Kaskus

Story

MayamukijahAvatar border
TS
Mayamukijah
LINGERI extra part end
Monggo di lanjut meneh moco ceritone. Karena ini part terakhir, Mukijah pakai POV 3 (serba tahu).
-++++-+++
"Bu..." rintih Rani.

"Tenang Nduk, semua sudah lewat, tenanglah," ucap sang Ibu mencium kening putrinya.

"Mas Prapto..."

"Masmu ndak apa-apa, dia cuma kaget, bahkan kata dokter Masmu iku manusia paling kuat," jawab sang Ibu menjelaskan.

Rani tersenyum lega, lalu ia melihat sosok pria yang di kenalnya.

"Pak Anto?" panggil Rani.

Pria bernama Anto itu mendatangi brankar Rani.

"Hai, assalamu'alaikum, apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum.

Rani membalas senyuman itu setelah menjawab salam, lalu ia teringat kejadian tadi malam.

"Pak, kok bisa ada di rumah saya pada waktu yang tepat?" tanya Rani.

Tiba-tiba dokter dan perawat datang menghampiri mereka.

"Assalamu'alaikum selamat pagi, saya dengar pasien sudah siuman, boleh saya periksa?" ucap dokter bertanya.

"Alaikum salam, saya merasa baikan dok, apa bisa pulang?" tanya Rani.

Dokter wanita itu memeriksa Rani dengan teteskopnya. Mencek tekanan darah, lalu mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, saudari bisa pulang," jawab dokter itu ramah.

Lalu dokter dan perawat itu pergi, Rani mulai bangkit perlahan. Tiba-tiba Rani teringat, Bossnya belum menjawab pertanyaannya.

"Bapak belum jawab pertanyaan saya," ujar Rani kembali duduk di brankarnya.

"Begini Ran, dan Ibu Nindi, jika ini bisa di bilang kebetulan, maka sebutlah kebetulan, tapi saya rasa tidak ada kebetulan dalam islam," jawab Anto menjelaskan.

"Saya rasa, Allah telah menggariskan saya untuk menolong kamu," lanjutnya.

"Ceritanya begini..."

------

Malam itu Anto habis uring-uringan, karena merasa kesal dengan orang tuanya, terlebih pada Mama.

Perjodohan, Anto hendak di jodohkan dengan wanita pilihan sang Mama.

Anto keluar rumah dengan membanting pintu. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Dalam mobil Anto meracau tiada henti, ia berniat untuk pergi ke sebuah klub malam untuk menyenangkan diri.

Namun entah mengapa, tiba-tiba ia membelokkan .mobilnya ke jalan ke sebuah perkampungan. Jalan sedikit berbatu, hingga ia memelankan laju mobilnya.

"Tolong!"

Anto terkisap, seketika ia merinding, bagaimana ada suara berteriak di malam-malam begini. Tersadar jika ia lupa menutup kaca mobilnya.

Anto melirik benda melingkar di lengan kirinya. Ia menghentikan mobilnya mengeluarkan kepalanya melewati jendela mobil.

"Baru jam 22.00, tidak mungkin itu hantu," ujarnya pada diri sendiri.

"Tolong! Rampok!"

Anto mendengar teriakan itu lagi, hatinya berdebar.

"Ini benar-benar gawat, harus aku cari siapa yang meminta tolong," ucapnya lagi lalu melajukan mobilnya perlahan sambil sesekali mendengarkan suara teriakan.

"Tolong!" suara teriakan makin jelas.

Sebuah rumah sedang agak sedikit menyempil di belakang, dengan halaman cukup luas. Suasana cukup sepi dan sedikit gelap.

"Tolong! Rampok!" suara berasal dari rumah itu.

Anto langsung turun dari mobilnya, dan berlari perlahan mendekati rumah. Di lihatnya dengan jelas, sosok laki-laki tinggi besar, melawan 3 orang bertopeng sendirian, tangannya sudah terluka.

Anto dapat melihat dengan jelas kejadiannya, karena pintu terbuka lebar.

Ia langsung mengambil ponselnya, teringat salah satu sahabatnya yang bertugas di kepolisian.

Ia melakukan vidio call. Dan langsung di terima oleh kawannya itu.

"Ada apa bro?" tanya kawannya di seberang telepon sambil tertawa.

Namun wajah kawan itu langsung terkejut ketika Anto memperlihatkan kejadian di rumah itu.

"Share lok bro, biar satuan langsung OTW!"

