TS
maknakala
Propaganda agama adalah mesin penghancur terbaik di dunia.
"Mesin penghancur yang paling ampuh dan murah bukanlah Bom Atom, tapi Agama".
Berikut ungkapan John Mc Cone (Mantan Direktur CIA 1961 - 1965). Apa yang diucapkan Mc Cone bukan sekedar teori. Timur Tengah adalah gambaran yang nyata dari pengaplikasian teori tersebut. Dan Ibu Pertiwi ini, dan daerah Asia Tenggara lain adalah target selanjutnya.
Bagi para agamis tulen, mereka pasti akan lansung tersinggung dengan kalimat diatas, tapi santai aja, Karena kalau anda mengaku ciptaan Tuhan yang diberi akal, ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan akal. Lagian malu dong ama Tuhan, masa sudah diberikan akan tapi ga digunakan? Bukan begitu…
Ohya, Ingat! Poinnya bukan pada Ajaran Agamanya, tapi bagaimana para penganutnya, bahkan pemukannya menggunakan dan memutarbalikkan fakta agama demi kepentingan Politik dan Keuangan. Atau penganutnya aja yang ga paham jadi gampang dibodoh-bodohin?
Agama bisa menjadi mesin pembunuh yang mematikan atau medium pengrusak yang kejam, karena ia memuat teks, ajaran, doktrin, diskursus, slogan, jargon, dan simbol-simbol yang mampu mengilhami, mendorong, dan menggerakkan para penganut agama yang hiperfanatik untuk melakukan aneka tindakan kejahatan kemanusiaan yang brutal.
Kita mulai dari yang paling dasar, kalian ingat dengan Perang salib? Ato perdebatan tanpa akhir antara Sunni dan Syiah? Atau bagaimana statement Pagan,Dinamisme, Animisme dilabelkan pada Kepercayaan Adat Nusantara? Atau untuk Internasional ingat kasus Charlie Hebdo? Ohya bahkan hingga Hari ini, kamu radikalis agama tetap ada dan menjadi benih benih terorisme.
Kita harus akui secara jujur dan penuh penyesalan bahwa agama memang menjadi elemen signifikan dalam berbagai kasus kekerasan domestik, terorisme global, dan kerusuhan kolektif di berbagai belahan dunia dewasa ini. Deretan kasusnya cukup panjang, seperti di Irlandia Utara (Protestan v Katolik), Mesir (Sunni v Koptik), Iran (Syi'ah v Baha'i), India (Hindu v Islam), Sri Lanka (Buddha v Hindu), Thailand (Buddha v Islam), Sudan (Islam v Kristen dan agama-agama suku), Afganistan (Sunni Pasthun v Islam Salafi), dan masih banyak lagi termasuk di Indonesia.
Mark Juergensmeyer, dalam Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, telah mendokumentasikan data-data terorisme global dan kekerasan yang diwarnai, diinspirasi, dan dilegitimasi oleh berbagai agama.
Dalam Prolog untuk buku Atas Nama Agama, Bambang Sugiharto menyampaikan pengamatan yang jitu tentang salah satu akar penyebab konflik antaragama.Kemelut dalam tubuh masing-masing agama sendiri, menurut dia, seringkali memproyeksi ke luar. Sikap agresif berlebihan terhadap pemeluk agama lain seringkali merupakan ungkapan yang tak disadari dari chaos dan ketegangan dalam tubuh agama itu sendiri.
Sejak awal sejarah manusia hingga era modern ini, agama tampaknya merupakan “mesin pembunuh” paling keji yang justru disakralkan. Banyak agama yang bermunculan kemudian menampilkan sosok “Tuhan” sebagai penguasa bengis yang haus darah dan menuntut kurban manusia. Sampai kini, tidak sedikit orang yang tidak segan-segan membunuhi sesamanya, konon demi merebut “tiket ke surga”
Ironisnya, para pelaku kriminalitas itu sendiri menganggap perbuatan jahat yang mereka lakukan sebagai "perbuatan mulia” yang berpahala dengan ganjaran surga. Itulah yang diyakini para komplotan teroris-jihadis yang tergabung dalam berbagai sindikat terorisme internasional yang tersebar di berbagai negara. Meskipun telah melakukan kejahatan kemanusiaan, mereka tidak merasa berdosa sedikitpun bahkan dengan percaya diri mereka menganggap perbuatan terorisme dan kekerasan itu sudah sesuai dengan "perintah agama” dan "amanat Tuhan”.
Persoalan manusia bukanlah bersumber dari luar sana. Chaos tersebut ada di dalam diri manusia itu sendiri. Musuh kita bukan orang lain, bukan darah dan daging. Seperti dikatakan Alexander Solzhenitsyn, “Seandainya saja ada orang-orang jahat yang dengan busuk hati melakukan perbuatan jahat di suatu tempat, yang kita perlukan hanyalah memisahkan mereka dari umat manusia lain dan kemudian membinasakan mereka. Namun, Siapakah yang rela membinasakan sepenggal hatinya sendiri, dimanakah kemanusiaan itu?
Agama hanya menjadi sebuah tools para pemain besar. Pahamkan? Dan para radikalis itu Hanya bidak bidak yang dijlankan pada tempat dan waktu yang tepat. Siapakah yang akan diuntungkan dengan konflik itu? Tentunya sekutu Zionisme, Amerika, Inggris dkk. Itulah jawaban dari pertanyaan, mengapa Amerika dan sekutunya selalu datang jika ada negara yang sedang berkonflik. Ya karena mereka sedang bisnis senjata.
Mereka juga sangat senang jika sebuah negara hancur lebur. Mulai dari infrastruktur, stabitilas politik hingga ekonomi dst. Ketika sebuah negara sudah hancur lebur, mereka akan datang bak dewa penyelamat dengan membawa uang pinjaman supaya negara itu berhutang kepadanya. Tentunya mereka memberi hutang secara tak gratis.
Ada kontrak dimana mereka bebas menjarah SDA negara yang sedang dihutangi.
Contohnya Libya dan Syiria. Keduanya (sebelum konflik) adalah negara yang pemimpinnya melakukan nasionalisasi aset secara besar-besaran. Buahnya adalah dia behasil memberi pendidikan gratis hingga sarjana pada rakyatnya. Kesehatan juga gratis. Hingga pengangguran pun digaji oleh negara. Siapa yang tidak mau hidup di negara seperti itu?
Mari Cerdaskan bangsa agar tak mudah ditipu dengan propaganda murahan atas nama agama. Pemerintah juga sudah mulai memberi contoh untuk melawan, dengan membubarkan ormas radikal yg anti nasionalisme yg berusaha untuk menjadikan negara ini seperti Libya, Somalia, Sudan, Syiria yang kemudian negara ini menjadi negeri jajahan kembali.
sweetjulia dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1K
12
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Education
23.3KThread•16.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya