alexa-tracking
Sports
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d745506af7e932ec344bb58/membandingkan-bulutangkis-dengan-sepak-bola-kapan-pssi-mau-belajar-dari-pbsi
Lapor Hansip
08-09-2019 08:10
Membandingkan Bulutangkis Dengan Sepak Bola. Kapan PSSI Mau Belajar Dari PBSI?
Past Hot Thread
Membandingkan Bulutangkis Dengan Sepak Bola. Kapan PSSI Mau Belajar Dari PBSI?
gbr diambil dari : bolasport.com

Pertama-tama saya harus menekankan bahwa ini hanya sebuah opini pribadi, kalau ada salah kata mohon dimaafkan, kalau ada yang ingin berdiskusi dan berdebat saya sambut dengan tangan terbuka. Tujuan tulisan ini hanya membuka sebuah diskusi saja.

Semenjak saya lahir dan besar di Indonesia, ada tiga olahraga yang sejauh sepengetahuan saya memiliki jumlah penggemar yang besar di Indonesia ini : Sepakbola, Bulutangkis, danTinju.

Saya ingat sewaktu hanya ada satu stasiun TV di Indonesia, setiap kali ada siarang langsung TVRI yang berhubungan dengan tiga olahraga di atas, bisa dijamin jalan di depan rumah saya langsung sepi, karena sebagian besar orang memilih untuk menunggu di depan TV. Kalah menangnya atlet Indonesia di tiga jenis olahraga ini, akan menjadi bahan pembicaraan selama berhari-hari.

Saya tertarik membahas bulutangkis dan sepakbola, karena sedemikian besar animo masyarakat Indonesia terhadap kedua olahraga tersebut, namun seakan seperti bumi dan langit, prestasi antara bulutangkis dan sepak bola.

Berikut ini beberapa perbandingan saya antara bulutangkis dengan sepakbola :

Prestasi di dunia Internasional
Bulutangkis : atlet-atlet bulutangkis Indonesia berprestasi di tingkat internasional, sampai-sampai tidak sedikit negara-negara luar yang mempekerjakan mereka sebagai pelatih tim nasional bulutangkis mereka.

Sampai sekarang Indonesia masih menjadi langganan juara di berbagai kompetisi bulutangkis tingkat internasional. Bahkan saya rasa tidak berlebihan kalau saya katakan, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi acuan jika kita bicara tentang bulutangkis.

Sepakbola : pernah  merajai asia, perlahan-lahan prestasi persepak bolaan Indonesia justru terus menerus menurun, hingga rasanya mulai terjun bebas, ketika negara-negara seperti Filipina, Vietnam dan Kamboja yang dulu jadi lumbung gol bagi Indonesia, sekarang justru menjadi ancaman.

Ada beberapa atlet sepakbola yang berprestasi di tingkat Internasional, tetapi sampai saat ini, rasanya masih sulit untuk dikatakan mereka sudah berhasil menerobos masuk pasar internasional. Belum ada sosok seperti Hidetoshi Nakata atau Park Ji Sung, yang menjadi perintis masuknya pemain sepakbola dari negara-nya masuk ke kompetisi utama di dunia.

Alih-alih mengirim pemain Indonesia merajai di kompetisi luar negeri. Yang terjadi justru arus masuknya pemain asing kelas tiga ke Indonesia dan sekarang banyak naturalisasi pemain asing yang bagi saya pribadi terasa sebagai satu kemunduran, bukan kemajuan.

Supporter
Bulutangkis : jarang terdengar ada dilakukan oleh suporter bulu tangkis. Jarang, atau bahkan tidak pernah, ada kerusuhan saat menonton pertandingan bulutangkis. Dengan demikian, tidak ada perasaan khawatir untuk datang dan menonton secara langsung. Hal ini menurut saya juga berpengaruh pada prestasi dunia bulutangkis kita.

Rasa aman berpengaruh dengan luasan masyarakat yang datang dan berpartisipasi baik sebagai supporter maupun pemain. Yang tentu saja kemudian berpengaruh terhadap pertumbuhan dan prestasi olahraga ini.

Sepakbola : jaman saya kecil dulu, setiap kali ada pertandingan antara Arema vs Persebaya, otomatis jalan raya sepi karena pemilik mobil berjaga-jaga dengan arus suporter yang pulang setelah menonton pertandingan.

Bukan apa-apa, siapa pun yang menang, luapan emosi dari kelompok suporter yang kalah, seperti sudah jadi satu agenda.

Kompetisi
Bulutangkis : kompetisi berjalan dengan ketat, mulai usia yang sangat muda. Kalau pernah datang ke klub-klub bulutangkis seperti misalnya Suryanaga di Surabaya, anda bisa lihat bocah kecil berlatih dedngan keras.

Kompetisi berjalan dengan ketatnya dari satu jenjang usia ke jenjang usia berikutnya, tidak mudah bagi seseorang yang bercita-cita menjadi seorang atlet bulutangkis untuk lolos pelatda, apalagi pelatnas.

Sepakbola : kompetisi berjalan dengan diwarnai banyak isu yang tidak sedap. Di usia muda, isu orang tua yang menyisipkan sejumlah uang agar anaknya bisa dimasukkan ke dalam tim, ada isu pelatih yang mencuri umur.

Di kompetisi profesional, isu jual beli skor, wasit yang bisa dibeli, bahkan sampai pengurus PSSI-nya pun tidak terhindar dari isu-isu tidak sedap.

------------------------------------------

Bagi saya pribadi, timnas sepakbola Indonesia lebih kejam dari mantan isteri/pacar. Kalau mantan isteri/pacar, sakitnya tuh cuma sekali, setelah itu bubar. Kalau timnas, dari waktu ke waktu, selalu ada saja berita yang menjanjikan

Setiap kali ada kompetisi di tingkat internasional (meski hanya tingkat ASEAN), selalu ada harapan yang perlahan membubung tinggi. Sebelum kemudian hati kita dihancurkan dengan penampilan yang mengecewakan.

Bagi saya pribadi menonton siaran langsung timnas Indonesia, tidak kalah seru dengan menonton la liga atau Piala Champion, bukan karena skill permainan yang ditampilkan, tetapi karena kedekatan emosional antara saya dan timnas yang sedang bertanding.

Tetapi seperti cinta tak berbalas, janji prestasi PSSI sampai sekarang belum juga terbayarkan.

Bagi saya pribadi mungkin yang paling berkesan adalah kiprah timnas di Piala Asia 1996. Meskipun mereka gagal lolos dari grup, tapi perjuangan mereka melawan tim-tim kuat, membuat saya respect terhadap timnas waktu itu.

Harapan saya pada pemerintah, bersihkan PSSI dari benalu-benalu yang membuat PSSI busuk dari dalam. Sanksi FIFA buat saya tidak masalah, tidak ada gunanya diijinkan berkompetisi di tingkat internasional, jika tidak ada prestasi yang ditunjukkan.

Perbaiki kompetisi dalam negeri, berhenti berusaha mencari prestasi dengan cara instan, mengirim pemain elit keluar negeri seperti proyek Primavera, atau sekarang dengan jalan naturalisasi pemain asing, menurut saya bukanlah cara untuk membentuk timnas yang berprestasi.

Lebih baik belajar dari kompetisi yang ketat dan berjenjang yang terbentuk di olahraga bulutangkis. Pemain akan tumbuh kuat dalam kompetisi yang sehat dan ketat.

Sementara saya, seperti ABG bucin, dengan hati penuh luka, aku dalam diam menanti prestasi sepakbola Indonesia.

Sumber : opini pribadi
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hvzalf dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 4
09-09-2019 12:53
terlalu sulit membandingkan sepakbola sama bultang gitu aja, karena gak relevan kalo ngomongin prestasi, sama animo penontonnya. tapi rata2 org indonesia itu senang kok sama 2 olahraga itu apalagi olahraga lain. kalo sdh tampil diajang dunia dan bawa nama indonesia sudah pasti bakal didukung oleh seluruh warga indonesia, karena sesungguhnya penduduk indonesia itu orgnya nasionalis semua. pemerintah juga harus adil utk cabang olahraga lain supaya olahraga en negara kita disegani dunia
0
Lapor Hansip
09-09-2019 13:22
Balasan post lonelylontong
selain itu permainan sepakbola pun juga lebih variatif kan, jadi kerap bikin suasana panas
profile-picture
pengomon memberi reputasi
1
09-09-2019 14:37
indonesia...dung dung dung..dung dung dung.
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
09-09-2019 16:46
Quote:Original Posted By balapbekicot
selain itu permainan sepakbola pun juga lebih variatif kan, jadi kerap bikin suasana panas


Jumlah supporter yg banyak, jg psikologi-nya jadi beda, dengan kl kerumunan cm sedikit.
0
09-09-2019 19:38
1. dengan sangat menyakinkan, saya jamin..., andai PB Djarum dicoret dan ditiadakan, udah dari dulu PBSI tidak punya apa2 yg bisa dibanggakan, akan sama nasibnya seperti PSSI..., bultang beruntung memiliki seorang fans fanatik seperti Hartono, dan sudah takdir sepak bola dijauhkan dari hal tersebut..,

2. ngatur 1 dan 2 kepala dalam satu lapangan, lebih mudah daripada ngatur 11 kepala.., dan makin susah krn yg diatur itu adalah orang Indonesia... atlet bultang masuk pelatnas jauh sebelum kompetisi dimulai, dipersiapkan dgn matang, dan jika kalah tanpa alesan... sedangkan atlet sepak bola dipanggil sangat dekat dgn jadwal tanding timnas, dan jika kalah banyak alesan...,
0
09-09-2019 20:34
Quote:Original Posted By lonelylontong
Jumlah supporter yg banyak, jg psikologi-nya jadi beda, dengan kl kerumunan cm sedikit.


Dan harga tiket terlalu murah mungkin ya
0
09-09-2019 20:57
Quote:Original Posted By balapbekicot
Dan harga tiket terlalu murah mungkin ya


Mmm... Bisa jg. Tp kalau dinaikin kasian jg.

Harapan saya buat supporter, jgn cm liat klub. Pikir timnas.
0
09-09-2019 21:02
PSSI kebanyakan mafia, jadi gimana mau maju😌
0
10-09-2019 02:03
suruh kuliah aja gan, biar belajar lagi tuh PSSI emoticon-Ngakak
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
10-09-2019 15:36
Ibarat keledai yg dungu, selalu terperosok dalam lubang yg sama.

Ane sampe heran sama fanatisme suporter timnas yg tanpa lelah mendukung, walopun akhirnya selalu paiiiiiiiitttt....

Ane salah satu keledai terdungu diatas....
0
10-09-2019 15:54
Nah tu kapan tuh
0
10-09-2019 15:58
Quote:Original Posted By diemasp
Ibarat keledai yg dungu, selalu terperosok dalam lubang yg sama.

Ane sampe heran sama fanatisme suporter timnas yg tanpa lelah mendukung, walopun akhirnya selalu paiiiiiiiitttt....

Ane salah satu keledai terdungu diatas....


Sama gan, ane juga
emoticon-Mewek
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
11-09-2019 13:17
Revolusi PSSI
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
13-09-2019 11:20
untuk sepakbola karena ane suka.
1. kompetisi umur ada tapi suka ga jelas diadainnya, blm masalah nonteknis lainnya ( pemalsuan umur dll)
2. kompetisi umur biasanya dari SSB klo menurut ane tiap sekolah min ada eskul sepakbola sama futsal, knp untuk menimbulkan minat anak akan olah raga.
3. waktu 1999 ada SSB dkt rmh ane yang ngadain kompetisi internal di SSBnya, pemain terbaiknya dikirim ke SSB luar ( lupa dmana ) selama 1 bulan untuk training. menurut ane hal ini bagus buat pengalaman si anak.
4. mungkin perlu ada kerjasama bagaimana cara membangun industri sepakbola di INdonesia.
5. Yang menurut ane susah adalah org2 didalam PSSI yang harus pure mo ngurusin sepakbola/ kemajuan sepakbola indonesia bukan mikirin sampingan.
6. Perlunya pembibitan usia muda, diikuti dengan kompetisi berjenjang antar SSB/ sekolah, diurusi oleh orang2 yang kompetent di bidang sepakbola tanpa mencari sampingan,

moga maju olahraga Indonesia
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1
13-09-2019 20:13


Quote:Original Posted By lonelylontong
Tapi menurut saya, pola kompetisi yang ketat, berjenjang dan sehat, yang ada pada bulutangkis, bisa dicontoh oleh PSSI.

Membangun timnas sepakbola yang kuat jangan pakai cara instant (proyek primavera, naturalisasi pemain asing, dsb). Tapi bangun kompetisi yang benar, mulai dari usia muda, sampai kompetisi profesional.

Kalau kompetisi dalam negeri sudah sehat, baru kita bisa berharap ada timnas yang kuat.

Supporter jangan berpikir dangkal dan kedaerahan, tapi lihat juga gambaran yang lebih luas.

Ingat pemain2 tim lawan itu, kalau hebat, nanti jadi pemain timnas.


komentar agan keren abiz! pssi harus berbenah klo tidak mau di cemooh netijen, mau sampe kapan spt ini terus? itu sih pertanyyannya gan
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
Halaman 3 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.