Anto langsung menshare lokasinya melalui aplikasi maps.

"Jangan gegabah Bro, tunggu bantuan datang, atau kamu cari pak RT setempat!" ucap sang kawan.

Anto yang menggunakan headset itu setengah berbisik.

"Gue nggak bisa, ini harus segera di tolong, gue takut nanti..."

"Astaghfirullah, di tusuk perutnya!" pekik Anto pelan.

Namun Anto lebih terkejut lagi, kala ia melihat wanita berhijab biru yang melempar vas bunga ke arah salah satu perampok.

"Rani?"

"Lu kenal ma korban, tujuh menit lagi satuan nyampe Bro, Lu harus tenang!" ujar sang kawan dalam layar kecil.

"Iya Bro, dia salah satu staf akunting diperusahaan gue," jawab Anto berbisik.

Ketika perampok menusuk bahu lelaki di dalam rumah, Anto tak bisa tinggal diam, ia matikan teleponnya dan merangsek masuk ke dalam.

"Berhenti!" teriaknya.

Anto berhasil menghajar salah satu perampok dengan menendangnya hingga terjungkal dan kesakitan, ia melihat salah satunya sudah terkapar dan tak sadarkan diri, setelah di lempar oleh lelaki yang kini tersungkur di lantai.

Tinggal satu perampok bertopeng, kepalanya nampak tengok sana tengok sini.

Lalu dengan cepat perampok itu hendak melarikan diri, dengan sigap Anto menahannya.

Sreet!

"Auuch!" teriak Anto kesakitan

Anto tak melihat kelebatan pisau yang nyaris menikam perutnya. Namun pinggangnya terkena sayatan dan kini berdarah.

"Pak!" teriak Rani yang langsung berlari mendekatinya.

"Bapak tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.

Terdengar kegaduhan di luar, perampok yang melarikan diri berhasil di ringkus. Kemudian para polisi masuk ke dalam rumah, dan menyeret perampok yang terkapar pingsan.

Anto menatap netra indah sang karyawan yang tiba-tiba menggetarkan hatinya.

Anto melihat Ibundanya Rani bergetar dan jatuh bersimpuh di lantai. Wajahnya pucat.

Anto menunjuk ke arah sang Ibu, dan di ikuti oleh mata Rani yang tak berhenti menangis.

Gadis itu berlari menghampiri Ibunya.

"Masmu..."

Rani menoleh ke arah lelaki yang tergeletak di lantai.

"Mas!" teriaknya.

Beberapa petugas wanita menahannya, sebagian menenangkan Ibunya.

Rani pun jatuh pingsan, melihat putrinya tak sadarkan diri, wanita tua itu histeris.

"Tenang, Bu, tenang," ucap salah satu polisi wanita.

Lalu mereka membawa satu keluarga ke rumah sakit terdekat, termasuk Anto.
---
"Begitu ceritanya Ran," jawab Anto sambil menghela nafas.

Di tatapnya wajah cantik di hadapannya, ia ingat tadi Mamanya menangis kala melihat luka di pinggangnya.

Namun ketika sang Mama melihat gadis yang di tolongnya, ia nyaris tak percaya dengan perkataan sang Mama di luar ruangan UGD.

"Masya Allah, Nto, dia itu gadis yang hendak Mama jodohkan denganmu, Mama sering lihat dia di kantor, dan Mama langsung suka."

"Mama mohon, mau ya kamu melamarnya."

"Pak!" panggil gadis itu menyadarkan lamunan Anto.

Anto tersenyum. Lalu menatap wanita tua yang sedikit kelelahan.

"Bagaimana jika putri Ibu Nindi saya lamar untuk di jadikan istri?" pinta Anto dengan suara tegas.

Rani tercenung, mulutnya menganga, begitu juga dengan Ibunya.

"Bapak jangan bercanda," ujar Rani sambil tersenyum hambar.

"Saya tidak bercanda, saya serius!" sergah Anto dengan ekspresi yakin.

Rani dan Ibunya saling memandang.

"Mungkin ini terlalu cepat, baiklah saya akan menunggu jawabnya," ujar Anto berdiri.

"Apa Ibu mau menjenguk Prapto?" tanya Anto kemudian.

Nindi mengangguk lemah, Anto melihat wajah sang Ibu yang masih pucat dan sedikit bergetar.

"Sepertinya kita harus makan dulu," ucap Anto, seperti memberi perintah.

