Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

kaum.milenialAvatar border
TS
kaum.milenial
Matahari Terbit 16 Kali Sehari, Bagaimana Menentukan Waktu Salat di Luar Angkasa?


ASTRONOT asal Uni Emirat Arab (UEA) Hazzaa Al Mansouri menerbitkan buku tuntunan waktu salat di luar angkasa. Panduan ini merupakan yang pertama diterbitkan bagi umat Islam.

Dilansir dari daily mail, Hazzaa Al Mansouri merupakan astronot yang terpilih dari 4.000 pelamar dari UEA untuk terbang ke luar angkasa. Nah, setelah di Stasiun Luar Angkasa, ia bingung menentukan waktu salat karena melihat matahari terbit dan terbenam sebanyak 16 kali matahari dalam sehari.

Posisi matahari sendiri merupakan salah satu isyarat waktu ketika muslim akan melakukan ibadah salat dan puasa. Lalu bagaimana solusi salat di luar angkasa?
Sebagai solusi, Al Mansouri dalam bukunya menyarankan seorang muslim yang hendak salat di luar angkasa, waktunya disesuaikan dengan waktu di Makkah. Pendapat yang sama juga dilontarkan astronot muslim asal Kazakhstan, Sheikh Muszapher Shukor. Meski begitu ia mempunyai opsi, yakni melaksanakan salat pada waktu yang sama dengan di negara asalnya.

Ketika Ramadan tiba dan seseorang sedang di luar angkasa, disarankan juga agar mengikuti waktu yang ada. Misalnya sebagai awal puasa di luar angkasa, ia melihat matahari terbit di Makkah, maka ketika hendak buka puasa pun astronot muslim harus berdasarkan matahari tenggelam di Makkah.

Sedangkan untuk kiblat salat, kata Al Mansouri, selain mengikuti waktu salat Makkah, para astronot bisa menghadap bumi sebagai arah sembahyang. Selain itu astronot harus tetap berwudhu, tapi jika air tidak tersedia di luar angkasa, mereka bisa menggunakan pasir atau batu sebagai penggantinya (tayamum).

Lebih lanjut, Al Mansouri akan bergabung dengan kosmonot Rusia Oleg Skripochka dan astronot AS Jessica Meir di ISS ketika roket diluncurkan dari Kazakhstan dalam waktu dekat.

Menurut keterangan dari NASA, astronot UEA akan kembali pada 3 Oktober 2019. Sementara dua koleganya akan kembali pada musim semi tahun depan. "Bendera kita akan pergi, impian kita, semangat kita untuk negara ini," kata Al Mansouri.

Al Mansouri akan menjadi astronot ketiga dari negara Arab yang terbang ke luar angkasa dihitung sejak 1980. Sebelumnya yang terbang adalah Sultan Bin Salman Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi dan Muhammad Faris dari Suriah.


sumur
sebelahblog
anasabila
nona212
nona212 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
1K
12
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
Berita Luar NegeriKASKUS Official
79.2KThread10.9KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.