Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
616
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd27c6b018e0d6489170ace/rekan-kerja
Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan dibelakangnya sambil mengomel tiada henti. Yaaa, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali.....
Lapor Hansip
18-11-2019 18:11

Rekan Kerja

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Rekan kerja

Prolog

Pesan terakhir almarhum Ayah Dani kepada mantan rekan kerjanya, membuat Dani keterima kerja di sebuah perusahaan benefit dengan cuma-cuma. Namun, ada suatu kesalah pahaman yang membuat ia selalu bersitegang dengan Rian, rekan kerjanya satu bagian. Setiap hari selalu saja ada masalah di kantor. Tak hanya itu, ia juga terjebak dalam hubungan rumit bersama teman semasa kuliahnya. Sementara di lain sisi, ia tak sengaja menaruh hati dengan calon tunangan Rian. Akankah Dani mampu melewati semua godaan itu?

Rekan Kerja adalah sebuah cerita (nyata) yang menceritakan perjuangan seorang anak muda bernama Dani (nama disamarkan). Sosok pendiam, penyabar, tapi kepeduliannya sangat tinggi. Ia merasa bahwa dirinya adalah pengaruh utama yang bertanggung jawab atas keluarganya. Segala hiruk-pikuk kehidupan dan masalah yang terjadi di sekitarnya tak luput selalu menjadi beban pikiran, tapi ia selalu tegar bagaimanapun keadaannya, karena ia merasa harapan dan kebaikan selalu ada di setiap jalan.

Cerita ini sangat menarik dan kupastikan kalian akan selalu terbawa untuk mengikutinya, karena jalan ceritanya lain daripada yang lain. Yuk, cekidot!


INDEKS


Sekuel 'Rekan Kerja'


(Part 1)

Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan di belakangnya sambil mengomel tiada henti. Ya, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali ....

Tiba-tiba, dari dalam rumah ibu berseru memanggilku dengan terburu-buru. Di tangannya tergenggam sebuah ponsel milik ayah.

"Dan, Dani ... ayo diangkat cepat! Atasan ayah telpon."

Atasan? Bukannya ayah sudah pensiun setahun yang lalu. Kira-kira ada urusan apa?

"Angkat aja lah, Bu ... mungkin mau ngucapin bela sungkawa. Kan, baru sebulan ayah meninggal," tukasku.

"Ayolaaahh, angkat! Ibu takut gak bisa ngomong."

Akhirnya, dengan gugup kucoba mengangkat telpon darinya.
"Hallo!" seruku.

Kami mengobrol sepuluh menitan.

Intinya, Pak Dika memintaku datang ke kantor besok. Aku bingung dan heran, ada apa aku disuruh ke kantor?
Karena paksaan dari ibu, akhirnya aku memutuskan menemuinya keesokan hari.

****

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor, menuju bilik ruangan paling pojok. Aku hafal betul ruangan ini, karena sudah pernah magang jaman kuliah dulu. Ayahku yang dulu memintaku magang di tempat ini. Dia berharap aku bisa meneruskan bekerja di sini sepertinya, di salah satu pabrik benefit yang ada di kota kami. Alasannya, selain dekat dengan rumah, gaji pun sudah jelas jika karyawan. Selain itu pabrik ini memang memberi fasilitas tunjangan cukup menarik.

Ketika mau memasuki ruangan Pak Dika, sontak mataku tertuju pada tembok di sebelahku. Terlihat foto almarhum ayah terpampang jelas pada bingkai ukuran 10Rs itu. Dibawah bingkai foto itu bertuliskan "SUJIWO-Supervisor Gd.PM 09"
Wajah ayahku paling terlihat khas dengan kumis tebalnya, berjajar dengan beberapa puluh foto di sampingnya.

Ada rasa heran menyeruak dalam benak. Ayah bukan lagi supervisor di pabrik ini, kenapa fotonya masih saja dipasang? Bahkan foto teman-teman yang lainnya sudah berganti dengan posisi SPV yang baru.

Belum lama aku memandangi foto almarhum ayah, Pak Dika sudah menegurku dari dalam ruangannya. "Hei kamu yang di depan pintu! Kenapa terus berdiri disitu?"

Seketika aku langsung berbalik menghadap ke pintu semi-transparan itu. Mengetuk kecil pintu ruangannya, kemudian melangkahkan kaki pelan masuk ke dalam.

"Oohh, kamu ... yang saya telpon kemarin, ya? Anak Pak Sujiwo?" Pak Dika beranjak dari kursinya menyambutku.

Kusalami tangan Pak Dika seraya memperkenalkan diri, "saya Dani, Pak."

"Ya,ya, ayo duduk!"

Mendengar itu, aku pun mengambil duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.

"Heeeemm, kamu anak Pak Sujiwo?" tanyanya lagi dengan raut wajah seperti tak percaya.

"Ya, Pak. Benar." Kujawab tegas pertanyaan Pak Dika dengan seulas senyum. Lelaki itu kemudian manggut-manggut menatapku. "Kamu yang baru wisuda bulan kemarin itu, kan? Yang besoknya ayah kamu meninggal?"

"Ya, Pak. Benar."

"Hem, yaaa, yaaa ...." Pak Dika beranjak lagi dari tempat duduknya, mengambil sebuah buku bersampul hitam tebal dari rak di belakangnya. Dia buka halaman pertama, lalu menyodorkannya padaku.

"Itu kenangan foto-foto ayah kamu semenjak bekerja di sini, banyak. Saya merasa baru kemarin ayah kamu pamit berhenti kerja, kok tahu-tahu sudah meninggal. Kena apa?" tanya Pak Dika sembari lebih mendekatkan wajahnya padaku.

"Saya kurang tahu, Pak. Ayah saat itu sedang melayani pembeli di toko. Saya tak tahu persis kejadian ayah saya jatuh di dalam toko itu, tahu-tahu ketika saya masuk, saya sudah menemukan ayah saya jatuh sekarat."

"Lho? Memang ada riwayat penyakit apa? Jangan-jangan jantung?"

"Kemungkinan vertigonya kambuh, Pak. Kami sekeluarga telat menolong. Tapi, entahlah ... sebelumnya pernah mengeluh sama tetangga, jika dadanya nyeri. Banyak juga yang bilang jantung, karena jatuhnya menelungkup."

Pak Dika kembali manggut-manggut. Dia bersidekap sembari menyandarkan punggungnya di kursi duduknya.

