Kaskus

News

XinHua.NewsAvatar border
TS
XinHua.News
Lany Guito, Merawat Iman Anak Konghucu
Kelenteng Pak Kik Bio, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), mungkin tak akan seramai sekarang tanpa adanya peran Lany Guito. Perempuan inilah yang mempelopori sekolah minggu bagi anak-anak Konghucu di Surabaya.

Sosoknya tak asing di kalangan penganut Konghucu. Sebab separuh hidupnya memang telah didedikasikan untuk pengembangan pendidikan agama Konghucu. Saat ini saja dirinya merupakan Ketua Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin).

Rasa cinta dan kasih terhadap ajaran Konghucu lah yang melatari alasan Lany berkecimpung lama dalam dunia pendidikan agama. Dia tak ingin anak-anak tidak mendapatkan pendidikan agama Konghucu sejak dini. Karena tak tahu apa pun, dia khawatir anak-anak jadi mudah berpindah keyakinan kelak.

Makanya, Lany mengadakan kebaktian untuk anak-anak di Surabaya. Langkah ini bahkan sudah dijalani Lany jauh sebelum Konghucu diakui oleh pemerintah sebagai salah satu keyakinan resmi.

Lany tak ingin penganut Konghucu berkurang secara drastis lagi seperti semasa sekolah dulu. Dia ingat betul, saat masih SMP pada tahun 1983, pendidikan agama Konghucu dilarang di sekolah formal. Alasannya, Konghucu memiliki kesamaan dengan agama Budha. Ribuan siswa Konghucu di Surabaya, baik negeri ataupun swasta, dulu akhirnya dipaksa pindah ke agama Budha yang disebut-sebut sama.

Kondisi makin semrawut dilihat Lany, lantaran pemaksaan pihak-pihak luar ini juga dihubung-hubungkan dengan mitos, takhayul, tradisi dan kebiasaan dan lain sebagainya tentang budaya Tionghoa.

Dampaknya cukup terasa. Penganut agama Konghucu berkurang secara drastis setelah pihak luar memberikan doktrin bahwa kepercayaan dan agama yang berasal dari Tionghoa itu tidak masuk akal dan dianggap sesat. Karena doktrin itulah, teman-teman yang sama keyakinannya dengan Lany banyak yang memilih meninggalkan agama Konghucu.

Namun keteguhan hati Lany bergeming di tengah situasi itu. Dirinya justru jadi terpacu untuk ikut terlibat menguatkan ajaran agamanya. Lany ingin tak ada lagi yang mudah pindah keyakinan ke ajaran lain.

Saat itu, usia Lany baru menginjak usia 17 tahun. Pada usia yang relatif muda ini, dia sudah giat mencari cara agar anak-anak Konghucu mau belajar tentang agama yang mereka anut. Sampai akhirnya, pada tahun 1988, dia memberanikan diri buka kelas minggu bagi anak-anak Konghucu.
Kelas pertamanya saat itu hanya diikuti dua orang anak. Mula-mula Lany memakluminya. Sebab pada masa itu orang tua yang akan beribadah ke kelenteng memang masih jarang mengajak anak-anaknya beribadah bersama-sama.



Dengan Mendongeng
Namun, meski makin banyak orang tua tahu ada kelas minggu, pertumbuhan signifikan peserta kelas minggu itu tak kunjung terjadi. Dari minggu ke minggu keadaannya tetap sama, jumlah peserta tetap mudah dihitung dengan jari.

Sadar tak ada banyak perubahan, Lany segera mengubah pola mengajar. Cara mengajarnya tak lagi monoton mengandalkan bacaan kitab suci. Untuk menarik perhatian anak, dia mulai menggunakan teori otak dengan menyisipkan cerita, gambar dan warna di tiap pengajaran agama.
Biasanya, ia memulai kelas dengan cerita nabi yang diambil dari kitab suci Konghucu. Tiap cerita disampaikannya dengan metode mendongeng. Sesekali anak didiknya juga diajak menggambar dan mewarnai.

“Dari situ orang tua mulai merespons dan mengajak anak-anaknya untuk mengikuti sekolah minggu,” katanya kepada Validnews, Kamis (17/10)
Tak jarang, untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti sejak dini dirinya mengajak anak-anak didiknya untuk berkunjung ke panti asuhan. Cara-cara seperti itu belum banyak dipraktikkan sekolah formal dan nonformal.

Hal itu sesuai dengan Dizigui dalam ajaran agama Konghucu, yang mengatur tatanan dari hubungan yang paling erat di antara anggota keluarga, sampai cara berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.

“Dizigui merupakan bahan pendidikan yang akan membentuk karakter yang baik, dan juga merupakan dasar untuk melahirkan dan mengembangkan kasih sayang dan moralitas terhadap sesama,” jelas Lany.

Sesungguhnya metode pengajaran agama seperti ini sempat membuatnya was-was. Sebab pihak keamanan malah menganggap kegiatan turun langsung ke lapangan ini bisa mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. Sekolah minggu binaan Lany memang tak lagi hanya diikuti oleh dua orang.

Di tahun 1995 total jumlah muridnya sudah membludak hingga 150 orang.
Beruntung dirinya cepat mendapatkan kepastian dari para pengurus Kelenteng. Sepanjang kegiatan tetap dilakukan dalam wilayah kelenteng, maka pihak keamanan tak akan bisa membubarkan kegiatan tersebut.

Setelah keberlangsungan pendidikan agama stabil, pada tahun 1995 dirinya menyerahkan kegiatan sekolah minggu ini kepada pengurus kelenteng.

Ini bukan karena Lany tak sayang lagi dengan apa yang sudah dibangunnya. Keputusan tersebut diambilnya karena pada tahun yang sama dirinya dipersunting oleh Budi Wijaya. Dalam ajaran agama Konghucu setiap perempuan harus memiliki 3 kepatuhan. Sebelum menikah patuh pada ayah (Wei Jia Cong Fu), setelah menikah patuh pada suami (Ji Jia Cong Fu), dan bila suami meninggal patuh pada anak lelaki tertua (Fu Si Cong Zi).

Buku Agama
Semenjak menikah perempuan kelahiran Juni 1971 itu mencoba fokus membina rumah tangga dan menanggalkan segala aktivitas di luar rumah.

Tapi, ada saja terpaan pada bahtera rumah tangga Lany. Pasangan Konghucu ini mendapati mereka tidak tercatat dalam catatan sipil kota Surabaya.
Bahkan untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah, keduanya diminta mengikuti tata cara agama lain. Untuk status agama di KTP, mereka juga harus memilih satu di antara lima agama yang diakui di Indonesia waktu itu.

Keduanya akhirnya berjuang untuk mendapatkan legalitas pernikahan. Pasangan itu sampai sempat mengajukan gugatan resmi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Alasannya tak lain agar supaya anak-anak Budi dan Lany mendapat pengakuan dari negara dan tidak dianggap sebagai anak di luar pernikahan.

Sampai akhirnya pada tahun 2000, Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang dibuat Orde Baru di bawah pemerintahan presiden Soeharto, dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Sejak mendapatkan pengakuan pernikahan dari negara, Lany mulai kembali menata kehidupannya, termasuk juga kembali terlibat dalam dunia pendidikan. Namun kali ini Lany bukan terlibat sebagai pengajar, melainkan sebagai pembuat buku Agama Konghucu dari tingkat dasar hingga menengah.

Pada masa itu, Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan diterbitkan. Perihal pendidikan Agama Konghucu di jalur sekolah formal, nonformal, dan informal diatur pada Pasal 45. Sedangkan untuk jalur tenaga pendidiknya diatur oleh Pasal 47. Terbit pula Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2010 dalam pasal 2 ayat 2.
Dengan berlandaskan sejumlah aturan itu, Lany berani membuat buku teks Konghucu. Dia juga mengorganisasi kegiatan untuk ruang kelas Agama Konghucu di bawah Matakin, Dewan Tertinggi Agama Konghucu di Indonesia.

Beberapa buku agama hasil karyanya yakni, Aku Seorang Junzi (orang yang berbudi luhur dalam Konfusianisme). Ketika kurikulum berubah pada 2013, Lany kembali menyusun buku teks baru berjudul Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti

Pada tahun 2015 Lany juga menerbitkan dua buku untuk pertemuan anak-anak di Lithang (tempat pemujaan Konfusian). Pertama, Buku Panduan Pengajaran Sekolah Minggu Konghucu (Buku Pedoman Pengajaran Sekolah Minggu Konfusianisme), kedua, Buku Kegiatan Sekolah Minggu Konghucu (Buku Kegiatan Sekolah Minggu Konfusianisme). Sementara bagi jemaat remaja, Lany menulis buku seri kegiatan remaja untuk memelihara karakter pribadi mereka.

Meski sekarang makin banyak umat Konghucu yang menyadari pentingnya pendidikan agama, kegelisahan Lany belum mereda. Pasalnya, sampai sekarang penyampaian pendidikan agama bagi pemeluk Konghucu masih terkendala masalah sumber daya manusia (SDM). 

Di Surabaya saja, kata Lany, tenaga pengajar Konghucu hanya 11 orang. Padahal guru adalah ujung tombak pendidikan anak-anak Konghucu sebagai generasi penerus harapan masa depan.

Untuk menyiasati kekurangan guru agama Konghucu, dirinya bersama dengan Matakin pun sampai harus mengajak para orang tua terutama kaum ibu untuk menjadi guru agama.
Lany percaya perempuan dapat sekaligus berperan dalam rumah tangga dan dalam organisasi. Lany meyakini, anak-anak yang hebat pasti dilahirkan dari rahim perempuan yang hebat dan luar biasa. Itulah mengapa dirinya menyarankan para perempuan yang sudah menikah untuk bergerak menjadi tenaga pendidik. (Fuad Rizky)
[url]https://www.validnews.id/Lany-Guito--Merawat-Iman--Anak-Konghucu-jDZ [/url]


merawat gan
0
1.3K
6
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695KThread58.8KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.