Kaskus

Story

PakDheBobAvatar border
TS
PakDheBob
Lorong Kampus
Lorong Kampus


"Lil anter gue ke toilet yuk?"

Aku menghampiri Ulil sahabat karibku di ruang kampusnya, Ulil yang sedang asik mendengarkan musik dari laptopnya dengan mengenakan headset rupanya tidak mendengar teriakanku.

"Lil.. "

Aku menempuk bahu Ulil, perempuan berbadan tinggi dan sedikit gemuk dengan pipinya yang chubby seketika langsung menatapku dengan tatapan kurang berkenan.

"Apaan sih Nis? Bikin kaget aja lo!"

Ulil terlihat kesal karena aku telah mengagetkannya.

"Gue minta anter ke toilet, udah kebelet nih!"

Aku memasang wajah memelas ke arah Ulil.

"Ya ampun, ini siang kali Nis, ngapain juga ke toilet minta anter sama gue."

Ulil kembali menatapku aneh, wajahnya terlihat jutek sekali.

"Gue takut Lil, lo tau sendirikan toilet kampus adanya di ujung lorong gitu!"

Aku kembali membujuk Ulil agar mau mengantarkan aku ke toilet kampus sebentar saja.

"Takut kenapa sih? Gue kalau ke toilet sendirian gak ada apa-apa kok!"

Ulil kembali memasang headsetnya dan memutar lagu All I ask dari Adele, mataku tertuju pada laptop Ulil yang masih menyala.

"Lil tolong gue, gue udah gak tahan banget nih!"

Aku kembali menepuk bahu Ulil dan Ulil kembali menatapku dengan tatapan jengkel.

"Nisrina, Lo tuh emang dari dulu penakut banget ya?"

Ulil berdiri, dan berjalan terlebih dahulu ke toilet yang berada di lorong kampus.

"Tungguin gue dong Lil, Lo jalan cepet banget sih?"

Aku mengejar langkah Ulil, Ulil semakin mempercepat langkahnya.

"Buruan gue mau ada kelas lagi Nis, dosennya galak nih!"

Setelah tiba di toilet aku segera masuk ke dalam bilik toilet, sementara Ulil menunggu di luar bilik toilet sambil sesekali berkaca di cermin dan bersenandung lagu All I ask Adele.

"Nis, udah belum? Buruan dong, gue masih ada kelas nih!"

Ulil berteriak, aku yang sedang buang air besar berkata sambil meringis.

"Sabar Lil, sumpah deh perut gue mules banget , gue tadi beli rujak bebeg, gue lupa belum makan nasi dari pagi, gak sempet sarapan gue!"

Aku memegang perutku dan menahan rasa sakit.

"Jadi lo Pup? Pantes banget baunya sampe ke sini!"

Aku bisa membayangkan pasti Ulil langsung menutup hidungnya, Pup aku sedikit encer sepertinya aku bener-bener sakit perut, melilit sekali.

"Gue tinggal ya? Kuliah gue udah mau mulai nih!"

Seperti biasa Ulil selalu tidak sabaran, aku segera menekan tombol push pada closet.

"Udah kok, bentar Lil please jangan tinggalin gue!"

Sebenarnya aku masih ingin buang air besar, tapi mau gimana lagi Ulil rasanya sedikit keberatan jika harus menunggu aku lebih lama lagi.

"Makanya lain kali itu jajan yang pasti-pasti aja, udah tau belum makan nasi segala jajan rujak!"

Suara Ulil terdengar menggerutu, bukannya kasih aku minyak kayu putih malah ngomelin aku.

"Kayanya gue langsung balik aja deh Lil, asli perut gue bener-bener sakit banget!"

Aku memutuskan untuk ijin dari kelas berikutnya, seperti biasa Ulil berjalan dengan sangat cepat, aku kembali mengejar langkah kaki Ulil, entah mengapa aku sangat tidak menyukai berjalan di lorong kampus ini.

"Lil tunggu dong, lo biasa banget kalau jalan cepet-cepet deh!"

