Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1379
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e0800c3018e0d7fcd3439fd/rumah-hantu-di-perkebunan-karet-rhdp
#briistory Kali ini gue membawakan kisah dari Om nya bang Brii, yang menurut gue kisah nya :takut Gue di sini sudah minta ijin ya sama empunya cerita, dan bang Brii pun mengijinkan. Dan bukunya segera rilis, jadi jangan bilang gue pelagiat. Yang mau beli bukunya PM saja . . . Oke langsung saja ya tanpa basa basi lagi Yang sudah baca part 1 abaikan saja. Rumah Hantu di Perkebunan Karet Part 1 _____
Lapor Hansip
29-12-2019 08:26

RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)

RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)

#briistory





Kali ini gue membawakan kisah dari Om nya bang Brii, yang menurut gue kisah nya emoticon-Takut

Gue di sini sudah minta ijin ya sama empunya cerita, dan bang Brii pun mengijinkan. Dan bukunya segera rilis, jadi jangan bilang gue pelagiat. Yang mau beli bukunya PM saja . . . Oke langsung saja ya tanpa basa basi lagi


Yang sudah baca part 1 abaikan saja.








Rumah Hantu
di Perkebunan Karet Part 1
________________



Sekali lagi gw ingatkan, jangan pernah membaca cerita di sini sendirian, pokoknya jangan ya..

Ingat om Heri kan?

Om gw yang pernah jadi supir mobil pengantar jenazah di Semarang. Om yang juga banyak memiliki pengalaman aneh dan seram.
(Kalian belum baca kan . .Gw sudah ahahaha)

Malam ini, beliau akan cerita tentang pengalamannya saat bekerja di salah satu perusahaan perkebunan. Pekerjaan yang dia jalani setelah selesai bekerja pada rumah sakit, sebagai supir mobil pengantar jenazah, di Semarang.

Peristiwa ini terjadi sekitar awal tahun 90an
Setelah ini, om Heri yang akan menceritakan langsung tentang kejadiannya ya.. Jadi yg cerita sekarang ini adalah om Heri, bukan brii.. Yuk simak..


Waktu itu om bekerja di pedalaman Sumatera, tempat yang sangat terpencil, jauh dari mana-mana, benar-benar di tengah hutan, hutan karet tepatnya.

Iya, alhamdulillah, setelah bekerja sebagai supir mobil jenazah waktu itu, om diterima bekerja di perusahaan perkebunan, yang letaknya di daerah sekitar Martapura, Sumatra Selatan.

Om bekerja sebagai pengawas perkebunan karet yang total luasnya mencapai hingga ribuan hektar. Tapi tentu saja om gak mengawasi keseluruhannya, hanya beberapa puluh hektar saja yang jadi tanggung jawab om.

Perusahaan ini mempekerjakan banyak pekerja, dan yang jumlahnya paling banyak adalah buruh lepas yang bertugas menyadap karet dari pohonnya, setiap hari.
Nah, salah satu pekerjaan om adalah mengawasi para buruh itu bekerja.

~Salah satu om? Emang apa lagi selain itu?

Mengawasi para buruh bekerja, menurut om bukan pekerjaan yang terlalu berat, om sangat senang melakukannya.
Karena waktu itu perusahaan tempat om bekerja ini masih kekurangan orang, maka om ditugaskan juga untuk mengawasi dan menjaga wilayah perkebunan, agar gak ada pencurian.

Tugas inilah yang agak berat, karena harus berpatroli pada malam hari, berdua dengan teman menggunakan motor, keliling perkebunan yang cukup luas itu.
Selain itu juga, yang om gak kuat adalah harus menghadapi kejadian dan pemandangan seram yang banyak terjadi dalam prosesnya.

Perusahaan ini memberikan beberapa fasilitas, dan juga gaji yang lumayan besar pada waktu itu.
Salah satu fasilitas yang diberikan adalah tempat tinggal.

Ada mess berbentuk rumah, yang disediakan perusahaan lengkap dengan isi dan segala penunjangnya, om diharuskan tinggal di situ.

Rumah besar yang terdiri dari empat kamar, ruang tamu, ruang tengah, dapur dan satu kamar mandi.
Letak rumah ini cukup "menantang", terletak di tengah-tengah perkebunan karet, gak ada rumah lain di sekelilingnya, benar-benar sendirian.

Jarak menuju desa terdekat sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor.
Kebayang ya? Betapa terpencilnya rumah itu..

Oh iya, satu lagi, rumah ini juga gak berpagar, langsung berhadapan dengan hutan karet.
Dan yang paling seru adalah, rumah ini belum ada aliran listrik, penerangan hanya mengandalkan petromak dan lampu templok minyak tanah.

Ketika pertama kali datang, pada pagi hari waktu itu, om disambut oleh Wahyu, yang nantinya ditugaskan untuk menjadi asisten om selama bekerja di situ
Wahyu berumur sekitar 22 tahun.

pemuda asal Palembang yang kebetulan baru tiga bulan bekerja.
Wahyu menyambut dengan ramahnya,
Kemudian kami berbincang, dia menceritakan keadaan dan suasana di tempat itu.

"Jadi, selama tiga bulan pertama kerja, kamu tinggal di sini sendirian?" Tanya om penasaran.
"Nggak pak, saya cuma sempat tinggal di sini selama satu minggu pertama, gak betah saya sendirian pak"

"Trus selebihnya kamu tinggal dimana?"
"Saya kost di desa terdekat pak, pulang pergi ke perkebunan setiap harinya, naik motor." Jawab Wahyu menjelaskan.

"Tapi setelah pak Heri datang, saya berani tinggal di sini lagi, kan sudah ada temannya." Lanjut Wahyu.
Berani? Berarti sebelumnya Wahyu gak berani tinggal di rumah itu, hmmmmm...

Nantinya, kami memang hanya tinggal berdua di rumah itu..

Hari pertama bekerja, Wahyu mengajak berkeliling wilayah perkebunan yang nantinya menjadi wilayah tanggung jawab om, sekaligus memperkenalkan om dengan semua buruh karet yang bekerja di situ.

Wilayah perkebunan yang sangat luas, sepanjang jalan berkeliling menggunakan motor kami hanya menemui barisan pohon karet yang berjajar rapih,

Di pinggiran perkebunan terlihat hutan yang cukup rindang.
Cukup melelahkan hari itu, selama seharian kami hanya berkeliling melihat keadaan perkebunan.
Sekitar jam lima sore, kami pulang..

Malam menjelang..
Wahyu dengan cekatan menyalakan lampu petromak dan semua lampu templok di seluruh ruangan.
Suasana rumah menjadi cukup terang.

Sekeliling rumah mulai gelap, menutup semua pemandangan kebun karet.
Sangat sepi..

Selepas isya, kami berbincang di teras depan rumah, ada dua kursi dan satu meja yang menjadi tempat kami ngobrol.

Pemandangan depan rumah sangat gelap, hanya ada siluet pohon karet dan rumput liar di sela-selanya.
Suara-suara binatang malam juga terdengar mengiringi suasana.

"Pak Heri nanti tidur di kamar tengah aja pak, saya di kamar depan. Kamar tengah lebih besar dari kamar lainnya." Ucap Wahyu di tengah perbincangan.
Om mengiyakan saja..
Hingga sekitar jam sembilan malam kami masuk ke kamar masing-masing. Cukup melelahkan hari itu, om mencoba untuk tidur lebih awal.

Persis di depan kamar om adalah ruang tengah, kamar Wahyu ada di sebelah kanan, dua kamar lainnya ada di belakang bersama dapur dan kamar mandi.

Wahyu mematikan petromak yang ada di ruang tengah, hanya lampu templok di dalam kamar yang dibiarkan dalam keadaan menyala.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, ketika om belum juga bisa memejamkan mata.
Gak ada yang bisa dilakukan di kamar itu, om hanya bisa melamun sambil menunggu kantuk datang.
Hembusan angin malam menembus jendela kamar yang berbatasan langsung dengan perkebunan karet di luar, anginnya dingin menusuk tulang.

Terdengar juga suara binatang-binatang malam bersahutan.
Gak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara lolongan anjing hutan, melolong panjang,
Lolongan yang banyak arti.

Om mulai merasakan hal yang gak lazim, ketika lolongan anjing itu intensitasnya menjadi semakin sering.
Tiba-tiba lolongan anjing berhenti..
Om terdiam, suasana menjadi sangat sepi..

Keheningan itu berlangsung cukup lama..
Jam sudah hampir di pukul satu, ketika om kembali mendengar suara..
Suara yang cukup menarik perhatian..


"Sreeekk...srekkk...sreeek.." kira-kira seperti itu bunyinya.
Dengan tubuh masih terbaring di atas tempat tidur, om menajamkan pendengaran..
Suara itu semakin jelas terdengar..

"Sreeeek sreeek...sreeekk.."

Om langsung terkesiap, ketika menyadari kalau itu terdengar seperti suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah..
Terdengar seperti ada orang yang sedang menyapu di luar menggunakan sapu lidi, dekat jendela kamar..

Siapa yang menyapu tengah malam seperti ini?, Wahyukah? Sepertinya gak mungkin..
Perlahan om bangkit dari tempat tidur, dan berjalan medekati jendela, mencoba kembali memastikan keberadaan suara itu.
Setelah sudah berdiri di samping jendela, suara itu semakin jelas terdengar..

"Sreeek...sreekk..srekk.."
Penasaran, om coba mengintip dari sela-sela lubang jendela..
Om gak melihat apapun, hanya gelap gulita. Tapi suara sapu lidi itu masih saja terdengar..
Masih penasaran, pelan-pelan om mencoba membuka jendela..

Perlahan jendela mulai terbuka, membuka celahnya sedikit demi sedikit..
Saat itulah, ketika om mulai bisa melihat ke luar dengan lebih jelas, om melihat sosok yang menurut om adalah sosok yang menghasilkan suara..

Ada sosok perempuan dengan rambut panjang yang berwarna putih semua.

Badannya agak membungkuk membelakangi om, dengan posisi seperti sedang menyapu..
Perempuan itu meggunakan kebaya dan kain panjang hingga menutupi kakinya.

Om merinding melihatnya, dan sangat ketakutan..
Perlahan om mulai mencoba menutup jendela,
Saat itulah ketika om melihat perempuan itu mulai membalikkan badannya, perlahan..

tangan kanan om tiba-tiba berhenti bergerak ketika sedang mencoba menutup jendela, kerna wajah perempuan itu perlahan mulai terlihat..

Wajahnya mulai terlihat jelas, walaupun dalam keadaan gelap, karna jarak kami cukup dekat, hanya sekitar empat meter..
Wajahnya pucat, berkeriput, wajah nenek-nenek..

Sambil berdiri menyamping, nenek itu menatap ke arah om yang berdiri di balik jendela, kemudian tersenyum...
Bukan..
Ternyata nenek itu bukan tersenyum, tapi menyeringai, dan mengeluarkan suara ringkih tertawa..
Mengerikan..

Reflek, om langsung menutup jendela dan menguncinya..
Om kembali bergegas ke atas tempat tidur..
Menutup seluruh tubuh dengan selimut sampai kepala..

Suara sapu lidi nenek itu masih terdengar, ditambah sesekali suara tawa ringkihnya juga terdengar pelan..
Om ketakutan, gak berani berbuat apapun..
Suara lolongan anjing kembali terdengar dari kejauhan, bersahut-sahutan..

Om membaca doa semampu dan sebisanya, mengharap perlindunganNya, berdoa semoga teror itu cepat berakhir...
Menjelang jam tiga pagi, teror itu akhirnya berhenti..
Kemudian om baru bisa terlelap..

Peristiwa malam itu gak om ceritakan kepada Wahyu, om coba untuk simpan sendiri, om gak mau membuat Wahyu ketakutan.
Disamping itu juga, om sudah mulai sibuk dengan pekerjaan yang mulai cukup melelahkan.

Malam-malam berikutnya, suara nenek menyapu di luar itu tetap sesekali terdengar lagi, tapi om mencoba gak terpengaruh,
Dalam ketakutan om memaksa diri untuk gak menghiraukannya, dan membiarkan hingga suara itu menghilang dengan sendirimya.
Sekitar satu bulan tinggal di rumah itu, ketika om dan Wahyu sudah semakin akrab, kami sudah dapat berbincang mengenai hal apapun, sudah gak terlalu formil lagi.

"Pak, memang pak Heri bisa tidur nyenyak di kamar itu sendirian?". Tanya Wahyu pada suatu ketika.
"Nyenyak-nyenyak aja Yu..., memang kenapa?" Tanya om,
"Gak Apa-apa pak..." Wahyu menggantung pembicaraan.
"Memang kamu gak bisa tidur nyenyak Yu?"

"Bisa pak..., bisa.." jawab Wahyu sedikit gelagapan.
Om gak terlalu ambil pusing dengan percakapan itu, hingga pada akhirnya ada peristiwa yang terjadi pada satu malam jumat, om akhirnya tau alasan dibalik sikap Wahyu

Seperti biasa, malam jumat itu, selepas isya kami berbincang di teras depan rumah.
Wahyu dengan sisa energi yang terlihat banyak, tampak masih bersemangat berbincang..

Segala hal kami perbincangkan, tentang pekerjaan, keluarga, dan lain sebagainya.
Tapi ada satu topik yang selalu kami hindari, sebenarnya Wahyu yang terlihat sangat menghindari, yaitu masalah mistis, hantu, dan hal-hal aneh yang terjadi di rumah itu.