"Mengagetkan sekali tentunya, ya. Ya sudah, saya sedikit mau cerita. Jadi, begini ... seminggu sebelum ayahmu wafat, dia telepon saya. Dia bilang kamu mau wisuda, lalu dia titipkan kamu pada saya." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, sambil memungut album di depannya, lalu membuka-bukanya.

".... sebenarnya saya tak bisa asal nerima karyawan seperti ini. Tapi, karena ini amanah terakhir beliau, dan saya yakin, kamu menuruni sifat tegas seperti bapak kamu. Jadi ... kamu besok kesini ya, berpakaian rapi. Seragam ayah kamu masih ada, kan? Dipakai saja!"

"Lho, Pak? Maksudnya ... saya bekerja di sini?" Mataku membelalak seolah tak percaya dengan berita yang barusan kudengar.

"Iya. Kamu besok mulai kerja. Sudah, belakangan saja lamarannya kalau kamu tak sempat, yang penting kamu masuk dulu."

Sontak kedua netra berbinar kala mendengar perkataan itu. Ini benar-benar kejutan di pagi hari.
Tanpa banyak pertimbangan, keesokannya aku pun masuk jam delapan pagi berseragam lengkap sesuai yang diminta.

Sungguh keberuntungan bagiku. Disaat semua berlomba-lomba mengikuti tes agar bisa masuk di perusahaan benefit ini, aku malah dengan mudahnya bisa langsung bergabung sebagai karyawan. Aku ingat pesan ibuku, agar selalu bisa bekerja dengan baik, berteman dengan semua karyawan dengan baik, menunjukkan kinerja yang baik, dan bisa menjaga tata tertib perusahaan dengan baik. Aku tahu, semua ini karena almarhum ayah. Kalau bukan karena ayah, tak mungkin aku bisa segampang ini masuk perusahaan.

Di saat briefing, Pak Dika mulai mengenalkanku pada beberapa karyawan yang lain. Kemudian aku ditunjuknya sebagai admin, dan di training oleh salah seorang admin lawas bernama Rian.

Rian ....
Ya, aku mengenalnya. Dia kebetulan juga tetangga desa. Umurnya selisih dua tahun di atasku. Ayahnya pun bekerja di perusahaan ini, namanya Pak Heri. Pak Heri dulu juga teman satu bagian almarhum ayah. Dia juga seorang Supervisor.

Kuikuti langkah santai Rian menuju sebuah ruangan. Dia menyuruhku masuk lebih dulu.

"Ruangan ini khusus admin. Nah, adminnya kita berdua. Itu tempatmu!" Rian menunjuk sebuah meja di paling belakang.

"Terima kasih," ucapku.

"Jangan duduk di sana dulu! ambil saja kursinya, bawa kemari! Lihat caraku bekerja di sini, kalau sudah paham, baru kerjakan di mejamu," tukasnya.

Tanpa menjawab, segera kuambil kursi duduk di meja belakang, dan meletakkannya di samping kursinya.

Rian mulai mengoperasikan komputer, seraya menunjukkan berkas-berkas di mejanya.

"Ini berkas sebelum di-input, kamu ambili dulu dari beberapa gudang yang kamu pegang. Kamu bawa motor yang disediakan, jangan lupa pake helm keselamatan warna kuning yang ada di luar itu!" Ia menunjukkan sebuah helm yang seperti helm pekerja proyekan.

"Cara nginputnya gini ...." Ia lalu mulai mencontohkan cara bekerja dengan secarik kertas yang dipegangnya, dan aku tentu mengamati setiap penuturan Rian dari awal sampai akhir.

"Sudah, kamu kerjakan berkasku dulu. Kan, belum dibagi sama Pak Dika, kamu megang gudang mana saja" ucapnya lagi sembari menyodorkan setumpuk berkas setebal kira-kira seratus halaman lebih itu ke tanganku. Lalu dia beranjak dari duduknya seraya berucap, "Aku tinggal dulu."

"Lho, Mas? Ini harus selesai hari ini?"

"Nggak harus. Kalau kamu sanggup ya lebih bagus, sih."

Seusai berkata begitu, Rian pergi berlalu dari ruangan.

Kupandang tumpukan berkas di tanganku kali ini. Sebanyak ini mana mungkin selesai dalam satu hari? Namun, kuoptimiskan diriku sendiri bahwa 'AKU BISA!' Akhirnya kupungut secarik kertas hadapan, dan mulai mengerjakan tugas.

-----

Jam istirahat ....

"Siang, Mas!"
Suara seorang lelaki tua paruh baya menegurku dari belakang. Ia mengambil duduk di sebelahku sambil meletakkan bekal makannya yang terbungkus kertas minyak itu.

"Podo mbontote, Mas. Enak masakane bojo (sama bawa bekalnya, Mas. Enak masakan istri)," Lelaki itu terkekeh padaku seraya membuka bekal yang dibawanya.

"Ya, Pak. Lebih hemat juga," balasku.

"Ngomong-ngomong, sampean anak Pak Wo, ya?"

"Pak Sujiwo."

"Lah, nggih.... Itu maksud saya. Orang di gudang semua manggilnya pak Wo,Mas. Eh, tapi wajahnya kok beda, ya?"

Aku tertawa lucu mendengar ucapan bapak itu. Memang, wajahku tirus,sama seperti ibu. Hidungku juga mancung. Kalau ayah berhidung pesek, wajahnya persegi, menurun ke kakak perempuanku.

Lelaki paruh baya itu lalu menceritakan tentang sosok ayah yang disegani para anak buahnya. Caranya bekerja, yang tak disukainya apa, dan banyak lagi yang lainnya. Sepertinya peran ayahku penting bagi yang lain, sehingga mereka semua merasa kaget dan sangat kehilangan saat mendengar ayah meninggal.

Tiba-tiba, bapak paruh baya ini menghentikan ceritanya saat seorang lelaki kebetulan melintas di depan kami.

"Itu tuh, si Bambang. Bocah ndablek! Banyak banget bikin kesalahan, tapi dibelain terus sama Pak Wo. Semua anak segudang gak ada yang suka, banyak mengeluh karenanya, tapi pak Wo selalu membelanya."

Aku terdiam sejenak memandang pria berwajah tirus dengan banyak jambang tak beraturan di wajahnya. Kali ini, akhirnya kulihat sendiri pria bernama Bambang itu. Ya, dulu aku sering mendengar namanya dari ayah. Di mata ayah, Bambang sebenarnya pekerja keras. Hanya saja hutangnya banyak di luar sana, yang kemudian membuatnya malas bekerja. Dia hampir di PHK, tapi ayah terus membelanya.