Aku berteriak ke arah Ulil yang sudah hampir mendekati pintu kelas kampusnya, Ulil memang terkenal pintar di kampus ini, dia tidak pernah absen mengikuti semua mata kuliah, mungkin karena itu juga dia berjalan tergesa-gesa, aku yang beda kelas dengan Ulil langsung menuju kelasku mengambil tas dan segera pulang menuju rumah.

"Lil makasih ya udah temenin gue ke toilet!"

Aku berteriak ke arah Ulil yang sudah memasuki pintu kelas, Ulil hanya mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

"Mbak Nisrina bukan?"

Bapak ojol sudah menantiku, ketika aku keluar dari gerbang kampus.

"Iya Pak, tolong bawa motornya agak ngebut sedikit ya pak? Perut saya mules!"

Aku memakai helm berwarna hijau yang diberikan oleh Bapak Ojol.

***

"Nisrina ada Ulil nih.. "

Suara Bunda terdengar berteriak ke kamarku, aku yang hari ini memang tidak masuk kuliah dikarenakan lemas akibat buang-buang air kemarin, memutuskan untuk beristirahat seharian di dalam kamar.

"Langsung ke kamarnya aja deh Lil, Nisrina masih lemes mungkin!"

Aku mendengar suara Bunda untuk menyuruh Ulil ke kamarku, sebenarnya aku sedikit kesal dengan sikap Ulil kemarin waktu aku minta temani ke toilet, jutek banget.

"Makasih tante, aku langsung ke kamar Nisrina ya!"

Terdengar suara langkah kaki Ulil mendekati kamar, dan tidak berapa lama terdengar suara pintu kamar di buka.

"Nis, jangan pura-pura tidur deh!"

Masih saja Ulil seenaknya mengejek aku.

"Siapa juga yang pura-pura tidur, gue lemes Lil!"

Aku menjawab ketus dan membalikkan badan ku membelakangi Ulil, Ulil duduk di pinggir kasur.

"Biasa aja dong jawabnya, jutek banget sih?"

Ulil menepuk pantatku sambil tertawa ringan, spontan saja aku langsung membalikkan badanku dan menatap wajah Ulil yang tidak merasa punya salah atas sikapnya yang nyebelin kemarin.

"Hah? Gak salah lo ngatain gue jutek? Ngaca dong yang jutek itu siapa? Tibang gue minta anter ke toilet kampus aja muka lo langsung nyolotin!"

Ulil terbangun dari ranjangku, aku masih meringis sesekali menahan perut yang masih terasa mulesnya.

"Oh jadi gegara itu lo kesel sama gue?"

Ulil menatap wajahku, aku membuang pandanganku ke luar jendela kamar.

"Maafin gue Nis, kemarin itu gue sebenarnya lagi bete, lagi kesel, lagi nyolot, ah pokoknya perasaan gue campur aduk deh!"

Ulil menarik kursi meja belajarku, dia duduk di kursi berwarna hijau dan wajahnya seketika terlihat murung.

"Tanya dong Nis, kenapa lo?"

Kali ini Ulil sepertinya terlihat caper padaku. Dasar gendut bisikku dalam hati.

"Kenapa emangnya?"

Akhirnya akupun melontarkan pertanyaan itu, meski aku sendiri sebel kalau ingat sikap Ulil kemarin, tapi aku tahu pada dasarnya Ulil itu sahabat yang baik dan setia kawan.

"Biasa Nis, Panji kenapa ya? Gue masih suka uring2an gak jelas gitu sama dia!"

Sudah aku tebak, pasti Panji yang membuat Ulil seperti ini, sebenarnya Aku Nisrina Damayanti, Ulil, Panji, Bagus, juga Bahtiar yang akrab di panggil Tiar adalah sahabatan, entah kenapa awal memasuki semester ke empat ini Ulil dan Panji malah sering jalan berdua dibanding bersama-sama kita, besar kemungkinan mereka sama-sama saling menyukai, sahabat jadi cinta begitulah kira-kira judul dari sebuah lagu.

"Masih aja lo baperan sama Panji?"