Kedua wanita beda usia itu hanya mengikuti kemana Anto mengajak mereka.
-----
Seminggu setelah kejadian, hari ini di gelar rekontruksi kejadian.

Banyak warga yang menonton kejadian itu, hingga sedikit menyulitkan petugas.

Selesai rekontruksi polisi menjelaskan kepada Prapto yang tengah menahan sakit setelah beradegan di rekontruksi.

"Ketiga pelaku adalah perampok musiman, mereka merampok berawal dari candaan setelah mereka kalah dalam permain judi. Kemudian salah seorang tersangka berinisial JT di duga membuat gulungan kertas di persimpangan jalan itu dan melemparnya secara sembarangan sambil menutup mata. Sedangkan tersangka inisial KT di duga mengintai keadaan sekitar, dan tersangka bernama DT di duga yang mencari kertas yang di lempar. Di duga kertas jatuh tepat di depan halaman rumah korban, sempat sedikit ragu karena bukan rumah mewah, namun karena merasa sudah terlanjur, mereka melaksanakan aksinya." ujar polisi menjelaskan panjang lebar.

Anto hanya tercenung mendengarkan penjelasan polisi yang baru meninggalkan mereka.

Lima menit kemudian sebuah mobil hitam parkir di depan halaman rumah.

Nampak Aslan keluar dari mobil dengan wajah di tekuk, kemudian di susul istrinya Ratna dengan kepala yang tertunduk.

Nindi menatap cemas melihat kedua wajah orang yang mulai mendatangi mereka.

"Assalamu'alaikum," ucapan salam keluar dari bibir Aslan.

"Wa'alaikum salam," jawab mereka bersamaan.

Aslan langsung mendatangi Nindi, mertuanya dan bersimpuh menangis.

"Bu, maafkan saya Bu, saya tidak tahu jika Ibu dalam kesusahan begini," ujarnya pilu.

Nindi membelai kepala menantunya itu. Lalu menatap putrinya yang masih menunduk.

"Sudahlah Nak, semua sudah berlalu, alhamdulillah, kami baik-baik saja," jawab Nindi lembut.

"Kenapa Ibu nggak bilang Bu?" tanya Aslan sambil terisak.

"Tapi saya yakin jika Ibu sudah berusaha memberi kabar, tapi anak Ibu ini..." ucap Aslan terpotong sambil menatap tajam Ratna, istrinya.

"Sudah, jangan begitu, mungkin Ratna memang tidak ingin kamu cemas," ucap Ibu membela.

"Tidak Bu, Ibu salah!" sergah Aslan dengan suara sedikit bernada marah.

"Saya baru tahu, kalau dia sering mengambil beras dari Ibu," lanjutnya lagi.

Ratna makin menunduk, setetes demi setetes air matanya jatuh.

Ninda tak tega melihat air mata sang putri, ia berusaha membela, namun sebuah genganggaman tangan menahannya.

Nindi menatap netra menantunya, ia melihat gelengan samar menandakan agar dia diam.

Nindi menurut, ia tahu jika Aslan ingin memberi istrinya pelajaran.

"Saya juga tahu, jika Ratna mengambil uang dek Rani!" ujarnya lagi, "dan tidak tanggung-tanggung 8 juta rupiah yang dia minta!"

"Katanya bayar cicilan mobil Mas," ucap Rani menimpali.

"Apa? Cicilan mobil?" tanya Aslan dengan suara keras.

Ratna makin menunduk dan mulai menangis dengan suara pelan.

Nindi mulai meneteskan air matanya, namun segera di hapus oleh Aslan. Lagi-lagi, Nindi melihat ekspresi menantunya itu memohon agar ia tak menunjukkan ekspresi apapun.

"Mas membeli mobil itu secara cash dek!" seru Aslan pada Rani.

Rani terdiam, ia tak percaya, mengapa kakak perempuannya membohongi Ibu terlebih kepadanya.

Rani menghela napas dan menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir, kakak perempuannya tega melakukan hal serendah itu.

"Sekarang kembalikan uang dek Rani, Cepat!" teriak Aslan.

Ratna tersentak, wajahnya nampak kebingungan.

"Uangnya... Ha... bis...."

"Keterlaluan kamu Ratna!" ucap Aslan melengking.

"Mas, pelankan suaramu!" tegur Prapto.

"Ada orang lain di sini," lanjutnya.

Aslan tersadar, ada orang lain di ruangan itu.

"Maaf Pak, saya tidak lihat," ujarnya.

Anto tersenyum lalu memberi isyarat dengan kedua tangannya menutup telinga, mengartikan bahwa ia tak mendengar semuanya.

"Sudahlah Mas, aku sudah ikhlas," ucap Rani tulus.

Ratna langsung menghampiri Rani dan memeluknya.

"Maafin Mba dek, maafin Mbak!" ucapnya sambil menangis.

Rani ikut menangis dalam pelukan kakak perempuannya.

"Iya mba, sudah aku maafkan," ucap Rani tulus.

Ratna melepas pelukannya, lalu mendekati Nindi, Ibunya.

"Bu... Huuu..uuu!" isaknya.

Kemudian tubuhnya luruh ke lantai bersimpuh di kaki Ibunya.

"Maafin Ratna Bu, Ratna sudah jadi anak durhaka sama Ibu, hiks!" lanjutnya sambil berurai air mata.

Nindi mengangakat bahu putrinya.

"Sudah Nduk, Ibu sudah maafkan, tapi yang perlu kamu minta maaf sama suamimu, karena kamu telah menodai kepercayaannya," ujar Nindi bijak.

Ratna mendatangi suaminya yang berbalik membelakanginya, air mata laki-laki itu luruh ketika mendengar suara istri yang ia cintai itu memanggilnya.

"Mas..."

Ratna memeluk suaminya, Aslan dari belakang.

"Maafkan aku suamiku," ujarnya membenamkan wajahnya di punggung laki-laki dan menangis keras di situ.

Aslan melepas pelukan istrinya, lalu berbalik dan kini berganti memeluk erat dan mengecup kepala Ratna.

"Jangan seperti itu lagi ya Bun," ujarnya, yang di jawab sebuah anggukan istrinya.

Semua menatap kejadian itu dengan penuh haru, termasuk Anto yang segera menghapus air matanya, ia tak menyangka, jika keluarga pilihan sang Mama tak salah.

"Ehem," dia mendehem hingga mengagetkan semuanya.

Lalu terdengar tawa bahagia, bahkan ketika kedua orang tua Anto yang tak lama kemudian datang menjemput Anto dan langsung melamar Rani.

Rani menerima lamaran Anto dengan wajah merona bahagia. Mereka menentukan tanggal pernikahan mereka di awal bulan.

Satu alasan mereka menjodohkan Anto dengan Rani, karena seri wajah Rani yang lembut dan penyayang.
------
Tak terasa waktu bergulir cepat, hari pernikahan tinggal beberapa jam kedepan. Rani yang sudah di hias cantik dengan gamis berwarna putih di padu dengan khimarh berwarna senada dengan untaian melati.

Rani duduk bersimpuh di hadapan kakak laki-laki nya yang menindak sebagai wali, pengganti Ayahnya yang sudah tiada ketika Rani berusia 13 tahun.

Penuh haru dan uraian air mata, Prapto melepas adik perempuannya yang bungsu untuk menikah.

Lalu Rani menggeser tubuhnya kepada sang Ibu yang duduk dengan mengusap air mata haru.

"Bu, Rani, minta maaf jika selama ini Rani kurang berbakti pada Ibu, dan kini Rani minta keikhlasan Ibu untuk Rani, karena sebentar lagi bakti Rani berpindah 100% pada suami Rani," ucap Rani tergugu terisak.

"Prap, keluarlah, mempelai pria sudah datang," ujar Ratna dari balik pintu.

Pria bertubuh tinggi 190cm dan berat 110kg itu berdiri dan keluar kamar.

Tinggal Nindi yang menangis dan menghapus air mata putrinya.

"Sebagai Ibu, kamu adalah putri Ibu yang paling Ibu sayang, kamu adalah anak yang paling berbakti pada orang tua, jika nanti di padang makshar, yang ingin Ibu temui adalah kamu Nak, agar dengan bangga Ibu menunjukkan mu pada semua jutaan manusia di sana, bahwa kamu anak yang solehah ini adalah anak Ibu... Huuu...uuu!"

Terdengar di luar kamar para saksi dan tamu berteriak.

"Sah!"

Menangislah kedua perempuan yang beda usia itu.

Lalu dengan tubuh bergetar, perempuan tua itu mengamit tangan putrinya untuk keluar dari peraduannya, untuk menemui lelaki yang telah menjadi suaminya.
-----
Anto dan Rani mengantar Nindi, sampai rumah, berbincang sebentar dengan Prapto lalu berpamitan pulang.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah sendiri, Rani terngiang kata-kata Ibunya sebelum pernikahan.