"Begitulah, Nak, kalau salah langkah sedikit. Semuanya hancur. Hutangnya banyak, rumah tangga berantakan, kerja seperti apapun tetap saja terasa malas nggak ada semangat. Karena apa? Karena dia merasa gajinya selalu kurang untuk menutup hutang. Makanya, ayah peringatkan kamu sebagai laki-laki, jangan sekali-kali mengenal judi, narkoba, ataupun bermain-main perempuan!" Aku ingat betul nasehat ayah saat itu.

Kulihat ID card yang tergantung di leher bapak sebelahku itu. Membaca namanya. Syaiful.

"Saya tadi lihat anaknya Pak Heri asyik merokok, Mas." Pak Syaiful menghentikan bicaranya, melempar kertas minyak pembungkus bekalnya tepat ke lubang kotak sampah.

"Ealah, Mas ... yang sabar satu bagian sama Mas Rian. Mentang-mentang anaknya Pak Heri, kerja sak enak'e dewe (kerja seenaknya saja)," ungkapnya lagi.

Hmmmmm ... seperti itukah? Aku tak seberapa akrab mengenalnya di rumah. Namun, kebanyakan temanku memang berkata dia anak yang sombong. Karena merasa anak orang kaya, bicaranya terlalu tinggi.
Ah, kalau cuma masalah gaya bicara, aku tak terlalu mempedulikan. Itu sudah karakter, dan aku tak selalu mengambil hati setiap perkataan orang yang terasa aneh.

Sorenya, aku pulang dengan badan yang begitu lunglai. Hari pertamaku bekerja sungguh capek luar biasa. Tak hanya duduk di depan monitor, tapi juga pergi ke sana- ke mari mengambil berkas dari satu gudang ke gudang yang lain, yang tak cukup sekali jalan. Terkadang ikut memeriksa truk besar masuk menurunkan barang mentah, memeriksa kode barcode, dan lain-lain. Sebenarnya tugasku tak serumit ini, tapi Rian berkata, Pak Dika yang memintaku seperti itu. Sekalian menghafal lokasi gudang A,B,C bagianku. Serta agar mengetahui proses keluar-masuknya barang.

Malam ini kuistirahatkan total badan, setelah ibu dan kakak menginterogasiku di hari pertama masuk kerja. Tak pakai mandi,tak pakai ganti seragam, langsung kupejamkan mataku kala itu juga ....

****

Pukul 08.30 WIB

Tak terasa sudah sebulan aku bekerja di perusahaan ini. Begitu senangnya saat aku menerima gaji pertamaku kemarin.
Kupastikan pertama kalinya aku pegang uang sebanyak itu.

Selesai menata berkas,kuhidupkan tombol On/Off komputer di hadapan. Sembari menunggu, kuambil dompet dari saku celana, mengeluarkan secarik foto. Yups, foto terakhirku bersama ayah saat aku wisuda. Di foto itu ada pula ibu, kakak perempuanku dan kedua anaknya.

Aku tersenyum memandang mereka dalam foto. Lalu, kuselipkan foto itu di meja kerjaku yang bertumpuk dengan kaca tebal. Wajah kedua orangtua terlihat tersenyum di foto itu, seolah bahagia. Kemudian, kualihkan pandangan kembali pada monitor. Sejenak, memilah-milah berkas di atas meja. Menyendirikan berkas yang sudah kuinput dan yang baru kuterima.

Tak lama Rian masuk ke ruangan. Matanya masih awas menatap gawai digenggamannya. "Gimana? Sudah kau kerjakan sampai mana?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun.

"Yang kemarin hampir selesai, Mas. Ini aku juga mau ngerjain yang baru kuambil."

Lelaki berkulit putih itu lalu berjalan ke arahku, menarik posisi monitor menghadap kepadanya.

"Ini tanggalnya rubah saja! Pakai tanggal kemarin." Ia mulai menggerakkan mouse. Mengganti angka 14 menjadi 12 di kolom yang menunjukkan tanggal.

"Emang gak apa, Mas, kalo nggak sama dengan yang di form?"

"Siapa yang mau lihat berkas segitu banyaknya? Yang pasti dilihat itu langsung di komputer," jawabnya enteng. Aku bergeming mendengar itu.

Rian pun kembali ke meja kerjanya, sambil menyalakan rokok. "Sudah, cepat kerjakan!" titahnya.

Memandang sekilas, membuat perasaanku sedikit gemas karenanya. Sedari awal aku bekerja, ia hanya menyerahkan berkas-berkasnya padaku. Yang dilakukannya hanya menatap gawai, main game online berjam-jam, dan berkas yang di mejanya hanyalah kamuflase untuk mengelabuhi Pak Dika atau Pak Heri yang muncul tiba-tiba. Jika pekerjaanku sudah selesai, baru dia tukarkan berkasnya itu dengan milikku. Aku merasa dia menjadikanku sebagai budak!

Ah, sudahlah! Aku ingat omongan kakakku, bahwa yang namanya kerja pertama kali, tentu wajib disuruh-suruh. Apalagi disuruh yang mentraining kita. Ini hanyalah sementara. Ini tak akan lama ....

"Gimana, Mas ... kerja satu bagian sama Mas Rian?" tanya Pak Syaiful padaku.

Beginilah, setiap jam istirahat Pak Syaiful selalu mendekatiku, bertanya-tanya.

Aku tersenyum dan berkata, "Biasa saja, Pak."

"Sing betah, Mas. (yang betah, Mas). Dia memang suka mentang-mentang karena ada bapaknya disitu."

"Nggih, Pak."

Kami tak lagi bercerita. Fokus melahap makanan masing-masing.

Seusai makan dan minum, aku langsung balik ke ruanganku.

Ketika kaki melangkah hendak memasuki ruangan, betapa kagetnya kedua netra saat menemui Pak Dika sudah berada di sana dengan raut wajah seperti kesal.

"Siang, Pak." Aku menyapanya sembari tersenyum.

"Sini, Mas!" Pak Dika melambaikan tangan padaku, yang akhirnya membuatku menghampirinya.

"Mas, kalau kerja itu yang jujur! Kalau di form ini bertanggal sekian, ngetiknya juga tanggal sekian. Tolong, ya ... ini sama saja melimpahkan kesalahan pada orang gudang. Saya dari kemarin marah-marah, lho, sama supervisornya. Saya pikir mereka yang lelet, ternyata samean yang gak bisa kerja dengan benar!"

"...." Aku tak bisa berkata.

"Kerja pertama-kedua, nginput molor gak masalah bagi saya, Mas. Ini kan udah sebulan, ya? Coba kontrol diri sendiri, Mas. Misal berkasnya ada seratus lembar, paling tidak selesai dua hari. Samean, kan, kerja berdua, Mas ... masa' satu orang pegang tujuh gudang saja, kerja sampai lima-enam hari?"

Aku menunduk. Bingung. Bagaimana bisa aku menjelaskan kalau selama ini yang bekerja hanyalah aku. Sementara Rian sibuk dengan HP-nya.

"Mas Rian training samean bagaimana, Mas? Apa memang tanggalnya disuruh ngerubah? Masalahnya, baru kali ini, lho, tanggal bisa salah."

Tiba-tiba, omongan Pak Dika membuatku tersentak. Baru mau membuka mulut, Rian datang membuka pintu. Matanya masih awas dengan ponsel di tangan, sehingga ia tak mengetahui ada Pak Dika di depannya.

"Mas Rian!" Tampaknya suara dari Pak Dika membuatnya kaget luar biasa. Rian segera menyaku HPnya dan menghampiri.

"Saya curiga dari awal, sudah saya duga kalau Mas Dani ini bekerja sendirian ...." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, beranjak dari kursi dan menghadapkan posisi berdirinya di antara kami.

"Kalau Mas Dani tak bekerja sendiri, mana mungkin dia bisa lelet seperti ini! Telat kirim form, mana dia sampai mengganti tanggal di komputernya. Ckckck ...." Pak Dika menggeleng-gelengkan kepala menatapnya.

Keringatku mulai bercucuran dingin. Sekilas kutatap Rian memicing sinis padaku.

"Bagaimanapun, kau yang salah! Mentraining bukan berarti melimpahkan kerjaanmu padanya. Bukankah sudah saya bagi, kamu pegang gudang mana saja? Kerjaan itu dikerjakan Mas Dani sendiri, jelas saja dia tak sanggup!" Suara Pak Dika mulai meninggi.

"Ayo, kamu ke ruangan saya! Saya panggil Pak Heri juga!"
Seusai berkata begitu, Pak Dika pun berlalu.

Wajah Rian mulai memerah. Ia menatapku awas, dengan napas yang memburu kesal.

"Awas kau!" Ancamnya kemudian.

Dia lalu pergi meninggalkan ruangan.

Kini tinggal aku sendiri di dalam ruangan. Kutelan ludah pahit, seiring dengan rasa cemas yang menggebu.
Wah, rasa-rasanya bakal meledak ini ....

(bersambung)
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 18 dari 31
Rekan kerja
05-12-2019 01:19
Masio koyo'ne keluargamu sak nggunung, aku gak sudi!

Wakakkaak suwe gak krungu wong ngomong ngene... ternyata sik tonggo dewe nang Darjo emoticon-Big Grin


Sebetulnya udah dikasih banyak clue sama TS tentang wajah Feri yg keoriental2an & ganteng... ternyata betul kata hati ane... dia yg bakal bikin antiklimaks
Diubah oleh shafanya
profile-picture
profile-picture
awanpeteng dan shirazy02 memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
05-12-2019 01:21
Dopost
Diubah oleh shafanya
0 0
0
Rekan kerja
05-12-2019 03:31

Rekan Kerja (part 20)

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh, karena hati telah letih

Tak henti bibir ini bersenandung menyanyikan lagu Dealova by Once, lagu yang dulu paling sering diputar Sefti di ruang kerjanya. Tak sekali, bahkan berkali-kali. Sepertinya sengaja MP3-nya diatur 'mode berulang'. Sampai aku hafal betul bagaimana liriknya, padahal sama sekali tak menyukai lagu pop.

'Aku suka lagu mellow'

Sepintas teringat ucapannya waktu itu di ruang kerjanya. Hanya kami berdua yang ada.
Cara dia berkata, cara dia tersenyum, dan lirikan mata sayunya ... ah, semua itu masih teringat jelas. Sungguh manis. Mungkin lagu ini yang bisa mewakili perasaan rinduku sekarang, lagu yang baru kutemukan judulnya saat bertanya dengan Mbak Diah.

Ya, Tuhan ... sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku begitu sakit hati saat menyadari ia menjauhiku? Jangan menakdirkan aku jatuh cinta dengan jodoh orang, Tuhan ... ini pasti akan menyulitkan sekali.

Penasaran, kucoba tilik profil pict-nya di kontak WhatsApp. Tak nampak lagi fotonya. Kosong! Mungkinkah ia memblokirku? Ataukah, ia hanya menghapus kontakku?

Ini kali keduanya aku dibuat bingung oleh perempuan. Jadi teringat kembali dengan Adel yang juga berlaku sedemikian.
Tapi, kali ini beda dengan Sefti!
Aku khawatir, cemas, penasaran,
dan ... aku benar-benar sangat rindu!

Kupejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Tiba-tiba, terbayang sosok Sefti di kepala, membuat pikiranku spontan teringat lagi tentang kejadian di kantor kemarin.

Feri ternyata salah satu cicit dari pemilik pabrik. Aku bahkan tak menyadari bahwa wajahnya hampir mirip. Memang kebanyakan orang kantor berdarah Tionghoa, itulah yang membuatku sama sekali tak menduga siapa dirinya.
Pantas, Intan kemarin jaim sekali saat Feri memasuki ruangannya. Sepertinya ia sudah tahu siapa sebenarnya lelaki itu. Terbukti kala ia memanggil 'Pak' padanya manakala Feri masuk ke ruang kerjanya.

Seperti yang ia ceritakan kemarin saat memanggilku bersama Rian dan Pak Heri, ternyata tak seminggu ini kemunculan Feri di pabrik, malah sudah enam bulan lamanya. Ia sengaja masuk dan mengambil alih beberapa bagian sebagai pegawai baru. Hanya dua-tiga orang yang tahu penyamarannya setiap berganti tempat.

"Saya harus masuk di lingkungan kerja Rian-Dani, mengingat banyaknya pendapat dari 90% karyawan kantor, kalian berdua terkenal sering sekali beradu argumen. Apa lagi ada embel-embelnya karena satu perempuan yang sama bekerjanya satu kantor. Setelah saya pikirkan, lebih baik saya undurkan dia dari perusahaan. Mengingat dia bekerja dalam tenggang waktu dua tahun lebih, dan sudah mendalami ilmu dengan baik, saya rasa sertifikat dari perusahaan cukup bisa mengantongi namanya untuk mendapatkan pekerjaan di tempat lain yang ia pilih. Pada intinya, agar tak mengganggu kinerja dua orang yang saling berhubungan."