Ketika perbincangan sudah menjurus ke arah itu, Wahyu langsung membelokkan topik pembicaraan, dia langsung memperlihatkan gelagat yang aneh, seperti ketakutan.
Gak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

Kami sudah semakin lelah dan mengantuk, bahan obrolan pun sudah semakin sedikit.
Malam itu cukup dingin seperti biasanya, walaupun gak ada angin yang bertiup.

Suara jangkrik bersahut-sahutan.
Gelap gulita mulai menjadi teman akrab ketika malam tiba, kami mulai terbiasa dengan pemandangannya
Dalam keheningan kami yang masih terdiam, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.

"Creeeeek...creeeek...creeeekk.." kira-kira seperti itu suaranya.
Kami berdua saling berpandangan, menerka-nerka suara apa gerangan itu.
Suara yang awalnya terdengar sangat jauh, lama kelamaan semakin dekat, mendekat ke arah tempat kami duduk.

"Creeek...creeek...creek"
Semakin jelas dan kuat suara itu terdengar..
"Pak, kita masuk aja yuk pak.." ajakan Wahyu memecah keheningan.
Om mengangguk setuju, kami pun langsung bergegas masuk.

Wahyu mengunci pintu dan jendela, wajahnya terlihat ketakutan.
"Ada apa yu? Kok kamu seperti ketakutan?"


"Gak ada apa-apa kok pak, mungkin karna kecapekan saja.." jawabnya.
Setelah mematikan petromak ruang tengah, Wahyu langsung pamit masuk ke kamarnya.

Om juga langsung masuk ke kamar.
Entahlah, tapi malam itu memang sudah mulai mencekam sejak kami mendengar suara aneh itu di luar rumah.
Masih dalam keadaan penasaran, memikiran suara apakah gerangan tadi, om mencoba memejamkan mata..

Sudah jam 11 malam, om masih belum bisa tidur juga.
Resah dan gelisah di atas ranjang besi dan kasur kapuk.
Nyamuk-nyamuk yang semakin ganas, memaksa om untuk memasang kelambu mengelilingi tempat tidur.

Hanya bisa melamun, guling ke kanan guling ke kiri, kantuk gak datang juga.
Hingga ketika jam 12 malam, ada sesuatu terjadi..

Om mendengar suara..
Suara yang bersumber dari luar kamar..

"Creeek...creeek...creek"
Suara yang sama persis dengan yang om dan Wahyu dengar sewaktu di luar rumah tadi.
Kali ini suaranya sangat dekat..
Suaranya bersumber dari dalam rumah..!

"Creeek...creeek...creek"
Om mulai ketakutan..
Dan semakin ketakutan, ketika om yakin kalau suara itu bersumber dari ruang tengah..!
"Creeek...creeek...creek" suara itu semakin terdengar dengan intensitas yang tinggi, semakin sering.

Om semakin ketakutan, tapi gak berani berbuat apa-apa..
Selang beberapa menit kemudian, suara itu hilang..
Suasana kembali hening..
Sangat hening..

Jam sudah hampir di pukul satu malam, ketika tiba-tiba ada suara dari ruang tengah..
"Pak..., pak.., Pak Heri..."

Ada suara yang memanggil nama om, terdengar seperti suara Wahyu.
Perlahan om beranjak bangun dari tempat tidur, melangkahkan kaki mendekati pintu..

Pelan-pelan om memutar gagang pintu dan membukanya,
Setelah pintu terbuka sebagian, om melihat ke luar, yang ternyata gak ada siapa-siapa..

Di depan pintu gak ada siapa-siapa..
Gak ada Wahyu di depan pintu..
Kosong..
Tiba-tiba...
"Creeek...creeek...creek"

Suara itu kembali terdengar, kali ini terdengar sangat jelas dan keras, menandakan kalau sumber suaranya sangat dekat..

Reflek, om melirik ke arah sumber suara, ke pojok ruang tengah yang gelap.
Samar- samar, mata om menangkap sesuatu, sesuatu yang berdiri tegak di pojok ruang tengah. Jaraknya hanya sekitar tiga meter dari tempat om terpaku berdiri.

Badan om lemas, bulu kuduk berdiri semua, jantung berdegup sangat kencang, ketika om menyadari kalau yang om lihat saat itu adalah pocong..Pocong yang berdiri tegak di sudut ruangan..

Berwarna putih kusam, bagian wajahnya terlihat terbuka, namun om gak bisa melihat wajahnya dengan jelas..

Om langsung menunduk, dan perlahan menutup pintu.
Setelah pintu tertutup, buru-buru om naik ke atas tempat tidur, bersembunyi di balik kelambu..
Om ketakutan..

Berharap semoga pocong itu tetap berada di luar kamar..
Tapi harapan tinggal harapan, ketika tiba-tiba pintu kamar perlahan mulai terbuka..

Om hanya bisa memandang ke arah pintu tanpa bisa berbuat apapun..
Ketika pintu sudah terbuka penuh, om melihat ada pocong yang tadi..
Mengintip..
Pocong itu melayang masuk ke dalam...
Dan berhenti tepat di tengah kamar..
Dia berdiri diam menghadap ke tempat tidur..
Om sangat ketakutan..

Badan lemas, tulang seperti lepas dari engselnya..
Posisi kami hanya dipisahkan oleh kelambu yang tipis transparan..
Wajah pocong itu hitam dan gak karuan bentuknya...
Om di ambang pingsan..

Situasi itu sangat mengerikan..
"Creeek...creeek...creek" tiba-tiba pocong itu mengeluarkan suara..
Kaget..
Setelah itu gak ingat apa-apa lagi..
Om pingsan..

Ketukan pintu membangunkan om dari tidur/pingsan(?), suara Wahyu memanggil-manggil dari luar kamar.
"Pak..., pak Heri, bangun pak, sudah subuh.."

Om langsung bangun dari tempat tidur dan keluar kamar. Lalu kami sholat subuh bersama seperti hari-hari sebelumnya.
Setelah sholat, om melihat wajah Wahyu terlihat kuyu, seperti kurang tidur.

"Kamu kurang tidur ya?"
"Iya pak, nanti saja di luar rumah saya ceritanya ya pak." Jawab Wahyu setengah berbisik.

Om mengangguk pelan, sepertinya om agak paham dengan apa yang akan Wahyu ceritakan.

Siangnya, ketika sedang mengawasi para pekerja, Wahyu mulai bercerita..
"Tadi malam saya gak bisa tidur pak. Saya ketakutan.."
"Dari awal kita mendengar suara creeek creeek di luar rumah, saya sudah mulai ketakutan."
"Karena saya tau itu suara apa.., itu suara pocong.."

Cerita awal Wahyu megagetkan..
"Makanya saya langsung ajak pak Heri masuk ke dalam rumah.."
"Yang saya takutkan, kalau pocong itu masuk ke dalam rumah. Dan benar pak, saya mendengar suaranya dari ruang tengah. Untungnya pocong itu gak masuk ke kamar saya.."

"Karena itulah saya gak bisa tidur semalaman pak.."
"Pak Heri mendengar suaranya juga gak semalam?" Tanya Wahyu di ujung cerita.

Om langsung menghela nafas panjang, dan menceritakan kejadian yang om alami pada malam itu, semuanya..

Wahyu hanya diam, dia kaget mendengar cerita om.
Itulah alasannya, kenapa Wahyu hanya tahan satu minggu sewaktu tinggal di rumah itu sendirian pertama kali, dia gak kuat menahan gangguan-gangguan yang menyeramkan.

Setelah hari itu, om dan Wahyu memutuskan untuk tidur bersama dalam satu kamar setiap malam, untuk mengurangi rasa takut.
Teror berakhir? Belum, teror tetap berjalan, dan semakin seram..
Diubah oleh sharma156
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cococrash dan 85 lainnya memberi reputasi
84
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 30 dari 70
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 01:53
Quote:Original Posted By dodolgarut134
demite wakeh men rek...


Hatur nuhun kang @dodolgarut134 cendolna... Meuni seueur emoticon-Salaman
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakangprabu99 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 01:55
Quote:Original Posted By aan1984
Hatur nuhun kang @dodolgarut134 cendolna... Meuni seueur emoticon-Salaman


Sami2 lur... emoticon-Salaman
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 02:40
Quote:Original Posted By dodolgarut134
Sami2 lur... emoticon-Salaman


Linggih dmn kang? emoticon-Salaman
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 02:40
Quote:Original Posted By aan1984
Linggih dmn kang? emoticon-Salaman


Karawang lur..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 05:04
Quote:Original Posted By aan1984
Apaan "tonggone"? emoticon-Bingung


Tetangganya emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 14:32
Quote:Original Posted By eni050885
Cagakke ning ngarepan,,,arep metu adem...emoticon-siul


Pake slimut yu emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 14:38


Quote:Original Posted By aan1984
Emg nte dmn bre?


abdi ti sukabumi kang Aan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 14:41


Quote:Original Posted By onenkyess
Pake slimut yu emoticon-Ngakak


yuuuu.... emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 14:45
Quote:Original Posted By eni050885
Tetangganya emoticon-Big Grin


Maturnuwun sanget kiriman dawet e mba emoticon-Salaman
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 14:53
Mantap jiwa cerita ente gan,, paling suka thread horor ini ama yang rel kereta angker
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 14:53


Quote:Original Posted By dodolgarut134
Karawang lur..


sami ning jawa barat emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 15:41
Quote:Original Posted By ionah
sami ning jawa barat emoticon-Shakehand2


Jabar ya bang?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 15:42


Quote:Original Posted By onenkyess
Jabar ya bang?


yoi nenk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 19:21
Rumah Hantu 
Di Perkebunan Karet Part 12
___________________





Sosok itu berdiri sambil terus menatap dengan sinar mata yang berwarna merah.

Seperti terhipnotis, gw hanya terdiam dengan mata yang gak bisa dipejamkan, benar-benar beberapa puluh detik yang sangat lama.

Jantung berdegup kencang..

Tapi sukurlah, akhirnya gw dapat cepat tersadar dari ketakutan yang teramat sangat itu.

Nyaris menangis, perlahan gw menundukkan kepala dan menenggelamkan wajah ke balik tubuh Om Heri yang masih saja tertidur.

Lalu gw memegang lengan om Heri dan menggoyangkannya pelan-pelan.

Akhirnya Om Heri terbangun,

“Kenapa Brii?, ada apa?”

Gw gak merubah posisi, masih belum berani mengangkat wajah, namun gw arahkan jari telunjuk ke pintu.

“Coba kamu kamu lihat deh, gak ada apa-apa di pintu.” Begitu Om Heri bilang.

Lalu gw mengangkat wajah dan memandang ke arah pintu.

Benar kata Om Heri, gak ada apa-apa di pintu. Dan anehnya lagi, pintu sudah dalam keadaan tertutup rapat.

“Besok aja aku ceritanya om.”

Begitu aku menjawab ketika Om Heri kembali bertanya tentang apa yang baru saja gw lihat.

Setelah itu, Om Heri mengajak gw berbincang, sepertinya dia mencoba mengalihkan perhatian gw, om Heri tahu kalau gw baru saja mengalami kejadian yang cukup membuat ketakutan.

Gak berapa lama kemudian gw terlelap..

Begitulah rangkaian kejadian yang gw alami pada hari pertama di rumah itu.

Baru hari pertama..

***


Hari kedua. Jam setengah tujuh pagi.

“Sreek..srekk..srekk."

Suara sapu lidi membersihkan halaman membangunkan gw dari tidur.

Suara yang sama persis dengan yang gw dengar pada malam sebelumnya, di tempat yang sama pula, halaman samping sebelah jendela.

Tapi kali ini gw berani untuk coba mencari tahu siapakah gerangan yang sedang menyapu menggunakan sapu lidi.

“Eh, Brii udah bangun.”

Om Wahyu menyapa dengan senyum selebar bahu ketika gw sudah membuka jendela kamar lebar-lebar.

Dengan cekatan dia menyapu halaman menggunakan sapu lidi, mengumpulkan daun-daun kering dan sampah lainnya menjadi sebuah gundukan yang sudah cukup tinggi.

Sungguh pemandangan pagi yang sangat indah, embun menyelimuti pepohonan, kicau burung bernyanyi bersahutan, langit cerah dengan sinar mentari yang menyelusup menembus sela-sela pepohonan.

Benar-benar indah..

“Om udah buatkan singkong goreng dan teh manis buat kamu di meja tuh, om mau selesaikan ini dulu ya, sebentar lagi.”

Begitu kata Om Wahyu.

“Iya Om..”

Selanjutnya gw menuju ruang tengah yang sudah ada Om Heri di situ.

Kami menikmati sarapan yang sudah tersedia di atas meja, gak lama kemudian om Wahyu datang bergabung.

“Gimana semalam Brii? Nyenyak tidurnya?” tanya Om Wahyu.

Gw hanya senyum-senyum menjawab pertanyaan itu, belum berani bercerita apa pun. Om Heri juga sama, dia hanya senyum-senyum saja.

Sepertinya Om Wahyu cukup mengerti arti senyum kami, dia langsung mengganti topik pembicaraan.

Selanjutnya perbincangan hanya membahas hal yang menyenangkan, gak ada sedikit pun menyinggung hal-hal menyeramkan.

Gw sangat menikmati mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua om ini, sering kali suara gelak tawa kami mewarnai suasana pagi di hari libur itu.

Oh iya, waktu itu hari libur, gak ada kegiatan perkebunan yang harus mereka lakukan.

"Nanti setelah Dzuhur, kita mancing di sungai belakang ya Brii, ikannya lagi banyak katanya."

Om Heri mengajak gw memancing siang nanti. Gw sih senang-senang aja, kebetulan juga penasaran ingin melihat sungai yang mengalir di bagian belakang rumah yang katanya airnya bersih.

"Iya om." Jawab gw singkat.

Benar-benar suasana pagi yang sangat menyenangkan, mungkin memang karna hari libur, mungkin juga karna kehadiran gw di rumah itu, jadi rame.

***


Jam 12.30

Gw memperhatikan om Wahyu yang sedang menyiapkan peralatan memancing di belakang rumah.

"Sudah lama alat-alat pancing ini gak dipakai, sukurlah Brii datang, jadi terpakai juga semuanya hehe.."

Om Wahyu bilang, sebelum gw datang, dia dan Om Heri sangat jarang pergi memancing, bisa dihitung dengan jari satu tangan, karna memang kalau hari libur mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur dan beristirahat.

Ketika semua sudah siap, kami pun berangkat.

Berjalan menyusuri jalan setapak yang berada di belakang rumah, jalan yang membelah pepohonan bambu yang cukup lebat. Pepohonan bambu ini terlihat sudah tua, batangnya cukup besar dan menjulang tinggi.

Menurut Om Heri, sudah beberapa lama memang tidak turun hujan, makanya banyak daun-daun yang mengering.

Gak berapa lama kemudian kami sudah keluar dari pepohonan bambu.

Lalu, beberapa langkah di depan gw sudah dapat melihat aliran sungai yang membentang dari hulunya di sebelah kanan hingga ke hilir.

"Nah ini sungainya Brii, bagus kan?. Kita naik sedikit ke hulu."

Om Heri menuntun jalan untuk melangkah ke arah hulu sungai, agak menanjak, dengan jalan tanah yang kering, om Wahyu berjalan di belakang gw.

Gak sampai 15 menit kemudian, kami sampai di bagian sungai yang sisinya agak lebar.

Kami berhenti di suatu tempat yang ada berdiri sebuah gubuk terbuka berukuran kecil. Di gubuk itu kami duduk, ternyata di situlah spot memancingnya.

Cukup sejuk tempatnya, pepohonan rindang menghalangi panasnya sinar matahari, bagian sungai yang ada di hadapan pun cukup tenang, arusnya gak deras. Kata om Wahyu, di tempat ini banyak ikannya.

Mulailah kami memancing..

"Semalam kamu melihat apa Brii?"

Om Heri melempar pertanyaan, pertanyaan yang mungkin dia tunggu jawabannya sejak semalam.

Akhirnya, gw menceritakan semua kejadian yang gw alami kemarin, mulai dari sosok misterius yang menggunakan kamar mandi dan meninggalkan puntung rokok, sampai sosok yang mengintip dari sela pintu pada malamnya.

Gw ceritakan semua.

"Hmmm, itulah Brii, sebenarnya om gak mau menceritakan semua, takut kamu ketakutan. Tapi karna sudah terjadi, ya sudah, om jelaskan semuanya."

Kemudian panjang lebar om Heri menceritakan semua pengalaman yang dia dan om Wahyu alami selama tinggal di tempat itu.

Om Wahyu menimpali sesekali, mereka bercerita dari sisi keduanya.

Cerita tentang suara sapu lidi di tengah malam, sosok bayangan hitam, hingga mahluk menyeramkan yang paling gw takuti, pocong.

Sebenarnya mereka bercerita dengan cara yang sangat santai, sesekali diselingi gelak tawa ketika sedang kembali mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami, tapi tetap saja gw cukup terkesima mendengarnya.

Pengalaman yang cukup menyeramkan buat gw.

"Trus kok om Heri dan om Wahyu betah? Knapa gak pindah aja ke kota?"

Tanya gw penasaran.

"Gak lah Brii, kami gak bisa lari dari tanggung jawab. Kami akan tetap tinggal di situ sambil melakukan kewajiban, lagi pula kami yakin Allah akan terus melindungi. Kami memang kadang takut, tapi gak akan menyerah dan melarikan diri, kecuali terpaksa..hahaha."

Panjang lebar om Wahyu menjawab, diakhiri dengan gelak tawa.

Aneh, mereka menceritakan kejadian-kejadian yang sangat menyeramkan dengan cara yang sangat santai, sambil sesekali tertawa cekikikan, akhirnya gw juga ikut cekikikan, apalagi ketika mendengar om Heri cerita ketika om Wahyu sampai menangis sesenggukan saking ketakutannya.

Gw jadi agak santai mendengar mereka bercerita.

"Tapi kamu tenang aja Brii, kalo ada apa-apa lagi kan ada om dan om Wahyu, kita akan menghadapi bertiga." Ucap om Heri menenangkan.

Kesimpulannya, mereka bilang kalau rumah dan perkebunan karet itu memang sangat angker. Tapi ya sudah, mau gimana lagi.

***


Jam lima sore, beberapa ekor ikan dengan bermacam ukuran sudah kami dapatkan, gw sangat menikmati acara memancing itu.

Matahari sudah semakin menghilang dari pandangan. Ketika suasana sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk pulang.

Melewati jalur yang sama dengan ketika datang tadi, kami berjalan menyusuri sisi sungai, lalu memasuki pepohonan bambu untuk kemudian sampai di rumah.

Menjelang maghrib, dengan cekatan om Wahyu menyalakan lampu petromak dan lampu templok di setiap ruangan.

Keadaan rumah yang tadinya temaram menjadi terang benderang, seluruh ruangan gak dibiarkan gelap. Hanya teras depan yang masih gelap, om Wahyu akan membawa lampu templok ke depan apa bila diperlukan.

Oh iya, setelah mengetahui tentang rumah ini dari cerita om Heri dan Om Wahyu, gak bisa dihindari kalau perasaan gw berubah, gak seperti kemarin ketika baru saja sampai.

Menjadi sedikit cemas karna merasa ada mahluk lain yang tinggal di tempat ini, selain kami bertiga.

***


Selepas Isya kami makan malam di ruang tengah, makanan yang terhidang adalah hasil tangkapan memancing seharian tadi, hasil olahan Om Wahyu, cukup lezat ternyata.

Selesai makan kami lanjut berbincang di teras depan.

Ditemani kopi dan teh hangat, kami berbincang seru.

Udara cukup dingin walaupun angin gak bertiup, pepohonan terlihat statis tanpa gerakan.

Cahaya bulan yang muncul malu-malu cukup bisa menerangi kebun karet sejauh cakupan pandang, gak terlalu gelap gulita jadinya.

Gw sangat menikmati suasana itu, ketenangan malam yang hampir gak pernah gw dapatkan di kampung halaman.

Ocehan Om Wahyu yang nyaris tanpa jeda gak merusak suasana, malah semakin menambah ceria keadaan. Ditemani oleh berbatang-batang rokok dan segelas kopi, dia terus bercerita tentang apa pun, gak pernah kehabisan topik bahasan.

Hingga akhirnya, sekitar jam sepuluh, ketika kami masih terlibat percakapan yang cukup seru, hidung gw mencium sesuatu..

Dan gw lihat, Om Wahyu dan Om Heri juga seperti menangkap bau yang sama.

"ini bau apa ya om?" Tanya gw polos.

"Kamu mencium juga Brii?" om Heri malah balik tanya.

Gw mengangguk.

"Ini bau kentang rebus Brii, biarin aja, nanti lama-lama juga hilang."

Begitu kata Om Wahyu menambahkan.

"Emang Om Wahyu sedang merebus kentang di dapur?"

Tanya gw penasaran.

"Gak Brii.." jawab Om Wahyu pendek.

"Trus, ini bau dari mana? Siapa yang merebus kentang?"

Gw masih aja ngeyel, penasaran.

Om wahyu dan om Heri gak menjawab, keduanya diam.

Gw gak menaruh curiga, kemudian kami melanjutkan berbincang ketika lambat laun bau kentang rebus itu menghilang.

Tapi gak lama, sekitar 15 menit kemudian bau kentang itu muncul lagi, kali ini lebih menyengat.

"Yuk kita masuk aja, udah malam."

Tiba-tiba Om Heri mengajak kami masuk ke dalam rumah, gw dan Om Wahyu menuruti omongannya.

Gw merasakan suasana mulai terasa gak enak, gelagat kedua om juga terlihat sedikit aneh, ada yang gak beres..

Om Wahyu membiarkan lampu petromak di ruang tengah dalam keadaan menyala, tapi dia mematikan lampu templok yang ada di ruang belakang.

Kemudian gw dan om Heri masuk ke kamar tengah, setelah om Wahyu membereskan dan membersihkan ruangan bekas kami beraktifitas malam itu.

“Bau kentang itu sumbernya dari mana ya?”

Pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam kepala, pun setelah gw sudah merebahkan tubuh di atas tempat tidur.

Posisi masih tetap sama seperti pada malam pertama, gw berada di sisi tempat tidur yang dekat tembok, sementara Om Heri di sisi sebelah kiri.

“Udah, gak usah dipikirin, kita langsung tidur aja yuk.”

Om heri berkata seperti itu, mungkin karna melihat wajah gw yang menunjukkan masih ada rasa penasaran mengenai peristiwa yang baru aja terjadi.

Karna malam sebelumnya kurang tidur dan siang harinya kami sudah melakukan kegiatan yang melelahkan, pada saat itu gw gak banyak kesulitan untuk memejamkan mata.

Rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat membuat gw langsung terlelap tanpa perjuangan.

Gw tertidur pulas..

***


Hembusan angin dingin menerpa wajah gw secara perlahan, suara semak-semak yang bergerak bergesekan tertiup angin juga terdengar di sekitar.

Gw membuka mata pelan-pelan..

Sinar matahari menyorot tajam ke arah mata, menembus sela-sela pepohonan, cukup menyilaukan.

Siang itu gw sedang terbaring di atas tanah yang ditumbuhi rerumputan gak terlalu lebat, semak-semak belukar juga terlihat di sekitaran pohon karet yeng berbaris.

Iya, ternyata gw sedang berada di tengah-tengah perkebunan karet, gw tersadar setelah sudah dalam posisi duduk.

Sejauh mata memandang hanya ada barisan pohon karet yang berbaris lurus, kanan kiri depan belakang, hanya ada pepohonan karet.

Suasananya sangat sepi dan hening, hanya ada suara pepohonan dan semak belukar yang bergoyang tertiup angin.

Sepi..

Dead silence..

“Ini dimana?”

Pertanyaan itu yang muncul di dalam kepala, karna gw gak mengenali tempat ini.

Gak terlihat ada rumah atau bangunan, gak ada orang juga di sekitar, selain gw yang sedang terduduk sendirian.

Ketika sedang melamun dalam kebingungan, ada sesuatu yang terlihat dari kejauhan.

Ada pergerakan..

Gw langsung berdiri untuk memastikan, apakah itu yang ada di kejauhan.

***

Ternyata ada serombongan orang yang berjalan mendekat, berjalan menembus barisan pepohonan karet yang membentuk lorong panjang.

Mereka berjalan dengan kecepatan sedang, normal.

Semakin lama semakin mendekat, sementara gw tetap diam sambil berdiri gak bergerak sedikit pun.

Ketika sudah semakin dekat, baru terlihat kalau ternyata mereka membawa sesuatu, beberapa orang yang berada di barisan terdepan terlihat memanggul sesuatu.

Gw terhenyak kaget, dan mulai ketakutan ketika sadar kalau ternyata mereka sedang membawa keranda mayat.

Keranda Jenazah itu dipanggul oleh beberapa orang yang berbaris paling depan.

Gw semakin ketakutan ketika mereka terus saja mendekat, berjalan ke arah tempat gw berada.

Hingga pada akhirnya mereka benar-benar berada sangat dekat, berjalan melintas tepat di depan gw, berjalan dari arah kiri menuju ke kanan.

Jarak kami hanya sekitar dua sampai tiga meter.

Gw tetap bergeming, terus diam dan membisu, sambil tak henti menatap memperhatikan pemandangan yang tengah terjadi di hadapan.

Gak sempat menghitung jumlah orang yang berada di rombongan itu, tapi gw perkirakan mereka berjumlah antara 15 sampai 20 orang.

Hampir semuanya berpakaian berwarna hitam gelap, dan hampir semuanya adalah laki-laki.

Gw semakin terperangah terdiam dan mulai merinding ketika melihat ada yang berbeda dari keranda mayat yang sedang mereka bawa.

Ternyata itu bukan keranda mayat seperti keranda pada umumnya, keranda mayat ini terbuat dari batang bambu, terlihat dari batangan bambu panjang yang menjadi pegangan oleh beberapa orang yang memanggulnya.

Dan yang lebih aneh lagi, keranda mayat itu gak ada penutupnya, sehingga jadi terlihat jelas jenazah yang sedang terbaring di atasnya.

Jenazahnya juga berbeda dengan jenazah yang sudah pernah gw lihat sebelumnya, bukan terbalut kafan putih seperti jenazah pada umumnya, tapi berbalut kain berwarna coklat dengan corak hitam, seperti kain batik.

Jenazah itu berukuran manusia pada umumnya, namun gw melihat ada sedikit basah pada bagian kepalanya, gak tau kenapa.

Gw masih berdiri terdiam, namun semakin ketakutan, karna gw yakin kalau ada yang aneh dari orang-orang ini.

Mereka terus berjalan menuju entah ke mana, berjalan seperti gak menghiraukan keberadaan gw yang ada di samping mereka.

Semuanya hanya menatap ke depan, dengan wajah pucat yang tanpa ekspresi sedikit pun.

Oh sebentar, ternyata gw salah, ternyata ada yang memperhatikan gw.

Ada seorang perempuan yang berjalan paling belakang, dia terlihat menatap gw terus menerus.

Setelah persis berada di hadapan, dia berhenti, memalingkan wajahnya ke arah gw, kemudian tersenyum.

Tanpa berkata apa-apa dia menjulurkan tangannya, seperti hendak meraih tangan gw dan mengajak berjalan dan ikut bersama rombongan itu.

Gw gak menyambut tangannya, malah gw mundur beberapa langkah, gw ketakutan.

Kenapa?

Ada apa?

Gw ketakutan, ketika tersadar kalau ada yang aneh dari perempuan itu dan anggota rombongan yang lainnya..

Apa yang aneh?

Setelah gw perhatikan, ternyata kaki mereka gak menyentuh tanah, mereka berjalan melayang sekitar 20cm di atas permukaan tanah.

Mereka berjalan melayang..

Gw semakin mundur menjauh, sementara perempuan itu masih saja berdiri menatap gw sambil tersenyum.

Lalu gw membalikkan badan dan mencoba untuk berlari.

Gak bisa, langkah gw memang berlari tetapi posisi tetap gak bergerak, tubuh sangat berat untuk maju melangkah, gw gak bisa ke mana-mana..

Gw semakin ketakutan, gw panik.

***

“Brii, Brii.., bangun.”

Suara Om Heri membangunkan gw dari tidur.

“Kamu mimpi apa? Kok seperti ketakutan.” Tanya Om Heri.

“Gak Om, nanti aja ceritanya.”

Ah sukurlah, ternyata hanya mimpi.

Mimpi yang cukup membuat gw ketakutan.

Masih jam tiga pagi, namun setelah terbangun gw jadi gak bisa tidur lagi.

***


Pagi harinya sekitar jam setengah tujuh, seperti pagi sebelumnya di atas meja sudah tersedia sarapan pagi, kali ini pisang dan singkong rebus buatan Om wahyu.

Ditemani gelas kopi buat para Om dan teh manis panas buat gw, kami kembali berbincang santai di ruang tengah.

Hari itu rencananya Om Heri dan Om Wahyu kembali bekerja seperti biasanya.

“Kamu nanti mau di rumah aja atau ikut ke perkebunan Brii?"

Tanya Om Heri.

“Ikut aja Om, mau lihat kebun karet.”

Jawab gw dengan alasan yang sedikit dibuat-buat, padahal sebenarnya gw gak berani di rumah sendirian, lebih baik ikut mereka bekerja.

Sekitar satu jam kemudian, satu persatu para pekerja mulai berdatangan.

Akhirnya, seharian itu gw melihat dan memperhatikan Om Heri dan Om Wahyu bekerja bersama para pekerja lainnya.

Gw lebih banyak duduk sendirian sambil memperhatikan dari jauh, duduk di beberapa titik tempat yang sepertinya memang sengaja dibuat untuk beristirahat melepas lelah.


Nah, ketika matahari mulai condong ke barat, kami berpindah tempat ke bagian perkebunan yang lebih jauh lagi dari rumah, bagian ini yang kata Om Wahyu sudah lama gak dibersihkan.

Benar, tempat itu ditumbuhi semak-semak yang cukup tinggi di sela-sela pohon karetnya.

Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian..

Gw tersadar, kalau ternyata gw mengenali tempat ini.

Ternyata tempat ini adalah tempat yang sama dengan tempat yang ada di dalam mimpi semalam.

Iya, tempat dimana gw melihat barisan rombongan membawa keranda mayat.

Walaupun dalam mimpi, tapi gw masih sangat jelas mengingat detail kejadiannya.

Ternyata tempat ini ada, nyata.

Tiba-tiba gw kembali merinding, membayangkan kembali kejadian di dalam mimpi semalam.

“Brii, jangan bengong sendirian gitu.”

Suara Om Wahyu membuyarkan lamunan gw.

“Iya Om..”

Jawab gw singkat.

***


Ketika hari semakin sore dan mulai berangsur gelap, akhirnya kami pulang.

Om Heri dan Om Wahyu dan para pekerja berkumpul terlebih dahulu di halaman
setelah kami sudah sampai di rumah.

Mereka berbincang dan bersenda gurau sambil beristirahat melepas lelah.

Hingga akhirnya satu persatu para pekerja pulang menuju rumahnya masing-masing.

Rumah kembali sepi seperti sediakala, hanya tinggal kami bertiga yang menjadi penghuninya.


“Brii, Om Wahyu ke kota ya, mau ke rumah teman, ada keperluan.”

Selepas maghrib, Om Wahyu pamit sambil mengeluarkan motor, dia bilang akan ke kota karna ada keperluan.

“Pulang malam ini juga atau menginap Om?”

“Kalo gak kemalaman ya pulang malam ini juga Brii, kalo kemalaman om pulang besok pagi.”

Begitulah om Wahyu memberikan penjelasan.

“Hati-hati Yu.” Om Heri mengingatkan.

“Iya Pak.”

Setelahnya, Om Wahyu pergi meninggalkan gw dan Om Heri di rumah, lambat laun suara motornya semakin kecil terdengar, sampai akhirnya benar-benar hilang di kejauhan.

Singkatnya, malam itu gw hanya berdua dengan Om Heri.

Kami berbincang di ruang tengah hingga sekitar jam sepuluh.

Sampai akhirnya Om Heri menyuruh gw untuk tidur duluan, dia bilang gw udah kelihatan mengantuk.

Memang benar apa yang om Heri bilang, saat itu gw sudah benar-benar capek dan mengantuk.

Gw langsung masuk kamar dan ambil posisi tidur, sementara om heri, masih duduk di ruang tengah sambil membaca majalah.

Gak lama dari itu, gw terlelap.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 29 lainnya memberi reputasi
30 0
30
Lihat 1 balasan
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 19:22
LANJUTAN



Gw membuka mata pelan-pelan, kemudian melirik ke arah jam dinding yang menempel di tembok kamar.

Jam satu tengah malam..

Lalu gw menoleh ke kanan, ternyata om Heri tidur di sisi tempat tidur yang dekat tembok, kami bertukar posisi.

Sebelum tidur tadi gw lupa untuk buang air kecil terlebih dahulu, akibatnya tengah malam begini gw gak tahan, kandung kemih terasa sudah sangat penuh.

Om Heri tampak sudah sangat nyenyak, dengkuran halus terdengar dari rongga pernafasannya, gw jadi gak tega untuk membangunkan dan minta ditemani untuk buang air kecil.