Kala itu, Ratna menginap dan anak-anak serta suaminya sudah terlelap karena kelelahan bermain.

Rani mendatangi sang Ibu yang duduk di ruang tamu sambil mengelus sebuah bingkai foto.

"Bu," panggil Rani lalu menyender manja pada tubuh sang Ibu.

Rani menatap foto almarhum Ayahnya, kemudian ikut mengusap wajah yang sangat ia rindukan.

Tak lama, Ratna dan Prapto datang ikut duduk bersama. Prapto duduk di sebelah Nindi dan Ratna di sebelah Rani.

Mereka memandangi foto ayah mereka, dan ikut mengusapnya.

"Bu, kenapa Ibu tak memarahi kami?" tanya Ratna dengan suara pelan.

"Iya, bahkan Ibu bisa mengutuk kami," ucap Prapto menimpali.

Nindi tersenyum mendengar pertanyaan kedua anaknya.

"Seorang Ibu, tak kan sanggup mendo'akan keburukan untuk anak-anaknya, walau ia tersakiti karenanya," jawab Nindi.

"Senjata Ibu hanya doa, Ibu selalu berdo'a agar kalian di bukakan hatinya oleh Allah, bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati," jelas Nindi lagi, "maka Ibu meminta pada Allah agar membalikkan hati kalian pada kebenaran dan jalan Allah."

"Alhamdulillah, Allah dengan cepat mengabulkan do'a Ibu, walau Ibu harus mengorbankan hati anak Ibu yang satunya," lanjutnya.

Rani tercenung tak mengerti, begitu juga dengan kedua kakaknya.

"Ibu sengaja memaksa Rani untuk selalu mengalah, dan tidak membenci kalian, walau Ibu tahu, Rani sangat ingin melakukannya."

"Tapi, jika Ibu tak lakukan itu, apa jadinya keluarga ini?" tanya Nindi dengan suara bergetar.

"Dan bagaimana jika Ibu mati? Siapa yang akan perduli dan mengurusi Ibu?"

Prapto dan Ratna menghela napas panjang, mereka tersadar akan kesalahan yang hampir menghancurkan segalanya.

"Melihat kalian akur seperti ini, Ibu akan bisa pergi dengan tenang," ujar Nindi yang di sela penyesalan anak-anaknya.

"Sayang, sudah sampai," sebuah suara mengagetkan Rani.

Anto membukakan pintu untuk istrinya, dengan senyum dan rona wajah, Rani mengamit tangan Anto, suaminya dan mengikuti langkah hingga masuk rumah.

Di dalam kamar, Rani merebahkan tubuhnya. Sekedar meluruskan pinggang setelah membereskan pakaiannya.

Anto merebahkan tubuhnya di samping Rani, kemudian berbalik dan memeluknya.

Rani terkejut bukan main, kemudian ia terpekik ketika tangan kekar itu menarik tubuh kecil itu hingga berhadapan dengan suaminya.

Netra Rani mengerjap, menatap mata kelam di hadapannya.

"Sayang, kamu nanti pakai lingeri yang satunya lagi ya?" pinta Anto mesra.

Wajah Rani merona menahan malu, dalam hati ia bertanya bagaimana sang suami bisa tahu kalau dulu ia membeli....

"Ah, Ibu..." ujarnya dalam hati.

Kepalanya mengangguk menyanggupi permintaan Anto, memakai lingerinya yang berwarna gold, nanti malam.

"Sekarang aja, pakainya...!" sergah Anto seraya membaca pikirannya lalu mengajak Rani bangkit dari ranjang.

Perlahan Rani keluar, dan kini tak lagi menutupi tubuhnya yang terbuka sempurna. Anto menatapnya dengan seksama, lalu...

Ckedipapap bumbum... Syaalalalaa...

T a m a t.

Rani's quote.

"Ada segumpal daging yang lebih kuat dari karang, yang bisa terkikis oleh hempasan ombak, bahkan lebih kuat dari baja yang bisa lebur karena api panas. Dan segumpal daging itu adalah hati seorang Ibu."
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
jiyanqAvatar border
jiyanq dan 4 lainnya memberi reputasi
5
820
3
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Heart to Heart
Heart to Heart
KASKUS Official
23.3KThread41.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.