alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d18e532b84088454a45a9de/20-tahun-reformasi-kita-kecewa-tapi-tetap-bersandar-pada-harapan
Lapor Hansip
30-06-2019 23:37
20 Tahun Reformasi: Kita Kecewa, tapi Tetap Bersandar pada Harapan
Past Hot Thread
Penulis: Ivan Aulia Ahsan
21 Mei 2018

Quote:20 Tahun Reformasi: Kita Kecewa, tapi Tetap Bersandar pada Harapan


Paling tidak, reformasi menghasilkan kebebasan yang sangat penting artinya bagi kehidupan politik hari ini.


Quote:tirto.id - “Soeharto jatuh terlalu cepat. Jika dia bertahan lebih lama, kami mungkin bisa mendapat infrastruktur demokrasi yang lebih baik [...] kini kami tinggal dengan kekuatan oposisi yang kacau. Dan kecewa. Saya kira kekecewaan selalu muncul setelah semua revolusi.”

Kalimat itu meluncur dari mulut Goenawan Mohamad, mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, pada 20 Juni 1998, tepat satu bulan setelah Soeharto lengser. Saat itu ia tengah diwawancarai Janet Steele, guru besar kajian media George Washington University, yang melakukan penelitian tentang Tempo. Empat tahun sebelumnya, majalah yang dipimpin Goenawan diberedel pemerintah dan baru bisa terbit kembali setelah Soeharto lengser.

Apa yang dirasakan Goenawan memang jamak terjadi di masa transisi. Setelah ancien régime berhasil digulingkan dan pemerintahan baru terbentuk, para penguasa anyar masih tertatih-tatih mengonsolidasikan kekuatan. Represi rezim lama begitu melumpuhkan sumber daya mereka. Di masa konsolidasi yang genting, pelbagai kemungkinan datangnya kembali anasir-anasir rezim lama juga terbuka lebar.

Dalam keadaan macam itu, kata-kata Goenawan yang berasal dari diktum lama sejarah peradaban memang relevan: tiap revolusi menyisakan kekecewaannya sendiri.

Bahkan hingga kini, dua puluh tahun setelah Orde Baru tumbang dan kebebasan politik dinikmati banyak orang, kekecewaan serupa masih tersisa di mana-mana. Di bak-bak truk, di kaos-kaos, di meme-meme yang tersebar di jagat maya, potret seorang lelaki tua melambaikan tangan yang bertuliskan “Enak zamanku, tho?” menjadi pertanda paling subtil dari kekecewaan zaman ini.

Survei terbaru Indo Barometer yang dilakukan pada 15-22 April 2018 menghasilkan angka 32,9% untuk Soeharto—lelaki tua yang melambaikan tangan itu—sebagai presiden terbaik yang pernah memerintah Indonesia. Angka ini menempati urutan pertama. Di belakangnya, berderet presiden lain dengan selisih yang jauh. Setelah dua dasawarsa, lelaki tua itu bahkan masih membayangi kehidupan sehari-hari.

Bila dibandingkan dengan dua puluh tahun pertama kekuasaan Orde Baru (1966-1986), dua puluh tahun “Orde Reformasi”—jika bisa dikatakan demikian—masih belum menemukan formula ideal tentang bagaimana sebuah sistem kekuasaan dibangun.

Di masa dua puluh tahun pertamanya, Soeharto mampu mengonsolidasikan kekuasaan secara hampir sempurna. Ia berhasil membangun sistem yang mapan untuk menopang kekuasaannya. Terlepas dari betapa koruptif dan rapuh fondasi ekonomi yang dibentuk Orde Baru, rezim ini berhasil menjalankan program-program politik dan ekonominya dengan teratur.

Kaum pro-reformasi boleh saja berdalih bahwa selama masa itu tidak ada suksesi kekuasaan sehingga program-program pemerintah yang gagal di masa sebelumnya bisa dilanjutkan di era berikutnya.

"Wajar dia [Soeharto] membangun lebih banyak jembatan, lebih banyak bendungan. Modal waktunya panjang. Dia lebih punya banyak waktu untuk menyelesaikan masalah," kata politikus PDIP Budiman Sudjatmiko kemarin (20/5/2018). Budiman pernah dijebloskan ke penjara oleh Orde Baru pada 1996 lewat pasal subversi.

Tapi, dalih kaum pro-reformasi itu kehilangan relevansi jika melihat betapa gagal para politikus produk era reformasi menambal lubang-lubang yang ditinggalkan Orde Baru. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka turut memperbesarnya. Korupsi tetap merajalela, oligarki politik semakin kuat, dan perselingkuhan penguasa-pengusaha kian lazim di mana-mana.

Dengan keadaan seperti itulah kekecewaan-kekecewaan terhadap era reformasi lahir dan orang-orang menoleh ke zaman lalu.

Indonesia memang punya riwayat panjang soal kekecewaan macam itu, yang terus-menerus berulang sepanjang zaman.

Tatkala balatentara Jepang menduduki Hindia Belanda dan menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa yang terlalu lama dijajah orang-orang Eropa ini, banyak yang optimis dan menaruh harapan pada Dai Nippon. Tapi, tak lama sesudahnya, wajah asli Jepang kian terlihat: mereka sama saja, bahkan lebih kejam dari Belanda.

Saat itulah orang-orang mulai merindukan kembali era yang kerap disebut “zaman normal”—sebuah masa penuh kemakmuran sejak akhir dekade 1910-an hingga pengujung 1920-an. Di periode ini, perekonomian Hindia Belanda dalam kondisi terbaiknya sebelum dihantam krisis malaise pada 1929.

Bahkan, di masa Revolusi, hanya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, kerinduan pada zaman normal masih terasa di beberapa kalangan. Mereka tetap mengharapkan ketertiban dan kemakmuran ala zaman kolonial.

Berlanjut di masa sesudahnya, pola tersebut tetap berulang. Saat Sukarno mulai menunjukkan kediktatoran dalam sistem Demokrasi Terpimpin pada 1960-an, orang-orang merindukan zaman sebelumnya. Mereka merujuk periode demokrasi parlementer (1950-1959) yang dianggap lebih bebas, ketika orang-orang tak perlu merasa takut untuk bersuara kritis terhadap kekuasaan.

Dengan pola yang kurang lebih serupa, pada awal 1990-an, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) memanfaatkan simbol-simbol Sukarno dalam kampanye. Ini sangat efektif bagi mereka yang rindu presiden pertama Indonesia itu—sebuah “enak zamanku, tho?” versi lain. Dengan kampanye itu, PDI berhasil mendongkrak perolehan suara pada Pemilu 1992.

Maka demikianlah, kekecewaan hari ini sebenarnya merupakan pola yang telah terbentuk dari era sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnya lagi. Meski tiap zaman punya zeitgeist-nya sendiri, ada yang selalu berulang di dalamnya.

Dua puluh tahun reformasi boleh saja menerbitkan pesimisme dan kekecewaan. Tapi, jangan lupakan bahwa ia membuka kebebasan berpikir dan berpendapat yang sangat penting artinya bagi kehidupan politik hari ini. Kita, misalnya, tak perlu takut lagi untuk berkata pemerintah brengsek atau tentara sangat korup atau pemilu penuh kecurangan.

Jangan lupakan pula di zaman yang paling pesimistis sekalipun, orang-orang, kita semua, tetap bisa bersandar pada senjata terakhir yang kita punya: harapan. Kita tidak bersandar pada angin. Kita tidak bersandar pada mungkin.

(tirto.id - ivn/zen)

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Zen RS
Sumber


Komen TS
Mbah tua yang dijadikan meme "enak jamanku toh" itu kini dirindukan dan dibenci sebagian orang

Kekecewaan dan harapan akan selalu mengiringimu
Diubah oleh nadaramadhan20
profile-picture
profile-picture
profile-picture
KRAVZHENKO dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
30-06-2019 23:44
Pertamax

Eh btw,yang mau ngerasaain jaman mbah sambil edukasi
kuy mulai gan
By Tirto.id

awas spoiler alert
Diubah oleh nadaramadhan20
profile-picture
profile-picture
johanneskrauser dan vegasigitp memberi reputasi
2
02-07-2019 18:04
Reformasi?apa yg direformasi?
Sampai dng detik ini, moral politikus dan byk aparatur negara yg blm "Move On"..masih sama atau bahkan lbh merata?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kiryu06 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
20-07-2019 06:05
ga semua produk reformasi itu gagal....

kalo soal korupsi dijaman apa aja selalu ada...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m0buh41 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
20-07-2019 06:10
ada kelebihan dan kekurangan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
citra1717 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
20-07-2019 06:15
org goblok yg merindukan kekuasaan suharto
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ekaputra19 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
20-07-2019 06:21
Hrs terus berharap,berdoa dan berusaha
0
20-07-2019 06:24
Quote:Original Posted By nadaramadhan20
Pertamax

Eh btw,yang mau ngerasaain jaman mbah sambil edukasi
kuy mulai gan
By Tirto.id

awas spoiler alert


Dpt ending yg mahasiswa emoticon-Ngakak
0
20-07-2019 06:32
Gue gak ngerti lebih dalam masalah politik
Gue juga masih kecil waktu jaman orba (lahir89)
Tapi gue nanya sama orang yg hidup di jaman itu karena penasaran sama poster "penak jamanku to"
Jawaban mereka selalu sama
Jaman dulu memang murah2 tapi gak kebeli
Yg kaya ya orang2 pemerintah aja
Beragam kesengsaraan dari sandang pangan yg murah tapi gak kebeli
Dan mereka heran sama orang sekarang yg ngaku susah padahal nyari duit gampang
Lo bikin video (vlog) aja dapet duit
Di banding dulu mau kerja aja susah
Menurut mereka ekonomi sekarang lebih merata
Gue sih ngrasain gitu juga
Sekarang asal lo mau capek pasti duit (walaupun hanya cukup buat sehari2)
Sekian opini pribadi dari gue
Maaf kalau berantakan
emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akubik dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Lihat 1 balasan
20-07-2019 06:33
kerenn kalimat terakhirnya, bersandar pd harapan...yg sring dinilai sm org ga pnting ga brmakna, tp harapan trnyata pnya satu power trsendiri yg mampu menguatkan ssorang yg mgkin sdg trpuruk ato bhkan depresii, semua jaman mmliki critanya msg", ada positif negatif, tp harapan selalu ada dan masa depan tdk akan prnh hilang
profile-picture
bendolpeang memberi reputasi
1
20-07-2019 06:36
manusia gak kan pernah puas pada apapun..semua pasti akan berharap yg lebih baik tapi..jika kita sudah diberikan segala yg sempurna apa kita masih mau berusaha lagi? hidup ya berusaha dan berharap sejalan dengan doa juga tentunya kalo kita percaya tuhan emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aliftriadi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
20-07-2019 06:40
tetap optimis untuk indonesia menuju masa depan yang adil lan makmur,,,
emoticon-I Love Indonesia
emoticon-I Love Indonesia
emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aliftriadi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
20-07-2019 06:50
Kecewa? Kalau gue enggak tuh. emoticon-Big Grin
0
20-07-2019 06:53
Yahh semua itu proses,pasti ada yg tidak suka dan membanding bandingkan dengan yg lain dengan berbagai argumen.
profile-picture
fira262 memberi reputasi
1
20-07-2019 07:14
Tdk usah cari figure
Utk dielukan ataupun
Disalahkan

Lah mmg jelas
Reformasi itu menipu rakyat



emoticon-Hot News
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aliftriadi dan 5 lainnya memberi reputasi
4
20-07-2019 07:15
ngomong ngomong kecewa pada harapan aku jd tersinggung
0
20-07-2019 07:29
Reformasi tp kebablasan
0
20-07-2019 07:41
Di saat reformasi terjadi, akan percuma jika yang mengganti orang2 yang ada dijaman sebelum rformasi.
Isinya sama saja hahaha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aliftriadi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
20-07-2019 07:42
setiap zaman tentu memiliki ceritanya sendiri.
terlepas dari itu semua, ane meng-apresiasi "level" tulisan di atas, sangat baik dan filosofis.
profile-picture
profile-picture
aliftriadi dan fira262 memberi reputasi
2
20-07-2019 07:42
Quote:Original Posted By m0buh41
Reformasi?apa yg direformasi?
Sampai dng detik ini, moral politikus dan byk aparatur negara yg blm "Move On"..masih sama atau bahkan lbh merata?


Yang direformasi cuma kebebasan bacotemoticon-Ngakak
Selebihnya cuma omong kosong reformasi.emoticon-Ngakak
Sampe2 kritik serius tenggelam dalam kritik hinaan.emoticon-Ngakak
Meski sudah ada beberapa (sedikit sekali) institusi yang berbenah ke arah modern namun institusi yang isinya kebanyakan oknum ya banyak.emoticon-Ngakak

Eh, ternyata gembok.
Diubah oleh esaka.kedua
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aliftriadi dan 3 lainnya memberi reputasi
4
20-07-2019 07:48
Hanya org ndak lulus seleksi alam yg kangen zaman suharto...

Zaman suharto org ndak gitu iri satu sama lain karena semua jalan kaki naik sepeda, hanya sedikit yg mampu beli motor apalagi mobil.

Zaman skrg yg punya kemampuan ya enak. Yg ndak bisa bersaing ya cuman bisa iri n merindukan zaman dimana sama sama dikekang emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akubik dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.