Akhirnya, dengan berat hati gw memberanikan diri untuk melangkah ke luar kamar dan menuju kamar mandi.

Ruang tengah masih cukup penerangan karna lampu petromak yang masih menyala malaupun sudah meredup.

Motor masih belum ada, berarti Om Wahyu belum pulang, begitu pikir gw dalam hati.

Kemudian gw melanjutkan langkah ke kamar mandi yang berada di belakang.

Kamar mandi dan dapur letaknya berhadap-hadapan, keduanya dan ruang tengah dibatasi oleh tembok.

Dari ruang tengah harus melewati lubang pintu yang tanpa daun pintu kalau harus ke dapur dan kamar mandi. Paham kan ya?

Dapur yang berada di sebelah kanan dalam keadaan gelap, karna memang selalu dibiarkan seperti itu.

Lalu gw masuk ke kamar mandi yang berada di sebelah kiri. Pintu gw biarkan dalam keadaan terbuka, karna gw sudah mulai sedikit ada rasa takut.

Nah, ketika sudah berada di dalam kamar mandi, hidung gw mencium sesuatu.

Gw mencium bau yang pernah gw cium sebelumnya di rumah itu.

Bau kentang rebus..

Baunya sangat menyengat. Kalau memang ada sumber baunya, gw yakin kalau sumbernya itu berada sangat dekat.

Gak mau ambil pusing, gw lantas langsung buang air kecil.

Tiba-tiba terdengar dari kejauhan suara lolongan panjang anjing hutan.

Gw mulai merinding, lalu bergegas untuk menyelesaikan kegiatan dan kembali ke kamar.

Sementara itu bau kentang semakin kuat tercium..

Selesai dari kamar mandi, ketika melewati depan dapur, gw gak berani melihat ke arah dapur yang gelap itu, perasaan gw mengatakan kalau ada sesuatu, gw yakin.

Gw terus aja berjalan menuju kamar.


“Creeek, creek, Creeeek..”

Gw mendengar suara itu ketika hendak masuk ke dalam kamar.

Suaranya bersumber dari luar rumah, dari halaman depan rumah.

“Creeek, creek, Creeeek..”

Sekali lagi suara itu terdengar.

Gw mulai merinding mendengarnya.

Tapi, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Akhirnya Gw memutuskan untuk mencari tahu ada apa sebenarnya di halaman rumah.

Berjalan mendekat ke jendela, kemudian membuka tirai, membuat celah sedikit untuk mengintip ke luar.

Dari celah sempit itu gw sapu pandangan menyusuri setiap sudut halaman, walaupun gelap namun gw tetap bisa melihat keadaan.

Ternyata gak ada apa-apa, mata gw gak menangkap sesuatu yang mencurigakan, Halaman depan rumah kosong.

Tapi tiba-tiba..

“Creeek, creek, Creeeek..”

Suara itu terdengar lagi,

Gw terkejut, kaget, terperanjat..

Karna ternyata sumber suara bukan dari luar rumah seperti pada saat pertama kali terdengar.

Suara itu terdengar dari dalam rumah !

Sumber suara sepertinya berada di belakang gw yang masih berdiri menghadap ke jendela.

“Creeek, creek, Creeeek..”

Terdengar lagi..

Gw gak berani membalikkan badan dan melihat ke belakang, belum..

Gw ketakutan..

Sampai akhirnya gw gak tahan lagi, pelan-pelan membalikkan badan.

Gw arahkan pandangan ke bagian belakang rumah, tempat suara itu terdengar.

Iya, akhirnya gw melihat sumber suara yang membuat gw penasaran bercampur ketakutan.

Gw diam membisu sambil bersandar pada tembok samping jendela,

Badan gak bisa bergerak, ketika gw melihat jelas ada sosok pocong berdiri di lubang pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur dan kamar mandi.

Pocong itu berdiri tegak dengan balutan kain kafan putih yang sudah terlihat kusam.

Kain yang membalut kepalanya sedikit terbuka pada bagian muka, memperlihatkan raut wajah yang berwarna hitam.

Gw ketakutan, gw menangis pelan.

Melirik ke arah kamar tengah yang pintunya masih dalam keadaan terbuka, gw melihat om Heri masih tertidur pulas di atas tempat tidur.

Ingin sekali berteriak memanggilnya, namun tenggorokan gw tercekat gak bisa mengeluarkan suara.

Gw semakin ketakutan ketika melihat pocong itu mulai bergerak maju secara perlahan, gerakannya seperti melayang.

Maju melayang mendekat ke arah tempat gw berdiri..

Sementara gw tetap gak bisa menggerakkan kaki untuk berlari ke kamar.

Pocong itu semakin mendekat, hingga jarak kami hanya tinggal beberapa meter saja.

Gw menangis ketakutan..

Teringat pesan Ibu dan Bapak, harus selalu berdoa meminta pertolongan kepada Nya kalau menemukan situasi yang menakutkan seperti itu.

Gw membaca doa sebisanya di dalam hati, meminta perlindunganNya.

Tiba-tiba pocong itu berhenti, kemudian bergerak pelan melayang mundur menuju dapur.

Setelah itu menghilang dalam kegelapan ruang belakang.

Tanpa pikir panjang gw langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

“Braaakk..!!”

Suara pintu yang cukup kencang membangunkan om Heri dari tidurnya.

“Ada apa Brii..?”

Napas gw masih tersengal-sengal, belum mampu menjawab pertanyaannya.

Gw hanya terdiam membisu duduk di pojok kamar.

“Om sudah kunci pintunya ya, kamu gak usah takut lagi.

Sepertinya Om Heri sudah mengerti apa yang baru aja gw alami.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 23 lainnya memberi reputasi
24 0
24
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 20:02
teror si poci ya brii.....
Semoga kuat ..emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ionah dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 20:32
Wah brii kasihan liburmu wkwkkk
Klo tu pocong bisa ngomong, mungkin dia ngomong "welcome to jungle boy" emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cocong99 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
09-01-2020 20:34
Balasan post sharma156
Ye klo thawaf enak apalagi ama pasangan 😁

Nah itu lupa baca dimana, biasa baca2 kadang ga nandain
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eni050885 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
09-01-2020 20:36
Balasan post noz.bargan
@noz.bargan mungkin jg gan soalnya lupa pernah baca dimana wkwkkk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eni050885 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
09-01-2020 22:11
pengalaman yg menakjubkan ya brii... 😅😅😅
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ionah dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Halaman 30 dari 70
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rumah-terbengkalai-true-story
Stories from the Heart
si-cantik-dan-si-buruk-rupa
Stories from the Heart
sekamar-kos-dengan-dia
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
relakan-aku
Stories from the Heart
gadis-berambut-merah
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia