alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4f820a2f568d0e702f9781/agnostik-di-indonesia-menentang-suara-mayoritas-di-negeri-religius
Lapor Hansip
11-08-2019 09:48
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
Pandangan miring terhadap agnostik di Indonesia dilanggengkan oleh negara yang tidak mengenal keyakinan di luar enam agama resmi


Pada Mei lalu, seorang kolega ingin menggali cerita orang pindah agama dan menerima pesan langsung dari 20-an orang yang tidak ia kenal sebelumnya ke akun Twitter-nya. Mereka mengisahkan perjalanan spiritual dari Islam pindah ke Hindu, Kristen ke Islam, Islam ke Buddha, maupun Buddha ke Katolik. Tetapi, yang mengejutkan adalah kebanyakan yang lain dari mereka mengaku sebagai agnostik: meyakini konsep Tuhan tapi tidak mempercayai agama.

Dari narasumber yang mengaku agnostik itu saya ingin tahu kisah proses-proses mereka dari yang percaya agama hingga ke titik itu karena, terutama dalam konteks Indonesia, mereka menentang suara mayoritas penduduk di negeri ini yang menilai agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan negara ini memiliki kementerian agama dan mengatur rumah ibadah, meliburkan hari kerja saat hari raya keagamaan. Pendeknya, mereka tumbuh di lingkungan keluarga dan negara yang religius.

Dua dari mereka, yang saya samarkan namanya, membagikan kisahnya menjadi agnostik.


Perjalanan Spiritual yang Tabu

Saya berbincang dengan Max, pegawai negeri sipil berusia 26 tahun, yang lahir dan besar di Jakarta. Ia dibesarkan sebagai muslim dari keluarga kelas menengah yang orangtuanya bekerja juga sebagai PNS dan “Papa-Mama bukan orang yang salat lima waktu, bukan tipikal yang strict ketika bicara agama” tetapi, empat tahun terakhir, tabiat itu berubah.

Orangtua Max menjadi lebih religius. Mulai mengingatkannya salat. Semula Max tidak terlalu memperhatikan perubahan itu sampai orangtuanya ikut pengajian dan sering mengadakannya di rumah.

Yang tidak diketahui orangtua Max, anaknya sudah lama tak percaya agama.


Sejak umur 10 tahun, Max mempertanyakan konsep Tuhan: Bagaimana bentuknya? Dari mana Ia tercipta? Mengapa harus disembah?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah dilontarkan kepada orangtuanya tapi tiada jawaban yang membuatnya puas.

“Papa bilang, ‘Suruh tanya guru agama.’ Mama lebih aneh lagi, dia bilang, ‘Pantang untuk bertanya tentang hal-hal begitu. Tuhan itu harus diimani, jangan dipertanyakan, nanti bisa gila.’”

Penasaran, Mak-yang-masih-bocah memberanikan diri bertanya kepada guru agamanya.

“Tapi, jawaban yang sebetulnya enggak terlalu menjawab: Allah itu satu, tidak laki-laki, juga bukan perempuan, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Kenapa harus disembah? Agar kita selalu ingat dan bersyukur karena diberi hidup,” Mak mengingat ucapan guru agamanya di sekolah.

Jawaban itu membuat Max makin penasaran tapi juga makin tak terpuaskan. Ia mulai mencari tahu tentang sejarah Islam, lalu merembet pada agama-agama besar di Indonesia, hingga ateisme dan agnostisme. Memasuki kelas 3 SMP, kepercayaannya terhadap agama terkikis. Ia bahkan tak percaya pada konsep Tuhan tapi akhirnya meyakini ada energi besar di semesta yang memang tak kasatmata.

Di Indonesia, menjadi agnostik bisa berbuntut perkara riskan: kamu tetap harus mengisi kolom agama di KTP meski teman-teman dekat kamu tahu kamu tak beragama. Jika ngotot mengosongkannya, kamu mungkin kesulitan melamar pekerjaan, menikah, atau mengakses layanan publik, apalagi menjadi PNS. Baru-baru ini hukum di Indonesia membolehkan penghayat kepercayaan mengosongkan kolom agama—perihal yang pernah jadi basis diskriminasi terhadap mereka.

Masalahnya, agnostik bukan kaum penghayat—sering disebut ‘agama lokal’—sehingga pengakuan seperti Max tidak dianggap oleh negara.

"Mungkin kalau dilihat dari perspektif muslim, saya bisa dbilang kaum munafik,”
kata Max dengan nada santai. “Tapi, saya memang masih memanfaatkan privilese-privilese sebagai bekas muslim itu.”

“Terbiasa jadi mayoritas bisa membuat orang-orang merasa superior. Merasa paling benar sendiri, tidak sensitif pada hal di luar hajatnya, keras kepala bukan main,” timbang Max.


“Sering kali cara logika berpikir mayoritas itu yang dipakai untuk pasang standar kepada kelompok yang suaranya lebih kecil, misalnya kepada orang-orang agnostik.”


Cerita lain dari orang yang menjadi agnostik dituturkan oleh Zaki, yang sampai kelas 5 SD tinggal di Aceh, satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Islam.

Pasca-tsunami 2004, dipindahkan orangtuanya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah, Zaki untuk kali pertama menghadapi perbedaan: bertemu teman-teman sebaya beragama selain Islam.

Perasaan Zaki saat itu semula agak jaga jarak, “kasarnya bahkan punya perasaan jijik,”
katanya. Lulus SMP, orangtuanya menarik kembali dia ke Aceh dengan alasan “takut pergaulan bebas di Jakarta.”

Pada 2011, Zaki kuliah di Bandung. Dari pergolakan batin mengenai konsep Tuhan dan agama yang mulai muncul saat di Jakarta, mengendap saat kembali ke Aceh, kini ia punya kesempatan longgar untuk kembali mengeksplorasi perjalanan spiritualnya.

Puncaknya saat ia umrah pada 2016. Keluarganya yang khawatir meyakini Mekkah akan mengembalikan Zaki ke jalan Islam. Diingatkan untuk pasrah—“Nanti semua dosa-dosaku bakal dibayar tunai. Jangan sombong. Jangan banyak bertanya. Jangan meragukan”—justru yang terjadi sebaliknya.

Di depan Kakbah, Zaki berdoa, “Ya Allah, kalau Kau benar-benar ada, hukum aku sekarang juga atas kesalahanku. Tapi, kalau apa yang selama ini kujalani enggak salah, biarkan aku pulang dengan aman dan tidak terjadi apa-apa.”

“Sampai aku balik, ternyata enggak terjadi apa-apa
. Ada yang bilang itu karena Tuhan sudah abai samaku. Tapi buatku sendiri itu jawaban dari apa yang aku rasain selama ini,” tambahnya.

Keluarga Zaki sangat religius. Abang tertuanya bahkan meyakni aliran Wahabi. “Mereka percaya bahwa mendengar musik itu perbuatan maksiat. Ponakan-ponakanku dilarang nonton dan dengerin musik. Bahkan aku ajak ke mal aja enggak boleh,” kata Zaki.


Zaki, kini menetap di Jakarta, tinggal satu rumah dengan keluarga abangnya. Kepada mereka, Zaki pelan-pelan berkata jujur tentang spiritualitasmenya. Ia tak lagi salat, berpuasa, dan menjalankan ritual Islam lainnya.

“Mereka tahu kok aku begini, tapi lebih ke denial. Kayanya mereka yakin ini tuh cuma fase, entar juga aku balik lagi,” kata Zaki, tertawa.

Namun, untuk saat ini, Zaki meyakini sudah susah melihat dirinya kelak kembali hijrah. Meski orang-orang di sekitarnya cenderung menyepelekan perjalanan spiritualnya, lambat laun Zaki mulai menerima hal itu.

“Dulu, apa yang mereka harapkan ke aku itu memang bikin stres. Tapi, aku sendiri lebih tenang setelah keluar dari agama,” katanya.

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Narasi ‘Tidak Bermoral’

Di lingkungan yang memandang agama sebagai faktor penting, orang yang mengaku ateis dan agnostik cenderung mendapatkan stigma klasik seperti tidak bermoral, bejat, tidak bertanggungjawab, antisosial, dan sebagainya.

Max memilih tidak terus terang kepada keluarganya. Pilihan Zaki dianggap keluarganya cuma gairah sesaat.

Ahmad Syarif Syechbubakr, yang meneliti kaum diaspora Hadrami di Palembang, pernah mengulas pandangan miring orang Islam kepada mereka yang tak beragama dalam kolomnya di Tirto. Cantolan isunya sikap Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern yang punya toleransi besar sekali setelah penembakan massal Masjid Al Noor, Christchurch.

Syechbubakr menulis: Indonesia memang tidak mengenal toleransi beragama yang dilakukan oleh orang tidak beragama. Ateisme dalam kacamata Islam konservatif di Indonesia lebih buruk ketimbang kafir, tidak juga mendapatkan tempat yang baik dalam Kristen dan Katolik.


Menurutnya, tak populernya toleransi tanpa agama di Indonesia setidaknya disebabkan oleh dua hal.

“Pertama, dominasi percakapan mengenai toleransi di Indonesia dipegang oleh tokoh dari tiga agama: Islam, Kristen dan Katolik. […] Kita menemukan toleransi dibicarakan di ruang publik dalam kaidah Alquran, Hadis, adab Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, Alkitab dan ajaran moralitas kasih Kristus—seakan-akan segala hal yang baik dan toleran adalah hak prerogatif agama monoteis.”

Dominasi ini, menurut Syechbubakr, mengakar kuat di dalam ideologi nasional Indonesia, yaitu Pancasila.

“Dari sini kita masuk ke masalah kedua, yaitu bagaimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa hanya memuat agenda agama-agama monoteis yang berpengaruh besar dalam perkembangan politik agama dan moralitas di Indonesia,” tulisnya.

Hal itu terlihat jelas dari perdebatan panjang apakah aliran kebatinan dianggap agama atau tidak, tambahnya. “Ini karena aliran kebatinan tidak memiliki konsep Tuhan yang tunggal, kerasulan dan kitab suci—kriteria yang disepakati oleh agama-agama monoteis.”

Menurut Syechbubakr, kebijakan negara kemudian mendukung dan mempromosikan masuknya agama sebagai faktor tunggal dari toleransi. Situasi ini didukung dengan konflik berdarah di mana Islam, Kristen, dan Katolik bahu-membahu bersama Orde Baru menghajar komunisme pada 1965. Sejak itu, komunisme selalu dicitrakan ateis, anti-agama, dan tidak bermoral.



Max, seorang agnostik dalam kisah ini, juga berkata kepada saya bahwa sejarah kelam Indonesia yang pernah bertindak keji terhadap kaum komunis berperan besar terhadap keberlangsungan hak-hak orang tak beragama di sini.

“Orang-orang saking candunya sama agama bisa jadi sangat bias,”
tambah Max.

Misalnya, ia pernah dijauhi beberapa teman kampus karena dianggap membawa pengaruh buruk. “Bahkan dulu pernah ada dosen yang sengaja manggil saya ke depan kelas untuk mempertanyakan pilihan iman saya. Tujuannya memang mau mengolok-olok.”

Di Indonesia, tak ada penelitian komprehensif yang dapat menggambarkan situasi yang dialami agnostik. Jumlahnya saja tidak ada yang mencatat resmi.

“Sebetulnya wajar karena agnostik biasanya memang tidak teroganisir seperti kelompok gereja atau muslim,” kata Max. “Keberadaannya saja masih dianggap ada dan tidak ada di sini. Nyaris seperti hantu.”

Max berkata, kalaupun kamu percaya ada orang agnostik di lingkunganmu, mungkin kamu lebih memilih menjauhinya.

https://tirto.id/agnostik-di-indones...-religius-efXk

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sendhaljepit dan 44 lainnya memberi reputasi
43
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 8 dari 40
11-08-2019 14:36
Quote:Original Posted By djinggo88
Mau agnostik , atheist , theis

Sbenarnya

bodo amat

Yang penting satu aja

jng resek aka tetap menghomati yang beda kepercayaan , jangan memaksakan kehendak


emoticon-Leh Uga yang bagian bawah. Entah para atheis yang wannabe diluar sana mulai tuh gituan emoticon-Leh Uga
0
11-08-2019 14:36
semakin kliatan seperti ada gerakan yg emang mau bikin agnostik dan atheis legal di negara ini
emoticon-Traveller
0
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
11-08-2019 14:45
Balasan post hantupuskom
Quote:Original Posted By hantupuskom
semakin kliatan seperti ada gerakan yg emang mau bikin agnostik dan atheis legal di negara ini
emoticon-Traveller


Masalahnya dimana gan..? Toh Tuhan tetap maha kuasa meskipun para atheis tak mau menyembahnya..

yg rugi justru para theis, yg harusnya lebih sibuk mencari pahala, malah sibuk ributin orang yg dosa pahala aja mereka mungkin gak percaya
profile-picture
profile-picture
amdfreak dan aloha.duarr memberi reputasi
2
11-08-2019 15:02
Quote:Original Posted By riansantoso4776
emoticon-Sorry emoticon-No Sara Please

Menurutku sih, agama itu masih perlu dan dibutuhkan manusia. Agama itu bukan sebagai sesuatu yang bersifat membatasi, tetapi memberi jalan atau pedoman yang bisa ditinjau ulang jika di kemudian hari dinilai salah atau ada jalan yang lebih baik.

Meski begitu, saya sangat menghormati para penganut non-agama karena mereka manusia yang punya martabat yang setara. Namun, juga disayangkan, sebagai sesama makhluk yang diciptakan (menurut keyakinan saya), karena mereka memilih melepas "pedoman" itu.


kalo agama itu pedoman buat apa Tuhan kasih otak, akal pikiran, naluri, instinct?

ato mo bilang itu semuanya dikasih kalo seseorang udah punya agama?

"wahai umatKu, akan kuberikan kalian otak dan akal untuk berpikir, asalkan kalian beragama" emoticon-Leh Uga

Quote:Original Posted By Bukan.Arab
Fenomena agnostik sebenarnya sangat menarik utk dibahas, krna semua kaum agnostik adalah "mantan" theis. Pengetahuan ttg agama dan cara pikir kaum agnostik umumnya melampaui kaum theis, secara iman terbukti berani mendobrak kungkungan dogma-dogma agama yg menurut mereka salah.
Satu2nya yg menahan agnostik tidak muncul ke permukaan hanya peraturan dan jaminan keamanan dari pemerintah.
Kaum theis umumnya hanya iman buta, sebaliknya kaum agnostik mengimani dgn akal sehat.


kaum theist itu kebanyakan kolot, mikir agama dari cara penguburan jenazah, pedoman hidup (alias weak willed sama indecisive, plin plan intinya) sama cuman fokus ke konsep divine reward ama divine punishment

contoh
orang orang theist pasti lebih fokus ke 72 bidadari, penthouse elit di surga ama everlasting peaceful life di surga, coba kalo ditanya "apakah atheist bakal dapat kemujuran atas amal hidupnya?" pasti bakal dijawab "diakan nggak beragama, ya amalannya pasti nggak berguna"








padahal konsep hukum sebab akibat berlaku universal, bukan ke theist doang, tapi golongan theist anggepnya atheist itu cuman live for the moment, amalannya nggak punya impact emoticon-Nohope
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lyndonbaines dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Lihat 1 balasan
11-08-2019 15:03
Bagus ini trit diskusinya juga bagus ga kaya bp yang biasanya. Ane harap kaskus kek gini terus biar bisa menambah wawasan hehe. Menurut kepercayaan ane kan ada hablum minallah sama hablum minannas. Dan yang ane percaya keduanya kalo dilakukan bakal minim konflik. Kita ibadah tapi ga menjaga hubungan dengan orang lain itu 0 besar. Tapi menjaga hubungan baik dengan orang lain tapi tidak ibadah itu urusan masing masing orang emoticon-Malu (S)
Intinya ane sangat menghargai orang lain selama "baik" ke orang lain
Diubah oleh jip ajip
profile-picture
profile-picture
profile-picture
amdfreak dan 2 lainnya memberi reputasi
3
11-08-2019 15:04
Quote:Original Posted By beritapalestina
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
Pandangan miring terhadap agnostik di Indonesia dilanggengkan oleh negara yang tidak mengenal keyakinan di luar enam agama resmi


Pada Mei lalu, seorang kolega ingin menggali cerita orang pindah agama dan menerima pesan langsung dari 20-an orang yang tidak ia kenal sebelumnya ke akun Twitter-nya. Mereka mengisahkan perjalanan spiritual dari Islam pindah ke Hindu, Kristen ke Islam, Islam ke Buddha, maupun Buddha ke Katolik. Tetapi, yang mengejutkan adalah kebanyakan yang lain dari mereka mengaku sebagai agnostik: meyakini konsep Tuhan tapi tidak mempercayai agama.

Dari narasumber yang mengaku agnostik itu saya ingin tahu kisah proses-proses mereka dari yang percaya agama hingga ke titik itu karena, terutama dalam konteks Indonesia, mereka menentang suara mayoritas penduduk di negeri ini yang menilai agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan negara ini memiliki kementerian agama dan mengatur rumah ibadah, meliburkan hari kerja saat hari raya keagamaan. Pendeknya, mereka tumbuh di lingkungan keluarga dan negara yang religius.

Dua dari mereka, yang saya samarkan namanya, membagikan kisahnya menjadi agnostik.


Perjalanan Spiritual yang Tabu

Saya berbincang dengan Max, pegawai negeri sipil berusia 26 tahun, yang lahir dan besar di Jakarta. Ia dibesarkan sebagai muslim dari keluarga kelas menengah yang orangtuanya bekerja juga sebagai PNS dan “Papa-Mama bukan orang yang salat lima waktu, bukan tipikal yang strict ketika bicara agama” tetapi, empat tahun terakhir, tabiat itu berubah.

Orangtua Max menjadi lebih religius. Mulai mengingatkannya salat. Semula Max tidak terlalu memperhatikan perubahan itu sampai orangtuanya ikut pengajian dan sering mengadakannya di rumah.

Yang tidak diketahui orangtua Max, anaknya sudah lama tak percaya agama.


Sejak umur 10 tahun, Max mempertanyakan konsep Tuhan: Bagaimana bentuknya? Dari mana Ia tercipta? Mengapa harus disembah?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah dilontarkan kepada orangtuanya tapi tiada jawaban yang membuatnya puas.

“Papa bilang, ‘Suruh tanya guru agama.’ Mama lebih aneh lagi, dia bilang, ‘Pantang untuk bertanya tentang hal-hal begitu. Tuhan itu harus diimani, jangan dipertanyakan, nanti bisa gila.’”

Penasaran, Mak-yang-masih-bocah memberanikan diri bertanya kepada guru agamanya.

“Tapi, jawaban yang sebetulnya enggak terlalu menjawab: Allah itu satu, tidak laki-laki, juga bukan perempuan, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Kenapa harus disembah? Agar kita selalu ingat dan bersyukur karena diberi hidup,” Mak mengingat ucapan guru agamanya di sekolah.

Jawaban itu membuat Max makin penasaran tapi juga makin tak terpuaskan. Ia mulai mencari tahu tentang sejarah Islam, lalu merembet pada agama-agama besar di Indonesia, hingga ateisme dan agnostisme. Memasuki kelas 3 SMP, kepercayaannya terhadap agama terkikis. Ia bahkan tak percaya pada konsep Tuhan tapi akhirnya meyakini ada energi besar di semesta yang memang tak kasatmata.

Di Indonesia, menjadi agnostik bisa berbuntut perkara riskan: kamu tetap harus mengisi kolom agama di KTP meski teman-teman dekat kamu tahu kamu tak beragama. Jika ngotot mengosongkannya, kamu mungkin kesulitan melamar pekerjaan, menikah, atau mengakses layanan publik, apalagi menjadi PNS. Baru-baru ini hukum di Indonesia membolehkan penghayat kepercayaan mengosongkan kolom agama—perihal yang pernah jadi basis diskriminasi terhadap mereka.

Masalahnya, agnostik bukan kaum penghayat—sering disebut ‘agama lokal’—sehingga pengakuan seperti Max tidak dianggap oleh negara.

"Mungkin kalau dilihat dari perspektif muslim, saya bisa dbilang kaum munafik,”
kata Max dengan nada santai. “Tapi, saya memang masih memanfaatkan privilese-privilese sebagai bekas muslim itu.”

“Terbiasa jadi mayoritas bisa membuat orang-orang merasa superior. Merasa paling benar sendiri, tidak sensitif pada hal di luar hajatnya, keras kepala bukan main,” timbang Max.


“Sering kali cara logika berpikir mayoritas itu yang dipakai untuk pasang standar kepada kelompok yang suaranya lebih kecil, misalnya kepada orang-orang agnostik.”


Cerita lain dari orang yang menjadi agnostik dituturkan oleh Zaki, yang sampai kelas 5 SD tinggal di Aceh, satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Islam.

Pasca-tsunami 2004, dipindahkan orangtuanya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah, Zaki untuk kali pertama menghadapi perbedaan: bertemu teman-teman sebaya beragama selain Islam.

Perasaan Zaki saat itu semula agak jaga jarak, “kasarnya bahkan punya perasaan jijik,”
katanya. Lulus SMP, orangtuanya menarik kembali dia ke Aceh dengan alasan “takut pergaulan bebas di Jakarta.”

Pada 2011, Zaki kuliah di Bandung. Dari pergolakan batin mengenai konsep Tuhan dan agama yang mulai muncul saat di Jakarta, mengendap saat kembali ke Aceh, kini ia punya kesempatan longgar untuk kembali mengeksplorasi perjalanan spiritualnya.

Puncaknya saat ia umrah pada 2016. Keluarganya yang khawatir meyakini Mekkah akan mengembalikan Zaki ke jalan Islam. Diingatkan untuk pasrah—“Nanti semua dosa-dosaku bakal dibayar tunai. Jangan sombong. Jangan banyak bertanya. Jangan meragukan”—justru yang terjadi sebaliknya.

Di depan Kakbah, Zaki berdoa, “Ya Allah, kalau Kau benar-benar ada, hukum aku sekarang juga atas kesalahanku. Tapi, kalau apa yang selama ini kujalani enggak salah, biarkan aku pulang dengan aman dan tidak terjadi apa-apa.”

“Sampai aku balik, ternyata enggak terjadi apa-apa
. Ada yang bilang itu karena Tuhan sudah abai samaku. Tapi buatku sendiri itu jawaban dari apa yang aku rasain selama ini,” tambahnya.

Keluarga Zaki sangat religius. Abang tertuanya bahkan meyakni aliran Wahabi. “Mereka percaya bahwa mendengar musik itu perbuatan maksiat. Ponakan-ponakanku dilarang nonton dan dengerin musik. Bahkan aku ajak ke mal aja enggak boleh,” kata Zaki.


Zaki, kini menetap di Jakarta, tinggal satu rumah dengan keluarga abangnya. Kepada mereka, Zaki pelan-pelan berkata jujur tentang spiritualitasmenya. Ia tak lagi salat, berpuasa, dan menjalankan ritual Islam lainnya.

“Mereka tahu kok aku begini, tapi lebih ke denial. Kayanya mereka yakin ini tuh cuma fase, entar juga aku balik lagi,” kata Zaki, tertawa.

Namun, untuk saat ini, Zaki meyakini sudah susah melihat dirinya kelak kembali hijrah. Meski orang-orang di sekitarnya cenderung menyepelekan perjalanan spiritualnya, lambat laun Zaki mulai menerima hal itu.

“Dulu, apa yang mereka harapkan ke aku itu memang bikin stres. Tapi, aku sendiri lebih tenang setelah keluar dari agama,” katanya.

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Narasi ‘Tidak Bermoral’

Di lingkungan yang memandang agama sebagai faktor penting, orang yang mengaku ateis dan agnostik cenderung mendapatkan stigma klasik seperti tidak bermoral, bejat, tidak bertanggungjawab, antisosial, dan sebagainya.

Max memilih tidak terus terang kepada keluarganya. Pilihan Zaki dianggap keluarganya cuma gairah sesaat.

Ahmad Syarif Syechbubakr, yang meneliti kaum diaspora Hadrami di Palembang, pernah mengulas pandangan miring orang Islam kepada mereka yang tak beragama dalam kolomnya di Tirto. Cantolan isunya sikap Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern yang punya toleransi besar sekali setelah penembakan massal Masjid Al Noor, Christchurch.

Syechbubakr menulis: Indonesia memang tidak mengenal toleransi beragama yang dilakukan oleh orang tidak beragama. Ateisme dalam kacamata Islam konservatif di Indonesia lebih buruk ketimbang kafir, tidak juga mendapatkan tempat yang baik dalam Kristen dan Katolik.


Menurutnya, tak populernya toleransi tanpa agama di Indonesia setidaknya disebabkan oleh dua hal.

“Pertama, dominasi percakapan mengenai toleransi di Indonesia dipegang oleh tokoh dari tiga agama: Islam, Kristen dan Katolik. […] Kita menemukan toleransi dibicarakan di ruang publik dalam kaidah Alquran, Hadis, adab Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, Alkitab dan ajaran moralitas kasih Kristus—seakan-akan segala hal yang baik dan toleran adalah hak prerogatif agama monoteis.”

Dominasi ini, menurut Syechbubakr, mengakar kuat di dalam ideologi nasional Indonesia, yaitu Pancasila.

“Dari sini kita masuk ke masalah kedua, yaitu bagaimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa hanya memuat agenda agama-agama monoteis yang berpengaruh besar dalam perkembangan politik agama dan moralitas di Indonesia,” tulisnya.

Hal itu terlihat jelas dari perdebatan panjang apakah aliran kebatinan dianggap agama atau tidak, tambahnya. “Ini karena aliran kebatinan tidak memiliki konsep Tuhan yang tunggal, kerasulan dan kitab suci—kriteria yang disepakati oleh agama-agama monoteis.”

Menurut Syechbubakr, kebijakan negara kemudian mendukung dan mempromosikan masuknya agama sebagai faktor tunggal dari toleransi. Situasi ini didukung dengan konflik berdarah di mana Islam, Kristen, dan Katolik bahu-membahu bersama Orde Baru menghajar komunisme pada 1965. Sejak itu, komunisme selalu dicitrakan ateis, anti-agama, dan tidak bermoral.



Max, seorang agnostik dalam kisah ini, juga berkata kepada saya bahwa sejarah kelam Indonesia yang pernah bertindak keji terhadap kaum komunis berperan besar terhadap keberlangsungan hak-hak orang tak beragama di sini.

“Orang-orang saking candunya sama agama bisa jadi sangat bias,”
tambah Max.

Misalnya, ia pernah dijauhi beberapa teman kampus karena dianggap membawa pengaruh buruk. “Bahkan dulu pernah ada dosen yang sengaja manggil saya ke depan kelas untuk mempertanyakan pilihan iman saya. Tujuannya memang mau mengolok-olok.”

Di Indonesia, tak ada penelitian komprehensif yang dapat menggambarkan situasi yang dialami agnostik. Jumlahnya saja tidak ada yang mencatat resmi.

“Sebetulnya wajar karena agnostik biasanya memang tidak teroganisir seperti kelompok gereja atau muslim,” kata Max. “Keberadaannya saja masih dianggap ada dan tidak ada di sini. Nyaris seperti hantu.”

Max berkata, kalaupun kamu percaya ada orang agnostik di lingkunganmu, mungkin kamu lebih memilih menjauhinya.

https://tirto.id/agnostik-di-indones...-religius-efXk

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius


Kenapa soal keyakinan harus pamerin ke orang lain sih?

Bukankah justru lebih nyaman kalo keyakinan kita dirahasiakan, kenapa harus repot repot hapus kolom agama?

Kenapa sih orang lain harus tau kalo elo agnostik? Kalo elo agnostik, yaudah jalanin tanpa harus tekanan batin pengen hapus kolom agama. Emangnya kalo di ktp ada kolom agama islam trus keimanan agnostik lo terancam? What the fuck man, agnostik sejati mah bodo amat dah.
Diubah oleh karyanakbangs4
profile-picture
lyndonbaines memberi reputasi
-1
Lihat 1 balasan
11-08-2019 15:05
Quote:Original Posted By mizunashi
dunia semakin maju...yg muda2 udah bodo amat sama persoalan agama...

ke mesjid buat jumatan (karena disuruh) juga isinya dah tua2 sama bocil...jarang nemu yg seumuran ane....ane jadi ngerasa kek pengaguran gara2 muda sendiri disana emoticon-Leh Uga


up
0
Lihat 1 balasan
11-08-2019 15:06
Tuhan tidak menciptakan agama
Agama diciptakan oleh manusia
Agama diciptakan untuk kepentingan manusia
Mengakui adanya Tuhan saja dan berbuat baik sebenarnya sudah cukup.
Gak perlu ada embel2 persyaratan dari agama untuk bisa masuk ke apa yang orang sebut "surga" dan "neraka" bagi orang yg tidak melakukan persyaratan agama tsb.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agih. dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Lihat 4 balasan
11-08-2019 15:08
Quote:Original Posted By kazuraba
emoticon-Leh Uga yang bagian bawah. Entah para atheis yang wannabe diluar sana mulai tuh gituan emoticon-Leh Uga


Pokoknya yg resek itu is bad apapun itu kepercayaan dia, apalgi klo dia ampe bawa2 keyakinan-nya sendiri untuk tujuan ngebully keyakinan orang laen

emoticon-Hammer2

Udah lah , cukup elu dan tuhan aja yg tahu

emoticon-Shakehand2

Dan orang bisa memposisikan diri lah

Diskusi agama bawa sains

Diskusi sains bawa agama

Ya geblek lah
0
Lapor Hansip
11-08-2019 15:11
Balasan post Vinzarc
Quote:Original Posted By Vinzarc


up


Yg seumuran dia, jumatan nya di kantor / tempat kerja nya masing2 gan emoticon-Ngakak

Lebih baik beragama dan punya pekerjaan. Ini sih menurut ane. Orang lain terserah emoticon-Wakaka
profile-picture
lyndonbaines memberi reputasi
1
11-08-2019 15:14
Quote:Original Posted By noisscat
Apaan lo kan BLOON...

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Mandiri harus jadi atheis...??
Kuat harus jadi atheis...??
Independent harus jadi atheis...??
Tahan banting harus jadi atheis...??


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak


Ya nggak gitu.. Emang gue ngomong begitu?

Gue kan cuman ngasih nasehat utk manusia2 ateids di marih... Jangan menyerah.. emoticon-Cool

Melawan pendapat umum emang melelahkan, tapi kalo sudah biasa tegar.. Nanti ente jadi manusia setlong.. emoticon-Cool
0
11-08-2019 15:18
Quote:Original Posted By filusufkentang
Ya nggak gitu.. Emang gue ngomong begitu?

Gue kan cuman ngasih nasehat utk manusia2 ateids di marih... Jangan menyerah.. emoticon-Cool

Melawan pendapat umum emang melelahkan, tapi kalo sudah biasa tegar.. Nanti ente jadi manusia setlong.. emoticon-Cool


Jangan komen thread begini ntar ada yg ngamuk

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
0
11-08-2019 15:18
Kaum Agnostik baik nya daftar jadi Buddhisme saja, Buddha mengatakan ada nya Buddha dan tidak ada Buddha (waktu ketika Tidak ada seorang sammasam Buddha lahir ke dunia), baik ajaran Buddha ada atau tiada ajaran Buddha, Hukum Alam (5 Niyama) tetap ada dan berlaku.

Buddha hanya menjelaskan dan membabarkan Hukum Alam yang berlaku kepada semua mahluk yang mempunyai karma dengan ajaran Buddha karena tidak setiap mahluk mempunyai karma dan mampu menerima penjelasan yang di babarkan Sang Buddha!

Buddha ada menjelaskan ada sesuatu yang dapat membawa mahluk mahluk menuju pembebasan tetapi Buddha tidak menjelaskan nya karena hal itu sebenarnya dan kenyataan nya tidak dapat di jelaskan, kenapa karena ada keterbatasan kemampuan Manusia dan mahluk mahluk di dunia ini!
Diubah oleh daimond25
profile-picture
profile-picture
lyndonbaines dan noisscat memberi reputasi
2
11-08-2019 15:19
Quote:Original Posted By beritapalestina

...

Di depan Kakbah, Zaki berdoa, “Ya Allah, kalau Kau benar-benar ada, hukum aku sekarang juga atas kesalahanku. Tapi, kalau apa yang selama ini kujalani enggak salah, biarkan aku pulang dengan aman dan tidak terjadi apa-apa

...

Definisi "apa-apa" itu apa, ya ???
Diubah oleh Storm Shadow
0
11-08-2019 15:20
Quote:Original Posted By noisscat
Jangan komen thread begini ntar ada yg ngamuk

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak


Aman, ini klonengan gue.. emoticon-Cool
0
11-08-2019 15:24
Quote:Original Posted By WM777
percaya ada tuhan. Tapi kaga pernah ketempat ibadah!!! Hanya sekali datang atau dengan frekwensi yg kecil. ( hanya hati beaat agama aja baru datang )
Apakah itu golongan agnostik????


gw termasuk salah satu dari golongan agnostik
0
11-08-2019 15:25
Quote:Original Posted By hantupuskom
semakin kliatan seperti ada gerakan yg emang mau bikin agnostik dan atheis legal di negara ini
emoticon-Traveller


apa ada masalah bila agnostik dan atheis dilegalkan direpublik ini...jangan2 loe salah satu makelar agama
0
11-08-2019 15:28
Atheis&agnostik menimpa umat manusia yg gk sampe 1/2 memahami ajaran agamanya, jd atheis/agnostik jg setengah", bahasa kerennya atheis/agnostik ktp,
profile-picture
profile-picture
sweetjulia dan noisscat memberi reputasi
0
11-08-2019 15:29
Quote:Original Posted By Abc..Z
kalo agama itu pedoman buat apa Tuhan kasih otak, akal pikiran, naluri, instinct?

ato mo bilang itu semuanya dikasih kalo seseorang udah punya agama?

"wahai umatKu, akan kuberikan kalian otak dan akal untuk berpikir, asalkan kalian beragama" emoticon-Leh Uga



kaum theist itu kebanyakan kolot, mikir agama dari cara penguburan jenazah, pedoman hidup (alias weak willed sama indecisive, plin plan intinya) sama cuman fokus ke konsep divine reward ama divine punishment

contoh
orang orang theist pasti lebih fokus ke 72 bidadari, penthouse elit di surga ama everlasting peaceful life di surga, coba kalo ditanya "apakah atheist bakal dapat kemujuran atas amal hidupnya?" pasti bakal dijawab "diakan nggak beragama, ya amalannya pasti nggak berguna"








padahal konsep hukum sebab akibat berlaku universal, bukan ke theist doang, tapi golongan theist anggepnya atheist itu cuman live for the moment, amalannya nggak punya impact emoticon-Nohope


Lo atheis ya??
Kenapa lo memutuskan buat menikah dlm hidup lo??
Sedangkan menikah itu ada dlm ajaran agama...
Sedangkan lo sendiri gak menjalankan agama....
Seharusnya menjadi atheis itu meninggalkan segala sesuatu yg bersifat keduniawian yg berhubungan dengan agama...
Contohnya "menikah"..

Seharusnya atheis tidak perlu menikah kaya si ROCKY GERUNG YG JADI BUJANG LAPUK...

Ngapain coba menikah??
Menikah itu ada dlm ajaran agama.... Menikah jg pakai tata cara agama...

Diubah oleh noisscat
0
11-08-2019 15:39
Quote:Original Posted By henprad
Yg seumuran dia, jumatan nya di kantor / tempat kerja nya masing2 gan emoticon-Ngakak

Lebih baik beragama dan punya pekerjaan. Ini sih menurut ane. Orang lain terserah emoticon-Wakaka


wah super sekali emoticon-Ngakak (S)
oh ya? keren dong moga muda makin rajin emoticon-Recommended Seller
0
Halaman 8 dari 40
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.