Kaskus

Story

daffoazharAvatar border
TS
daffoazhar
Bolehkah Aku Mencintaimu
Bolehkah Aku Mencintaimu

PART 1

***

"Wati, tungguin!" Wati menoleh kepadaku lalu mengulurkan tangannya. "Ayo, Ran." Aku berlari meraih tangan wati lalu berjalan beriringan. Tali sepatu sialan ini selalu saja terlepas, membuat aku harus jongkok dan membenarkannya dahulu. Sekarang aku dan teman-teman kantor akan melakukan camping selama dua hari di sebuah tempat wisata air terjun di Jawa Barat.

Kita berlima, aku, Wati, Deni, Imam, dan Soni, sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Kebetulan minggu ini long weekend, hari seninnya bertepatan tanggal merah, jadi ini kesempatan buat kami yang memang mempunyai hobi yang sama, yaitu 'ngalam'. Wati bilang, daripada ngemoll mending ngalam, buat refresing otak yang tiap hari dijejelin target-target perusahaan. Masuk di akal juga. Sebenarnya tadinya aku kurang suka, tapi akibat kebanyakan gaul sama empat mahluq itu, jadi kebawa-bawa, deh.

Sebenarnya aku lebih suka fotographi. Membidik apapun yang ada di sekitar itu sangat menyenangkan. Kalian coba, deh, pasti ketagihan kayak aku. Saat Deni bilang, mereka akan camping di air terjun, aku langsung semangat buat ikut, karena pemandangan di air terjun pasti sangat bagus. Itu akan menambah koleksi foto-fotoku di laptop buat aku share ke instagram. Dan follower-ku pasti senang.

Sepanjang perjalanan aku sesekali memotret pemandangan. Gila, pemandangannya bagus banget, apalagi sore hari begini. Gunung Ciremai yang menjadi pemandangan utama sangat menggelitik mata. Dari tempatku berdiri gunung itu memang terlihat sangat jelas, karena lokasi air terjun tempat kita camping katanya berada di bagian kaki gunung.

"Woi, istirahat dulu, deh." Tiba-tiba Deni, sang ketua rombongan, menginteruksi. Kami istirahat di sebuah warung kecil yang memang banyak berjejer di sepanjang jalan menuju air terjun. Aku dan yang lainnya menepi ke warung dan duduk berdempet-dempetan.

"Bu, ada kopi?" tanya Imam pada si pemilik warung.

"Ada, Kasep. Mau kopi apa? Kopi susu apa kopi hitam?" tanya bibi warung dengan logat sunda yang mendayu-dayu.

"Kopi susu boleh, deh."

"Baik."

"Saya juga mau, dong, Bu." Soni menyahut.

"Ya udah, sekalian aja bikin lima, Bu," ujar Deni sambil mengelap keringat di dahinya.

"Woi, cewek-cewek! Lo pada mau, gitu?" tanya Imam. Aku dan Wati yang tengah melihat foto-foto di kameraku mendongak.

"Apa?" tanyaku.

"Kopi."

"Mau-mau."

"Ya udah, Bu, lima." Deni kembali menegaskan pada ibu warung.

"Kalian dari mana?" tanya ibu warung sambil membuat kopi kami.

"Jakarta, Bu," jawab Deni.

"Wah, jauh, ya. Kalian ke sini mau liburan? Kenapa sore-sore begini?"

"Kita mau kemping," cetus Soni sambil memarekan deretan gigi kuningnya akibat tembakau. Mendengar ucapan Soni, entah kenapa aku menangkap ekspresi wajah ibu warung itu langsung berubah. Seperti sangat kaget, tapi ia berusaha tetap santai.

"Oh kemping," cuma itu tanggapan dari dia.

Kopi kami sudah tersedia di depan, kita ngobrol-ngobrol enggak jelas sambil ngopi. Ngobrolin kerjaan, ghibahin bos baru yang nyebelin, dan ngebahas Tania yang konon katanya udah jadi piala bergilir di kalangan bos-bos.
Udah puas istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Namun, saat aku dan Wati akan pergi ninggalin warung, tiba-tiba ibu warung itu berkata pada kami, "Hati-hati, Neng. Sekarang di curug ini udah jarang ada yang kemping. Banyak orai."

"Orai? Apaan, Bu?" tanya Wati bingung.

"Maksud saya, ular! Katanya ada ular siluman juga. Udah pokoknya hati-hati, ya. Jangan macam-macam dan jangan ganggu apalagi ngebunuh ular, kalau mereka menampakan diri."

Aku dan Wati sedikit ketakutan, tapi kami berusaha santai, dan yakin kalau kami enggak akan kenapa-napa. "Oh, gitu, makasih ya, Bu, udah ngasih tau kami, kami janji enggak akan macam-macam, kok," kataku. Ibu warung itu ngangguk-ngangguk sambil tersenyum, tapi dari sorot matanya masih terlihat ada kecemasan pada kami.

Aku dan Wati berjalan cepat menyusul cowok-cowok yang sudah jauh di depan.

***

"Ran, gue kok kepikiran terus sama omongan ibu warung itu, ya? Setelah tau kalau sekarang cuma kita yang kemping di sini, gue rasa apa yang dibilangin ibu itu bener. Kata Deni kalau weekend gini banyak yang kemping juga, tapi buktinya cuma kita doang."

"Iya juga, Wat. Duh gue jadi parno, nih. Kita bilangin ke Deni, yuk." Wati mengangguk lalu menghampiri Deni yang lagi pasang tenda.

"Den, sini dulu, deh." Wati menarik sweeter Deni.

"Apa, Wat?"

"Mmm tadi, waktu kita ninggalin warung, ibu warung itu bilang, katanya sekarang di curug ini udah gak ada yang kemping lagi karena banyak ularnya."

"Iya, dan yang lebih nakutin lagi, katanya ada ular siluman!"

Deni mengibaskan tangan. "Ah, udah jangan percaya ama yang gitu-gituan. Lagian kan kita di sini enggak ada niat buat ganggu mereka. Ya udah kalian santai aja, bentar lagi magrib, masak air, gih. Tuh, Soni lagi bikin api. Habis itu kita bakar-bakar ikan." Dengan berat aku dan Wati akhirnya mengangguk. Aku merasa sedikit aman karena ada Deni yang memang sangat pengalaman dalam perkempingan dan panjat-panjat gunung.

Waktu terus berjalan, tidak terasa sekarang sudah pukul 8 malam, akhirnya acara bakar-bakar ikan pun dimulai. Kami berlima sangat bahagia waktu itu, bercanda, main gitar sambil nyanyi-nyanyi, dan mengolok-olok Imam yang memang ada hati sama Wati dari dulu.

"Cusss jadian dah, lo berdua," cetus Soni.

"Ogah! Amit-amit jabang bayi, gue itu istrinya Lee Min Ho, tau gak lo!" Wati tetap pada pendiriannya dari dulu: menolak Imam. Gadis berbulu mata lebat itu memang pemuja artis-artis Korea, menurutnya Imam yang hitam manis dan jerawatan, jauh dari kriteria dia yang menyukai cowok-cowok Korea yang putih dan pipi semulus porselen.

"Jangan gitu, Wat, jangan sebel-sebel amat sama Imam, entar lama-lama jadi cinta," goda Deni. Dari kita berlima yang jomblo memang cuma Wati dan Imam. Sedangkan aku, Deni, dan Soni sudah ada pacar di Jakarta.

"Puas, ya, lo pada godain gue!" ketus Wati sambil memonyongkan bibirnya.

Imam tidak peduli dengan sikap sarkasme Wati, ia tetap stay cool sambil memanggang ikan. Aku, Deni, dan Soni tergelak. Menurutku Wati dan Imam itu cocok. Yang satu cerewet dan yang satu lagi cool, alias pendiam. Jadi balance, kan? Hahaha.

Namun, kesantuyan kami tiba-tiba terusik dengan sesuatu yang berkelabat di atas sana. Aku melihatnya, Soni juga melihatnya, tapi yang lain tidak. Entah apa yang aku lihat, tapi bentukannya kayak kalong gede banget. Otomatis aku dan Soni saling tatap memastikan diri bahwa barusan yang kami lihat benar adanya.

"Rani, lo liat, kan?" Aku masih menatap Soni lalu mengangguk.

"Apaan itu tadi, Son?" tanyaku.

"Gak tau! Kelalawar bukan?"

"Hooh. Tapi kok gede banget."

"Hadeuuh mulai, dah, parno. Kita gak liat apa-apa kok," ujar Deni berusaha meredam ketakutanku dan Soni.

"Serius, Den, entar kalo ada lagi gue foto," kataku sambil mengangkat kamera yang selalu aku kalungkan di leher.

Aku mencoba membidik kamera ke segala arah, berharap apa yang tadi terbang di atas kami tertangkap kamera. Namun, saat aku mengarahkan kameraku ke arah air terjun lensaku menangkap sosok pemuda tampan, memakai sweeter, celana panjang dan sneekers. Aku berhasil memotretnya dua kali, tapi saat aku akan melihatnya tanpa kamera sosok itu tiba-tiba lenyap.

"Loh, kemana dia?" tanyaku pada diri sendiri.

"Siapa, Ran?" Wati mendengarku dan bertanya.

"Enggak, kayaknya bukan cuma kita, deh, yang kemping di sini. Tadi gue liat ada cowok di situ." Aku menunjuk ke arah tadi tempat pemuda itu berdiri.

"Di mana?" Deni bertanya.

"Di situ, dekat air terjun," jawabku yakin. Namun, Deni malah tertawa. "Gak mungkin ada yang kemping sebelah situ, Ran."

"Kenapa?"

"Lo tau sendiri, di situ kan jurang."

Ya Tuhan bener juga. Lalu tadi cowok yang aku foto siapa? Ngapain dia di situ? Wati mengusap bahuku, sepertinya dia tahu apa yang aku katakan memang benar.

"Kayak apa dia, Ran?"

"Ini ...." Aku menyodorkan hasil jepretanku barusan, tapi sosok pemuda itu hilang dari fotoku, padahal aku yakin tadi berhasil memfotonya.

"Mana? Gak ada!"

Aku speechless. Sepertinya memang ada yang aneh dengan curug ini. Setelah itu aku buru-buru ke tenda pamit tidur duluan. Dan semoga aku bisa tidur sampe pagi.

***

Saat aku sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Soni di luar. Aku langsung lari keluar tenda, ternyata di sana teman-temanku tengah berkumpul menenangkan Soni. Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Ternyata aku baru tidur satu jam. Sekarang masih pukul sepuluh, dan pagi masih sangat lama.

"Ada apa, gaes?" tanyaku.

"Ular, Ran," jawab Wati.

"Hah? Di mana?"

"Di ikan yang tadi dibakar Imam. Dia hampir nyerang Soni."

Aku melihat Deni terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu. Lalu tiba-tiba dia berkata, "Gaes, ayo kita cabut! Salah! Kita udah ngundang mereka dengan ikan-ikan ini."

"Apa?!" Kompak kami berempat terkejut.

Dengan intruksi dari Deni, kami pun cepat-cepat membongkar tenda dan membereskan barang-barang, tapi tak lama kemudian hujan turun.

"Den, hujan gimana, nih?" Imam terlihat cemas.

"Gak apa-apa pokoknya kita harus cabut sekarang, kita cari rumah warga atau mushola dan berteduh di sana."

Setelah beres, kita pergi dari tempat itu dengan penerangan seadanya. Aku yang masih terkantuk-kantuk terjatuh dua kali karena jalan yang licin karena hujan. Lututku berdarah, tapi tidak aku rasakan sakitnya. Saat itu yang aku rasakan hanya rasa takut pada ular-ular itu.

Sepanjang perjalanan, kami makin banyak menemukan ular, bahkan salah satunya hampir terinjak oleh Wati.

"Cepat-cepat, gaes ... kayaknya ular-ular itu ngikutin kita!" Deni berseru dari belakang. Imam yang paling depan mempercepat langkahnya diikuti kami.

Pohon-pohon pinus, yang tadi sore terlihat indah, entah kenapa kini terlihat mengerikan. Apalagi Wati sempat melihat di antara pohon-pohon pinus itu katanya ada anjing, tapi gede banget hampir segede kambing. Mana ada anjing segede itu? Kecuali kalau anjing itu anjing siluman.

Jalan setapak terus kami lewati, tapi entah kenapa rasanya jarak yang tadi sore kita tempuh sekarang rasanya lebih jauh. Entah itu cuma perasaanku saja atau memang kita sekarang sedang dikerjain?

"Woi, gue capek banget, nih! Kok rasanya kita gak nyampe-nyampe, ya?" Ah, Wati ternyata merasakannya juga.

"Bentar lagi, Wat. Lo tahan lah, sebentar."

"Ini bener gak sih, jalannya?"

"Bener, kok. Ayo jalan lagi!"

Secara intuisi aku menyoroti senterku ke arah samping, dan betapa kagetnya tiba-tiba aku melihat sosok pemuda yang tadi aku foto tak jauh dari kami, dia menunjuk ke arah belokan yang siap kami lewatin. Aku melonjak kaget sampai-sampai Soni di belakangku keinjak.

"Rani! Apaan sih, sakit tauk!"

"Sori-sori, Son." Sepertinya dia ingin menolong kami dengan menunjukan arah yang benar. Aku yakin sekali.

Aku menoleh pada Deni di belakang. "Den kita belok sini, ya?" kataku.

"Bukannya lurus, ya?"

"Enggak-enggak, aku yakin lewat jalan ini kita akan cepet sampe ke rumah warga."

"Lo yakin?"

"Yakin!"

"Ya udah, kalau lo yakin, yuk, belok."

"Iya, Den. Lagian dari tadi kita jalan lurus aja gak nyampe-nyempe," timpal Wati.

Setelah kami berbelok, ternyata semak-semak belukar semakin menghalangi, ditambah hujan semakin deras membuat pandangan kita semakin terbatas. Sepertinya ini bukan jalan pada umumnya, aku jadi ragu, apakah pemuda itu memang menunjukan jalan yang benar?

Namun, setelah beberapa menit akhirnya kami menemukan cahaya lampu. "Woi, rumah warga!" teriak Imam. Kita semringah akhirnya menemukan rumah warga. Cepat-cepat kami menghampiri rumah itu.

Dengan sungkan kita mengetok pintu rumah itu. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu. Pemilik rumah itu terlihat kaget dengan kedatangan kami. Lalu dia pun mempersilakan kami masuk.

"Maaf, Pak, lantainya jadi basah," tutur Deni.

"Enggak apa-apa, ayo silakan duduk." Kami duduk di tikar, karena memang di ruangan itu tidak ada kursi.

"Kalian ini siapa, dan dari mana malam-malam begini?" tanya Bapak tua itu.

"Kami dari Jakarta, Pak, tadinya kami kemping di curug, tapi karena banyak ular jadi kami pergi dari sana." Bapak itu terkejut mendengar ucapan Deni.

"Ya Alloh gusti ...!" dia berkata sampai matanya terbelalak.

"Kenapa, Pak?" tanya Imam.

"Syukur Alhamdulillah, kalian bisa pergi dari sana. Apa kalian ada yang terluka?" wajah Bapak itu terlihat sangat khawatir.

"Enggak, Pak."

"Sudah beberapa bulan ini kawasan kemping di curug itu memang sudah sepi dan rencananya mau ditutup, karena sudah banyak memakan korban. Konon di sana ada kerajaan ular siluman. Saya juga tidak begitu tahu, tapi katanya banyak yang kemping di sana tidak bisa kembali."

Sontak kami terkejut. Aku tidak henti-hentinya berucap syukur dalam hati. Disisi lain aku juga penasaran sama pemuda itu. Siapa dia? Kenapa dia menolong kami?

"Serius, Pak?" Soni bertanya.

"Iya. Ya sudah karena kalian udah selamat, kalian tidur di sini aja. Kebetulan sekarang saya sendirian anak dan istri saya sedang di rumah orang tua karena mau ada hajatan. Sebentar lagi pagi, lumayan tidur dua jam juga."

Kami saling pandang. Pagi? Bukankah tadi baru pukul 10? Aku melirik jam dinding. Benar juga sekarang sudah jam 4 pagi!

***
Tbc
Diubah oleh daffoazhar 22-10-2019 10:26
lina.whAvatar border
anasabilaAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
1.3K
7
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.5KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.