Aku bertanya singkat ke arah Ulil, Ulil sesekali memainkan rautan pensilku yang tergeletak di meja belajar, dia putar-putar gagang rautan itu.

"Lo, Bagus, juga Tiar pasti ngiranya gue pacaran sama Panji ya?"

Ulil berbicara dengan nada datar, tapi seperti mencari tahu pandangan kami terhadap hubungan mereka.

"Emangnya kenapa kalau lo sama Panji jadian? Sah-sah ajakan? Lo jomlo Panji juga jomlo, apalagi kita sahabatan setidaknya kita udah saling tahulah baik buruknya kita gimana!"

Kali ini aku berbicara serius ke arah Ulil, wajah Ulil mulai tampak berubah, Ulil tersenyum kearahku.

"Gimana ya Nis? Jujur sih gue juga sebenarnya suka sama Panji, tapi gue ngerasa Panji gak pernah bilang sesuatu ke gue, sikap dia juga biasa aja ke gue, sama aja seperti halnya lo bersikap sama gue, Bagus atau Tiar bersikap ke gue, gak ada yang spesial!"

Nada bicara Ulil mulai sedikit cepat, ada kegusaran dalam suaranya.

"Tapi tuh Nis yang bikin gue sewot sama Panji setiap kali gue deket sama cowok lain, dia nanya-nanya detail banget udah kaya bokap gue aja!"

"Contohnya kejadian seminggu yang lalu, gue pulang bareng sama Yoga anak hukum, masa Panji ke esokan harinya nyamperin gue, terus nanya-nanya gitu."

Ulil berdiri kemudian berjalan seakan dia menirukan gaya Panji yang menghampirinya.

"Lo kemarin pulang di anter siapa Lil?"

"Kenapa emangnya? Jawab gue ketus Nis.

"Gue kenal tuh anak hukum, yang pasti masih lebih keren guelah!"

"Apaan si lo Ji, gak jelas banget!" gue sewot dong Nis.

"Nah dari situ gue bete gegara si Panji beruang kutub itu, apa coba maksudnya dia ngomong dan nanya-nanya begitu? Gue mau balik sama siapa kek, ngapain juga dia keppo!"

Suara Ulil semakin terdengar gusar, entah mengapa dia begitu terlihat jengkel.

"Gue haus Nis, air lo gue minum ya? Mulut lo gak mengandung viruskan?"

Ulil menenggak air mineral yang masih tersisa setengah botol, seperti biasa dia kalau lagi badmood ngomongnya suka nyelekit, keselnya ke siapa nyolotnya ke siapa, Huh bikin gue ikutan badmood aja, mana perut masih sakit, mau buang angin takut Ulil makin ngamuk.

"Itu artinya Panji cemburu lihat lo pulang bareng cowok lain!"

Aku mengambil tisu yang berada di meja belajar, lalu mengelap pinggiran botol yang bekas di tenggak Ulil.

"Sorry Lil, gue lap dulu bekas mulut lo, takutnya gue ketularan nyinyir kek lo!"

Aku kembali mengejek Ulil yang sebelumnya telah mengejek aku dengan menanyakan aku ada virus gak dari mulut.

Syukurlah Bunda gak denger, kalau denger aku jamin si Ulil gendut ini pasti di ceramahin Bunda.

"Cemburu? Apa urusannya dia cemburu sama gue? Cowok gue bukan?"

Ulil yang masih berdiri sejak memperagakan gayanya Panji, kembali menarik kursi meja belajarku, dia kembali duduk dan memainkan rautan pensilku.

"Urusannya ya karena Panji suka sama lo, sayang sama lo, kalau dia gak punya perasaan itu ngapain juga dia harus cemburu sama lo, bedon lo ah!"

Aku tertawa puas karena berhasil mengatakan Ulil bedon alias bodoh, entah mengapa kali ini aku memang geli sendiri melihat wajah Ulil yang kesel gak jelas, belum lagi kalau ingat waktu dia selesai nganter aku ke toilet kampus, aku teriak makasih dia cuma ngangkat tangan kanannya, belagu bener!

"Gak tau ah Nis, pokoknya gue bete aja sama mahluk gak jelas yang bernama Panji Pratama Mahesa itu, nyesel banget gue bisa sahabatan sama orang kaya gitu!"
Aku semakin tertawa terbahak-bahak mendengar Ulil menyebut nama lengkap Panji, kesel sih kesel tapi gak usah nyebut nama lengkapnya juga kali, gerutuku dalam hati.

"Kenapa lo ketawa? Ada yang lucu?"

Ulil kembali menatapku aneh, seketika aku menutup hidungku.

"Gue habis buang angin Lil, ke cium gak baunya yang super dahsyat?"

Ulil langsung berjalan ke luar pintu kamar sambil menutup hidungnya dan akupun tertawa kian terbahak.

***

Tiba di kampus aku melihat Panji, Bagus, sama Tiar duduk di halaman kampus tepat dibawah pohon ceri yang rindang, tapi aku tidak melihat Ulil sama sekali, Ulil ini sebenarnya nama panggilan di kampus, nama aslinya Alia Sabrina Irawan,  berhubung di kampus banyak yang panggilannya Lia maka kami memutuskan untuk memanggilnya Ulil, mau panggil Ali kan gak enak di denger, di panggil Sabrina ribet, di panggil Irawan itukan nama belakang Bokapnya Ulil, maka jadilah Alia Sabrina Irawan di panggil Ulil, dan panggilan ini cukup terkenal di kampus kami, karena Ulil memang aktif di berbagai kegiatan kampus, belum lagi kecerdasannya yang banyak dikagumi para dosen, gak heran kalau Ulil ini mahasiswi kesayangan dosen-dosen di kampus ini.

"Sudah enakkan Nis?"

Panji adalah orang yang pertama kali menyapaku.

"Mendinganlah Ji, asli deh kemarin itu gue lemes banget gegara buang-buang air terus!"

Aku mengambil botol dari dalam tas ranselku, cuaca mulai terasa panas.

"Jangan Makan rujak Nis, nanti moncrot lagi!"

Bagus berkata ke arahku, aku yang sedang minum air mineral menggelengkan kepala.

"Gak lah, kapok gue Gus, btw si Ulil kemana? Kok gak kelihatan dari tadi?"

Aku menatap Panji, Bagus, juga Tiar.

"Tau tuh Ulil, akhir-akhir ini dia susah kita ajak nongkrong bareng, kenapa ya?"

Suara Bahtiar terdengar bertanya tanya.

"Ulilkan emang gitu Yar, nanti juga dia bakal nyamperin kita sendiri!"

Aku melirik ke arah Tiar, Bagus terlihat tersenyum, sementara Panji memalingkan pandangannya.

"Gue ke kelas duluan ya, cuaca mulai panas nih!"

Panji berkata kepada kami semua, lalu dia berjalan ke ruang kelasnya di lantai 4, kami adalah mahasiswa di fakultas sastra, Ulil dan Panji di jurusan sastra inggris, sementara aku, Bagus dan Tiar di jurusan sastra jepang persahabatan kami dari SMA berlanjut hingga kuliah.

"Salam sama Ulil Ji, bilangin nanti pulangnya suruh tunggu gue di kantin Mbak Gendis.

Aku berteriak ke arah Panji yang sudah menaiki tangga ke lantai 4.

"Tumben banget si Ulil gak mau gabung sama kita-kita?"

Bisikku dalam hati, akupun berjalan menuju kelasku bersama Bagus dan Tiar yang terletak di lantai 3.

***

"Kak Ulil ya?"

Suara seorang mahasiswi cantik tiba-tiba menyapaku di toilet kampus.

"Iya betul, maaf kamu siapa?"

Aku mencuci tangan di wastafel sambil sesekali berkaca, mahasiswi cantik itu berdiri di pojok tembok kamar mandi.

"Ka Ulil deket ya sama ka Panji?"

Mahasiswi cantik itu bertanya yang membuat aku sedikit terperanjat.

"Hah? Panji ? Panji Pratama Mahesa?"

Aku memastikan nama Panji agar lebih jelas siapa yang di maksud gadis berambut pirang ini.

"Iya ka, Panji anak sastra inggris, kakak jugakan?"

Mahasiswi cantik berbadan putih, langsing dengan rambut sebahu itu kembali memastikan Panji yang dia maksudkan.

"Iya, kenapa memang?"

Aku kembali memandang gadis cantik itu, sepertinya dia mahasiswi yang baru masuk, aku belum pernah sebelumnya melihat gadis ini.

"Gak apa-apa ka, aku suka saja dengan gayanya ka Panji!"

Gadis itu terlihat tersipu malu dengan perkataannya sendiri.

"Oh jadi kamu suka sama Panji? Ngomong langsung aja, mau gue kasih No WAnya?

Aku kembali berkaca pada cermin yang berada di dinding toilet kampus, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku.

"Lil, gue cariin dari tadi, rupanya loe di sini?"

Suara Nisrina terdengar terengah-engah pasti dia lari lantaran takut melewati lorong toilet.

"Iya gue habis pipis, terus ketemu anak baru yang ternyata fansnya Panji!"

Aku memakai lipstik dan merapihkan kerudunganku yang sedikit berantakan.

"Anak baru siapa maksud lo?"

Suara Nisrina terdengar penasaran.

"Siapa nama lo? Perkenalkan dong, gue Ulil dan ini sahabat gue Nisrina, dia sahabatan juga kok sama Panji!"

Aku merapihkan semua peralatan make up dan memasukan kedalam tas.

"Lil, Lo ngomong sama siapa sih?"

Nisrina menghampiriku, tangannya mulai menggandeng tanganku dengan pegangan cukup kuat, dasar penakut.

"Gadis di sudut tembok itu Nis, rupanya naksir Panji!"

Aku menunjuk ke arah tempat dimana si gadis cantik itu berdiri.

"Loh kemana tuh cewek? Kok gak ada?"

Aku mencari-cari gadis berambut sebahu tadi ke seluruh bilik toilet.

"Lil, jangan bikin gue merinding dong, dari awal gue datang ke sini, lo emang udah sendirian!"

Seperti biasa Nisrina terus menggandeng tanganku dan mengikuti aku membuka satu persatu pintu kamar mandi yang berjumlah 8 pintu dan saling berhadapan, 4 pintu di sebelah kanan, 4 pintunya sebelah kiri.

"Serius Nis, tadi itu ada gadis usianya dibawah kita setahun, dia nanya ke gue apakah gue kenal sama Panji?"

Aku masih penasaran, dan kembali memastikan bahwa di dalam bilik toilet tidak ada orang satupun.

"Lo gak ngeliat pas lo masuk toilet ada cewek keluar gitu?"

Aku berkata pada Nisrina namun tak ada jawaban, tanganku sudah tidak terasa di gandeng, benar saja rupanya Nisrina langsung kabur terbirit-birit, dasar penakut!

Aku berjalan ke luar dari kampus, entah mengapa aku merasa aneh kampus terlihat sangat sepi, akupun terus berjalan, ketika melewati ruangan depan auditorium aku melihat Nisrina sedang ngobrol dengan Bagus juga Tiar. Aku menghampiri mereka bertiga.

"Nis, gak sopan lo main ninggalin gue aja dari toilet, giliran lo minta anter ke toilet aja paling gak mau kalau gue tinggalin!"

Dengan sedikit rasa jengkel aku berkata pada Nisrina yang entah sedang membahas apa bersama Bagus dan Tiar.

"Toilet? Siapa yang ke Toilet?

Nisrina menatapku dengan tatapan anehnya. Begitu juga dengan Bagus dan Tiar.

***

[bersambung]
Diubah oleh PakDheBob 09-08-2019 21:36
youmi.srAvatar border
S.HWijayaputraAvatar border
anasabilaAvatar border
anasabila dan 2 lainnya memberi reputasi
3
598
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.