Omongan lugas Feri masih hafal jelas dipikiran. Apalagi ketika ia menasehati Pak Heri dan Rian. Tak ada marah, tak ada nada tinggi. Aku sangat kagum sekali cara bertuturnya. Padahal usianya sepertinya di bawahku, tapi tak tahu lagi jika wajahnya saja yang terlihat muda. Yang pasti aku suka caranya menyampaikan dan menata omongan, begitu terkontrol dan tak sampai menyakiti orang lain.

Mungkin saat Sefti keluar dari pabrik, ia bisa mengembangkan senyumnya. Kurasa ia sama sekali tak bersedih jika mendengar ucap santun dari Feri.

Eh, apa sekarang kupanggil 'Pak' saja, ya?

Sebenarnya sangat malu untukku kembali menerima tawaran bekerja di tempat yang sama. Sudah berpamitan di depan banyak orang pula. Kalau tak memikirkan nasib para keponakan, mana mungkin aku sanggup bersantai-santai menganggur.
Iya kalau keluar kerja, langsung dapat pekerjaan gantinya. Nah, kalau dapatnya lama, bagaimana?

"Kau dengar apa yang barusan kukatakan, Dan?"

"Lho?" aku tersentak, ketika mendapati Mbak Diah sudah berdiri di ambang pintu kamar, menatapku seolah sedang menunggu.

"Ada apa?" Aku balik bertanya padanya, sembari beranjak dari atas kasur, tak lupa mematikan music di HP.

Mbak Diah diam sejenak, menoleh ke kanan-kiri, lalu masuk ke dalam kamarku sambil menempelkan jari telunjuknya ke tengah bibirnya. "Ssstttt! Nanti ibu tahu!"

Ia bersandar di tembok, menghadapku.

"Aku dengar, kau habis berkelahi di kantor sama Rian. Benar kau dikeluarkan?" tanyanya lirih.

"Ah, kukira apa. Nggak kok, aku tetep kerja. Kata siapa,sih?"

"Oh, jadi gosip, dong!"

Aku diam saja. Tak mungkin aku ceritakan panjang-panjang, toh ya, ujung-ujungnya juga balik kerja.

"Ya sudah, Dan." Mbak Diah perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamarku.

Aku masih duduk dengan sejuta pertanyaan. Kok bisa denger, sih? Apa dari Yanto, ya?

Ah, kenapa jadi bahas masalahku? Seharusnya kan, ia bingung dengan masalahnya sendiri!

Kuputuskan keluar dari kamar. Membuntuti mbak Diah yang sepertinya sudah berjalan jauh. Benar! Ia sudah berada di dalam toko.

"Mbak, sini, deh!" Kupanggil dia yang terlihat sedang membersihkan etalase toko.

"Apa?" Kembali ia bertanya padaku sambil menghampiri.

Kami lalu duduk di kursi, di teras rumah, sama-sama menghadap toko.

"Dengar, ada yang mau kubicarakan!"

Kutarik nafas sejenak, menghembuskan perlahan. "Hmmmm, jadi begini ... kau tahu bagaimana ibu, kan? aku tak mau ibu banyak mikir. Dia sepertinya sakit mental. Perjelas statusmu dengan Surya!" Akhirnya tercetus juga apa yang ingin kukatakan padanya sedari kemarin-kemarin.

"Maksudmu?"

"Pulanglah ke rumahmu, ajak Boby. Soal Kinara, biarkan ia tetap bersekolah di sini. Biar ibu ada teman jika aku bekerja."

Mbak Diah diam sejenak. Sepertinya sedang berpikir. Tapi, ia tetap diam. Tak ada jawaban apapun padaku.

"Lihat suamimu! Aku rasa hidupnya semakin dibuat-buat. Ia tak sadar telah banyak menyusahkan orangtua kita. Dia bahkan lupa ada dua anak kecil yang seharusnya menjadi pikulannya. Apa memang dibuat seperti itu, agar kau pulang mencarinya? Bisa jadi! Siapa tahu dengan kau pulang ke sana, ia sadar tanggung jawabnya. Mungkin ia ingin kau temani. Kau pun tak ingin seperti ini terus, bukan?" Kutegaskan kembali bicaraku padanya.

Mbak Diah masih diam. Tampaknya memang tak mau membalas ucapanku.

"Jangan pikirkan aku bicara begini karena kesal melihat dirimu. Kau saudaraku, dan aku masih memikirkanmu. Oleh karena itu aku memperingatkanmu. Kita tak tahu seperti apa kita di masa depan. Tapi jika kita diam saja tanpa adanya usaha, kita juga gak bakal dapat apa-apa, karena masa depan kita tergantung dari apa yang kita jalani sekarang."

Tampaknya, nasehatku semua sia-sia. Mbak Diah masih terus terdiam. Dimasukkan kepala atau tidak, entahlah! Kalau ia berpikiran dewasa, semestinya ia sadar diri.

Bermenit-menit kita membisu. Seakan tak pernah ada titik temu. Lama-lama aku juga bosan menanggapinya. Kurasa percuma ....

Aku beranjak dari duduk, kembali menatapnya. "Ingat, dia orangtua kita satu-satunya. Cuma ada dia! Jangan berperilaku yang menambah beban pikirnya. Pikirkan omonganku baik-baik!" Kuperingatkan Mbak Diah sekali lagi. Kuharap ia memikirkan betul-betul apa yang kulontarkan barusan.

Tanpa menunggunya berkomentar, kembali aku masuk ke dalam kamar. Rebahan, melepaskan segala penat yang ada akibat banyak fikiran.

Akhirnya, aku menyetel ulang lagu Dealova .....

Baru terdengar bait kedua, suara nyanyian itu berubah menjadi nada dering panggilan. Kukernyitkan dahi menatap layar smartphoneku. Siapa kira-kira nomor baru ini?

"Hallo!" Tegas aku menyapa sosok di seberang sana.

"Hallo? Dani?" Kutangkap suara seorang lelaki di ujung panggilan.

"Ya. Siapa?"

Dia tak menjawab, namun akhirnya berkata dengan panjang lebar. Aku mendengarkannya dengan seksama, sesekali menggaruk kaki karena gatal.
Akhirnya, telepon kututup setelah ia berkata ingin mengakhiri panggilan.

Aku menghela nafas, lalu beranjak dari kasur.

Jam berapa ini? Aku janji menjemput Kinara pulang sekolah. Kulirik kembali layar HP, eeh ... kurang lima menit lagi!

Akhirnya kuambil langkah cepat menuju kamar mandi, segera membasuh muka.

*****

Sampai di depan sekolah, rupanya gadis manis itu sudah berdiri menempel di pagar. Ia cemberut memandang.

"Ayo, cepat! Om buru-buru," teriakku.

Kinara tampak marah. Ia berjalan gontai ke arahku,santaaaaii sekali, dengan bibir manyun yang terpasang.

"Heeeii, ayo cepat! Nanti om belikan es krim." Aku berteriak lagi di atas motor.

Gadis kecil itu berubah girang. Ia langsung berlari menaiki boncengan.

Kutancap gas dengan kecepatan 50km/jam. Membuat bibir Kinara terus berkomentar karena tak biasa bersepeda sekencang itu. Aku memang tak pernah melajukan motor seperti itu jika bersamanya, padahal menurutku biasa saja.

Motor kuhentikan di sebuah rumah makan yang berada tak jauh dari rumah. Sebelum masuk, mataku berputar menatap sekeliling.

"Kinar, jangan bilang mama dan uthi, ya ... kalau Om ajak kesini. Nanti kalau ketemu teman Om, Kinar kudu anteng, ya? Jangan banyak tingkah!" pesanku, sambil membelokkan Kinar ke sebuah toko di samping rumah makan terlebih dulu. Membelikannya es krim seperti awal perjanjian.

"Bener ya, Kinar? Ingat omongan Om!" Kuperingati ia sekali lagi.

Kinara mengangguk.

Kami masuk ke dalam rumah makan. Lagi, mataku mengitari seluruh tempat dengan tangan sigap menggandeng Kinara. Akhirnya kutemukan pula meja yang kucari.

"Maaf, lama," seruku, seraya mengambil duduk di antaranya. Kutarik pelan tangan Kinara agar duduk bersamaku. Kemudian mataku tertuju pada meja di hadapan yang kini penuh dengan berbagai hidangan makanan itu. Entah kenapa, aku sama sekali tak berselera meski semuanya terlihat lezat dalam pandangan.

"Ayo, makan dulu!" ajak Adam, sembari membalik piringnya.

Adel membalik piring di depanku, mengambilkan nasi, lalu menyodorkannya. "Ini!" serunya.

Kugelengkan kepalaku pelan, sambil menjawab asal, "Sudah makan. Baru saja di rumah tadi,"

"Kan, makan di rumah. Di luar belum, kan? Ayo, makan! Itu Kinara pulang sekolah pasti lapar. Ajak makan, gih!"

Bukan aku yang seneng, malah Kinara yang kegirangan mendengar ucapan itu.

"Om, aku suka ayam goreng," ia berbisik padaku.

"Ayo, sayang! Mau apa? Tante ambilkan!" Agaknya Adel mengerti kode dari Kinar. Ia mengangkat satu per-satu piring berisi lauk pada Kinara, dan tetap pilihan Kinara tertuju pada seekor utuh ayam goreng.

"Ya sudaaah, yang ini khusus keponakan cantik." Adel tersenyum sambil menyodorkan lauk itu untuk Kinara, kemudian mengambilkan nasi untuknya.

"Makanlah dulu! Jangan sungkan!" Adam menawariku kembali. Lagi-lagi aku menolaknya. Teringat waktu itu, saat makan di kolam renang, ujung-ujungnya ia banyak mengatai.

Adel yang melihatku enggan makan, mengurungkan diri juga untuk makan. Ia memilih memainkan HP dari dalam tasnya. Ia kenyang, katanya, setelah ditanya kakaknya.

Adam rupanya ikut tak nyaman. Ia hanya menikmati makannya sedikit. Lantas mencuci kembali telapak tangannya. Membiarkan piringnya yang masih penuh nasi tergeletak begitu saja.

Sementara Kinar, ia yang tampak lahap sekali.

"Dan, aku baru tahu semuanya dari adikku. Oke, sorry ... aku yang salah. Adel tak membohongimu. Justru dia membohongi keluarganya sendiri," Adam menghentikan bicaranya, meneguk minumannya sejenak.

"Kudu tak kamplengi'ae arek wedok iki (ingin kuhajar saja anak perempuan ini), menyulitkan orang saja! Memalukan," lanjutnya lagi dengan raut wajah kesal.

Aku semakin penasaran. Apa maksudnya?

"Jadi, gini ... sudah kubilang padamu, kan, kalau aku dijodohkan orang tua. Aku sudah menolak, tapi mereka maksa. Jadi, aku terpaksa minggat, dengan dalih akan segera dinikahi oleh pacarku, agar mereka tak lagi memaksaku menikah dengan lelaki itu. Mana kutahu pikiran mereka bakal sejauh ini." Penjelasan Adel membuatku kaget campur tak percaya.

Masa' iya?

"Maaf, Dan. Kemarin aku membuat ibumu marah. Aku juga jengkel sama anak ini, kok bisa semua orang rumah dibuat bingung. Seharusnya kalau mau sandiwara, kan cukup sama abah-umu. Harusnya dari awal bilang denganku kalau dia cuma sebatas acting."

"Kenapa harus bilang kamu? Toh kamu juga, kan ... yang awalnya mendukung banget aku berjodoh sama lelaki itu!"

"Iya. Tapi, mana kutahu kalau kau tak suka padanya."

"Sebenarnya kau tahu, tapi kau juga memaksaku, bukan?"

Keduanya akhirnya berdebat sendiri.

Bukan. Sebenarnya, bukan karena itu!
Yang sekarang kupusingkan adalah, bagaimana aku bisa berterus terang pada mereka jika aku masih bingung dengan perasaan hatiku sendiri.

"Intinya begini, Dan. Kan, orang tuaku udah bilang 'oke', yang jadi masalah sekarang, ibu kamu. Gimana caranya kamu meyakinkan kalau semua ini hanya salah paham. Terus terang aku tak enak hati. Aku juga takut, sih, mau ke sana," tukas Adam kemudian.

Adel tiba-tiba memegang tangan kiriku. Matanya mengiba. "Kamu sudah percaya aku, kan? Percayalah, sejak dulu aku tak pernah membohongimu," ucapnya lirih.

"Ciyeeee, ciyeeeee ...." Suara Kinara spontan membuat Adel melepaskan genggamannya. Ia salah tingkah, dan wajahnya memerah.

"Ya wis, pokoknya. Atur saja lah, Dan! Orangtuaku udah beres. Aku juga ingin kalian bahagia seperti yang kalian mau." Lagi-lagi Adam berseru.

Mendengar itu, kepalaku seolah hampir pecah. Semua ini tak seperti yang kalian pikir!

Ingin membalas bicaranya, mengungkapkan semua yang kuragukan, rasanya hati ini berat untuk maju berkata.

"Ehm ... Del," bergetar rasanya bibirku saat menyebut nama gadis itu.

"Apa, Dan?" Cepat ia menjawab omonganku. Lagi-lagi aku terpaku.

"Ada apa? Kalau butuh sesuatu, atau ada yang ingin diomongkan, bilang saja! Siapa tahu kita bisa bantu," seru Adam datar.

Akhirnya, kuurungkan juga ingin menyampaikan uneg-uneg. Hanya bisa diam.

Kualihkan pandanganku pada Kinar. Melihatnya yang begitu asyik bermain dengan Adel, sementara Adam ganti mengalihkan pembicaraan tentang bisnis budidaya ikan lele temannya. Aah, semua ini semakin membuang-buang waktu.

"Maaf, aku harus balik, Mas. Ibu pasti cemas menunggu Kinara," seruku membohongi. Ibu tak akan pernah cemas selagi Kinara bersamaku. Paling marah karena tak pamit. Kupikir dengan berkata begitu, pertemuan ini bisa kuakhiri dengan cepat.

Benar saja. Hanya karena menyebut kata 'ibu', mau tak mau Adam pun luruh. Ia turut berpamit pulang. Sepertinya ia paham bagaimana kondisi ibu setelah kejadian kemarin.

Kita pulang bersama-sama dengan menaiki kendaraan masing-masing, dan berpisah di persimpangan.

Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku peringatkan Kinar kembali agar menutup omongan tentang semua ini. Kinar tak mengiyakan, malah tertawa begitu lebar. Hatiku semakin khawatir dibuatnya.

"Emang kenapa, sih, Om? Kan, Om Adam dan Tante Adel baik ...."

"Sudahlah. Menurut apa kata om!"

"Iya, deeeehhh! Oh ya, Om ... aku tadi diberi uang sama tante di dalam kotak pensilku."

"Lho, masa? Kapan, kok om tak tahu?"

"Iya, tadi. Kertas merah-merah banyak!"

Ciiiiittttt!!

Ku-rem mendadak motorku, berbalik menengok Kinar. Dengan cekatan kutarik resleting tasnya. Kubuka kotak pensilnya. Benar, empat lembar uang seratus ribu!

"Bodoh sekali perempuan itu! Anak kecil diberi uang segini banyak untuk apa?" Aku menggeram kesal melihat uang-uang itu.

"Ini dibawa om, ya? Jangan kasih tahu mama! Nanti kalau mama tahu, mama marah sama om!" ucapku lagi sembari meletakkan uang itu ke saku celana.

"Diganti es krim yang banyak aja, Om. Nanti aku bilang es krim itu dari om."

Hadeeeeehhh?
Ya Tuhan, ampuni aku. Gara-gara mengajaknya, ujung-ujungnya aku ngajarin keponakan berbohong.

Bak ingin selamat dari maut, mau tak mau akhirnya kembali aku menuruti si gadis usil ini. Kubelok setir ke sebuah minimarket. Membelikan apa yang ia mau.

Sesampainya dirumah ....

"Nangdi'ae seeeeh, ngajak dolen iku mbok yo Kinar cek salin sek! (kemana saja, siih? Ngajak main itu mbok ya Kinar biar ganti seragam dulu)"

Aku mencubit kecil lengan Kinara, agar tak menyahut bicara ibu. Kinar langsung masuk ke dalam rumah, sambil menenteng plastik besar di tangannya.

Aku sendiri tak menggubris omongan ibu. Kulangkahkan kaki menuju kamar, mengunci pintu.

Sampai dikamar, langsung rebahan. Tanganku mengutak-atik layar smartphone. Penasaran setelah mendengar dentingan nada WA berkali-kali sejak tadi.

Story Adel ....

Ia mengunggah beberapa foto kebersamaan kami tadi di rumah makan. Lebih banyakan selfie berdua bareng Kinar, sih!

Entah kenapa, tiba-tiba aku kesal melihat itu. Terlebih saat ia mengirimkan foto-foto itu di kolom chat.

'Del, berapa nomor rekeningmu?'

Kubalas kiriman foto itu dengan pertanyaan yang tak nyambung sama sekali.

'Apa maksudnya, Dan?'

'Berapa nomor rekeningmu? Aku mau nitip beli'

'Nitip beli apa? Biar kubelikan saja'

'Sudahlah, kasih. Ini amanah!'

'Oke. B** 06******'

Kubuka aplikasi Mobile Banking, kutransfer padanya sesuai yang ia beri pada Kinara siang tadi. Kemudian kukirim chat balasan, 'Tolong hargai uang. Jangan dibuat hambur-hamburan meski kau punya banyak uang. Lagipula, Kinara bukan tanggunganmu.'

Chat itu terbaca olehnya. Dia mencoba mengetik, entah apa yang ia akan ucap setelah itu. Kolom hijau diatas bertuliskan MENGETIK sedari tadi. Kucoba tunggu, masih tak muncul-muncul juga chatnya.

Mungkin ia bingung. Mungkin sedikit tersinggung.

Tak berharap aku menunggu balasan darinya. Akhirnya kumatikan saja dataku.

Baru saja mematikan data, ia memanggilku melalui telepon.

"Hallo!"

"Maksudnya apa, Dan? Kok langsung off, sih?"

Aku menghela nafas panjang.

"Memang, kamu sudah nyampe rumah?"

"Belum. Ini masih di Krian."

"Ya sudah. Lanjut saja otw-nya. Nanti kalau nyampe, baru telepon."

"Oh, kalau begi ...."

".... batreku low. Ini bunyi tut-tut HPku. Aku cas dulu," kusahut bicaranya, dan langsung kumatikan HP di tangan.

Ya Tuhan, aku wis gak betah!
Ingin sekali tegas mengakhiri. Kok, sulit sekali? Aku bingung harus menjaga perasaanku, atau perasaannya.

Semakin penat di dalam kamar, lalu kubuka kembali pintu. Berjalan gontai menuju arah dapur. Perutku keroncongan, dari pagi belum makan.

Baru sampai di ruang tengah, sayup-sayup kudengar suara Kinar berkata, "Jadi, begitu, uthi. Uthi tapi jangan bilang-bilang om! Nanti Kinar dimarahi sama om. Om tadi bilang, om takut sama mama. Jadi, jangan bilang mama juga!"

Glek!
Aku menelan ludah pahit.

Entah kenapa, kakiku rasanya mendadak kesemutan. Ingin melangkah ke dapur, tapi susah sekali!

Mbokne dobooolll, Kinaaaaaaarrrr!!!!!

(to be continued)
----

Anak kecil itu polos, lho! Bagaimanapun kalau udah kebiasaan jujur, susah sekali diajak bohong. Love U, Kinar emoticon-kisssingemoticon-roseemoticon-thumbsupemoticon-Stick Out Tongue
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ds0301 dan 23 lainnya memberi reputasi
24 0
24
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
05-12-2019 06:18
wkwkw kinarrr astagaaaa!
ayoo dan lanjut lagi dong
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
05-12-2019 06:23
kinar koyok jenenge anakku😘😘
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
05-12-2019 06:35
Nah..lampu hijau udh menyala dg terang..masa kekeuh sma yg udh tunangan?

Logika -> Adel
Perasaan -> Sefti

Masalah:
Adel -> Apakah ibu setuju?
Sefti -> Udh jelas, ini tunangan org
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jembloengjava dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Rekan kerja
05-12-2019 07:32
Quote:Original Posted By Dyzack
Nah..lampu hijau udh menyala dg terang..masa kekeuh sma yg udh tunangan?

Logika -> Adel
Perasaan -> Sefti

Masalah:
Adel -> Apakah ibu setuju?
Sefti -> Udh jelas, ini tunangan org


Solusi: tinggalin dua2nya....yg 1 ibu gk setuju, yg 1 tunangan org.
Mending cari yg laen..kek stok cewe dah abis aja
Diubah oleh zerozt
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
05-12-2019 08:28
wkwkwk...ini part terlucu kayaknya,judulnya harusnya kinar yg ingkar janji emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
05-12-2019 08:29
keep update gann .. emoticon-Big Grin
seru banget ceritanya emoticon-Ultah

salam teko arek mojokerto emoticon-Shakehand2 hahahah
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
05-12-2019 08:46
Balasan post shirazy02
Pusing dah... Kalo ini emang ente yg salah karena dari awal gak tegas,Dan. Atau karena gak pernah bergaul dg wanita jadi ente gak bisa mengendalikan diri ya? Ketemu cewek yg srek langsung klepek2 lupa kalo udah berkomitmen sama Adel?
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
05-12-2019 08:50
Quote:Original Posted By m451617
kinar koyok jenenge anakku😘😘


Hai, Kinar emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
profile-picture
edsixteen memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
05-12-2019 08:51
Quote:Original Posted By Dyzack
Nah..lampu hijau udh menyala dg terang..masa kekeuh sma yg udh tunangan?

Logika -> Adel
Perasaan -> Sefti

Masalah:
Adel -> Apakah ibu setuju?
Sefti -> Udh jelas, ini tunangan org


Quote:Original Posted By zerozt
Solusi: tinggalin dua2nya....yg 1 ibu gk setuju, yg 1 tunangan org.
Mending cari yg laen..kek stok cewe dah abis aja



Tapi, emang dia udah nikah sama salah satunya emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
Tebak yuk, nikah ma sapa?
Ntar dikasih Kinar lollypop emoticon-Winkemoticon-Wink
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan zerozt memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
05-12-2019 08:52
Quote:Original Posted By xsilent4
keep update gann .. emoticon-Big Grin
seru banget ceritanya emoticon-Ultah

salam teko arek mojokerto emoticon-Shakehand2 hahahah


Hallo, Mojokerto! emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan crossov3r memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
05-12-2019 08:53
Quote:Original Posted By jiyanq
Pusing dah... Kalo ini emang ente yg salah karena dari awal gak tegas,Dan. Atau karena gak pernah bergaul dg wanita jadi ente gak bisa mengendalikan diri ya? Ketemu cewek yg srek langsung klepek2 lupa kalo udah berkomitmen sama Adel?


Ane tak bisa ngomong jauh emoticon-Spanyolemoticon-Spanyol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
Lapor Hansip
05-12-2019 08:58
Balasan post shirazy02
Jangan jauh2, gan.. Di mari aje.. emoticon-Wakaka
Btw makasih banyak karena ente udah rajin banget updet. emoticon-Toast
0 0
0
Rekan kerja
Lapor Hansip
05-12-2019 09:07
Balasan post shirazy02
Mantap, ceritany makin seru, thread ny juga bnyak diimprove.. Respect bro.. Ane selalu tunggu cerita updatenya...
0 0
0
Rekan kerja
05-12-2019 09:11
Quote:Original Posted By jiyanq
Jangan jauh2, gan.. Di mari aje.. emoticon-Wakaka
Btw makasih banyak karena ente udah rajin banget updet. emoticon-Toast


Quote:Original Posted By aizan
Mantap, ceritany makin seru, thread ny juga bnyak diimprove.. Respect bro.. Ane selalu tunggu cerita updatenya...


Ahhai, makasi sekali udah baca trit receh iniiiihh emoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan crossov3r memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
Lapor Hansip
05-12-2019 09:23
Balasan post shirazy02
kQuote:Original Posted By shirazy02





Tapi, emang dia udah nikah sama salah satunya emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
Tebak yuk, nikah ma sapa?
Ntar dikasih Kinar lollypop emoticon-Winkemoticon-Wink


nikah sama salah 1 dr mereka?
dari kalimat/gaya menulis TS dalam menanggapi pembaca sih mirip sifat dari sefty, ceplas ceplos cablak. krna mnurut ane adel lebih kalem
Diubah oleh m451617
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan shirazy02 memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
05-12-2019 09:25
terus sekarang dani jabatan nya apa ya di pabrik ? si rian nasib e gimana ? wkwwkkw
0 0
0
Rekan kerja
Lapor Hansip
05-12-2019 09:40
Balasan post shirazy02
Hmmm... aku tetep masih gak habis pikir sama Dani, kenapa sih gak tunjukin aja chat antara Adel dan dia ke Adam?
0 0
0
Halaman 18 dari 31
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sebuah-surat
Stories from the Heart
100-days
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
gadis-waktu-itu
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia