suruh ngejaga bi Inah dan bi Narti.

********

Matahari sudah mulai terlihat sinarnya, saat gue dan mas Tono berangkat ke kampung sebelah. Bi Inah membekali gue dengan doa dan air mata.

"Den..hati-hati ya, banyak-banyak baca shalawat dan berdoa. Jangan lupa shalat !!."
"Iya bi. Bibi tenang ya, aku nih cuma ke kampung sebelah, bukan mau perang," gurau gue.

Bi Inah tersenyum meski air mata terlihat di sudut matanya.

********

Gue berjalan menyusuri lereng bukit. Sepanjang jalan, gue melihat pemandangan yang membuat gue berdecak kagum. Semburat sinar mentari yang muncul dibalik bukit, terlihat begitu indah, membuat rasa syukurku semakin dalam.

"MasyaAllah, indah banget ya mas," ujar gue, sambil menunjuk pemandangan perkebunan teh yang luas menghijau.

Menjelang tengah hari, kami baru sampai di batas desa. Buruh-buruh perkebunan teh, mulai terlihat lalu lalang. Hingga akhirnya kami bertemu dengan seorang gadis bercaping sedang beristirahat.

"Assalamualaikum. Maaf teh mengganggu, mau tanya, rumah kiyai disini dimana ya ?."

Gadis itu mengangkat wajahnya, lalu dibuka caping yang menutupi rambutnya dan dessss, darah gue berdesir, saat menatap wajahnya..

"MasyaAllah..cantik banget," batin gue.

Gadis itu tersenyum, senyum yang menurut gue sangat sempurna, kalau diambil nilai dari 1 sampai 10, senyumnya itu, menurut gue ada di angka 9,5...wah.

"Rumahnya gak jauh dari sini kang, mari saya antar," ujarnya lembut.

Tubuhnya yang semampai berjalan perlahan. Dia berhijab dan memakai baju muslim, tapi itu tambah membuat ia terlihat cantik.

"Lewat sini kang," ujarnya saat melewati pertigaan, hingga akhirnya kami sampai di rumah besar bercat putih.

"Assalamualaikum."
"Waalaikumusallam."

Seorang laki-laki, berkopiah putih keluar dari rumah. Gadis itu mencium tangannya sambil memperkenalkan kami.

"Abi, akang-akang ini, mencari abi, makanya eneng antar, katanya ada perlu."

Lelaki paruh baya, yang masih terlihat gagah itu, tersenyum dan mempersilahkan kami masuk.

"Mari masuk..silahkan duduk !."
"Neng, tolong buatkan minum dan siapkan makan."
"Baik abi."
"Itu putri saya, Fatimah namanya."

Gue mengangguk. Lalu tanpa basa basi, gue menceritakan maksud dan tujuan gue datang ke kampung ini, mencari kyai.

"Maaf kyai, nama saya Linggar, dan ini teman saya, mas Tono," ujar gue memperkenalkan diri.
"Saya Hasan, orang biasa memanggil saya kyai Hasan, istri saya sudah lama meninggal, jadi saya tinggal hanya berdua dengan putri saya Fatimah."

Kami lalu terlibat pembicaraan hingga waktu menjelang shalat dzuhur, kyai Hasan mengajak kami ke masjid, untuk mengerjakan shalat berjamaah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 16 lainnya memberi reputasi
16 1
15
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 17:42
Quote:Original Posted By eza.d.a
keren nih, soalnya orang kayo tokoh utamanya


Iya gan.
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 17:44
Quote:Original Posted By ninoflow80
,,,,,,mantap gan....new adventure.....dah ane tandain....nitip sendal ye gan.....


Sepatu dan duit juga boleh gan..emoticon-Ngakak
0 0
0
Halaman 2 dari 28
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
indigo-bukan
Stories from the Heart
chubby-bunny
Stories from the Heart
girl-im-your-future
Stories from the Heart
two-sides-of-the-same-coin
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia